Bangunan Institut Ibnu Sina

Satu persatu tugas saya sebagai Direktur Lembaga dan Pusat Penelitian selama lebih dari 7 tahun di UTM selesai. Hari ini, kontraktor melalui Jabatan Harta Bina UTM menyerahkan kembali bangunan yang telah direnovasi kepada pihak institut. Semoga fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh 6 Pusat Penelitian di bawah Institut Ibnu Sina. Semoga membawa kebaikan dan berkah untuk semua.

Sinisme

Saya masih berusaha memahami kenapa orang bersikap sinis. Hal ini dapat dibaca dan dirasakan dari komentar-komentar yang diucapkan dan ditulis oleh mereka, yang biasanya diluahkan di sosial media, yang kadang-kadang secara halus menyindir orang-orang yang mereka tidak senangi, dan sekaligus memamerkan prestasi diri. Sepertinya mereka ingin sekali dihargai dan dipuji oleh orang lain. Ini motif yang terbaca pada orang-orang yang sinis.

Menurut literatur, sinisme adalah sikap yang ditandai dengan ketidakpercayaan pada motif orang lain. Sinisme disebabkan oleh hal-hal seperti berikut:

  • sakit hati, frustrasi, pengalaman pribadi yang negatif, termasuk mekanisme perlindungan diri;
  • mengalami krisis intrapersonal dan eksistensial, kehilangan ambisi, jatuhnya ilusi dan harapan, dan rasa ketidakadilan di dunia;
  • perasaan ancaman dan rasa tidak aman, kehilangan dukungan dalam hidup;
  • rasa bersalah, dihukum karena keunggulan mereka sendiri;
  • egois dan bangga;
  • keinginan untuk mengekspresikan kepribadian, melawan stereotip dan kesesuaian.

Rujukaa: https://en.wikipedia.org/wiki/Cynicism_(contemporary)

Alumni UTM yang profesor di Indonesia dan luar negeri

[Diupdate 5 April 2022]

Jumlah alumni Universiti Teknologi Malaysia (UTM), program Magister dan Ph.D., yang berasal dari Indonesia yang telah menjadi profesor diberbagai universitas di Indonesia dan luar negeri telah bertambah menjadi 48 orang. Tahniah!

Luar negeri

  • Prof. Dr. Ahmad Hoirul Basori (King Abdulaziz University)
  • Prof. Dr. Muhammad Taher (International Islamic University Malaysia)
  • Prof. Dr. Nangkula Utaberta (UCSI University)

Indonesia

  • Prof. Dr. Abdullah (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Adi Surjosatyo (Universitas Indonesia)
  • Prof. Dr. Agus Setyo Budi (Universitas Negeri Jakarta)
  • Prof. Dr. Agus Suprapto (Universitas Merdeka Malang)
  • Prof. Dr. Ahmad Saudi Samosir (Universitas Lampung)
  • Prof. Dr. Andi Adriansyah (Universitas Mercu Buana)
  • Prof. Dr. Anis Saggaf (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Asri Nugrahanti (Universitas Trisakti)
  • Prof. Dr. Azriyenni (Universitas Riau)
  • Prof. Dr. Bambang Pramudono (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Didi Dwi Anggoro (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Didik Prasetyoko (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)
  • Prof. Dr. Hadi Nur (Universitas Negeri Malang)
  • Prof. Dr. Halifah Pagarra (Universitas Negeri Makassar)
  • Prof. Dr. Hartati (Universitas Negeri Makassar)
  • Prof. Dr. Istadi (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Iwan Vanany (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)
  • Prof. Dr. Kusmiyati (Universitas Dian Nuswantoro)
  • Prof. Dr. Lalu Mulyadi (Institut Teknologi Nasional)
  • Prof. Dr. Makmur Saini (Politeknik Negeri Ujung Pandang)
  • Prof. Dr. Moh. Khairudin (Universitas Negeri Yogyakarta)
  • Prof. Dr. Mohamad Djaeni (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Muhammad Abdy (Universitas Negeri Makasar)
  • Prof. Dr. Muhammad Anshar (Politeknik Negeri Ujung Pandang)
  • Prof. Dr. Mukhamad Nurhadi (Universitas Mulawarman)
  • Prof. Dr. Nasfryzal Carlo (Universitas Bung Hatta)
  • Prof. Dr. Nilda Tri Putri (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Okfalisa (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim)
  • Prof. Dr. Pratikso (Universitas Islam Sultan Agung)
  • Prof. Dr. Putut Marwoto (Universitas Negeri Semarang)
  • Prof. Dr. Refdinal Nazir (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Respati Wikantiyoso (Universitas Merdeka Malang)
  • Prof. Dr. Saktioto (Universitas Riau)
  • Prof. Dr. Saparudin (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Sarjon Defit (Universitas Putra Indonesia)
  • Prof. Dr. Setia Budi Sasongko (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Siti Morin Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
  • Prof. Dr. Siti Nurmaini (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Sugeng Wiyono (Universitas Islam Riau)
  • Prof. Dr. Sumeru (Politeknik Negeri Bandung)
  • Prof. Dr. Surya Afnarius (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Sutrasno Kartohardjono (Universitas Indonesia)
  • Prof. Dr. Tamrin (Universitas Sumatera Utara)
  • Prof. Dr. Tutuk Djoko Kusworo (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Zainuddin Nawawi (Universitas Sriwijaya)

_____

Catatan: Data alumni UTM yang bekerja diberbagai universitas di Indonesia dapat dicari melalui tautan ini.

Menangkal fitnah

Sony IC Recorder ini saya beli tiga tahun yang lalu sebagai salah satu upaya untuk menangkal fitnah. Banyak rahasia yang tersimpan di sini. Semoga Allah SWT melindungi kita dari fitnah orang yang dengki.

Jangan sesali apa yang telah terjadi

Mengetahui dan mempelajari sejarah penting untuk mengetahui makna dan hikmah kehidupan. Yang terpenting adalah, jangan menyesali apa yang telah terjadi. Jangan selalu mengandalkan skenario “bagaimana jika”. Ini dikenal sebagai sejarah alternatif.

47265953101_a73cb173d9_h
Ini adalah majalah yang saya beli mengenai sejarah alternatif.

Saya tidak pernah berpikir saya akan tinggal di Malaysia untuk waktu yang lama, lebih dari 20 tahun. Saya juga tidak menyangka akan menjadi profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan akhirnya pulang ke Indonesia sebagai profesor di Universitas Negeri Malang (UM) setelah hampir 27 tahun tinggal di luar Indonesia. Di masa lalu, semua ini gaib. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Masa depan tidak diduga. Itulah sebabnya kita harus percaya pada yang gaib, percaya pada qada dan qadar.

Di bawah ini adalah tulisan menarik yang saya dapat di internet yang berkaitan dengan apa yang telah terjadi. Tulisan ini telah edit.

Di dunia ini, semua benda bergerak di zona waktunya masing-masing.
Beberapa masih lajang.
Ada pernikahan yang menghabiskan biaya mahal, sebulan sudah berpisah.
Ada yang sudah menikah selama 10 tahun tetapi masih belum dikaruniai anak.
Ada yang baru saja menikah sebulan yang lalu, langsung hamil.

Ada yang lulus sarjana pada usia 23 tahun tetapi harus menunggu 5 tahun sebelum mereka bisa mendapatkan pekerjaan tetap.
Ada juga yang lulus di usia 29 tahun tapi setelah lulus langsung bekerja di pekerjaan dengan posisi permanen.
Ada lagi pemuda berusia 25 tahun yang menjadi CEO namun pada usia 50 tahun ia meninggal dunia.
Ada juga yang umur 50 tahun baru saja menjadi CEO dan hidup hingga 90 tahun.

Zona waktu kita tidak sama.
Jadi tidak perlu merasa bahwa kita 'tertinggal' hanya ketika tampaknya orang lain lebih sukses.
Waktu kita belum tiba.
Obama pensiun pada usia 55, tetapi Trump 'mulai' pada usia 70.
Hanya zona waktu mereka yang berbeda.
Tapi keduanya bisa jadi Presiden.

Ada yang menjadi kakek pada usia 47 tahun.
Bahkan, ada juga yang baru mendapat anak di usia yang sama.
Ada orang yang di depan dari kita.
Tapi ada juga yang di belakang kita.
Setiap orang bergerak di jalur yang berbeda di zona waktu yang berbeda.
Tuhan punya rencana yang berbeda untuk kita semua.
Jangan iri, jangan sedih, jangan sedih.
Mereka bergerak dengan zona waktu mereka dan kami juga memiliki zona waktu kami sendiri.

Anda tidak terlambat.
Anda tidak awal.
Anda tepat waktu.
Jangan stres.

Yakinlah bahwa rencana Tuhan jauh lebih baik, rezeki kita sudah dicatat oleh-Nya.
Rezeki adalah milik Allah.
Jangan bingung dengan pekerjaan Tuhan.
Kita bahkan tidak tahu masa depan kita
Masa depan kita selalu di tangan Tuhan.
Dan Tuhan itu adil.
Setiap orang akan mendapatkan apa yang Allah katakan pantas untuknya.
Perkuat ketergantunganmu kepada Allah, itu yang terpenting.

hadinur.blog.um.ac.id

Meski secara fisik saya akan pindah akhir Mei 2022 ke Universitas Negeri Malang (UM), saya sudah memiliki blog dengan alamat hadinur.blog.um.ac.id di UM. Menurut saya, di era internet ini, dosen harus bisa menyampaikan pandangannya melalui berbagai platform, termasuk blog pribadi, agar publik juga tahu apa yang terjadi di kampus, dan semoga bisa mencerdaskan anak bangsa.

Selamat pensiun Ohtani sensei

Seorang guru akan mempengaruhi tanpa batas waktu; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti.

Prof. Bunsho Ohtani, mentor saya di Hokkaido University (1999-2002) pernah mengunjungi saya di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) selama seminggu beberapa tahun yang lalu (November 2018). Saya adalah postdoc pertama di laboratorium beliau. Waktu saya datang 23 tahun yang lalu, beliau baru satu tahun menjadi profesor. Saya menyaksikan bagaimana beliau membangun grup riset dan laboratorium di Catalysis Research Center (CRC). Kemaren adalah kuliah terakhir beliau di Hokkaido University, dan pensiun secara resmi pada 31 Maret 2022. Secara akademik, beliau sudah punya cucu di UTM, karena Dr. Sheela Chandren, mahasiswa M.Sc. saya di UTM, lulus Ph.D. di bawah bimbingan beliau di Hokkaido University pada tahun 2012. Dari penampilan, beliau banyak berubah sejak saya bertemu beliau pada tahun 2009, sekarang lebih kurus. Beliau banyak mempengaruhi cara saya memandang sains. Beliau adalah saintis sejati. Terima kasih sensei, karena telah mendidik saya.

Keterangan gambar: Saya sebagai anggota grup riset Prof. Ohtani tahun 2000. Dari kiri kekanan: Dr. Bonamali Pal, Dr. Shigeru Ikeda, Dr. Hadi Nur, Prof. Bunsho Ohtani dan Noboru Sugiyama.

Keterangan gambar: Nama-nama dalam bulatan kuning yang merupakan formasi awal laboratorium Ohtani di Catalysis Research Center (CRC), Hokkaido University. Yun Hau Ng dalam bulatan coklat muda adalah mahasiswa M.Sc. saya di UTM dan kemudian menjadi mahasiswa Shigeru Ikeda di Osaka University. Shigeru Ikeda adalah assistant professor di laboratorium Ohtani pada tahun 1999 – 2003, dan pindah ke Osaka University pada tahun 2003.

Beliau juga bercerita mengenai sejarah penelitian katalisis di Jepang yang di mulai di Hokkaido University pada tahun 1940-an, tempat beliau dan saya melakukan penelitian. Tokoh penting dalam cerita beliau adalah Prof. Michael Polanyi, yang bekerjasama dengan Prof. Horiuti dari Research Institute for Catalysis di Hokkaido University, yang merupakan guru kepada Prof. T. Kagiya yang bekerja di laboratorium Prof. Fukui (penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1981) di Kyoto University. Prof. T. Kagiya adalah guru Prof. Ohtani di Kyoto University.

“Tanpa peranan Prof. Michael Polanyi, saya tidak akan seperti sekarang”, kata Prof. Ohtani. Dan saya tidak akan seperti sekarang jika saya tidak postdoc di Hokkaido University dengan beliau.

Di bawah ini adalah kuliah terakhir beliau tadi malam mengenai teknik baru yang dinamakan reversed double-beam photoacoustic spectroscopy (RDB-PAS) untuk karakterisasi material yang dihadiri oleh kolega-kolega dan juga murid-murid beliau.