Kartu yang bercerita

Lembaran-lembaran kertas kecil yang menyimpan perjalanan lebih dari 20 tahun. Dari seorang Lecturer hingga Professor, setiap kartu punya ceritanya sendiri tentang perjuangan, kegagalan, dan kesempatan. Terimakasih UTM atas memorinya, dan kini saatnya melanjutkan pengabdian di UM.

27 Tahun Lalu: Wisuda Ph.D. di UTM

Foto ini diambil pada momen wisuda Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). 27 tahun yang lalu, sebuah perjalanan panjang studi di bidang kimia mencapai salah satu titik penting dalam kehidupan akademik dan keluarga. Saat itu Farid baru berusia 4 tahun dan Firda masih berusia sekitar 1 bulan, sehingga momen ini menjadi kenangan keluarga yang sangat berharga. Saya resmi menyandang gelar Ph.D. di UTM yang secara resmi disetujui oleh Senat Universitas pada 9 Mei 1998, dan sertifikat gelar diterima pada 21 Agustus 1999 pada Konvokesyen UTM ke-23. Disertasi saya berjudul “Tailoring of Novel Metal-Substituted AlPO₄-5 Molecular Sieves as Potential Catalysts for Conversion of Alcohols.” Pada waktu itu saya juga sedang menjalani program postdoctoral di UTM, sebelum kemudian berangkat pada bulan November 1999 ke Hokkaido University, Jepang, sebagai JSPS Postdoctoral Fellow. Foto ini bukan hanya mengabadikan pencapaian akademik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmiah selalu berjalan bersama perjalanan keluarga dan membuka langkah menuju pengalaman riset internasional berikutnya.

20 Tahun Mengawal MJFAS: Refleksi

Per 9 Maret 2026 saya mengakhiri amanah sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS).

Lebih dari dua puluh tahun saya bersama MJFAS sejak masa awal pengelolaannya di Universiti Teknologi Malaysia. Pada tahun 2007 MJFAS menjadi jurnal pertama di UTM yang menggunakan Open Journal Systems. Saat itu pengelolaan jurnal masih sederhana dan transformasi digital belum menjadi kebiasaan.

Standar editorial diperketat. Proses review diperbaiki. Tata kelola diperjelas. Integritas publikasi dijaga. Semua dikerjakan bersama editor, reviewer, penulis, dan tim penerbitan.

MJFAS kini terindeks di Web of Science dalam kategori Multidisciplinary Sciences dengan Journal Impact Factor 2024 sebesar 0.6. Jurnal ini juga terindeks di Scopus dengan SJR 2024 sebesar 0.19 kategori Q3. MJFAS menerima Current Research in Malaysia CREAM 2018 Award dari Ministry of Education Malaysia sebagai pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional.

Memimpin jurnal adalah tanggung jawab menjaga mutu, etika publikasi, dan kepercayaan komunitas akademik. Setiap keputusan editorial membawa konsekuensi ilmiah bagi penulis dan institusi. Tugas ini menuntut waktu, ketelitian, dan komitmen yang konsisten. Ini bukan pekerjaan yang dibayar secara finansial, tetapi amanah akademik yang dijalankan dengan kesungguhan.

Jika dipikir kembali, ada rasa lega karena tanggung jawab panjang itu kini selesai. Beban keputusan, tekanan mutu, dan tuntutan reputasi tidak lagi berada di pundak saya. Yang berakhir adalah jabatan administratif. Yang tersisa adalah jejak kerja dan fondasi yang telah dibangun bersama.

Dua puluh tahun adalah perjalanan panjang. Kepemimpinan perlu dilanjutkan. Saya berharap MJFAS terus berkembang dan tetap menjunjung integritas ilmiah.

Detik-detik ketika jurnal Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) disubmit untuk diindeks oleh Scopus pada 29 Juli 2020.

Menulis atau Tidak Menulis?

Beberapa orang bertanya apakah saya sebaiknya berhenti menulis, ngeblog, atau memposting video kuliah dan opini di YouTube. Pertanyaan itu wajar. Apalagi beberapa tulisan saya belakangan ini menyentuh topik yang cukup sensitif di dunia akademik, seperti kualitas jurnal, etika akademik, arah pendidikan tinggi, hingga pertanyaan apakah kita benar-benar menciptakan pengetahuan atau sekadar menambah jumlah publikasi.

Bagi saya, menulis bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum media sosial, saya sudah menulis di blog dan surat kabar. Menulis adalah cara saya berpikir, merefleksikan pengalaman, dan berbagi pandangan.

Tujuan saya sederhana. Saya ingin menjaga percakapan intelektual tetap hidup. Tidak semua orang harus setuju. Jika satu tulisan saja membuat seseorang berhenti sejenak dan berpikir, itu sudah cukup.

Menulis dan memposting kuliah di YouTube juga menjadi cara saya tetap hadir secara intelektual di dunia akademik. Berbagi gagasan, pengalaman, dan refleksi adalah bagian dari bagaimana saya terus berpartisipasi dalam dunia akademik, bukan hanya melalui publikasi formal tetapi juga melalui ruang diskusi yang lebih terbuka.

Jadi jawabannya sederhana.

Saya mungkin tidak selalu berada di setiap ruang formal akademik, tetapi saya tetap berpikir, menulis, dan berbagi.

Menembus Ilusi Akademik

Saya baru mempublikasi tiga buku mengenai pendidikan tinggi (silakan baca melaui tautan ini). Trilogi ini mengajak pembaca untuk melepas topeng kemilau pendidikan tinggi yang selama ini diselimuti ilusi angka yang kerap menutupi realitas lebih dalam. Lewat pendekatan reflektif, trilogi ini menembus kenyamanan sistem yang mapan, menantang rutinitas birokratis, standar kuantitatif yang kaku, serta budaya pencitraan yang mengorbankan substansi demi penampilan. Di tengah hegemoni metrik dan tekanan performativitas tersebut, trilogi ini mengembalikan tiga pilar yang semestinya menjadi fondasi utama kehidupan akademik. Etika yang teguh, keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran meski tak populer, serta tanggung jawab intelektual yang autentik. Menghidupi pertanyaan-pertanyaan besar tentang pengetahuan, keadilan, dan makna keberadaan manusia di dalam institusi pendidikan. 

Etika Keilmuan

Video ini adalah rekaman kuliah Etika Keilmuan untuk tujuan edukasi dan pengembangan pemikiran kritis. Pandangan yang disampaikan merupakan refleksi akademik, bersifat umum, dan tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan individu, profesi, atau institusi tertentu. Penggunaan materi ini diharapkan tetap dalam konteks diskursus ilmiah.

Akhirnya Lolos

Ada kalanya sebuah kata terasa lebih jujur daripada pidato panjang. Seorang sahabat menulis, “you finally escaped.” Saya membaca kalimat itu lama. Lolos. Seakan dua puluh tahun terakhir adalah lorong sempit yang harus dilalui dengan napas tertahan.

Saya bekerja lebih dua dekade di negeri orang. Kontrak diperpanjang setiap beberapa tahun. Tak pernah putus, tak pernah permanen. Secara administratif, semuanya tampak teratur. Surat keluar, surat masuk, tanda tangan diperbarui. Dunia berjalan seperti biasa. Tetapi di sela rutinitas itu ada sesuatu yang tak pernah sepenuhnya tenang. Status yang selalu sementara membuat waktu terasa rapuh.

Akademisi sering dipuji sebagai warga dunia. Kita berpindah kampus, berpindah negara, membawa gagasan dan jaringan. Globalisasi ilmu pengetahuan dirayakan sebagai kemajuan. Namun jarang kita bertanya, bagaimana rasanya hidup dalam sistem yang terus mengingatkan bahwa posisi kita dapat berakhir pada periode berikutnya. Ada yang menyebutnya fleksibilitas. Ada pula yang menyebutnya efisiensi. Tetapi bagi yang menjalaninya, ia sering terasa seperti ketidakpastian yang dipelihara.

Ketidakpastian bukan sekadar soal gaji bulan depan. Ia menyentuh keberanian untuk berbeda pendapat, untuk bersuara keras dalam rapat, untuk mengambil risiko intelektual. Jika masa depan profesional bergantung pada pembaruan kontrak, kita belajar berhitung. Kita belajar menimbang kata. Kita belajar memilih aman. Perlahan, tanpa disadari, otonomi ilmiah yang diagungkan dalam teori menjadi sesuatu yang dinegosiasikan dalam praktik.

Ilmu pengetahuan membutuhkan waktu yang panjang. Ia tumbuh dari kesabaran, dari proyek yang tidak selesai dalam satu musim. Tetapi hidup dalam kepastian yang pendek membuat horizon ikut memendek. Proyek yang aman lebih menarik daripada gagasan yang berisiko. Laporan yang cepat lebih rasional daripada penelitian yang mendalam. Di atas kertas, produktivitas tetap tercatat. Namun ada sesuatu yang menguap pelan pelan: keberanian.

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan satu negara atau satu institusi. Setiap negara berhak mengatur siapa yang bekerja di dalamnya. Kedaulatan adalah fakta politik. Tetapi di tengah kebijakan dan peraturan, ada manusia yang mengabdi bertahun tahun. Jika kontribusi jangka panjang tidak diimbangi dengan kejelasan jalan ke depan, maka yang tumbuh adalah rasa tergantung, bukan rasa memiliki.

Ketika akhirnya saya kembali ke tanah air dan menerima amanah sebagai profesor, banyak yang mengucapkan selamat. Tetapi kata sahabat itu yang paling mengendap. Lolos. Ia mengandung ironi. Seakan dunia akademik, yang seharusnya menjadi ruang kebebasan berpikir, kadang berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin pergi.

Mungkin ini bukan kisah pribadi semata. Di banyak tempat, universitas semakin menyerupai korporasi. Peringkat, target, dan efisiensi menjadi bahasa sehari hari. Kontrak jangka pendek menjadi alat pengelolaan risiko. Dalam logika itu, fleksibilitas adalah kebajikan. Tetapi ilmu pengetahuan tidak selalu tunduk pada logika itu. Ia memerlukan kepercayaan, dan kepercayaan tumbuh dari kepastian.

Saya tidak merasa marah. Lebih tepat jika saya menyebutnya refleksi. Tentang betapa rapuhnya martabat profesional ketika ia terlalu lama digantung di udara. Tentang betapa pentingnya stabilitas bagi kebebasan berpikir. Dan tentang ironi bahwa dalam dunia yang menyebut dirinya global, rasa aman masih menjadi barang yang langka.

Barangkali “lolos” bukan berarti melarikan diri. Ia mungkin hanya berarti menemukan tempat di mana kerja ilmiah tidak lagi dibayangi pertanyaan sederhana yang berulang setiap dua atau tiga tahun: apakah saya masih di sini tahun depan.

Ketika Kelihatan Canggih Mengaburkan Ilmu

Ini adalah catatan saya sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Di layar monitor komputer saya sering tersusun naskah-naskah yang tampak hebat dengan judul menggelegar, istilah-istilah canggih, rangkaian grafik berwarna, bahkan pemodelan komputer yang seolah mengungkap rahasia baru dunia. Sekilas, semua itu terlihat layak dibanggakan. Tapi setelah lebih dari dua dekade menyeleksi manuskrip untuk MJFAS, saya duga kuat, kerapian visual bukan jaminan kontribusi ilmiah.

Karena kita punya banyak cara untuk menghasilkan angka, memodifikasi kode, atau menjalankan simulasi. Perangkat lunak kini tersedia bebas, database besar siap diunduh, dan algoritma siap dipakai tanpa kefahaman mendalam. Tetapi data yang diolah tanpa gagasan yang original hanya menghasilkan repetisi yang dikemas rapi. Ilmu bukan sekadar konsumsi angka. Ia adalah narasi, dialog, dan pemahaman terhadap sesuatu yang belum dijelaskan sebelumnya.

Apa yang sering saya tolak bukan karena salah prosedur etik atau format yang kurang tepat. Itu bisa diperbaiki. Yang saya tolak adalah manuskrip yang tidak menawarkan “sesuatu yang dibawa pulang” oleh pembaca. Tidak ada implikasi baru, tidak ada wawasan yang memperluas batas pengetahuan, hanya komputasi yang dipoles kata-kata canggih. Hal semacam ini, jika dibiarkan, mengaburkan citra sains yang seharusnya jujur dan reflektif.

Saya berpandangan MJFAS, idealnya, bukan sekadar pabrik angka atau katalog simulasi matematis. Ia adalah tempat pengetahuan diuji oleh peer-review sejati dan ditimbang menurut relevansi, originalitas, dan kedalaman intelektual. Dan itu tugas yang tidak pernah boleh kita lupakan, bahwa publikasi seharusnya menjadi langkah menuju pemahaman, bukan sekadar bukti bahwa kita tahu bagaimana menjalankan software.

Tata Kelola Sidang Doktor di ITB

Saya mendapat tugas sebagai penguji eksternal sekaligus penyanggah dalam sidang disertasi doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan topik penelitian mengenai komputasi desain katalis PdZn untuk reaksi hidrogenasi CO2 menjadi asam format. Ini merupakan kali kedua saya terlibat sebagai penguji dalam sidang doktor di ITB. Sebelumnya, sepuluh tahun yang lalu, saya berperan sebagai penguji sekaligus ko-promotor, dan kali ini sebagai penguji eksternal. Saya juga pernah menulis di blog ini mengenai serba-serbi sidang doktor di beberapa negara.

Sidang doktor di ITB dikelola secara sistematis, salah satunya melalui rapat pendahuluan untuk mengatur tata cara, urutan penanya, dan fokus pertanyaan agar tidak terjadi tumpang tindih. Mekanisme ini serupa dengan yang diterapkan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tempat saya juga beberapa kali bertugas sebagai penguji.

Melalui koordinasi awal tersebut, seluruh penguji memiliki pemahaman yang sama mengenai ruang lingkup evaluasi. Hal ini membuat diskusi berlangsung lebih terarah dan efisien.

Pada saat sidang utama, alur kegiatan berjalan sesuai pedoman yang telah ditetapkan. Kandidat diberikan waktu khusus untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dilakukan secara bergiliran. Setiap penguji memperoleh alokasi waktu yang jelas, sehingga diskusi berjalan seimbang dan tidak didominasi oleh satu pihak.

Peran Ketua Sidang sangat penting dalam menjaga suasana forum tetap kondusif. Ketua Sidang memastikan bahwa diskusi berjalan tertib serta tetap menjunjung tinggi etika akademik.

Sebagai penyanggah, beberapa bulan sebelum sidang saya telah menyampaikan catatan penguatan substansi yang kemudian diakomodasi dalam naskah tesis pada penelitian mengenai komputasi desain katalis PdZn untuk reaksi hidrogenasi CO2 menjadi asam format. Saya menilai kualitas penelitian kandidat sudah sangat baik dan semakin diperkuat melalui penambahan analisis berbasis Prinsip Sabatier dan volcano plot yang memanfaatkan data ΔE dan Ea melalui hubungan BEP. Setelah sesi tanya jawab, sidang dilanjutkan dengan rapat penilaian, di mana seluruh penguji memberikan evaluasi secara independen sebelum keputusan yudisium diumumkan secara terbuka.

Secara keseluruhan, tata kelola sidang doktor di ITB menunjukkan disiplin waktu, koordinasi yang matang, serta kepemimpinan sidang yang kuat menjadikan proses evaluasi berlangsung objektif, efektif, dan bermartabat.

Menembus Tembok Tradisi: Mengapa Saya Memilih Berkoalisi dengan AI dalam Peer Review

Sejak saya memulai perjalanan akademik pada tahun 1995 sebagai mahasiswa S3 di Malaysia, hingga akhirnya menapaki jenjang Profesor dan aktif sebagai editor serta reviewer jurnal selama lebih dari dua puluh tahun, saya telah menyaksikan transformasi dunia publikasi yang luar biasa.

Dahulu, saya melakukan review dengan tumpukan naskah fisik di meja. Semuanya manual, lambat, dan sangat bergantung pada keterbatasan kognitif manusia. Kini, kita berada di era kecerdasan buatan (AI). Saya tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan sebagai evolusi alami yang seharusnya kita peluk, bukan kita larang.

Paradoks Larangan AI oleh Penerbit Raksasa

Belakangan ini, penerbit besar seperti Elsevier mengeluarkan aturan ketat yang melarang reviewer menggunakan AI dalam proses penelaahan naskah. Namun, bagi saya yang sudah melintasi zaman dari era manual hingga era digital, aturan ini terasa ketinggalan zaman dan justru menghambat percepatan Iptek.

Berikut adalah argumen mengapa kebijakan pelarangan ini perlu dirombak total:

1. AI adalah “Partner” Diskusi, Bukan Pengganti Kepakaran. Tugas reviewer bukan hanya mencari kesalahan, tapi membantu penulis meningkatkan kualitas papernya. AI sangat unggul dalam mendeteksi inkonsistensi data, cacat logika, hingga pengecekan referensi. Jika saya bisa menggunakan “mikroskop digital” ini untuk melihat celah yang terlewat oleh mata manusia, mengapa harus dilarang? Keputusan akhir tetap di tangan saya sebagai pakar, bukan di tangan mesin.

2. Melatih AI adalah Investasi Pengetahuan Global. Penerbit mengkhawatirkan kerahasiaan, namun saya melihat sisi visioner: Data riset berkualitas yang dipelajari AI akan membangun “otak kolektif” yang lebih cerdas. Jika AI semakin pintar memahami metodologi kimia material atau filsafat bahasa, bukankah itu pada akhirnya akan mempercepat penemuan inovasi baru bagi seluruh umat manusia?

3. Realitas di Lapangan: Aturan yang Mustahil Ditegakkan. Secara teknis, tidak ada penerbit yang bisa mendeteksi apakah seorang reviewer berkonsultasi dengan AI di ruang privatnya. Aturan yang tidak bisa diawasi hanya akan menciptakan budaya “sembunyi-sembunyi”. Daripada melarang, jauh lebih bijak jika penerbit menciptakan protokol penggunaan AI yang transparan dan aman.

4. Keadilan bagi Peneliti Non-Native. Selama saya menetap di luar negeri dan kini kembali ke Indonesia, saya melihat banyak ide brilian terhambat kendala bahasa. AI adalah alat demokratisasi. Ia membantu kita fokus pada substansi pemikiran tanpa terdistraksi oleh tata bahasa. Melarang AI berarti memperkuat bias geopolitik yang merugikan peneliti dari negara berkembang.

Menatap Masa Depan

Bagi saya, integritas akademik tidak terletak pada alat apa yang kita gunakan, melainkan pada tanggung jawab atas keputusan yang kita ambil. Sebagai akademisi yang telah menjadi saksi transisi teknologi selama puluhan tahun, saya memilih untuk adaptif.

Teknologi tidak bisa dibendung oleh regulasi yang kaku. Iptek maju karena keberanian kita mengeksplorasi alat-alat baru. Sudah saatnya komunitas akademik dunia berhenti bersikap defensif dan mulai merangkul AI sebagai mitra untuk memajukan peradaban manusia.