Ini adalah catatan saya sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Di layar monitor komputer saya sering tersusun naskah-naskah yang tampak hebat dengan judul menggelegar, istilah-istilah canggih, rangkaian grafik berwarna, bahkan pemodelan komputer yang seolah mengungkap rahasia baru dunia. Sekilas, semua itu terlihat layak dibanggakan. Tapi setelah lebih dari dua dekade menyeleksi manuskrip untuk MJFAS, saya duga kuat, kerapian visual bukan jaminan kontribusi ilmiah.
Karena kita punya banyak cara untuk menghasilkan angka, memodifikasi kode, atau menjalankan simulasi. Perangkat lunak kini tersedia bebas, database besar siap diunduh, dan algoritma siap dipakai tanpa kefahaman mendalam. Tetapi data yang diolah tanpa gagasan yang original hanya menghasilkan repetisi yang dikemas rapi. Ilmu bukan sekadar konsumsi angka. Ia adalah narasi, dialog, dan pemahaman terhadap sesuatu yang belum dijelaskan sebelumnya.
Apa yang sering saya tolak bukan karena salah prosedur etik atau format yang kurang tepat. Itu bisa diperbaiki. Yang saya tolak adalah manuskrip yang tidak menawarkan “sesuatu yang dibawa pulang” oleh pembaca. Tidak ada implikasi baru, tidak ada wawasan yang memperluas batas pengetahuan, hanya komputasi yang dipoles kata-kata canggih. Hal semacam ini, jika dibiarkan, mengaburkan citra sains yang seharusnya jujur dan reflektif.
Saya berpandangan MJFAS, idealnya, bukan sekadar pabrik angka atau katalog simulasi matematis. Ia adalah tempat pengetahuan diuji oleh peer-review sejati dan ditimbang menurut relevansi, originalitas, dan kedalaman intelektual. Dan itu tugas yang tidak pernah boleh kita lupakan, bahwa publikasi seharusnya menjadi langkah menuju pemahaman, bukan sekadar bukti bahwa kita tahu bagaimana menjalankan software.