Di banyak kampus hari ini, ada satu kalimat yang nyaris tak pernah terdengar di ruang rapat, seminar, atau forum ilmiah: “Saya tidak tahu.”
Kalimat sederhana itu perlahan dianggap sebagai tanda kelemahan. Dalam iklim kompetisi akademik yang terlalu terobsesi pada pemeringkatan global, indeks sitasi, dan reputasi institusi, mengaku tidak tahu seolah menjadi risiko profesional. Akademisi didorong membangun citra kehebatan yang nyaris sempurna, seakan-akan ketidaktahuan adalah aib, bukan pintu masuk menuju pengetahuan.
Padahal, justru dari keberanian mengakui keterbatasanlah ilmu pengetahuan tumbuh.
Analogi Tembok Kehebatan
Bayangkan sebuah kota yang berlomba membangun tembok paling tinggi agar tampak megah dari luar. Semua energi habis untuk meninggikan dinding, mengecat fasad, dan memoles gerbang. Namun, fondasinya tidak pernah diperiksa. Retak kecil ditutupi cat. Lubang ditambal asal. Kota itu tampak kuat, tetapi rapuh dari dalam.
Banyak universitas hari ini bergerak dengan logika yang mirip. Ranking global menjadi etalase, publikasi menjadi ornamen, sementara ruang refleksi kritis dan keberanian untuk mengakui kesalahan justru menyempit. Akademisi dipaksa tampil selalu yakin, selalu unggul, selalu kompeten, bahkan ketika realitas riset justru penuh ketidakpastian.
Ilusi kehebatan ini membangun tembok otoritas semu: terlihat kokoh, tetapi menutupi rapuhnya proses berpikir.
Analogi Navigasi: Kompas yang Tak Pernah Dikoreksi
Seorang pelaut yang berlayar tanpa pernah mengkalibrasi kompasnya mungkin merasa percaya diri, sampai suatu hari ia tersesat jauh dari tujuan. Keyakinan yang tidak pernah diuji justru berbahaya.
Dalam dunia akademik, skeptisisme sehat berfungsi seperti kalibrasi kompas. Ia memungkinkan kita mempertanyakan asumsi, menguji ulang metode, dan menerima bahwa sebagian peta pengetahuan kita masih kosong. Namun ketika universitas dikelola seperti korporasi yang mengejar citra, setiap pertanyaan kritis dianggap sebagai gangguan stabilitas, bahkan ancaman reputasi.
Akhirnya, kampus bukan lagi ruang eksplorasi, melainkan ruang konservasi citra.
Analogi Medis: Dokter yang Tak Pernah Berkonsultasi
Bayangkan seorang dokter yang menolak berkonsultasi karena takut dianggap tidak kompeten. Ia memaksakan diagnosis meskipun ragu, menutup kemungkinan kesalahan, dan enggan belajar dari kolega. Bagi pasien, sikap ini bisa berakibat fatal.
Ilmu pengetahuan bekerja dengan prinsip serupa. Mengakui keterbatasan bukanlah kelemahan, melainkan mekanisme keselamatan intelektual. Tanpa itu, kita hanya memproduksi keyakinan, bukan kebenaran.
Sayangnya, sistem penilaian akademik hari ini sering menghargai kepastian semu lebih tinggi daripada kejujuran epistemik.
Pendidikan atau Pencitraan?
Pendidikan yang benar-benar mencerdaskan tidak bertujuan menciptakan manusia yang selalu tampak benar, melainkan manusia yang mampu berpikir jernih, rendah hati secara intelektual, dan berani merevisi keyakinannya.
Mengakui “saya belum tahu” bukanlah tanda kekalahan, tetapi tanda kedewasaan ilmiah. Dari titik itulah pertanyaan lahir, riset dimulai, dan inovasi muncul.
Ketika kampus kehilangan keberanian untuk mengaku tidak tahu, yang tumbuh bukanlah ilmu, melainkan mitologi otoritas: gelar tanpa kebijaksanaan, prestise tanpa refleksi, angka tanpa makna.
Menurunkan Tembok, Membuka Jendela
Mungkin sudah waktunya universitas berhenti membangun tembok kehebatan, dan mulai membuka jendela kejujuran. Jendela yang memungkinkan angin skeptisisme masuk, cahaya keraguan menyinari asumsi lama, dan dialog autentik tumbuh kembali.
Ilmu tidak berkembang karena kita terlihat pintar, tetapi karena kita berani jujur pada apa yang belum kita pahami.
Dan justru di sanalah martabat akademik yang sesungguhnya berada.