Tulisan saya mengenai pengalaman membimbing mahasiswa baru saja diterbitkan. Nur, H. (2026). Future scholars: A reflective analysis of student mentorship in scientific research. In A. P. Wibawa et al. (Eds.), The world of life-based learning (pp. 205–218). Springer Nature. (DOI: https://doi.org/10.1007/978-3-032-16731-6_15).
Di kampus, kita sering lupa: pendidikan bukan sekadar gelar. Ia tumbuh dari perjumpaan antara guru dan murid, dari bimbingan yang sabar, dari percakapan yang menyalakan pikiran. Tulisan ini mengingatkan bahwa riset adalah jalan terjal. Penuh ragu, gagal, lalu mencoba lagi. Karena itu mahasiswa tak hanya perlu ilmu, tapi juga seorang mentor yang menunjukkan arah saat kabut datang. Namun kampus hari ini terlalu sibuk: angka, kuota, administrasi, dan kelas yang sesak. Hubungan manusiawi pelan-pelan diganti sistem. Maka pesannya sederhana: universitas jangan menjadi pabrik ijazah. Ia harus tetap menjadi tempat manusia bertumbuh.
Di bawah ini adalah infografik dari tulisan saya yang dibuatkan oleh ChatGPT.
Kita sedang terjebak dalam sebuah perayaan yang semu. Di aula-aula universitas, di baliho pinggir jalan, hingga di siaran pers kementerian, angka-angka peringkat dunia dipamerkan bak piala kemenangan perang. Ada kenyataan pahit yang sengaja kita tutupi: universitas kita mungkin sedang mendaki tangga global, tapi kehilangan pijakan di tanah air sendiri.
Ada yang mengganggu pikiran saya belakangan ini. Kita melihat ada negara yang tidak menghiasi daftar universitas top dunia, namun mereka mampu membangun teknologi strategis secara mandiri, tetap tegak di bawah sanksi global, dan memiliki ketahanan energi serta pangan yang luar biasa. Mengapa? Karena mereka memahami perbedaan mendasar antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara.
Masalah utama kita adalah ketidakmampuan membedakan antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara. Dunia pertama adalah Dunia Akademik Global. Di sini, mata uangnya adalah publikasi ilmiah, jumlah sitasi, reputasi internasional, dan jejaring global. Ini adalah dunia visibilitas. Tentu, ini penting. Namun, dunia ini memiliki kecenderungan untuk menggiring peneliti menjadi “mesin produksi paper” demi mengejar angka. Dunia kedua adalah Dunia Strategis Negara. Di sini, metrik keberhasilan bukan lagi soal berapa banyak paper yang terbit di jurnal Q1, melainkan: Apakah teknologi ini bisa kita bangun sendiri? Apakah masalah kemiskinan dan efisiensi industri terpecahkan? Apakah kita mandiri secara sains? Ironisnya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita menganggap bahwa kenaikan ranking universitas secara otomatis berarti kenaikan kekuatan teknologi bangsa. Padahal, ranking bicara soal pengakuan, sementara kekuatan bicara soal kemampuan nyata. Birokratisasi Ilmu dan Etika yang Terpinggirkan Ketika universitas hanya fokus pada angka, terjadilah apa yang saya sebut sebagai “birokratisasi ilmu”.
Dosen dan peneliti kehilangan kemerdekaannya untuk berpikir liar karena energinya habis untuk urusan mengejar indikator kinerja. Kita harus berani menggugat etika keilmuan kita sendiri. Untuk apa ilmu ini dibangun? Apakah sekadar untuk diakui oleh komunitas global agar universitas terlihat mentereng di atas kertas, atau untuk digunakan sebagai daya bagi bangsa yang sedang berjuang ini?
Ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, bukan sekadar untuk dipamerkan. Sejarah tidak akan mengingat sebuah bangsa dari angka ranking universitasnya di tahun tertentu. Sejarah akan mencatat apa yang benar-benar berhasil dibangun oleh bangsa tersebut: jembatan yang kokoh, energi yang murah bagi rakyat, teknologi pertahanan yang tangguh, dan kedaulatan berpikir.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa ranking kita tahun ini?” dan mulai bertanya dengan jujur, “Apakah ilmu yang kita produksi hari ini benar-benar membuat bangsa kita lebih kuat?” Jika universitas kita hanya hebat dalam urusan sitasi namun rapuh dalam realitas sosial dan teknologi, maka kita sebenarnya sedang membangun menara gading di atas pasir. Megah terlihat dari jauh, namun akan runtuh saat dihantam gelombang kenyataan.
Kuliah kali ini membedah benang merah antara naluri bertahan hidup, kekuasaan, dan integritas yang sering kali saling sikut di dunia akademik. Bayangkan, dari teori evolusi Darwin yang mengajarkan survival of the fittest hingga konsep virtu ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, manusia sebenarnya berada dalam paradoks besar: kita disebut Homo Sapiens yang bijaksana, tapi realitanya sering terjebak dalam eksploitasi dan ketidakjujuran. Di dunia sains pun tantangannya nyata; tekanan publikasi dan birokrasi kuantitatif kadang memaksa peneliti masuk ke “mode bertahan hidup” yang memicu manipulasi data hingga ketergantungan pada AI yang kebablasan. Pada akhirnya, etika keilmuan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keseimbangan yang hanya bisa tegak jika kesejahteraan peneliti terjamin, hakikat ilmu dipahami secara filosofis, dan sistem sistemik tidak lagi bersifat korup atau sekadar mengejar angka.
Bayangkan dunia sebuah jalan lurus yang panjang. Orang biasa yang pengetahuannya sederhana, jalan dengan tenang. Mereka lihat jalan, ya jalan saja. Kalau ada rintangan, mereka lewati atau hindari secara langsung. Pendirian mereka kokoh karena nggak terlalu banyak mikir. Mereka cuma “hidup dan jalani”.
Orang intelektual itu seperti orang yang dikasih kacamata super canggih yang bisa zoom, scan, analisis segala sudut. Dia lihat jalan yang sama, tapi otaknya langsung berputar: “Jalan ini sebenarnya ilusi? Apa ini cuma proyeksi otak kita? Apa gravitasi benar-benar ada atau cuma teori? Apa hidup ini meaningful atau cuma proses kimiawi acak? Apa moral itu objektif atau cuma konstruksi sosial?” Akhirnya, setiap langkah jadi ragu. Jalan yang tadinya lurus dan jelas, sekarang terasa goyang, penuh pertanyaan, penuh “mungkin”, “tapi”, dan “di sisi lain”. Pendiriannya jadi berantakan, goyah, sulit untuk teguh berdiri di satu titik.
Makanya orang yang bijak dalam ilmu sering diam-diam berharap: “Semoga aku bisa melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana lagi, seperti dulu waktu pengetahuanku masih polos.”
Kenapa ini terjadi?
Karena ilmu pengetahuan yang dalam itu seperti membuka ribuan pintu sekaligus. Setiap pintu membawa pertanyaan baru, keraguan baru, dan sudut pandang baru. Awalnya terasa keren karena merasa “pintar”, tapi lama-lama membuat sulit untuk berdiri teguh di satu nilai, satu keyakinan, atau satu cara melihat hidup. Jadi seperti orang yang berdiri di atas gelombang laut. Ombak ilmu terus datang, pendirian terus bergoyang.
Apa pesan utamanya?
Ini soal pendirian dalam melihat dunia. Orang intelektual yang paling kuat bukan yang paling banyak tahu, tapi yang bisa menjaga keseimbangan: Dia tetap pakai ilmu mendalamnya, tapi nggak sampai membiarkan ilmu itu merusak kemampuannya untuk tetap teguh, bertindak, dan menjalani hidup dengan penuh keyakinan.
Jadi, semakin dalam ilmu pengetahuanmu, semakin penting untuk sesekali “lepas kacamata zoom”-nya dan lihat dunia dengan mata polos lagi. Karena dunia yang terlalu dianalisis kadang justru membuat kita sulit untuk benar-benar hidup di dalamnya.
Tetap berpikir kritis. Tapi jangan sampai pendirian ikut goyah hanya karena terlalu banyak “kenapa” dan “bagaimana”. Kadang, cara paling bijak melihat dunia adalah dengan sedikit kerendahan: cukup lihat, cukup jalani, dan cukup teguh.
Itu yang bikin pendirian tetap kokoh di tengah lautan ilmu.
Di tengah salju, saya berfoto bersama putra sulung saya, Farid Rahman Hadi, di depan apartemen kami (Blue Tree 226). Farid baru berusia 4 tahun. Foto ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan saksi bisu perjuangan di perantauan. Ada harapan besar yang sedang dipupuk di Sapporo yang membeku.
Ini lokasi foto di ambil dari depan apartmen yang beralamat di Blue Tree 226 [701], 2-27, Kita-Ku Kita 22 Jo Nishi 6 Chome, Sapporo-Shi, Hokkaido, 001-0022. https://maps.app.goo.gl/pNv1zJUmJC3oJpTD8
Usai menyelesaikan dua tahun masa tinggal di apartemen sebagai JSPS Postdoctoral Fellow, kami pindah ke Hokkaido University International House pada November 2001 menyusul penunjukan saya sebagai COE Visiting Researcher di Hokkaido University.
Foto di ambil dari depan rumah yang beralamat di Hokkaido University International House, 13-21-1, Kita-ku Kita 23-jo Nishi 13-chome, Sapporo-shi, Hokkaido, 001-0023. https://maps.app.goo.gl/NcXD35rs41oKCeJZ8
Seminar desain operasional penelitian disertasi yang dilaksanakan pada 31 Maret 2026 ini merupakan langkah penting bagi Riska Septia Wahyuningtyas, mahasiswa doktor bimbingan saya dalam bidang Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang (UM), untuk memaparkan rancangan studinya yang inovatif mengenai integrasi ekologi semiferal cat (kucing kampus) melalui model Problem Oriented Project Based Learning (POPBL). Dalam diskusi yang berlangsung dinamis bersama tim penguji dan pembimbing, penelitian ini ditekankan untuk tidak hanya mengkaji aspek etologi dan ekologi hewan secara teknis, namun lebih dalam menyentuh landasan filosofis pendidikan guna mentransformasi mahasiswa dari sekadar pengamat emosional menjadi problem solver yang berbasis literasi ilmiah (animal literacy). Melalui masukan konstruktif dari Prof. Dr. Fatchur Rahman, M.Si., Riska diarahkan untuk mempertajam analisis ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam disertasinya, sehingga modul ekologi yang dikembangkan nantinya mampu menjembatani kesenjangan teori dengan aksi konservasi urban yang nyata di lingkungan kampus.
Berdasarkan karakter di buku The Geography of Bliss + sedikit bumbu Indonesia)
Suatu sore di sebuah kafe kecil di Bali (tempat netral biar semua orang merasa “di rumah”), empat orang dari negara berbeda kebetulan duduk satu meja karena kafe penuh. Mereka lagi ikut konferensi “World Happiness Summit”.
Hans (Belanda, 42 tahun, pakai sepatu clogs, bawa cerutu kecil): “Bro, di Belanda bahagia itu gampang! Bebas! Mau ganja? Legal. Mau prostitusi? Legal. Mau nongkrong di kafe 6 jam cuma minum satu bir hangat? Silakan! Yang penting ‘don’t tread on me’ [1] — jangan ganggu urusanku!”
Fritz (Swiss, 45 tahun, baju rapi banget, jam tangan mahal tapi disembunyiin): merapikan serbet dengan teliti “Di Swiss, bahagia itu tertib. Jam 10 malam WC harus disiram pelan-pelan. Minggu pagi jangan potong rumput. Kalau tetangga beli mobil baru, kami langsung curiga: ‘Ada masalah keuangan ya?’ C’est pas mal [2]… tidak buruk.”
Somchai (Thailand, 38 tahun, senyum lebar dari tadi, pakai baju batik Bali yang dia beli tadi pagi): senyum sambil mengacungkan jempol “Mai pen lai [3], teman-teman! Yang penting jai yen [4]. Kalau macet di Bangkok 3 jam, senyum saja. Kalau pohon tetangga mengganggu, patahkan satu daun saja. Sanuk [5] dulu! Kalau tidak fun, buat apa?”
Budi (Indonesia, 40 tahun, bawa tas kresek berisi keripik dan es teh): “Wah gila, kalian keren-keren! Di Indonesia bahagia itu… gotong royong [6]! Macet? Santai aja, kita nyanyi bareng dangdut di mobil. Banjir? Kerja bakti bareng, bawa ember sama tetangga. Tapi… eh Hans, kalau lo beli mobil baru Ferrari, jangan pamer di Instagram ya… nanti kami iri, terus syukuran bareng biar adil. Hehe.”
Fritz langsung kaku: “Ada aturan! Di Swiss ini dilarang! Kalau ketahuan polisi, denda 500 franc!”
Somchai senyum lebar: “Mai pen lai [3]… kalau ketahuan, senyum saja. Jai yen [4]…”
Budi langsung ambil peran: “Eh, santai! Kita gotong royong [6] aja. Hans kasih ganja, Fritz kasih aturan, Somchai kasih senyum, aku kasih keripik sama es teh. Kita arisan dulu buat beli satu porsi rendang, biar semua bahagia bareng!”
Mereka berempat akhirnya tertawa ngakak sampai pelayan kafe datang. Hans: “Ini baru namanya happiness summit!” Fritz: “C’est pas mal [2]…” Somchai: “Sanuk [5] banget!” Budi: “Santai aja bro… tapi besok kita foto bareng ya, biar di-upload ke grup WA keluarga, katanya ‘lihat, gue lagi internasional’.”
Mereka berempat kemudian foto selfie bareng, dengan caption yang sama: “Bahagia itu campuran: bebas, tertib, fun, dan gotong royong.”
Tapi di belakang foto, Hans diam-diam ngerokok cerutu, Fritz lagi ngecek jam tangannya, Somchai senyum lebar, dan Budi lagi bisik ke pelayan: “Mbak, tolong tambahin sambel… biar lebih sanuk [5].”
Tamat.
Catatan Kaki (untuk pembaca Indonesia yang mungkin belum familiar):
[1] Don’t tread on me: Slogan kebebasan pribadi klasik (awalnya dari Amerika), artinya “Jangan ganggu urusanku” atau “Jangan injak aku”. Hans pakai ini untuk gambarkan budaya toleransi ekstrem Belanda.
[2] C’est pas mal: Ungkapan Prancis yang dipakai orang Swiss, artinya “Tidak buruk” atau “Lumayan aja”. Sikap khas Swiss yang selalu “cukup”, tidak berlebihan.
[3] Mai pen lai: Ungkapan Thailand yang sangat terkenal, artinya “Never mind”, “Tidak apa-apa”, atau “Sudahlah”. Filosofi hidup santai untuk melepaskan masalah dan lanjut hidup.
[4] Jai yen: “Cool heart” atau “hati yang dingin/tenang”. Di Thailand, ini dianggap sikap paling baik. Jangan marah atau emosional, tetap tenang supaya harmoni terjaga.
[5] Sanuk: Kata Thailand yang artinya “fun” atau “menyenangkan”. Kalau sesuatu tidak sanuk, orang Thailand cenderung tidak mau melakukannya.
[6] Gotong royong: Kerja sama saling tolong-menolong antar tetangga atau komunitas, khas budaya Indonesia (sudah sangat familiar, tapi tetap dicantumkan biar lengkap).
Tulisan ini menggunakan pemberitaan publik sebagai ilustrasi fenomena. Bukan sebagai dasar generalisasi tunggal mengenai fenomena publikasi ilmiah di zaman kecerdasan buatan ini. Kasus ini tentu tidak berdiri sendiri. Ini mencerminkan pola yang lebih luas dalam ekosistem akademik yang semakin terdorong oleh logika angka dan metrik.
Skandal Publikasi Ilmiah dan Tekanan Publikasi
Saya baru saja membaca berita mengenai skandal seorang fisikawan, yang tampaknya menjadi potret nyata dari masalah yang kini kian sering ditemukan akibat tekanan publikasi yang tidak masuk akal karena ekosistem, waktu, dan dana yang tidak mendukung. Ini salah satu contoh. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh seorang peneliti menandai adanya “cacat serius dalam metodologi penelitian, hasil numerik, dan interpretasi temuan” pada puluhan makalah terkait unsur super berat. Hal ini berujung pada penarikan (retraction) tiga artikel dari The European Physical Journal A serta munculnya belasan Expression of Concern lainnya, yang menunjukkan betapa rapuhnya kualitas riset ketika kuantitas menjadi satu-satunya tolok ukur.
Praktik Manipulasi dan “Hyper-citation”
Ekses dari ambisi mengejar angka publikasi ini terlihat sangat jelas pada pola sitasi dan kualitas teknis karya-karyanya. Sebagai contoh, dalam satu makalah di Physical Review C, ditemukan bahwa 86 dari 95 sitasi ditujukan ke publikasi sendiri. Sebuah praktik manipulasi sitasi mandiri yang ekstrem untuk mendongkrak metrik performa. Komunitas sains melalui platform PubPeer juga menyoroti banyaknya grafik tanpa unit atau skala vertikal yang jelas, yang menurut para ahli tidak mungkin dihasilkan oleh peneliti yang kredibel, namun ironisnya tetap bisa lolos ke jurnal-jurnal yang selama ini dianggap sebagai “rumah” bagi fisika nuklir.
Risiko Nyata terhadap Ekosistem Sains
Krisis integritas ini membawa dampak yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar angka di atas kertas; ia merusak fondasi kepercayaan dalam sains. Para kolega sejawat memperingatkan bahwa “prediksi” palsu dari riset berkualitas rendah ini dapat menyesatkan peneliti lain untuk melakukan eksperimen yang mustahil, sehingga membuang-buang sumber daya manusia dan investasi finansial yang sangat berharga. Fenomena riset hypernumerical ini menjadi pengingat pahit bagi kita bahwa ketika sistem akademik terlalu menekan angka, kejujuran intelektual sering kali menjadi korban pertama yang dikorbankan demi kelangsungan karier.
Hari Raya ke-5 (25 Maret 2026), saya justru mengajar, memberikan kuliah online untuk program Global Class Universitas Diponegoro (UNDIP). Karena dilakukan dari rumah, saya harus “berimprovisasi”. Papan tulis saya letakkan di atas meja kerja, posisi kamera saya atur sedemikian rupa, hingga akhirnya tercipta ruang mengajar sederhana yang tetap nyaman dan efektif. Dan di situlah saya kembali diingatkan, bahwa mengajar bukan soal tempat, tetapi soal komitmen untuk terus berbagi. Bahkan di tengah suasana Lebaran, proses belajar tidak pernah benar-benar berhenti. Selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.
You must be logged in to post a comment.