Apresiasi untuk presiden Indonesia

Saya mendapatkan video ini dari grup Whatsapp Majlis Profesor UTM yang diposting oleh seorang profesor. Teman-teman dari Malaysia dalam grup sangat mengapresiasi pernyataan Presiden Joko Widodo, dan juga kemajuan Indonesia selama kepemimpinan beliau. Melihat video ini, kelihatan aura positif dan ketulusan Presiden Joko Widodo.

Keprofesoran

Ada dua peristiwa penting dalam perjalanan karir saya sebagai dosen, pertama ketika diangkat sebagai profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2010, dan dikukuhkan pada tahun 2011, dan kedua ketika dianugerahkan adjunct professor oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2017. Ada istilah penting yang diharapkan dari penganugerahan tersebut, yaitu ‘keprofesoran’, yang maksudnya adalah sifat dan kewibawaan sebagai profesor. Kewibawaan itu tidak bisa dilihat dari angka-angka saja seperti jumlah publikasi dan sitasi, karena kewibawaan itu hanya kelihatan dari pandangan rekan-rekan sejawat (peer group).

Patut dipahami bahwa profesor adalah jabatan. Dari jabatan ini, diharapkan seseorang itu dapat mengembangkan bidang ilmu yang diembankan kepadanya. Oleh karena ini adalah jabatan, diharapkan seorang profesor tersebut dapat bertindak layaknya sebagai sebuah institusi kecil untuk menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan juga Amerika Serikat dimana seorang profesor mengetuai sebuah unit kecil yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan dan riset. Di universitas di Jepang, unit ini dinamakan sebagai Koza. Sebuah Koza mempunyai laboratorium diketuai oleh seorang profesor, dan terdiri dari associate professor, assistant professor, postdoc, mahasiswa B.Sc., M.Sc., dan Ph.D. Dengan begitu, proses dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat dilakukan dengan lebih terarah dan mendalam karena setiap Koza mempunyai spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Dari sinilah keprofesoran itu dapat diwujudkan dan berkembang dengan baik.

Tulisan lama saya mengenai keprofesoran dapat dirujuk dari tautan di bawah ini, yang saya tulis tiga belas tahun yang lalu.

Cara pandang kita

Walaupun sudah lebih 26 tahun tinggal di luar Indonesia, dan 23 tahun di Malaysia, saya tetap memperhatikan perkembangan Indonesia. Video yang berjudul “Bagaimana Indonesia Menjadi Kuasa Besar Ekonomi Dunia” di bawah ini saya ambil dari APHD channel di Youtube. Kita perlu juga melihat pandangan dari orang luar sehingga kita dapat memperoleh pandangan yang lebih baik mengenai hal ini. Sebagai manusia, kita mempunyai kecenderungan bias, namun sebagai profesor dalam bidang kimia, saya perlu mengajarkan kepada mahasiswa bahwa bias perlu dihindari dalam mengambil dan menganalisis data.

Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=cYlAqgrUtUM

Kekeliruan data dalam riset

Topik kekeliruan data merupakan kelanjutan dari topik bias kognitif dalam riset. Saya pikir hal ini penting disampaikan kepada mahasiswa magister dan Ph.D. yang sedang saya ajar semester ini, meskipun topik ini tidak termasuk dalam silabus mata kuliah penelitian ilmiah. Saat ini ada kecenderungan proses perolehan data tidak terlalu diperhatikan.

Mengapa Mereka Marah

Ini adalah tulisan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dimuat di Majalah Tempo pada tanggal 20 Juni 1981 yang ternyata relevan dengan situasi saat ini. Pemikiran yang jauh ke depan.

Abdurrahman Wahid

Seorang kawan menanyakan, mengapa banyak pemuka masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis”. Atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “isu negara Islam”.

Pertanyaan yang patut direnungkan. Karena ia menunjuk pada perkembangan sangat kompleks dalam kehidupan bermasyarakat kaum muslimin. Juga bersangkutan dengan kemelut identitas kultural muslimin di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di negeri kita.

Pertanyaan kompleks sudah tentu tidak dapat dijawab sederhana. Membutuhkan renungan yang dalam, juga tidak kurang keberanian moral untuk melihat masalahnya dengan jernih. Dengan tidak hanyut oleh luapan marah, atau ketakutan yang disembunyikan rapat-rapat di balik kebanggaan akan peranan kesejarahan diri sendiri, atau kegairahan menudingkan jari terhadap kesalahan “pihak lain” dalam percaturan politik, kultural, dan keagamaan yang dihadapi.

Juga memerlukan kesanggupan untuk menelusuri mana wilayah kehidupan yang hakikatnya menjadi “agenda pemikiran” kaum muslimin. Dan membedakannya dari agenda semu yang kini dijajakan sebagai pertanda kebangunan kembali Islam.

Pengagungan Diri

Kaum muslimin, di mana-mana, terbagi dalam dua kelompok utama. Pertama, mereka yang mengidealisasi Islam sebagai alternatif satu-satunya terhadap segala macam isme dan ideologi. Kedua, mereka yang menerima dunia ini “secara apa adanya”.

Pihak pertama menganggap Islam telah memiliki kelengkapan cukup untuk menjawab masalah-masalah utama umat manusia. Tinggal dilaksanakan ajarannya dengan tuntas, tak perlu lagi menimba dari yang lain. Karenanya, kalau dianggap perlu ada dialog dengan keyakinan, isme, atau ideologi lain, haruslah ia diselenggarakan dalam kerangka menunjukkan kelebihan Islam.

Seonggok “pembuktian” diajukan—umumnya dengan mengemukakan jawaban idealistis yang pernah dirumuskan Islam. Sudah tentu jawaban itu dilandaskan pada sejumlah pengandaian serba-idealistis pula: kalau saja umat manusia mau mengikuti ajaran Islam (padahal kenyataannya tidak), jika para pemimpin menggunakan moralitas Islam (padahal hanya satu-dua orang saja yang mampu), dan seterusnya.

Postulat-postulat formal Islam diajukan sebagai jawaban terhadap kemelut kehidupan masa modern: ayat-ayat Quran dan hadis Nabi sebagai tolok ukur lahiriah satu-satunya bagi “kadar keislaman” segala sesuatu yang dikerjakan.

Tidak heran kalau sikap kritis terhadap keadaan sendiri tidak dapat dikembangkan sepenuhnya—terhalang oleh “sudah sempurnanya” Islam sendiri. Lalu menjadi wajar juga kecenderungan untuk hanya mampu mengagungkan diri sendiri, yang memandang remeh perkembangan. Perkembangan apa pun di luar keasyikan kita dengan kehebatan Islam lalu tidak memiliki nilai yang tinggi.

Kalau perkembangan di luar tidak dapat diabaikan, dicarikanlah alasan untuk menghindarkan pemikiran mendalam atasnya: ini buah pikiran komunistis, itu ide sekuler, dan seterusnya. Semakin besar kenyataan di luar menghadang ufuk pandangan kita, semakin hebat upaya melarikan diri dari perwujudan konkretnya.

Kalau diajukan pemikiran untuk mencari jawaban konkret (bukan hanya idealistis) dengan jalan menghadapkan ajaran Islam pada kerangka berpikir baru yang bersumber pada isme, keyakinan, dan ideologi lain, maka cap kemurtadan, kekafiran, dan (lagi-lagi) sekuler dipakaikan pada usul itu sendiri.

Mental Banteng

Timbullah apa yang kemudian dinamai sejumlah pengamat sebagai “mental banteng”: Islam harus dipagari rapat-rapat dari kemungkinan penyusupan gagasan yang akan merusak kemurniannya. Tanpa disadari, mental seperti itu justru pengakuan terselubung akan kelemahan Islam.

Bukankah ketertutupan hanya membuktikan ketidakmampuan melestarikan keberadaan diri dalam keterbukaan? Bukankah isolasi justru menjadi petunjuk kelemahan dalam pergaulan?

Kalau kepada sikap jiwa seperti itu diajukan tuduhan oleh pihak luar akan adanya fundamentalisme, atau tentang masih adanya pemikiran mendirikan “negara Islam”, jelas rasa marah yang muncul sebagai reaksi.

Bukankah karena ketakutannya terhadap “pengaruh negatif” luar, ia lalu curiga terhadap semua pendapat “orang luar” tentang dirinya? Bukankah kepekaan adalah hasil dari sikap mengunci pintu seperti itu?

Padahal penamaan sebagai kaum fundamentalis tidak ditujukan kepada semua muslimin yang mengidealisasi Islam dan menempatkannya sebagai alternatif tunggal bagi semua isme, keyakinan, dan ideologi yang ada. Cukup besar jumlah idealis muslimin yang mampu menerima kehadiran isme-isme lain, dan melihat peranan agama mereka dalam fungsi mengarahkan isme-isme itu bagi kebutuhan hakiki umat manusia, entah nasionalisme, sosialisme, dan seterusnya.

Banyak sekali idealis muslimin yang melihat ideologi formal negara sebagai pengatur pergaulan politik, sedang Islam difungsikan, terutama, dalam pergaulan sosio-kultural. Jelas tidak semua kaum idealis muslimin fundamentalis.

Kalau demikian, mengapa hampir semua “idealis muslim” marah terhadap istilah di atas, atau terhadap anggapan masih adanya aspirasi mendirikan “negara Islam” dan sebagainya?

Karena mereka mengurung diri dalam benteng mental yang mereka dirikan. Semua penamaan “dari luar” lalu dianggap mengenai semua warga benteng, sebagai tuduhan serampangan dan prasangka buruk terhadap semua muslimin idealis yang berada dalam benteng. Simplikasi permasalahan adalah metode pemikiran mereka, sehingga pemberian nama apa pun yang dirasakan tidak simpatik dianggap ancaman.

Memang jauh implikasinya bagi masa depan perkembangan Islam. Tapi sebenarnya kita tidak usah pesimistis dengan sikap jiwa seperti itu. Mengapa? Karena itu akan berkurang dengan sendirinya, kalau proses pendewasaan telah memengaruhi cara berpikir.

Ini hukum alam. Berlaku, baik untuk muslimin maupun yang bukan.

Tempo, 20 Juni 1981 

Advice for young scientists

These eighteen short videos from several Nobel Prize winners are useful for enlightenment for young scientists. From their explanations, it can be seen that there is a tendency for bad practices in researching so that science does not develop well. I use these videos as my teaching materials for my research methodology class this semester.

Pak Hiskia Ahmad

Pak Hiskia Ahmad adalah dosen saya sewaktu saya kuliah di Program Studi Kimia ITB tahun 1987-1992. Beliau meninggal dunia pada 9 Juli 2014. Beliau menjadi dosen yang tidak pernah saya lupakan karena pernah menyuruh saya mengulang mata kuliah praktikum Kimia Anorganik sampai dua kali karena hanya lupa menyerahkan foto waktu mendaftar mata kuliah ini pada tahun 1990. Ini satu-satunya mata kuliah yang belum lulus walaupun saya sudah menyelesaikan tugas akhir pada tahun 1992, sehingga saya telat satu semester lulus sebagai sarjana dari ITB. Walaubagaimanapun, dedikasi beliau kepada bidang pendidikan kimia di Indonesia luar biasa. Buku kimia dasar karangan beliau digunakan secara nasional di sekolah menengah atas di Indonesia pada era 80-an.

Foto saya dengan Pak Hiskia Ahmad ketika saya berkunjung ke Jurusan Kimia ITB pada 17 Nopember 2009 sebagai dosen tamu. Ingatan beliau kepada mahasiswanya luar biasa. Beliau masih mengenali saya walaupun tidak pernah bertemu selama 17 tahun.

Politikus dan sains

Semester ini saya mengajar mata kuliah metodologi penelitian untuk mahasiswa magister dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Saya menggunakan buku “Thinking, fast and slow” yang ditulis oleh Daniel Kahneman. Topik dari buku ini berkaitan dengan pengambilan keputusan, dan sangat berguna dalam penelitian ilmiah. Topik ini menarik dan juga berguna untuk menjadi landasan kita melihat keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh para pemimpin, terutama politikus. Jika keputusan itu salah, daya rusaknya akan lebih hebat.

Kita semua tahu bahwa politik itu berkaitan dengan kekuasaan. Jika keputusan itu tidak berlandaskan akal sehat dan sains, maka pembodohanlah yang terjadi. Ini yang saya baca dari berita pagi ini mengenai keputusan yang dibuat oleh salah seorang pemimpin daerah. Jika insiyur teknik sipil yang salah dalam membuat keputusan, mungkin hanya jembatan yang runtuh. Namun jika seorang pemimpin yang salah dalam membuat keputusan, rusaklah masyarakat. Mungkin orang ini mempunyai ambisi yang berlebih-lebihan.

Kami juara

Ada kecenderungan kita memandang sesuatu dengan bias, dalam psikologi disebut bias kognitif. Salah satunya adalah bias dalam melihat angka. Ini tidak bisa dihindari. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita dengan bijak melihat angka-angka tersebut. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi. Mengapa angka itu penting? Hal ini karena besaran dengan jumlah yang besar mewakili simbol kekuasaan, simbol kebesaran, dan simbol ketenaran. Angka besar juga melambangkan kekuatan.

Orang merasa menjadi juara karena angka. Namun ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan:

  • Pemenang dengan angka. Kita menang ketika kita mendapatkan skor tertinggi. Lebih dari orang lain.
  • Pemenang dengan integritas. Kita menang tanpa menindas dan/atau menghancurkan orang lain, dan tanpa klaim berlebihan.
  • Pemenang dengan nilai. Kita berguna bagi orang lain dan menghargai orang lain. Juara bukan hanya tentang menang, ini tentang berbuat baik kepada orang lain. Sayyidina Muhammad SAW mengatakan kepada kita bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia lainnya.

Kita berharap dapat memenangkan ketiga kategori di atas.

Kelicikan dalam bibliometrik

Jangan euphoria dan biasa-biasa sajalah dalam melihat angka-angka bibliometrik. Sekarang ini banyak perusahaan yang secara automatik menganalisis publikasi ilmiah kita, yang tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari data tersebut, dengan kata lain mereka menjual data dan jasa. Ini adalah biblometrik saya yang dengan mudah dapat ditemukan jika mengetik nama saya di mesin pencari Google:

Google Scholar|Scopus|Publons|Impactio|SelectedWorks|Microsoft Academic|Aminer|Semantic Scholar

Di bawah ini adalah kritik atas metrik yang digunakan untuk menilai publikasi individu, yang disebut sebagai metrik tingkat penulis (author-level metric) yang rentan terhadap permainan sistem. Hal ini banyak dilakukan. Banyak yang sadar tetapi tetap saja dilakukan karena dipaksa oleh sistem yang dibangun. Tulisan di bawah ini adalah hasil terjemahan dari tulisan di Wikipedia dengan judul “Author-level metrics“.

Beberapa akademisi, seperti fisikawan Jorge E. Hirsch, memuji metrik tingkat penulis sebagai "ukuran yang berguna untuk membandingkan, dengan cara yang tidak memihak, individu yang berbeda bersaing untuk sumber daya yang sama ketika kriteria evaluasi yang penting adalah pencapaian ilmiah." Namun, anggota komunitas ilmiah lainnya, dan bahkan Hirsch sendiri telah mengkritik mereka karena sangat rentan terhadap permainan sistem. 

Bekerja di bibliometrik telah menunjukkan beberapa teknik untuk manipulasi metrik untuk penulis yang populer. Metrik indeks-h yang paling sering digunakan dapat dimanipulasi melalui kutipan sendiri, dan bahkan dokumen tidak masuk akal yang dihasilkan komputer dapat digunakan untuk tujuan itu. Metrik juga dapat dimanipulasi dengan kutipan paksa, sebuah praktik di mana editor jurnal memaksa penulis untuk menambahkan kutipan palsu ke artikel mereka sendiri sebelum jurnal setuju untuk menerbitkannya. Selain itu, Jika indeks-h dianggap sebagai kriteria keputusan untuk lembaga pendanaan penelitian, solusi teori permainan untuk kompetisi ini adalah dengan cara meningkatkan jumlah penulis. 

Leo Szilard, penemu reaksi berantai nuklir, juga mengungkapkan kritik terhadap sistem pengambilan keputusan untuk pendanaan ilmiah dalam bukunya "The Voice of the Dolphins and Other Stories". Senator J. Lister Hill membacakan kutipan kritik ini dalam sidang senat tahun 1962 tentang melambatnya penelitian kanker yang didanai pemerintah. Karya Szilard berfokus pada metrik yang memperlambat kemajuan ilmiah, bukan pada metode permainannya: 

"As a matter of fact, I think it would be quite easy. You could set up a foundation, with an annual endowment of thirty million dollars. Research workers in need of funds could apply for grants, if they could mail out a convincing case. Have ten committees, each committee, each composed of twelve scientists, appointed to pass on these applications. Take the most active scientists out of the laboratory and make them members of these committees. And the very best men in the field should be appointed as chairman at salaries of fifty thousand dollars each. Also have about twenty prizes of one hundred thousand dollars each for the best scientific papers of the year. This is just about all you would have to do. Your lawyers could easily prepare a charter for the foundation. As a matter of fact, any of the National Science Foundation bills which were introduced in the Seventy-ninth and Eightieth Congress could perfectly well serve as a model."

"First of all, the best scientists would be removed from their laboratories and kept busy on committees passing on applications for funds. Secondly the scientific workers in need of funds would concentrate on problems which were considered promising and were pretty certain to lead to publishable results. For a few years there might be a great increase in scientific output; but by going after the obvious, pretty soon science would dry out. Science would become something like a parlor game. Somethings would be considered interesting, others not. There would be fashions. Those who followed the fashions would get grants. Those who wouldn’t would not, and pretty soon they would learn to follow the fashion, too."