Seminar desain operasional penelitian disertasi yang dilaksanakan pada 31 Maret 2026 ini merupakan langkah penting bagi Riska Septia Wahyuningtyas, mahasiswa doktor bimbingan saya dalam bidang Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang (UM), untuk memaparkan rancangan studinya yang inovatif mengenai integrasi ekologi semiferal cat (kucing kampus) melalui model Problem Oriented Project Based Learning (POPBL). Dalam diskusi yang berlangsung dinamis bersama tim penguji dan pembimbing, penelitian ini ditekankan untuk tidak hanya mengkaji aspek etologi dan ekologi hewan secara teknis, namun lebih dalam menyentuh landasan filosofis pendidikan guna mentransformasi mahasiswa dari sekadar pengamat emosional menjadi problem solver yang berbasis literasi ilmiah (animal literacy). Melalui masukan konstruktif dari Prof. Dr. Fatchur Rahman, M.Si., Riska diarahkan untuk mempertajam analisis ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam disertasinya, sehingga modul ekologi yang dikembangkan nantinya mampu menjembatani kesenjangan teori dengan aksi konservasi urban yang nyata di lingkungan kampus.
Author: Hadi Nur
Empat Orang Bahagia di Meja Bundar
Berdasarkan karakter di buku The Geography of Bliss + sedikit bumbu Indonesia)

Suatu sore di sebuah kafe kecil di Bali (tempat netral biar semua orang merasa “di rumah”), empat orang dari negara berbeda kebetulan duduk satu meja karena kafe penuh. Mereka lagi ikut konferensi “World Happiness Summit”.
Hans (Belanda, 42 tahun, pakai sepatu clogs, bawa cerutu kecil): “Bro, di Belanda bahagia itu gampang! Bebas! Mau ganja? Legal. Mau prostitusi? Legal. Mau nongkrong di kafe 6 jam cuma minum satu bir hangat? Silakan! Yang penting ‘don’t tread on me’ [1] — jangan ganggu urusanku!”
Fritz (Swiss, 45 tahun, baju rapi banget, jam tangan mahal tapi disembunyiin): merapikan serbet dengan teliti “Di Swiss, bahagia itu tertib. Jam 10 malam WC harus disiram pelan-pelan. Minggu pagi jangan potong rumput. Kalau tetangga beli mobil baru, kami langsung curiga: ‘Ada masalah keuangan ya?’ C’est pas mal [2]… tidak buruk.”
Somchai (Thailand, 38 tahun, senyum lebar dari tadi, pakai baju batik Bali yang dia beli tadi pagi): senyum sambil mengacungkan jempol “Mai pen lai [3], teman-teman! Yang penting jai yen [4]. Kalau macet di Bangkok 3 jam, senyum saja. Kalau pohon tetangga mengganggu, patahkan satu daun saja. Sanuk [5] dulu! Kalau tidak fun, buat apa?”
Budi (Indonesia, 40 tahun, bawa tas kresek berisi keripik dan es teh): “Wah gila, kalian keren-keren! Di Indonesia bahagia itu… gotong royong [6]! Macet? Santai aja, kita nyanyi bareng dangdut di mobil. Banjir? Kerja bakti bareng, bawa ember sama tetangga. Tapi… eh Hans, kalau lo beli mobil baru Ferrari, jangan pamer di Instagram ya… nanti kami iri, terus syukuran bareng biar adil. Hehe.”
Tiba-tiba Hans ngasih tawaran: “Mau coba ganja Belanda? Legal kok, tenang aja.”
Fritz langsung kaku: “Ada aturan! Di Swiss ini dilarang! Kalau ketahuan polisi, denda 500 franc!”
Somchai senyum lebar: “Mai pen lai [3]… kalau ketahuan, senyum saja. Jai yen [4]…”
Budi langsung ambil peran: “Eh, santai! Kita gotong royong [6] aja. Hans kasih ganja, Fritz kasih aturan, Somchai kasih senyum, aku kasih keripik sama es teh. Kita arisan dulu buat beli satu porsi rendang, biar semua bahagia bareng!”
Mereka berempat akhirnya tertawa ngakak sampai pelayan kafe datang. Hans: “Ini baru namanya happiness summit!” Fritz: “C’est pas mal [2]…” Somchai: “Sanuk [5] banget!” Budi: “Santai aja bro… tapi besok kita foto bareng ya, biar di-upload ke grup WA keluarga, katanya ‘lihat, gue lagi internasional’.”
Mereka berempat kemudian foto selfie bareng, dengan caption yang sama: “Bahagia itu campuran: bebas, tertib, fun, dan gotong royong.”
Tapi di belakang foto, Hans diam-diam ngerokok cerutu, Fritz lagi ngecek jam tangannya, Somchai senyum lebar, dan Budi lagi bisik ke pelayan: “Mbak, tolong tambahin sambel… biar lebih sanuk [5].”
Tamat.
Catatan Kaki (untuk pembaca Indonesia yang mungkin belum familiar):
[1] Don’t tread on me: Slogan kebebasan pribadi klasik (awalnya dari Amerika), artinya “Jangan ganggu urusanku” atau “Jangan injak aku”. Hans pakai ini untuk gambarkan budaya toleransi ekstrem Belanda.
[2] C’est pas mal: Ungkapan Prancis yang dipakai orang Swiss, artinya “Tidak buruk” atau “Lumayan aja”. Sikap khas Swiss yang selalu “cukup”, tidak berlebihan.
[3] Mai pen lai: Ungkapan Thailand yang sangat terkenal, artinya “Never mind”, “Tidak apa-apa”, atau “Sudahlah”. Filosofi hidup santai untuk melepaskan masalah dan lanjut hidup.
[4] Jai yen: “Cool heart” atau “hati yang dingin/tenang”. Di Thailand, ini dianggap sikap paling baik. Jangan marah atau emosional, tetap tenang supaya harmoni terjaga.
[5] Sanuk: Kata Thailand yang artinya “fun” atau “menyenangkan”. Kalau sesuatu tidak sanuk, orang Thailand cenderung tidak mau melakukannya.
[6] Gotong royong: Kerja sama saling tolong-menolong antar tetangga atau komunitas, khas budaya Indonesia (sudah sangat familiar, tapi tetap dicantumkan biar lengkap).
Ilusi Angka: Krisis Integritas Akademik di Balik Obsesi Publikasi
Tulisan ini menggunakan pemberitaan publik sebagai ilustrasi fenomena. Bukan sebagai dasar generalisasi tunggal mengenai fenomena publikasi ilmiah di zaman kecerdasan buatan ini. Kasus ini tentu tidak berdiri sendiri. Ini mencerminkan pola yang lebih luas dalam ekosistem akademik yang semakin terdorong oleh logika angka dan metrik.
Skandal Publikasi Ilmiah dan Tekanan Publikasi
Saya baru saja membaca berita mengenai skandal seorang fisikawan, yang tampaknya menjadi potret nyata dari masalah yang kini kian sering ditemukan akibat tekanan publikasi yang tidak masuk akal karena ekosistem, waktu, dan dana yang tidak mendukung. Ini salah satu contoh. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh seorang peneliti menandai adanya “cacat serius dalam metodologi penelitian, hasil numerik, dan interpretasi temuan” pada puluhan makalah terkait unsur super berat. Hal ini berujung pada penarikan (retraction) tiga artikel dari The European Physical Journal A serta munculnya belasan Expression of Concern lainnya, yang menunjukkan betapa rapuhnya kualitas riset ketika kuantitas menjadi satu-satunya tolok ukur.
Praktik Manipulasi dan “Hyper-citation”
Ekses dari ambisi mengejar angka publikasi ini terlihat sangat jelas pada pola sitasi dan kualitas teknis karya-karyanya. Sebagai contoh, dalam satu makalah di Physical Review C, ditemukan bahwa 86 dari 95 sitasi ditujukan ke publikasi sendiri. Sebuah praktik manipulasi sitasi mandiri yang ekstrem untuk mendongkrak metrik performa. Komunitas sains melalui platform PubPeer juga menyoroti banyaknya grafik tanpa unit atau skala vertikal yang jelas, yang menurut para ahli tidak mungkin dihasilkan oleh peneliti yang kredibel, namun ironisnya tetap bisa lolos ke jurnal-jurnal yang selama ini dianggap sebagai “rumah” bagi fisika nuklir.
Risiko Nyata terhadap Ekosistem Sains
Krisis integritas ini membawa dampak yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar angka di atas kertas; ia merusak fondasi kepercayaan dalam sains. Para kolega sejawat memperingatkan bahwa “prediksi” palsu dari riset berkualitas rendah ini dapat menyesatkan peneliti lain untuk melakukan eksperimen yang mustahil, sehingga membuang-buang sumber daya manusia dan investasi finansial yang sangat berharga. Fenomena riset hypernumerical ini menjadi pengingat pahit bagi kita bahwa ketika sistem akademik terlalu menekan angka, kejujuran intelektual sering kali menjadi korban pertama yang dikorbankan demi kelangsungan karier.
Referensi kepada Berita

Kuliah online di UNDIP
Hari Raya ke-5 (25 Maret 2026), saya justru mengajar, memberikan kuliah online untuk program Global Class Universitas Diponegoro (UNDIP). Karena dilakukan dari rumah, saya harus “berimprovisasi”. Papan tulis saya letakkan di atas meja kerja, posisi kamera saya atur sedemikian rupa, hingga akhirnya tercipta ruang mengajar sederhana yang tetap nyaman dan efektif. Dan di situlah saya kembali diingatkan, bahwa mengajar bukan soal tempat, tetapi soal komitmen untuk terus berbagi. Bahkan di tengah suasana Lebaran, proses belajar tidak pernah benar-benar berhenti. Selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat Hari Raya 1447 H
Semoga di hari suci ini, keberkahan dan kebahagiaan sekaku menyertai kita semua. Selamat Hari Raya.

Kartu yang bercerita

Lembaran-lembaran kertas kecil yang menyimpan perjalanan lebih dari 20 tahun. Dari seorang Lecturer hingga Professor, setiap kartu punya ceritanya sendiri tentang perjuangan, kegagalan, dan kesempatan. Terimakasih UTM atas memorinya, dan kini saatnya melanjutkan pengabdian di UM.
27 Tahun Lalu: Wisuda Ph.D. di UTM

Foto ini diambil pada momen wisuda Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). 27 tahun yang lalu, sebuah perjalanan panjang studi di bidang kimia mencapai salah satu titik penting dalam kehidupan akademik dan keluarga. Saat itu Farid baru berusia 4 tahun dan Firda masih berusia sekitar 1 bulan, sehingga momen ini menjadi kenangan keluarga yang sangat berharga. Saya resmi menyandang gelar Ph.D. di UTM yang secara resmi disetujui oleh Senat Universitas pada 9 Mei 1998, dan sertifikat gelar diterima pada 21 Agustus 1999 pada Konvokesyen UTM ke-23. Disertasi saya berjudul “Tailoring of Novel Metal-Substituted AlPO₄-5 Molecular Sieves as Potential Catalysts for Conversion of Alcohols.” Pada waktu itu saya juga sedang menjalani program postdoctoral di UTM, sebelum kemudian berangkat pada bulan November 1999 ke Hokkaido University, Jepang, sebagai JSPS Postdoctoral Fellow. Foto ini bukan hanya mengabadikan pencapaian akademik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmiah selalu berjalan bersama perjalanan keluarga dan membuka langkah menuju pengalaman riset internasional berikutnya.
20 Tahun Mengawal MJFAS: Refleksi
Per 9 Maret 2026 saya mengakhiri amanah sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS).
Lebih dari dua puluh tahun saya bersama MJFAS sejak masa awal pengelolaannya di Universiti Teknologi Malaysia. Pada tahun 2007 MJFAS menjadi jurnal pertama di UTM yang menggunakan Open Journal Systems. Saat itu pengelolaan jurnal masih sederhana dan transformasi digital belum menjadi kebiasaan.
Standar editorial diperketat. Proses review diperbaiki. Tata kelola diperjelas. Integritas publikasi dijaga. Semua dikerjakan bersama editor, reviewer, penulis, dan tim penerbitan.
MJFAS kini terindeks di Web of Science dalam kategori Multidisciplinary Sciences dengan Journal Impact Factor 2024 sebesar 0.6. Jurnal ini juga terindeks di Scopus dengan SJR 2024 sebesar 0.19 kategori Q3. MJFAS menerima Current Research in Malaysia CREAM 2018 Award dari Ministry of Education Malaysia sebagai pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional.
Memimpin jurnal adalah tanggung jawab menjaga mutu, etika publikasi, dan kepercayaan komunitas akademik. Setiap keputusan editorial membawa konsekuensi ilmiah bagi penulis dan institusi. Tugas ini menuntut waktu, ketelitian, dan komitmen yang konsisten. Ini bukan pekerjaan yang dibayar secara finansial, tetapi amanah akademik yang dijalankan dengan kesungguhan.
Jika dipikir kembali, ada rasa lega karena tanggung jawab panjang itu kini selesai. Beban keputusan, tekanan mutu, dan tuntutan reputasi tidak lagi berada di pundak saya. Yang berakhir adalah jabatan administratif. Yang tersisa adalah jejak kerja dan fondasi yang telah dibangun bersama.
Dua puluh tahun adalah perjalanan panjang. Kepemimpinan perlu dilanjutkan. Saya berharap MJFAS terus berkembang dan tetap menjunjung integritas ilmiah.


Menulis atau Tidak Menulis?
Beberapa orang bertanya apakah saya sebaiknya berhenti menulis, ngeblog, atau memposting video kuliah dan opini di YouTube. Pertanyaan itu wajar. Apalagi beberapa tulisan saya belakangan ini menyentuh topik yang cukup sensitif di dunia akademik, seperti kualitas jurnal, etika akademik, arah pendidikan tinggi, hingga pertanyaan apakah kita benar-benar menciptakan pengetahuan atau sekadar menambah jumlah publikasi.
Bagi saya, menulis bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum media sosial, saya sudah menulis di blog dan surat kabar. Menulis adalah cara saya berpikir, merefleksikan pengalaman, dan berbagi pandangan.
Tujuan saya sederhana. Saya ingin menjaga percakapan intelektual tetap hidup. Tidak semua orang harus setuju. Jika satu tulisan saja membuat seseorang berhenti sejenak dan berpikir, itu sudah cukup.
Menulis dan memposting kuliah di YouTube juga menjadi cara saya tetap hadir secara intelektual di dunia akademik. Berbagi gagasan, pengalaman, dan refleksi adalah bagian dari bagaimana saya terus berpartisipasi dalam dunia akademik, bukan hanya melalui publikasi formal tetapi juga melalui ruang diskusi yang lebih terbuka.
Jadi jawabannya sederhana.
Saya mungkin tidak selalu berada di setiap ruang formal akademik, tetapi saya tetap berpikir, menulis, dan berbagi.
Menembus Ilusi Akademik
Saya baru mempublikasi tiga buku mengenai pendidikan tinggi (silakan baca melaui tautan ini). Trilogi ini mengajak pembaca untuk melepas topeng kemilau pendidikan tinggi yang selama ini diselimuti ilusi angka yang kerap menutupi realitas lebih dalam. Lewat pendekatan reflektif, trilogi ini menembus kenyamanan sistem yang mapan, menantang rutinitas birokratis, standar kuantitatif yang kaku, serta budaya pencitraan yang mengorbankan substansi demi penampilan. Di tengah hegemoni metrik dan tekanan performativitas tersebut, trilogi ini mengembalikan tiga pilar yang semestinya menjadi fondasi utama kehidupan akademik. Etika yang teguh, keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran meski tak populer, serta tanggung jawab intelektual yang autentik. Menghidupi pertanyaan-pertanyaan besar tentang pengetahuan, keadilan, dan makna keberadaan manusia di dalam institusi pendidikan.
You must be logged in to post a comment.