Bayangkan dunia sebuah jalan lurus yang panjang. Orang biasa yang pengetahuannya sederhana, jalan dengan tenang. Mereka lihat jalan, ya jalan saja. Kalau ada rintangan, mereka lewati atau hindari secara langsung. Pendirian mereka kokoh karena nggak terlalu banyak mikir. Mereka cuma “hidup dan jalani”.
Orang intelektual itu seperti orang yang dikasih kacamata super canggih yang bisa zoom, scan, analisis segala sudut. Dia lihat jalan yang sama, tapi otaknya langsung berputar: “Jalan ini sebenarnya ilusi? Apa ini cuma proyeksi otak kita? Apa gravitasi benar-benar ada atau cuma teori? Apa hidup ini meaningful atau cuma proses kimiawi acak? Apa moral itu objektif atau cuma konstruksi sosial?” Akhirnya, setiap langkah jadi ragu. Jalan yang tadinya lurus dan jelas, sekarang terasa goyang, penuh pertanyaan, penuh “mungkin”, “tapi”, dan “di sisi lain”. Pendiriannya jadi berantakan, goyah, sulit untuk teguh berdiri di satu titik.
Makanya orang yang bijak dalam ilmu sering diam-diam berharap: “Semoga aku bisa melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana lagi, seperti dulu waktu pengetahuanku masih polos.”
Kenapa ini terjadi?
Karena ilmu pengetahuan yang dalam itu seperti membuka ribuan pintu sekaligus. Setiap pintu membawa pertanyaan baru, keraguan baru, dan sudut pandang baru. Awalnya terasa keren karena merasa “pintar”, tapi lama-lama membuat sulit untuk berdiri teguh di satu nilai, satu keyakinan, atau satu cara melihat hidup. Jadi seperti orang yang berdiri di atas gelombang laut. Ombak ilmu terus datang, pendirian terus bergoyang.
Apa pesan utamanya?
Ini soal pendirian dalam melihat dunia. Orang intelektual yang paling kuat bukan yang paling banyak tahu, tapi yang bisa menjaga keseimbangan: Dia tetap pakai ilmu mendalamnya, tapi nggak sampai membiarkan ilmu itu merusak kemampuannya untuk tetap teguh, bertindak, dan menjalani hidup dengan penuh keyakinan.
Jadi, semakin dalam ilmu pengetahuanmu, semakin penting untuk sesekali “lepas kacamata zoom”-nya dan lihat dunia dengan mata polos lagi. Karena dunia yang terlalu dianalisis kadang justru membuat kita sulit untuk benar-benar hidup di dalamnya.
Tetap berpikir kritis. Tapi jangan sampai pendirian ikut goyah hanya karena terlalu banyak “kenapa” dan “bagaimana”. Kadang, cara paling bijak melihat dunia adalah dengan sedikit kerendahan: cukup lihat, cukup jalani, dan cukup teguh.
Itu yang bikin pendirian tetap kokoh di tengah lautan ilmu.
You must be logged in to post a comment.