Tiga Dekade Berafiliasi dengan UTM

Tidak terasa, sejak pertama kali berafiliasi dengan UTM pada tahun 1995, lebih dari 30 tahun telah berlalu. Tahun 2026 ini menjadi tahun terakhir afiliasi formal saya dengan universitas yang telah memberikan begitu banyak pengalaman, pelajaran, persahabatan, dan kenangan berharga. Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut bersama UTM.

Buku Trilogi Ilusi Kemilau Pendidikan Tinggi

Trilogi buku ini mengkritik ilusi kemilau pendidikan tinggi yang sering diselimuti angka dan metrik. Melalui pendekatan reflektif, buku-buku ini menantang rutinitas birokratis, standar kuantitatif yang kaku, dan budaya pencitraan yang mengabaikan substansi. Trilogi ini menegaskan kembali pentingnya tiga fondasi kehidupan akademik: etika yang kuat, keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran, dan tanggung jawab intelektual dalam mencari makna pengetahuan, keadilan, serta peran manusia dalam pendidikan.

Lilac Seminar – Hokkaido 2001

The Lilac Seminar (Hokkaido Branch of Electrochemical Society of Japan) di Ōtaki Seminar House, Hokkaido tahun 2001. Pengalaman yang unik. Tidur di kamar bergaya asrama dengan 4 orang dalam satu kamar, lalu ngobrol sampai malam sambil bertukar cerita dengan para peserta. Kenangan yang tidak terlupakan. Saya ada di baris ketiga, paling kanan dari atas. Klik kondisi Ōtaki Seminar House yang sekarang sudah permanen ditutup dari Google Street.

Memanusiakan Manusia

Video kuliah etika keilmuan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, refleksi kritis terhadap sistem pendidikan melalui gagasan Paulo Freire dalam bukunya, Pedagogy of the Oppressed. Terdapat dua paradigma utama: paradigma positivistik-manajerial yang cenderung melihat pendidikan sebagai “sistem perbankan” (banking concept) dan paradigma Freirean yang mengedepankan dialog, kesadaran kritis, dan pembebasan subjek didik.

Mentor dan Kampus yang Sibuk

Tulisan saya mengenai pengalaman membimbing mahasiswa baru saja diterbitkan. Nur, H. (2026). Future scholars: A reflective analysis of student mentorship in scientific research. In A. P. Wibawa et al. (Eds.), The world of life-based learning (pp. 205–218). Springer Nature. (DOI: https://doi.org/10.1007/978-3-032-16731-6_15).

Di kampus, kita sering lupa: pendidikan bukan sekadar gelar. Ia tumbuh dari perjumpaan antara guru dan murid, dari bimbingan yang sabar, dari percakapan yang menyalakan pikiran. Tulisan ini mengingatkan bahwa riset adalah jalan terjal. Penuh ragu, gagal, lalu mencoba lagi. Karena itu mahasiswa tak hanya perlu ilmu, tapi juga seorang mentor yang menunjukkan arah saat kabut datang. Namun kampus hari ini terlalu sibuk: angka, kuota, administrasi, dan kelas yang sesak. Hubungan manusiawi pelan-pelan diganti sistem. Maka pesannya sederhana: universitas jangan menjadi pabrik ijazah. Ia harus tetap menjadi tempat manusia bertumbuh.

Di bawah ini adalah infografik dari tulisan saya yang dibuatkan oleh ChatGPT.

Menara Gading yang Rapuh

Kita sedang terjebak dalam sebuah perayaan yang semu. Di aula-aula universitas, di baliho pinggir jalan, hingga di siaran pers kementerian, angka-angka peringkat dunia dipamerkan bak piala kemenangan perang. Ada kenyataan pahit yang sengaja kita tutupi: universitas kita mungkin sedang mendaki tangga global, tapi kehilangan pijakan di tanah air sendiri.

Ada yang mengganggu pikiran saya belakangan ini. Kita melihat ada negara yang tidak menghiasi daftar universitas top dunia, namun mereka mampu membangun teknologi strategis secara mandiri, tetap tegak di bawah sanksi global, dan memiliki ketahanan energi serta pangan yang luar biasa. Mengapa? Karena mereka memahami perbedaan mendasar antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara.

Masalah utama kita adalah ketidakmampuan membedakan antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara. Dunia pertama adalah Dunia Akademik Global. Di sini, mata uangnya adalah publikasi ilmiah, jumlah sitasi, reputasi internasional, dan jejaring global. Ini adalah dunia visibilitas. Tentu, ini penting. Namun, dunia ini memiliki kecenderungan untuk menggiring peneliti menjadi “mesin produksi paper” demi mengejar angka. Dunia kedua adalah Dunia Strategis Negara. Di sini, metrik keberhasilan bukan lagi soal berapa banyak paper yang terbit di jurnal Q1, melainkan: Apakah teknologi ini bisa kita bangun sendiri? Apakah masalah kemiskinan dan efisiensi industri terpecahkan? Apakah kita mandiri secara sains? Ironisnya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita menganggap bahwa kenaikan ranking universitas secara otomatis berarti kenaikan kekuatan teknologi bangsa. Padahal, ranking bicara soal pengakuan, sementara kekuatan bicara soal kemampuan nyata. Birokratisasi Ilmu dan Etika yang Terpinggirkan Ketika universitas hanya fokus pada angka, terjadilah apa yang saya sebut sebagai “birokratisasi ilmu”.

Dosen dan peneliti kehilangan kemerdekaannya untuk berpikir liar karena energinya habis untuk urusan mengejar indikator kinerja. Kita harus berani menggugat etika keilmuan kita sendiri. Untuk apa ilmu ini dibangun? Apakah sekadar untuk diakui oleh komunitas global agar universitas terlihat mentereng di atas kertas, atau untuk digunakan sebagai daya bagi bangsa yang sedang berjuang ini?

Ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, bukan sekadar untuk dipamerkan. Sejarah tidak akan mengingat sebuah bangsa dari angka ranking universitasnya di tahun tertentu. Sejarah akan mencatat apa yang benar-benar berhasil dibangun oleh bangsa tersebut: jembatan yang kokoh, energi yang murah bagi rakyat, teknologi pertahanan yang tangguh, dan kedaulatan berpikir.

Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa ranking kita tahun ini?” dan mulai bertanya dengan jujur, “Apakah ilmu yang kita produksi hari ini benar-benar membuat bangsa kita lebih kuat?” Jika universitas kita hanya hebat dalam urusan sitasi namun rapuh dalam realitas sosial dan teknologi, maka kita sebenarnya sedang membangun menara gading di atas pasir. Megah terlihat dari jauh, namun akan runtuh saat dihantam gelombang kenyataan.

Kenapa Etika Keilmuan Tidak Berjalan?

Kuliah kali ini membedah benang merah antara naluri bertahan hidup, kekuasaan, dan integritas yang sering kali saling sikut di dunia akademik. Bayangkan, dari teori evolusi Darwin yang mengajarkan survival of the fittest hingga konsep virtu ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, manusia sebenarnya berada dalam paradoks besar: kita disebut Homo Sapiens yang bijaksana, tapi realitanya sering terjebak dalam eksploitasi dan ketidakjujuran. Di dunia sains pun tantangannya nyata; tekanan publikasi dan birokrasi kuantitatif kadang memaksa peneliti masuk ke “mode bertahan hidup” yang memicu manipulasi data hingga ketergantungan pada AI yang kebablasan. Pada akhirnya, etika keilmuan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keseimbangan yang hanya bisa tegak jika kesejahteraan peneliti terjamin, hakikat ilmu dipahami secara filosofis, dan sistem sistemik tidak lagi bersifat korup atau sekadar mengejar angka.

Ketika Terlalu Pintar, Hati Jadi Goyang

Bayangkan dunia sebuah jalan lurus yang panjang. Orang biasa yang pengetahuannya sederhana, jalan dengan tenang. Mereka lihat jalan, ya jalan saja. Kalau ada rintangan, mereka lewati atau hindari secara langsung. Pendirian mereka kokoh karena nggak terlalu banyak mikir. Mereka cuma “hidup dan jalani”.

Orang intelektual itu seperti orang yang dikasih kacamata super canggih yang bisa zoom, scan, analisis segala sudut. Dia lihat jalan yang sama, tapi otaknya langsung berputar: “Jalan ini sebenarnya ilusi? Apa ini cuma proyeksi otak kita? Apa gravitasi benar-benar ada atau cuma teori? Apa hidup ini meaningful atau cuma proses kimiawi acak? Apa moral itu objektif atau cuma konstruksi sosial?” Akhirnya, setiap langkah jadi ragu. Jalan yang tadinya lurus dan jelas, sekarang terasa goyang, penuh pertanyaan, penuh “mungkin”, “tapi”, dan “di sisi lain”. Pendiriannya jadi berantakan, goyah, sulit untuk teguh berdiri di satu titik.

Makanya orang yang bijak dalam ilmu sering diam-diam berharap: “Semoga aku bisa melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana lagi, seperti dulu waktu pengetahuanku masih polos.”

Kenapa ini terjadi?

Karena ilmu pengetahuan yang dalam itu seperti membuka ribuan pintu sekaligus. Setiap pintu membawa pertanyaan baru, keraguan baru, dan sudut pandang baru. Awalnya terasa keren karena merasa “pintar”, tapi lama-lama membuat sulit untuk berdiri teguh di satu nilai, satu keyakinan, atau satu cara melihat hidup. Jadi seperti orang yang berdiri di atas gelombang laut. Ombak ilmu terus datang, pendirian terus bergoyang.

Apa pesan utamanya?

Ini soal pendirian dalam melihat dunia. Orang intelektual yang paling kuat bukan yang paling banyak tahu, tapi yang bisa menjaga keseimbangan: Dia tetap pakai ilmu mendalamnya, tapi nggak sampai membiarkan ilmu itu merusak kemampuannya untuk tetap teguh, bertindak, dan menjalani hidup dengan penuh keyakinan.

Jadi, semakin dalam ilmu pengetahuanmu, semakin penting untuk sesekali “lepas kacamata zoom”-nya dan lihat dunia dengan mata polos lagi. Karena dunia yang terlalu dianalisis kadang justru membuat kita sulit untuk benar-benar hidup di dalamnya.

Tetap berpikir kritis. Tapi jangan sampai pendirian ikut goyah hanya karena terlalu banyak “kenapa” dan “bagaimana”. Kadang, cara paling bijak melihat dunia adalah dengan sedikit kerendahan: cukup lihat, cukup jalani, dan cukup teguh.

Itu yang bikin pendirian tetap kokoh di tengah lautan ilmu.

Jejak di Sapporo

Desember 1999 menjadi bulan yang tak terlupakan bagi keluarga kami. Baru satu bulan kaki ini menapak di Sapporo langsung disambut salju. Saya datang sebagai JSPS Postdoctoral Fellow di Catalysis Research Center, Hokkaido University. Langkah besar dalam karier akademik saya.

Di tengah salju, saya berfoto bersama putra sulung saya, Farid Rahman Hadi, di depan apartemen kami (Blue Tree 226). Farid baru berusia 4 tahun. Foto ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan saksi bisu perjuangan di perantauan. Ada harapan besar yang sedang dipupuk di Sapporo yang membeku.

Ini lokasi foto di ambil dari depan apartmen yang beralamat di Blue Tree 226 [701], 2-27, Kita-Ku Kita 22 Jo Nishi 6 Chome, Sapporo-Shi, Hokkaido, 001-0022. https://maps.app.goo.gl/pNv1zJUmJC3oJpTD8

Usai menyelesaikan dua tahun masa tinggal di apartemen sebagai JSPS Postdoctoral Fellow, kami pindah ke Hokkaido University International House pada November 2001 menyusul penunjukan saya sebagai COE Visiting Researcher di Hokkaido University.

Foto di ambil dari depan rumah yang beralamat di Hokkaido University International House, 13-21-1, Kita-ku Kita 23-jo Nishi 13-chome, Sapporo-shi, Hokkaido, 001-0023. https://maps.app.goo.gl/NcXD35rs41oKCeJZ8

Seminar Disertasi Literasi Kucing Kampus dalam Pendidikan Biologi

Seminar desain operasional penelitian disertasi yang dilaksanakan pada 31 Maret 2026 ini merupakan langkah penting bagi Riska Septia Wahyuningtyas, mahasiswa doktor bimbingan saya dalam bidang Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang (UM), untuk memaparkan rancangan studinya yang inovatif mengenai integrasi ekologi semiferal cat (kucing kampus) melalui model Problem Oriented Project Based Learning (POPBL). Dalam diskusi yang berlangsung dinamis bersama tim penguji dan pembimbing, penelitian ini ditekankan untuk tidak hanya mengkaji aspek etologi dan ekologi hewan secara teknis, namun lebih dalam menyentuh landasan filosofis pendidikan guna mentransformasi mahasiswa dari sekadar pengamat emosional menjadi problem solver yang berbasis literasi ilmiah (animal literacy). Melalui masukan konstruktif dari Prof. Dr. Fatchur Rahman, M.Si., Riska diarahkan untuk mempertajam analisis ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam disertasinya, sehingga modul ekologi yang dikembangkan nantinya mampu menjembatani kesenjangan teori dengan aksi konservasi urban yang nyata di lingkungan kampus.