Tahun 2005 kini terasa seperti sebuah zaman lain. Saat itu saya mulai menjalani peran sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Dua puluh tahun lebih bukan sekadar rentang kronologis, melainkan sebuah perubahan lanskap epistemik yang nyaris total. Saya tidak hanya menyaksikan perubahan teknologi publikasi, tetapi juga pergeseran watak ilmu, motivasi menulis, dan cara manusia memperlakukan pengetahuan.
Di masa awal, segalanya berjalan lambat dan nyaris kontemplatif. Naskah dikirim secara manual, korespondensi berlangsung dengan tempo yang manusiawi, dan jumlah artikel yang masuk relatif sedikit. Setiap tulisan memiliki ruang untuk dibaca dengan tenang, ditimbang dengan sabar, dan diperdebatkan secara substantif. Ilmu masih terasa seperti percakapan panjang, bukan perlombaan statistik.
Hari ini, layar monitor saya tidak pernah benar-benar sepi. Submisi datang seperti aliran tanpa henti. Kecepatan menggantikan kedalaman. Produktivitas menggeser perenungan. Dalam kondisi ini, saya terpaksa melakukan desk rejection terhadap hampir 80% naskah yang masuk. Angka ini sering disalahpahami sebagai sikap elitis atau tidak empatik. Padahal, justru sebaliknya: ia adalah bentuk pertahanan terakhir agar jurnal tidak tenggelam dalam banjir mediokritas.
Menjadi penjaga gerbang pengetahuan berarti berhadapan langsung dengan spektrum emosi manusia: harapan, frustrasi, kemarahan, bahkan manipulasi. Ada penulis yang menerima penolakan sebagai bagian dari proses belajar, tetapi tidak sedikit yang melihat jurnal semata-mata sebagai mesin validasi karier. Sebagian mencoba menekan dengan surat panjang penuh emosi, sebagian lain mengirimkan naskah secara masif seperti membeli tiket lotre akademik. Di sini saya belajar bahwa problem publikasi bukan hanya teknis, tetapi juga etis dan psikologis.
Namun tekanan terbesar seringkali justru datang dari luar ekosistem ilmiah itu sendiri. Banyak pengambil kebijakan tidak benar-benar memahami bagaimana pengetahuan bekerja: bahwa kualitas lahir dari proses panjang, kegagalan berulang, perdebatan terbuka, dan waktu yang tidak bisa dipercepat secara administratif. Yang lebih mudah diukur justru yang kemudian diagungkan: jumlah publikasi, indeks sitasi, peringkat lembaga, skor akreditasi, dan target kinerja tahunan. Angka-angka ini lalu diperlakukan seolah-olah identik dengan mutu, padahal tidak jarang ia hanya menghasilkan apa yang tampak sebagai prestasi semu. Mengkilap di laporan, tetapi miskin makna dalam perkembangan ilmu yang sesungguhnya.
Logika kebijakan yang terlalu bertumpu pada indikator kuantitatif tanpa pemahaman epistemik menciptakan distorsi insentif di seluruh ekosistem akademik. Dosen didorong mengejar kuantitas, mahasiswa belajar menulis untuk lolos publikasi, lembaga berlomba menaikkan peringkat, sementara ruang untuk riset berisiko tinggi, pemikiran orisinal, dan kerja konseptual yang mendalam semakin menyempit. Dalam situasi seperti ini, jurnal dan editor seringkali dipaksa menjadi alat legitimasi statistik, bukan lagi ruang kurasi intelektual.
Saya sering teringat pada Jean Baudrillard yang mengatakan bahwa kita hidup di zaman ketika informasi berlimpah, tetapi makna justru menguap. Dalam dunia jurnal ilmiah, paradoks ini terasa telanjang. Artikel bertambah secara eksponensial, namun kontribusi substantif tidak selalu mengikuti. Publikasi berubah menjadi komoditas birokrasi: angka sitasi, indeks, kuota kinerja, dan target institusional. Pengetahuan perlahan bergeser dari upaya memahami dunia menjadi mata uang administratif yang dipertukarkan demi legitimasi.
Di titik ini, peran editor menjadi semakin problematis sekaligus krusial. Editor bukan sekadar penyaring teknis, tetapi penjaga ekologi makna. Ia harus memutuskan, setiap hari, mana yang layak hidup dan mana yang seharusnya berhenti. Keputusan ini tidak pernah sepenuhnya netral, tidak pernah sepenuhnya nyaman, dan hampir selalu mengandung beban moral.
Karena itu, refleksi dua dekade ini seharusnya tidak berhenti sebagai nostalgia personal, melainkan menjadi undangan etis bagi para pengambil kebijakan untuk meninjau ulang cara kita menilai keberhasilan akademik. Indikator memang penting sebagai alat bantu, tetapi ia tidak boleh menggantikan penilaian substantif. Angka seharusnya melayani makna, bukan menggantikannya. Tanpa keberanian untuk mengoreksi orientasi kebijakan yang terlalu mekanistik, kita berisiko membangun sistem akademik yang tampak produktif di atas kertas, tetapi rapuh secara intelektual.
Dalam dunia yang semakin bising oleh produksi teks dan statistik, menjaga kualitas ilmu berarti berani melawan arus kuantifikasi yang membutakan. Tugas editor bukan memperbanyak suara, melainkan memastikan bahwa suara yang tersisa masih memiliki arti. Menjaga gawang ilmu pada akhirnya bukan hanya soal seleksi naskah, tetapi tentang merawat martabat pengetahuan sebagai kerja manusia yang jujur, lambat, reflektif, dan bertanggung jawab.