Almost all of my life spent on the campus

googleHN

Almost all of my life spent on campus. I was born in 1969 when my father was Dean of the Faculty of Literature and Arts Teaching, Institute of Teacher Training and Education (IKIP – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bukittinggi, Indonesia. Our family lived on the IKIP campus in Bukitinggi and Padang, which later changed its name to Universitas Negeri Padang (UNP). My connection with the campus continued when I pursued my studies at the Institut Teknologi Bandung (ITB) in 1987 until I obtained my M.Eng. in 1995. Shortly after that, I continued my Ph.D. at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) in 1995 and graduated in 1998, then served as postdoc and academic staff with UTM until now. My relationship with UTM was interrupted from 1999 to 2002 because I was a postdoc at Hokkaido University, Japan. For more than 20 years, I have been with UTM.

I was appointed as a UTM professor in 2010 and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang in 2017. My father was also a professor at Universitas Negeri Padang (UNP). He retired in 2001 when he was 70 years old. I also followed in his footsteps to become a professor. When I was a child, my father often brings me to attend his class. Without my knowing, maybe this is the reason why I am interested in higher education. The photo below is a photo of two professors in our family, I (in 2011) and my father (in the 1990s), wearing a professor’s robe.

Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin

saya-dan-bapak
49094553926_197b7682ec_h

Wisuda online

Tahun ini wisuda dilakukan secara online. Tahniah untuk Siti Hajar Alias dan Syahira Omar! Alhamdullilah, semoga berkah, termasuk kepada semua alumni yang pernah saya bimbing.

Gaya hidup

Matcha milk yang sebenarnya murah harganya menjadi mahal ketika diminum di kafe karena gaya hidup.

Ditutup karena COVID-19

Tadi siang di Paradigm Mall Johor Bahru, saya melihat boneka-boneka sudah tidak berbaju dan staf toko sedang memasukkan baju-baju ke dalam kotak kardus. Banyak toko-toko yang yang tidak dapat bertahan dan ditutup karena pandemik COVID-19.

Mengenal dunia

Tulisan di bawah ini adalah salah satu bab dari buku  Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah karangan Imam al-Ghazali (450-505 H). Walaupun ditulis sembilan abad yang lalu, tulisan Imam al-Ghazali mengenai kehidupan dunia perlu direnungkan.

Imam al-Ghazali (450-505 H)

Dunia ini adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi para musafir dalam perjalanan mereka ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan. Dengan bantuan perangkat indriawinya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang ciptaan Allah dan, melalui perenungan terhadap semua ciptaan-Nya itu, ia akan mengenal Allah. Pandangan manusia mengenai Tuhannya akan menentukan nasibnya di masa depan. Untuk memperoleh pengetahuan inilah ruh manusia diturunkan ke dunia tanah dan air. Selama indranya masih berfungsi, ia akan menetap di alam ini. Jika semuanya telah sirna dan yang tertinggal hanya sifat-sifat esensinya, berarti ia telah pergi ke “alam lain”.

Selama hidup di dunia ini, manusia harus menjalankan dua hal penting, yaitu melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah. Sementara itu, jasad hanyalah hewan tunggangan bagi jiwa, yang kelak akan musnah. Setelah kehancuran jasad, jiwa akan abadi. Kendati demikian, jiwa harus merawat jasad layaknya seorang pedagang yang selalu merawat unta tungganganya. Tetapi jika ia menghabiskan waktunya untuk memberi makan dan menghiasi untanya, tentu rombongan kafilah akan meninggalkannya dan ia akan mati sendirian di padang pasir.

Untuk bertahan dan berkembang, jasad hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi nafsu jasmani yang tertanam dalam dirinya untuk memenuhi kebutuhan itu cenderung memberontak melawan nalar yang tumbuhnya lebih lambat ketimbang nafsu. Karenanya, nafsu jasmani harus dikendalikan dengan hukum-hukum Tuhan yang diajarkan oleh para nabi.

Lalu, berkenaan dengan dunia yang kita tempati ini, ia terbagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu hewan, tumbuhan, dan mineral. Produk ketiganya terus-menerus dibutuhkan manusia, yang kemudian memunculkan tiga bidang profesi utama, yaitu para pembuat pakaian, tukang bangunan, dan pekerja tambang. Tentu saja ketiga bidang kerja utama itu menurunkan profesi-profesi lain yang lebih khusus, seperti penjahit, tukang batu, tukang besi, dan lain-lain. Semua pekerja dalam berbagai bidang itu saling terkait satu sama lain. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari yang lain. Keadaan ini melahirkan sistem hubungan perdagangan yang pada gilirannya sering kali memunculkan kebencian, iri hati, cemburu, dan penyakit jiwa lainnya. Ujung-ujungnya, timbul pertengkaran dan perselisihan, yang memunculkan kebutuhan terhadap kekuasaan politik dan sipil serta pengetahuan tentang hukum.

Begitulah, berbagai bidang profesi, perdagangan, jasa, dan lain-lain bermunculan di dunia ini yang semakin memperumit keadaan dan menimbulkan kekacauan sosial. Apa pasal? Karena manusia lupa bahwa kebutuhan mereka sebenarnya hanya tiga, yaitu pakaian, makanan, dan tempat tinggal, yang semuanya semata-mata dibutuhkan agar jasad dapat menjadi tunggangan yang layak bagi jiwa dalam perjalanannya ke alam berikutnya. Mereka terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti peziarah ke Mekah yang, karena melupakan tujuan ziarah, menghabiskan seluruh waktunya untuk memberi makan dan menghiasi hewan tunggangannya. Seseorang pasti akan terpikat dan disibukan oleh dunia—yang menurut Rasulullah daya pikatnya lebih kuat daripada sihir Harut dan Marut—kecuali jika ia mengawasi dan mengendalikan nafsunya dengan ketat.

Dunia cenderung menipu dan memperdaya manusia, yang mewujud dalam beragam rupa. Misalnya, dunia berpura-pura seakan-akan ia akan selalu tinggal bersamamu, padahal kenyatannya, secara perlahan ia bakal pergi menjauhimu dan berpisah darimu, layaknya suatu bayangan yang tampaknya tetap, tetapi kenyatannya selalu bergerak. Atau, dunia menampilkan dirinya dallam rupa penyihir yang berseri-seri tetapi tak bermoral, ia berpura-pura mencintai dan menyayangimu, namun kemudian membelot kepada musuhmu, meninggalkanmu mati merana dilanda rasa kecewa dan putus asa. Nabi Isa a.s. melihat dunia dalam bentuk seorang wanita tua yang buruk rupa. Ketika Isa a.s. bertanya kepadanya tentang berapa banyak suaminya, ia menjawab bahwa jumlahnya tak terhitung. Ia bertanya lagi, apakah mereka telah mati ataukah dicerai. Si wanita itu bilang bahwa ia telah memenggal mereka semua. “Aku heran,” ujar Isa a.s. kepada wanita tua itu, “betapa banyak orang bodoh yang masih menginginkanmu setelah apa yang kaulakukan atas banyak orang.”

Wanita tua ini menghiasi dirinya dengan busana yang indah sarat permata, menutupi mukanya dengan cadar, lalu merayu manusia. Sangat banyak dari mereka yang mengikutinya menuju kehancuran. Rasulullah saw. menyatakan bahwa di Hari Pengadilan, dunia ini akan tampak dalam bentuk seorang nenek tua yang seram, bermata hijau gelap, dan gigi yang bertonjolan. Orang yang melihatnya akan berkata, “Ampun! Siapakah ini?” Malaikat menjawab, “Inilah dunia yang deminya kalian bertengkar dan berkelahi serta saling merusak kehidupan.” Kemudian wanita itu akan dicampakkan ke neraka seraya menjerit keras, “Oh Tuhan, di mana pencinta-pencintaku dahulu?” Tuhan pun kemudian memerintahkan para pecinta dunia juga dilemparkan mengikuti kekasih mereka itu.

Siapa saja yang mau merenungkan secara serius keabadian di masa lalu, ketika dunia ini belum ada, dan keabadian di masa datang, ketika dunia tak lagi ada, akan mengetahui bahwa kehidupan ini bagaikan sebuah perjalanan yang tahapan-tahapanya dicerminkan oleh tahun, liga-liganya (ukuran jarak, ± 3 mil) oleh bulan, mil-milnya oleh hari, dan langkah-langkahnya oleh detik. Jadi, betapa bodoh orang yang berupaya menjadikkan dunia sebagai tempat tinggalnya yang abadi dan menyusun rencana sepuluh tahun ke depan untuk meraih apa-apa yang bisa jadi tak pernah dibutuhkanya, padahal sepuluh hari ke depan mungkin ia telah terkubur dalam tanah.

Saat kematian datang, orang yang mengumbar nafsu tanpa batas dan tenggelam dalam kenikmatan dunia tak ubahnya seperti orang yang memenuhi perutnya dengan panganan lezat, kemudian memuntahkanya. Kelezatanya telah hilang, tetapi mualnya tetap terasa. Makin banyak harta yang dinikmati—berupa taman-taman yang indah, budak, emas, perak, dan lain-lain—semakin berat penderitaan yang dirasakan ketika mereka dipisahkan oleh kematian. Beratnya penderitaan itu melebihi derita kematian, karena jiwa yang telah dilekati sifat tamak akan menderita di akhirat akibat nafsu yang tak terpuaskan.

Dunia menipu manusia dengan cara-cara lainnya, seperti menampakkan diri sebagai sesuatu yang remeh dan sepele, tetapi setelah dikejar ternyata ia punya cabang yang begitu banyak dan panjang sehingga seluruh waktu dan energi manusia dihabiskan untuk mengejarnya. Nabi Isa a.s. berkata, “Pecinta dunia ini seperti orang yang minum air laut; semakin banyak minum, semakin haus ia sampai akhirnya mati akibat dahaga yang tak terpuaskan.” Dan Rasulullah saw. bersabda, “Kau tak bisa bergelut dengan dunia tanpa terkotori olehnya, sebagaimana kau tak bisa menyelam tanpa menjadi basah.”

Dunia ini seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya, menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi. Sebaliknya, tamu yang tolol mencoba membawa beberapa piring emas dan perak hanya untuk direnggut kembali dari tangannya sehingga ia akhinya dicampakkan dalam keadaan hina dan malu.

Gambaran tentang sifat dunia yang penuh tipu daya ini akan kita tutup dengan sebuah tamsil pendek berikut ini. Katakanlah ada sebuah kapal yang hendak berlabuh di sebuah pulau berhutan lebat. Kapten kapal berkata kepada para penumpang bahwa ia akan berlabuh selama beberapa jam, dan mereka boleh berjalan-jalan di pantai, tetapi jangan terlalu lama. Akhirnya, para penumpang turun dan berjalan ke berbagai arah. Kelompok penumpang yang bijaksana akan segera kembali setelah berjalan-jalan sebentar dan mendapati kapal itu kosong sehingga mereka dapat memilih tempat yang paling nyaman. Ada pula para penumpang yang berjalan-jalan lebih lama di pulau itu, mengagumi dedaunan, pepohonan, dan mendengarkan nyanyian burung. Saat kembali ke kapal, ternyata tempat yang paling nyaman telah terisi sehingga mereka terpaksa diam di tempat yang kurang nyaman. Kelompok penumpang lainnya berjalan-jalan lebih lauh dan lebih lama; mereka menemukan bebatuan berwarna yang sangat indah, lalu membawanya ke kapal. Namun, mereka terpaksa mendekam di bagian paling bawah kapal itu. Batu-batu yang mereka bawa, yang kini keindahannya telah sirna, justru semakkin membuat mereka merasa tidak nyaman. Kelompok penumpang lain berjalan begitu jauh sehingga suara kapten, yang menyeru mereka untuk kembali, tak lagi terdengar. Akhirnya, kapal itu terpaksa berlayar tanpa mereka. Mereka terlunta-lunta di pulau itu tanpa harapan dan akhirnya mati kelaparan, atau menjadi mangsa binatang buas.

Jasad bisa diumpamakan seekor kuda sementara jiwa adalah penunggangnya. Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya—sesuatu yang paling dekat kepadanya—maka pengakuannya bahwa ia mengetahui hal-hal lain tidak berarti apa-apa. Ia tak ubahnya pengemis yang tak punya persediaan makanan, lalu mengaku bisa memberi makan seluruh penduduk kota.

Kelompok pertama adalah orang beriman yang sepenuhnya menjauhkan diri dari dunia, dan kelompok terakhir adalah orang kafir yang hanya mengurusi dunia dan sama sekali tidak memedulikan kehidupan akhirat. Dua kelompok lainnya adalah orang beriman, tetapi masih disibukkan oleh dunia yang sesungguhnya tidak berharga.

Meskipun kita telah banyak bicara tentang bahaya dunia, mesti diingat bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tak layak dicela, seperti ilmu dan amal baik. Ilmu dan amal baik yang dibawa seseorang ke akhirat akan memengaruhi nasib dan keadaannya di sana. Terlebih lagi amal yang dibawa adalah amal ibadah yang membuatnya selalu mengingat dan mencintai Allah. Semua itu, sebagaimana ungkapan Alquran, termasuk “segala yang baik akan abadi”.

Juga ada beberapa hal baik lainnya di dunia ini, seperti perkawinan, makanan, pakaian, dan lain-lain, yang dipergunakan secara bijak oleh kaum beriman sebagai sarana untuk mencapai dunia yang akan datang. Selain semua hal tersebut, terutama yang memikat pikiran dan memaksa manusia untuk bersetia kepadanya dan mengabaikan akhirat, sungguh merupakan kejahatan yang layak dikutuk, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Dunia ini terkutuk dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya juga terkutuk, kecuali zikir kepada Allah dan segala sesuatu yang mendukungnya.”

Riya’ kreatif

riya dan sombong

Maksud “kreatif” dalam perbuatan riya’ dan menyombongkan diri adalah berkaitan dengan cara-cara yang kreatif untuk menutupi seolah-oleh perbuatan tersebut bukan riya’ dan sombong. Sebagai contoh, bersikap rendah diri padahal tujuan merendahkan diri sebenarnya ingin dipuji oleh orang lain. Cara-cara seperti ini biasanya sukar untuk diketahui oleh orang lain, kecuali oleh orang itu sendiri. Ingat, sombong atau angkuh itu adalah sifat iblis, dan ‘ibu’ dari semua keburukan.

Pluto’s Blue Note (1947)

Pluto loves to sing, but no one, not even the radio will sing along with him since he’s tone-deaf. But success comes when he finds that his tail makes an excellent phonograph needle (Wikipedia).

Rationalization of higher education: Should it be necessary?

Tulisan ini adalah versi Bahasa Inggris yang lebih singkat dari artikel saya yang dipublikasikan oleh KOMPAS pada 5 Mei 2018. Saya menggunakan Google Translate untuk menterjemahkannya. Mohon maaf jika Bahasa Inggrisnya tidak bagus.

“Higher education is rational in detail but irrational in general. This is the logic of higher education today.”

Rationalization of higher education

As it is understood, higher education’s main task is to play an active role in the improvement and development of the quality of life, culture, science, and international cooperation to achieve world peace for the welfare of humankind. It’s time for us to reflect on whether higher education needs to be rationalized. We need to look at this issue from a bigger perspective. There needs to be a new awareness, which involves not only reason but also inner understanding. It may be necessary to realize that the higher education system should be free from the capitalism of knowledge, social, economic and political that shape the world today. Awareness of liberation is needed. Many universities are unconsciously forced to follow trends and may deviate from their original purpose.

Higher education needs to be original. In a sense, higher education must solve the fundamental problems faced by the nation. The current system forces us to become victims of education capitalism driven by multinational companies such as Elsevier, Thomson Reuters and Quacquarelli Symonds (QS). Directly and indirectly, consciously and unconsciously, higher education’s vision and mission are also controlled by these capitalists’ force. As a result, many universities leave their wisdom.

Higher education becomes rational in detail but irrational in general. It seems logical with measurable instruments at the scientific, administrative level, such as research results in bibliography data, but irrational when we talk about the real contributions to science and technology and humanizing humans, especially in developing countries. Until now, we are still consumers, not producers of technological products. Higher education needs to be put on its original purpose, namely sovereign, dignified and humanized. It needs to ask, are we already free or become voluntary slaves of the capitalist forces that make up the higher education system today?

Criticism of the current higher education system

Herbert Marcuse from the Institute for Social Research, The Frankfurt School, said that the world community had become a one-dimensional system. One of the characteristics is the occurrence of total administration. There is a comprehensive administration of higher education, where everything is controlled so that universities’ uniqueness and potential can be lost. For example, all lecturers and postgraduate students are obliged and forced to publish their research results in indexed journals (Scopus and Clarivate Analytics). In this way, there is a tendency that universities think more about outcomes than processes. It doesn’t matter whether the university has adequate laboratory facilities or not. Although this policy is positive and rational in forcing lecturers to publish their work, it is necessary to evaluate whether this policy can empower higher education to have a real impact on society and the nation.

This becomes a dilemma when the management of research and technology is combined with higher education. The essence of higher education is wisdom. On the other hand, the essence of technology is the technological product. The indicators are also various. So, there is a dilemma to produce the policies to advance research and technology and higher education at the same time. Education has lost its focus on human development when it has also pursued other priorities. I often meet lecturers who don’t have time to research with a high teaching load. I have also found that scientific publications were produced without the proper research methodology.

The second characteristic of a one-dimensional system is the use of functional terms. World Class University, university ranking, h-index, citation and so on are functional terms used in higher education. Many universities talk about the term World Class University without knowing what the word means. Often we are mistaken in looking at scientific achievements. Not always, a high h-index means high research quality, and not always, a low h-index means low research quality. The h-index can be increased just by writing a review article without researching in the laboratory.

Let us first see what misunderstanding means. The meaning is “having or showing faulty judgment or reasoning,” which means to show a wrong judgment or reasoning about something. Perceptions can be shaped by media (including social media). Often, we mistakenly view people or institutions’ scientific achievements because the media provide inaccurate information and explanations. Usually, this information is deliberately exaggerated to attract attention, even though it’s wrong. For people who do not understand specific scientific fields, sometimes they only see the achievement only from bibliographic data such as citation, h-index and Scopus or Clarivate Analytics bibliographic data. This number game is very prone to manipulation and competition with number indicators.

The third characteristic is pretentious — attempting to impress by affecting greater importance or merit than is possessed. Many universities are pretentious that uses functional terms, such as World Class University and university rankings.

Epistemological process

I see this problem from the perspective of the epistemological process. The epistemological process begins with ignorance, doubt or curiosity. Knowledge is a combination of experience and reason. The combination of experience and reason will produce knowledge. If knowledge is properly managed, then its level will increase to become a science. Therefore, studying and researching will not develop into this stage if scientific experience and research — given to research facilities, funds and information to lecturers to conduct research — are not adequately managed. As a result, the epistemological process will not run well if all the supporting tools to gain scientific experience are incomplete and available. As a person involved in chemistry research, I call it “literature of chemistry”; chemistry is produced without laboratory facilities, just theorizing without any research experience in the laboratory. In contrast to sciences that rely on paper and pen alone, such as economics and literature, without complete laboratory facilities, scientific work is impossible to produce from chemistry and applied science.

What needs to be done?

We dare to think and rethink, shape and reshape, and create and remake higher education according to the nation’s needs. A correct direction and a solid foundation must be laid and determined to bring higher education to a bright future. It is needed to make higher education sovereign, dignified and humanize.

Gangguan mental

Lukisan oleh Théodore Géricault yang menggambarkan seorang lelaki tua dengan delusional disorder.

Gangguan mental atau kejiwaan adalah tingkah laku yang tidak normal. Orang yang sakit mental ini biasanya akan mengalami gangguan kesehatan karena akan mengalami perasaan tidak tenang, sukar untuk tidur, dan berbagai gangguan kejiwaaan lainnya. Penderita tidak dapat membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Saya pernah menulis ini pada akhir tahun 2019 mengenai salah satu penyakit mental yang disebut sebagai delusional disorder (kecelaruan delusi). Jika tidak ditangani dengan serius, orang yang mengalami gangguan mental ini dapat mengganggu orang-orang disekelilingnya bahkan organisasi.

Diagnosis jenis tertentu dari gangguan delusi terkadang dapat dibuat berdasarkan isi delusi tersebut. Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) menyebutkan tujuh jenis kecelaruan delusi:

  • Delusi erotomanik (erotomania): khayalan terhadap orang lain, seringkali tokoh terkemuka, dan jatuh cinta dengan individu tersebut.
  • Delusi keagungan (megalomania): delusi terhadap kekuasaan, pengetahuan, dan identitas dan mengklaim orang lain sebagai penipu atau peniru.
  • Delusi cemburu: khayalan bahwa pasangannya tidak setia. Biasanya penderita sakit mental ini selalu memeriksa pesan teks, email, panggilan telepon, dan lain-lain untuk menemukan “bukti” ketidaksetiaan pasangan.
  • Delusi paranoia: khayalan bahwa dirinya telah diperlakukan dengan kejam. Penderita sakit mental ini mungkin percaya bahwa dia telah dimata-matai, disakiti, dilecehkan dan sebagainya dan mungkin mencari “keadilan” dengan membuat laporan, mengambil tindakan atau bahkan bertindak kasar.
  • Delusi somatik: delusi memiliki cacat, masalah kesehatan atau penyakit.
  • Delusi campuran: delusi dengan karakteristik lebih dari satu tipe di atas.
  • Delusi dengan jenis yang tidak dapat ditentukan: delusi yang tidak dapat ditentukan dengan jelas atau ditandai dalam salah satu kategori tertentu.

Secara kebetulan, saya pernah mengenali orang yang mempunyai gejala penyakit mental ini, dan orang ini sangat mengganggu orang-orang disekelilingnya.

Rujukan

https://en.wikipedia.org/wiki/Delusional_disorder