Menyederhanakan hidup

Saya pernah berbincang-bincang dengan seseorang yang dianggap mempunyai prestasi yang luar biasa. Beliau bercerita bagaimana perjuangan hidup dan juga kegigihannya dalam mengejar prestasi dunia tanpa pernah lelah. Semua serba cepat, dan kadang-kadang prestasi yang dicapai tersebut terlihat tidak masuk akal, sehingga sebagai orang nomal saya bertanya, bagaimana mungkin? patutkah? apakah tidak overheating? Di bawah ini ada dua cara pandang hidup yang dapat menjadi pertimbangan untuk diamalkan, yaitu konsep hidup lambat dan hidup sederhana. Konsep ini hadir sebagai konsekuensi negatif dari gaya hidup materialistis (economic materialism). Penelitian mengenai korelasi antara materialisme dan ketidakbahagiaan menemukan bahwa peningkatan kekayaan materi dan barang-barang tidak banyak berpengaruh pada kesejahteraan dan kebahagiaan.

  • Konsep hidup lambat mengacu pada gaya hidup yang mendorong pendekatan yang lebih lambat terhadap aspek kehidupan sehari-hari. Ini telah didefinisikan sebagai tindakan lambat atau santai. Ini dimulai di Italia dengan gerakan makanan lambat, yang menekankan teknik produksi makanan tradisional dalam menanggapi munculnya makanan cepat saji selama tahun 1980-an dan 1990-an. Lingkungan yang bergerak cepat dilihat sebagai alam yang kacau, sementara gagasan kehidupan yang lambat menyiratkan bahwa orang dapat lebih menikmati hidup dan lebih sadar akan isyarat sensorik.
  • Konsep hidup sederhana mencakup sejumlah praktek menyederhanakan gaya hidup. Ini termasuk, misalnya, mengurangi kepemilikan harta benda, seperti paham minimalisme. Hidup sederhana dapat dicirikan oleh kepuasan dengan apa yang kita miliki dan menjauhkan diri dari keserakahan. Hidup sederhana berbeda dengan hidup dalam kemiskinan. Ini adalah gaya hidup yang dilakukan dengan sukarela.

Salah satu hewan yang menjadi referensi dalam konsep hidup lambat adalah Sloth. Sloth adalah hewan yang bergerak dengan gerakan lambat dan memiliki banyak hal tentang memperlambat, mengambil sesuatu dengan mudah dan tersenyum, bahkan ketika melalui masa-masa sulit.

Memperlambat hidup dapat menginspirasi kita untuk menyederhanakan kehidupan. Kesederhanaan, antara lain, berarti menghargai hal-hal apa adanya – tanpa drama dan berpura-pura. Kita mungkin mulai menerima dan menghargai ketidaksempurnaan kita, dan mampu melihat keindahan melaluinya. Dengan kesadaran ini, kita dapat melihat dan menikmati hubungan kita dengan dunia yang lebih luas. Kita berjalan tanpa alas kaki atau berbaring dan bernapas dalam-dalam sambil menatap birunya langit dengan tujuan menghargai hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kita memanfaatkan dan menghormati perasaan kita. Kesederhanaan adalah kunci hati yang sebenarnya. Hati adalah kunci kebebasan yang sejati. Semoga kita dapat menjadi orang yang betul-betul merdeka!

Orang bijak

Saya kebetulan menemukan video ini di hutan internet beberapa tahun yang lalu dan baru sekarang saya mengunggahnya di sini. Kalau tidak salah, video ini direkam tahun 2018. Saya tidak tahu siapa orang yang berbicara di video ini. Coba dengar apa yang orang ini katakan, komentarnya bijak meskipun penampilannya sederhana. Saya pernah menulis di blog ini perbedaan antara bijak, cerdik dan pandai.

Bibliometrik

Saya baru tahu bahwa publikasi saya diberbagai jurnal telah otomatis dikumpulkan oleh Microsoft Academic. Karena sudah dikumpulkan, saya tinggal membuat akun dan memperbarui informasi dan meletakkan foto saya. Sepertinya ini adalah salah satu usaha Microsoft menyaingi Google Scholar. Seperti yang kita ketahui, metode bibliometrik ini digunakan untuk analisis publikasi ilmiah yang disebut scientometrics.

Penggunaan bibliometrik yang berlebihan dalam penilaian penelitian ilmiah mendorong permainan untuk mendapatkan hasil bibiometrik yang bagus seperti menerbitkan publikasi ilmiah dalam jumlah besar dengan kualitas ilmiah yang rendah, menerbitkan penelitian prematur untuk memenuhi angka, saling sitasi, dan melakukan penelitian yang hanya berfokus pada popularitas topik daripada nilai ilmiah dan minat penulis. Saya melihat dengan jelas permainan ini di depan mata saya. Kritikus berpendapat bahwa ketergantungan yang berlebihan pada scientometrics telah menciptakan sistem insentif yang salah yang akan menghasilkan penelitian yang berkualitas rendah.

Walaubagaimanapun, data bibliometrik penting supaya kita dapat menganalisis publikasi ilmiah. Di bawah ini adalah bibliometrik saya yang dikumpulkan dari beberapa sumber.

Akal sehat saja tidak cukup

Sebagai dosen dan juga peneliti saya selalu berusaha menggunakan kemampuan analisis dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki untuk menjelaskan sesuatu. Banyak yang menyangka hanya dengan menggunakan akal sehat (common sense) sudah cukup untuk memahami sesuatu. Penggunaan akal sehat ini sering dikatakan oleh seorang filsuf abal-abal yang sering memaki orang yang tidak dia sukai dengan perkataan “dungu”, seakan-akan hanya dia saja yang pintar di dunia ini.

Walaubagaimanapun, menggunakan akal sehat saja tidak cukup. Perlu pengetahuan untuk menjelaskan sesuatu dengan jelas. Sebagai contoh, untuk melakukan riset kimia material, kita perlu memahami ilmu yang berkaitan dengan struktur padatan, ilmu spektroskopi, kalkulus dan sebagainya. Akal sehat hanyalah penilaian praktis yang masuk akal mengenai hal-hal sehari-hari, atau kemampuan dasar, bukan khusus, untuk memahami dan menilai dengan cara yang dimiliki oleh hampir semua orang. Akal sehat menyiratkan sedikit banyak pendidikan dan kebijaksanaan.

Sebagai seorang peneliti, perlu penggunaan cara berpikir yang sistematis dan dalam untuk melakukan analisis. Daniel Kahneman membedakan dua cara berpikir yang disebut sebagai “sistem 1” yang cepat, naluriah dan emosional; dan “sistem 2” yang lebih lambat, lebih deliberatif, dan lebih logis. Ilmuwan perlu menggunakan “sistem 2′ dalam berpikir. Oleh karena itu, tidak ada penelitian yang buru-buru. Perlu waktu untuk menyusun kerangka berpikir dan menganalisis data-data supaya kesimpulan yang didapatkan adalah benar dan tepat. Untuk filsuf abal-abal yang suka berdebat, yang diperlukan adalah “sistem 1” yang sifatnya naluriah dan cepat dalam merespon. Di bawah ini adalah contoh mengenai perbedaan antara “sistem 1” dan “sistem 2” yang kalau gambarnya diklik akan terhubung dengan video penjelasannya di YouTube.

Berapa harga bola pingpong jika harga total raket lebih mahal €1 dari bola pingpong, dengan kata lain harganya adalah 1€ ditambah dengan harga bola pingpong sama dengan €1.10?

Apa itu agama?

Saya dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat yang ke-21 (1995-2000), dan Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah ketua yang ke-5 (1946-1949). Film di bawah ini adalah film mengenai kisah nyata dari pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang dikenal sebagai tokoh pembaharu Islam di Indonesia.

Dalam satu bagian, diceritakan lima remaja mengendap-endap mendekati rumah Kyai. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup alunan suara biola yang indah. Keinginan mereka untuk mengaji dan belajar ke rumah sedikit terkisis. Diserang ragu. Dua diantaranya memilih pulang. Sisanya, di tengah kecamuk penasaran dan keraguan, akhirnya mendekati sumber suara.

“Kulo nuwun. Assalamu’alaikum, Kyai,” ucap seorang remaja.

“Wa’alaikumussalam, silahkan masuk,” jawab sang Kyai seraya menghentikan permainan biola. “Kebetulan ada Muhammad Sangidu di sini.” Di ruangan, Kyai sedang bersama salah seorang santrinya yang lain. “Saya menunggu kalian,” sambil menaruh sebuah biola kecil di pangkuannya.

“Kira-kira kita mau ngaji apa Kyai,” kata salah seorang.

“Kalian maunya ngaji apa?” Tanya Kyai. Pertanyaan ini tentu sangat tabu di masa itu. Di saat Kyai berada di posisi elit.

“Biasanya kalau pengajian itu, pembahasannya dari guru ngajinya, Kyai?” jawab salah seorang remaja. Dalam kebiasaannya ketika itu, para santri hanya menerima saja apapun yang diputuskan Kyai.

“Nanti yang pintar hanya guru ngajinya. Muridnya hanya mengikuti gurunya. Pengajian di sini kalian yang menentukan. Dimulai dari bertanya. Ayo, siapa yang mau bertanya?” Kyai menawarkan.

Dalam suasana yang agak canggung, sejenak tidak ada yang membuka suara. Sampai kemudian, salah seorang remaja memberanikan diri bertanya.

“Agama itu apa, Kyai?” pertanyaan singkat, padat, namun penuh esensi.

Kini giliran Kyai yang terdiam, tidak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian, ia malah memainkan biola yang ada di sampingnya.

Keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu tampak sangat menikmati permainan biola sang Kyai. Penuh syahdu dan menentramkan jiwa. Semua menikmati keindahan alunan biola.

“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?” Tanya sang Kyai sejenak setelah menghentikan permainan biola.

“Keindahan,” jawab remaja pertama sumbrigah.

“Kayak mimpi,” timpal remaja kedua.

“Rasanya semua permasalahan itu hilang, Kyai,” ungkap remaja ketiga.

Salah seorang yang lain masih menganggung-ngangguk dengan mata tertutup, tertidur dengan keindahan nada yang tadi diperdengarkan Kyai.

“Itulah agama,” kata Kyai.

“Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, tentram, damai, cerah. Karena hakikat agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti,” sambung sang Kyai.

“Sekarang, coba kamu mainkan,” kata Kyai sambil menyodorkan biola ke salah seorang santrinya. “Ayo sebisanya!”

Si santri mulai memainkan biola. Namun karena baru pertama kalinya, ia memainkan dengan seadanya. “Teruskan. Ayo yang mantap.” Suara yang keluar sama sekali mengusik sesiapa di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun menyerah.

“Apa yang kalian rasakan,” Kyai kembali bertanya.

“Kacau, Kyai.” Satu diantaranya menjawab.

Sambil tersenyum, Kyai merasa saatnya ia mengambil kesimpulan. Para santrinya dianggap telah bisa memahami pesan di balik peristiwa yang barusan terjadi.

“Itulah agama. Kalau kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan kita dan jadi bahan tertawaan,” jelas sang Kyai.

Sumber: https://suaramuhammadiyah.id/

Citra Karisma UTM 2021

Saya dan Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research (ISI-SIR) mendapat penghargaan Citra Karisma untuk kategori publikasi ilmiah. Majlis Citra Karisma diadakan bagi menghargai staf UTM yang telah mencapai kecemerlangan dalam pelbagai bidang.

Kata-kata bijak Ali Bin Abi Thalib

Alī bin Abī Thālib (lahir sekitar 13 Rajab 23 SH/599 Masehi – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661 Masehi) adalah khalifah keempat yang berkuasa pada tahun 656 sampai 661. Beliau termasuk golongan pemeluk Islam pertama dan salah satu sahabat utama Nabi. Secara silsilah, ‘Ali adalah sepupu dari Nabi Muhammad. Pernikahan ‘Ali dengan Fatimah az-Zahra juga menjadikannya sebagai menantu Nabi Muhammad.

Di bawah ini adalah kata-kata bijak Ali Bin Abi Thalib yang sangat bijaksana. Mungkin apa yang yang beliau katakan dapat menjadi rujukan kita ketika melihat sesuatu yang tidak betul dan tidak pada tempatnya. Ada beberapa kata-kata bijak Ali Bin Abi Thalip yang relevan untuk saya pribadi, iaitu yang saya warnai dengan warna biru.

Kata-kata bijak Ali Bin Abi Thalib

  1. Abaikan rasa sakit, atau jika tidak maka kamu tidak akan pernah merasa bahagia.
  2. Ada dua cara untuk menjalani hidup yang menyenangkan, entah itu di dalam hati seseorang ataukah dalam doa seseorang.
  3. Ada dua jenis manusia: (1) mereka yang mencari tapi tidak bisa menemukan, dan (2) mereka yang menemukan tapi masih menginginkan lebih.
  4. Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku.
  5. Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.
  6. Aku tidak akan meninggalkan Sunah Nabi demi kepentingan siapapun.
  7. Aku tidak sebaik yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang terlintas di dalam hatimu.
  8. Angin tak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.
  9. Apabila kau jatuh miskin, berdaganglah dengan Allah, yaitu dengan cara memperbanyak sedekah.
  10. Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi.
  11. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan dirimu lebih baik.
  12. Banyak permasalahan pelik yang berhasil diselesaikan dengan sikap bermurah hati.
  13. Barangsiapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.
  14. Berhentilah membahas apa yang tidak kamu ketahui dan membicarakan tentang apa yang tidak menjadi perhatianmu.
  15. Berikan perhatian dan bersikap baiklah kepada istrimu. Dia adalah bunga yang lembut, bukan budak rumah tanggamu.
  16. Berikan ribuan kesempatan kepada lawan untuk menjadi kawan, tapi jangan berikan satu kesempatan pun bagi kawan untuk menjadi lawan.
  17. Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit.
  18. Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupan yang kamu jalani.
  19. Betapa terhormatnya ilmu, karena orang yang tidak memilikinya mengatakan bahwa dia memiliki ilmu. dan betapa tidak terhormatnya kebodohan, karena orang yang memilikinya mengatakan bahwa dia tidak bodoh.
  20. Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri.
  21. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit.
  22. Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, siapa tahu ia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekadarnya saja, siapa tahu nanti ia akan menjadi kekasihmu.
  23. Dia yang menaruh kepercayaan pada dunia, maka dunia akan mengkhianatinya.
  24. Diam sampai engkau diminta untuk berbicara, lebih baik daripada kau terus berbicara sampai diminta untuk diam.
  25. Diberkatilah dia yang kesalahannya sendiri mampu mencegahnya dari melihat kesalahan orang lain.
  26. Dirimu yang sebenarnya adalah apa yang kamu lakukan di saat tiada orang yang melihatmu.
  27. Dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang diremehkan oleh pelakunya.
  28. Dua jenis manusia yang tak akan merasa kenyang selama-lamanya: pencari ilmu dan pencari harta.
  29. Firman Allah adalah obat bagi hati.
  30. Hiduplah dengan rendah hati, tak peduli seberapa banyak kekayaanmu.
  31. Ikatlah ilmu dengan menulis.
  32. Jadilah manusia yang baik dalam pandangan Allah. Jadilah manusia yang buruk dalam pandangan sendiri. Jadilah manusia yang biasa dalam pandangan orang lain.
  33. Jadilah orang yang dermawan, tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tapi jangan menjadi orang yang kikir.
  34. Jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah merusaknya.
  35. Jagalah dirimu dari sifat marah. Karena kemarahan itu dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
  36. Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai.
  37. Jangan besarkan anakmu dengan cara orangtuamu membesarkanmu dulu, karena mereka lahir di zaman yang berbeda.
  38. Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
  39. Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah. Karena bagaimanapun juga hanya di malam yang paling gelap bintang-bintang tampak bersinar lebih terang.
  40. Jangan gunakan ketajaman kata-katamu pada ibumu yang mengajarimu cara berbicara.
  41. Jangan katakan pada Allah ‘aku punya masalah besar’, tetapi katakan pada masalah bahwa ‘aku punya Allah Yang Maha Besar’.
  42. Jangan kenali kebenaran berdasarkan individu-individu. Kenalilah kebenaran itu sendiri, otomatis kau akan kenal siapa di pihak yang benar.
  43. Jangan membenci siapapun, tak peduli seberapa banyak kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu.
  44. Jangan membuat kecewa orang yang telah berbaik sangka terhadapmu, dan jangan melanggar hak saudaramu semata-mata disebabkan kau begitu yakin akan kuatnya hubungan dengannya. Seseorang yang selalu kau langgar haknya tidak akan rela menjadi saudaramu.
  45. Jangan menasihati orang bodoh, karena dia akan membencimu. Nasihatilah orang yang berakal, karena dia akan mencintaimu.
  46. Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya, bisa jadi dia sedang sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri.
  47. Jangan mengikuti mayoritas, tapi ikutilah jalan kebenaran. Hiduplah di dunia ini layaknya seorang pengembara, dan tinggalkan setiap kenangan manis di belakangmu. Sesungguhnya kita hanyalah tamu di sini, dan setiap tamu harus segera pergi.
  48. Jangan mengucapkan kata-kata yang menertawakan pribadi seseorang walaupun engkau hanya menirukan sesuatu yang dikatakan oleh orang lain.
  49. Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak mempercayai itu.
  50. Jangan merasa kesepian berada di atas jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana.
  51. Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah dan jangan pernah mengumbar janji ketika sedang bergembira.
  52. Jangan pernah merasa kesepian di atas jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana.
  53. Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.
  54. Jika ada kata-kata yang melukai hati, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. Jangan dimasukkan hati agar tidak lelah hatimu.
  55. Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki karakter yang bagus, dia akan lebih menghormatimu, namun jika dia memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling baik dari semuanya.
  56. Kehidupan ini tidak lain hanyalah seperti bayangan awan, mimpinya seorang yang tertidur.
  57. Kehidupan itu cuma dua hari saja. Satu hari untukmu, satu hari melawanmu. Maka pada saat ia untukmu, jangan bangga dan gegabah; dan pada saat ia melawanmu bersabarlah. Keduanya adalah ujian bagimu.
  58. Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
  59. Kemarahan itu seperti bola api, tapi jika kamu menelannya, itu akan lebih manis daripada madu.
  60. Ketika ahlul haq (orang yang memiliki ilmu) diam atas suatu kebatilan, maka mereka (pelaku kebatilan) akan menyangka bahwa mereka berada dalam kebenaran.
  61. Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang baik.
  62. Lebih baik mendengarkan musuh yang bijak daripada meminta nasihat dari teman yang bodoh.
  63. Lebih mudah mengubah gunung menjadi debu daripada menanamkan cinta di hati yang dipenuhi dengan kebencian.
  64. Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih.
  65. Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
  66. Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya.
  67. Memaafkan adalah kemenangan terbaik.
  68. Orang yang cantik tidak selamanya orang baik, tapi orang yang baik selalu cantik.
  69. Orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera kehidupannya.
  70. Orang yang penuh harap akan terus mencari, sementara orang yang penuh ketakutan akan melarikan diri.
  71. Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di setiap kesempatan, tapi orang yang optimis selalu melihat kesempatan dalam setiap kesulitan.
  72. Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal; kepercayaan, cinta dan rasa hormat.
  73. Orang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang berani.
  74. Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya.
  75. Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin.
  76. Pergunjingan adalah puncak kemampuan orang-orang yang lemah.
  77. Saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku.
  78. Sabar sesaat saja di saat marah akan menyelamatkan kita dari ribuan penyesalan.
  79. Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya justru menjadi obat penyembuh.
  80. Selalu ada cahaya bagi orang yang mau melihat.
  81. Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat. Dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari.
  82. Sembunyikanlah kebaikan yang kamu lakukan, dan biarkan kebaikan yang telah kamu lakukan itu hanya diketahui olehmu.
  83. Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: (1) di saat membutuhkan, (2) di belakangmu, dan (3) setelah kematianmu.
  84. Seorang yang benar-benar kawan karib ialah yang menjaga kepentinganmu dikala engkau sedang berada jauh darinya.
  85. Seseorang tak patut disebut sebagai teman bila ia tak menjaga hak kawannya dalam tiga keadaan, ketika ia ditimpa bencana, ketika sedang bepergian jauh dan ketika ia meninggal dunia.
  86. Seseorang yang putus asa melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, tetapi orang yang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan.
  87. Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran dan panjang angan-angan dapat membuatnya lupa akhirat.
  88. Siapa yang memandang dirinya buruk, maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk.
  89. Sifat pemarah adalah musuh utama akal.
  90. Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski hanya sesaat.
  91. Takwa adalah takut kepada Allah, melaksanakan segala sesuatu yang datang dari-Nya, ridha dengan karunia-Nya walaupun sedikit, dan menyiapkan diri untuk menyambut kematian.
  92. Telanlah amarahmu, sebab kau tidak pernah menemukan minuman yang dapat meninggalkan rasa lebih manis daripada itu.
  93. Teman sejati adalah dia yang selalu memberi nasihat ketika melihat kesalahanmu dan dia yang mau membelamu di saat kamu tidak ada.
  94. Tetaplah menjalin hubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu, maafkanlah orang yang berbuat salah padamu, dan jangan berhenti mendoakan yang terbaik untuk orang yang kau sayangi.
  95. Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada keadaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah.
  96. Tidak ada yang bisa menjaga rahasiamu lebih baik daripada dirimu sendiri, maka jangan salahkan siapa pun orang yang mengungkapkan rahasiamu karena kamu sendiri tidak bisa menyembunyikannya. Rahasiamu adalah tawananmu, yang jika dilepaskan, itu akan membuatmu menjadi tahanan.
  97. Tidak ada yang lebih menyakiti hati daripada dosa.
  98. Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali dalam tiga situasi: (1) Tidak diketahui orang pemberani kecuali dalam situasi perang; (2) Tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah; (3) Tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika temannya sedang memerlukan.
  99. Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta.
  100. Ucapan itu seperti obat, dosis kecilnya bisa menyembuhkan tapi jika berlebihan bisa membunuh.
  101. Ucapan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi dari nenek moyang.
  102. Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku.
  103. Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.

Nasib guru dan dimanakah keadilan?

Saya mendapat video ini dari grup WhatsApp dan sengaja meletakkan video ini disini supaya dilihat oleh banyak orang. Sedih mengetahui nasib guru dan sekaligus geram dan sakit hati setelah mengetahui uang yang diterima oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang jumlahnya fantastis, yang kelakuannya tidak mencerminkan orang yang memperjuangkan rakyat. Dimanakah keadilan?

Selain gaji dan tunjangan ini, ada lagi dana yang diterima oleh anggota DPR yang nilainya fantastis. Silahkan baca tautan ini.

Komersialisasi riset

Dengan dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini, saya teringat tulisan saya pada 7 Mei 2016 yang berjudul “Apakah sudah siap dan sanggup? yang saya tulis setelah membaca majalah Nature yang diterbitkan pada 5 Mei 2016. Saya pikir tulisan-tulisan dalam majalah ini perlu dibaca lagi karena sangat sesuai dengan tugas dari BRIN. Saya mendengar presentasi dari Dr. Agus Haryono beberapa waktu yang lalu mengenai apa yang akan dilakukan oleh BRIN. Saya melihat stateginya sudah tepat dengan langkah pertama adalah dengan memperkuat sumber daya manusia.

Sasaran strategis dari BRIN adalah meningkatnya produktivitas invensi dan inovasi untuk memperkuat transformasi ekonomi yang berdayasaing dan berkelanjutan adalah berujung kepada komersialisasi riset. Oleh karena itu, kerjasama antara universitas, industri, dan pemerintah adalah sangat penting, dan inilah peranan BRIN untuk mensinergikannya. Di bawah ini adalah tulisan dari editor yang saya sadur dari majalah Nature yang diterbitkan pada 5 Mei 2016 tersebut.

Universitas berada di bawah tekanan untuk memberikan nilai lebih untuk pengeluaran penelitian. Perusahaan menghadapi persaingan dalam mencari produk pendukung bisnis berikutnya. Dan pemerintah ingin ekonomi mereka tumbuh. Masing-masing sektor ini memiliki tujuan, budaya, dan kekuatannya sendiri, tetapi mereka terkunci bersama dalam pelukan sinergis yang mendorong dorongan untuk mengekstrak nilai komersial dari penelitian akademis.

Rasa haus akan pemahaman yang lebih lengkap dan lebih bernuansa tentang alam semesta adalah motivasi yang kuat untuk penelitian. Tetapi mengejar kesuksesan komersial juga merupakan pendorong yang menarik. Kemampuan kekuatan-kekuatan ini untuk berinteraksi dan memperkuat satu sama lain untuk mendorong kemajuan ilmiah. Universitas, industri dan pemerintah, masing-masing dengan tujuan, budaya, dan kekuatannya sendiri, terkunci bersama dalam pelukan sinergis yang mendorong dorongan untuk mengekstrak nilai komersial dari penelitian akademis. Perusahaan berada di bawah tekanan untuk menhasilkan produk yang mendukung bisnis mereka, dan universitas didorong untuk memberikan hasil untuk pengeluaran penelitian mereka. Akibatnya, institusi akademik meningkatkan kemampuannya untuk mentransfer ilmu ke sektor komersial. Banyak yang diasuh oleh pengusaha, dan, pada gilirannya, mendapat manfaat dari perusahaan spin-off yang mereka luncurkan. Terlepas dari kecepatan dan kemudahan komunikasi yang ditawarkan oleh Internet, para peneliti masih berkumpul dalam kelompok geografis, menunjukkan bahwa ada keuntungan dari kedekatan yang belum dapat diatasi oleh teknologi modern. Pemerintah dimotivasi oleh pertumbuhan ekonomi, yang tercermin dari status mereka sebagai penyandang dana utama ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun nilai ekonomi dari penelitian perlu menjadi bahan diskusi. Dan dengan meningkatnya ilmu pengetahuan yang didanai oleh orang superkaya, pemerintah mungkin menghadapi persaingan untuk keunggulan dalam pendanaan. Berbagai belahan dunia menghadapi tantangan yang berbeda. Terlepas dari kecakapan penelitian mereka, Cina dan Australia telah berjuang dengan terjemahan komersial, sedangkan Eropa masih perlu menyelaraskan kebijakan, kebiasaan, dan budaya bisnisnya dengan lebih baik dengan tujuan memanfaatkan hasil penelitian mutakhir secara efisien.

Semoga apa yang diusahakan oleh BRIN berhasil. Insya Allah.

Pandangan helikopter

Dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai dosen, saya selalu bertemu dengan orang-orang yang yang sempit pandangannya. Pandangan tersebut disempitkan oleh batasan ruang, waktu, ideologi, agama, dan lain sebagainya. Biasanya hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas.

Kita juga perlu melihat sesuatu dengan pandangan yang luas, yaitu apa yang disebut sebagai pandangan helikopter. Pemandangan helikopter hanya dapat dicapai jika seseorang itu mempunyai pemahaman yang dalam dan pengalaman yang luas. Dalam pendidikan profesional, seorang murid atau mahasiswa perlu belajar melihat melalui pandangan helikopter dari topik-topik yang mereka pelajari dengan tingkat spesialisasi yang tinggi. Dengan kata lain, seseorang akan menjadi generalis jika dia sudah menjadi spesialis.

Sumber: https://www.officeguycartoons.com

Pemandangan helikopter sangat membantu kita melihat gambaran yang lebih besar. Ketika kita berada di tengah-tengah proyek atau tugas, kita begitu dekat dan terlibat secara emosional sehingga menjadi sangat sulit untuk menjauhkan diri dari apa yang terjadi dan mendapatkan perspektif yang lebih luas. Walaubagaimanapun, kadang-kadang pemandangan helikopter dianggap sebagai terlalu luas untuk orang yang sangat konkret. Seorang pemimpin perlu memiliki pandangan helikopter ini.