Tiga Jam di Ma Chung

Kemarin saya mengajar tiga jam di Universitas Ma Chung. Saya sendiri yang meminta kesempatan itu kepada seorang teman yang mengajar di sana, karena saya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman. Mahasiswa bertanya, dan dari percakapan itu saya ikut belajar.

Saya teringat gagasan para eksistensialis. Manusia memberi arah pada hidupnya lewat pilihan dan tindakan. Mengajar adalah salah satu cara saya menjalani nilai yang saya pegang, yaitu berbagi pengetahuan dan belajar bersama orang lain.

Mahasiswa datang dengan semangat, dan tiga jam itu terasa berarti bagi saya. Saya pulang dengan rasa syukur. Semoga pertemuan itu berguna bagi mereka, seperti pertanyaan mereka berguna bagi saya.

Menghitung Sitasi, Kehilangan Ilmu

Setiap kali daftar World’s Top 2% Scientists terbit, humas kampus mengganti baliho. Rektor mengucapkan selamat, admin media sosial mengunggah foto dosen berlatar biru, dan pimpinan membacakan jumlah nama itu di pidato wisuda. Saya jarang mendengar pimpinan menjelaskan apa yang diukur daftar itu.

John Ioannidis dan rekannya menyusun daftar ini dari data sitasi Scopus milik Elsevier. Mereka menggabungkan jumlah sitasi, indeks-h, dan posisi penulis menjadi satu skor komposit, lalu mengurutkan ilmuwan per subbidang. Skor itu mencatat seberapa sering orang mengutip sebuah karya. Skor itu tidak mencatat apakah karya tersebut benar, berguna, atau mengubah pemahaman siapa pun. Ioannidis menulis banyak artikel tentang peneliti yang memanipulasi metrik, tetapi kampus kita membaca daftarnya seperti membaca klasemen liga.

Begitu kampus menjadikan sitasi mata uang, dosen belajar mencetaknya. Ada yang membentuk lingkaran saling kutip dengan kolega. Ada pula yang menitipkan nama di makalah orang lain atau memecah satu temuan menjadi lima artikel tipis. Charles Goodhart menggambarkan pola ini: orang yang dikejar target akan merusak ukuran yang menjadi dasar target itu. Ketika memasang baliho, kampus menyiarkan target tersebut kepada seluruh dosennya.

Mahasiswa doktoral ikut menanggung akibatnya. Mereka memilih pertanyaan penelitian yang cepat terbit. Dosen muda menghitung bahwa satu artikel memberi poin lebih besar daripada satu semester membimbing atau mengulang eksperimen yang hasilnya meragukan. Kepala laboratorium mengajukan pengadaan alat dengan janji jumlah publikasi, dan masalah yang sulit tetap tidak tersentuh. Lima tahun kemudian, kampus memiliki deretan nama di daftar dan hanya segelintir temuan yang masih dikutip karena isinya, bukan karena jaringannya.

Sitasi tetap berguna sebagai petunjuk awal tentang karya yang dibaca orang. Rektor, dekan, dan tim akreditasi perlu melangkah dari petunjuk itu ke karyanya sendiri. Tanyakan kepada setiap dosen tiga hal: temuan apa yang ia yakini benar dan bagaimana ia mengujinya. Jawabannya terlalu panjang untuk baliho. Senat bisa menampungnya dalam rapat evaluasi tahunan.

Niccolò Machiavelli dan Pengaruhnya

Saya membeli Il Principe karya Niccolò Machiavelli di Malang Center Point untuk mengisi waktu luang. Dari tempat jual buku saya pindah ke kafe dan mulai membaca. Beberapa bab kemudian, pikiran saya meninggalkan Firenze abad ke-16 dan berhenti di Orde Baru, pada sosok Ali Moertopo.

Machiavelli menulis untuk penguasa yang ingin mempertahankan negaranya: kapan ia perlu ditakuti, kapan ia perlu tampak murah hati, kapan ia harus bergerak diam-diam. Ali Moertopo mempraktikkan banyak nasihat itu. Lewat Operasi Khusus (Opsus), ia menggarap partai, ormas, dan tokoh politik dari belakang layar, dan Soeharto memegang kendali tanpa harus selalu tampil sebagai pihak yang menekan.
Ali Moertopo ikut merancang fusi sembilan partai menjadi dua pada 1973, di samping Golkar. Lewat konsep floating mass (massa mengambang), ia menjauhkan partai dari warga desa di luar masa kampanye. Orde Baru membanggakan ketertiban, tetapi ketertiban itu lahir dari kalkulasi intelijen dan rekayasa struktur sosial, jauh dari panggung formal.

Di kafe itu, saya membaca Machiavelli sebagai alat bedah. Ia menulis untuk pangeran Italia lima abad lalu, dan tulisannya membantu saya melihat cara Orde Baru membangun lalu menjaga kekuasaannya selama tiga dekade.

Berbagi Strategi Kolaborasi Riset di UIN

Kamis, 8 Oktober 2026, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) mengundang saya sebagai narasumber Workshop Strategi Kolaborasi Riset dan Kegiatan Akademik Internasional dengan Perguruan Tinggi QS 500. Di Gedung LPPM UIN Suska Riau, Pekanbaru, saya bertemu pimpinan fakultas, dosen, dan sivitas akademika yang sedang menyiapkan jejaring akademik internasional fakultas mereka.

Saya bercerita tentang pengalaman membangun kolaborasi riset, termasuk kerja sama yang melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Osaka University. Kemitraan itu tumbuh lewat banyak jalur: penelitian dan publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, seminar, dan pendampingan akademik.

Saya menyarankan peserta memulai dari tujuan yang jelas dan bidang keilmuan yang sejalan. Petakan calon mitra berdasarkan keahlian mereka dan riset yang bisa dikerjakan bersama. Setelah itu, bangun komunikasi, sepakati siapa mengerjakan apa, lalu susun tindak lanjut yang bisa diukur. Institusi juga perlu memberi dosen waktu dan sumber daya untuk meneliti.

Menurut saya, kerja sama yang awet berawal dari keikhlasan. Peneliti menunjukkan keikhlasan itu lewat sikap konsisten, empati, dan jujur kepada mitranya. Dari sikap itulah kepercayaan terbentuk, dan kepercayaan menopang hubungan akademik selama bertahun-tahun. Karena itu, setelah pertemuan pertama atau penandatanganan kesepakatan, kedua pihak perlu segera bergerak ke kegiatan nyata yang bermanfaat bagi mereka.

Terima kasih kepada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau atas undangan dan kesempatan berbagi. Saya berharap gagasan dari diskusi hari itu berlanjut menjadi riset bersama dan kegiatan akademik yang berkelanjutan.

Filsafat Realisme Akademik: Tinjauan Kritis atas Perilaku Organisasi Perguruan Tinggi

Tujuh prinsip perilaku tersebut merefleksikan dinamika struktural, budaya birokrasi, dan realitas akademis yang terjadi dalam ekosistem pendidikan tinggi.

1. People Follow Power, Not Principles (Dominasi Hierarki dan Regulasi)

  • Konteks: Kepatuhan civitas akademika lebih ditentukan oleh hierarki jabatan dan kebijakan birokrasi ketimbang idealisme kebebasan akademik. Kebijakan kementerian atau pimpinan kampus cenderung diikuti secara mutlak demi mengamankan posisi struktural dan legalitas institusi.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Power/Knowledge Relationship (Pengetahuan dan wacana kebenaran dibentuk serta dikendalikan oleh struktur kekuasaan).
  • Tokoh Filsuf: Michel Foucault & Niccolò Machiavelli.

2. Fear Drives More Than Love (Sistem Disiplin Administrasi)

  • Konteks: Kedisiplinan dosen dan mahasiswa lebih banyak digerakkan oleh ancaman sanksi daripada dorongan intrinsik mencintai ilmu. Ketakutan akan tidak lolosnya BKD (Beban Kerja Dosen), penurunan akreditasi, atau penundaan kelulusan menjadi pemacu utama kinerja.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Behaviorisme Positivistik (Perilaku manusia dan tatanan sosial dikendalikan melalui mekanisme stimulan ancaman dan hukuman).
  • Tokoh Filsuf: Thomas Hobbes & B.F. Skinner.

3. Self-Interest Wears Many Masks (Pragmatisme Tridharma)

  • Konteks: Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang secara wacana ditujukan untuk pembentukan peradaban sering kali didorong oleh insentif pragmatis, seperti pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU), angka kredit kenaikan pangkat, atau pencairan hibah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Egoisme Psikologis & Rational Choice Theory dalam filsafat ilmu sosial.
  • Tokoh Filsuf: Adam Smith & Jeremy Bentham.

4. Perception Rules Reality (Komodifikasi Peringkat dan Branding)

  • Konteks: Pencitraan publik melalui peringkat internasional dan perapihan dokumen akreditasi mendapat porsi perhatian serta anggaran lebih besar dibanding pembenahan substansi pembelajaran di ruang kuliah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Konstruktivisme Sosial & Anti-realisme (Realitas sosial lebih ditentukan oleh konstruksi persepsi dan simbol daripada kenyataan objektif).
  • Tokoh Filsuf: Jean Baudrillard (konsep Simulacra) & Paul Watzlawick.

5. Gratitude Is a Debt, Not a Bond (Relasi Patronase Akademik)

  • Konteks: Hubungan antara senior dan junior, atau pembimbing dan mahasiswa, kerap membentuk struktur utang budi yang membatasi independensi bersikap para akademisi muda.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Hermeneutika Kecurigaan (Hermeneutics of Suspicion) & Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).
  • Tokoh Filsuf: Friedrich Nietzsche & Marcel Mauss.

6. Respect Results, Not Effort (Kultus Output dan Publish or Perish)

  • Konteks: Sistem evaluasi perguruan tinggi menuntut bukti fisik yang terhitung secara kuantitatif (Publish or Perish). Dedikasi mengajar kurang diakui jika tidak menghasilkan luaran konkret berupa artikel terindeks, paten, atau kelulusan tepat waktu.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Pragmatisme & Instrumentalisme (Kebenaran dan nilai suatu tindakan ilmiah diukur semata-mata dari utilitas serta hasil praktisnya).
  • Tokoh Filsuf: William James & John Dewey.

7. Most People Are Easily Led (Budaya Paternalisme dan Konformitas)

  • Konteks: Kultur akademik yang paternalistik menyebabkan mayoritas mahasiswa dan dosen muda cenderung mematuhi arus utama pimpinan demi kepastian karier, sehingga menekan daya kritis.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Teori Kritis (Critical Theory) & Kritik Konformitas Epistemik.
  • Tokoh Filsuf: Theodor Adorno, Max Horkheimer, & Étienne de La Boétie.

Datuk Rajo Mangkuto: Ranji Keluarga dan Foto-Foto Keluarga Zaman Dulu

Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga. Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini.

Foto ini mengabadikan empat generasi dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Sitti merupakan generasi tertua yang masih hidup pada saat foto ini diambil. Ia tampak didampingi oleh anak, cucu, dan cicitnya, sehingga foto ini menjadi dokumentasi keluarga yang sangat berharga. Dari kiri ke kanan tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897) yang sedang memangku putrinya, Radias, Patimah (lahir 1878), serta Ripin (lahir 1903) yang menggendong anaknya, Ardanis. Sosok yang berada di ujung kanan foto merupakan suami Bidah.
Foto ini memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.
Patimah lahir 1878 dan meninggal dunia di Balai Mansiro tanggal 24 Nopember 1964.
Gambar sekitar tahun 1964: Patimah (duduk di tengah) bersama keluarga. Di sebelah kanan beliau ialah anaknya, Ripin, dan di sebelah kiri pula ialah anaknya, Rakiah.
Pemandangan deretan rumah gadang di Balai Mansiro, Payakumbuh pada era 1950-an. Rumah keluarga Datuk Rajo Mangkuto terletak di hujung sekali (no. 3). Daripada keseluruhan tujuh buah rumah gadang, hanya lima buah yang jelas kelihatan di dalam gambar ini.
Tangga masuk Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto pada sekitar tahun 1950-an. Tampak Ripin berdiri di bawah tangga, sementara Zamhir berdiri di sisi kanan Rumah Gadang. Di dekat tangga juga terlihat seorang anak kecil yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Foto ini mendokumentasikan bentuk asli tangga serta bagian depan Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto.
Foto Rakiah dan Nurani Djamil ketika mereka baru menikah tahun 1931.

Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.

Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.

Tiga Dekade Berafiliasi dengan UTM

Tidak terasa, sejak pertama kali berafiliasi dengan UTM pada tahun 1995, lebih dari 30 tahun telah berlalu. Tahun 2026 ini menjadi tahun terakhir afiliasi formal saya dengan universitas yang telah memberikan begitu banyak pengalaman, pelajaran, persahabatan, dan kenangan berharga. Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut bersama UTM.

Buku Trilogi Ilusi Kemilau Pendidikan Tinggi

Trilogi buku ini mengkritik ilusi kemilau pendidikan tinggi yang sering diselimuti angka dan metrik. Melalui pendekatan reflektif, buku-buku ini menantang rutinitas birokratis, standar kuantitatif yang kaku, dan budaya pencitraan yang mengabaikan substansi. Trilogi ini menegaskan kembali pentingnya tiga fondasi kehidupan akademik: etika yang kuat, keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran, dan tanggung jawab intelektual dalam mencari makna pengetahuan, keadilan, serta peran manusia dalam pendidikan.

Lilac Seminar – Hokkaido 2001

The Lilac Seminar (Hokkaido Branch of Electrochemical Society of Japan) di Ōtaki Seminar House, Hokkaido tahun 2001. Pengalaman yang unik. Tidur di kamar bergaya asrama dengan 4 orang dalam satu kamar, lalu ngobrol sampai malam sambil bertukar cerita dengan para peserta. Kenangan yang tidak terlupakan. Saya ada di baris ketiga, paling kanan dari atas. Klik kondisi Ōtaki Seminar House yang sekarang sudah permanen ditutup dari Google Street.

Memanusiakan Manusia

Video kuliah etika keilmuan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, refleksi kritis terhadap sistem pendidikan melalui gagasan Paulo Freire dalam bukunya, Pedagogy of the Oppressed. Terdapat dua paradigma utama: paradigma positivistik-manajerial yang cenderung melihat pendidikan sebagai “sistem perbankan” (banking concept) dan paradigma Freirean yang mengedepankan dialog, kesadaran kritis, dan pembebasan subjek didik.