Hamba Allah yang tidak ingin dikenal

The Qur’an – Online Translation and Commentary

The Qur’an – Online Translation and Commentary ini dibuat oleh dua orang mahasiswa dari Copenhagen, Denmark. Saya cari nama kedua orang yang membuat website yang sangat berguna ini, tapi saya tidak menemukannya. Sangat jarang saya menemukan seseorang berkarya tanpa menyebutkan dan menonjolkan dirinya, apalagi di dunia yang narsis dan penuh dengan pamer ini. Saya mendo’akan supaya Anda berdua mendapat pahala dan ganjaran oleh Allah SWT.

Meng-Allah menghadapi wabah

Wabah di balik gemerlapnya modernitas zaman yang harus diwaspadai pada konteks kekinian agaknya bukan hanya penyakit menular, melainkan juga yang bernama “ketakutan”. Contohnya, banyak orang takut masuk angin jika jalan kaki tak memakai sandal atau sepatu. Banyak orang takut lelah berjalan kaki karena terbiasa naik kendaraan. Banyak orang takut tak punya HP karena tak bisa melakukan komunikasi dan memperoleh informasi. Banyak orang takut hidup sederhana karena sudah berkecukupan. Banyak orang takut tak punya ijazah karena nantinya tak mungkin diterima melamar pekerjaan.

Ketika “ketakutan” sudah mewabah atau menjadi refleks hidup, kemudian saat itu datang penyakit menular, risikonya akan terjadi wabah ganda. Wabah penyakit fisik menular dan wabah penyakit psikis atau kejiwaan. Maka tidak mengherankan jika wabah penyakit fisik menular yang, misalnya disebabkan oleh virus, dapat menstimulir ketakutan berlebihan. Apalagi setelah dikabarkan gara-gara penyakit menular itu banyak memakan korban tewas.

Di sini tampak bahwa ketakutan yang mewabah itu bisa diterjemahkan dengan “takut mati”. Namun, ketika ketakutan terhadap kematian jadi berlebihan, mungkin dapat dikategorikan pula sebagai sikap musyrik. Terlampau mengagungkan, memberhalakan penyakit fisik menular itu sehingga tampak demikian menakutkan karena bisa menyebabkan kematian. Padahal, kematian jelas menjadi hak prerogatif Allah Swt. Kapan waktunya dan apa penyebab kematian, kita tak dapat meramalkannya.

Maka, usaha mencegah jangan sampai terkena wabah penyakit menular tertentu, selain usaha nyata secara keduniawian, tentu harus segera meng-Allah. Makin mendekatkan diri dan mohon perlindungan kepada-Nya agar wabah ketakutan juga tidak tambah merajalela. Lantaran mata batin dan mata wadag kita benar-benar terbuka sehingga dapat membaca dengan jelas, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata.

Iman Budhi Santosa
25/03/2020

Dilema COVID-19

Ada tulisan menarik mengenai dilema mengatasi COVID-19 yang ditulis oleh seseorang yang saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Perhatikan dua eksperimen mental di bawah ini.

Ada troli yang meluncur di jalur kereta api. Di depan troli, di atas rel, ada lima orang yang terikat dan tidak bisa bergerak. Troli bergerak menuju mereka. Anda berdiri agak jauh dari troli tersebut dan berdiri di samping tuas. Jika Anda menarik tuas ini, troli akan beralih ke rangkaian trek yang berbeda. Namun di trek yang lain ada satu orang yang juga terikat dan juga tidak bergerak. Anda memiliki dua pilihan:

  • Anda tidak melakukan apa-apa dan membiarkan troli membunuh lima orang di jalur utama.
  • Menarik tuas dan mengalihkan troli ke trek yang lain dan akan membunuh satu orang.

Kemungkinan eksperimen mental yang lain adalah seperti di bawah ini.

Anda mempunyai pilihan antara menarik dan tidak menarik tuas.

Mana pilihan yang lebih etis? Atau, apa hal yang benar untuk dilakukan? Bukan pilihan yang mudah. Perlu pilihan untuk mengukur mudarat dan maslahat. Kita do’akan semoga wabah ini cepat menghilang dari muka bumi ini.

Mengatur ulang

apa hikmah dari wabah virus corona?
wabah virus corona mungkin resetting
proses mengatur ulang kehidupan dunia
dunia yang tidak adil
yang memang tidak adil

ada beberapa kemungkinan
yang kaya mungkin menjadi miskin
yang jahat mungkin menjadi baik
yang sombong mungkin menjadi rendah hati
yang pelit mungkin menjadi pemurah
yang pengotor mungkin menjadi pembersih
yang ceroboh mungkin menjadi lebih hati-hati
dan banyak lagi

seperti komputer
kehidupan perlu direboot
sering kali kita lupa
karena terlena

wallahu a'lam bishawab
Allah maha mengetahui yang sebenarnya