Kisah singa tua

Saya terinspirasi dari sebuah artikel tentang kisah singa tua yang saya baca dari sebuah sumber dari internet yang ditulis dalam bahasa Inggris dan saya terjemahkan menggunakan Google Translate. Di bawah ini adalah cerita tersebut.

Singa, sang raja binatang, pasti akan mati mengenaskan tidak peduli berapa lama dia hidup. Dunia adalah apa adanya yang seringkali dirasakan kejam. Namun itulah kehidupan di dunia. Ketika mereka dalam kondisi terbaiknya, mereka memerintah, mengejar mangsa, menangkap, melahap dan menelan mereka sambil meninggalkan remah-remah mereka untuk hyena. Namun, usia datang dengan cepat.

Singa yang lebih tua tidak bisa berburu, membunuh, atau melindungi diri mereka sendiri. Sampai kehabisan keberuntungan, ia berkeliaran dan mengaum, menggerogoti, dan mengerang. Hyena akan menyudutkannya, menggigitnya, dan memakannya hidup-hidup. Dia bahkan tidak diizinkan mati sebelum dipotong-potong.

Pelajaran dari kisah ini. Hidup ini singkat. Kekuasaan bersifat sementara. Daya tarik fisik memudar dengan cepat. Kita dapat mengamati hal ini di alam dan juga dalam kehidupan kita. Siapa pun yang hidup cukup lama pada akhirnya akan menua dan menjadi sangat rentan.

Sumber foto: Caters News Agency

Majlis Konvokesyen UTM ke-23

Ini adalah buku Majlis Konvokesyen UTM ke-23 tahun 1999 yang saya simpan di rumah orang tua saya di Padang dan saya bawa ke Malang beberapa hari yang lalu. Saat itu saya adalah salah satu wisudawan. Hanya sebelas orang yang menerima ijazah Ph.D. pada waktu itu. Setelah saya perhatikan, banyak nama yang menerima ijazah sudah pensiun.

Mengunjungi orang tua di Padang

Akhirnya, setelah pandemi COVID-19, ada kesempatan untuk mengunjungi kedua orang tua (bapak, 91 tahun, dan mamak, 89 tahun) yang kesehatannya tidak begitu baik saat ini. Ini bapak sedang melihat fotonya yang ditampilkan dalam slide pengukuhan saya sebagai profesor di Universitas Negeri Malang (UM) pada 30 Juni di YouTube. Bapak tidak dapat menghadiri upacara pelantikan karena kesehatannya yang tidak begitu baik.

Citra karisma UTM

Saya mengucapkan terima kasih kepada Universiti Teknologi Malaysia (UTM) karena masih menghargai kontribusi saya di tahun terakhir saya bekerja di UTM.

UM Integrated Laboratory

Dalam dua hari terakhir, saya telah menyelesaikan pembuatan website Laboratorium Terpadu UM. Ini adalah hasilnya. Silakan klik gambar di bawah ini untuk mengunjungi situsnya.

Bahasa Indonesia logat Malaysia

Sehari sebelum saya dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Negeri Malang (UM), diadakan konferensi pers. Inilah yang ditulis wartawan: “Saat bertemu wartawan pada Rabu (29/6/2022), logat Bahasa Indonesianya masih seperti logat Malaysia. Ia mengaku merasa senang kembali ke tanah air.” Dari semua berita mengenai pengukuhan, ini komentar yang menarik dan jeli dari wartawan.

Rujukan: https://suryamalang.tribunnews.com/