Cara penyampaian kurikulum juga penting

Hal yang bagus yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim. Saya sangat setuju.

“Banyak sekali pelajaran, keterampilan dan kompetensi yang sebenarnya tidak terlalu relevan atau tidak dibutuhkan dalam dunia kerja. Dalam kurikulum yang penting itu sebenarnya bukan hanya kontennya saja, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kurikulum itu diajarkan, cara penyampaiannya di dalam kelas, dan bagaimana membuat siswa berpartisipasi di dalam kurikulum dan dalam pembelajaran tersebut.”

 

Makan kawan sendiri

googleHNManusia bisa lebih kejam dari binatang. Kawan makan kawan. Binatang akan berbuat demikian untuk bertahan hidup. Tapi manusia dapat berbuat demikian bukan untuk bertahan hidup. Motif dengki, cemburu dan lain-lain yang dapat menyebabkan manusia membunuh manusia yang lain. Di bawah ini adalah tulisan yang menarik mengenai semut yang bertahan hidup karena makan semut yang lain. Bukan karena dengki, tetapi untuk bertahan hidup.

https://www.livescience.com/nuclear-bunker-cannibal-ants.html

Thousands of Ants Trapped in Polish Nuclear Bunker Turn to Cannibalism to Survive

By Mindy Weisberger - Senior Writer

"It's an ant-eat-ant world."

In an abandoned nuclear bunker in western Poland, hundreds of thousands of worker ants that fell inside and were cut off from the main colony survived for years by eating the bodies of their dead.

When researchers visited the bunker in 2016, they described a community of nearly a million worker ants of the species Formica polyctena, or wood ants. The main colony teemed above ground on a mound atop the bunker's ventilation pipe; over the years, a steady stream of unlucky ants fell through the pipe and into the bunker. Since the pipe opened into the chamber from the ceiling, once the ants landed on the floor, they couldn't climb back out. 

There was nothing for the ants to eat in the pitch-dark bunker; in 2016, the scientists hypothesized that the insects survived by cannibalizing their dead comrades. Recently, the researchers returned to the bunker to continue their investigation of the trapped ants, looking for evidence that the insects were eating the corpses of their nestmates. 

The bunker, once part of a nuclear base, is near the German border and was used by the Soviet military to store nuclear weapons from the late 1960s until 1992, the researchers reported in 2016.

"During an inspection made in July 2015, we estimated the size of the bunker 'population' of Formica polyctena to be at least several hundred thousand workers, perhaps close to a million," the scientists wrote online Nov. 4 in the Journal of Hymenoptera Research. While thousands of ants skittered over the bunker floor and walls, they were unable to walk on the ceiling where the pipe opening offered the only exit from their stone prison. 

There were no ant cocoons, larvae or queens in the bunker, so the queenless "colony" wasn't breeding. Rather, it continued to grow because ants continually fell through the open pipe whenever the main colony was active, the researchers reported. 

Worker ants would not typically branch off and form a new colony without a queen, but the ants trapped in the bunker "had no choice," the scientists wrote. "They were merely surviving and continuing their social tasks on the conditions set by the extreme environment."

Eat or be eaten

For the new study, the scientists collected more than 150 dead ants from "cemeteries" — piles of bodies on the floor and near the walls around the bunker's main ant mound. Bodies with gnaw marks on their abdomens were thought to have been cannibalized; sure enough, a "vast majority" — 93% — of the corpses showed signs of being eaten.

The ants' solution was a grim one, but cannibalism isn't uncommon in this species. Wood ants are known for waging "ant wars" — fierce battles with other ant species that are typically fought in the early spring, when food is scarce, according to the study. As corpses of fallen soldiers pile up, workers drag the bodies into their nests to feed developing young. In fact, "nestmate corpses can serve as an important food source not only in periods of food shortage," the scientists wrote.

In the bunker, the corpses served as a never-ending buffet, enabling the ants to survive in a location where they would otherwise have starved, the researchers said.

Gruesome as those conditions were for the bunker ants, their story has a happy ending (at least, for the ants that weren't eaten). The study authors also wondered if they could help the trapped ants find their way home, and in 2016, they installed a vertical "boardwalk" — a wooden beam extending from the floor to the entrance of the pipe. 

When the scientists returned to the bunker in 2017, they found that most of the ants had taken advantage of the new escape route. The bunker area that was previously crawling with hundreds of thousands of ants was "almost deserted," presumably with all the wayward ants finally reunited with their colony aboveground, according to the study.

 

Pendidikan sebagai bahan permainan

googleHNSadar atau tidak sadar manusia dilahirkan dengan dorongan intrinsik untuk bermain. Ada permainan untuk anak-anak, remaja dan juga orang dewasa. Hidup ini adalah permainan. Sebagai seorang guru, saya juga merasakan bahwa dunia pendidikan modern sekarang ini juga sudah menjadi bahan permainan. Untuk tingkat yang lebih serius dan ilmiah, ada yang disebut sebagai teori permainan (game theory). Teori ini biasanya digunakan untuk pengambilan keputusan.

Dalam game theory,  zero-sum game atau permainan penjumlahan nol adalah representasi matematis dari situasi di mana keuntungan atau kerugian setiap peserta yang ikut dalam permainan diimbangi dengan kerugian atau keuntungan peserta lainnya. Jika total keuntungan dan kerugian dijumlahkan hasilnya adalah nol. Contohnya dalam memotong kue. Potongan kue yang lebih besar akan mengurangi jumlah kue yang tersedia untuk orang lain. Ini adalah  zero-sum game dimana semua peserta menghargai setiap unit kue secara sama. Sebaliknya, jika jumlahnya tidak nol, ini disebut sebagai non-zero-sum game karena jumlahnya tidak nol karena ada yang rugi dan ada yang untung. Zero-sum game adalah permainan yang sangat kompetitif karena ada pihak yang menang dan kalah, sedangkan non zero-sum game dapat bersifat kompetitif atau non-kompetitif.

Kalau kita perhatikan, sistem pendidikan sekarang mirip dengan zero-sum game. Sangat kompetitif. Baru saja saya membaca 130 perguruan tinggi swasta di Indonesia ditutup sepanjang 2015-2019, diantaranya karena kekurangan mahasiswa. Universitas-universitas ini kalah bersaing dengan universitas-universitas negeri yang juga membuka kelas tambahan non-reguler, yang biayanya jauh lebih mahal dari kelas reguler. Biasanya calon mahasiswa tentu akan memilih universitas negeri dibanding swasta.

Kompetisi menjadi lebih jelas terlihat dan terasa oleh universitas-universitas ketika pemerintah menetapkan indikator-indikator yang terukur untuk meranking universitas-universitas. Salah satu indikator adalah publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah yang baik hanya bisa dihasilkan melalui riset yang baik. Seperti yang sudah dimaklumi riset akan menjadi maju jika tiga komponen dasar dari riset yaitu; kualitas dosen dan mahasiswa (pasca sarjana), infrastruktur yang memadai dan juga dana yang cukup tersedia di universitas tersedia. Riset yang baik akan sangat sukar dilakukan jika tiga komponen dasar tersebut tidak dipunyai oleh universitas. Publikasi yang baik tidak akan dapat diperolehi jika kualitas dosen dan mahasiswa tidak baik, infrastruktur tidak memadai, dan dana tidak tersedia.

Karena jumlah publikasi di jurnal telah menjadi salah satu indikator, maka pengetahuan telah menjadi komoditi, dan juga menjadi lahan untuk mendapatkan keuntungan dari penerbit-penerbit besar seperti Elsevier, Springer dan lan-lain yang sekarang ini telah mengontrol publikasi ilmiah di dunia. Walaubagaimanapun, sekarang ini, masih banyak yang yakin dan percaya bahwa persaingan adalah cara yang paling paling efisien untuk mengatur dunia pendidikan tinggi.

Ada pertanyaan yang perlu dipikirkan jawabannya oleh pemerintah, apakah sistem pendidikan yang kompetitif ini adalah sistem yang terbaik untuk pendidikan?

SKAM ke-9 di Universiti Sains Malaysia

23 tahun yang lalu tahun 1996. Mungkin ada yang kenal dengan wajah-wajah ini? Saya berdiri nomor 3 dari kanan (pakai baju putih). Paling kanan adalah Prof. Abdull Rahim Mohd Yusoff, sekarang Dekan Fakulti Sains UTM. Ada juga Prof. Rahmalan Ahamad, En. Hashim Baharin, Prof. Alias Mohd Yusof, Prof. Mohd Marsin Sanagi, Prof. Wan Aini Wan Ibrahim, Dr. Zainab Ramli dan lain-lain.

Semakin tua, semakin melihat jauh kebelakang dan juga kedepan.

simpoisim kimia analisis malaysia ke-9.jpg