Tulisan ini saya tulis sebagai tanggapan dari diskusi teman-teman diaspora (yang masih tinggal di luar negeri) yang berdiskusi mengenai peraturan keimigrasian yang berubah.
Ada kesadaran perlahan tumbuh ketika seseorang hidup lama di negeri orang. Sebaik apa pun kita diterima, setinggi apa pun jabatan yang kita capai, namun kita tetap tamu. Kita boleh berkontribusi, membangun, mencintai tempat itu, bahkan merasa menjadi bagian darinya. Namun status orang asing tidak pernah hilang. Ia terasa sampai suatu hari kebijakan berubah, aturan diperbarui, dan kita diingatkan kembali bahwa keberadaan kita selalu bersifat sementara.
Saya lebih dua puluh tahun menetap di Malaysia. Saya datang ke Malaysia tahun 1995 sebagai mahasiswa S3, pulang tahun 2022. Sebagai mahasiswa S3, postdoc, dosen muda, menjadi profesor, membimbing mahasiswa, membangun laboratorium, menulis, meneliti, dan terlibat dalam ekosistem akademik yang saya anggap sebagai rumah saya. Banyak kenangan. Dalam ritme keseharian yang stabil, kita lupa bahwa stabilitas itu sebenarnya rapuh, bergantung pada izin tinggal, kontrak, dan kebijakan negara yang sewaktu-waktu bisa berubah.
Ketika muncul aturan baru tentang pembatasan masa kerja, ada kecemasan. Tersimpan satu pertanyaan yang dalam. Sejauh mana kita menggantungkan hidup pada sistem yang bukan milik kita. Dan sejauh mana kita sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan pulang, berpindah, atau memulai ulang.
Saya kebetulan berada pada posisi yang relatif beruntung. Setelah lebih dua dekade, saya memiliki ruang untuk pulang. Ada jejaring, ada pekerjaan, ada tempat kembali. Saya bersyukur bisa pulang. Banyak kolega membangun hidup sepenuhnya di negeri rantau, membesarkan anak, menanam akar sosial dan emosional yang dalam.
Kesadaran bahwa kita adalah orang asing bukanlah sikap negatif. Ini kedewasaan eksistensial. Kita belajar tidak melekat berlebihan pada rasa aman semu. Kita belajar menghargai kesempatan yang diberikan sebuah negeri. Kita belajar menyiapkan cadangan hidup, bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara intelektual, emosional, dan sosial.
Backup plan adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Ia bisa berupa menjaga jejaring di tanah air, terus berkarya, dan membangun kompetensi yang tidak terikat pada satu sistem. Dunia akademik mengajarkan kita tentang ketidakpastian.
Puluhan tahun di negeri orang mengajarkan saya satu hal. Rumah bukan soal alamat. Saya bersyukur bisa pulang dengan relatif tenang, membawa pengalaman, pelajaran, dan rasa hormat kepada tempat yang pernah memberi pengalaman hidup.