Ada kalanya sebuah kata terasa lebih jujur daripada pidato panjang. Seorang sahabat menulis, “you finally escaped.” Saya membaca kalimat itu lama. Lolos. Seakan dua puluh tahun terakhir adalah lorong sempit yang harus dilalui dengan napas tertahan.
Saya bekerja lebih dua dekade di negeri orang. Kontrak diperpanjang setiap beberapa tahun. Tak pernah putus, tak pernah permanen. Secara administratif, semuanya tampak teratur. Surat keluar, surat masuk, tanda tangan diperbarui. Dunia berjalan seperti biasa. Tetapi di sela rutinitas itu ada sesuatu yang tak pernah sepenuhnya tenang. Status yang selalu sementara membuat waktu terasa rapuh.
Akademisi sering dipuji sebagai warga dunia. Kita berpindah kampus, berpindah negara, membawa gagasan dan jaringan. Globalisasi ilmu pengetahuan dirayakan sebagai kemajuan. Namun jarang kita bertanya, bagaimana rasanya hidup dalam sistem yang terus mengingatkan bahwa posisi kita dapat berakhir pada periode berikutnya. Ada yang menyebutnya fleksibilitas. Ada pula yang menyebutnya efisiensi. Tetapi bagi yang menjalaninya, ia sering terasa seperti ketidakpastian yang dipelihara.
Ketidakpastian bukan sekadar soal gaji bulan depan. Ia menyentuh keberanian untuk berbeda pendapat, untuk bersuara keras dalam rapat, untuk mengambil risiko intelektual. Jika masa depan profesional bergantung pada pembaruan kontrak, kita belajar berhitung. Kita belajar menimbang kata. Kita belajar memilih aman. Perlahan, tanpa disadari, otonomi ilmiah yang diagungkan dalam teori menjadi sesuatu yang dinegosiasikan dalam praktik.
Ilmu pengetahuan membutuhkan waktu yang panjang. Ia tumbuh dari kesabaran, dari proyek yang tidak selesai dalam satu musim. Tetapi hidup dalam kepastian yang pendek membuat horizon ikut memendek. Proyek yang aman lebih menarik daripada gagasan yang berisiko. Laporan yang cepat lebih rasional daripada penelitian yang mendalam. Di atas kertas, produktivitas tetap tercatat. Namun ada sesuatu yang menguap pelan pelan: keberanian.
Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan satu negara atau satu institusi. Setiap negara berhak mengatur siapa yang bekerja di dalamnya. Kedaulatan adalah fakta politik. Tetapi di tengah kebijakan dan peraturan, ada manusia yang mengabdi bertahun tahun. Jika kontribusi jangka panjang tidak diimbangi dengan kejelasan jalan ke depan, maka yang tumbuh adalah rasa tergantung, bukan rasa memiliki.
Ketika akhirnya saya kembali ke tanah air dan menerima amanah sebagai profesor, banyak yang mengucapkan selamat. Tetapi kata sahabat itu yang paling mengendap. Lolos. Ia mengandung ironi. Seakan dunia akademik, yang seharusnya menjadi ruang kebebasan berpikir, kadang berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin pergi.
Mungkin ini bukan kisah pribadi semata. Di banyak tempat, universitas semakin menyerupai korporasi. Peringkat, target, dan efisiensi menjadi bahasa sehari hari. Kontrak jangka pendek menjadi alat pengelolaan risiko. Dalam logika itu, fleksibilitas adalah kebajikan. Tetapi ilmu pengetahuan tidak selalu tunduk pada logika itu. Ia memerlukan kepercayaan, dan kepercayaan tumbuh dari kepastian.
Saya tidak merasa marah. Lebih tepat jika saya menyebutnya refleksi. Tentang betapa rapuhnya martabat profesional ketika ia terlalu lama digantung di udara. Tentang betapa pentingnya stabilitas bagi kebebasan berpikir. Dan tentang ironi bahwa dalam dunia yang menyebut dirinya global, rasa aman masih menjadi barang yang langka.
Barangkali “lolos” bukan berarti melarikan diri. Ia mungkin hanya berarti menemukan tempat di mana kerja ilmiah tidak lagi dibayangi pertanyaan sederhana yang berulang setiap dua atau tiga tahun: apakah saya masih di sini tahun depan.