Kenapa Etika Keilmuan Tidak Berjalan?

Kuliah kali ini membedah benang merah antara naluri bertahan hidup, kekuasaan, dan integritas yang sering kali saling sikut di dunia akademik. Bayangkan, dari teori evolusi Darwin yang mengajarkan survival of the fittest hingga konsep virtu ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, manusia sebenarnya berada dalam paradoks besar: kita disebut Homo Sapiens yang bijaksana, tapi realitanya sering terjebak dalam eksploitasi dan ketidakjujuran. Di dunia sains pun tantangannya nyata; tekanan publikasi dan birokrasi kuantitatif kadang memaksa peneliti masuk ke “mode bertahan hidup” yang memicu manipulasi data hingga ketergantungan pada AI yang kebablasan. Pada akhirnya, etika keilmuan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keseimbangan yang hanya bisa tegak jika kesejahteraan peneliti terjamin, hakikat ilmu dipahami secara filosofis, dan sistem sistemik tidak lagi bersifat korup atau sekadar mengejar angka.

Ketika Terlalu Pintar, Hati Jadi Goyang

Bayangkan dunia sebuah jalan lurus yang panjang. Orang biasa yang pengetahuannya sederhana, jalan dengan tenang. Mereka lihat jalan, ya jalan saja. Kalau ada rintangan, mereka lewati atau hindari secara langsung. Pendirian mereka kokoh karena nggak terlalu banyak mikir. Mereka cuma “hidup dan jalani”.

Orang intelektual itu seperti orang yang dikasih kacamata super canggih yang bisa zoom, scan, analisis segala sudut. Dia lihat jalan yang sama, tapi otaknya langsung berputar: “Jalan ini sebenarnya ilusi? Apa ini cuma proyeksi otak kita? Apa gravitasi benar-benar ada atau cuma teori? Apa hidup ini meaningful atau cuma proses kimiawi acak? Apa moral itu objektif atau cuma konstruksi sosial?” Akhirnya, setiap langkah jadi ragu. Jalan yang tadinya lurus dan jelas, sekarang terasa goyang, penuh pertanyaan, penuh “mungkin”, “tapi”, dan “di sisi lain”. Pendiriannya jadi berantakan, goyah, sulit untuk teguh berdiri di satu titik.

Makanya orang yang bijak dalam ilmu sering diam-diam berharap: “Semoga aku bisa melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana lagi, seperti dulu waktu pengetahuanku masih polos.”

Kenapa ini terjadi?

Karena ilmu pengetahuan yang dalam itu seperti membuka ribuan pintu sekaligus. Setiap pintu membawa pertanyaan baru, keraguan baru, dan sudut pandang baru. Awalnya terasa keren karena merasa “pintar”, tapi lama-lama membuat sulit untuk berdiri teguh di satu nilai, satu keyakinan, atau satu cara melihat hidup. Jadi seperti orang yang berdiri di atas gelombang laut. Ombak ilmu terus datang, pendirian terus bergoyang.

Apa pesan utamanya?

Ini soal pendirian dalam melihat dunia. Orang intelektual yang paling kuat bukan yang paling banyak tahu, tapi yang bisa menjaga keseimbangan: Dia tetap pakai ilmu mendalamnya, tapi nggak sampai membiarkan ilmu itu merusak kemampuannya untuk tetap teguh, bertindak, dan menjalani hidup dengan penuh keyakinan.

Jadi, semakin dalam ilmu pengetahuanmu, semakin penting untuk sesekali “lepas kacamata zoom”-nya dan lihat dunia dengan mata polos lagi. Karena dunia yang terlalu dianalisis kadang justru membuat kita sulit untuk benar-benar hidup di dalamnya.

Tetap berpikir kritis. Tapi jangan sampai pendirian ikut goyah hanya karena terlalu banyak “kenapa” dan “bagaimana”. Kadang, cara paling bijak melihat dunia adalah dengan sedikit kerendahan: cukup lihat, cukup jalani, dan cukup teguh.

Itu yang bikin pendirian tetap kokoh di tengah lautan ilmu.

Empat Orang Bahagia di Meja Bundar

Berdasarkan karakter di buku The Geography of Bliss + sedikit bumbu Indonesia)

Suatu sore di sebuah kafe kecil di Bali (tempat netral biar semua orang merasa “di rumah”), empat orang dari negara berbeda kebetulan duduk satu meja karena kafe penuh. Mereka lagi ikut konferensi “World Happiness Summit”.

Hans (Belanda, 42 tahun, pakai sepatu clogs, bawa cerutu kecil): “Bro, di Belanda bahagia itu gampang! Bebas! Mau ganja? Legal. Mau prostitusi? Legal. Mau nongkrong di kafe 6 jam cuma minum satu bir hangat? Silakan! Yang penting ‘don’t tread on me’ [1] — jangan ganggu urusanku!”

Fritz (Swiss, 45 tahun, baju rapi banget, jam tangan mahal tapi disembunyiin): merapikan serbet dengan teliti “Di Swiss, bahagia itu tertib. Jam 10 malam WC harus disiram pelan-pelan. Minggu pagi jangan potong rumput. Kalau tetangga beli mobil baru, kami langsung curiga: ‘Ada masalah keuangan ya?’ C’est pas mal [2]… tidak buruk.”

Somchai (Thailand, 38 tahun, senyum lebar dari tadi, pakai baju batik Bali yang dia beli tadi pagi): senyum sambil mengacungkan jempol “Mai pen lai [3], teman-teman! Yang penting jai yen [4]. Kalau macet di Bangkok 3 jam, senyum saja. Kalau pohon tetangga mengganggu, patahkan satu daun saja. Sanuk [5] dulu! Kalau tidak fun, buat apa?”

Budi (Indonesia, 40 tahun, bawa tas kresek berisi keripik dan es teh): “Wah gila, kalian keren-keren! Di Indonesia bahagia itu… gotong royong [6]! Macet? Santai aja, kita nyanyi bareng dangdut di mobil. Banjir? Kerja bakti bareng, bawa ember sama tetangga. Tapi… eh Hans, kalau lo beli mobil baru Ferrari, jangan pamer di Instagram ya… nanti kami iri, terus syukuran bareng biar adil. Hehe.”

Tiba-tiba Hans ngasih tawaran: “Mau coba ganja Belanda? Legal kok, tenang aja.”

Fritz langsung kaku: “Ada aturan! Di Swiss ini dilarang! Kalau ketahuan polisi, denda 500 franc!”

Somchai senyum lebar: “Mai pen lai [3]… kalau ketahuan, senyum saja. Jai yen [4]…”

Budi langsung ambil peran: “Eh, santai! Kita gotong royong [6] aja. Hans kasih ganja, Fritz kasih aturan, Somchai kasih senyum, aku kasih keripik sama es teh. Kita arisan dulu buat beli satu porsi rendang, biar semua bahagia bareng!”

Mereka berempat akhirnya tertawa ngakak sampai pelayan kafe datang. Hans: “Ini baru namanya happiness summit!” Fritz: “C’est pas mal [2]…” Somchai: “Sanuk [5] banget!” Budi: “Santai aja bro… tapi besok kita foto bareng ya, biar di-upload ke grup WA keluarga, katanya ‘lihat, gue lagi internasional’.”

Mereka berempat kemudian foto selfie bareng, dengan caption yang sama: “Bahagia itu campuran: bebas, tertib, fun, dan gotong royong.”

Tapi di belakang foto, Hans diam-diam ngerokok cerutu, Fritz lagi ngecek jam tangannya, Somchai senyum lebar, dan Budi lagi bisik ke pelayan: “Mbak, tolong tambahin sambel… biar lebih sanuk [5].”

Tamat.


Catatan Kaki (untuk pembaca Indonesia yang mungkin belum familiar):

[1] Don’t tread on me: Slogan kebebasan pribadi klasik (awalnya dari Amerika), artinya “Jangan ganggu urusanku” atau “Jangan injak aku”. Hans pakai ini untuk gambarkan budaya toleransi ekstrem Belanda.

[2] C’est pas mal: Ungkapan Prancis yang dipakai orang Swiss, artinya “Tidak buruk” atau “Lumayan aja”. Sikap khas Swiss yang selalu “cukup”, tidak berlebihan.

[3] Mai pen lai: Ungkapan Thailand yang sangat terkenal, artinya “Never mind”, “Tidak apa-apa”, atau “Sudahlah”. Filosofi hidup santai untuk melepaskan masalah dan lanjut hidup.

[4] Jai yen: “Cool heart” atau “hati yang dingin/tenang”. Di Thailand, ini dianggap sikap paling baik. Jangan marah atau emosional, tetap tenang supaya harmoni terjaga.

[5] Sanuk: Kata Thailand yang artinya “fun” atau “menyenangkan”. Kalau sesuatu tidak sanuk, orang Thailand cenderung tidak mau melakukannya.

[6] Gotong royong: Kerja sama saling tolong-menolong antar tetangga atau komunitas, khas budaya Indonesia (sudah sangat familiar, tapi tetap dicantumkan biar lengkap).

27 Tahun Lalu: Wisuda Ph.D. di UTM

Foto ini diambil pada momen wisuda Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). 27 tahun yang lalu, sebuah perjalanan panjang studi di bidang kimia mencapai salah satu titik penting dalam kehidupan akademik dan keluarga. Saat itu Farid baru berusia 4 tahun dan Firda masih berusia sekitar 1 bulan, sehingga momen ini menjadi kenangan keluarga yang sangat berharga. Saya resmi menyandang gelar Ph.D. di UTM yang secara resmi disetujui oleh Senat Universitas pada 9 Mei 1998, dan sertifikat gelar diterima pada 21 Agustus 1999 pada Konvokesyen UTM ke-23. Disertasi saya berjudul “Tailoring of Novel Metal-Substituted AlPO₄-5 Molecular Sieves as Potential Catalysts for Conversion of Alcohols.” Pada waktu itu saya juga sedang menjalani program postdoctoral di UTM, sebelum kemudian berangkat pada bulan November 1999 ke Hokkaido University, Jepang, sebagai JSPS Postdoctoral Fellow. Foto ini bukan hanya mengabadikan pencapaian akademik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmiah selalu berjalan bersama perjalanan keluarga dan membuka langkah menuju pengalaman riset internasional berikutnya.

20 Tahun Mengawal MJFAS: Refleksi

Per 9 Maret 2026 saya mengakhiri amanah sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS).

Lebih dari dua puluh tahun saya bersama MJFAS sejak masa awal pengelolaannya di Universiti Teknologi Malaysia. Pada tahun 2007 MJFAS menjadi jurnal pertama di UTM yang menggunakan Open Journal Systems. Saat itu pengelolaan jurnal masih sederhana dan transformasi digital belum menjadi kebiasaan.

Standar editorial diperketat. Proses review diperbaiki. Tata kelola diperjelas. Integritas publikasi dijaga. Semua dikerjakan bersama editor, reviewer, penulis, dan tim penerbitan.

MJFAS kini terindeks di Web of Science dalam kategori Multidisciplinary Sciences dengan Journal Impact Factor 2024 sebesar 0.6. Jurnal ini juga terindeks di Scopus dengan SJR 2024 sebesar 0.19 kategori Q3. MJFAS menerima Current Research in Malaysia CREAM 2018 Award dari Ministry of Education Malaysia sebagai pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional.

Memimpin jurnal adalah tanggung jawab menjaga mutu, etika publikasi, dan kepercayaan komunitas akademik. Setiap keputusan editorial membawa konsekuensi ilmiah bagi penulis dan institusi. Tugas ini menuntut waktu, ketelitian, dan komitmen yang konsisten. Ini bukan pekerjaan yang dibayar secara finansial, tetapi amanah akademik yang dijalankan dengan kesungguhan.

Jika dipikir kembali, ada rasa lega karena tanggung jawab panjang itu kini selesai. Beban keputusan, tekanan mutu, dan tuntutan reputasi tidak lagi berada di pundak saya. Yang berakhir adalah jabatan administratif. Yang tersisa adalah jejak kerja dan fondasi yang telah dibangun bersama.

Dua puluh tahun adalah perjalanan panjang. Kepemimpinan perlu dilanjutkan. Saya berharap MJFAS terus berkembang dan tetap menjunjung integritas ilmiah.

Detik-detik ketika jurnal Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) disubmit untuk diindeks oleh Scopus pada 29 Juli 2020.

Menulis atau Tidak Menulis?

Beberapa orang bertanya apakah saya sebaiknya berhenti menulis, ngeblog, atau memposting video kuliah dan opini di YouTube. Pertanyaan itu wajar. Apalagi beberapa tulisan saya belakangan ini menyentuh topik yang cukup sensitif di dunia akademik, seperti kualitas jurnal, etika akademik, arah pendidikan tinggi, hingga pertanyaan apakah kita benar-benar menciptakan pengetahuan atau sekadar menambah jumlah publikasi.

Bagi saya, menulis bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum media sosial, saya sudah menulis di blog dan surat kabar. Menulis adalah cara saya berpikir, merefleksikan pengalaman, dan berbagi pandangan.

Tujuan saya sederhana. Saya ingin menjaga percakapan intelektual tetap hidup. Tidak semua orang harus setuju. Jika satu tulisan saja membuat seseorang berhenti sejenak dan berpikir, itu sudah cukup.

Menulis dan memposting kuliah di YouTube juga menjadi cara saya tetap hadir secara intelektual di dunia akademik. Berbagi gagasan, pengalaman, dan refleksi adalah bagian dari bagaimana saya terus berpartisipasi dalam dunia akademik, bukan hanya melalui publikasi formal tetapi juga melalui ruang diskusi yang lebih terbuka.

Jadi jawabannya sederhana.

Saya mungkin tidak selalu berada di setiap ruang formal akademik, tetapi saya tetap berpikir, menulis, dan berbagi.

Etika Keilmuan

Video ini adalah rekaman kuliah Etika Keilmuan untuk tujuan edukasi dan pengembangan pemikiran kritis. Pandangan yang disampaikan merupakan refleksi akademik, bersifat umum, dan tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan individu, profesi, atau institusi tertentu. Penggunaan materi ini diharapkan tetap dalam konteks diskursus ilmiah.

Akhirnya Lolos

Ada kalanya sebuah kata terasa lebih jujur daripada pidato panjang. Seorang sahabat menulis, “you finally escaped.” Saya membaca kalimat itu lama. Lolos. Seakan dua puluh tahun terakhir adalah lorong sempit yang harus dilalui dengan napas tertahan.

Saya bekerja lebih dua dekade di negeri orang. Kontrak diperpanjang setiap beberapa tahun. Tak pernah putus, tak pernah permanen. Secara administratif, semuanya tampak teratur. Surat keluar, surat masuk, tanda tangan diperbarui. Dunia berjalan seperti biasa. Tetapi di sela rutinitas itu ada sesuatu yang tak pernah sepenuhnya tenang. Status yang selalu sementara membuat waktu terasa rapuh.

Akademisi sering dipuji sebagai warga dunia. Kita berpindah kampus, berpindah negara, membawa gagasan dan jaringan. Globalisasi ilmu pengetahuan dirayakan sebagai kemajuan. Namun jarang kita bertanya, bagaimana rasanya hidup dalam sistem yang terus mengingatkan bahwa posisi kita dapat berakhir pada periode berikutnya. Ada yang menyebutnya fleksibilitas. Ada pula yang menyebutnya efisiensi. Tetapi bagi yang menjalaninya, ia sering terasa seperti ketidakpastian yang dipelihara.

Ketidakpastian bukan sekadar soal gaji bulan depan. Ia menyentuh keberanian untuk berbeda pendapat, untuk bersuara keras dalam rapat, untuk mengambil risiko intelektual. Jika masa depan profesional bergantung pada pembaruan kontrak, kita belajar berhitung. Kita belajar menimbang kata. Kita belajar memilih aman. Perlahan, tanpa disadari, otonomi ilmiah yang diagungkan dalam teori menjadi sesuatu yang dinegosiasikan dalam praktik.

Ilmu pengetahuan membutuhkan waktu yang panjang. Ia tumbuh dari kesabaran, dari proyek yang tidak selesai dalam satu musim. Tetapi hidup dalam kepastian yang pendek membuat horizon ikut memendek. Proyek yang aman lebih menarik daripada gagasan yang berisiko. Laporan yang cepat lebih rasional daripada penelitian yang mendalam. Di atas kertas, produktivitas tetap tercatat. Namun ada sesuatu yang menguap pelan pelan: keberanian.

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan satu negara atau satu institusi. Setiap negara berhak mengatur siapa yang bekerja di dalamnya. Kedaulatan adalah fakta politik. Tetapi di tengah kebijakan dan peraturan, ada manusia yang mengabdi bertahun tahun. Jika kontribusi jangka panjang tidak diimbangi dengan kejelasan jalan ke depan, maka yang tumbuh adalah rasa tergantung, bukan rasa memiliki.

Ketika akhirnya saya kembali ke tanah air dan menerima amanah sebagai profesor, banyak yang mengucapkan selamat. Tetapi kata sahabat itu yang paling mengendap. Lolos. Ia mengandung ironi. Seakan dunia akademik, yang seharusnya menjadi ruang kebebasan berpikir, kadang berubah menjadi ruang yang membuat orang ingin pergi.

Mungkin ini bukan kisah pribadi semata. Di banyak tempat, universitas semakin menyerupai korporasi. Peringkat, target, dan efisiensi menjadi bahasa sehari hari. Kontrak jangka pendek menjadi alat pengelolaan risiko. Dalam logika itu, fleksibilitas adalah kebajikan. Tetapi ilmu pengetahuan tidak selalu tunduk pada logika itu. Ia memerlukan kepercayaan, dan kepercayaan tumbuh dari kepastian.

Saya tidak merasa marah. Lebih tepat jika saya menyebutnya refleksi. Tentang betapa rapuhnya martabat profesional ketika ia terlalu lama digantung di udara. Tentang betapa pentingnya stabilitas bagi kebebasan berpikir. Dan tentang ironi bahwa dalam dunia yang menyebut dirinya global, rasa aman masih menjadi barang yang langka.

Barangkali “lolos” bukan berarti melarikan diri. Ia mungkin hanya berarti menemukan tempat di mana kerja ilmiah tidak lagi dibayangi pertanyaan sederhana yang berulang setiap dua atau tiga tahun: apakah saya masih di sini tahun depan.

Eksistensi Subjek di Bawah Bayang-Bayang Tekno-Birokrasi

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap individu atau institusi tertentu, melainkan sebagai refleksi personal tentang bagaimana manusia mempertahankan kemerdekaan berpikir di tengah sistem administratif modern yang semakin terdigitalisasi dan terstandarisasi. Refleksi ini juga terbuka untuk dialog dan koreksi, bukan sebagai pernyataan kebenaran tunggal.

Perlu ditegaskan bahwa sistem administratif dan digitalisasi memiliki peran penting dalam menjaga akuntabilitas, transparansi, serta efisiensi organisasi. Namun, bersamaan dengan manfaat tersebut, muncul tantangan reflektif mengenai bagaimana ruang kemerdekaan berpikir manusia tetap dapat terpelihara di dalam kerangka sistem yang semakin terstruktur.

Dalam konteks hidup di lingkungan birokrasi yang ditopang oleh logika kepatuhan administratif seperti indikator kinerja, pelaporan kinerja, dan audit kuantitatif, makna kemerdekaan berpikir menjadi semakin relevan secara eksistensial. Ketika manusia berisiko dipersempit maknanya menjadi angka, skor, dan parameter kepatuhan, subjek perlahan dapat bergeser menjadi objek sistem. Fenomena ini berpotensi melahirkan bentuk keterasingan intelektual, di mana seorang pendidik atau pemikir dapat merasa berjarak dengan karyanya sendiri karena proses kerja lebih banyak digerakkan oleh tuntutan administratif daripada oleh kegelisahan akademik yang otentik.

Padahal, makna hidup manusia mencapai kedalaman melalui kemerdekaan berpikir: kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengambil keputusan secara sadar. Tanpa kebebasan reflektif ini, tanggung jawab moral berisiko kehilangan pijakannya karena tindakan cenderung tereduksi menjadi respons mekanis terhadap tekanan struktural. Pada titik tersebut, akal dan nurani dapat bergeser dari daya reflektif menjadi sekadar pelaksana prosedur.

Paradoks Kemerdekaan yang Terstandar

Ketegangan ini menjadi semakin nyata ketika kebijakan publik dan tata kelola organisasi semakin bergantung pada sistem digital dan algoritmik. Di satu sisi, inovasi, kreativitas, dan otonomi profesional sering dipromosikan sebagai nilai utama; namun di sisi lain, praktik evaluasi menuntut keseragaman indikator dan keterukuran yang relatif kaku. Muncul sebuah paradoks: dorongan untuk merdeka berpikir berjalan beriringan dengan mekanisme standardisasi yang semakin menguat.

Pada saat yang sama, kemerdekaan bukanlah jaminan otomatis bagi kebajikan. Ia merupakan syarat perlu yang menuntut kedewasaan etis, tanggung jawab, serta keterbukaan terhadap koreksi agar tidak tergelincir menjadi kesewenang-wenangan atau relativisme. Tanpa integritas, kemerdekaan dapat kehilangan arah; sebaliknya, tanpa kemerdekaan, kompetensi berisiko tereduksi menjadi kecakapan teknis tanpa kedalaman makna.

Emansipasi sebagai Upaya Reflektif

Mempertahankan kemerdekaan berpikir di dalam sistem yang terstruktur bukan semata bentuk resistensi administratif, melainkan proses emansipasi berkelanjutan: menjaga agar manusia tetap hadir sebagai subjek yang berpikir, bukan sekadar entitas yang dioptimalkan oleh mekanisme organisasi. Upaya ini dapat dipahami sebagai usaha merebut kembali kedaulatan kognitif secara perlahan, sadar, dan bertanggung jawab.

Emansipasi tidak selalu hadir dalam bentuk pembangkangan terbuka, melainkan melalui keberanian untuk tetap menyuntikkan makna, etika, dan refleksi ke dalam praktik sehari-hari yang sering kali bersifat prosedural. Dengan cara inilah manusia dapat menjaga martabat dan kemanusiaannya, bahkan ketika berhadapan dengan tuntutan keteraturan, akuntabilitas, dan keterukuran yang semakin kompleks.