20 Tahun Bersama UTM: Dari Mahasiswa Sampai Profesor

Tahun 2018 ini saya berumur 49 tahun, dan 42% umur ini dihabiskan bersama Universiti Teknologi Malaysia, dari mahasiswa sampai menjadi profesor. Saya telah bersama UTM selama 20 tahun. Saya datang ke UTM sebagai mahasiswa Ph.D. bulan Nopember 1995. Jika dikurangkan dengan waktu tinggal di Jepang (1999-2002), bulan April 2018 ini saya genap bersama UTM selama 20 tahun. Kronologi perjalanan hidup saya dapat dilihat disini: https://hadinur.net/timeline/

Pendahuluan

19357114822_15774134eb_o

Catatan ini dinamakan 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor karena dalam 20 tahun terdapat hal-hal yang penting dalam hidup saya yang saya habiskan di Universiti Teknologi Malaysia atau biasa disebut dengan UTM: hubungan saya dengan teman sejawat, karir saya, pemikiran dan renungan saya mengenai pendidikan tinggi dan juga kehidupan. Selalu ada kerinduan untuk menuliskan hal-hal penting. Di dunia yang penuh dengan informasi, yang paling kita perlukan adalah catatan yang ditulis dengan teratur, agar kita meninggalkan pengalaman kita kepada orang lain.

Saya terkesan dengan penjelasan Prof. Jeffrey Lang, profesor matematika di Kansas University, seorang mualaf, mengenai tujuan hidup. Penjelasan beliau mengenai tujuan hidup sangat menarik dan didasarkan kepada tiga prinsip yang saling terkait, iaitu manusia adalah mahluk intelek, mahluk yang mempunyai pilihan dan mengalami penderitaan dalam hidup di dunia. Ketiga prinsip tersebut dapat kita lihat dan rasakan dalam hidup setiap manusia, dan juga tergambar dari catatan 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor.

Tujuan dari hidup di dunia ini adalah proses kita dalam mendekati kualitas dari sifat-sifat Allah seperti benar, jujur, bijak, penyayang, sabar dan lain-lain. Karena sumber semua kualitas sifat-sifat tersebut ini berasal dari Allah, kita mesti mendekatkan diri dengan cara beribadah kepada-Nya. Usaha-usaha kearah itu memerlukan intelektualitas, pilihan dan penderitaan seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini, walaupun mustahil kita sampai pada sifat-sifat Allah yang sempurna tersebut. Manusia hanya dapat mendekati sifat-sifat tersebut.

sifat Allah.jpg

Salah satu prinsip yang saya pegang adalah bahwa profesor yang mengajar di universitas itu adalah pendidik, dengan kata lain adalah guru. Tujuan utama saya menjadi profesor adalah menjadi guru dan membimbing mahasiswa dengan baik. Tentu saja research juga menjadi perhatian yang penting, namun mendidik lebih utama karena researcher yang baik biasanya adalah guru yang baik, walaupun ada juga yang tidak begitu. Ini kerisauan saya sebenarnya melihat perkembang pendidikan tinggi di rantau ini sekarang.

Saya berharap anda membaca 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor, untuk mengenal dunia pendidikan tinggi dan orang yang terlibat didalamnya.

Sebagai catatan, beberapa bahagian catatan ini telah pernah dipublikasikan sebelumnya.

Latar Belakang

Saya lahir pada tahun 1969 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ketika saya lahir, ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang adalah Universitas Negeri Padang).

portrait

keluarga.jpgKeluarga kami tahun 1973. Coba terka saya yang mana?

Setiap orang memiliki mimpinya sendiri dan oleh karena itu mereka tenggelam dalam perjalanan menuju pemenuhan mimpi mereka. Tiga puluh satu tahun yang lalu (1987), ketika saya menjadi mahasiswa tingkat satu di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya bermimpi untuk menjadi seorang profesor dengan menulis judul Prof. Dr. di depan nama saya pada halaman depan buku penuntun praktikum kimia. Dua puluh tiga tahun yang lalu (1995) saya datang ke UTM sebagai mahasiswa Ph.D., dan dua setengah tahun kemudian (1998), saya berhak untuk menempatkan gelar Dr. di depan nama saya. Sekarang, saya layak untuk menempatkan gelar Profesor. Mimpi telah menjadi kenyataan. Buku penuntun praktikum kimia tersebut menjadi saksi impian saya.

Saya pertama kali tertarik dalam kimia suatu hari pada tahun 1984 ketika saya masih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Padang. Saya menghadiri kursus tambahan dalam pelajaran kimia. Kursus ini diajarkan oleh Drs. Tahasnim Tamin, seorang dosen senior di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Padang. Saya tertarik dengan konsep kimia yang indah yang diajarkan dengan demonstrasi laboratorium. Salah satu eksperimen menarik yang dilakukan di dalam kelas adalah reaksi antara natrium dengan air, dimana logam natrium dimasukkan ke dalam air di dalam gelas kimia. Reaksi yang hebat antara natrium dengan air menyebabkan logam tersebut menyala di permukaan air. Reaksi yang menakjubkan! Ini adalah salah satu contoh bagaimana eksperimen kimia dapat menginspirasi siswa menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan. Hal ini tidak dapat dicapai tanpa guru yang mempunyai ilmu dan juga dedikasi yang tinggi dalam mendidik.

Pelajaran penting berikutnya datang saat saya menjadi mahasiswa Jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam proyek tugas akhir, saya dibimbing oleh Dr. Harjoto Djojosubroto, yang pada waktu itu adalah Direktur Pusat Penelitian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional, Indonesia. Dr. Harjoto tertarik dengan teknik analisis pegaktifan netron dan baru saja memperoleh gelar doktor dari ITB dalam bidang kimia atom panas. Kami melakukan studi penentuan selenium dalam darah manusia dengan analisis pengaktifan netron yang saya selesaikan hampir selama dua tahun. Beliaulah yang mengilhami saya untuk melanjutkan studi pascasarjana. Peristiwa paling penting yang terjadi pada saat itu adalah pertemuan dengan Terry Terikoh, juga mahasiswa jurusan kimia ITB, yang sekarang menjadi istri saya. Perjalanan karir saya dalam dunia akademis selalu mendapatkan dukungan dari Terry, dan ini merupakan faktor terbesar yang mendukung kekeberhasilan dalam karir profesional saya.

•••

Salah satu pengalaman yang tidak patut ditiru adalah saya kuliah di dua universitas yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ketika naik ke tingkat dua di Jurusan Kimia ITB tahun 1988, saya juga masuk di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (UNPAD). Saya kuliah di dua tempat sekaligus, dan bertahan hanya 1 tahun saja (1988-1989) karena GPA (Cumulative Grade Point Average) saya kurang dari 2.00 di ITB dan UNPAD, sehingga saya memutuskan untuk fokus kuliah di ITB saja.

Hikmah yang saya dapatkan dari peristiwa ini adalah, untuk menjadi sukses dalam dunia sains, kita harus fokus.

•••

Pada bulan September 1993, saya mendaftar pada Program Magister Ilmu dan Teknik Material di Institut Teknologi Bandung dan beruntung dibimbing oleh Dr. Bambang Ariwahjoedi, dosen yang kreatif dan memiliki ide-ide yang bernas. Kreativitas sangat penting pada waktu itu karena kurangnya peralatan laboratorium di ITB. Saya menyelesaikan proyek dengan topik sintesis biokeramik hidroksilapatit. Saya lulus program magister dengan predikat cum laude pada tahun 1995. Pengalaman saya melakukan riset mulai bertambah ketika saya melanjutkan Ph.D. dalam bidang kimia zeolit di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di bawah bimbingan Prof. Halimaton Hamdan dengan biaya dari pemerintah Malaysia melalui research grant pada bulan Nopember 1995. Biaya kuliah semester pertama dibayarkan oleh ayah saya. Sejak itu mulailah saya meninggalkan Indonesia dan memulai hidup di Malaysia sebagai mahasiswa Ph.D. sampai menjadi menjadi profesor di UTM.

Pada tahun 1999, saya beruntung dipilih dari sekian banyak pelamar mendapatkan beasiswa postdoc dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) di bawah bimbingan Profesor Bunsho Ohtani, profesor di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Saya berada di Jepang selama dua setengah tahun. Jika dikurangkan dengan waktu tinggal di Jepang, bulan April 2018 ini saya genap bersama UTM selama 20 tahun. Berdasarkan inilah, catatan ini diberi judul 20 tahun dengan UTM.

1995 – 1999 di UTM

Sebagai mahasiswa Ph.D. dan postdoc di UTM

Sebelum saya mendaftar menjadi mahasiswa Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia, saya adalah mahasiswa Magister Program Studi Ilmu dan Teknik Material, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Saya lulus dengan cum laude dan menyelesaikan program ini dalam waktu 1,5 tahun. Saya menyelesaikan studi pada bulan Februari 1995, dan diwisuda pada bulan Oktober 1995. Saya adalah lulusan pertama Program Magister Ilmu dan Teknik Material, ITB.

27788932_10215945176961449_7536793909314015770_o.jpg

Saya gagal mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia (University Research for Graduate Education scholarship) meski sudah diterima sebagai mahasiswa Ph.D. di Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah bimbingan Prof. Ir. Tata Surdia, Prof. Dr. Noer Mansjoeriah Surdia dan Dr. Mardjono Siswosuwarno (sekarang Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno). Tahun 1995, saya juga gagal dikirim oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melanjutkan studi Ph.D. di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Saat itu, saya adalah calon dosen di Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Ilmu dan Teknik Material, ITB.

Kebetulan pada tanggal 29 Juni 1995 saya bertemu dengan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan (sekarang Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan) yang sedang menghadiri Seminar Kimia Bersama ITB-UKM Kedua, di ITB, dan beliau menawarkan saya untuk melanjutkan Ph.D. dengan beliau di Universiti Teknologi Malaysia. Setelah surat menyurat dengan beliau, akhirnya pada bulan Nopember 1995 saya berangkat ke Johor Bahru, Malaysia dari Padang menggunakan pesawat Pelangi Airways dari lapangan terbang Tabing. Saya terpaksa meninggalkan istri saya, Terry Terikoh, dan anak saya, Farid Rahman Hadi, di rumah orang tua saya di Padang. Orang yang pertama kali menyambut saya di lapangan terbang Senai adalah En. Lokman Zakaria, suami dari sepupu Imnati Ilyas, saudara ayah saya, yang tinggal di Johor Bahru. Saya menginap satu hari di rumah beliau di Taman Rinting, Johor Bahru.

Setelah mendaftar, saya ditempatkan di asrama Desa Skudai, yang berada di luar kampus UTM. Alhamdullilah, saya bertemu dengan Adi Surjosatyo (sekarang Prof. Dr. Adi Surjosatyo) di CIMB Bank UTM, dosen Universitas Indonesia yang juga mendaftar sebagai mahasiswa M.Sc. di UTM dan menawarkan untuk pindah ke asrama dalam kampus di Kampung Kempas (sekarang Kolej Tuanku Canselor) blok S36 bersebelahan dengan kamar beliau. Disinilah saya tinggal selama 2.5 tahun sampai saya menyelesaikan program Ph.D saya di UTM. Adi Surjosatyo menjadi teman seperjuangan saya selama saya menempuh Ph.D. Seringkali hanya kami berdua tinggal di asrama ketika cuti semester, karena semua mahasiswa yang lain pulang ke kampung halaman masing-masing.

Teman-teman seperjuangan saya waktu Ph.D. di Jabatan Kimia pada masa itu diantaranya adalah Pn. Salasiah Endud (sekarang Prof. Dr. Salasiah Endud), En. Abdull Rahim Mohd Yusoff (sekarang Prof. Dr. Abdull Rahim Mohd Yusoff) dan Pn. Noraziah Buang (sekarang Prof. Madya Dr. Nor Aziah Buang).

zeolite.jpg
Zeolite Porous Materials Research Group (1998).

31991987624_7b7fb7138c_k.jpgTerry Terikoh, Farid Rahman Hadi dan Firda Hariri dan saya (1999).

Screen Shot 2018-02-16 at 11.37.30 AMProyek Ph.D. saya dalam bidang kimia material di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang dibimbing oleh Prof. Halimaton Hamdan adalah mengenai mengenai sintesis, karakterisasi dan aktivitas katalitik aluminofosfat berpori, VPI-5. Setelah enam bulan bekerja di laboratorium, saya gagal mensintesis VPI-5. Tesis Ph.D. saya berasal dari dua belas bulan beker­ja keras di laboratorium. Pada masa yang sama, saya juga bekerja dengan proyek lain dengan topik sintesis zeolit dari abu sekam padi. Saya lulus Ph.D. dengan beberapa publikasi ilmiah mengenai studi tentang struktur, sifat fisikokimia dan aktivitas katalitik AlPO4-5 yang dimodifikasi dengan logam transisi. Saya juga mengusulkan dan berhasil mensintesis zeolite NaA zeolit langsung dari sekam padi dan abu sekam padi. Ini adalah pekerjaan selama dua belas bulan yang sangat intens. Akhirnya saya menemukan bagaimana bekerja dalam bidang sains secara mandiri. Walaupun sangat melelahkan, periode ini sangat menggembirakan. Saya menyelesaikan Ph.D. saya dalam waktu dua setengah tahun pada tahun 1998. External examiner tesis Ph.D. saya adalah Prof. Dr. Liew Kong Yong dari Universiti Sains Malaysia (USM). Setelah itu, saya bekerja sebagai postdoc selama satu tahun di UTM. Saya termasuk postdoc yang paling awal di UTM.

•••

Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan, tanpa beliau saya tidak akan seperti sekarang.

halimaton.jpgDengan Prof. Halimaton Hamdan tahun 2017.

Riak kehidupan

Sebagian orang ada yang memperoleh keinginannya dengan mudah. Sebagian lagi ada yang memutar-mutar dulu baru kesampaian. Sebagian lagi ada yang tidak kesampaian sama sekali. Bagi orang yang pernah mengalami jatuh bangunnya hidup akan terasa nikmatnya hidup. Senang, susah, sedih dan gembira pernah dirasakan. Ketika kita lagi bernasib baik, kita akan merasakan bagaimana susah orang-orang yang tidak bernasib baik. Ketika kita bernasib, kita harus bersabar dan berpasrah diri. Kita tidak perlu takut dan cemas akan masa depan kita, walaupun jalan yang kita tempuh tidak terbayangkan sebelumnya atau diluar rencana.

Pikiran saya melayang lagi kebelakang. Setelah lulus sarjana Kimia di ITB pada tahun 1992, saya melamar menjadi dosen di Jurusan Kimia ITB, tetapi waktu itu ditolak. Saya baru ditawari menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB setelah saya lulus magister pada tahun 1995. Pada waktu itu, ITB merencanakan mengirim saya untuk mengambil program Ph.D. di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Karena jatah untuk tahun itu hanya untuk satu orang dan peluang untuk tahun depan tidak pasti, saya berinisiatif mencari sekolah sendiri dan diterima di UTM. Setelah lulus Ph.D. pada tahun 1998 dan sedang postdoc di UTM, saya dipanggil oleh ITB untuk mengikuti tes pegawai negeri. Rupanya Prof. Noer Mandsjoeriah Surdia juga mengusulkan supaya saya diangkat sebagai dosen di Jurusan Kimia ITB. Namun karena Program Studi Teknik Material ITB telah lebih dulu memproses lamaran, saya disuruh memilih, mau di Jurusan Kimia atau di Program Studi Teknik Material? Tanpa ragu saya memilih Program Studi Teknik Material sebab jurusan itu yang lebih dulu memberi tawaran, selain itu proses lamaran di Program Studi Teknik Material sudah sampai di fakultas.

27858040_10215956737490455_3412382227219756194_nTahun 1998, saya telah menyelesaikan semua tes untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di ITB. Karena urusan sudah beres dan juga sudah mendapat rumah transit ITB di Cisitu Lama, Bandung, saya kembali ke UTM untuk menyelesaikan program postdoc yang tinggal sembilan bulan lagi. Baru saja sampai di Johor Bahru, beberapa hari kemudian ITB memanggil kembali untuk menyelesaikan wawancara dengan dekan. Saya menelepon Prof. Noer Mandsjoeriah Surdia yang pada waktu itu adalah ketua Program Magister Ilmu dan Teknik Material, memohon keringanan agar wawancara dilakukan melalui telepon saja karena kalau pulang tidak mungkin, bahkan waktu itu Prof. Halimaton Hamdan, pembimbing saya di UTM, sempat bicara juga dengan beliau bahwa saya dipinjam sementara oleh UTM. Dari pembicaraan, nampaknya tidak ada masalah. Namun, setelah postdoc di UTM selama satu tahun dan dilanjutkan sebagai postdoc di Hokkaido University, Jepang selama dua setengah tahun, nama saya hilang sebagai calon staf dosen ITB, mungkin karena tidak ikut wawancara, lamaran tidak diproses lebih lanjut.

Selama di Jepang pun usaha saya untuk menjadi dosen di Indonesia masih ada, kembali ke ITB nampaknya tidak mungkin, atas saran ayah saya, kemudian saya mencoba melamar ke Universitas Negeri Padang (UNP). Dari Jepang sempat pulang untuk mengikuti tes pegawai negeri lagi dan wawancara. Karena kondisi perekonomian Indonesia yang sedang buruk, saya memutuskan kembali ke UTM.

Inilah pengalaman hidup, penuh liku-liku, bukannya senang seperti apa yang terlihat, semua ini menjadi pengalaman yang berharga, kami tidak akan ragu karena janji Allah SWT selalu benar. Dibalik semua peristiwa ada hikmahnya, dan kita pun bisa mengambil pelajaran agar sesuatu itu bisa menjadi lebih baik.

1999 – 2002 di Hokkaido University

“Dan mereka merancang, Allah juga merancang, Dan Allah sebaik-baik perancang” (QS 3:54)

Banyak peristiwa dalam hidup ini yang tidak terduga. Saya tidak menyangka akan menghabiskan waktu di Malaysia jika saya tidak bertemu dengan Prof. Halimaton tahun 1995 di ITB. Saya juga tidak akan tinggal di Jepang dan bekerja dengan Prof. Bunsho Ohtani jika saya tidak menyurati beliau melalui e-mail pada tahun 1999. Semua peristiwa kecil itu yang merubah hidup saya. Allah adalah sebaik-baik perancang, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 1 Nopember 1999 dengan menggunakan pesawat Thai Airways dari Singapura ke Osaka dan dilanjutkan dengan All Nippon Airways ke Sapporo. Kami sekeluarga (saya, Terry Terikoh, Farid Rahman Hadi (4.5 tahun) dan Firda Hariri (3 bulan) dijemput oleh Dr. Shigeru Ikeda di Chitose Airport. Pada waktu itu laboratorium Prof. Ohtani hanya terdiri dari 1 Assistant Professor (Dr. Shigeru Ikeda), 2 orang Postdoc (Dr. Bonamali Pal dan saya) dan 1 orang mahasiswa M.Sc. (Noboru Sugiyama). Dr. Shigeru Ikeda dan Dr. Bonamali Pal sekarang sudah menjadi full professor di Jepang dan India.

Hari pertama saya sampai di Sapporo, saya bertemu dengan Sugeng Triwahyono (sekarang Prof. Dr. Sugeng Triwayono) di Catalysis Research Center (CRC) yang waktu itu adalah research student di laboratorium Prof. Masakazu Iwamoto, yang waktu itu adalah Director, Catalysis Research Center (CRC). Laboratorium beliau di lantai dua, dan laboratorium Prof. Ohtani di lantai satu di bangunan CRC.

4713657058_1513f78b10_b.jpgDengan Prof. Bunsho Ohtani di Tottori tahun 2000.

Saya cukup beruntung menjadi postdoctoral fellow di bawah bimbingan Prof. Bunsho Ohtani di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Prof. Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya. Prof. Ohtani yang merupakan ilmuwan yang sangat inspiratif. Beliau memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan yang hebat. Dalam dua tahun saya sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow dan dilanjutkan sebagai COE (Center of Excellent) Visiting Researcher selama setengah tahun, kami menerbitkan sebuah makalah mengenai konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai Phase Boundary Catalysis. Saya berhutang budi kepada Prof. Ohtani karena telah menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian sains dengan cara yang benar.

Pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (dua tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University) telah memberikan saya gambaran yang jelas terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset. Tulisan di bawah ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa universitas di Jepang bagus? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia dan Malaysia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa universitas besar di Indonesia dan Malaysia menjadi research university. Hal ini beralasan karena universitas akan menjadi tempat aktivitas intelektual dan menjadi harta nasional. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan the silicon valley syndrome.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis huruf tebal untuk kalimat kunci.)

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi.

Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Associate Professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut.

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (‘sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir).

Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas.

The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, “The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)” telah tujuh belas tahun berlalu. Acara ini diadakan di Sapporo pada tahun 2001. Kebetulan saya, satu-satunya postdoc di Hokkaido University dari Indonesia pada waktu itu, telah ditunjuk sebagai ketua untuk acara seminar ini. Saya masih ingat, dengan ditemani oleh Ahmad Hidayat Lubis dan Dwi Gustiono, kami menemui Prof. Michio Yoneyama, Director of International Student Center, Hokkaido University, untuk membicarakan HISAS-1. Beliau sangat mendukung acara ini, dan mengatakan bahwa HISAS-1 merupakan acara ilmiah pertama yang dibuat oleh persatuan mahasiswa asing di Hokkaido University. Acara ini telah dilaksanakan di Hokkaido University Multimedia Education Building, Graduate School of International Media and Communication pada 4 Nopember 2001, dan telah berlangsung dengan baik.

4734569908_552b9a0b0d_b.jpg

Prof. Takashi S. Kohyama bersedia menjadi keynote speaker dengan bantuan Joeni Setijo Rahajoe, yang ketika itu adalah mahasiswa Ph.D. Prof. Kohyama. Pihak Kita Gas Co. Ltd. yang diwakili oleh Mr. Yozo Maeizumi (Managing Director) juga bersedia datang untuk memeriahkan acara ini. Ahmad Hidayat Lubis mempunyai andil besar untuk mendatangkan Mr. Maeizumi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Tokyo, Winnetou Nowawi, dan juga ketua PPI Jepang, Romi Satria Wahono, juga datang menghadiri HISAS-1.Acara HISAS-1 berlangsung dengan meriah. Gelak tawa para peserta pecah ketika Heru Rachmadi, sang dokter hewan, menceritakan pengalamannya melakukan inseminasi buatan pada sapi. Hari Sutrisno dan Subeki juga menjadi bintang dalam HISAS-1, karena presentasi mereka tidak membuat mengantuk, penuh canda.

Sehat Jaya Tuah, yang menjadi sekretaris acara ini meninggal dunia pada 29 Mei 2010 (jam 10 malam) karena serangan jantung di Palangkaraya, Indonesia. Teringat senyuman dan keramahan Sehat Jaya Tuah.Acara ini tinggal kenangan. Buku prosiding HISAS-1 masih menghias lemari buku saya.

2002 sampai sekarang di UTM

Kembali ke UTM

Setelah lulus program Ph.D., Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) adalah dua universitas yang menerima saya sebagai dosen. Namun, saya masih berkeinginan untuk mencari pengalaman dalam penelitian. Akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti postdoc di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Sapporo, Jepang. Saya berangkat bersama istri dan kedua anak saya, Farid Rahman Hadi, lahir pada tahun 1995 di Bandung, dan Firda Hariri, lahir pada tahun 1999 di Johor Bahru.

Dua setengah tahun di Sapporo cukuplah bagi kami menimba pengalaman. Pendidikan anak-anak mulai menjadi pikiran saya. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk pendidikan, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan mengenai pendidikan agama anak-anak. Saya dan istri sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling aktif meminta saya menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anak lebih terjamin dan ketiga Malaysia lebih dekat dengan kampung halaman.Setelah hampir dua setengah tahun di Hokkaido University, saya pulang kembali ke UTM setelah menerima tawaran Prof. Halimaton Hamdan sebagai pensyarah di Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS).

Prof. Halimaton adalah Pengarah IIS dan sedang memimpin sebuah proyek penelitian yang besar yang berjumlah RM 11.5 juta yang berjudul “Zeolites and Derivatives as Catalyst in the Synthesis of Specialty Fine Chemicals” di bawah Top-Down Intensified Research in Priority Area (IRPA) research grant.

Pada bulan Mei 2002, saya mulai bekerja di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), setelah satu tahun sebagai research officer karena menunggu proses permohonan sebagai pensyarah yang diproses di Kementerian Pendidikan Malaysia, dan kemudian sebagai pensyarah DS45 pada 2 Juni 2003. Tangga demi tangga saya tapaki. Rasa syukur dan suka cita datang tatkala saya diangkat menjadi profesor penuh di UTM pada tahun 2010. Di bawah ini adalah posisi di UTM dan juga posisi di luar UTM yang berafilisasi dengan UTM dari tahun 2002 sampai sekarang yang ditulis secara kronologi di bawah ini.

Research Officer (1 Mei 2002 – 31 Mei 2003), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.

Lecturer (2 Juni 2003 – 5 Oktober 2007), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.

Senior Lecturer (6 Oktober 2007 – 3 September 2008), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.

Associate Professor (4 September 2008 – 28 November 2010), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.

Manager, International Affairs for Indonesia (1 Desember 2008 – 31 Maret 2014), Universiti Teknologi Malaysia.

Ketua Catalytic Science and Technology (CST) Research Group (24 Juni 2009 – 23 Juni 2014), Universiti Teknologi Malaysia.

Profesor (29 November 2010 – sekarang), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.

Direktur Centre for Sustainable Nanomaterials, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia (15 Februari 2015 – sekarang).

Visiting scientist, the Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Germany (20 Juli – 4 September 2015).

Adjunct professor di Universitas Negeri Malang (1 Februari 2017 – sekarang).

Pengalaman saya dalam administrasi dimulai pada tahun 2008 ketika saya ditunjuk sebagai Manager, International Affairs for Indonesia di bawah UTM International Office dengan Director adalah Prof. Dr. Mohd Azraai Kassim dan Deputy Director adalah Prof. Madya Dr. Mohd Ismail Abd Aziz (sekarang Prof. Dato’ Dr. Mohd Ismail Abd Aziz). Saya di UTM International Office selama 5 tahun 4 bulan. Pada masa itu saya terlibat dalam usaha UTM mendapatkan pensyarah dan juga mahasiswa dari Indonesia. Hal ini berkaitan dengan usaha UTM memperoleh status sebagai research university, dan alhamdullilah terwujud pada 10 Juni 2010. Pada masa itu UTM mempunyai pensyarah yang berasal dari Indonesia lebih dari 60 orang, dan jumlah mahasiswa sekitar 450 orang. Saya banyak melakukan kunjungan ke Indonesia bersama Prof. Dato’ Seri Dr. Zaini Ujang, Vice Chancellor UTM, dan juga Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris, Director of Marketing UTM pada waktu itu.

Inisiatif yang pertama yang saya lakukan sebagai Manager, International Affairs for Indonesia adalah mengunjungi Dr. Fasli Jalal, yang waktu itu menjabat sebagai Director-General of Higher Education, Indonesia pada 9 Februari 2009 untuk mengenalkan Indonesia Scholar-in-Residence Program (ISRP).

3269612558_309d6812c5_o.jpg
Dari kiri ke kanan adalah Tn. Hj. Wan Mohd. Zawawi Wan Abd. Rahman, Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris, Prof. Dr. Siti Hamisah Tapsir, Dr. Fasli Jalal, Prof. Madya Dr. Hadi Nur dan Prof. Madya Dr. Mohd Ismail Abd Aziz.

Dengan naiknya status UTM sebagai research university, banyak research group yang dibuat. Selama 5 tahun (2009 – 2014) saya menjadi ketua Catalytic Science and Technology (CST) Research Group di UTM. Anggota dari CST adalah Dr. Dwi Gustiono, Dr. Jon Efendi, Dr. Hendrik Oktendy Lintang, Prof. Madya Dr. Hadi Nur, Prof. Madya Dr. Sugeng Triwahyono, Prof. Madya Dr. Zainab Ramli dan Dr. Lee Siew King.

4789830201_c2bd0b7e39_b.jpgDari kiri ke kanan, Dr. Dwi Gustiono, Dr. Jon Efendi, Dr. Hendrik Oktendy Lintang, Prof. Madya Dr. Hadi Nur, Prof. Madya Dr. Sugeng Triwahyono, Prof. Kanuzari Domen (Tokyo University), Prof. Madya Dr. Zainab Ramli dan Dr. Lee Siew King (13 Juli 2010).

•••

Tahun 2018 adalah tahun yang menyimpan duka bagi UTM, karena Prof. Sugeng Triwahyono, meninggal dunia pada 16 Februari 2018. UTM ditinggalkan oleh seorang stafnya yang sangat produktif.

Prof. Dr. Sugeng Triwahyono (29 Juni 1969 – 16 Februari 2018)

Selamat jalan sahabat. Saya menjadi saksi bahwa hamba Allah yang saya kenal rapat lebih dari 20 tahun adalah orang yang sangat baik dan pemurah hati. Dipanggil oleh Allah SWT ketika saya sedang sholat Jumat. Semoga khusnul khotimah.

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Allah berilah kami pahala atas musibah ini dan gantilah bagiku yang lebih baik dari musibah ini.”

28061304_10216009175721378_5728905666946455874_o.jpg

•••

Saya dilantik menjadi profesor di UTM pada 29 Nopember 2010 dan memberikan inaugural professorial lecture pada 19 Oktober 2011. Ayah, ibu, abang dan juga keluarga saya turut hadir pada inaugural professorial lecture, peristiwa yang menjadi sejarah bagi keluarga kami.

335694_2552489530706_656713134_o.jpg

Selama menjadi pensyarah di UTM, saya telah membimbing dan meluluskan 24 orang mahasiswa Ph.D. dalam bidang sains bahan dan katalis heterogen. Saya juga aktif sebagai editor dan juga sebagai penilai makalah-makalah yang diterbitkan di berbagai jurnal. Saat ini saya adalah Associate Editor dari Frontiers in Chemistry, Regional Managing Editor for Asia-Pacific, Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis dan Editor-in-Chief dari Malaysian Journal of Fundamentals and Applied Sciences. Sekarang saya menjabat sebagai Deputy Senior Director, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research dan Director, Centre for Sustainable Nanomaterials di UTM.

•••

Screen Shot 2018-02-11 at 6.09.20 AM.png

Masih ingat ketika saya mengusulkan kepada Prof. Halimaton Hamdan, Director of Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS) pada tahun 2005, bahwa IIS perlu mempunyai jurnal sendiri, yang dinamakan sebagai Journal of Fundamental Sciences (JFS). Pada waktu itu saya bekerja sendirian, dari membuat website, membuat layout dan cover, dan mengirimkan untuk dicetak ke percetakan. JFS adalah jurnal pertama yang menggunakan Open Journal System (OJS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Masih ingat Pn. Zarina Junet meng-install OJS di server IIS pada tahun 2007. Alhamdullilah, jurnal ini telah berkembang seperti sekarang ini dan sudah berganti nama menjadi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS).


Merenungkan kembali hikmah pendidikan tinggi

Tulisan Merenungkan kembali hikmah pendidikan tinggi dan Pengembangan institusi yang berkeberlanjutan di bawah ni adalah sebahagian dari pidato penganugerahan adjunct professor kepada saya pada 29 Agustus 2017 di Universitas Negeri Malang.

21273023_10214536750871677_1799317530354489504_o.jpg

“Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).

Kebetulan beberapa minggu yang lalu kita telah merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Sepatutnya kita bertanya, sudah merdekakah kita? Karena kita ingin bangsa ini betul-betul merdeka, maka kemerdekaan itu semestinya tidak saja diartikan sebagai pembebasan dari belenggu penjajahan, fisik maupun non-fisik, tetapi juga pembebasan dari cara, gaya, arah dan pandangan hidup yang salah, yang jauh dari tuntunan hikmah. Berdasarkan ini, apakah kita sudah merdeka dari cara, arah dan pandangan kita terhadap pendidikan tinggi kita?

Mukadimah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, Indonesia, nomor 603/O/2001 telah menyatakan bahwa tugas pokok perguruan tinggi adalah untuk berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia untuk kesejahteraan umat manusia. Namun apakah tugas pokok universitas ini telah dijalankan dengan baik? Saya agak khawatir dengan perkembangan akhir-akhir ini, karena fungsi universitas sudah mulai melenceng daripada tugas pokoknya seperti yang dinyatakan dalam mukadimah Menteri Pendidikan Nasional tersebut. Terdapat dua fenomena yang menurut saya yang dapat melencengkan fungsi asal universitas, iaitu pendidikan yang terlalu berorientasi kepada komersialisasi dan kecendrungan universitas untuk mengejar angka, seperti webometrics, jumlah publikasi, jumlah mahasiswa dan lain sebagainya indikator kinerja utama (Key Performance Indicator), tanpa melihat substansi mengenai hikmah dari angka-angka tersebut. Sebaiknya, letakkanlah sesuatu pada hakikat dan hikmah dari indikator tersebut, jika tidak, ini akan menjadi klaim yang berkelebihan (over-claim) terhadap prestasi yang pada akhirnya hanya akan menjadi keberhasilan yang semu (pseudo achievement). Sebagai contoh, demi peningkatan peringkat universitas dan kenaikan pangkat, para dosen banyak “bermain” dengan publikasi. Maksud “bermain” adalah mereka hanya mengejar publikasi bukan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan tetapi publikasi untuk naik pangkat dan prestise dengan mengabaikan etika dan kejujuran. Tanpa mempertimbangkan hikmah, keberhasilan itu hanyalah untuk keperluan indikator kinerja utama saja yang berupa angka-angka dan tidak sampai kepada esensinya (hikmah).

Bila angka mulai menjadi indikator dalam banyak aspek kehidupan, maka ada kecenderungan bahwa makna terhadap segala sesuatu dinilai berdasarkan angka. Bila semua hal dinilai berdasarkan angka maka nilai hidup manusia direduksi menjadi angka. Penggunaan angka untuk mengukur sesuatu yang bersifat fisik itu sah. Ini tidak salah. Namun, ini akan menjadi masalah jika kita menggunakan angka sebagai indikator mutlak untuk mengevaluasi kemanusiaan. Fenomena ini yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini sangat berbahaya ketika kehidupan manusia dan makna hidup hanya dinilai dari sudut pandang sebuah angka. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi.

Suatu ketika, saya diundang untuk memberikan ceramah tentang penelitian dan publikasi di salah satu pusat penelitian di UTM. Seorang dosen muda bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan sebagai dosen dengan tekanan untuk memenuhi persyaratan indikator kinerja utama tanpa melupakan idealisme? Dalam ceramah tersebut saya menjelaskan tugas utama dosen adalah mengajar, mendidik dan melakukan penelitian. Dengan melihat realitas dunia dan universitas saat ini, kita perlu melihatnya sebagai keseimbangan antara realisme dan idealisme. Pada kenyataannya, realisme memaksa kita untuk memainkan permainan angka dalam publikasi ilmiah dan nomor lainnya yang ditetapkan oleh sistem peringkat universitas. Tapi, kita harus memiliki idealisme. Kita harus menyadari bahwa tugas sebenarnya sebuah universitas adalah menghasilkan kualitas lulusan yang baik dari setiap aspek, terutama dalam sikap dan integritas moral.

Gambar di bawah ini bisa dijadikan pedoman. Pada usia muda, kita perlu bertahan untuk bersaing dengan orang lain agar sukses dan mencapai tujuan dan target kita. Kita harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk bersaing dan bertahan hidup di dunia yang kompetitif ini. Berjuang dan bekerja keras. Terkadang kita egois untuk memenuhi indikator kinerja utama kita. Itulah kenyataan. Tapi, kita tidak selalu mengikuti jalur indikator kinerja utama. Dengan bertambahnya usia, kita mesti sadar bahwa kita perlu memikirkan kontribusi kita kepada orang lain dan masyarakat, lingkungan dan kemanusiaan. Kita harus mengikuti garis “kearifan”. Kearifan ini menekankan pada intelektual dan moral. Kita harus mengubah “budaya memiliki” menjadi “budaya memberi” dan dari “kecerdasan dan keinginan” kepada “hati dan ketulusan” seperti yang ditunjukkan dalam Gambar di bawah ini.

wisdom.png

Gambar di atas dimodifikasi dari slide presentasi Ir. Iskandar Budisaroso Kuntoadji mengenai wirausaha sosial di Universiti Teknologi Malaysia pada 26 Oktober 2011.

Alhamdullilah, saya sudah membimbing dan meluluskan lebih daripada 20 orang mahasiswa Ph.D. dan menguji belasan mahasiswa Ph.D. selama saya berkarir sebagai pensyarah. Saya berusaha supaya mahasiswa-mahasiswa saya menjadi manusia yang cinta kepada ilmu pengetahuan, walaupun saya tidak yakin saya berhasil atau saya layak untuk mengajarkan itu karena saya masih banyak kelemahan. Ph.D., atau disingkat sebagai Doctor of Philosophy adalah gelar tertinggi dalam bidang tertentu, yang biasanya memerlukan beberapa tahun untuk menyelesaikannnya. Arti dari “Philosophy”, yang berasal dari bahasa Yunani, tidak bermaksud semata-mata sebagai filsafat, tetapi dalam arti yang lebih luas, iaitu “cinta akan kebijaksanaan” atau “cinta kepada ilmu pengetahuan”. Namun apakah dalam membimbing mahasiswa, kita mengajarkan mengenai arti dari “cinta akan kebijaksanaan” atau “cinta kepada ilmu pengetahuan” yang kadang-kadang hilang karena mengejar sesuatu yang sifatnya “artificial” dan “superficial”?

Pengembangan institusi yang berkeberlanjutan

Saat ini saya diamanahkan untuk menjabat sebagai Direktur sebuah pusat penelitian di UTM. Banyak tantangan yang perlu dihadapi untuk menjadikannya sebagai pusat penelitian yang berkeberlanjutan. Untuk itu, perlu strategi yang tepat untuk menanggapi kebutuhan universitas pada saat ini dan masa yang akan datang. Pengembangan infrastruktur, sumber daya manusia dan keberlanjutan keuangan (financial sustainability) merupakan hal utama dalam pengembangan pusat penelitian dan universitas di masa depan. Perubahan signifikan dalam perubahan struktur kelembagaan mungkin perlu dilakukan. Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengembangan institusi yang berkeberlanjutan adalah sebagai berikut:

  • Kepemimpinan akademik
  • Integrasi penelitian dan pendidikan
  • Aktivitas yang inovatif yang berdampak global
  • Pendekatan lintas disiplin untuk mengatasi tantangan global
  • Organisasi yang dapat diakses oleh publik dengan mudah
  • Kesinambungan keuangan
  • Strategi pengembangan institusi penelitian dan universitas perlu merujuk kepada prinsip-prinsip di atas.

Screen-Shot-2015-05-08-at-2.31.32-PM.png

Selain tantangan dalam skala global, isu nasional dan lokal juga akan mempengaruhi cara universitas bertindak untuk menjadi sebuah institus yang mempunyai keberlanjutan di masa depan. Kebijakan ditingkat pemerintah dan juga universitas akan sangat berpengaruh terhadap apakah institusi tersebut dapat menjadi institusi yang memainkan peranan yang penting dalam tingkat lokal, negara dan global. Pendanaan menjadi salah satu isu yang sangat penting jika subsidi pemerintah terhadap universitas semakin berkurang dan tidak stabil. Di banyak negara, pendanaan untuk universitas disesuaikan dengan kinerja dan peringkat sebuah universitas. Rencana strategis universitas harus mengantisipasi isu-isu penting seperti meningkatnya biaya dan pengurangan dana, persaingan antara universitas, intervensi pemerintah, penilaian kinerja, dan ketidakmampuan untuk menarik mahasiswa untuk memasuki universitas sebagai sumber dana yang utama.

Menjawab tantangan itu, kami di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano), Universiti Teknologi Malaysia (UTM) telah mengadakan restrukturisasi organisasi. Struktur organisasi ini diharapkan tanggap terhadap kebutuhan UTM pada saat ini dan masa yang akan datang. Beberapa proyek sedang dijalankan di CSNano, diantaranya adalah pendirian perusahaan spin-off (spin-off company) dan pengembangan jurnal ilmiah yang nantinya akan mendukung kegiatan ilmiah, komersialisasi produk penelitian dan kepakaran untuk menjadikan CSNano menjadi pusat penelitian yang berkeberlanjutan dari aspek akademik dan finansial.

chart-1

Salah satu proyek berdampak tinggi yang juga sedang dilakukan adalah inisiatif pembentukan Indonesia-Malaysia Research Consortium (I’M Research Consortium). Ini merupakan salah satu proyek penting di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano) dan juga di UTM. Inisiatif ini berkaitan dengan pengangkatan saya sebagai adjunct professor di Universitas Negeri Malang. Saya berharap pengangkatan adjunct professor ini dapat menjadi model yang dapat diikuti oleh universitas-universitas lain di Indonesia dan Malaysia agar kerja-sama yang lebih erat dan berdampak tinggi dapat terlaksana dengan lebih mudah. I’M Research Consortium merupakan wadah yang menghubungkan dosen dan peneliti di lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan penelitian di Indonesia dan Malaysia untuk berinteraksi dan bekerja sama secara lebih sistematis. Dalam usaha mengeratkan lagi hubungan Indonesia-Malaysia, seiring dengan keinginan kedua negara, pembentukan I’M Research Consortium adalah penting karena merupakan salah satu rencana strategis melalui kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian.

1

Penutup

Alhamdullilah, sudah hampir 23 tahun saya telah melakukan penelitian ilmiah sejak saya masuk program Ph.D. di UTM pada tahun 1995. Banyak hasil penelitian telah dihasilkan dalam bentuk publikasi ilmiah. Namun, harus ditanyakan, apakah hasil penelitian itu bermanfaat atau tidak? Saya perlu melakukan introspeksi diri.

Menurut ajaran Islam yang saya percaya, agar penelitian memberi manfaat, penelitian harus dimulai dengan niat baik. Niat melakukan penelitian sama dengan pencarian kebenaran. Tujuan mencari kebenaran adalah untuk mencapai karakter yang mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Kita diajar yang tidak berniat mencari ilmu untuk mengejar kekayaan dan popularitas. Atau hanya untuk pamer. Ini tidak diberkati oleh Allah.

Dua puluh tahun adalah waktu yang tidak pendek bagi manusia. Seperti yang banyak diriwayatkan oleh hadist, umur umat Nabi Muhammad adalah antara 60 hingga 70 tahun. Tahun ini saya berumur 49 tahun, dan 42% umur ini dihabiskan bersama Universiti Teknologi Malaysia. Kemuliaan seseorang bergantung kepada dari pemanfaatan waktu. Insya Allah, waktu dua puluh tahun bersama UTM ini dapat menjadi refleksi kepada saya untuk menghabiskan sisa umur ini untuk pekerjaan intelektual yang bermanfaat untuk orang banyak. Mudah-mudahan saya dapat memanfaatkan waktu dengan baik.

Saya juga tidak lupa mengucapkan raya syukur ke hadirat Allah SWT dan rasa terima kasih kepada guru-guru, dan rekan-rekan yang secara langsung dan tidak langsung telah membentuk saya seperti saya sekarang ini.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Wallahu A’lam Bishawab

Membuang kesombongan

Hai Encik apa kabar?

Hampir setiap hari saya menyapa Encik, orang India, yang saya tidak tahu namanya, yang bertugas membersihkan blok C08 laboratorium saya di UTM. Beliau selalu duduk di kursi di depan laboratorium setiap selesai bekerja membersihkan blok C08. Kadang-kadang saya bercakap dengan beliau. Hal yang sama saya juga lakukan kepada Puan yang membersihkan bangunan Institut Ibnu Sina UTM dan juga kepada Pak guard penjaga pintu gerbang kampus UTM. Jarang saya tidak melambaikan tangan saya kepada Pak guard yang menjaga pintu masuk tersebut ketika masuk kampus.

Mengapa saya berbuat demikian?

Karena saya ingin membuang kesombongan. Saya merasa berdosa karena sombong dan menganggap diri ini lebih pintar dan lebih hebat dari orang lain.

Ya Allah! ampunilah dosaku, kesalahanku, kebodohanku, dan segala sesuatu yang melewati batas serta segala apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku.

Prof. Dr. Sugeng Triwahyono

Prof. Dr. Sugeng Triwahyono (29 Juni 1969 – 16 Februari 2018)

Selamat jalan sahabat. Saya menjadi saksi bahwa hamba Allah yang saya kenal rapat lebih dari 20 tahun adalah orang yang sangat baik dan pemurah hati. Dipanggil oleh Allah SWT ketika saya sedang sholat Jumat. Semoga khusnul khotimah.

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Allah berilah kami pahala atas musibah ini dan gantilah bagiku yang lebih baik dari musibah ini.”

28061304_10216009175721378_5728905666946455874_o.jpg28166351_10216009313564824_4598997286028190696_n.jpg