How to enter the richest 1% club

Video ini menggambarkan sebuah sistem (kapitalis) yang membuat orang kaya semakin kaya. Walaubagaimanapun, menurut saya, kesenjangan (inequality) sebenarnya tidaklah selalu buruk jika mereka, orang yang tidak banyak harta, masih dapat menjalani hidup dengan bahagia. Hal ini akan bermasalah jika banyak orang miskin tidak cukup untuk menopang hidup mereka sehari-hari akibat dari orang kaya mengambil uang mereka. Yang paling penting bukanlah kesenjangan kekayaan tetapi bagaimana menghindari keserakahan manusia sehingga orang kaya tidak membuat orang miskin semakin miskin.

MJFAS patut dirayakan

Sebagai Editor-in-chief dan orang yang melahirkan Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS), kabar gembira MJFAS diterima untuk diindeks oleh Scopus perlu dirayakan dengan minum teh hijau di Starbuck dekat rumah.

Masih ingat ketika saya mengusulkan kepada Prof. Halimaton Hamdan, Director of Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS) pada tahun 2005, bahwa IIS perlu mempunyai jurnal sendiri, yang dinamakan sebagai Journal of Fundamental Sciences (JFS). Pada waktu itu saya bekerja sendirian, dari membuat website, membuat layout dan cover, dan mengirimkan untuk dicetak ke percetakan. JFS adalah jurnal pertama yang menggunakan Open Journal System (OJS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Masih ingat Pn. Zarina Junet meng-install OJS di server IIS pada tahun 2007. Alhamdullilah, jurnal ini telah berkembang seperti sekarang ini dan sudah berganti nama menjadi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Alhamdullilah.

Tipe manusia

Kita memerlukan manusia yang paripurna, manusia yang memiliki cinta, cita-cita dan juga daya cipta. Tanpa cinta, manusia itu fanatik (bigot), dan tidak dapat hidup dengan harmoni dengan manusia yang lain, dan sukar menerima perbedaan.

Keprofesoran

Ada dua peristiwa penting dalam perjalanan karir saya sebagai dosen, pertama ketika diangkat sebagai profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2010, dan dikukuhkan pada tahun 2011, dan kedua ketika dianugerahkan adjunct professor oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2017. Ada istilah penting yang diharapkan dari penganugerahan tersebut, yaitu ‘keprofesoran’, yang maksudnya adalah sifat dan kewibawaan sebagai profesor.

Patut dipahami bahwa profesor adalah jabatan. Dari jabatan ini, diharapkan seseorang itu dapat mengembangkan bidang ilmu yang diembankan kepadanya. Oleh karena ini adalah jabatan, diharapkan seorang profesor tersebut dapat bertindak layaknya sebagai sebuah institusi kecil untuk menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan juga Amerika Serikat dimana seorang profesor mengetuai sebuah unit kecil yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan dan riset. Di universitas di Jepang, unit ini dinamakan sebagai Koza. Sebuah Koza mempunyai laboratorium diketuai oleh seorang profesor, dan terdiri dari associate professor, assistant professor, postdoc, mahasiswa B.Sc., M.Sc., dan Ph.D. Dengan begitu, proses dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat dilakukan dengan lebih terarah dan mendalam karena setiap Koza mempunyai spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Dari sinilah keprofesoran itu dapat diwujudkan dan berkembang dengan baik.

Tulisan lama saya mengenai keprofesoran dapat dirujuk dari tautan di bawah ini, yang saya tulis dua belas tahun yang lalu.

Naluri bersarang dan tujuan hidup

Salam Jumat! Saya mendapatkan gambar menarik di bawah ini dari Facebook. Mengenai Naluri bersarang (nesting instinct). Naluri ini adalah tindakan atau proses mempersiapkan rumah atau sarang untuk menyambut kelahiran anak. Naluri bersarang ini adalah perilaku adaptif dari hewan dan juga manusia untuk melindungi anak yang akan dilahirkan. Perilaku disebabkan karena munculnya hormon ketika kehamilan pada hewan dan manusia. Penjelasan lebih lanjut dapat dibaca di wikipedia.

Ada pertanyaan yang perlu direnungkan dengan melihat fenomena ini. Apakah tujuan bersarang ini sama antara hewan dan manusia? Dengan kata lain, apakah makna kehidupan hewan sama dengan manusia? Ini adalah masalah mendasar yang perlu dipahami. Kehidupan manusia dan kehidupan hewan adalah berbeda. Hewan hanya memiliki kehidupan di dalam tubuhnya. Untuk hewan, hidup adalah tentang kelangsungan hidup dan reproduksi. Manusia lebih daripada ini, karena manusia memiliki kehidupan dan jiwa di dalam tubuh mereka. Jika kita membunuh hewan untuk tujuan makanan, itu disebut penyembelihan dan tidak dapat dihukum menurut hukum mana pun. Tapi ketika kita membunuh manusia, itu disebut pembunuhan dan itu bisa dihukum. Hal ini karena manusia memiliki jiwa yang sifatnya abadi. Jadi teori yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari monyet adalah tidak mungkin. Perlu pemahaman terhadap apa itu jasad, ruh, jiwa dan nyawa.

Citation gaming

Citation gaming is a topic for researchers and lecturers, and also universities. Today, THES published an article entitled Citation gaming ‘increasingly sophisticated.’ I retweeted it on my Twitter. There is an interesting comment on Twitter about this: The only thing universities should do is stop analyzing citations! One considers that the more citation is used as a measurement tool for excellence in research, the more cheating in the citation. I know this game, and sometimes it’s hard to detect it.