Dirgahayu Indonesia!

Saya diwawancara oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk bahan video kemerdekaan yang mereka buat.

Bagaimana pendapat Prof. Hadi Nur terhadap makna kemerdekaan yang sesungguhnya?

Sekarang ini, kita perlu kesadaran modern mengenai kemerdekaan. Sadar bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya adalah merdeka dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan adalah nikmat. Hanya diberikan kepada manusia. Bahkan malaikat saja tidak diberikan nikmat ini. Nikmat kemerdekaan ini dilengkapi dengan akal yang dapat dipergunakan untuk mencari ilmu, inilah yang menyebabkan manusia menjadi mahluk yang lebih tinggi derajatnya dari mahluk-mahluk Allah yang lain. Jelaslah bahwa kemerdekaan itu adalah nikmat yang lebih tinggi dari kehidupan itu sendiri, karena mahluk lain juga hidup dan tidak memiliki kemerdekaan seperti manusia.

Apa saja nilai-nilai yang dapat diambil dari momentum peringatan kemerdekaan yang ke-75 ini?

Kemerdekaan berkaitan dengan nilai budaya yang tinggi. Maksudnya, tidak ada negara yang tidak merdeka atau dijajah dapat menghasilkan budaya yang tinggi. Lihatlah negara-negara superpower, negara-negara maju, yang mempunyai tingkat kemakmuran yang tinggi, itu juga disokong oleh budaya yang tinggi. Mereka mempunyai budaya ilmu yang hebat. Budaya dengan kualitas budi yang tinggi. Dan juga disiplin adalah termasuk didalamnya. Inilah menurut saya nilai-nilai penting kemerdekaan.

Apa pesan-pesan untuk mahasiwa Indonesia yang berada di UTM dalam memperingati HUT kemerdekaan Indonesia ke-75?

Kalian sudah beruntung mendapat universitas yang baik untuk sekolah. Oleh karena itu luluslah dengan prestasi yang baik, dengan cara yang baik, supaya pada masa depan dapat menghadirkan hal-hal yang baik. Sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat.

Mentalitas

Walaupun buku ini diterbitkan pada tahun 1974, buku ini masih perlu dibaca. Saya tidak sempat membahas isi buku ini ketika ceramah pada acara yang diadakan oleh Universitas Telkom mengenai riset dan publikasi tiga hari yang lalu — yang sebenarnya masih relevan dengan situasi sekarang. Walaubagaimanapun saya sempat menunjukkan buku ini dalam ceramah saya. Terima kasih Profesor Koentjaraningrat!

Konsistensi

Saya pernah mendengar nasehat dari pemenang hadiah Nobel yang mengatakan bahwa supaya hasil penelitian kita dapat memberikan impak kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, kita harus konsisten dalam menekuni satu bidang. Dengan begini, lambat laun reputasi seseorang peneliti atau saintis akan terbina secara perlahan-lahan. Karir saya yang lebih dari 20 tahun tidak seperti ini. Ini mungkin kelemahan saya karena tidak konsisten melakukan penelitian dalam bidang yang sama. Dalam tulisan ini saya akan membicarakan mengenai contoh saintis yang konsisten dalam melakukan penelitian. Beliau adalah pembimbing postdoc saya di Hokkaido University. Beliau sangat konsisten. Dari sejak lulus Ph.D. pada tahun 1985 di Kyoto University sampai pensiun tahun depan pada umur 65 tahun, beliau hanya menekuni satu topik penelitian, yaitu fotokatalisis.

Dalam salah satu paper beliau yang berjudul “Titania Photocatalysis beyond Recombination: A Critical Review“, beliau menulis begini:

Although the present author has worked mainly in the field of heterogeneous photocatalysis for more than 30 years since starting research work for a Ph.D. degree in 1981 in Kyoto University and has published more than 200 original and review papers on photocatalysis, there is still frustration at not being able to clarify intrinsic matters closely related to “activity” of photocatalysts, which is the most important topic in both fundamental and application studies on heterogeneous photocatalysis. What is the ghost giving him frustration?”

Saking konsistennya beliau, saya dapat membuat review article berdasarkan manuskrip-manuskrip yang beliau publikasikan. Terdapat 23 manuskrip yang ditulis oleh beliau yang digunakan untuk menulis review article ini. Setahu saya, review article yang hanya membahas publikasi dari satu orang pengarang (corresponding author) jarang dilakukan. Review article yang saya tulis bersama mahasiswa Ph.D. saya ini telah dinilai oleh empat orang reviewer. Manuskrip ini adalah hadiah saya untuk beliau, dan dalam proses untuk diterbitkan di International Journal of Hydrogen Energy.

Mahasiswa tangguh

Kali ini saya banyak belajar dari mahasiswa Ph.D. saya mengenai bagaimana menghadapi keadaan yang sulit. Beliau menikah pada tahun pertama pengajian Ph.D. Masalah timbul ketika melahirkan anak. Bayi beliau mengalami masalah jantung sehingga beliau terpaksa berulang-alik ke rumah sakit dari tahun kedua program Ph.D. Suami beliaupun terpaksa berhenti bekerja untuk menjaga anak, yang hampir setengah tahun berada di intensive care unit (ICU). Ayah dan bapak mertua beliau meninggal dunia sewaktu menjalani program Ph.D. Banyak kesedihan yang dialami.

Sayapun terpaksa mencari jalan keluar supaya beliau dapat lulus program Ph.D. Jika tidak, beliau perlu mengembalikan uang beasiswa karena beliau adalah dosen di UiTM yang disponsori oleh kerajaan Malaysia untuk melanjutkan Ph.D di UTM. Pada tahun kedua saya mengarahkan topik riset dari pekerjaan laboratorium kepada komputasi dengan menggunakan Density Functional Theory (DFT) dan Fuzzy Logic Graph, sehingga beliau tidak perlu datang ke UTM dan dapat mengerjakan proyek Ph.D. di rumah dan rumah sakit sambil menemani anak beliau dirawat.

Setelah hampir lima tahun menunggu, Insya Allah, anak beliau akan dioperasi di Institut Jantung Negara (IJN) untuk menutup jantung yang berlubang.

Selamat Dr. Siti Hajar Alias! Beliau adalah mahasiswa yang tangguh dan boleh menjadi inspirasi kepada kita semua. Dr. Siti Hajar adalah mahasiswa ke-32 yang lulus Ph.D. di bawah bimbingan saya.