Hakikat ilmu

Salah satu gambar yang saya suka dari buku “55 Mutiara Akhlak” oleh Vbi Djenggotten (nama pena dari Veby Wibawa). Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata. Seringkali kita tertipu dan menyangka orang pandai merangkai kata-kata adalah orang yang berilmu dan pandai bekerja. Orang ini biasanya pandai berpolitik — mempengaruhi banyak orang untuk mengejar kekuasaan.

Syahadat

Pagi ini saya mendengar ceramah Prof. Quraish Shihab mengenai syahadat. Ini keterangan beliau.

Syahadat yaitu ucapan “Ayshadu Alla ilaha illallah wa ayshadu Anna Muhammadarrasulullah” yang artinya “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya“.

Dalam syahadat itu terdapat penafian bahwa tiada tuhan selain Allah. Jadi, kalau kita ingin mencapai kebenaran dari segala sesuatu, hilangkan dulu (nafikan dulu) segala sesuatu kemudian baru cari kebenaran. Hal ini supaya kita tidak dipengaruhi oleh ide-ide sebelumnya yang sudah tertanam dalam pikiran kita — supaya kita tidak subjektif. Kedua, sebelum menetapkan hal-hal yang baik, singkirkan terlebih dahulu hal-hal yang buruk. Menyingkirkan yang buruk lebih utama daripada pada menghiasi diri dengan hal yang baik. Prof. Quraish Shihab memberi contoh, lebih baik mandi daripada pakai parfum tapi tidak mandi.

Apa hikmah jika dikaitkan dengan dunia riset yang saya geluti?

Jika hal ini diaplikasikan dalam dunia penelitian (riset), untuk mendapatkan ide-ide yang baru dan mencari kebenaran, kita perlu menyingkirkan dari ide-ide lama yang sudah tertanam dalam pikiran. Kemudian, untuk mencari kebenaran, kita perlu membuang data yang dari hasil eksperimen yang tidak benar, supaya didapatkan kesimpulan yang benar.

Prof. Gerhard Ertl

Baru saja saya membaca autobiografi Prof. Gerhard Ertl (penerima Nobel Kimia tahun 2007) yang berjudul “Molecules at Solid Surfaces: A Personal Reminiscence” yang dipublikasikan di Annual Review of Physical Chemistry, Volume 68, 2017, pp 1-17. Saya terkesan dengan kalimat penutup dari autobigrafi beliau:

When I look back, I feel that I was lucky to always be at the right place at the right time: The war ended while I was a child, and since then, I have lived in a stable country which has had peace for more than seven decades—the longest period in its history. Later, I found the best possible mentor and always had the necessary freedom to develop my own ideas in a time during which the new field of surface science was emerging. I was always accompanied by excellent collaborators, and I never had any serious problems in receiving the funding necessary to realize my ideas. Thus, I am deeply grateful.

Beliau beryukur karena ada hal-hal yang diluar kemampuan yang dianugerahkan kepada beliau, seperti negara yang stabil dan bertemu dengan orang-orang hebat yang mendukung — menurut saya, siapa lagi kalau bukan dari yang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT. Dari tulisan ini nampak beliau orang yang rendah hati, walaupun saya tidak tahu dalam kehidupan sehari-harinya. Pelajaran untuk kita yang minim prestasi, jangan sombong!

Foto saya di depan bangunan laboratorium beliau di Fritz-Haber-Institut der Max-Planck-Gesellschaft di Berlin tahun 2015.

Rujukan

Seri mati ketawa cara Prof NKRI

Anekdot di bawah ini saya dapatkan dari grup WhatsApp yang ditulis oleh seseorang yang berinisial Prof. AAY. Setelah saya cari di internet, nama beliau adalah Profesor Arief Anshory Yusuf, dosen di Universitas Padjadjaran (UNPAD). Menarik dan lucu. Menandakan akademisi di NKRI sadar terhadap situasi dan kelemahan yang dihadapi, namun sepertinya masih belum mampu mengubahnya — sehingga jadilah anekdot ini.

(1) Ketika ibu-ibu senang dapat diskon, prof NKRI sedih dapat discon. Jurnalnya discontinued dari Scopus!
——-
(2) Prof menggoda mahasiswinya. De, kamu cantik kaya special issue.
——-
(3) Prof marahin anak laki-lakinya karena pacaran melulu. Siapa itu nama pacarmu yg gak sopan? Sinta Pak. Oh Sinta 1 Sinta 2?
——-
(4) Siapa bilang kita jago kandang? Coba kita ke Bangladesh, India, Rumania, Nigeria, banyak sekali nama prof NKRI  di jurnal-jurnal nya!
——
(5) Prof NKRI marahin anaknya yg bandel. 
Prof NKRI: Kamu SD gak naik kelas, SMP gak naik kelas, SMA gak lulus. 
Anak: yang penting saya linear Pak.
——-
(6) Prof muda NKRI di malam pertama. 
Prof NKRI: De, bolehkah ... ? 
De: Saya open access prof, prof udah bayar fee. 
——-
(7) Prof Muda NKRI menggoda mahasiswi bimbingannya. De, kalau kamu special issue, aku editornya.*
*) Kredit to BL
——-
(8) Prof muda NKRI habis apel, wajah sumringah. Ditanya sobatnya. 
Teman Prof: ada apa, Prof?
Prof NKRI: Baru melamar. 
Teman Prof: Dan? 
Prof NKRI: Revise resubmit. 
——-
(9) Prof muda NKRI ditanya calon istri. 
Calon istri Prof: Prof say, kemana bulan madu kita? 
Prof NKRI: Kemana aja De, asal Proceedingnya terindex.
——-
(10) Prof muda NKRI bertengkar dengan pacarnya. 
Prof NKRI: De, katanya kamu sayang saya, kenapa masih jalan sama prof lain? 
Pacar Prof: Prof say, itu cuma peer review. 
——-
(11) Prof naksir berar sama koleganya. Curhat sama kawan prof nya. 
Prof NKRI: Prof, yg ini spesial. 
Kawan Prof: Oh ya? 
Prof NKRI: Iya. International bereputasi ini mah. prof. 
Kawan Prof: Oh ok. Udah nembak, prof? 
Prof NKRI: Udah, prof. 
Kawan Prof: Dan? 
Prof NKRI: Disuruh major revision. 
——-
(12) Prof NKRI berbagi pengalaman hidup:
Sewaktu selesai S1 saya merasa tahu segalanya. 
Selesai S2 saya jadi merasa tahu sedikit saja. 
Selesai S3 saya jadi merasa tidak tahu apa-apa. 
Suatu saat, saya tahu cara membuat orang mengira saya tahu segalanya. Saat itulah saya jadi Prof. 
*Kredit to PW
——-
(13) Prof NKRI ditanya, berapa orang biasanya mereview manuscript di jurnal? 
N+1. N jumlah blind reviewer, + 1 orang mereview kembali  artikel terpublished saat pengajuan kepangkatan. 
——-
(14) Anak perempuan prof NKRI mengenalkan pacarnya. Prof tidak suka, lantas bertanya. 
Prof NKRI: Bapakmu kerja apa? 
Pacar anak Prof: Penerbit X, Prof. 
Prof NKRI langsung buka laptop melototin Beal’s List. 
——-
(15) Hanya di NKRI artikel yg sudah terbit di jurnal, spelling nya di cek lagi oleh prof NKRI. 
——-
(16) Presiden akan merekrut prof asing. Prof NKRI ditanya:
Presiden NKRI: Apa kriteria prof asing agar bisa membantu publikasi prof NKRI jadi cepat? 
Prof NKRI: emailnya harus gmail. 
——-
(17) Dalam kuliah program S3 ekonomi keuangan di Universitas NKRI, Prof NKRI bertanya ke mahasiswa. 
Prof NKRI: Selain saham dan obligasi, apa lagi jenis surat berharga? 
Mahasiswa S3: Acceptance letter, prof. 
——-
(18) HP calon Prof NKRI berdering. 
Pak calon prof NKRI, jumlah kredit pengajuan untuk prof belum cukup. Perlu satu artikel jurnal lagi. Bisa kirim besok pagi?
——-
(19) Di suatu percakapan intim antara Prof NKRI dengan kekasihnya. 
Kekasih Prof: Prof say, masa depan kita berat. Lamaran mu tidak akan pernah kuterima. 
Prof NKRI kaget: kenapa? 
Kekasih prof: Kita tidak sebidang.
——-
(20) Prof NKRI menghadiri conference di luar negeri. Tiap hari sibuk hilir mudik mencari seorang prof terkenal, penulus banyak buku best seller yabf kebetulan ketua panitia. Di akhir acara akhirnya ketemu. 
Prof NKRI: Thank God, I finally meet you, sir! 
Prof terkenal: Can I help you? Do you want me to sign my book?
Prof NKRI: I need you to sign my SPPD.
——-
(21) Prof NKRI ngobrol sama istri. 
Istri Prof: Prof say, tunjangan prof say yang 10 juta, 2 untuk belanja baju baru, 2 untuk ke saya ke salon 3 untuk saya jalan-jalan. Sisanya untuk uang saku prof say. 
Prof NKRI: kenapa cuma segitu? 
Istri Prof: Aturan Dikti buat prof say maksimal 30% anggaran.
——-
(22) Prof NKRI dari jurusan sosiologi keluar dengan wajah kusut. Ditanya temanya. 
Teman prof: Kenapa kusut, Prof? 
Prof NKRI: Saya tidak tidur tadi malam.
Teman Prof: Ngapain prof? 
Prof NKRI: Bikin anggaran penelitian. 
Teman prof: Kok tidak tidur prof? 
Prof NKRI: Mikiran bahan habis pakai. Harus 1/3 dari anggaran. 
——-
(23) Bimbingan S3 prof NKRI disidang oleh prof penguji killer. Setelah dibuat tak berkutik, sidang ditutup. Sambil pamit, prof penguji bilang, tolong saya co-author.
*) kredit to ZA 
——-
(24)⁩ Di dalam kelas di sebuah SD Inpres, dua murid ditanya gurunya. 
Guru: A, kamu mau jadi apa? 
A: Jadi dosen! 
Guru: Kenapa? 
A: Supaya bisa jadi Profesor. 
Guru: OK. B, kamu mau jadi apa? 
B: Politisi! 
Guru: Kenapa? 
B: Supaya tidak sengsara kaya A dan tetap bakal jadi Profesor. 
——-
(25) Prof NKRI 1 menulis dan menshare di WAG, humor mati ketawa cara prof NKRI, tanpa lupa menuliskan inisialnya sebagai penulis. Prof NKRI 2 menyukainya dan dengan sigap menshare nya setelah menghapus inisial Prof NKRI 1. 
——-
(26) Prof NKRI cantik, pintar dan single. Setiap hari inbox nya penuh dengan rayuan. Sebagian besar dari rekan-rekannya Prof NKRI. Herannya, dia selalu rajin mereply semua, tapi dengan angka-angka. 80%, 90%, 70% dst. Sebagian besar diatas 70%. Suatu saat, kawannya bertanya. 
Kawan Pro: Prof, angka-angka itu apa sih? 
Prof cantik: Hasil Turnitin.
——-
(27) Akhirnya, dunia ilmu pengetahuan NKRI memasuki babak baru. Prof NKRI se NKRI mengadakan syukuran masuknya NKRI ke jajaran top dunia, sebagai ranking 7 dunia, menggilas Ingris, menelikung Perancis, dalam jumlah conference proceedings.
——-
(28) Dalam sidang kabinet, Presiden NKRI bertanya kepada perwakilan Prof NKRI. 
Presiden NKRI: Prof, mengapa universitas NKRI tidak ada yang masuk ke 100 besar dunia, padahal jumlah conference proceedings NKRI sudah masuk 10 besar dunia?
——-
(29) Prof NKRI yang menyibukan diri menulis Humor Mati ketawa cara Prof NKRI ditanya temannya. 
Kawan Prof: Sebagai seorang Prof NKRI, mengapa prof menyibukkan diri membuat humor Mati Ketawa cara Prof NKRI? Apakah tidak ada kerjaan lain, prof? 
Prof NKRI: Justru itu, kalau masih lektor, mana saya berani?
——-
(30) Dalam sebuah email, Prof terkenal dari MIT mengajak prof NKRI menulis paper di jurnal top Nature bersama 3 orang peneliti amerika lainnya. Dalam reply-nya:
Dear Prof MIT, are you crazy? As a fifth author, my credit point will be only 0.4x40/4 = 4. I am better off published in jurnal lokal sebelah and get 25. Thank you. 
——-
(31) Prof NKRI dan teman Amerikanya yg baru lulus PhD dari Harvard ngobrol di warung kopi. 
PhD Harvard: After traveling all over US presenting my paper in so many prestigous conferences and spent 3 years to submit and revise my paper, finally I have publication in American Economic Review (AER). Do you know that now I can apply and work in any university in US. 
Prof NKRI: After traveling around my neighbourhood to many local universities that organized conferences indexed in scopus, I dont even need to submit my paper to jurnal and get 3/4 credit you get for your AER. I also can attend so many conferences in a year. Do you know, that now I can be a rector in any university in NKRI. 
——-
(32) Setelah mempublikasikan puluhan artikel di jurnal top, prof di Amerika akhirnya memberanikan diri menulis text book. 
Setelah mempublikasikan puluhan text book, akhirnya prof NKRI memberanikan diri menulis di jurnal. 
——-
(33) Dalam sebuah seminar internasional tentang independensi perguruan tinggi, Prof NKRI mengacungkan tangan dan bicara. 
Prof NKRI: Di NKRI, kami sangat menjunjung tinggi independensi perguruan tinggi. Setiap prodi di semua perguruan tinggi, harus punya jurnal sendiri. 
——-
(34) Di tempat parkiran di kampus NKRI, mobil prof NKRI dari jurusan sosiologi tiba-tiba ditabrak dari belakang. Langsung Prof Sosiologi tancap gas. Setelah jauh ditanya kawannya. 
Kawan Prof: Kenapa lari Prof? 
Prof Sosiologi: Mobilnya ada stiker Fak Kedokteran. Nulis jurnal aja biasanya keroyokan. 
——-
(35) Seorang Prof NKRI sudah sangat pelupa. Dia sangat susah mengingat nama. Ketika menghadiri Prof Summit NKRI di sebuah kota di NKRI, dia gembira. Ternyata dia tidak sendiri. Semua orang memanggil orang lain dengan Panggilan yang sama.  Apa kabar, Prof? Baik, Prof. Sudah makan, Prof? Belum, Prof. Kapan datang, Prof? Kemarin malam, Prof. Selamat malam, Prof. Malam, Prof. 
——-
(36) Dalam sebuah workshop terbatas di pusat kota London. Prof NKRI mengisi nama di daftar peserta. Teman NKRI-nya bertanya. 
Teman Prof: Kenapa nulis gelarnya Dr, bukan Prof, Prof? 
Prof NKRI: Sttt. Itu nama-nama yg diatas saya, paper nya semua saya pakai referensi disertasi saya. Gak ada yg udah Prof. 
——-
(37) Kisah nyata. Prof NKRI mengunjungi koleganya Ke salah satu kampus di Negeri jiran. Prof jiran mengajaknya berkeliling dan melewati tempat parkir. 
Prof NKRI: Wah Prof. Ini Mirip di kampus kami. Mobil mahasiswa nya mewah-mewah. Mercy semua. 
Prof Jiran: oh ini parkir khusus dosen prof. Mari masuk. Ini mobil saya. 
——-
(38) Di surat kabar, Presiden NKRI berkeluh kesah. Publikasi Prof NKRI hanya 1/10 Prof Negeri Jiran! 
Prof NKRI: gaji kami juga 1/10 nya. 
——-
(39) Prof NKRI ngobrol dengan koleganya dari LN. 
Prof NKRI: Tahu nggak, hanya di NKRI asosiasi ilmuwan ketuanya bukan ilmuwan. 
——-
(40) Prof NKRI bercanda dengan koleganya Prof dari UK. 
Prof UK: Negara apa yang paling kaku? Rusia. Lihat saja Prof NKRI bercanda dengan koleganya Prof dari UK. Prof UK: Negara apa yang paling kaku? 
Prof NKRI: Negara apa yg paling fleksbel? NKRI. Prof nya bisa jadi menteri. Menterinya bisa jadi Prof. 
——-
(41) Seorang Prof NKRI akan memperpanjang masa tugasnya menjadi Prof NKRI. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Dia menyuruh asisten-nya untuk menbaca syarat-syarat itu dengan seksama. Setelah selesai, asisten ditanya. 
Prof NKRI: Sudah kau baca syarat-syarat itu? 
Asisten: Sudah, Prof. 
Prof NKRI: Apa yang paling banyak disebut? 
Asisten: “Atau”, Prof!
——-
(42) Kisah nyata. Seorang Prof NKRI yg dikenal seorang ahli ekonomi, malam-malam ditelpon oleh wartawan harian terkemuka. 
Wartawan: Prof. Mohon komentar, mau kejar tayang. 
Prof NKRI: Silahkan tentang apa?
Wartawan: Ini. Hari-hari ini hujan lebat banget dan banjir dimana-mana. Kenapa walikota malah manggil pawang hujan?
——-
(43) Terinspirasi oleh fakta. Seorang Prof NKRI yang sangat menghargai tradisi lokal mencari dosen baru untuk departemen-nya. Kriterianya sangat spesifik. Nama depannya harus Tatan. Kawannya bertanya. 
Kawan Prof: Mengapa harus Tatan, Prof. 
Prof NKRI: Karena kami ingin melengkapi. Kami sudah punya Wawan, Maman, Yayan dan Dadan. 
——-
(44) Di depan kongres Prof NKRI se NKRI, presiden NKRI meminta usulan cara untuk menaikan IPM secara signifikan. Setelah dibahas dua hari, kongres akhirnya mengusulkan agar semua Prof NKRI didrop dari perhitungan tingkat harapan hidup. 
——-
(45) Terinspirasi kisah nyata. Calon Prof NKRI dari sebuah Universitas Islam frustasi pengajuan prof nya berkali-kali ditolak. Kawannya bertanya dan mencoba menghiburnya. 
Kawan calon prof: sabar ya. Memang-nya masalahnya apa?
Calon prof NKRI: Turnitin-ku hasilnya gede-gede terus. 
Kawan calon prof: apa gak bisa diperbaiki?
Calon prof NKRI: gak bisa. Paper-paper ku tentang interpretasi Al-Quran dan Hadist. Gak bisa sembarang paraphrase. 
——-
(46) Prof NKRI mengumpulkan semua mahasiswa S3 bimbingannya angkatan 2015. 
Prof NKRI: Sesuai aturan baru yang berlaku tahun ini, sebagai syarat kelulusan, kalian harus mempublikasikan disertasinya di jurnal internasional bereputasi. Tahun ini harus publish, kalau tidak DO. 
Mahasiswa S3: Mohon izin, Prof. Apakah ada artikel tulisan Prof yg bisa saya jadikan contoh?
Prof NKRI: Pertanyaan anda akan saya jawab tahun depan. 
——-
Seri Mati Ketawa Cara Prof NKRI 47-55 (by Prof AAY)
(47) Dua orang kawan lama, satu dosen di Australia, satu dosen di NKRI sedang minum kopi sambil saling membangga-banggakan pilihan karirnya. 
Dosen Aussie: Tahu nggak, dibanding kamu yang harus banyak ngajar, saya hanya perlu publikasi 1 artikel di jurnal international bereputasi tiap tahun untuk memenuhi kontrak di universitas saya. 
Dosen NKRI: Tahu nggak, walaupun saya harus banyak ngajar, saya hanya perlu publikasi 1 artikel di jurnal internasional bereputasi untuk jadi Professor. 
———
(48) Dalam sebuah sosialisasi dalam rangka percepatan naik pangkat, nara sumber ditanya calon Prof NKRI. 
Calon Prof NKRI: Faktor apa yang paling mempercepat proses persetujuan pengajuan Guru Besar? 
Nara sumber: Faktor X dalam formula 65-X. 65 umur pensiun, X umur bapak. Semakin kecil biasanya semakin cepat. 
————
(49) Prof NKRI merebahkan diri di sofa setelah menempuh perjalanan dari Jakarta-Bandung membawa mobil sendiri. Seperti biasa, sambil menyiapkan kopi, dia membuka HP dan membaca media berita online. Prof NKRI cekikikan ketika membaca headline “Lagi, istri dan mertua ketinggalan di Rest Area”. 
Beberapa detik kemudian, Prof NKRI panik mencari kunci mobil. 
————
(50) Hanya di NKRI, penyanyi dangdut punya publikasi. Terindeks di Scopus lagi. (Lihat gambar)
————
(51) Hanya di NKRI jumlah paper di conference proceedings melebihi jumlah paper di jurnal. (Lihat gambar)
————
(52) Dalam sebuah kunjungan ke NKRI, calon rektor asing PT NKRI bertanya ke salah satu Prof NKRI yang menyambutnya. 
Calon rektor asing: Mengapa kok Prof di NKRI jarang yang muda ya? Memangnya apa faktor penentu dosen segera jadi Prof?
Prof NKRI: Faktor K, Prof. Kasihan sudah mau pensiun. Bisa diperpanjang 5 tahun lagi kalau Prof. 
————
(53) Hanya di NKRI, Prof yg segala dikomentari jadi selebriti dan Prof yang fokus pada bidangnya dibilang ngomongnya itu-itu lagi. 
————
(54) Setelah setahun Presiden NKRI menunjuk rektor asing, kinerjanya dievaluasi.  Dalam rapat yang dihadiri Presiden NKRI sendiri,
Presiden NKRI: Prof, sudah setahun prof di NKRI, mengapa ranking universitasnya tidak naik-naik? Apa yang prof kerjakan setiap hari?
Rektor asing: Bolak-balik imigrasi. 
————
(55) Prof NKRI dihubungi ajudan Gubernur salah satu propinsi di NKRI. 
Ajudan: Prof, Pak Gubernur, mau daftar S3. 
Prof NKRI: Boleh, silahkan. 
Ajudan: Minta form registrasinya, Prof. Dua. 
Prof NKRI: kenapa dua. 
Ajudan: Saya juga diminta daftar, Prof. 
————
(56) Dalam sebuah rapat senat guru besar di sebuah universitas daerah di NKRI dibahas wacana pemerintah untuk menggunakan rektor asing. Setelah sehari penuh rapat, senat membuat pernyataan. Atas nama kemajuan universitas, kita terbuka dengan rektor asing. Akan tetapi kita punya tradisi universitas yang harus dihormati. Siapapun rektornya, asing atau bukan, harus putra daerah. 
——-
(57) Rektor asing segera didatangkan ke Indonesia. Salah satu tugasnya adalah meningkatkan visibilitas karya-karya ilmiah dosen NKRI di dunia. Bulan-bulan pertama tugasnya adalah membereskan nama-nama dosen di NKRI yang hanya satu kata. 
——-
(58) Di suatu masa, ketika universitas NKRI dan Singapura masih kelas jeblok dunia, Prof NKRI studi banding ke Singapura. Karena tersenggol kereta, Prof NKRI koma cukup lama. Tahun pertama koma, Singapura memperbaiki sistem insentif dosennya menjadi setara kelas dunia. Tahun kedua koma, Singapura mulai melipatgandakan dana risetnya. Tahun ketiga koma, Singapura membuka laboratorium-laboratorium kelas dunia. Tahun keempat koma, Universitas Singapura akhirnya masuk ranking 100 dunia. Tahun kelima Prof NKRI bangun pulih dari koma, lalu Singapura mulai merekrut rektor asing. Prof NKRI di telepon Presiden NKRI. 
Presiden NKRI: Apa yang harus kita lakukan untuk membuat universitas NKRI masuk ranking 100 dunia seperti Singapura, Prof?
Prof NKRI: Dari pengamatan langsung saya, nampaknya saya tahu rahasia mereka, Pak. 
——-
(59) Kisah nyata. Suatu pagi, Prof NKRI telat datang di sidang skripsi sebagai penguji. Naskah skripsi juga belum sempet dibaca. Prof NKRI sudah pasti bablas tak akan sempat mendengar mahasiswanya presentasi. Sepanjang jalan Prof NKRI berdoa semoga ketua sidang tidak memberikan kesempatan menguji pertama agar dia sempat mencuri waktu menskim skripsi ketika penguji lain sedang bertanya-tanya. Akhirnya sampailah Prof NKRI diruang sidang. Sayangnya presentasi baru selesai. Dan benar saja ketua sidang langsung memberikan kesempatan pertama. 
Ketua sidang: Silahkan Prof, saya kasih kesempatan menguji pertama. 
Hening sejenak. Prof NKRI tidak mati gaya, mengeluarkan jurus yang selalu bekerja. 
Prof NKRI: Coba buka Tinjauan Pustaka!
Mahasiswa: Iya Prof. 
Prof NKRI (Tanpa membuka naskah skripsi): Perhatikan. Tinjauan pustaka itu bukan daftar si A sampai Z nulis apa. Tapi sintesis nya apa? Gap nya apa. Kamu tidak ada. 
Mahasiswa: Iya Prof. Maaf Prof. Saya perbaiki.
——-
(60) Setelah lama tak bersua, Prof NKRI ketemu kawan lama. Sama-sama alumni satu SMA. 
Kawan lama: Apa kabar? Susah banget menghubungimu. Mau telpon, cari namamu di daftar anggota WAG alumni tak kutemukan. 
Prof NKRI: Kau carinya gimanaa?
Kawan lama: Alphabet. Cari Huruf depan namamu. Tidak ada disitu. 
Prof NKRI: Salah. Carinya di “P” dong. Sejak pengukuhan sudah kuganti. 
——-
(61) Ada dua jenis Prof di NKRI. Prof yang mengubah nama profil WA nya menjadi pakai gelar Prof dan Prof yang belum sempat melakukannya. 
——-
(62) Akhirnya, setelah sadar bahwa mengejar Nobel Prize bakal terlalu lama, prof se-NKRI kompak mengejar Guinness book of record dalam jumlah conference proceedings. 
——-
(63) Prof NKRI diminta berpartisipasi mengisi survey online dalam penelitian Kawannya di Amerika. Kawannya berjanji lama pengisian survey hanya 15 menit. 15 menit berlalu, Prof NKRI belum selesai. 30 menit masih belum selesai. 1 jam belum juga. Setelah 2 jam 15 menit akhirnya selesai. Prof NKRI protes. 
Prof NKRI: katanya 15 menit. Kok bisa selama ini? 
Kawan Prof: You spent 2 hours on annual income!
——-
(64) Prof NKRI mau conference ke Italy. Setelah mengisi formulir aplikasi visa, agen jasa pelayanan visa bertanya. 
Agen visa: Bagian apa yg tersulit waktu mengisi formulis visa?
Prof NKRI: bagian penghasilan. 
Agen visa: kenapa?
Prof NKRI: cuma satu sumber yg ditanya. 
——-
(65) Sewaktu masih belum zaman transfer bank, Prof NKRI ditanya kawan lama. 
Kawan lama: Apa yang paling enak dari menjadi Prof di NKRI, Prof?
Prof NKRI: Waktu sidang skripsi dan disertasi.
Kawan lama: kenapa Prof?
Prof NKRI: Berjam-jam marahi anak orang. Habis itu diamplopi. 
——-
(66) Berbasis fakta. Prof ahli pendidikan dari Australia melakukan penelitian tentang program S3 di NKRI. Setelah 3 bulan studi lapangan, dia presentasi di universitasnya. 
Prof Australia: Saya menyimpulkan bahwa siapapun yg berhasil lulus S3 dari NKRI, dia pasti lebih hebat dari lulusan Ostrali. 
Hadirin: Mengapa?
Prof Austalia: Bayangkan. Pertama dia ternyata harus disidang 4 kali. Satu, sidang UP, Usulan Penelitian. Dua, sidang penelahaan. Ini kadang lebih dari sekali. Tiga, sidang ujian tertutup. Empat, sidang ujian terbuka. 
Hadirin: wah, betul juga. 
Prof Australia: Tapi itu belum seberapa. Kedua, untuk setiap sidang itu sering dia harus berbulan-bulan memastikan bahwa 6 orang yang super sibuk yaitu 3 dosen pembimbing dan 3 dosen penguji untuk bisa dipertemukan di tempat dan waktu yang sama. 
Hadirin: Astaga. 
Prof Australia: Masih ada. Kadang kalau sudah  hari H, dibatalkan karena satu cancel. Katanya tidak kuorum. 
Hadirin menganga dan menyembah kawan sebelahnya yg S3 dari NKRI tepat waktu. 
——-
(67) Setelah melakukan studi etnografi di NKRI, seorang sosiolog senior Italy memaparkan hasil studinya di salah satu konferensi. 
Sosiolog Italy: Melihat cara masyarakat memperlakukan tamunya, di NKRI, ada tiga golongan yang tingkatannya  paling tinggi karena sangat dihormati. Satu, penguasa. Dua, ulama. 
Hadirin: Satu lagi apa?
Sosiolog Italy: Assessor BAN PT!
——-
(68) Seorang Prof di NKRI suka membawa dua kartu nama. Satu ada gelar Prof-nya, satu tidak ada. Kawannya bingung lalu bertanya. 
Kawan Prof: Prof, kok repot amat, bawa-bawa dua kartu nama segala?
Prof NKRI: Saya Profesor tidak tetap. Senin Professor, Selasa tidak. 
*) kredit to EK
——-
(69) Kisah nyata. Prof NKRI diundang presentasi di sebuah konferensi di Norwegia. Negeri indah impian Prof NKRI yg juga hobi Photography. Setelah perjalanan panjang hampir 24 jam yang sangat melelahkan sampailah prof NKRI di hotel. Setelah cek in, saking semangatnya, tanpa cuci muka dan ganti baju, Prof NKRI keluar hotel mengejar sunset. Clingak-clinguk, seorang ibu-ibu menghampiri. 
Ibu-ibu: Sir, are you ok? Hungry? Here’s I have food for you (sambil menyodorkan kantong kertas bertuliskan McDonald). 
Prof NKRI, speechless pulang ke kamar, ngecek internet berapa garis kemiskinan Norwegia. Dua puluh juta rupiah per bulan. Karena gajinya memang kurang dari itu, akhirnya prof NKRI bisa memaklumi. Dan diapun tidur lagi. 
——-
(70) Terinspirasi kisah nyata. Prof NKRI membawa rombongan mahasiswa ke Australia, negeri yang sangat berbeda dengan NKRI karena dikenal mendahulukan khusnuzon daripada suuzhon. Untuk mengehemat anggaran, Prof NKRI memutuskan menyewa 1 mobil besar 3/4 bis daripada dua mobil biasa. Ditempat car rental, petugas bertanya. 
Petugas car rental: Sorry, this car require special driving license for bus. 
Prof NKRI. Oh ok. Here my two license. license C is for Car. And License A is for All vehicles. 
Petugas car rental: Here is your key, sir. 
——-
(71) Karena menjadi kontroversi, Presiden NKRI menyewa konsultan mahal dari Amerika untuk mengkaji wacana rektor asing. Sang Konsultan kemudian mengamati Prof NKRI dan Prof Singapura. Singapura konon menjadi sumber inspirasi wacana tersebut. Setelah studi berlangsung 2 bulan, didepan Presiden NKRI, sang konsultan presentasi.
Konsultan: Ketika saya amati, berbeda dengan kelakuan sehari-hari di NKRI, prof NKRI kalau pergi ke Singapura selalu disiplin tidak pernah buang sampah sembarangan.
Presiden NKRI: Lalu?
Konsultan: Akan tetapi, anehnya, ketika Prof Singapura pelesir ke NKRI justru jadi tidak pernah pakai helm kalau naik motor.
Presiden NKRI: Jadi?
Konsultan: Sepertinya rektor asing akan sulit berbuat banyak di NKRI.
Presiden NKRI: Rekomendasi saudara apa?
Konsultan: Ganti saja menjadi program transmigrasi prof NKRI ke Singapura. 
-----
(72) Dalam sebuah seminar tentang evidence-based policy, seorang Prof NKRI yang kebetulan salah satu pejabat kementerian di NKRI didaulat menjadi narasumber. Setelah presentasi, moderator mempersilahkan hadirin bertanya.
Hadirin: Sebenarnya, evidence apa yang mendasari policy merekrut prof asing?
Narasumber: Oh, selain evidence, kita juga bertanya pada para ahli.
Hadirin: Ok. Untuk policy ini, boleh tahu siapa ahli yang Prof tanya?
Narasumber: Tentu saja.
Hadirin: Siapa, Prof?
Narasumber: Pelatih PSSI. 
-----
(73) Ketika sedang mengumpulkan data disertasi di NKRI, Mahasiswa NKRI yang sedang S3 di Australia, menyempatkan bertemu kawan lama yang sedang S3 di universitas di NKRI. Mereka saling membanggakan diri.
Mahasiswa S3 Aussie: Tahu gak, kalau S3 di Australia, saya bisa kerja part-time dan punya penghasilan tambahan.
Mahasiswa S3 NKRI: Tahu gak, kalau S3 di NKRI, saya bisa jadi mahasiswa full-time, kerja juga full-time.
Mahasiswa S3 Aussie: Oh ya? Masa?
Mahasiswa S3 NKRI: Tentu saja. Malah di dua kota berbeda!
-----
(74) Program mendatangkan dosen asing di NKRI sudah berlangsung seminggu. Dosen-dosen asing ini terkesima dengan sistem absensi. Dia berkata pada rekannya Prof NKRI.
Dosen asing: saya salut dengan cara mendisiplinkan mahasiswa disini. Di banyak sudut disediakan alat fingerprint untuk absen mereka.
Prof NKRI: Oh. Itu bukan untuk mahasiwa. Itu untuk kita. Silahkan coba, Prof. 
-----
(75) Salah satu kementerian di NKRI akhirnya mengalokasikan dana cukup besar untuk menyewa konsultan seorang Prof dari MIT. Dengan tarif $5000 perhari, Prof MIT harus melakukan sebuah studi selama 60 hari.
Pejabat NKRI: Prof, tolong bikin studi, mengapa publikasi di NKRI conference proceeding selalu jumlahnya sekitar 3/4 dari jumlah artikel jurnal. Padahal di negara lain paling 1/10 nya.
Prof MIT: OK. I will do. Please transfer 30% of the fee first.
Pejabat NKRI: Siap.
Selama 60 hari, Prof MIT interview sana sini dan mempelajari dokumen-dokumen terkait di NKRI. 60 hari berlalu.
Pejabat: Prof, sudah ada findings nya?
Prof MIT: Sudah.
Pejabat: Bagaimana hasilnya?
Prof MIT: Hasil studi saya bilang penyebab jumlah conference proceeding selalu 3/4 dari jumlah artikel jurnal adalah karena di buku pedoman yang dipakai dosen dan Prof se NKRI, mereka dapat mendapat nilai kredit 30 untuk conference proceeding dan 40 untuk jurnal.
Pejabat: Ya Tuhan. Kenapa saya tidak lihat itu ya.
Prof MIT: Mohon segera transfer 70% consultant fee. 
-----
(76) Rapat pertama rektor asing dengan jajaran pejabat tinggi salah satu universitas di NKRI berlangsung alot. Setelah 6 jam maraton, salah satu prof NKRI yg kebetulan salah satu peserta rapat keluar ruangan dengan wajah lusuh, ditanya kawannya.
Kawan Prof NKRI: Lama amat rapatnya, apa sih yang dibahas?
Prof NKRI: Ada dua isu yg susah dijelaskan ke Mr. Rektor.
Kawan Prof: Apa itu?
Prof NKRI: KKN dan upacara bendera. 
-----
(77) Setelah ditelusuri, Prof NKRI yang selalu nyinyir dan anti rektor asing, istrinya ternyata bukan WNI. 
-----
(78) Dalam satu demonstrasi di sebuah universitas di NKRI, seorang prof NKRI senior berorasi.
Prof NKRI: Kita tidak bisa menerima standar ganda terhadap rektor asing. Mengapa kita langsung menjadikan dia "rektor" sebelum dia menjadi "asisten ahli"?
-----
(79) Di sebuah universitas ternama di negeri sakura yg sangat terkenal dengan disiplin dan tepat waktunya. Seorang mahasiswa lokal ditegur sensei-nya.
Sensei: Selama seminggu terakhir, setelah menghilang berminggu-minggu dari kelas saya, mengapa sekarang kamu selalu datang ke kelas sejam setelah saya?
Mahasiswa: Maaf sensei, saya pikir, sensei datang nya bakal bareng saya.
Sensei. Gila kamu, kemana aja memang berminggu-minggu?
Mahasiswa: pertukaran mahasiswa.
Sensei: kemana?
Mahasiswa: NKRI
-----
(80) Faktor tersulit untuk universitas di NKRI masuk ranking 100 besar dunia adalah internasionalisasi. Indikatornya proporsi dosen dan mahasiswa asing. Saking desperate-nya ingin segera menembus ranking, Presiden NKRI mengadakan kongres Prof se-NKRI maraton selama 10 hari untuk memberikan rekomendasi. Setelah diskusi demi diskusi yg melelahkan sekali, kongres ternyata hanya menemukan satu rekomendasi: Provinsi-provinsi di NKRI agar segera memisahkan diri. 

Prof. Richard Robert Ernst

Saya sempat berfoto dengan Prof. Richard Robert Ernst, penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1991. Beliau berfoto dengan saya dengan latar belakang spektrometer Nuclear Magnetic Resonance (NMR) yang saya operasikan. Penghargaan Nobel Kimia 1991 dianugerahkan kepada beliau atas kontribusi pada pengembangan metodologi spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR).

Foto disebelah kanan di bawah ini adalah foto beliau yang saya ambil dari website pribadi beliau. Nampak tua. Terlihat juga dari kedua foto tersebut bahwa kehidupan itu tidak abadi. Namun, manusia akan meninggalkan hasil karyanya untuk dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Kebaikan itulah yang akan diingat orang. Itulah makna dari kedua foto di bawah ini.

Walaupun saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau, namun saya membaca tulisan beliau mengenai pendidikan tinggi yang sekarang sudah kehilangan prespektif mengenai tanggungjawabnya. Ini catatan saya sembilan tahun yang lalu mengenai ini.