Lebih baik diam jika tidak cukup arif

Saya lebih memilih komunikasi secara verbal jika menghadapi masalah-masalah yang sensitif karena khawatir ada masalah penafsiran teks jika hal tersebut disampaikan melalui teks, seperti melalui SMS, Whatsapp dan Facebook, sehingga ada kemungkinan ada salah penafsiran teks yang disampaikan secara ringkas. Dalam ilmu filsafat ini disebut sebagai Hermeutika, ilmu yang mempelajari tentang interpretasi makna. Dalam filsafat Islam, istilah yang digunakan adalah Takwil, iaitu ilmu yang menjelaskan ayat-ayat yang tersamar maknanya (ayat-ayat Mutasyabbihat). Jelas, untuk menafsirkan sesuatu kita memerlukan ilmu. Ilmu bahasa, ilmu yang paling penting dikuasai disamping ilmu-ilmu lainnya.

Nah, bagaimana dengan zaman sekarang yang informasi dengan sangat mudah disebarkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda? Disamping kemampuan mencerna informasi yang disampaikan dan menafsirkannya secara tepat, perlu juga kearifan dalam menanggapinya. Jika tidak mampu mencerna dan arif, lebih baik diam. Itu saja.

Mengurus pusat penelitian

Sudah 2.5 tahun ini saya menjadi Director sebuah pusat penelitian di UTM. Banyak tantangan yang dihadapi. Yang paling utama adalah masalah keuangan. Sangat sukar bergerak jika tidak ada dana. Kedua, masalah infrastruktur. Banyak peralatan penelitian yang rusak, dan juga masalah bangunan. Ketiga adalah sumber daya manusia. Banyak staf yang tidak diperpanjang kontrak di pusat penelitian saya tahun 2016. Tantangan-tantangan inilah yang perlu dihadapi dengan strategi yang betul. Di bawah ini ini adalah strategi yang sedang dijalankan di pusat penelitian saya. Mudah-mudahan usaha ini mendapat berkah dan ridho dari Allah SWT. Amin.

strategy.png

Tokoh ilmuwan sosial nusantara

Pernah sempat berdiskusi dan berbagi cerita dengan tiga tokoh ilmuwan sosial nusantara, dari kiri ke kanan: Prof. Mestika Zed (PhD, Vrije Universiteit – 1991, Cornell University Fulbright Scholar), Prof. Taufik Abdullah (PhD, Cornell University – 1970, penerima Fukuoka Price – 1991, mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – 2000-2002) dan Dr. Mochtar Naim (MA, McGill University – 1960; PhD, National University of Singapore – 1974, terkenal dengan karyanya yang berjudul: “Merantau: Minangkabau Voluntary Migration”). Mudahan-mudahan “wisdom” mereka dapat menular …

10259202_10203710438180626_5650237123962959101_o.jpg

Tujuh hal yang harus dihindari

Tujuh hal yang harus dihindari:

  • kaya tanpa bekerja
  • kesenangan tanpa kesadaran
  • pengetahuan tanpa karakter
  • bisnis tanpa moral
  • ilmu tanpa kemanusiaan
  • penghargaan tanpa pengorbanan
  • politik tanpa prinsip.

(Mahatma Gandhi)

Jadi, apa?

Dalam bahasa Inggris “Jadi, apa?” biasa disebut “So what?”. Dalam bahasa Inggris perkataan ini biasanya digunakan sebagai alasan untuk pernyataan yang tidak penting atau tidak relevan, menunjukkan ketidakpedulian dari pihak pembicara. Namun setelah direnung-renung, dipikir-pikir, walaupun hanya terdiri dari dua perkataan, makna perkataan ini bisa menjadi sangat dalam dan sangat filosofis. Apa makna dibalik semua yang kita kerjakan dan semua yang kita kejar di dunia ini. Apakah hanya untuk kesenangan dunia saja? atau apakah ada yang lebih daripada itu? Kita pasti tahu jawabannya jika kita adalah orang yang beragama.