Dari Bayangan ke Cahaya

Gua tempat kita memuja bayangan, ranking, akreditasi, sitasi, angka kredit. Semua tampak gemerlap, padahal yang kita tepuk tanganinya hanyalah pantulan dari cahaya yang jauh lebih sejati: makna ilmu itu sendiri.

Pagi di Graha Cakrawala kemaren, saya menyampaikan orasi ilmiah Dies Natalis ke-71 Universitas Negeri Malang. Judulnya “Dari Bayangan ke Cahaya.” Saya berbicara bukan tentang capaian, melainkan tentang kesadaran. Bukan tentang data, tapi tentang nurani.

Sayangnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tak bisa hadir dan diwakili oleh Prof. Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan.  Namun semangat yang beliau bawa melalui Saintek Berdampak justru mengalir di dalam teks orasi itu: bahwa sains bukanlah menara gading, ia harus turun ke tanah, menyentuh sawah, bengkel, sekolah, dan manusia.

Menyembah Bayangan

Plato, dua ribu tahun lalu, sudah memperingatkan kita. Manusia, katanya, hidup di dalam gua dan memuja bayangan di dinding, mengira itulah kebenaran. Sampai suatu hari, seseorang keluar, melihat cahaya, dan sadar: yang selama ini diyakini hanyalah refleksi.

Apakah kita, dunia akademik Indonesia, hidup dalam gua yang sama? Kita bangga dengan peringkat, sibuk dengan angka, gembira ketika akreditasi naik satu level.  Tapi jarang bertanya: apa yang sebenarnya berubah di ruang kuliah, di laboratorium, di masyarakat?

Kita mencatat kemajuan dalam tabel, tapi diam-diam kehilangan makna dalam tindakan. Ilmu menjadi prosedur, bukan pencerahan.

Pujian yang Menyentuh

Seusai orasi, ponsel saya tak berhenti bergetar. Pesan demi pesan berdatangan dari rekan, mahasiswa, alumni.

“MasyaAllah, daging semua, Prof.”
“Terima kasih, Prof, ini suara hati kami.”
“Saya tonton ulang videonya, ingin merenung lagi.”

Beberapa menulis dengan getir:

“Kita mengejar angka dengan semangat, sampai lupa bahwa itu bukan cerminan kualitas yang sesungguhnya.”

Yang lain berkata:

“Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia.”

Saya membaca semuanya pelan-pelan.  Dan saya sadar, kelelahan moral ini dirasakan banyak orang. Kita bekerja keras, tapi tidak selalu tahu untuk apa.

Universitas yang Menjadi Korporasi

Ada kenyataan yang tak nyaman diakui: universitas perlahan menjadi korporasi. Ilmu dikonversi menjadi angka kredit. Inovasi diukur dari jumlah paten, bukan perubahan sosial. Kita bicara mutu, tapi lupa makna.

Kita berlomba menjadi “unggul dan bereputasi”, tapi sering abai terhadap yang paling penting: kemanusiaan. Sains tanpa nurani hanya melahirkan sistem yang efisien, bukan kehidupan yang bermakna.

Dan di situlah saya khawatir: jangan-jangan kita sedang membangun universitas yang megah, tapi kehilangan jiwanya.

Lupa pada Akar

Seorang rekan menulis di grup diskusi: di kampus besar dunia, profesor hanya mengajar dua atau tiga SKS, dikelilingi mahasiswa doktoral dan peneliti muda yang bekerja penuh waktu. Humaniora tetap kuat, karena manusia tetap dianggap pusat dari ilmu. Di sini, sebaliknya: yang dasar kerap diremehkan, yang humanistik makin tersisih.

Kita lupa: modernitas bukanlah meniru, tapi memahami akar.  Dan akar pendidikan Indonesia sesungguhnya sederhana,  mendidik agar manusia menjadi manusia.

Keluar dari Gua

Ketika saya menutup orasi dengan kalimat, “Kita sedang berusaha keluar dari gua,” banyak yang menyalinnya kembali di status pribadi.

Mungkin karena kalimat itu terasa dekat. Setiap dari kita punya gua sendiri, gua rutinitas, gua sistem, gua kenyamanan. Cahaya, sering kali, bukan datang dari luar. Ia muncul ketika kita berani menatap bayangan sendiri, dan mengakuinya sebagai semu.

Makna yang Tumbuh dari Kejujuran

Universitas Negeri Malang kini berusia 71 tahun. Angka yang tak lagi muda, dan seharusnya cukup dewasa untuk berhenti mengejar bayangan. Kita perlu kembali pada hal yang paling sederhana tapi paling hakiki: ilmu yang menyala karena hati.

Sebab universitas bukan pabrik gelar. Ia taman akal dan nurani. Tempat di mana ilmu tidak hanya ditemukan, tetapi menghidupkan.

Dan mungkin, di tengah dunia akademik yang semakin bising oleh angka, yang kita butuhkan bukan lebih banyak penghargaan, tetapi lebih banyak kejujuran.

Karena keluar dari gua tak membutuhkan cahaya dari luar. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menatap bayangan, dan melangkah.

“Ilmu yang tercerabut dari kemanusiaan akan kehilangan cahayanya. Dan universitas yang lupa pada makna hanya akan menjadi dinding tempat bayangan berputar-putar.”

Kenangan Sapporo: Postdoc Prof. Ohtani

Foto kenangan hampir 26 tahun lalu. Tepatnya saat saya dan keluarga tiba di Sapporo. Momen ini, yang diabadikan pada 24 November 1999, menunjukkan kami setelah dijamu makan malam oleh Prof. Bunsho Ohtani, mentor saya di Catalysis Research Center, Hokkaido University. Saat itu, saya baru tiba di Sapporo pada 2 November 1999, dengan putra saya, Farid (4 tahun), dan putri saya, Firda (5 bulan).

Prof. Ohtani kala itu baru setahun menjabat sebagai profesor, dan saya merupakan JSPS Postdoctoral Fellow di laboratoriumnya. Diskusi mingguan kami sangat intim dan terbatas, hanya dihadiri oleh Prof. Ohtani, Dr. Shigeru Ikeda (Instructor), Dr. Bonamali Pal (Postdoc), dan Noburu Sugiyama (Mahasiswa Master).

Saya mengawali masa kerja sebagai Postdoc selama dua tahun, dan melanjutkan pekerjaan di sana hingga tahun 2002 sebagai COE Visiting Researcher. Setelahnya, saya pindah dan melanjutkan karier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Perjalanan Saya Meraih Sertifikasi Dosen sebagai Profesor di Indonesia

Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.

Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.

Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:

“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”

Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.

Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.

Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.

Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:

“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”

Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS

Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.

Alhamdulillah.

Simulakra Ilmu Pengetahuan: Satir tentang Ranking 2%

Dulu, ilmu pengetahuan dibangun di atas rasa ingin tahu. Orang sibuk mencari kebenaran, sibuk bertanya mengapa langit biru, bagaimana listrik bekerja, atau apa inti dari materi. Ada yang meledakkan laboratorium, ada yang tenggelam dalam buku-buku tebal, semua demi satu hal: kebenaran.

Tapi dunia makin kompleks. Populasi ilmuwan membengkak, publikasi mengalir seperti air bah, dan universitas mulai bersaing bukan lagi soal siapa yang menemukan kebenaran, tapi siapa yang punya “impact factor” lebih tajam dari pedang samurai.

Lalu muncullah formula. Indeks, h-index, hm-index, g-index, hingga “top 2% scientists.” Angka-angka ini mula-mula diciptakan untuk memotret dinamika ilmu, tapi perlahan berubah menjadi panggung sandiwara. Ranking bukan lagi cermin kebenaran, melainkan panggung popularitas: siapa jago main statistik, siapa pandai membaca pola sitasi.

Maka dimulailah era baru. Orang-orang berlarian mengejar angka, bukan gagasan. Paper ditulis bukan untuk membuka cakrawala, melainkan untuk memenuhi target. Publikasi ilmiah bukan lagi pembuka jalan kebenaran, tapi wasit yang menentukan naik pangkat atau tidak. Universitas pun ikut bersorak: ranking tinggi berarti mahasiswa berdatangan, dana penelitian mengalir, brosur kampus semakin kinclong.

Dan akhirnya muncullah sertifikat “Top 2% Scientists.” Ada logo, ada QR code, ada nama Stanford, Elsevier. Semua rapi, semua sah. Tapi, apa artinya? Bukankah ini simulakra, seperti kata Baudrillard? Realitas palsu yang lebih nyata dari kenyataan? Bukankah ini semacam medali plastik di olimpiade yang diciptakan sendiri?

Lucunya, bahkan yang masuk daftar pun sering merasa kosong. “Saya masuk top 2%,” katanya, “tapi apa bedanya dengan kemarin, saat saya masih bangun pagi, menulis proposal, dan dimarahi reviewer?” Ranking memberi sorak sorai sementara, tapi di balik itu ada keheningan: makna sains yang sesungguhnya kian kabur.

Kini, filsuf pun tersenyum sinis: ilmu pengetahuan, yang dulu lahir untuk mencari kebenaran, kini dipermainkan sebagai permainan angka. Orang sibuk mengejar peringkat, bukan kebenaran. Ilmuwan jadi gladiator di arena sitasi, saling sikut dalam kompetisi yang diciptakan sistem.

Dan saya, yang namanya juga masuk ke daftar itu, hanya bisa tertawa getir: “Apakah ini prestasi, atau sekadar ilusi?” atau saya menderita imposter syndrome?

Perjalanan Saya Meraih Sertifikasi Dosen sebagai Profesor di Indonesia

Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.

Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.

Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:

“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”

Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.

Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.

Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.

Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:

“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”

Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS

Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.

Alhamdulillah.

Catatan Kenangan untuk Sahabatku, Epo (Ira Nevasa)

Terkejut mendengar berita ini grup WhatsApp: Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang Ira Nevasa pagi ini di RS Medistra Jakarta (pada jam 5 pagi tanggal 6 September 2025). Mohon dibukakan pintu maaf.

Saya mengenal Ira Nevasa, yang akrab kami panggil Epo, sejak masa kecil. Kami sama-sama bersekolah di TK Labor IKIP Padang (1974-1976), SD PPSP IKIP Padang (1976–1981) dan kemudian di SMA Negeri 3 Padang (1984-1987). Kenangan masa SMA begitu jelas di ingatan saya. Di kelas dua dan tiga kami sekelas, lalu sama-sama melanjutkan kuliah di ITB. Saya masuk jurusan Kimia, sementara Epo memilih Teknik Elektro. Pada wisuda Oktober 1992, kami kembali berdiri bersama, berfoto setelah acara yang penuh rasa bangga itu.

Kedekatan kami bukan hanya karena sekolah dan kuliah, tetapi juga karena kebetulan keluarga ayah kami berasal dari Payakumbuh. Ayah saya dan ayah Epo saling mengenal, membuat hubungan kami terasa lebih dekat.

Epo sejak SMA sudah dikenal sebagai siswa yang cerdas. Kemampuan matematikanya luar biasa, terbukti dari pencapaian nilai EBTANAS tertinggi di Sumatera Barat. Sayangnya, ia tidak lolos lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Namun, dengan keyakinan yang tinggi, ia mendaftar SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di ITB dengan satu pilihan saja: Teknik Elektro. Tidak ada pilihan kedua. Sebegitu besar kepercayaan dirinya. Dan benar saja, ia diterima. Kami berdua termasuk dari lima orang yang berhasil lolos ke ITB dari angkatan kami.

Saat kuliah, kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tetapi kenangan kecil tetap hidup. Saya ingat suatu kali saat melanjutkan S2 di ITB, saya bertemu Epo di atas kereta api. Ia menggunakan seragam PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api, sekarang bernama KAI – Kereta Api Indonesia). Dari sanalah saya menyadari bahwa Epo meniti kariernya di dunia perkeretaapian.

Perjalanan kariernya memang mulus. Ia pernah menjabat di berbagai posisi strategis di PT Kereta Api Indonesia, mulai dari Deputy EVP Daop 4 Semarang, VP Signal and Telecommunication, VP Infrastructure Assets, hingga akhirnya menjadi Vice President Human Resources Development sampai pensiun tahun 2025. Dari Padang, Cirebon, Semarang, Bandung, jejak langkahnya selalu meninggalkan prestasi.

Saya kembali bertemu Epo saat reuni angkatan 1987 ITB di Bandung, Januari 2018, dan terakhir Epo mengunjungi saya di Malang, Januari 2023, sesudah saya kembali dari Malaysia setelah merantau selama 27 tahun. Saat itu saya tahu Epo sedang berjuang dengan penyakit diabetes. Namun, ia sangat telaten menjaga diri, disiplin mengatur makanan, dan paham betul bagaimana menghadapi penyakitnya.

Yang membuat saya selalu kagum adalah daya ingat Epo. Ia bisa mengingat detail-detail kecil tentang teman-temannya, termasuk hal-hal tentang diri saya yang bahkan saya sendiri sudah lupa. Memori fotografisnya membuat ia menjadi pribadi yang perhatian dan hangat.

Hari ini, Epo telah pergi mendahului kita semua. Namun kenangan bersamanya tetap hidup, tentang kecerdasannya, ketelitiannya, kebaikan hatinya, dan persahabatan yang tulus.

Selamat jalan, Epo.
Engkau akan selalu dikenang sebagai sahabat yang luar biasa.

Hadi Nur (6 September 2025, Malang)

Mengenang Pembimbing Skripsi Saya, Dr. Harjoto Djojosubroto

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Pada 18 Agustus 2025 saya menerima kabar duka melalui WhatsApp:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allohummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara kita purnabakti BATAN Bandung, Bapak Harjoto Djojosubroto, pada hari Senin, 18 Agustus 2025, pukul 05:18 WIB. Semoga Almarhum diterima iman Islamnya, ditempatkan dalam kenikmatan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.

Saya mengenang beliau bukan hanya sebagai pembimbing skripsi saya, tetapi juga sebagai dosen yang membekas dalam perjalanan akademik saya. Ketertarikan saya untuk memilih penelitian tugas akhir di bawah bimbingan beliau berawal dari ketertarikan saya pada mata kuliah Kimia Inti dan Radiasi yang beliau ajarkan. Dari mata kuliah itu, saya melihat sosok beliau sebagai seorang saintis yang jujur, tegas, dan sederhana.

Saya masih teringat jelas, saat ujian mata kuliah tersebut dilaksanakan di Gedung Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB. Saya menjadi mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan ujian, keluar ruangan lebih dulu, dan akhirnya mendapat nilai A. Kenangan itu melekat kuat, karena memperlihatkan betapa beliau mampu membuat ilmu yang sulit sekalipun terasa logis dan menantang untuk saya dalami.

Pada waktu skripsi, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Teknologi Nuklir (PPTN) BATAN Bandung. Saya diberi kesempatan melakukan penelitian di kawasan nuklir Bandung, yang memiliki reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 250 kW (diresmikan 1965 dan ditingkatkan menjadi 2 MW pada tahun 2000). Beliau dengan penuh kepercayaan memberi izin bagi saya untuk mengiradiasi sampel berupa serum darah manusia langsung di reaktor. Itu pengalaman yang amat berharga yang membuka wawasan riset saya di kemudian hari.

Saya juga masih mengingat pesan beliau ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Dengan nada bercanda tetapi penuh makna, beliau berkata: “Yang penting lanjut sampai S3, menjadi doktor sastra juga nggak apa-apa.”

Pesan sederhana itu mendorong saya untuk tidak berhenti belajar. Kini saya menyadari betapa kalimat itu adalah dorongan moral seorang pembimbing kepada mahasiswanya.

Setelah lulus S2 di ITB tahun 1995, saya tidak pernah lagi bertemu beliau secara langsung. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau adalah melalui SMS pada bulan Oktober 2012. Setelah itu, komunikasi kami terputus, hingga saya mendengar kabar duka ini.

Selamat jalan, Pak Harjoto. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keteladanan yang Bapak wariskan. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah Bapak, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

Mengenang Pembimbing Skripsi Saya, Dr. Harjoto Djojosubroto

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Pada 18 Agustus 2025 saya menerima kabar duka melalui WhatsApp:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allohummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara kita purnabakti BATAN Bandung, Bapak Harjoto Djojosubroto, pada hari Senin, 18 Agustus 2025, pukul 05:18 WIB. Semoga Almarhum diterima iman Islamnya, ditempatkan dalam kenikmatan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.


Saya mengenang beliau bukan hanya sebagai pembimbing skripsi saya, tetapi juga sebagai dosen yang membekas dalam perjalanan akademik saya. Ketertarikan saya untuk memilih penelitian tugas akhir di bawah bimbingan beliau berawal dari ketertarikan saya pada mata kuliah Kimia Inti dan Radiasi yang beliau ajarkan. Dari mata kuliah itu, saya melihat sosok beliau sebagai seorang saintis yang jujur, tegas, dan sederhana. Teringat beliau setia menggunakan mobil VW Safari yang selalu di parkir di depan kantor beliau.

Saya masih teringat jelas, saat ujian mata kuliah tersebut dilaksanakan di Gedung Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB. Saya menjadi mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan ujian, keluar ruangan lebih dulu, dan akhirnya mendapat nilai A. Kenangan itu melekat kuat, karena memperlihatkan betapa beliau mampu membuat ilmu yang sulit sekalipun terasa logis dan menantang untuk saya dalami.

Pada waktu skripsi, beliau menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Teknologi Nuklir (PPTN) BATAN Bandung. Saya diberi kesempatan melakukan penelitian di kawasan nuklir Bandung, yang memiliki reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 250 kW (diresmikan 1965 dan ditingkatkan menjadi 2 MW pada tahun 2000). Beliau dengan penuh kepercayaan memberi izin bagi saya untuk mengiradiasi sampel berupa serum darah manusia langsung di reaktor. Itu pengalaman yang amat berharga yang membuka wawasan riset saya di kemudian hari.

Saya juga masih mengingat pesan beliau ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Dengan nada bercanda tetapi penuh makna, beliau berkata: “Yang penting lanjut sampai S3, menjadi doktor sastra juga nggak apa-apa.”

Pesan sederhana itu mendorong saya untuk tidak berhenti belajar. Kini saya menyadari betapa kalimat itu adalah dorongan moral seorang pembimbing kepada mahasiswanya.

Setelah lulus S2 di ITB tahun 1995, saya tidak pernah lagi bertemu beliau secara langsung. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau adalah melalui SMS pada bulan Oktober 2012. Setelah itu, komunikasi kami terputus, hingga saya mendengar kabar duka ini.


Selamat jalan, Pak Harjoto. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keteladanan yang Bapak wariskan. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah Bapak, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

Wacana (selalu diperbarui)

Rangkaian catatan ini menyajikan opini dan perspektif terkait topik tertentu. Untuk membaca artikel lengkap dalam format PDF, silakan klik tautan.

  1. Publikasi, Tekanan, dan p-Value: Menggugat Budaya Signifikansi Statistik – 20 Agustus 2025 [PDF]
  2. Peringkat Universitas & Renjana – 14 Agustus 2025 [PDF]
  3. Ijazah yang Tak Tertulis – 30 Mei 2025 [PDF]
  4. Ketika Intelek Menjadi Tirani Nalar – 22 Mei 2025 [PDF]
  5. Filsafat yang Buruk Menghambat Kemajuan Ilmu dan Riset – 15 Mei 2025 [PDF]
  6. Hukum Termodinamika Kampus: Mengapa Perubahan Tak Kunjung Terjadi? – 13 Mei 2025 [PDF]
  7. Kecanggihan Boleh Digital, Tapi Akal Harus Tetap Analog – 7 Mei 2025 [PDF]
  8. Penerapan Konsep “Broken Windows” di Universitas – 27 April 2025 [PDF]
  9. Ilusi Keberhasilkan dalam Penelitian – 27 April 2025 [PDF]
  10. Peringkat Global dan Ilusi Kemajuan Akademik – 24 April 2025 [PDF]
  11. Mendefinisikan untuk Memaknai – 24 April 2025 [PDF]
  12. Semangat Hidup Universitas sebagai Fondasi Kemajuan dan Inovasi yang Harus Dipupuk dengan Kebijaksanaan – 13 April 2025 [PDF]
  13. Universitas yang Belajar, Bukan Hanya Menghitung – 4 April 2025 [PDF]
  14. Mengapa Kita Perlu The Nusantara Philosophy Book – 3 April 2025 [PDF]
  15. Kebahagiaan Seorang Profesor – 2 April 2025 [PDF]
  16. Berpikir dalam Riset: Antara Ilusi yang Menyesatkan dan Ketidaktahuan yang Mencerahkan – 2 April 2025 [PDF]
  17. Media dan Kekuasaan: Ketika “Tuhan Kedua” Dibungkam – 1 April 2025 [PDF]
  18. Ketika Ghibli Dijiplak oleh AI: Seni yang Kehilangan Relasi Manusiawi – 1 April 2025 [PDF]
  19. Dua Jenis Ketidaktahuan dalam Riset: Kebodohan Relatif dan Kebodohan Mutlak – 31 Maret 2025 [PDF]
  20. Penelitian yang Sesungguhnya: Antara Ilmu, Niat, dan Keberanian Menyelam – 29 Maret 2025 [PDF]
  21. Korupsi di Indonesia: Antara Masa Lalu yang Belum Berlalu – 29 Maret 2025 [PDF]
  22. Memilih Pemimpin Akademik: Menemukan Sistem yang Mewakili Mutu dan Integritas – 27 Maret 2025 [PDF]
  23. Mengganti Kerangka Bahasa untuk Meningkatkan Mutu Riset dan Pendidikan Tinggi – 26 Maret 2025 [PDF]
  24. Belajar dari Swiss, Singapura, dan China: Bisakah Indonesia Bangun Sistem Pendidikan Berkualitas? – 23 Maret 2025 [PDF]
  25. Tiga Tahap Karir Akademik: Ketika Waktu, Uang, dan Energi Tak Pernah Bertemu – 22 Maret 2025 [PDF]
  26. Sistem 1: Perspektif Psikologis di Balik Konten Absurd TikTok – 22 Maret 2025 [PDF]
  27. Universitas Kita Masih di Tahap Birokratis Tradisional – 21 Maret 2025 [PDF]
  28. Model Kepemimpinan Universitas – 21 Maret 2025 [PDF]
  29. Ilusi Dialog: Mengapa Komunikasi di Universitas Justru Lebih Sulit? – 20 Maret 2025 [PDF]
  30. Antara Ideologi, Sifat Manusia, dan Godaan Iblis: Mengapa Keadilan Sulit Ditegakkan? – 20 Maret 2025 [PDF]
  31. Prinsip-prinsip Etika Keilmuan – 17 Maret 2025 [PDF]
  32. Menjaga Etika Keilmuan: Belajar dari Dialog dengan Iblis – 17 Maret 2025 [PDF]
  33. Institusi Inklusif: Jalan Utama Indonesia Menjadi Negara Maju – 17 Maret 2025 [PDF]
  34. Menerapkan Strategi Perang Sun Tzu untuk Memerangi Pelanggaran Etika Akademik di Universitas – 16 Maret 2025 [PDF]
  35. Ekonomi Indonesia di Bawah Pemerintahan Prabowo: Analisis dan Warisan Era Jokowi – 15 Maret 2025 [PDF]
  36. Perguruan Tinggi Indonesia dari Aspek Kriteria Keunggulan Akademik – 14 Maret 2025 [PDF]
  37. Etika Keilmuan dalam Pengambilan Keputusan Akademik – 10 Maret 2025 [PDF]
  38. Pentingnya Memahami Perkembangan Ilmu: Belajar dari Revisi Teori Psikopatologi Freud – 9 Maret 2025 [PDF]
  39. Otakmu Bekerja Keras? Begini Cara Kerja dan Energi yang Dihabiskannya! – 9 Maret 2025 [PDF]
  40. Riset Tanpa Arah: Ketika Ilmuwan Dipaksa Berlari di Tempat – 7 Maret 2025 [PDF]
  41. Peran Imajinasi dan Realitas dalam Riset Sains dan Rekayasa – 5 Maret 2025 [PDF]
  42. Peta Survival Peneliti Akademik Muda: Hukum dan Prinsip Kenaikan Akademik – 3 Maret 2025 [PDF]
  43. Transformasi Kepemimpinan Indonesia: Dari Stabilitas ke Realisme dalam Kebijakan Nasional – 12 Nopember 2024 [PDF]
  44. Intelektual dengan Übermensch – 29 Oktober 2024 [PDF]
  45. Apakah Langkah Mencapai World Class University (WCU) Sudah Tepat? – 29 September 2024 [PDF]
  46. Kategorisasi Status Ekonomi Perguruan Tinggi – 16 September 2024 [PDF]
  47. Etika yang Terdesak: Ketika Riset Ilmiah Dipaksakan dalam Tenggat Waktu yang Tidak Realistis – 13 September 2024 [PDF]
  48. Mengoptimalkan Pendidikan Indonesia: Strategi Berbasis Kapabilitas Manusia dan Kesejahteraan Finansial – 4 September 2024 [PDF]
  49. Perspektif Holistik dalam Riset-riset Pendidikan – 18 Agustus 2024 [PDF]
  50. Empat Reformasi yang Dibutuhkan Indonesia dalam Pendidikan Tinggi – 5 Agustus 2024 [PDF]
  51. Pandangan Mengenai Penghapusan Penjurusan di SMA – 23 Juli 2024 [PDF]
  52. Dinamika Akulturasi Setelah Pulang ke Indonesia – 9 Juni 2024 [PDF]  
  53. Pendidikan Itu Adalah Kepercayaan: Menumbuhkan Kepercayaan dalam Dunia Pendidikan – 6 Juni 2024 [PDF]
  54. Tantangan dan Dilema dalam Implementasi Indikator Kinerja Utama di Perguruan Tinggi: Sebuah Tinjauan Kritis – 30 Mei 2024 [PDF
  55. Menggali Akar Masalah: Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Cengkeraman Keputusan Jangka Pendek – 24 Mei 2024 [PDF
  56. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 24 Mei 2024 [PDF]
  57. Universitas Padat Mahasiswa: Ancaman Nyata bagi Kualitas Pendidikan – 23 Mei 2024 [PDF]
  58. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis: Tantangan di Perguruan Tinggi – 22 Mei 2024 [PDF]
  59. Mengelola Berita Negatif di Era Informasi – 20 Mei 2024 [PDF]
  60. Pendidikan Tinggi Bukan Sekadar Pilihan, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atasi UKT Mahal – 19 Mei 2024 [PDF]
  61. Kepatutan Publikasi Ilmiah di Indonesia: Urgensi di Tengah Maraknya Kecurangan – 18 Mei 2024 [PDF]
  62. Pendidikan Tinggi di Indonesia: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif untuk Memenuhi Amanat Konstitusi – 16 Mei 2024 [PDF]
  63. Transformasi Holistik dalam Pendidikan: Membangun Institusi yang Inovatif dan Berkelanjutan – 18 Maret 2024 [PDF]
  64. Pahlawan Pemikir: Warisan Intelektual untuk Indonesia Maju – 15 Mei 2024 [PDF
  65. Pandangan Tentang Kompleksitas Ilmu Sosial: Perspektif Seorang Dosen Pembimbing – 14 Mei 2024 [PDF]  
  66. Melampaui Kosmos: Menjelajahi Keberadaan, Sains, dan Spiritualitas – 13 Mei 2024 [PDF]  
  67. Kritik dan Kemerdekaan: Menimbang Ulang Kebebasan Berekspresi dan Tata Kelola Pendidikan Tinggi – 12 Mei 2024 [PDF]
  68. Dampak Kapitalisasi Ilmu Pengetahuan pada Pendidikan Tinggi: Analisis Sosiologi Pengetahuan – 11 Mei 2024 [PDF]
  69. Tata Kelola Pendidikan Tinggi: Menuju Keadilan dan Pengembangan Manusia – 10 Mei 2024 [PDF]
  70. Filsuf: Pencipta Ide atau Pendorong Logika? – 9 Mei 2024 [PDF]  
  71. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 8 Mei 2024 [PDF]
  72. AI dan Keterbatasan Manusia: Mengapa Agama dan Filsafat Tetap Relevan – 7 Mei 2024 [PDF]
  73. Meningkatkan Keberdayaan Intelektual dengan Meniru Cara Berpikir Para Filsuf – 6 Mei 2024 [PDF]
  74. Membedah Multi-Dimensi Pembentukan Negara dan Alasan Perang: Sebuah Analisis – 5 Mei 2024 [PDF]
  75. Universitas yang Sudah Mapan: Berakar Kuat, Bebas dari Simbolisme Dangkal Pengakuan Eksternal – 28 April 2024 [PDF]
  76. Mencapai Universitas Unggul di Indonesia: Budaya, Strategi, dan Struktur – 27 April 2024 [PDF]
  77. Memperkaya Masa Depan Melalui Pendidikan Holistik: Wawasan dari Prof. Richard Robert Ernst – 26 April 2024 [PDF]
  78. Di Balik Angka: Mengevaluasi Kualitas Substantif Versus Pendekatan Superfisial dalam Pendidikan Tinggi – 25 April 2024 [PDF]
  79. Antara Keahlian dan Kredensial: Menggali Makna dan Misrepresentasi Gelar Profesional di Indonesia dan Jepang – 24 April 2024 [PDF]
  80. Kembali ke Akar: Meredefinisi Pendidikan untuk Melawan Keserakahan – 23 April 2024 [PDF]
  81. Memahami Pendidikan dan Iptek Melalui Lensa Sejarah: Studi Kasus Majapahit dan Oxford – 22 April 2024 [PDF]
  82. Media Sebagai Dewa: Perspektif tentang Pengaruh dan Bahaya Kepemilikan Media dalam Politik – 21 April 2024 [PDF]
  83. Melampaui Metrik: Membangun Perspektif Baru dalam Evaluasi Publikasi Ilmiah di Perguruan Tinggi – 20 April 2024 [PDF]
  84. Klasifikasi Universitas dan Karakteristiknya – 19 April 2024 [PDF]
  85. Strata Sosial dan Taksonomi Universitas: Refleksi Konteks Pendidikan Tinggi – 18 April 2024 [PDF]
  86. Prinsip Kepatutan dalam Publikasi Akademik: Standar Etika dan Integritas – 17 April 2024 [PDF]
  87. Di Balik Angka: Refleksi tentang Pemeringkatan Universitas dan Esensi Pendidikan – 12 April 2024 [PDF]
  88. Apa Tujuan Utama Pendidikan Tinggi? – 11 April 2024 [PDF]
  89. Mengatasi Prestasi Semu untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di Indonesia – 9 April 2024 [PDF]
  90. Kebijaksanaan dalam Memilih Sistem: Pelajaran dari Popper dan Plato untuk Politik Modern – 6 April 2024 [PDF]
  91. Demokrasi vs Otoritarianisme: Menelusuri Kepemimpinan Ideal dalam Paradoks Kepolitikan – 5 April 2024 [PDF]
  92. Mengatasi Noise dan Bias dalam Zaman Post-Truth: Penguatan Berpikir Kritis Melalui Pendidikan Tinggi – 4 April 2024 [PDF]
  93. Mempelajari Sejarah dengan Lensa Kritis: Sebuah Pendekatan Filosofis Terhadap Dekolonisasi Pengetahuan – 3 April 2024 [PDF]
  94. Revitalisasi Adab dan Hikmah dalam Pendidikan Tinggi: Strategi, Struktur, dan Budaya untuk Masa Depan yang Beretika – 2 April 2024 [PDF]
  95. Menavigasi Kehidupan: Prinsip Kebebasan, Kritikalitas, dan Adaptivitas – 6 April 2024 [PDF]
  96. Memilih Jalan Berat untuk Masa Depan Cerah: Kualitas versus Kuantitas dalam Pendidikan Tinggi – 1 April 2024 [PDF]      
  97. Menghindari Jalan Pintas dalam Pendidikan Tinggi: Integritas sebagai Pondasi Keberhasilan – 31 Maret 2024 [PDF]     
  98. Mengejar Bayangan Prestasi: Semiotika dan Kritik Filosofis terhadap Metrik dalam Publikasi Ilmiah di Indonesia – 28 Maret 2024 [PDF
  99. Evolusi Ilmu: Dari Mekanik ke AI, Perjalanan Pengetahuan Manusia dalam Sorotan Filsafat – 27 Maret 2024 [PDF
  100. Prinsip-prinsip Numerik Pythagoras – 26 Maret 2024 [PDF]  
  101. Memahami Perbedaan Budaya Riset Tinggi dan Rendah: Strategi untuk Perkembangan Ilmu Pengetahuan – 25 Maret 2024 [PDF]   
  102. Menelusuri Kerumitan Birokrasi: Menemukan Keseimbangan antara Efisiensi dan Humanitas dalam Pendidikan Tinggi Indonesia – 24 Maret 2024 [PDF
  103. Pendidikan sebagai Alat Pembebasan atau Komoditas? Sebuah Analisis Kritis terhadap Pengkelasan dalam Sistem Pendidikan – 23 Maret 2024 [PDF]   
  104. Ekonomisasi Sains: Risiko Dehumanisasi dalam Pendidikan dan Penelitian Ilmiah – 23 Maret 2024 [PDF]  
  105. Melampaui Ranking: Mencari Makna dan Kedalaman dalam Pendidikan Tinggi – 22 Maret 2024 [PDF