Simulakra adalah konsep dalam teori media dan filosofi yang erat kaitannya dengan pemikiran Jean Baudrillard, filsuf Prancis. Simulakra mengacu pada salinan atau representasi yang kehilangan hubungan langsungnya dengan realitas asli. Menurut Baudrillard, simulakra beroperasi dalam apa yang ia sebut “hiperrealitas”, suatu keadaan di mana representasi menjadi lebih nyata daripada realitas yang sebenarnya dan bahkan menggantikan realitas tersebut dalam persepsi kita.
Baudrillard menjelaskan bahwa ada empat tahap dalam evolusi simulakra:
-
Refleksi realitas: Ini adalah tahap di mana salinan masih merupakan representasi yang akurat dari realitas. Sebagai contoh, kita bisa melihat foto dokumenter yang diambil untuk secara akurat merekam suatu peristiwa. Foto ini mencerminkan realitas dengan setia tanpa manipulasi.
-
Penyimpangan realitas: Pada tahap ini, salinan mulai menyimpang dari asalnya. Contohnya bisa dilihat pada pemberitaan yang telah ditambahkan unsur dramatisasi untuk mempengaruhi pandangan penonton. Berita ini masih berbasis pada peristiwa nyata, namun telah dimodifikasi untuk menghasilkan efek tertentu.
-
Menyamarkan ketiadaan realitas: Di tahap ketiga, salinan mengklaim sebagai realitas meskipun sudah sangat jauh dari sumber aslinya. Contoh yang baik adalah acara realitas televisi, yang meskipun tampak sebagai tayangan kehidupan nyata, banyak adegannya yang direkayasa dan disusun untuk menyerupai skenario fiksi lebih dari kenyataan.
-
Simulakra murni: Tahap terakhir ini menunjukkan salinan yang tidak lagi memiliki kaitan dengan realitas apapun dan berfungsi sebagai realitas mandiri. Video game dengan dunia dan karakter yang memiliki aturan dan realitasnya sendiri adalah contoh simulakra murni. Realitas dalam game ini tercipta sendiri, tanpa dasar dari dunia nyata.
Dalam hiperrealitas Baudrillard, simulakra tidak hanya mereplikasi atau merepresentasikan realitas; mereka menciptakan realitas baru yang seringkali lebih berpengaruh daripada realitas yang seharusnya mereka wakili.