Semoga buku ini membawa berkah

Buku, “Filsafat Sains dalam Konteks: Interpretasi Filosofis untuk Pendidikan Tinggi Indonesia“, yang mengeksplorasi aspek filosofis sains dalam pendidikan tinggi Indonesia, bertujuan memberikan wawasan baru bagi mahasiswa, akademisi, dan peminat topik ini. Buku ini mencerminkan komitmen saya terhadap kemajuan pendidikan dan riset di Indonesia. Di bawah ini ada beberapa foto yang sempat diambil. Namun banyak yang tidak sempat diabadikan dengan berfoto bersama.

Catatan Kemerdekaaan

Kemerdekaan sesungguhnya bagaimana menemukan arti yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Saya teringat sebuah catatan lusuh dari Bapak saya, ditulis berbelas tahun yang lalu yang disimpan di dompet saya: “sebaik-baik orang adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain.” Barangkali inilah inti dari merdeka: bukan sekadar bebas dari belenggu, melainkan kebebasan untuk memilih memberi, untuk mengisi ruang hidup kita dengan kebermanfaatan. Kemerdekaan yang sejati tidak terletak pada apa yang kita peroleh, melainkan pada apa yang kita berikan.

Algoritma dan Mutu Ilmu Pengetahuan

Saya membayangkan sebuah pagi di mana iklan kursus “Menyusun Systematic Literature Review (SLR) dengan AI” itu muncul. Ia berbayar, tentu saja, dan menjanjikan efisiensi untuk memenuhi KPI administratif bagi dosen dan mahasiswa. Sebuah “demand” yang jelas, sebuah “peluang cuan” yang menggiurkan. Di balik kilau janji, tersembunyi kekhawatiran. Akankah ini hanya menghasilkan keuntungan finansial, tanpa membangun ilmu pengetahuan?

Hakikat SLR adalah proses riset yang sistematis dan mendalam. Perjalanan yang membutuhkan pemahaman metodologi, analisis kritis, dan dedikasi. Ini bukan sekadar “kerja” untuk memenuhi formalitas administratif. Jika AI digunakan untuk “menyusun” SLR demi KPI, kita berisiko menciptakan produk dangkal yang hanya memenuhi syarat tanpa substansi ilmiah.

Dunia maya kita kini “dipenuhi noise bacaan yang tidak bermakna”. Semakin banyak informasi, semakin tidak bermakna informasi tersebut. Bukankah ini seperti burung yang bersuara indah namun tak punya makna sejati? Kemudahan akses informasi, paradoksnya, justru bisa menghasilkan ilusi produktivitas ilmiah tanpa inovasi sejati.

Ketika KPI diorientasikan pada kuantitas tanpa kualitas, fenomena kursus “SLR kilat dengan AI” ini akan terus bermunculan, memperparah “noise informasi” dan menghambat pembangunan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Ini mencerminkan “alienasi birokrasi” yang meluas, di mana fokus beralih dari esensi ke formalitas. Kita seperti orang yang melupakan kualitas demi angka-angka.

Pertanyaan yang menggantung adalah, apakah kita akan berkompromi dengan “kebenaran” demi kepraktisan? Atau akankah kita kembali pada “laku” sejati dalam mencari pengetahuan, bahkan jika itu berarti perjalanan yang sunyi dan tak menguntungkan secara instan? Sejarah menunjukkan, ilmu pengetahuan sejati tidak bisa dibangun hanya dengan algoritma; ia butuh refleksi, pertanyaan, dan kesediaan untuk tidak selalu mencari “cuan” semata.

Ketika Kebenaran Menyepi

Hari ini, sebuah kata yang dulu sederhana, “kebenaran”, telah kehilangan gema. Ia seperti bayang-bayang di siang bolong, hadir tapi nyaris tak terpegang. Kita hidup di zaman ketika emosi lebih dipercaya daripada data, ketika cerita yang menyentuh lebih diyakini ketimbang bukti yang diam. Kata orang, ini zaman post-truth. Tapi mungkin ia lebih seperti zaman lupa.

Kita tidak sepenuhnya tertipu. Kita tahu bahwa apa yang berulang bukan selalu yang benar. Tapi kita lelah. Dan kelelahan itu, seperti air mengalir deras, mencari celah. Media sosial, yang lahir dari janji kebebasan berbagi, telah berubah menjadi ladang gema, ruang di mana yang paling nyaring, paling viral, paling menyentuh perasaan, menjadi kebenaran baru meski palsu.

Jika sebuah dusta terus-menerus diulang, ia akan mulai tampak rapi. Dan yang rapi sering kali kita anggap benar. Seperti rumah yang dindingnya ditempeli poster-poster prestasi, padahal isinya kosong. Seperti kampus yang ramai disebut unggul karena tampilan brosur, padahal ruang kelasnya sunyi oleh pemikiran kritis. Akademia, dulunya tempat memburu kebenaran, kini kadang menjadi pasar citra.

Tony Schwartz menyebut “Media: The Second God”. Mungkin benar. Kita tidak lagi menghadap altar tempat kita menyembah kebenaran, tapi layar. Di sana ada segalanya, cerita, simbol, kehebatan, bahkan kebajikan, semuanya dalam bentuk iklan. Media bukan lagi cermin, tapi panggung. Dan di panggung itu, siapa yang bisa membuat kisah paling memikat, ialah yang menang.

Apa yang harus kita lakukan di tengah ini semua? Bertahan dalam keheningan bisa terasa seperti menyerah. Namun mengikuti arus juga bukan pilihan, arus itu membawa kita menjauh dari tepi yang kokoh. Mungkin seperti kata penyair, yang penting bukan melawan, tapi tetap sadar. Sadar bahwa kita sedang digelincirkan. Sadar bahwa dunia yang kita lihat belum tentu dunia yang nyata.

Mencari yang genuine, yang asli, yang belum direkayasa algoritma, memang seperti menggali sumur di padang pasir. Tapi barangkali dari situlah kekuatan justru lahir, bukan dari keyakinan yang keras, tapi dari pertanyaan yang tak putus-putus. Dari keberanian untuk berkata, saya tidak tahu, mari kita cari bersama.

Dosen

Orang sering berbicara tentang peringkat universitas, seolah-olah semua kualitas bermuara pada angka dan posisi dalam daftar yang dibuat entah oleh siapa. Kita mencatat jumlah riset, jumlah mahasiswa asing, indeks sitasi. Tapi apakah semua itu sungguh menjelaskan apa yang terjadi di ruang kelas?

Barangkali yang lebih layak diperhitungkan adalah apa yang tak tercatat: suara seorang dosen yang menjelaskan dengan sabar, mata mahasiswa yang perlahan menyala karena mengerti, atau keheningan yang tumbuh dari perenungan, bukan kebingungan.

Yang menghidupkan universitas bukanlah akreditasi, melainkan percakapan. Dan percakapan itu tak terjadi jika pengajar hadir hanya sebagai pengisi waktu, bukan sebagai penuntun jalan.

Tentu, sebuah kampus bisa megah. Tapi di balik fasad yang indah, adakah semangat untuk mendidik yang sungguh hidup? Di banyak tempat, kampus menjadi terlalu sibuk untuk memperhatikan siapa yang seharusnya paling diperhatikan: mahasiswa.

Mereka dididik untuk kompetensi, tetapi lupa disentuh sebagai manusia. Mereka dikejar deadline, tapi tak pernah diajak memahami mengapa mereka belajar. Dan para dosen pun, dalam sistem yang terlalu administratif, kadang lupa bahwa mereka seharusnya menjadi pengasuh akal dan hati, bukan sekadar penyampai modul.

Barangkali inilah saatnya kita kembali mengajukan pertanyaan: apa gunanya universitas jika ia gagal memanusiakan? Apa gunanya gelar dan peringkat jika tak ada kehangatan, tak ada kejelasan dalam mengajar, dan tak ada cahaya dalam pikiran mahasiswa?

Seorang dosen yang baik tak memerlukan pengakuan. Ia cukup tahu bahwa ilmunya tersampaikan, dan ada satu kepala yang kini mampu berpikir lebih jernih. Itu lebih dari cukup. Selebihnya, peringkat bisa menunggu.

Mereka Menyebutnya Kurban

Di balik Idul Adha, selalu ada satu momen sunyi yang tak banyak terdengar. Saat seseorang menyerahkan dirinya, diam-diam, tanpa suara, pada sesuatu yang lebih tinggi. Mereka menyebutnya kurban. Tapi kurban, dalam bentuk yang paling jernih, bukan hanya tentang kambing yang ditumbangkan atau sapi yang ditambatkan pada tiang pagi. Ia adalah sesuatu yang lebih halus. Lebih tak terlihat. Dan karena itu lebih dalam.

Kurban adalah saat manusia menanggalkan dirinya. Saat ia menyingkirkan ego, kesenangan, dan kenyamanan yang setiap hari dibanggakan. Dalam dunia yang begitu bising oleh pencapaian dan pencitraan, barangkali yang paling suci justru mereka yang memilih terbakar diam-diam, menjadi lilin, bukan sorotan lampu.

Bagi guru, dosen, pengajar, dan siapa pun yang mencurahkan hidupnya untuk menyalakan terang bagi generasi yang akan datang, kurban tak selalu tampil dalam bentuk yang disaksikan kamera. Ia hadir sebagai jam-jam yang tak terlihat. Sebagai waktu yang diberikan tanpa tepuk tangan. Sebagai pikiran yang lelah tapi tak ingin berhenti.

Dan di sinilah barangkali kita teringat pada Cipolla, yang dalam simpelnya, membagi manusia ke dalam kuadran berdasar dampaknya, untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Maka, pengorbanan yang diam itu masuk ke dalam kuadran yang paling bijak. Ia memberi kepada yang lain, tapi justru dari situlah ia tumbuh. Secara batin. Secara makna. Bahkan secara sosial.

Tentu, tak semua dari kita menyembelih kambing tiap tahun. Tapi boleh jadi, tiap hari kita menyembelih ego kita sendiri. Dan itulah kurban yang sejati.

Namun kita juga perlu menegaskan: ibadah kurban bukan hanya soal simbol. Ia adalah perintah nyata yang diajarkan dalam syariat, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad SAW. Menyembelih hewan kurban, bagi yang mampu, adalah bentuk ketaatan konkret yang memiliki dimensi sosial dan spiritual sekaligus.

Allah SWT, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, tidak membutuhkan darah atau daging. Tapi Dia menerima ketakwaan dari hamba-Nya. Dan bukankah ketakwaan itu dimulai saat kita mampu berkata, dengan rendah hati, “aku bukan pusatnya”?

Mungkin Idul Adha memang diciptakan bukan hanya untuk menyembelih hewan. Tapi agar kita bisa, sekali lagi, dengan lirih, menyembelih diri kita yang lama. Dan setelah itu, hidup lebih ringan, lebih jernih, lebih berserah.

Diterpa Penolakan, Ditempa Kesadaran

Ia tidak menyangka, pintu yang dulu begitu akrab kini tertutup rapat di hadapannya. Sebuah lamaran, sederhana dan penuh harap, tak berbalas sebagaimana ia kira. Penolakan itu datang dari tempat yang pernah ia sebut rumah, tempat ia menanam waktu, tenaga, dan keyakinan bertahun-tahun. Tapi rumah itu kini menjelma jadi ruang asing, sunyi, bahkan getir.

Barangkali memang di sanalah titik lentingnya. Dari sebuah pintu yang tertutup, seseorang belajar mendengar suara yang datang dari dalam dirinya sendiri. Ia, yang selama ini tegak berdiri di atas pijakan pengakuan luar, kini goyah. Tapi justru di kegoyahan itu, ia mulai mengenal kembali apa yang selama ini nyaris ia tinggalkan: dirinya sendiri.

Mungkin ada saat di mana prestasi, jabatan, dan status tak lagi cukup menjelaskan siapa kita sebenarnya. Di titik itu, manusia menghadapi dirinya, tak sebagai pemilik titel, tapi sebagai jiwa yang telanjang dari simbol. Dan dari titik itulah ia mulai berjalan, bukan untuk mengulang prestasi, tapi untuk memahami makna keberadaan tanpa perlu pembuktian.

Ia mulai membaca ulang hidupnya, tak sebagai narasi karier, tapi sebagai perjalanan kesadaran. Dari luar yang menolak, ia masuk ke dalam yang menerima. Dalam diam, dalam kecewa yang tak dijelaskan kepada siapa pun, ia mulai belajar mendengar. Suara yang lirih tapi jujur. Bahwa nilai bukanlah hadiah dari luar, tapi cahaya yang dinyalakan dari dalam.

Dan seperti banyak cerita lain yang tak ditulis dengan gegap gempita, kisah ini berakhir bukan dengan jabatan yang diraih, tapi dengan pemahaman yang ditemukan. Tapi ia jadi lebih tahu siapa dirinya. Barangkali, dalam dunia yang gaduh dengan pencapaian, itu adalah capaian yang paling sunyi, tapi paling jernih.

Dosen yang Hadir Dihati

Tulisan ini didasarkan kepada refleksi yang ditulis oleh berapa puluh mahasiswa yang mengirimkan refleksinya dengan anonim setelah bertahun-tahun mengikuti perkuliahan.

Dosen itu, dulu, seperti pohon rindang di tengah kampus. Diam, namun hadir. Ia tidak sibuk menghitung daun-daunnya, atau mengejar sertifikat hujan. Ia tahu kapan mesti tumbuh, dan kapan sekadar meneduhkan mahasiswa yang masih bingung mencari arah.

Tapi kini, pohon-pohon itu seperti tercerabut. Akademia telah menjelma ladang administrasi: tabel, laporan, kredit angka-angka. Mereka yang seharusnya menyalakan keberanian berpikir, kini lebih sering tenggelam dalam perhitungan yang tak menumbuhkan siapa pun.

Saya rindu dosen yang tahu bahwa membimbing bukan hanya memberi nilai, tapi memberi makna. Yang tahu bahwa ilmu bukan daftar pustaka, melainkan keberanian menyigi dunia dengan kepala dan hati.

Tapi, mungkinkah mereka kembali?

Dalam dunia yang lebih tertarik pada indeks dan kutipan, apakah masih ada tempat bagi mereka yang hadir bukan untuk mengisi borang, tapi untuk menemani perjalanan sunyi mahasiswa mencari siapa dirinya sendiri?

Pendidikan tinggi, sebutan itu sendiri seperti ironi. Tinggi, tapi kadang menjauh dari yang paling dasar: kemanusiaan.

Dosen sejati mungkin tak banyak bicara, tapi kehadirannya berbicara. Ia bukan sekadar pemilik gelar, tapi penjaga nyala yang kini mulai padam.

Ilmu yang Membisu

Di sebuah zaman ketika tiap klik melahirkan deret data, kita kerap terkecoh. Mengira bahwa informasi berarti pemahaman. Tapi mungkin kita sedang berada di titik ketika Jean Baudrillard benar. Di saat kebenaran dipalsukan bukan oleh dusta, tapi oleh limpahan warta.

Publikasi ilmiah hari ini bukan lagi jalan sunyi para pencari makna. Ia kini lebih menyerupai lalu lintas yang ramai, namun asing. Saling berdesakan, berebut ruang, tapi tak menyapa. Di sana, artikel tak terbit karena pertanyaan besar telah dijawab, melainkan karena tenggat waktu, target institusi, atau nilai akreditasi. Di sana, makalah lahir dari algoritma kewajiban, bukan kegelisahan.

Ada yang mengingatkan tentang noise. Sebuah kata yang kini bukan hanya gangguan telinga, tapi juga batin. Daniel Kahneman dan dua sahabatnya pernah menulis. Kesalahan bisa dikoreksi, tapi ketidakteraturan yang sistemik lebih sulit dihapus. Dua penilai bisa membaca naskah yang sama, namun menyimpulkannya berbeda. Bukan karena substansi, tapi karena cuaca pikirannya. Suatu hari cerah, tulisan bisa lulus. Di hari lain, hujan turun, dan makalah pun ditolak.

Apa yang disebut decision hygiene, kebersihan dalam menilai, hanya tinggal dalam buku. Ia belum jadi kebiasaan. Sistem yang bernama peer review seolah mengklaim objektivitas, tapi diam-diam menyimpan subjektivitas yang tak pernah diakui. Kadang, tulisan diproses oleh penilai yang letih. Kadang, oleh yang sedang tergesa. Ilusi kesepakatan lalu menjadi tameng dari sesuatu yang tak kunjung jernih.

Di tengah kekacauan ini, kita bertanya. Apakah ilmu masih berbicara?

Mungkin ia telah menjadi suara yang diredam dalam auditorium yang riuh. Atau, mungkin ia telah memilih diam. Bukan karena tak ada yang dikatakan, tapi karena tak ada ruang untuk didengar.

Kita hidup dalam masa ketika menulis ilmiah adalah cara mempertahankan eksistensi, bukan menyampaikan keresahan. Ketika publikasi tidak membawa terang, tapi kabut. Dan dari dalam kabut itu, kita pun meraba-raba. Bukan lagi mencari jawaban, tapi sekadar memastikan bahwa kita belum kehilangan arah.

Namun, adakah yang masih bertanya?