Dari Bayangan ke Cahaya

Gua tempat kita memuja bayangan, ranking, akreditasi, sitasi, angka kredit. Semua tampak gemerlap, padahal yang kita tepuk tanganinya hanyalah pantulan dari cahaya yang jauh lebih sejati: makna ilmu itu sendiri.

Pagi di Graha Cakrawala kemaren, saya menyampaikan orasi ilmiah Dies Natalis ke-71 Universitas Negeri Malang. Judulnya “Dari Bayangan ke Cahaya.” Saya berbicara bukan tentang capaian, melainkan tentang kesadaran. Bukan tentang data, tapi tentang nurani.

Sayangnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tak bisa hadir dan diwakili oleh Prof. Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan.  Namun semangat yang beliau bawa melalui Saintek Berdampak justru mengalir di dalam teks orasi itu: bahwa sains bukanlah menara gading, ia harus turun ke tanah, menyentuh sawah, bengkel, sekolah, dan manusia.

Menyembah Bayangan

Plato, dua ribu tahun lalu, sudah memperingatkan kita. Manusia, katanya, hidup di dalam gua dan memuja bayangan di dinding, mengira itulah kebenaran. Sampai suatu hari, seseorang keluar, melihat cahaya, dan sadar: yang selama ini diyakini hanyalah refleksi.

Apakah kita, dunia akademik Indonesia, hidup dalam gua yang sama? Kita bangga dengan peringkat, sibuk dengan angka, gembira ketika akreditasi naik satu level.  Tapi jarang bertanya: apa yang sebenarnya berubah di ruang kuliah, di laboratorium, di masyarakat?

Kita mencatat kemajuan dalam tabel, tapi diam-diam kehilangan makna dalam tindakan. Ilmu menjadi prosedur, bukan pencerahan.

Pujian yang Menyentuh

Seusai orasi, ponsel saya tak berhenti bergetar. Pesan demi pesan berdatangan dari rekan, mahasiswa, alumni.

“MasyaAllah, daging semua, Prof.”
“Terima kasih, Prof, ini suara hati kami.”
“Saya tonton ulang videonya, ingin merenung lagi.”

Beberapa menulis dengan getir:

“Kita mengejar angka dengan semangat, sampai lupa bahwa itu bukan cerminan kualitas yang sesungguhnya.”

Yang lain berkata:

“Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia.”

Saya membaca semuanya pelan-pelan.  Dan saya sadar, kelelahan moral ini dirasakan banyak orang. Kita bekerja keras, tapi tidak selalu tahu untuk apa.

Universitas yang Menjadi Korporasi

Ada kenyataan yang tak nyaman diakui: universitas perlahan menjadi korporasi. Ilmu dikonversi menjadi angka kredit. Inovasi diukur dari jumlah paten, bukan perubahan sosial. Kita bicara mutu, tapi lupa makna.

Kita berlomba menjadi “unggul dan bereputasi”, tapi sering abai terhadap yang paling penting: kemanusiaan. Sains tanpa nurani hanya melahirkan sistem yang efisien, bukan kehidupan yang bermakna.

Dan di situlah saya khawatir: jangan-jangan kita sedang membangun universitas yang megah, tapi kehilangan jiwanya.

Lupa pada Akar

Seorang rekan menulis di grup diskusi: di kampus besar dunia, profesor hanya mengajar dua atau tiga SKS, dikelilingi mahasiswa doktoral dan peneliti muda yang bekerja penuh waktu. Humaniora tetap kuat, karena manusia tetap dianggap pusat dari ilmu. Di sini, sebaliknya: yang dasar kerap diremehkan, yang humanistik makin tersisih.

Kita lupa: modernitas bukanlah meniru, tapi memahami akar.  Dan akar pendidikan Indonesia sesungguhnya sederhana,  mendidik agar manusia menjadi manusia.

Keluar dari Gua

Ketika saya menutup orasi dengan kalimat, “Kita sedang berusaha keluar dari gua,” banyak yang menyalinnya kembali di status pribadi.

Mungkin karena kalimat itu terasa dekat. Setiap dari kita punya gua sendiri, gua rutinitas, gua sistem, gua kenyamanan. Cahaya, sering kali, bukan datang dari luar. Ia muncul ketika kita berani menatap bayangan sendiri, dan mengakuinya sebagai semu.

Makna yang Tumbuh dari Kejujuran

Universitas Negeri Malang kini berusia 71 tahun. Angka yang tak lagi muda, dan seharusnya cukup dewasa untuk berhenti mengejar bayangan. Kita perlu kembali pada hal yang paling sederhana tapi paling hakiki: ilmu yang menyala karena hati.

Sebab universitas bukan pabrik gelar. Ia taman akal dan nurani. Tempat di mana ilmu tidak hanya ditemukan, tetapi menghidupkan.

Dan mungkin, di tengah dunia akademik yang semakin bising oleh angka, yang kita butuhkan bukan lebih banyak penghargaan, tetapi lebih banyak kejujuran.

Karena keluar dari gua tak membutuhkan cahaya dari luar. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menatap bayangan, dan melangkah.

“Ilmu yang tercerabut dari kemanusiaan akan kehilangan cahayanya. Dan universitas yang lupa pada makna hanya akan menjadi dinding tempat bayangan berputar-putar.”

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.