Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga. Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini.
Foto ini mengabadikan empat generasi dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Sitti merupakan generasi tertua yang masih hidup pada saat foto ini diambil. Ia tampak didampingi oleh anak, cucu, dan cicitnya, sehingga foto ini menjadi dokumentasi keluarga yang sangat berharga. Dari kiri ke kanan tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897) yang sedang memangku putrinya, Radias, Patimah (lahir 1878), serta Ripin (lahir 1903) yang menggendong anaknya, Ardanis. Sosok yang berada di ujung kanan foto merupakan suami Bidah.Foto ini memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.Patimah lahir 1878 dan meninggal dunia di Balai Mansiro tanggal 24 Nopember 1964.Gambar sekitar tahun 1964: Patimah (duduk di tengah) bersama keluarga. Di sebelah kanan beliau ialah anaknya, Ripin, dan di sebelah kiri pula ialah anaknya, Rakiah.Pemandangan deretan rumah gadang di Balai Mansiro, Payakumbuh pada era 1950-an. Rumah keluarga Datuk Rajo Mangkuto terletak di hujung sekali (no. 3). Daripada keseluruhan tujuh buah rumah gadang, hanya lima buah yang jelas kelihatan di dalam gambar ini.Tangga masuk Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto pada sekitar tahun 1950-an. Tampak Ripin berdiri di bawah tangga, sementara Zamhir berdiri di sisi kanan Rumah Gadang. Di dekat tangga juga terlihat seorang anak kecil yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Foto ini mendokumentasikan bentuk asli tangga serta bagian depan Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto.
Foto Rakiah dan Nurani Djamil ketika mereka baru menikah tahun 1931.
Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.
Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.
Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.
Lembaran-lembaran kertas kecil yang menyimpan perjalanan lebih dari 20 tahun. Dari seorang Lecturer hingga Professor, setiap kartu punya ceritanya sendiri tentang perjuangan, kegagalan, dan kesempatan. Terimakasih UTM atas memorinya, dan kini saatnya melanjutkan pengabdian di UM.
Saya menulis trilogi ini bukan karena saya merasa yakin sepenuhnya, melainkan karena saya merasa bertanggung jawab untuk tidak melewatkan hal-hal yang perlu dipikirkan dengan jujur. Ini adalah catatan refleksi dari seseorang yang berada di dalam sistem pendidikan tinggi dan masih ingin merawatnya. Saya menulis untuk memberi ruang agar pendidikan tinggi dapat berhenti sejenak dan memahami dirinya sendiri. Saya memilih menerbitkannya secara terbatas agar refleksi ini dapat dibagikan dan hidup sebagai dialog yang sehat.
Gua tempat kita memuja bayangan, ranking, akreditasi, sitasi, angka kredit. Semua tampak gemerlap, padahal yang kita tepuk tanganinya hanyalah pantulan dari cahaya yang jauh lebih sejati: makna ilmu itu sendiri.
Pagi di Graha Cakrawala kemaren, saya menyampaikan orasi ilmiah Dies Natalis ke-71 Universitas Negeri Malang. Judulnya “Dari Bayangan ke Cahaya.” Saya berbicara bukan tentang capaian, melainkan tentang kesadaran. Bukan tentang data, tapi tentang nurani.
Sayangnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tak bisa hadir dan diwakili oleh Prof. Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan. Namun semangat yang beliau bawa melalui Saintek Berdampak justru mengalir di dalam teks orasi itu: bahwa sains bukanlah menara gading, ia harus turun ke tanah, menyentuh sawah, bengkel, sekolah, dan manusia.
Menyembah Bayangan
Plato, dua ribu tahun lalu, sudah memperingatkan kita. Manusia, katanya, hidup di dalam gua dan memuja bayangan di dinding, mengira itulah kebenaran. Sampai suatu hari, seseorang keluar, melihat cahaya, dan sadar: yang selama ini diyakini hanyalah refleksi.
Apakah kita, dunia akademik Indonesia, hidup dalam gua yang sama? Kita bangga dengan peringkat, sibuk dengan angka, gembira ketika akreditasi naik satu level. Tapi jarang bertanya: apa yang sebenarnya berubah di ruang kuliah, di laboratorium, di masyarakat?
Kita mencatat kemajuan dalam tabel, tapi diam-diam kehilangan makna dalam tindakan. Ilmu menjadi prosedur, bukan pencerahan.
Pujian yang Menyentuh
Seusai orasi, ponsel saya tak berhenti bergetar. Pesan demi pesan berdatangan dari rekan, mahasiswa, alumni.
“MasyaAllah, daging semua, Prof.” “Terima kasih, Prof, ini suara hati kami.” “Saya tonton ulang videonya, ingin merenung lagi.”
Beberapa menulis dengan getir:
“Kita mengejar angka dengan semangat, sampai lupa bahwa itu bukan cerminan kualitas yang sesungguhnya.”
Yang lain berkata:
“Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia.”
Saya membaca semuanya pelan-pelan. Dan saya sadar, kelelahan moral ini dirasakan banyak orang. Kita bekerja keras, tapi tidak selalu tahu untuk apa.
Universitas yang Menjadi Korporasi
Ada kenyataan yang tak nyaman diakui: universitas perlahan menjadi korporasi. Ilmu dikonversi menjadi angka kredit. Inovasi diukur dari jumlah paten, bukan perubahan sosial. Kita bicara mutu, tapi lupa makna.
Kita berlomba menjadi “unggul dan bereputasi”, tapi sering abai terhadap yang paling penting: kemanusiaan. Sains tanpa nurani hanya melahirkan sistem yang efisien, bukan kehidupan yang bermakna.
Dan di situlah saya khawatir: jangan-jangan kita sedang membangun universitas yang megah, tapi kehilangan jiwanya.
Lupa pada Akar
Seorang rekan menulis di grup diskusi: di kampus besar dunia, profesor hanya mengajar dua atau tiga SKS, dikelilingi mahasiswa doktoral dan peneliti muda yang bekerja penuh waktu. Humaniora tetap kuat, karena manusia tetap dianggap pusat dari ilmu. Di sini, sebaliknya: yang dasar kerap diremehkan, yang humanistik makin tersisih.
Kita lupa: modernitas bukanlah meniru, tapi memahami akar. Dan akar pendidikan Indonesia sesungguhnya sederhana, mendidik agar manusia menjadi manusia.
Keluar dari Gua
Ketika saya menutup orasi dengan kalimat, “Kita sedang berusaha keluar dari gua,” banyak yang menyalinnya kembali di status pribadi.
Mungkin karena kalimat itu terasa dekat. Setiap dari kita punya gua sendiri, gua rutinitas, gua sistem, gua kenyamanan. Cahaya, sering kali, bukan datang dari luar. Ia muncul ketika kita berani menatap bayangan sendiri, dan mengakuinya sebagai semu.
Universitas Negeri Malang kini berusia 71 tahun. Angka yang tak lagi muda, dan seharusnya cukup dewasa untuk berhenti mengejar bayangan. Kita perlu kembali pada hal yang paling sederhana tapi paling hakiki: ilmu yang menyala karena hati.
Sebab universitas bukan pabrik gelar. Ia taman akal dan nurani. Tempat di mana ilmu tidak hanya ditemukan, tetapi menghidupkan.
Dan mungkin, di tengah dunia akademik yang semakin bising oleh angka, yang kita butuhkan bukan lebih banyak penghargaan, tetapi lebih banyak kejujuran.
Karena keluar dari gua tak membutuhkan cahaya dari luar. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menatap bayangan, dan melangkah.
“Ilmu yang tercerabut dari kemanusiaan akan kehilangan cahayanya. Dan universitas yang lupa pada makna hanya akan menjadi dinding tempat bayangan berputar-putar.”
Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.
Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.
Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.
Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:
“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”
Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.
Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.
Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.
Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.
Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:
“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”
Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS
Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.
Terkejut mendengar berita ini grup WhatsApp: Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah berpulang Ira Nevasa pagi ini di RS Medistra Jakarta (pada jam 5 pagi tanggal 6 September 2025). Mohon dibukakan pintu maaf.
Saya mengenal Ira Nevasa, yang akrab kami panggil Epo, sejak masa kecil. Kami sama-sama bersekolah di TK Labor IKIP Padang (1974-1976), SD PPSP IKIP Padang (1976–1981) dan kemudian di SMA Negeri 3 Padang (1984-1987). Kenangan masa SMA begitu jelas di ingatan saya. Di kelas dua dan tiga kami sekelas, lalu sama-sama melanjutkan kuliah di ITB. Saya masuk jurusan Kimia, sementara Epo memilih Teknik Elektro. Pada wisuda Oktober 1992, kami kembali berdiri bersama, berfoto setelah acara yang penuh rasa bangga itu.
Kedekatan kami bukan hanya karena sekolah dan kuliah, tetapi juga karena kebetulan keluarga ayah kami berasal dari Payakumbuh. Ayah saya dan ayah Epo saling mengenal, membuat hubungan kami terasa lebih dekat.
Epo sejak SMA sudah dikenal sebagai siswa yang cerdas. Kemampuan matematikanya luar biasa, terbukti dari pencapaian nilai EBTANAS tertinggi di Sumatera Barat. Sayangnya, ia tidak lolos lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Namun, dengan keyakinan yang tinggi, ia mendaftar SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di ITB dengan satu pilihan saja: Teknik Elektro. Tidak ada pilihan kedua. Sebegitu besar kepercayaan dirinya. Dan benar saja, ia diterima. Kami berdua termasuk dari lima orang yang berhasil lolos ke ITB dari angkatan kami.
Saat kuliah, kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tetapi kenangan kecil tetap hidup. Saya ingat suatu kali saat melanjutkan S2 di ITB, saya bertemu Epo di atas kereta api. Ia menggunakan seragam PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api, sekarang bernama KAI – Kereta Api Indonesia). Dari sanalah saya menyadari bahwa Epo meniti kariernya di dunia perkeretaapian.
Perjalanan kariernya memang mulus. Ia pernah menjabat di berbagai posisi strategis di PT Kereta Api Indonesia, mulai dari Deputy EVP Daop 4 Semarang, VP Signal and Telecommunication, VP Infrastructure Assets, hingga akhirnya menjadi Vice President Human Resources Development sampai pensiun tahun 2025. Dari Padang, Cirebon, Semarang, Bandung, jejak langkahnya selalu meninggalkan prestasi.
Saya kembali bertemu Epo saat reuni angkatan 1987 ITB di Bandung, Januari 2018, dan terakhir Epo mengunjungi saya di Malang, Januari 2023, sesudah saya kembali dari Malaysia setelah merantau selama 27 tahun. Saat itu saya tahu Epo sedang berjuang dengan penyakit diabetes. Namun, ia sangat telaten menjaga diri, disiplin mengatur makanan, dan paham betul bagaimana menghadapi penyakitnya.
Yang membuat saya selalu kagum adalah daya ingat Epo. Ia bisa mengingat detail-detail kecil tentang teman-temannya, termasuk hal-hal tentang diri saya yang bahkan saya sendiri sudah lupa. Memori fotografisnya membuat ia menjadi pribadi yang perhatian dan hangat.
Hari ini, Epo telah pergi mendahului kita semua. Namun kenangan bersamanya tetap hidup, tentang kecerdasannya, ketelitiannya, kebaikan hatinya, dan persahabatan yang tulus.
Selamat jalan, Epo. Engkau akan selalu dikenang sebagai sahabat yang luar biasa.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Pada 18 Agustus 2025 saya menerima kabar duka melalui WhatsApp:
“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allohummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara kita purnabakti BATAN Bandung, Bapak Harjoto Djojosubroto, pada hari Senin, 18 Agustus 2025, pukul 05:18 WIB. Semoga Almarhum diterima iman Islamnya, ditempatkan dalam kenikmatan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.
Saya mengenang beliau bukan hanya sebagai pembimbing skripsi saya, tetapi juga sebagai dosen yang membekas dalam perjalanan akademik saya. Ketertarikan saya untuk memilih penelitian tugas akhir di bawah bimbingan beliau berawal dari ketertarikan saya pada mata kuliah Kimia Inti dan Radiasi yang beliau ajarkan. Dari mata kuliah itu, saya melihat sosok beliau sebagai seorang saintis yang jujur, tegas, dan sederhana.
Saya masih teringat jelas, saat ujian mata kuliah tersebut dilaksanakan di Gedung Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB. Saya menjadi mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan ujian, keluar ruangan lebih dulu, dan akhirnya mendapat nilai A. Kenangan itu melekat kuat, karena memperlihatkan betapa beliau mampu membuat ilmu yang sulit sekalipun terasa logis dan menantang untuk saya dalami.
Pada waktu skripsi, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Teknologi Nuklir (PPTN) BATAN Bandung. Saya diberi kesempatan melakukan penelitian di kawasan nuklir Bandung, yang memiliki reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 250 kW (diresmikan 1965 dan ditingkatkan menjadi 2 MW pada tahun 2000). Beliau dengan penuh kepercayaan memberi izin bagi saya untuk mengiradiasi sampel berupa serum darah manusia langsung di reaktor. Itu pengalaman yang amat berharga yang membuka wawasan riset saya di kemudian hari.
Saya juga masih mengingat pesan beliau ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Dengan nada bercanda tetapi penuh makna, beliau berkata: “Yang penting lanjut sampai S3, menjadi doktor sastra juga nggak apa-apa.”
Pesan sederhana itu mendorong saya untuk tidak berhenti belajar. Kini saya menyadari betapa kalimat itu adalah dorongan moral seorang pembimbing kepada mahasiswanya.
Setelah lulus S2 di ITB tahun 1995, saya tidak pernah lagi bertemu beliau secara langsung. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau adalah melalui SMS pada bulan Oktober 2012. Setelah itu, komunikasi kami terputus, hingga saya mendengar kabar duka ini.
Selamat jalan, Pak Harjoto. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keteladanan yang Bapak wariskan. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah Bapak, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ia tidak menyangka, pintu yang dulu begitu akrab kini tertutup rapat di hadapannya. Sebuah lamaran, sederhana dan penuh harap, tak berbalas sebagaimana ia kira. Penolakan itu datang dari tempat yang pernah ia sebut rumah, tempat ia menanam waktu, tenaga, dan keyakinan bertahun-tahun. Tapi rumah itu kini menjelma jadi ruang asing, sunyi, bahkan getir.
Barangkali memang di sanalah titik lentingnya. Dari sebuah pintu yang tertutup, seseorang belajar mendengar suara yang datang dari dalam dirinya sendiri. Ia, yang selama ini tegak berdiri di atas pijakan pengakuan luar, kini goyah. Tapi justru di kegoyahan itu, ia mulai mengenal kembali apa yang selama ini nyaris ia tinggalkan: dirinya sendiri.
Mungkin ada saat di mana prestasi, jabatan, dan status tak lagi cukup menjelaskan siapa kita sebenarnya. Di titik itu, manusia menghadapi dirinya, tak sebagai pemilik titel, tapi sebagai jiwa yang telanjang dari simbol. Dan dari titik itulah ia mulai berjalan, bukan untuk mengulang prestasi, tapi untuk memahami makna keberadaan tanpa perlu pembuktian.
Ia mulai membaca ulang hidupnya, tak sebagai narasi karier, tapi sebagai perjalanan kesadaran. Dari luar yang menolak, ia masuk ke dalam yang menerima. Dalam diam, dalam kecewa yang tak dijelaskan kepada siapa pun, ia mulai belajar mendengar. Suara yang lirih tapi jujur. Bahwa nilai bukanlah hadiah dari luar, tapi cahaya yang dinyalakan dari dalam.
Dan seperti banyak cerita lain yang tak ditulis dengan gegap gempita, kisah ini berakhir bukan dengan jabatan yang diraih, tapi dengan pemahaman yang ditemukan. Tapi ia jadi lebih tahu siapa dirinya. Barangkali, dalam dunia yang gaduh dengan pencapaian, itu adalah capaian yang paling sunyi, tapi paling jernih.
Dalam hidup, barangkali yang paling sulit bukanlah memilih untuk pergi, melainkan memutuskan kapan untuk kembali. Kisah hijrah, perjalanan saya pulang, bukan sekadar catatan perjalanan akademik, melainkan semacam perenungan batin tentang akar, identitas, dan tanggung jawab. Saya menulis bukan sebagai seseorang yang hendak mengumumkan pencapaiannya, melainkan sebagai manusia yang tengah mencari makna dari waktu yang berlalu dan tanah yang ia tinggalkan.
Hijrah, dalam kisah ini, bukan sekadar peristiwa geografis. Ia adalah peristiwa neurologis. Otak sosial manusia yang tertanam dalam evolusi kita sebagai makhluk yang saling tergantung tak pernah benar-benar bisa memutus relasi dengan tempat asalnya. Dalam perantauan, ia menyerap nilai, kebiasaan, bahkan logika berpikir yang baru. Namun ada suara kecil yang terus bertanya: siapa aku, dan kepada siapa aku akan kembali?
Barangkali itulah mengapa kepulangan terasa lebih rumit dari keberangkatan. Sebab ketika kembali, yang kita temui bukan hanya kampung halaman yang berubah, melainkan diri kita sendiri yang sudah tak sama. Bahasa ibu terasa asing, wajah-wajah akrab telah menjadi formal, dan kehangatan masa lalu tergantikan oleh formalitas sistem. Namun kepulangan, dalam kisah ini, bukan didorong oleh nostalgia, melainkan oleh keyakinan bahwa tanggung jawab terhadap negeri sendiri bukanlah pilihan, tetapi panggilan.
Ada keberanian di balik keputusan itu. Bukan hanya keberanian untuk berhadapan dengan sistem yang kaku, tetapi juga keberanian untuk percaya bahwa kerja senyap akan melahirkan perubahan. Di sini, peran otak sosial mencapai bentuk tertingginya. Bukan sekadar menjadi bagian dari komunitas, tetapi menjadi katalis bagi perbaikan yang mungkin tidak langsung terlihat. Ia memilih untuk membaur, bukan demi kenyamanan, tapi demi pengaruh yang pelan namun pasti.
Dan seperti semua kisah pulang yang besar, bukan sambutan yang ditunggu, tapi ruang untuk bertindak. Sebab yang paling penting bukan siapa yang menyambut, tapi apa yang bisa dilakukan setelah pintu terbuka.
“Was it summer when the river ran dry / Or was it just another dam?”: Apakah semangat belajar dan idealisme mengering secara alami seiring berjalannya waktu (“musim panas”), ataukah karena intervensi sistem yang salah (“bendungan”) seperti kurikulum yang tidak relevan atau kebijakan yang membingungkan?
“When the evil of a snowflake in June / Could still be a source of relief”: Ketika masalah kecil yang tidak seharusnya ada (“jahatnya kepingan salju di bulan Juni”) justru terasa melegakan di tengah sistem yang lebih besar dan bermasalah. Misalnya, sedikit kebebasan dalam tugas terasa menyenangkan di tengah kurikulum yang kaku.
“Oh, how I love you, I once cried long ago / But I was the one who decided to go”: Dahulu ada cinta dan harapan terhadap pendidikan, tetapi akhirnya individu memilih untuk “pergi” secara mental atau bahkan fisik (putus sekolah, apatis) karena kekecewaan terhadap sistem.
“To search beyond the final crest / Though I’d heard it said just birds could dwell so high”: Keinginan untuk mencari ilmu dan potensi diri melampaui batasan yang ditetapkan sistem (“puncak terakhir”), meskipun ada anggapan bahwa hanya “orang-orang tertentu” (mungkin yang memiliki privilese atau kecocokan dengan sistem) yang bisa meraih kesuksesan tinggi.
Verse 2:
“So I pretended to have wings for my arms / And took off in the air”: Upaya siswa untuk berinovasi dan belajar dengan cara mereka sendiri (“berpura-pura memiliki sayap”) di tengah keterbatasan sistem.
“I flew to places which the clouds never see / Too close to the deserts of sand”: Mencari pengetahuan dan pemahaman di luar apa yang diajarkan secara formal (“tempat yang tak terlihat awan”), namun justru terperangkap dalam “gurun pasir” sistem yang kering akan inspirasi dan relevansi.
“Where a thousand mirages, the shepherds of lies / Forced me to land and take a disguise”: Janji-janji palsu tentang masa depan cerah setelah lulus (“seribu fatamorgana,” “gembala kebohongan”) memaksa siswa untuk menyesuaikan diri (“mendarat dan mengambil penyamaran”) dengan harapan palsu sistem.
“I would welcome a horses kick to send me back / If I could find a horse not made of sand”: Keputusasaan mencapai titik di mana siswa lebih memilih kejujuran yang menyakitkan (“tendangan kuda”) daripada terus terperangkap dalam ilusi sistem yang tidak nyata (“kuda yang terbuat dari pasir”).
Chorus:
“If this desert’s all there’ll ever be / Then tell me what becomes of me”: Jika sistem pendidikan yang kering dan tidak memberdayakan ini adalah satu-satunya yang ada, bagaimana nasib individu?
“A fall of rain? / That must have been another of your dreams / A dream of mad man moon”: Harapan akan perubahan positif dan sistem yang lebih baik (“hujan”) dianggap sebagai ilusi belaka (“mimpi”) dari seseorang yang dianggap idealis atau tidak realistis (“mad man moon”).
Instrumental Break:
Memberikan waktu untuk merenungkan kekosongan dan frustrasi dalam sistem.
Bridge:
“Hey man, I’m the sand man / And, boy, have I news for you”: Munculnya personifikasi “sand man” sebagai representasi sistem yang korup dan tidak peduli.
“They’re gonna throw you in jail and you know they can’t fail / ‘Cause sand is thicker than blood”: Sistem akan “memenjarakan” (membatasi potensi dan kebebasan) individu, dan mereka pasti berhasil karena kekuasaan sistem (“pasir”) lebih kuat dari ikatan kemanusiaan atau potensi individu (“darah”).
“But a prison in sand is a haven in Hell / For a jail can give you a goal”: Ironisnya, keterbatasan sistem (“penjara di pasir”) justru memberikan “tujuan” bagi sebagian orang, mungkin sekadar bertahan atau lulus.
“And a goal can find you a role on the muddy pitch in Newcastle / Where it rains so much you can’t wait for a touch / Of sun and sand”: Tujuan tersebut mungkin mengarahkan individu ke lingkungan yang sama-sama sulit (“lapangan berlumpur di Newcastle”), di mana mereka justru merindukan elemen yang hilang dari sistem sebelumnya (“sentuhan matahari dan pasir” – kejelasan, inspirasi).
Verse 3:
“Within the valley of shadowless death / They pray for thunderclouds and rain”: Dalam lingkungan pendidikan yang tanpa harapan dan tanpa perkembangan (“lembah kematian tanpa bayangan”), siswa dan pendidik berharap akan perubahan besar (“awan badai dan hujan”).
“But to the multitude who stand in the rain / Heaven is where the sun shines”: Namun, bagi mereka yang merasakan dampak buruk dari sistem yang kacau (ibarat berdiri di bawah hujan kebijakan yang buruk), “surga” adalah sistem yang adil dan memberikan pencerahan (“matahari bersinar”).
“The grass will be greener till the stems turn to brown / And thoughts will fly higher till the Earth brings them down”: Inisiatif dan ide-ide segar dalam pendidikan (“rumput yang lebih hijau,” “pikiran yang terbang tinggi”) pada akhirnya akan layu dan dibatasi oleh realitas sistem yang mengekang (“Bumi menurunkannya”).
“Forever caught in desert lands / One has to learn to disbelieve the sea”: Terjebak selamanya dalam sistem pendidikan yang tandus, individu harus belajar untuk tidak mempercayai janji-janji indah atau harapan palsu (“laut”) yang ditawarkan sistem.
Dari perspektif ini, “Mad Man Moon” menjadi alegori yang kuat tentang perjuangan individu dalam sistem pendidikan yang rusak, hilangnya harapan, dan penerimaan yang pahit terhadap keterbatasan yang ada. Liriknya menggambarkan siklus harapan yang pupus, janji-janji kosong, dan keinginan untuk menemukan makna di tengah kekeringan intelektual dan spiritual.
You must be logged in to post a comment.