Tiga Jam di Ma Chung

Kemarin saya mengajar tiga jam di Universitas Ma Chung. Saya sendiri yang meminta kesempatan itu kepada seorang teman yang mengajar di sana, karena saya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman. Mahasiswa bertanya, dan dari percakapan itu saya ikut belajar.

Saya teringat gagasan para eksistensialis. Manusia memberi arah pada hidupnya lewat pilihan dan tindakan. Mengajar adalah salah satu cara saya menjalani nilai yang saya pegang, yaitu berbagi pengetahuan dan belajar bersama orang lain.

Mahasiswa datang dengan semangat, dan tiga jam itu terasa berarti bagi saya. Saya pulang dengan rasa syukur. Semoga pertemuan itu berguna bagi mereka, seperti pertanyaan mereka berguna bagi saya.

Menghitung Sitasi, Kehilangan Ilmu

Setiap kali daftar World’s Top 2% Scientists terbit, humas kampus mengganti baliho. Rektor mengucapkan selamat, admin media sosial mengunggah foto dosen berlatar biru, dan pimpinan membacakan jumlah nama itu di pidato wisuda. Saya jarang mendengar pimpinan menjelaskan apa yang diukur daftar itu.

John Ioannidis dan rekannya menyusun daftar ini dari data sitasi Scopus milik Elsevier. Mereka menggabungkan jumlah sitasi, indeks-h, dan posisi penulis menjadi satu skor komposit, lalu mengurutkan ilmuwan per subbidang. Skor itu mencatat seberapa sering orang mengutip sebuah karya. Skor itu tidak mencatat apakah karya tersebut benar, berguna, atau mengubah pemahaman siapa pun. Ioannidis menulis banyak artikel tentang peneliti yang memanipulasi metrik, tetapi kampus kita membaca daftarnya seperti membaca klasemen liga.

Begitu kampus menjadikan sitasi mata uang, dosen belajar mencetaknya. Ada yang membentuk lingkaran saling kutip dengan kolega. Ada pula yang menitipkan nama di makalah orang lain atau memecah satu temuan menjadi lima artikel tipis. Charles Goodhart menggambarkan pola ini: orang yang dikejar target akan merusak ukuran yang menjadi dasar target itu. Ketika memasang baliho, kampus menyiarkan target tersebut kepada seluruh dosennya.

Mahasiswa doktoral ikut menanggung akibatnya. Mereka memilih pertanyaan penelitian yang cepat terbit. Dosen muda menghitung bahwa satu artikel memberi poin lebih besar daripada satu semester membimbing atau mengulang eksperimen yang hasilnya meragukan. Kepala laboratorium mengajukan pengadaan alat dengan janji jumlah publikasi, dan masalah yang sulit tetap tidak tersentuh. Lima tahun kemudian, kampus memiliki deretan nama di daftar dan hanya segelintir temuan yang masih dikutip karena isinya, bukan karena jaringannya.

Sitasi tetap berguna sebagai petunjuk awal tentang karya yang dibaca orang. Rektor, dekan, dan tim akreditasi perlu melangkah dari petunjuk itu ke karyanya sendiri. Tanyakan kepada setiap dosen tiga hal: temuan apa yang ia yakini benar dan bagaimana ia mengujinya. Jawabannya terlalu panjang untuk baliho. Senat bisa menampungnya dalam rapat evaluasi tahunan.

Niccolò Machiavelli dan Pengaruhnya

Saya membeli Il Principe karya Niccolò Machiavelli di Malang Center Point untuk mengisi waktu luang. Dari tempat jual buku saya pindah ke kafe dan mulai membaca. Beberapa bab kemudian, pikiran saya meninggalkan Firenze abad ke-16 dan berhenti di Orde Baru, pada sosok Ali Moertopo.

Machiavelli menulis untuk penguasa yang ingin mempertahankan negaranya: kapan ia perlu ditakuti, kapan ia perlu tampak murah hati, kapan ia harus bergerak diam-diam. Ali Moertopo mempraktikkan banyak nasihat itu. Lewat Operasi Khusus (Opsus), ia menggarap partai, ormas, dan tokoh politik dari belakang layar, dan Soeharto memegang kendali tanpa harus selalu tampil sebagai pihak yang menekan.
Ali Moertopo ikut merancang fusi sembilan partai menjadi dua pada 1973, di samping Golkar. Lewat konsep floating mass (massa mengambang), ia menjauhkan partai dari warga desa di luar masa kampanye. Orde Baru membanggakan ketertiban, tetapi ketertiban itu lahir dari kalkulasi intelijen dan rekayasa struktur sosial, jauh dari panggung formal.

Di kafe itu, saya membaca Machiavelli sebagai alat bedah. Ia menulis untuk pangeran Italia lima abad lalu, dan tulisannya membantu saya melihat cara Orde Baru membangun lalu menjaga kekuasaannya selama tiga dekade.

Berbagi Strategi Kolaborasi Riset di UIN

Kamis, 8 Oktober 2026, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) mengundang saya sebagai narasumber Workshop Strategi Kolaborasi Riset dan Kegiatan Akademik Internasional dengan Perguruan Tinggi QS 500. Di Gedung LPPM UIN Suska Riau, Pekanbaru, saya bertemu pimpinan fakultas, dosen, dan sivitas akademika yang sedang menyiapkan jejaring akademik internasional fakultas mereka.

Saya bercerita tentang pengalaman membangun kolaborasi riset, termasuk kerja sama yang melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Osaka University. Kemitraan itu tumbuh lewat banyak jalur: penelitian dan publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, seminar, dan pendampingan akademik.

Saya menyarankan peserta memulai dari tujuan yang jelas dan bidang keilmuan yang sejalan. Petakan calon mitra berdasarkan keahlian mereka dan riset yang bisa dikerjakan bersama. Setelah itu, bangun komunikasi, sepakati siapa mengerjakan apa, lalu susun tindak lanjut yang bisa diukur. Institusi juga perlu memberi dosen waktu dan sumber daya untuk meneliti.

Menurut saya, kerja sama yang awet berawal dari keikhlasan. Peneliti menunjukkan keikhlasan itu lewat sikap konsisten, empati, dan jujur kepada mitranya. Dari sikap itulah kepercayaan terbentuk, dan kepercayaan menopang hubungan akademik selama bertahun-tahun. Karena itu, setelah pertemuan pertama atau penandatanganan kesepakatan, kedua pihak perlu segera bergerak ke kegiatan nyata yang bermanfaat bagi mereka.

Terima kasih kepada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau atas undangan dan kesempatan berbagi. Saya berharap gagasan dari diskusi hari itu berlanjut menjadi riset bersama dan kegiatan akademik yang berkelanjutan.

Filsafat Realisme Akademik: Tinjauan Kritis atas Perilaku Organisasi Perguruan Tinggi

Tujuh prinsip perilaku tersebut merefleksikan dinamika struktural, budaya birokrasi, dan realitas akademis yang terjadi dalam ekosistem pendidikan tinggi.

1. People Follow Power, Not Principles (Dominasi Hierarki dan Regulasi)

  • Konteks: Kepatuhan civitas akademika lebih ditentukan oleh hierarki jabatan dan kebijakan birokrasi ketimbang idealisme kebebasan akademik. Kebijakan kementerian atau pimpinan kampus cenderung diikuti secara mutlak demi mengamankan posisi struktural dan legalitas institusi.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Power/Knowledge Relationship (Pengetahuan dan wacana kebenaran dibentuk serta dikendalikan oleh struktur kekuasaan).
  • Tokoh Filsuf: Michel Foucault & Niccolò Machiavelli.

2. Fear Drives More Than Love (Sistem Disiplin Administrasi)

  • Konteks: Kedisiplinan dosen dan mahasiswa lebih banyak digerakkan oleh ancaman sanksi daripada dorongan intrinsik mencintai ilmu. Ketakutan akan tidak lolosnya BKD (Beban Kerja Dosen), penurunan akreditasi, atau penundaan kelulusan menjadi pemacu utama kinerja.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Behaviorisme Positivistik (Perilaku manusia dan tatanan sosial dikendalikan melalui mekanisme stimulan ancaman dan hukuman).
  • Tokoh Filsuf: Thomas Hobbes & B.F. Skinner.

3. Self-Interest Wears Many Masks (Pragmatisme Tridharma)

  • Konteks: Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang secara wacana ditujukan untuk pembentukan peradaban sering kali didorong oleh insentif pragmatis, seperti pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU), angka kredit kenaikan pangkat, atau pencairan hibah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Egoisme Psikologis & Rational Choice Theory dalam filsafat ilmu sosial.
  • Tokoh Filsuf: Adam Smith & Jeremy Bentham.

4. Perception Rules Reality (Komodifikasi Peringkat dan Branding)

  • Konteks: Pencitraan publik melalui peringkat internasional dan perapihan dokumen akreditasi mendapat porsi perhatian serta anggaran lebih besar dibanding pembenahan substansi pembelajaran di ruang kuliah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Konstruktivisme Sosial & Anti-realisme (Realitas sosial lebih ditentukan oleh konstruksi persepsi dan simbol daripada kenyataan objektif).
  • Tokoh Filsuf: Jean Baudrillard (konsep Simulacra) & Paul Watzlawick.

5. Gratitude Is a Debt, Not a Bond (Relasi Patronase Akademik)

  • Konteks: Hubungan antara senior dan junior, atau pembimbing dan mahasiswa, kerap membentuk struktur utang budi yang membatasi independensi bersikap para akademisi muda.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Hermeneutika Kecurigaan (Hermeneutics of Suspicion) & Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).
  • Tokoh Filsuf: Friedrich Nietzsche & Marcel Mauss.

6. Respect Results, Not Effort (Kultus Output dan Publish or Perish)

  • Konteks: Sistem evaluasi perguruan tinggi menuntut bukti fisik yang terhitung secara kuantitatif (Publish or Perish). Dedikasi mengajar kurang diakui jika tidak menghasilkan luaran konkret berupa artikel terindeks, paten, atau kelulusan tepat waktu.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Pragmatisme & Instrumentalisme (Kebenaran dan nilai suatu tindakan ilmiah diukur semata-mata dari utilitas serta hasil praktisnya).
  • Tokoh Filsuf: William James & John Dewey.

7. Most People Are Easily Led (Budaya Paternalisme dan Konformitas)

  • Konteks: Kultur akademik yang paternalistik menyebabkan mayoritas mahasiswa dan dosen muda cenderung mematuhi arus utama pimpinan demi kepastian karier, sehingga menekan daya kritis.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Teori Kritis (Critical Theory) & Kritik Konformitas Epistemik.
  • Tokoh Filsuf: Theodor Adorno, Max Horkheimer, & Étienne de La Boétie.

Datuk Rajo Mangkuto: Ranji Keluarga dan Foto-Foto Keluarga Zaman Dulu

Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga. Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini.

Foto ini mengabadikan empat generasi dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Sitti merupakan generasi tertua yang masih hidup pada saat foto ini diambil. Ia tampak didampingi oleh anak, cucu, dan cicitnya, sehingga foto ini menjadi dokumentasi keluarga yang sangat berharga. Dari kiri ke kanan tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897) yang sedang memangku putrinya, Radias, Patimah (lahir 1878), serta Ripin (lahir 1903) yang menggendong anaknya, Ardanis. Sosok yang berada di ujung kanan foto merupakan suami Bidah.
Foto ini memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.
Patimah lahir 1878 dan meninggal dunia di Balai Mansiro tanggal 24 Nopember 1964.
Gambar sekitar tahun 1964: Patimah (duduk di tengah) bersama keluarga. Di sebelah kanan beliau ialah anaknya, Ripin, dan di sebelah kiri pula ialah anaknya, Rakiah.
Pemandangan deretan rumah gadang di Balai Mansiro, Payakumbuh pada era 1950-an. Rumah keluarga Datuk Rajo Mangkuto terletak di hujung sekali (no. 3). Daripada keseluruhan tujuh buah rumah gadang, hanya lima buah yang jelas kelihatan di dalam gambar ini.
Tangga masuk Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto pada sekitar tahun 1950-an. Tampak Ripin berdiri di bawah tangga, sementara Zamhir berdiri di sisi kanan Rumah Gadang. Di dekat tangga juga terlihat seorang anak kecil yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Foto ini mendokumentasikan bentuk asli tangga serta bagian depan Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto.
Foto Rakiah dan Nurani Djamil ketika mereka baru menikah tahun 1931.

Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.

Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.

Kartu yang bercerita

Lembaran-lembaran kertas kecil yang menyimpan perjalanan lebih dari 20 tahun. Dari seorang Lecturer hingga Professor, setiap kartu punya ceritanya sendiri tentang perjuangan, kegagalan, dan kesempatan. Terimakasih UTM atas memorinya, dan kini saatnya melanjutkan pengabdian di UM.

Menulis untuk merawat pendidikan tinggi

Saya menulis trilogi ini bukan karena saya merasa yakin sepenuhnya, melainkan karena saya merasa bertanggung jawab untuk tidak melewatkan hal-hal yang perlu dipikirkan dengan jujur. Ini adalah catatan refleksi dari seseorang yang berada di dalam sistem pendidikan tinggi dan masih ingin merawatnya. Saya menulis untuk memberi ruang agar pendidikan tinggi dapat berhenti sejenak dan memahami dirinya sendiri. Saya memilih menerbitkannya secara terbatas agar refleksi ini dapat dibagikan dan hidup sebagai dialog yang sehat.

Dari Bayangan ke Cahaya

Gua tempat kita memuja bayangan, ranking, akreditasi, sitasi, angka kredit. Semua tampak gemerlap, padahal yang kita tepuk tanganinya hanyalah pantulan dari cahaya yang jauh lebih sejati: makna ilmu itu sendiri.

Pagi di Graha Cakrawala kemaren, saya menyampaikan orasi ilmiah Dies Natalis ke-71 Universitas Negeri Malang. Judulnya “Dari Bayangan ke Cahaya.” Saya berbicara bukan tentang capaian, melainkan tentang kesadaran. Bukan tentang data, tapi tentang nurani.

Sayangnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tak bisa hadir dan diwakili oleh Prof. Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan.  Namun semangat yang beliau bawa melalui Saintek Berdampak justru mengalir di dalam teks orasi itu: bahwa sains bukanlah menara gading, ia harus turun ke tanah, menyentuh sawah, bengkel, sekolah, dan manusia.

Menyembah Bayangan

Plato, dua ribu tahun lalu, sudah memperingatkan kita. Manusia, katanya, hidup di dalam gua dan memuja bayangan di dinding, mengira itulah kebenaran. Sampai suatu hari, seseorang keluar, melihat cahaya, dan sadar: yang selama ini diyakini hanyalah refleksi.

Apakah kita, dunia akademik Indonesia, hidup dalam gua yang sama? Kita bangga dengan peringkat, sibuk dengan angka, gembira ketika akreditasi naik satu level.  Tapi jarang bertanya: apa yang sebenarnya berubah di ruang kuliah, di laboratorium, di masyarakat?

Kita mencatat kemajuan dalam tabel, tapi diam-diam kehilangan makna dalam tindakan. Ilmu menjadi prosedur, bukan pencerahan.

Pujian yang Menyentuh

Seusai orasi, ponsel saya tak berhenti bergetar. Pesan demi pesan berdatangan dari rekan, mahasiswa, alumni.

“MasyaAllah, daging semua, Prof.”
“Terima kasih, Prof, ini suara hati kami.”
“Saya tonton ulang videonya, ingin merenung lagi.”

Beberapa menulis dengan getir:

“Kita mengejar angka dengan semangat, sampai lupa bahwa itu bukan cerminan kualitas yang sesungguhnya.”

Yang lain berkata:

“Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia.”

Saya membaca semuanya pelan-pelan.  Dan saya sadar, kelelahan moral ini dirasakan banyak orang. Kita bekerja keras, tapi tidak selalu tahu untuk apa.

Universitas yang Menjadi Korporasi

Ada kenyataan yang tak nyaman diakui: universitas perlahan menjadi korporasi. Ilmu dikonversi menjadi angka kredit. Inovasi diukur dari jumlah paten, bukan perubahan sosial. Kita bicara mutu, tapi lupa makna.

Kita berlomba menjadi “unggul dan bereputasi”, tapi sering abai terhadap yang paling penting: kemanusiaan. Sains tanpa nurani hanya melahirkan sistem yang efisien, bukan kehidupan yang bermakna.

Dan di situlah saya khawatir: jangan-jangan kita sedang membangun universitas yang megah, tapi kehilangan jiwanya.

Lupa pada Akar

Seorang rekan menulis di grup diskusi: di kampus besar dunia, profesor hanya mengajar dua atau tiga SKS, dikelilingi mahasiswa doktoral dan peneliti muda yang bekerja penuh waktu. Humaniora tetap kuat, karena manusia tetap dianggap pusat dari ilmu. Di sini, sebaliknya: yang dasar kerap diremehkan, yang humanistik makin tersisih.

Kita lupa: modernitas bukanlah meniru, tapi memahami akar.  Dan akar pendidikan Indonesia sesungguhnya sederhana,  mendidik agar manusia menjadi manusia.

Keluar dari Gua

Ketika saya menutup orasi dengan kalimat, “Kita sedang berusaha keluar dari gua,” banyak yang menyalinnya kembali di status pribadi.

Mungkin karena kalimat itu terasa dekat. Setiap dari kita punya gua sendiri, gua rutinitas, gua sistem, gua kenyamanan. Cahaya, sering kali, bukan datang dari luar. Ia muncul ketika kita berani menatap bayangan sendiri, dan mengakuinya sebagai semu.

Makna yang Tumbuh dari Kejujuran

Universitas Negeri Malang kini berusia 71 tahun. Angka yang tak lagi muda, dan seharusnya cukup dewasa untuk berhenti mengejar bayangan. Kita perlu kembali pada hal yang paling sederhana tapi paling hakiki: ilmu yang menyala karena hati.

Sebab universitas bukan pabrik gelar. Ia taman akal dan nurani. Tempat di mana ilmu tidak hanya ditemukan, tetapi menghidupkan.

Dan mungkin, di tengah dunia akademik yang semakin bising oleh angka, yang kita butuhkan bukan lebih banyak penghargaan, tetapi lebih banyak kejujuran.

Karena keluar dari gua tak membutuhkan cahaya dari luar. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menatap bayangan, dan melangkah.

“Ilmu yang tercerabut dari kemanusiaan akan kehilangan cahayanya. Dan universitas yang lupa pada makna hanya akan menjadi dinding tempat bayangan berputar-putar.”

Perjalanan Saya Meraih Sertifikasi Dosen sebagai Profesor di Indonesia

Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.

Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.

Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:

“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”

Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.

Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.

Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.

Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:

“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”

Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS

Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.

Alhamdulillah.