Komersialisasi riset

Dengan dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini, saya teringat tulisan saya pada 7 Mei 2016 yang berjudul “Apakah sudah siap dan sanggup? yang saya tulis setelah membaca majalah Nature yang diterbitkan pada 5 Mei 2016. Saya pikir tulisan-tulisan dalam majalah ini perlu dibaca lagi karena sangat sesuai dengan tugas dari BRIN. Saya mendengar presentasi dari Dr. Agus Haryono beberapa waktu yang lalu mengenai apa yang akan dilakukan oleh BRIN. Saya melihat stateginya sudah tepat dengan langkah pertama adalah dengan memperkuat sumber daya manusia.

Sasaran strategis dari BRIN adalah meningkatnya produktivitas invensi dan inovasi untuk memperkuat transformasi ekonomi yang berdayasaing dan berkelanjutan adalah berujung kepada komersialisasi riset. Oleh karena itu, kerjasama antara universitas, industri, dan pemerintah adalah sangat penting, dan inilah peranan BRIN untuk mensinergikannya. Di bawah ini adalah tulisan dari editor yang saya sadur dari majalah Nature yang diterbitkan pada 5 Mei 2016 tersebut.

Universitas berada di bawah tekanan untuk memberikan nilai lebih untuk pengeluaran penelitian. Perusahaan menghadapi persaingan dalam mencari produk pendukung bisnis berikutnya. Dan pemerintah ingin ekonomi mereka tumbuh. Masing-masing sektor ini memiliki tujuan, budaya, dan kekuatannya sendiri, tetapi mereka terkunci bersama dalam pelukan sinergis yang mendorong dorongan untuk mengekstrak nilai komersial dari penelitian akademis.

Rasa haus akan pemahaman yang lebih lengkap dan lebih bernuansa tentang alam semesta adalah motivasi yang kuat untuk penelitian. Tetapi mengejar kesuksesan komersial juga merupakan pendorong yang menarik. Kemampuan kekuatan-kekuatan ini untuk berinteraksi dan memperkuat satu sama lain untuk mendorong kemajuan ilmiah. Universitas, industri dan pemerintah, masing-masing dengan tujuan, budaya, dan kekuatannya sendiri, terkunci bersama dalam pelukan sinergis yang mendorong dorongan untuk mengekstrak nilai komersial dari penelitian akademis. Perusahaan berada di bawah tekanan untuk menhasilkan produk yang mendukung bisnis mereka, dan universitas didorong untuk memberikan hasil untuk pengeluaran penelitian mereka. Akibatnya, institusi akademik meningkatkan kemampuannya untuk mentransfer ilmu ke sektor komersial. Banyak yang diasuh oleh pengusaha, dan, pada gilirannya, mendapat manfaat dari perusahaan spin-off yang mereka luncurkan. Terlepas dari kecepatan dan kemudahan komunikasi yang ditawarkan oleh Internet, para peneliti masih berkumpul dalam kelompok geografis, menunjukkan bahwa ada keuntungan dari kedekatan yang belum dapat diatasi oleh teknologi modern. Pemerintah dimotivasi oleh pertumbuhan ekonomi, yang tercermin dari status mereka sebagai penyandang dana utama ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun nilai ekonomi dari penelitian perlu menjadi bahan diskusi. Dan dengan meningkatnya ilmu pengetahuan yang didanai oleh orang superkaya, pemerintah mungkin menghadapi persaingan untuk keunggulan dalam pendanaan. Berbagai belahan dunia menghadapi tantangan yang berbeda. Terlepas dari kecakapan penelitian mereka, Cina dan Australia telah berjuang dengan terjemahan komersial, sedangkan Eropa masih perlu menyelaraskan kebijakan, kebiasaan, dan budaya bisnisnya dengan lebih baik dengan tujuan memanfaatkan hasil penelitian mutakhir secara efisien.

Semoga apa yang diusahakan oleh BRIN berhasil. Insya Allah.

Pandangan helikopter

Dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai dosen, saya selalu bertemu dengan orang-orang yang yang sempit pandangannya. Pandangan tersebut disempitkan oleh batasan ruang, waktu, ideologi, agama, dan lain sebagainya. Biasanya hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas.

Kita juga perlu melihat sesuatu dengan pandangan yang luas, yaitu apa yang disebut sebagai pandangan helikopter. Pemandangan helikopter hanya dapat dicapai jika seseorang itu mempunyai pemahaman yang dalam dan pengalaman yang luas. Dalam pendidikan profesional, seorang murid atau mahasiswa perlu belajar melihat melalui pandangan helikopter dari topik-topik yang mereka pelajari dengan tingkat spesialisasi yang tinggi. Dengan kata lain, seseorang akan menjadi generalis jika dia sudah menjadi spesialis.

Sumber: https://www.officeguycartoons.com

Pemandangan helikopter sangat membantu kita melihat gambaran yang lebih besar. Ketika kita berada di tengah-tengah proyek atau tugas, kita begitu dekat dan terlibat secara emosional sehingga menjadi sangat sulit untuk menjauhkan diri dari apa yang terjadi dan mendapatkan perspektif yang lebih luas. Walaubagaimanapun, kadang-kadang pemandangan helikopter dianggap sebagai terlalu luas untuk orang yang sangat konkret. Seorang pemimpin perlu memiliki pandangan helikopter ini.

My mentors and lecturers

A teacher affects eternity; he/she can never tell where his/her influence stops.

This blog was updated when I received news on my lecturers who passed away recently. I wrote on them in this blog; Prof. Dr. Susanto Imam Rahayu, Prof. Dr. Rochim Suratman, and Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno.

The following are the names of the lecturers and mentors who taught me when I studied at university. Some of my mentors and lecturers have passed away (this is the data I know).

Institut Teknologi Bandung (1987- 1995). Six and half years as an undergraduate (S.Si. in chemistry) and postgraduate student (M.T. in Materials Science and Engineering).

  • Prof. Ir. Tata Surdia
  • Prof. Ir. Ibrahim Sastramihardja ○
  • Prof. Dr. Waloejo Loeksmanto
  • Prof. Dr. Soekeni Soedigdo ○
  • Prof. Dr. Sjamsul Arifin Achmad
  • Prof. Dr. Oei Ban Liang ○
  • Prof. Dr. Noer Mansjoeriah Surdia (supervisor of M. Eng. project) ○
  • Prof. Dr. Muhammad Wirahadikusumah ○
  • Ir. Mathijs Stefanus Tupamahu, M.Sc. ○
  • Drs. Soejoto
  • Drs. Samyoeto, M.Si.
  • Drs. Rawuh ○
  • Drs. Ismono ○
  • Drs. Herman
  • Drs. Hasbuna Kifli, M.Sc.
  • Drs. Hadi Sutedjo ○
  • Drs. Budi Setiadi, M.A. ○
  • Drs. Hiskia Ahmad ○
  • Dra. Rubiah Kasa
  • Dra. Irawati
  • Dr. Tan Ik Gie ○
  • Dr. Susanto Imam Rahayu ○
  • Dr. Sadijah Ahmad ○
  • Dr. Purwo Arbianto ○
  • Dr. Mumu Sutisna
  • Dr. Muliawati
  • Dr. Ir. Rochim Suratman ○
  • Dr. Ir. Mardjono Siswosuwarno ○
  • Dr. Ir. Eddy Ariyono Subroto
  • Dr. Ir. Bambang Widyanto
  • Dr. Ing. Barnas Holil
  • Dr. Fadjar Harjanto
  • Drs. Detlev Naroso Hadisoebroto
  • Dr. Cynthia Linaya
  • Drs. Bunbun Bundjali
  • Dr. Buchari
  • Dr. Bambang Ariwahjoedi (supervisor of Master of Engineering project)
  • Dr. Aloysius Rusli

Universitas Padjadjaran (1988 – 1989). One year as an undergraduate student at the Faculty of Dentistry.

  • Drg. Dede Sutardjo
  • Drg. Maman Abdulrachman

Pusat Penelitian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (1990 – 1992). Two years as a final project student to carry out research on neutron activation analysis.

  • Dr. Harjoto Djojosubroto (final project supervisor)

Universiti Teknologi Malaysia (1995 – 1999). Four years as a Ph.D. student (Ph.D. in chemistry) and postdoctoral research fellow. One year as Research Fellow (May 2002 – May 2003). Since June 2003, was hired as Lecturer.

  • Prof. Dr. Halimaton Hamdan

Hokkaido University (1999 – 2002). Two and a half years as a JSPS postdoctoral research fellow and visiting researcher.

  • Prof. Dr. Bunsho Ohtani

Fountain pen

Walaupun saya bisa menulis langsung menggunakan komputer dan handphone, saya masih menggunakan buku dan kertas dalam menulis. Fountain pen, pena dengan reservoir atau kartrid dari mana tinta mengalir terus menerus ke ujung pena, adalah pena yang saya gunakan untuk menulis. Saya menggunakan LAMY Fountain Pen dan Iroshizuku ink.

Mengapa sombong?

Ada beberapa jawaban mengapa orang sombong dan suka pamer. Sukar untuk mengetahui pamer itu karena sombong. Mungkin enam jawaban di bawah ini adalah jawabannya. Motifnya bermacam-macam.

  • Untuk menarik perhatian orang yang membuat mereka merasa superior dan berkuasa.
  • Karena harga diri yang rendah. Oleh karena itu mereka memerlukan penampilan diri yang hebat.
  • Mekanisme bertahan hidup manusia yang seringkali tidak disadari. Dengan pamer, orang mencoba untuk meningkatkan status sosial mereka untuk meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.
  • Perasaan tidak aman karena orang tidak menganggap dirinya tidak penting. Dengan pamer, dia dia mencoba membuktikan bahwa dia adalah orang penting dan perlu diperhatikan.
  • Untuk menutupi kelemahan diri.
  • Memang perlu untuk keperluan pekerjaan. Contohnya sebagai artis dan pebisnis.

Perkataan sombong dan angkuh banyak ditemukan dalam Al Qur’an. Hindarilah dan buang jauh-jauh sifat sombong, karena ini adalah sifat iblis.

Mahasiswa proyek sarjana muda

Saya mengucapkan tahniah dan selamat kepada ketiga mahasiswa proyek sarjana muda saya di UTM, Wan Noor Azita Aini Wan Salleh, Wong Keh Li, dan Norhaninah Abdul Manan yang telah menyelesaikan presentasi proyek di bawah bimbingan saya selama dua semester pada hari ini. Selama satu tahun ini, banyak tantangan yang telah dilalui oleh mereka karena tidak bisa masuk laboratorium secara penuh. Walaubagaimanapun, mereka akhirnya berhasil menyelesaikan eksperimen sederhana di asrama dengan hanya menggunakan kamera handphone dan analisis data dengan menggunakan Fuzzy Logic Graph.

Mengapa kita tidak menyukai orang asing?

Saya telah menjadi orang asing di negara orang sejak tahun 1995, dan saya sering merasakan ketidaksukaan orang terhadap warga negara asing, terutama disebabkan oleh rasa iri atau cemburu.

Pada tahun 1992, Samuel Huntington, meramalkan benturan peradaban, konflik antara “kita dan “mereka” atau antara “saya” dan “orang lain.” Istilah “orang lain” adalah menggambarkan cara kita mencoba membangun identitas yang positif kepada diri kita sendiri dalam hubungannya dengan orang lain yang dianggap lebih rendah kedudukannya. Cara berpikir ini didasarkan pada dikotomi: laki-laki ↔ perempuan, manusia ↔ hewan, rasionalitas ↔ emosionalitas, dan kita ↔ orang lain. Dari sudut pandang psikoanalisis, kita harus mendefinisikan “orang lain” untuk mengembangkan diri. Kita membutuhkan orang lain untuk membedakan diri kita dari orang lain tersebut, dan juga untuk menegaskan keberadaan diri. Tanpa keberbedaan, pasti tidak akan ada opini dan juga konflik.

Pola dasar pembedaan antara “kami” dan “orang lain” mengambil berbagai bentuk: etnis (hitam ↔ putih), regional (utara ↔ selatan), nasional (Indonesia ↔ Amerika ), ideologis (liberal ↔ konservatif), agama (Muslim ↔ Kristen), seksual (pria ↔ wanita). Dikotomi yang dirasakan seseorang bukanlah masalah karena ini adalah perbedaan yang nyata. Masalahnya adalah bahwa perbedaan digunakan untuk menghakimi orang lain atau sekelompok orang, misalnya, orang tersebut menghakimi atas keunggulan peradaban satu dari yang lain dan menganggap orang lain tidak beradab. Hal ini juga berlaku ketika melihat orang lain berbeda dari kita, apakah itu lebih unggul atau lebih rendah dari kita. Walaubagaimanapun, sebagai Muslim, kita perlu merujuk kepada Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS 49:13)

Oleh karena itu, janganlah saling berbangga karena tingginya nasab, kedudukan, dan kekayaan, karena yang dapat dibanggakan adalah ketakwaan. Semoga Allah SWT melindungi kita dari godaan iblis dan gangguan manusia yang mempunyai sifat iblis.

Tawadhu’

tawadhu'.png

“Lihatlah dunia dengan cara menunduk, maka kamu termasuk orang yang bersyukur,” adalah prinsip dari sifat tawadhu’. Ciri-ciri orang tawadhu’ adalah sebagai berikut:

  • Suka tidak terkenal karena tidak senang dipuji.
  • Menerima kebenaran dari siapapun, baik dari orang yang terpandang maupun orang kedudukannya rendah.
  • Mencintai fakir miskin dan tidak malu bergaul bersama mereka.
  • Selalu bersedia menolong orang lain.

Prinsip melakukan penelitian ilmiah

Selama menjadi peneliti, saya melihat banyak para peneliti tidak mengikuti proses epistemologi dan juga metode penelitian yang baik sehingga hasil penelitian tersebut tidak berdampak kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di bawah ini ada sebelas prinsip yang perlu diperhatikan bagi sesiapa yang akan atau sedang melakukan penelitian ilmiah. Prinsip pertama, yaitu adab dan niat sebagai peneliti, adalah prinsip yang menjadi asas dari semua prinsip yang lain.

[1] Adab dan niat sebagai peneliti

Sebagai seorang Muslim, saya perlu merujuk kepada adab yang telah ditunjukkan oleh para ilmuwan Muslim suatu ketika dahulu, diantaranya adalah berkenaan dengan keperluan seorang peneliti atau ilmuwan untuk selalu merendah diri karana Allah SWT. Kata Imam al-Fudayl: “Barangsiapa yang merendah diri kerana Allah, maka akan dikaruniakan kepadanya hikmah atau kebijaksanaan daripada Allah.” Ini adalah kekuatan spiritual yang akan memberikan dampak kepada kualitas pemikiran.

[2] Kompetensi dan persiapan penelitian

Persiapan dan pelatihan dengan niat dan keinginan yang baik merupakan landasan yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Orang yang melakukan penelitian apapun spesialisasinya, harus melakukan dua hal: (1) orang tersebut harus mengenal prinsip-prinsip dan konsep-konsep dasar bidang yang ditekuni yang diperolehi dari pendidikan dan latihan, (2) berpijak pada bidang yang ditekuninya. Riset hanya akan dapat dilakukan dengan adanya peneliti, infrastruktur dan juga dana penelitian.

[3] Mengetahui bidang penelitian dan menguasainya

Adalah kewajiban setiap peneliti dalam bidang spesialisasi tertentu untuk mengetahui dimensi bidang di mana ia memunculkan dirinya sepenuhnya, sebelum ia mulai menulis tentang topik tersebut. Peneliti harus mengetahui dengan baik peneliti dan karya utama dari bidang yang diteliti. Peneliti perlu pengetahuan mendapatkan latihan dalam bidang yang diteliti.

[4] Riset ilmiah dan manfaatnya bagi kemanusiaan

Penting bagi peneliti untuk mengingat manfaat yang akan diperolehi dari hasil dari pekerjaannya, dan kontribusi yang akan diberikan oleh pekerjaannya. Apakah berkaitan dengan masalah umum atau khusus? mengatasi masalah yang ada, atau antisipasi? apakah hanya buang-buang waktu dan tidak memberikan manfaat?

[5] Penataan, pemetaan dan klasifikasi bidang penelitian yang tepat

Peneliti perlu menjelaskan pentingnya penataan dan pemetaan yang tepat dari bidang penelitian. Di antara hal-hal yang paling bermanfaat dalam bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga manfaat praktis untuk masyarakat. Pemilihan bidang penelitian bukan hanya tanggungjawab dari peneliti, tetapi juga oleh institusi yang mengarahkan bidang-bidang yang menjadi bidang tumpuan utama.

[6] Mengumpulkan informasi dengan kesadaran dan pemikiran sebelumnya

Awal dari setiap studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan penelitian yang bersangkutan, dan untuk mengetahui semua literatur yang relevan berdasarkan kekuatan dan kelemahannya, dan orientasi penulisnya. Walaubagaimanapun, peneliti harus berhati-hati dalam menelaah literatur karena jika salah interpretasi akan menyebabkan salah dalam mengambil kesimpulan.

[7] Menganalisis materi intelektual, urutan dan kerangka kerjanya

Setelah mengumpulkan materi, peneliti harus memeriksanya secara menyeluruh, berusaha untuk mendapatkan penilaian darinya, dan membingkainya dengan cara menyusunnya secara kronologi dengan memperhatikan pembentukan, perkembangan, dan perubahannya. Kerangka bekerja dalam penelitian perlulah mengikuti metodologi penelitian.

[8] Integritas ilmiah

Integritas ilmiah sangat penting, dan diharapkan peneliti dapat menjadi teladan kepada kebenaran dan integritas. Peneliti perlu meluruskan jika ada yang salah arah, dan menunjukkan di mana kesalahan tersebut. Peneliti harus berani menunjukkan kebenaran setiap saat.

[9] Pemahaman yang tepat dari teks dan menentukan artinya

Aspek lain dari integritas intelektual yang paling penting adalah masalah komitmen pada prinsip-prinsip untuk memahami teks dengan benar, dan menentukan maknanya dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Hal yang paling berbahaya dalam bidang pengetahuan adalah bahwa seseorang mengikuti keinginan dan pendapat subjektifnya sendiri. Pemahaman teks ini sangat penting terutama dalam bidang ilmu pengetahuan sosial seperti bidang politik dan sejarah karena jika pemahaman tidak tepat, dapat menyebabkan konflik dengan pihak-pihak tertentu.

[10] Mencari spesialis

Peneliti yang jujur ​​akan mengambil informasinya dari sumber asli dari spesialis yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Dalam dunia yang dibanjiri oleh hasil-hasil penelitian, kepercayaan kepada hasil-hasilnya kadangkala perlu merujuk kepada pakar dan spesialis pada bidang tersebut. Dengan tuntutan penerbitan hasil-hasil penelitian banyak hasil-hasil penelitian tidak dapat dipercaya, oleh karena itu kita perlu merujuk kepada spesialis.

[11] Kritik yang tidak memihak dan jujur

Kritik intelektual yang jujur ​​adalah ciri positif dari peneliti yang baik. Ini adalah tradisi intelektual yang perlu diteruskan dan dipelihara. Semangat kritik dan evaluasi menuntut agar hal itu dipraktikkan oleh peneliti sejati pada dirinya sendiri maupun orang lain.