Bodoh dan percaya diri

Pertanyaan setelah memperhatikan debat dalam sebuah acara di TV. Mengapa orang bodoh selalu merasa percaya diri dalam mempertahankan pendapat mereka?

Hal ini disebabkan karena orang yang bijak dan pandai memiliki rasa hormat dan menghargai apa yang tidak mereka ketahui. Orang bodoh tidak mempunyai ide terhadap apa yang mereka tidak ketahui. Mereka juga mempunyai pandangan yang sempit. Oleh karena itu, mereka nampak penuh percaya diri dalam mempertahankan pendapat mereka.

Wallahu’alam bishawab

Iqra

Huruf ‘ba‘ yang menggunakan ‘alif‘ (yang berwarna merah di bawah ini) dalam ayat pertama Surah Al-‘Alaq, merupakan kombinasi yang unik, dan bermakna sangat dalam. Dalam perkataan bismillahirrahmanirrahim, huruf ‘ba‘ tidak menggunakan ‘alif‘. ‘Alif‘ dalam ayat pertama Surah Al-‘Alaq menunjukkan proses pembelajaran (iqra) yang panjang, namun jika dilakukan karena Allah SWT, insya Allah akan dipermudahkan semua proses tersebut. Ini adalah isyarat bahwa hal yang dianggap mustahilpun dapat terjadi atas izin Allah SWT.  Dalam Al-Quran, bukan hanya satu ayat, satu hurufpun dalam maknanya. iqra.png

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (Surah Al-‘Alaq).

Tulisan ini terinspirasi dari ceramah Ustadz Adi Hidayat di Youtube.

Key performance indicator (KPI)

Saya sudah menjadi pensyarah selama 16 tahun dan sebelumnya 4.5 tahun sebagai postdoc. Selama postdoc di Hokkaido University pada tahun 1999 – 2002 saya tidak mengenal istilah Key Performance Indicator (KPI). Yang saya tahu adalah saya mesti melakukan riset dengan baik, dari membuat proposal, eksperimen, menulis laporan, presentasi dan memublikasikannya di jurnal ilmiah. Setiap hari Sabtu, walaupun adalah hari libur, kami melakukan diskusi mengenai hasil penelitian untuk mendapatkan data yang baik untuk menyelesaikan permasalahan penelitian. Selama saya postdoc, saya hanya menghasilkan 3 publikasi yang diterbitkan di jurnal ilmiah yang standar, Chemical Communications, Journal of Catalysis, dan Langmuir. Satu publikasi per tahun. Kalau saya tidak salah, istilah KPI menjadi gencar diperkenalkan sekitar tahun 2005, dan dipakai di dunia pendidikan tinggi di rantau ini sejak itu.

Pengamatan saya akhir-akhir ini, Key Performance Indicator (KPI) telah banyak disalahgunakan di dunia pendidikan tinggi. Dalam prakteknya, mengontrol Key Performance Indicator (KPI) cukup sulit karena juga berkaitan dengan indikator yang tidak dapat diukur. Moral adalah salah satu parameter yang tidak mungkin diukur. Oleh karena itu, KPI hanya dapat digunakan sebagai panduan kasar saja, dan tidak dapat digunakan sebagai ukuran kualitas yang tepat. Kadangkala, Key Performance Indicator (KPI) dapat memberikan penilaian yang salah terhadap kualitas sebenar dari sebuah pekerjaan, terutama dalam dunia pendidikan.

Data-data statistik yang digunakan kadangkala dapat memberikan pemahaman yang salah terhadap kemajuan dan seringkali juga diragukan. Sebagai contoh, jumlah publikasi di jurnal-jurnal ilmiah terbukti efektif dalam melihat keaktifan penelitian di sebuah universitas atau lembaga penelitian, tetapi ini menyesatkan ketika digunakan untuk mengukur tujuan akhir dari penelitian ilmiah tersebut, karena jumlah publikasi ilmiah tersebut tidak tergambar dari impaknya terhadap kemajuan sektor ekonomi dan juga industri, dan juga pembangunan manusia.

wisdom

Life in 2030

I find an interesting article discussing on life in 2030, which is unpredictable.

https://www.weforum.org/agenda/2017/11/life-in-2030-what-experts-cant-predict

  • Can we master greater connectivity?
  • Will we create more meaningful work?
  • Can trust and truth be revived?
  • How much can social and organizational innovation alleviate new problems?

I like the last statement of this article: “There is a long road ahead to 2030. There is a lot of opportunity to make the uncertain more certain.” At least, there are still people who are aware that there is a danger that will be faced in the future. This awareness is very important.

Kualitas pemikiran

Setiap hari saya selalu bertemu dan berbicara dengan orang. Di kampus, saya selalu berbicara dan berdiskusi dengan mahasiswa dan juga kawan-kawan sesama pensyarah atau dosen. Dengan mahasiswa, saya selalu mempengaruhi mereka untuk berpikir dan dan bertindak dengan baik.

Di bawah ini adalah gambaran bahwa kualitas pemikiran kita yang sangat dipengaruhi oleh kesadaran supra dan juga alam bahwa tidak sadar, yang berupa intuisi, kekuatan spritual, pengalaman masa lalu dan kebiasaan seseorang. Kesadaran supra akan memberikan inspirasi kepada kesadaran, dan alam bawah tidak sadar memberikan proyeksi kepada kesadaran dan pemikiran. Inspirasi adalah proses yang dirangsang secara mental untuk melakukan hal-hal yang kreatif. Suasana mental yang baik sangat diperlukan, dan ini mesti difasilitasi oleh suasana dan lingkungan yang kondusif.

kualitas pikiran .png

Namun, inspirasi dan proyeksi tidak akan berjalan dengan baik jika pikiran dan hati kacau, yang disebut sebagai mekanisme yang menghambat (inhibitory mechanism). Gangguan mental dan kesehatan adalah faktor yang menyebabkan hambatan ini.

Untuk mendapatkan kualitas pemikiran yang baik, kita mesti mempunyai kekuatan spritual dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Buang atau jauhi kebiasaan-kebiasaan yang buruk, karena secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pemikiran kita.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mengasah penalaran logika semata-maya tetapi juga mengasah kekuatan spiritual. Publikasi dari Gerd Gigerenzer di bawah ini dapat dirujuk. Dikatakan bahwa “intuition is the highest form of intelligence“.

Rujukan

https://www.forbes.com/sites/brucekasanoff/2017/02/21/intuition-is-the-highest-form-of-intelligence/#7e43b4c93860
Gerd Gigerenzer, “Gut Feelings: The Intelligence of the Unconscious”, Penguin (Non-Classics) (2008)

 

When education institutions are controlled by capitalist mindset, then manything will be assessed from commercialization …

[My twitter status on 5 May 2016 and seems still relevant today]