Tiga Dekade Berafiliasi dengan UTM

Tidak terasa, sejak pertama kali berafiliasi dengan UTM pada tahun 1995, lebih dari 30 tahun telah berlalu. Tahun 2026 ini menjadi tahun terakhir afiliasi formal saya dengan universitas yang telah memberikan begitu banyak pengalaman, pelajaran, persahabatan, dan kenangan berharga. Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut bersama UTM.

Lilac Seminar – Hokkaido 2001

The Lilac Seminar (Hokkaido Branch of Electrochemical Society of Japan) di Ōtaki Seminar House, Hokkaido tahun 2001. Pengalaman yang unik. Tidur di kamar bergaya asrama dengan 4 orang dalam satu kamar, lalu ngobrol sampai malam sambil bertukar cerita dengan para peserta. Kenangan yang tidak terlupakan. Saya ada di baris ketiga, paling kanan dari atas. Klik kondisi Ōtaki Seminar House yang sekarang sudah permanen ditutup dari Google Street.

Mentor dan Kampus yang Sibuk

Tulisan saya mengenai pengalaman membimbing mahasiswa baru saja diterbitkan. Nur, H. (2026). Future scholars: A reflective analysis of student mentorship in scientific research. In A. P. Wibawa et al. (Eds.), The world of life-based learning (pp. 205–218). Springer Nature. (DOI: https://doi.org/10.1007/978-3-032-16731-6_15).

Di kampus, kita sering lupa: pendidikan bukan sekadar gelar. Ia tumbuh dari perjumpaan antara guru dan murid, dari bimbingan yang sabar, dari percakapan yang menyalakan pikiran. Tulisan ini mengingatkan bahwa riset adalah jalan terjal. Penuh ragu, gagal, lalu mencoba lagi. Karena itu mahasiswa tak hanya perlu ilmu, tapi juga seorang mentor yang menunjukkan arah saat kabut datang. Namun kampus hari ini terlalu sibuk: angka, kuota, administrasi, dan kelas yang sesak. Hubungan manusiawi pelan-pelan diganti sistem. Maka pesannya sederhana: universitas jangan menjadi pabrik ijazah. Ia harus tetap menjadi tempat manusia bertumbuh.

Di bawah ini adalah infografik dari tulisan saya yang dibuatkan oleh ChatGPT.

Jejak di Sapporo

Desember 1999 menjadi bulan yang tak terlupakan bagi keluarga kami. Baru satu bulan kaki ini menapak di Sapporo langsung disambut salju. Saya datang sebagai JSPS Postdoctoral Fellow di Catalysis Research Center, Hokkaido University. Langkah besar dalam karier akademik saya.

Di tengah salju, saya berfoto bersama putra sulung saya, Farid Rahman Hadi, di depan apartemen kami (Blue Tree 226). Farid baru berusia 4 tahun. Foto ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan saksi bisu perjuangan di perantauan. Ada harapan besar yang sedang dipupuk di Sapporo yang membeku.

Ini lokasi foto di ambil dari depan apartmen yang beralamat di Blue Tree 226 [701], 2-27, Kita-Ku Kita 22 Jo Nishi 6 Chome, Sapporo-Shi, Hokkaido, 001-0022. https://maps.app.goo.gl/pNv1zJUmJC3oJpTD8

Usai menyelesaikan dua tahun masa tinggal di apartemen sebagai JSPS Postdoctoral Fellow, kami pindah ke Hokkaido University International House pada November 2001 menyusul penunjukan saya sebagai COE Visiting Researcher di Hokkaido University.

Foto di ambil dari depan rumah yang beralamat di Hokkaido University International House, 13-21-1, Kita-ku Kita 23-jo Nishi 13-chome, Sapporo-shi, Hokkaido, 001-0023. https://maps.app.goo.gl/NcXD35rs41oKCeJZ8

Memories of the year of Ibnu Sina Institute

Since our institute was founded in 1997, it has made a significant historical impact. Our rich and inspiring history invites you to immerse yourself in our past and envision our future. I left the institute on May 30, 2022, after being a part of it since 2002, totaling 20 years. You can explore our memories and progress through this 2020 yearbook of the institute. The building of this institute holds many stories. Numerous friends have come and gone, each leaving behind cherished memories.

Kenangan Sapporo: Postdoc Prof. Ohtani

Foto kenangan hampir 26 tahun lalu. Tepatnya saat saya dan keluarga tiba di Sapporo. Momen ini, yang diabadikan pada 24 November 1999, menunjukkan kami setelah dijamu makan malam oleh Prof. Bunsho Ohtani, mentor saya di Catalysis Research Center, Hokkaido University. Saat itu, saya baru tiba di Sapporo pada 2 November 1999, dengan putra saya, Farid (4 tahun), dan putri saya, Firda (5 bulan).

Prof. Ohtani kala itu baru setahun menjabat sebagai profesor, dan saya merupakan JSPS Postdoctoral Fellow di laboratoriumnya. Diskusi mingguan kami sangat intim dan terbatas, hanya dihadiri oleh Prof. Ohtani, Dr. Shigeru Ikeda (Instructor), Dr. Bonamali Pal (Postdoc), dan Noburu Sugiyama (Mahasiswa Master).

Saya mengawali masa kerja sebagai Postdoc selama dua tahun, dan melanjutkan pekerjaan di sana hingga tahun 2002 sebagai COE Visiting Researcher. Setelahnya, saya pindah dan melanjutkan karier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Perjalanan Saya Meraih Sertifikasi Dosen sebagai Profesor di Indonesia

Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.

Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.

Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:

“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”

Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.

Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.

Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.

Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:

“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”

Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS

Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.

Alhamdulillah.

Kebahagiaan seorang profesor

Sebagai seorang profesor, saya merasa perlu mendefinisikan kebahagiaan berdasarkan peran fungsional yang saya emban. Hal ini penting, karena pemaknaan kebahagiaan dalam konteks jabatan ini tentu berbeda apabila seorang profesor tidak menjalankan perannya secara utuh, misalnya, dalam kasus profesor yang tidak aktif secara akademik atau hanya menyandang gelar tanpa substansi. Kebahagiaan bagi seorang profesor, seorang intelektual yang hidupnya semestinya diwarnai oleh kegiatan riset, pengajaran, pemikiran kritis, dan refleksi mendalam, memiliki corak yang khas. Berikut ini adalah interpretasi konsep kebahagiaan yang diuraikan dari sudut pandang kehidupan seorang profesor:

“Kebahagiaan adalah hasil sinergi antara struktur otak, kimia otak, pengalaman, dan interpretasi makna”

1. Struktur otak

Profesor mengandalkan korteks prefrontal (penalaran tingkat tinggi) dan hipokampus (memori jangka panjang) dalam pekerjaannya. Struktur otak ini sangat aktif saat ia membaca, mengajar, atau meneliti, aktivitas yang bisa memberi kepuasan intelektual yang menjadi sumber kebahagiaan.

Interpretasi: Ketika seorang profesor berhasil menyelesaikan penelitian atau menginspirasi mahasiswanya, bagian otaknya yang menangani pencapaian dan hubungan sosial akan aktif, menghasilkan rasa bahagia yang dalam dan bermakna.

2. Kimia otak

Aktivitas seperti menemukan solusi dalam riset atau menerima pengakuan akademis dapat memicu dopamin (rasa pencapaian), oksitosin saat membimbing mahasiswa, dan serotonin dari stabilitas hidup yang dibangun lewat dedikasi jangka panjang.

Interpretasi: Bagi profesor, momen saat artikelnya diterbitkan di jurnal bergengsi atau melihat mahasiswa bimbingannya menjadi profesor bisa menyalakan pelepasan dopamin yang lebih kuat dibanding hadiah material.

3. Pengalaman

Kebahagiaan profesor juga bersumber dari kumpulan pengalaman bermakna: menjadi narasumber konferensi internasional, membangun relasi intelektual, atau mendampingi mahasiswa hingga wisuda.

Interpretasi: Setiap interaksi yang positif dengan mahasiswa atau kolega akan disimpan sebagai pengalaman emosional yang memperkaya rasa bahagia jangka panjang.

4. Interpretasi makna

Profesor cenderung melihat kehidupannya dalam bingkai kontribusi terhadap pengetahuan, bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia menafsirkan pekerjaannya sebagai bagian dari misi yang lebih besar.

Interpretasi: Meski lelah menghadapi revisi jurnal, profesor bisa tetap bahagia karena ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan intelektual yang berdampak.

“Otak bukan hanya mengenali kebahagiaan, tetapi juga dapat dilatih untuk menciptakan lebih banyak pengalaman bahagia melalui refleksi, relasi sosial, dan latihan kognitif”

5. Refleksi

Profesor sering merenungkan makna hidup, ilmu, dan peran sosial. Refleksi semacam ini, apalagi bila dituangkan lewat tulisan atau diskusi, memperkuat kesadaran diri dan mengokohkan rasa puas batin.

Interpretasi: Saat profesor menulis esai filsafat atau jurnal introspektif, ia sedang membangun struktur mental yang menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan batin.

6. Relasi sosial

Meski tampak individualistik, profesor juga merasa bahagia saat menjadi bagian dari komunitas akademik, mentoring mahasiswa, atau kolaborasi antar universitas.

Interpretasi: Diskusi mendalam dengan rekan sejawat yang sefrekuensi secara intelektual bisa menghasilkan rasa bahagia setara dengan momen rekreatif bagi orang lain.

7. Latihan kognitif

Karena otaknya terus “dilatih” lewat membaca, berpikir kritis, menulis, dan berdiskusi, profesor secara alami memiliki kebugaran mental tinggi yang mendukung keseimbangan emosional.

Interpretasi: Mempelajari teori baru atau mengajar topik kompleks bukan hanya memberi nilai akademik, tapi juga kesenangan batin dan mental reward.

Kesimpulan interpretatif

Kebahagiaan seorang profesor adalah bentuk kebahagiaan eudaimonik, yaitu rasa bahagia yang tumbuh dari makna, kontribusi, dan pencapaian intelektual. Ia tidak mengejar kebahagiaan sebagai tujuan, tetapi kebahagiaan datang sebagai efek samping dari hidup yang dijalani dengan kesadaran dan dedikasi tinggi.

Serba-serbi ujian doktor

Selama saya berkarir di dunia akademik saya telah menilai tesis Ph.D. dari beberapa Universitas, dan juga menghadiri ujiannya. Lain universitas, lain cara penilaian tesisnya. Saya bercerita sedikit mengenai tata cara penilaian tesis di Malaysia, Indonesia dan Kanada, yang pernah saya hadiri. Karena pengalaman saya menilai tesis hampir sama dengan yang ditulis di Wikipedia, maka tulisan tersebut saya modifikasi dan saya tambahkan dengan penilaian tesis Doktor di Indonesia.

Malaysia

Seperti model Inggris, mahasiswa Ph.D. atau M.Phil. diharuskan menyerahkan tesis atau disertasi mereka untuk diperiksa oleh dua atau tiga penguji. Penguji pertama berasal dari universitas yang bersangkutan, penguji kedua dan ketiga dari universitas lain, baik lokal maupun luar negeri. Pemilihan penguji harus disetujui oleh senat universitas. Di beberapa universitas negeri, kandidat Ph.D. mungkin juga harus menunjukkan sejumlah publikasi di jurnal akademik peer review sebagai bagian dari persyaratan. Ujian lisan dilakukan setelah penguji menyerahkan laporannya kepada pihak universitas. Sesi ujian lisan dihadiri oleh ketua ujian lisan, seorang pelapor dengan kualifikasi Ph.D., penguji pertama, penguji kedua dan terkadang penguji ketiga. Penilaian yang diberikan dapat menyebabkan mahasiswa memperbaiki tesis sampai satu tahun dan mengulang lagi ujian, bahkan ada yang diberikan gelar setingkat lebih rendah yaitu M.Phil. 
Ujian Doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Indonesia

Tahun pertama program Doktor lebih banyak akan fokus kepada penyusunan proposal riset yang akan diteliti dalam program doktor dimana akan diisi metodologi penelitian dan seminar riset tentang rencana penelitian mahasiswa. Kewajiban full time harus dilakukan dalam masa studi. Setelah lulus ujian kualifikasi (kandidat doktor), diisi dengan penelitian yang dievaluasi dalam setiap semester kemajuannya (dalam bentuk seminar dan presentasi internal). Pada tahapan ini mahasiswa diharapkan juga sudah berhasil memiliki publikasi dalam jurnal internasional dengan status diterima (full acceptance), sebagai salah satu syarat kelulusan dari kandidat doktor. Ada tiga ujian atau sidang yang perlu dilalui oleh kandidat doktor, yaitu ujian seminar, sidang tertutup, dan sidang promosi. Sama seperti di negara lain, format tipikal adalah kandidat memberikan presentasi singkat (20–40 menit) tentang penelitian mereka, diikuti dengan satu hingga dua jam pertanyaan. Ujian disertasi ini biasanya hanyalah formalitas, karena sepengetahuan saya, tidak pernah yang tidak lulus. 
Sidang promosi Doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kanada

Di Kanada, tesis atau pembelaan lisan adalah ujian akhir untuk kandidat doktor, dan terkadang untuk kandidat master. Komite penguji biasanya terdiri dari komite tesis, biasanya sejumlah profesor tertentu terutama dari universitas mahasiswa ditambah pembimbing utama mereka, seorang atau dua penguji eksternal  (seseorang yang tidak terkait dengan universitas), dan seorang ketua. Setiap anggota komite akan diberikan salinan lengkap disertasi sebelum ujian, dan akan datang untuk mengajukan pertanyaan tentang tesis. Di banyak universitas, ujian tesis master terbatas pada peserta ujian dan penguji, tetapi ujian doktoral terbuka untuk umum. Format tipikal adalah presentasi oleh kandidat selama 20–40 menit tentang penelitian mereka, diikuti dengan satu hingga dua jam pertanyaan. Ujian ini mirip dengan ujian di Malaysia dimana tesis dapat mengalami perbaikan yang signifikan, bergantung dari penilaian penguji. 
Ujian Doktor di Laval University, Kanada.