Kuliah Filsafat Sains

Sebagai dosen, menyaksikan diri sendiri dalam rekaman kuliah memang bisa jadi pengalaman yang penuh kejutan. Video ketika saya menyampai kuliah Filsafat Sains untuk mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM) kemaren, saya melihat diri saya penuh semangat, ekspresif, dan mungkin sedikit teatrikal? Tapi, setelah dipikir-pikir, ekspresivitas ini bukan hanya produk dari kebiasaan “overthinking” saya, tapi bisa jadi senjata ampuh untuk membuat mahasiswa tetap terjaga. Mungkin menjadi ekspresif adalah kunci untuk membuat teori-teori filsafat sains hidup, lebih dari sekadar kata-kata di slide. Jadi, mari kita anggap ini bukan berlebihan, tapi seni!

Wacana (selalu diperbarui)

Rangkaian catatan ini menyajikan opini dan perspektif terkait topik tertentu. Untuk membaca artikel lengkap dalam format PDF, silakan klik tautan.

  1. Publikasi, Tekanan, dan p-Value: Menggugat Budaya Signifikansi Statistik – 20 Agustus 2025 [PDF]
  2. Peringkat Universitas & Renjana – 14 Agustus 2025 [PDF]
  3. Ijazah yang Tak Tertulis – 30 Mei 2025 [PDF]
  4. Ketika Intelek Menjadi Tirani Nalar – 22 Mei 2025 [PDF]
  5. Filsafat yang Buruk Menghambat Kemajuan Ilmu dan Riset – 15 Mei 2025 [PDF]
  6. Hukum Termodinamika Kampus: Mengapa Perubahan Tak Kunjung Terjadi? – 13 Mei 2025 [PDF]
  7. Kecanggihan Boleh Digital, Tapi Akal Harus Tetap Analog – 7 Mei 2025 [PDF]
  8. Penerapan Konsep “Broken Windows” di Universitas – 27 April 2025 [PDF]
  9. Ilusi Keberhasilkan dalam Penelitian – 27 April 2025 [PDF]
  10. Peringkat Global dan Ilusi Kemajuan Akademik – 24 April 2025 [PDF]
  11. Mendefinisikan untuk Memaknai – 24 April 2025 [PDF]
  12. Semangat Hidup Universitas sebagai Fondasi Kemajuan dan Inovasi yang Harus Dipupuk dengan Kebijaksanaan – 13 April 2025 [PDF]
  13. Universitas yang Belajar, Bukan Hanya Menghitung – 4 April 2025 [PDF]
  14. Mengapa Kita Perlu The Nusantara Philosophy Book – 3 April 2025 [PDF]
  15. Kebahagiaan Seorang Profesor – 2 April 2025 [PDF]
  16. Berpikir dalam Riset: Antara Ilusi yang Menyesatkan dan Ketidaktahuan yang Mencerahkan – 2 April 2025 [PDF]
  17. Media dan Kekuasaan: Ketika “Tuhan Kedua” Dibungkam – 1 April 2025 [PDF]
  18. Ketika Ghibli Dijiplak oleh AI: Seni yang Kehilangan Relasi Manusiawi – 1 April 2025 [PDF]
  19. Dua Jenis Ketidaktahuan dalam Riset: Kebodohan Relatif dan Kebodohan Mutlak – 31 Maret 2025 [PDF]
  20. Penelitian yang Sesungguhnya: Antara Ilmu, Niat, dan Keberanian Menyelam – 29 Maret 2025 [PDF]
  21. Korupsi di Indonesia: Antara Masa Lalu yang Belum Berlalu – 29 Maret 2025 [PDF]
  22. Memilih Pemimpin Akademik: Menemukan Sistem yang Mewakili Mutu dan Integritas – 27 Maret 2025 [PDF]
  23. Mengganti Kerangka Bahasa untuk Meningkatkan Mutu Riset dan Pendidikan Tinggi – 26 Maret 2025 [PDF]
  24. Belajar dari Swiss, Singapura, dan China: Bisakah Indonesia Bangun Sistem Pendidikan Berkualitas? – 23 Maret 2025 [PDF]
  25. Tiga Tahap Karir Akademik: Ketika Waktu, Uang, dan Energi Tak Pernah Bertemu – 22 Maret 2025 [PDF]
  26. Sistem 1: Perspektif Psikologis di Balik Konten Absurd TikTok – 22 Maret 2025 [PDF]
  27. Universitas Kita Masih di Tahap Birokratis Tradisional – 21 Maret 2025 [PDF]
  28. Model Kepemimpinan Universitas – 21 Maret 2025 [PDF]
  29. Ilusi Dialog: Mengapa Komunikasi di Universitas Justru Lebih Sulit? – 20 Maret 2025 [PDF]
  30. Antara Ideologi, Sifat Manusia, dan Godaan Iblis: Mengapa Keadilan Sulit Ditegakkan? – 20 Maret 2025 [PDF]
  31. Prinsip-prinsip Etika Keilmuan – 17 Maret 2025 [PDF]
  32. Menjaga Etika Keilmuan: Belajar dari Dialog dengan Iblis – 17 Maret 2025 [PDF]
  33. Institusi Inklusif: Jalan Utama Indonesia Menjadi Negara Maju – 17 Maret 2025 [PDF]
  34. Menerapkan Strategi Perang Sun Tzu untuk Memerangi Pelanggaran Etika Akademik di Universitas – 16 Maret 2025 [PDF]
  35. Ekonomi Indonesia di Bawah Pemerintahan Prabowo: Analisis dan Warisan Era Jokowi – 15 Maret 2025 [PDF]
  36. Perguruan Tinggi Indonesia dari Aspek Kriteria Keunggulan Akademik – 14 Maret 2025 [PDF]
  37. Etika Keilmuan dalam Pengambilan Keputusan Akademik – 10 Maret 2025 [PDF]
  38. Pentingnya Memahami Perkembangan Ilmu: Belajar dari Revisi Teori Psikopatologi Freud – 9 Maret 2025 [PDF]
  39. Otakmu Bekerja Keras? Begini Cara Kerja dan Energi yang Dihabiskannya! – 9 Maret 2025 [PDF]
  40. Riset Tanpa Arah: Ketika Ilmuwan Dipaksa Berlari di Tempat – 7 Maret 2025 [PDF]
  41. Peran Imajinasi dan Realitas dalam Riset Sains dan Rekayasa – 5 Maret 2025 [PDF]
  42. Peta Survival Peneliti Akademik Muda: Hukum dan Prinsip Kenaikan Akademik – 3 Maret 2025 [PDF]
  43. Transformasi Kepemimpinan Indonesia: Dari Stabilitas ke Realisme dalam Kebijakan Nasional – 12 Nopember 2024 [PDF]
  44. Intelektual dengan Übermensch – 29 Oktober 2024 [PDF]
  45. Apakah Langkah Mencapai World Class University (WCU) Sudah Tepat? – 29 September 2024 [PDF]
  46. Kategorisasi Status Ekonomi Perguruan Tinggi – 16 September 2024 [PDF]
  47. Etika yang Terdesak: Ketika Riset Ilmiah Dipaksakan dalam Tenggat Waktu yang Tidak Realistis – 13 September 2024 [PDF]
  48. Mengoptimalkan Pendidikan Indonesia: Strategi Berbasis Kapabilitas Manusia dan Kesejahteraan Finansial – 4 September 2024 [PDF]
  49. Perspektif Holistik dalam Riset-riset Pendidikan – 18 Agustus 2024 [PDF]
  50. Empat Reformasi yang Dibutuhkan Indonesia dalam Pendidikan Tinggi – 5 Agustus 2024 [PDF]
  51. Pandangan Mengenai Penghapusan Penjurusan di SMA – 23 Juli 2024 [PDF]
  52. Dinamika Akulturasi Setelah Pulang ke Indonesia – 9 Juni 2024 [PDF]  
  53. Pendidikan Itu Adalah Kepercayaan: Menumbuhkan Kepercayaan dalam Dunia Pendidikan – 6 Juni 2024 [PDF]
  54. Tantangan dan Dilema dalam Implementasi Indikator Kinerja Utama di Perguruan Tinggi: Sebuah Tinjauan Kritis – 30 Mei 2024 [PDF] 
  55. Menggali Akar Masalah: Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Cengkeraman Keputusan Jangka Pendek – 24 Mei 2024 [PDF] 
  56. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 24 Mei 2024 [PDF]
  57. Universitas Padat Mahasiswa: Ancaman Nyata bagi Kualitas Pendidikan – 23 Mei 2024 [PDF]
  58. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis: Tantangan di Perguruan Tinggi – 22 Mei 2024 [PDF]
  59. Mengelola Berita Negatif di Era Informasi – 20 Mei 2024 [PDF]
  60. Pendidikan Tinggi Bukan Sekadar Pilihan, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atasi UKT Mahal – 19 Mei 2024 [PDF]
  61. Kepatutan Publikasi Ilmiah di Indonesia: Urgensi di Tengah Maraknya Kecurangan – 18 Mei 2024 [PDF]
  62. Pendidikan Tinggi di Indonesia: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif untuk Memenuhi Amanat Konstitusi – 16 Mei 2024 [PDF]
  63. Transformasi Holistik dalam Pendidikan: Membangun Institusi yang Inovatif dan Berkelanjutan – 18 Maret 2024 [PDF]
  64. Pahlawan Pemikir: Warisan Intelektual untuk Indonesia Maju – 15 Mei 2024 [PDF] 
  65. Pandangan Tentang Kompleksitas Ilmu Sosial: Perspektif Seorang Dosen Pembimbing – 14 Mei 2024 [PDF]  
  66. Melampaui Kosmos: Menjelajahi Keberadaan, Sains, dan Spiritualitas – 13 Mei 2024 [PDF]  
  67. Kritik dan Kemerdekaan: Menimbang Ulang Kebebasan Berekspresi dan Tata Kelola Pendidikan Tinggi – 12 Mei 2024 [PDF]
  68. Dampak Kapitalisasi Ilmu Pengetahuan pada Pendidikan Tinggi: Analisis Sosiologi Pengetahuan – 11 Mei 2024 [PDF]
  69. Tata Kelola Pendidikan Tinggi: Menuju Keadilan dan Pengembangan Manusia – 10 Mei 2024 [PDF]
  70. Filsuf: Pencipta Ide atau Pendorong Logika? – 9 Mei 2024 [PDF]  
  71. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 8 Mei 2024 [PDF]
  72. AI dan Keterbatasan Manusia: Mengapa Agama dan Filsafat Tetap Relevan – 7 Mei 2024 [PDF]
  73. Meningkatkan Keberdayaan Intelektual dengan Meniru Cara Berpikir Para Filsuf – 6 Mei 2024 [PDF]
  74. Membedah Multi-Dimensi Pembentukan Negara dan Alasan Perang: Sebuah Analisis – 5 Mei 2024 [PDF]
  75. Universitas yang Sudah Mapan: Berakar Kuat, Bebas dari Simbolisme Dangkal Pengakuan Eksternal – 28 April 2024 [PDF]
  76. Mencapai Universitas Unggul di Indonesia: Budaya, Strategi, dan Struktur – 27 April 2024 [PDF]
  77. Memperkaya Masa Depan Melalui Pendidikan Holistik: Wawasan dari Prof. Richard Robert Ernst – 26 April 2024 [PDF]
  78. Di Balik Angka: Mengevaluasi Kualitas Substantif Versus Pendekatan Superfisial dalam Pendidikan Tinggi – 25 April 2024 [PDF]
  79. Antara Keahlian dan Kredensial: Menggali Makna dan Misrepresentasi Gelar Profesional di Indonesia dan Jepang – 24 April 2024 [PDF]
  80. Kembali ke Akar: Meredefinisi Pendidikan untuk Melawan Keserakahan – 23 April 2024 [PDF]
  81. Memahami Pendidikan dan Iptek Melalui Lensa Sejarah: Studi Kasus Majapahit dan Oxford – 22 April 2024 [PDF]
  82. Media Sebagai Dewa: Perspektif tentang Pengaruh dan Bahaya Kepemilikan Media dalam Politik – 21 April 2024 [PDF]
  83. Melampaui Metrik: Membangun Perspektif Baru dalam Evaluasi Publikasi Ilmiah di Perguruan Tinggi – 20 April 2024 [PDF]
  84. Klasifikasi Universitas dan Karakteristiknya – 19 April 2024 [PDF]
  85. Strata Sosial dan Taksonomi Universitas: Refleksi Konteks Pendidikan Tinggi – 18 April 2024 [PDF]
  86. Prinsip Kepatutan dalam Publikasi Akademik: Standar Etika dan Integritas – 17 April 2024 [PDF]
  87. Di Balik Angka: Refleksi tentang Pemeringkatan Universitas dan Esensi Pendidikan – 12 April 2024 [PDF]
  88. Apa Tujuan Utama Pendidikan Tinggi? – 11 April 2024 [PDF]
  89. Mengatasi Prestasi Semu untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di Indonesia – 9 April 2024 [PDF]
  90. Kebijaksanaan dalam Memilih Sistem: Pelajaran dari Popper dan Plato untuk Politik Modern – 6 April 2024 [PDF]
  91. Demokrasi vs Otoritarianisme: Menelusuri Kepemimpinan Ideal dalam Paradoks Kepolitikan – 5 April 2024 [PDF]
  92. Mengatasi Noise dan Bias dalam Zaman Post-Truth: Penguatan Berpikir Kritis Melalui Pendidikan Tinggi – 4 April 2024 [PDF]
  93. Mempelajari Sejarah dengan Lensa Kritis: Sebuah Pendekatan Filosofis Terhadap Dekolonisasi Pengetahuan – 3 April 2024 [PDF]
  94. Revitalisasi Adab dan Hikmah dalam Pendidikan Tinggi: Strategi, Struktur, dan Budaya untuk Masa Depan yang Beretika – 2 April 2024 [PDF]
  95. Menavigasi Kehidupan: Prinsip Kebebasan, Kritikalitas, dan Adaptivitas – 6 April 2024 [PDF]
  96. Memilih Jalan Berat untuk Masa Depan Cerah: Kualitas versus Kuantitas dalam Pendidikan Tinggi – 1 April 2024 [PDF]      
  97. Menghindari Jalan Pintas dalam Pendidikan Tinggi: Integritas sebagai Pondasi Keberhasilan – 31 Maret 2024 [PDF]     
  98. Mengejar Bayangan Prestasi: Semiotika dan Kritik Filosofis terhadap Metrik dalam Publikasi Ilmiah di Indonesia – 28 Maret 2024 [PDF] 
  99. Evolusi Ilmu: Dari Mekanik ke AI, Perjalanan Pengetahuan Manusia dalam Sorotan Filsafat – 27 Maret 2024 [PDF] 
  100. Prinsip-prinsip Numerik Pythagoras – 26 Maret 2024 [PDF]  
  101. Memahami Perbedaan Budaya Riset Tinggi dan Rendah: Strategi untuk Perkembangan Ilmu Pengetahuan – 25 Maret 2024 [PDF]   
  102. Menelusuri Kerumitan Birokrasi: Menemukan Keseimbangan antara Efisiensi dan Humanitas dalam Pendidikan Tinggi Indonesia – 24 Maret 2024 [PDF] 
  103. Pendidikan sebagai Alat Pembebasan atau Komoditas? Sebuah Analisis Kritis terhadap Pengkelasan dalam Sistem Pendidikan – 23 Maret 2024 [PDF]   
  104. Ekonomisasi Sains: Risiko Dehumanisasi dalam Pendidikan dan Penelitian Ilmiah – 23 Maret 2024 [PDF]  
  105. Melampaui Ranking: Mencari Makna dan Kedalaman dalam Pendidikan Tinggi – 22 Maret 2024 [PDF] 

Video Spontan (sering diperbarui)

Kumpulan video ini menangkap pengalaman dan pengamatan sehari-hari saya terhadap hal-hal kecil tanpa proses penyuntingan. Momen-momen ini, meskipun terkadang tanpa tujuan, saya simpan sebagai kenangan dan pengingat bahwa setiap momen berharga layak untuk dinikmati.

Tiga Jam di Ma Chung

Kemarin saya mengajar tiga jam di Universitas Ma Chung. Saya sendiri yang meminta kesempatan itu kepada seorang teman yang mengajar di sana, karena saya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman. Mahasiswa bertanya, dan dari percakapan itu saya ikut belajar.

Saya teringat gagasan para eksistensialis. Manusia memberi arah pada hidupnya lewat pilihan dan tindakan. Mengajar adalah salah satu cara saya menjalani nilai yang saya pegang, yaitu berbagi pengetahuan dan belajar bersama orang lain.

Mahasiswa datang dengan semangat, dan tiga jam itu terasa berarti bagi saya. Saya pulang dengan rasa syukur. Semoga pertemuan itu berguna bagi mereka, seperti pertanyaan mereka berguna bagi saya.

Menghitung Sitasi, Kehilangan Ilmu

Setiap kali daftar World’s Top 2% Scientists terbit, humas kampus mengganti baliho. Rektor mengucapkan selamat, admin media sosial mengunggah foto dosen berlatar biru, dan pimpinan membacakan jumlah nama itu di pidato wisuda. Saya jarang mendengar pimpinan menjelaskan apa yang diukur daftar itu.

John Ioannidis dan rekannya menyusun daftar ini dari data sitasi Scopus milik Elsevier. Mereka menggabungkan jumlah sitasi, indeks-h, dan posisi penulis menjadi satu skor komposit, lalu mengurutkan ilmuwan per subbidang. Skor itu mencatat seberapa sering orang mengutip sebuah karya. Skor itu tidak mencatat apakah karya tersebut benar, berguna, atau mengubah pemahaman siapa pun. Ioannidis menulis banyak artikel tentang peneliti yang memanipulasi metrik, tetapi kampus kita membaca daftarnya seperti membaca klasemen liga.

Begitu kampus menjadikan sitasi mata uang, dosen belajar mencetaknya. Ada yang membentuk lingkaran saling kutip dengan kolega. Ada pula yang menitipkan nama di makalah orang lain atau memecah satu temuan menjadi lima artikel tipis. Charles Goodhart menggambarkan pola ini: orang yang dikejar target akan merusak ukuran yang menjadi dasar target itu. Ketika memasang baliho, kampus menyiarkan target tersebut kepada seluruh dosennya.

Mahasiswa doktoral ikut menanggung akibatnya. Mereka memilih pertanyaan penelitian yang cepat terbit. Dosen muda menghitung bahwa satu artikel memberi poin lebih besar daripada satu semester membimbing atau mengulang eksperimen yang hasilnya meragukan. Kepala laboratorium mengajukan pengadaan alat dengan janji jumlah publikasi, dan masalah yang sulit tetap tidak tersentuh. Lima tahun kemudian, kampus memiliki deretan nama di daftar dan hanya segelintir temuan yang masih dikutip karena isinya, bukan karena jaringannya.

Sitasi tetap berguna sebagai petunjuk awal tentang karya yang dibaca orang. Rektor, dekan, dan tim akreditasi perlu melangkah dari petunjuk itu ke karyanya sendiri. Tanyakan kepada setiap dosen tiga hal: temuan apa yang ia yakini benar dan bagaimana ia mengujinya. Jawabannya terlalu panjang untuk baliho. Senat bisa menampungnya dalam rapat evaluasi tahunan.

Niccolò Machiavelli dan Pengaruhnya

Saya membeli Il Principe karya Niccolò Machiavelli di Malang Center Point untuk mengisi waktu luang. Dari tempat jual buku saya pindah ke kafe dan mulai membaca. Beberapa bab kemudian, pikiran saya meninggalkan Firenze abad ke-16 dan berhenti di Orde Baru, pada sosok Ali Moertopo.

Machiavelli menulis untuk penguasa yang ingin mempertahankan negaranya: kapan ia perlu ditakuti, kapan ia perlu tampak murah hati, kapan ia harus bergerak diam-diam. Ali Moertopo mempraktikkan banyak nasihat itu. Lewat Operasi Khusus (Opsus), ia menggarap partai, ormas, dan tokoh politik dari belakang layar, dan Soeharto memegang kendali tanpa harus selalu tampil sebagai pihak yang menekan.
Ali Moertopo ikut merancang fusi sembilan partai menjadi dua pada 1973, di samping Golkar. Lewat konsep floating mass (massa mengambang), ia menjauhkan partai dari warga desa di luar masa kampanye. Orde Baru membanggakan ketertiban, tetapi ketertiban itu lahir dari kalkulasi intelijen dan rekayasa struktur sosial, jauh dari panggung formal.

Di kafe itu, saya membaca Machiavelli sebagai alat bedah. Ia menulis untuk pangeran Italia lima abad lalu, dan tulisannya membantu saya melihat cara Orde Baru membangun lalu menjaga kekuasaannya selama tiga dekade.

Berbagi Strategi Kolaborasi Riset di UIN

Kamis, 8 Oktober 2026, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) mengundang saya sebagai narasumber Workshop Strategi Kolaborasi Riset dan Kegiatan Akademik Internasional dengan Perguruan Tinggi QS 500. Di Gedung LPPM UIN Suska Riau, Pekanbaru, saya bertemu pimpinan fakultas, dosen, dan sivitas akademika yang sedang menyiapkan jejaring akademik internasional fakultas mereka.

Saya bercerita tentang pengalaman membangun kolaborasi riset, termasuk kerja sama yang melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Osaka University. Kemitraan itu tumbuh lewat banyak jalur: penelitian dan publikasi bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, seminar, dan pendampingan akademik.

Saya menyarankan peserta memulai dari tujuan yang jelas dan bidang keilmuan yang sejalan. Petakan calon mitra berdasarkan keahlian mereka dan riset yang bisa dikerjakan bersama. Setelah itu, bangun komunikasi, sepakati siapa mengerjakan apa, lalu susun tindak lanjut yang bisa diukur. Institusi juga perlu memberi dosen waktu dan sumber daya untuk meneliti.

Menurut saya, kerja sama yang awet berawal dari keikhlasan. Peneliti menunjukkan keikhlasan itu lewat sikap konsisten, empati, dan jujur kepada mitranya. Dari sikap itulah kepercayaan terbentuk, dan kepercayaan menopang hubungan akademik selama bertahun-tahun. Karena itu, setelah pertemuan pertama atau penandatanganan kesepakatan, kedua pihak perlu segera bergerak ke kegiatan nyata yang bermanfaat bagi mereka.

Terima kasih kepada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau atas undangan dan kesempatan berbagi. Saya berharap gagasan dari diskusi hari itu berlanjut menjadi riset bersama dan kegiatan akademik yang berkelanjutan.

Filsafat Realisme Akademik: Tinjauan Kritis atas Perilaku Organisasi Perguruan Tinggi

Tujuh prinsip perilaku tersebut merefleksikan dinamika struktural, budaya birokrasi, dan realitas akademis yang terjadi dalam ekosistem pendidikan tinggi.

1. People Follow Power, Not Principles (Dominasi Hierarki dan Regulasi)

  • Konteks: Kepatuhan civitas akademika lebih ditentukan oleh hierarki jabatan dan kebijakan birokrasi ketimbang idealisme kebebasan akademik. Kebijakan kementerian atau pimpinan kampus cenderung diikuti secara mutlak demi mengamankan posisi struktural dan legalitas institusi.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Power/Knowledge Relationship (Pengetahuan dan wacana kebenaran dibentuk serta dikendalikan oleh struktur kekuasaan).
  • Tokoh Filsuf: Michel Foucault & Niccolò Machiavelli.

2. Fear Drives More Than Love (Sistem Disiplin Administrasi)

  • Konteks: Kedisiplinan dosen dan mahasiswa lebih banyak digerakkan oleh ancaman sanksi daripada dorongan intrinsik mencintai ilmu. Ketakutan akan tidak lolosnya BKD (Beban Kerja Dosen), penurunan akreditasi, atau penundaan kelulusan menjadi pemacu utama kinerja.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Behaviorisme Positivistik (Perilaku manusia dan tatanan sosial dikendalikan melalui mekanisme stimulan ancaman dan hukuman).
  • Tokoh Filsuf: Thomas Hobbes & B.F. Skinner.

3. Self-Interest Wears Many Masks (Pragmatisme Tridharma)

  • Konteks: Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang secara wacana ditujukan untuk pembentukan peradaban sering kali didorong oleh insentif pragmatis, seperti pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU), angka kredit kenaikan pangkat, atau pencairan hibah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Egoisme Psikologis & Rational Choice Theory dalam filsafat ilmu sosial.
  • Tokoh Filsuf: Adam Smith & Jeremy Bentham.

4. Perception Rules Reality (Komodifikasi Peringkat dan Branding)

  • Konteks: Pencitraan publik melalui peringkat internasional dan perapihan dokumen akreditasi mendapat porsi perhatian serta anggaran lebih besar dibanding pembenahan substansi pembelajaran di ruang kuliah.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Konstruktivisme Sosial & Anti-realisme (Realitas sosial lebih ditentukan oleh konstruksi persepsi dan simbol daripada kenyataan objektif).
  • Tokoh Filsuf: Jean Baudrillard (konsep Simulacra) & Paul Watzlawick.

5. Gratitude Is a Debt, Not a Bond (Relasi Patronase Akademik)

  • Konteks: Hubungan antara senior dan junior, atau pembimbing dan mahasiswa, kerap membentuk struktur utang budi yang membatasi independensi bersikap para akademisi muda.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Hermeneutika Kecurigaan (Hermeneutics of Suspicion) & Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).
  • Tokoh Filsuf: Friedrich Nietzsche & Marcel Mauss.

6. Respect Results, Not Effort (Kultus Output dan Publish or Perish)

  • Konteks: Sistem evaluasi perguruan tinggi menuntut bukti fisik yang terhitung secara kuantitatif (Publish or Perish). Dedikasi mengajar kurang diakui jika tidak menghasilkan luaran konkret berupa artikel terindeks, paten, atau kelulusan tepat waktu.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Pragmatisme & Instrumentalisme (Kebenaran dan nilai suatu tindakan ilmiah diukur semata-mata dari utilitas serta hasil praktisnya).
  • Tokoh Filsuf: William James & John Dewey.

7. Most People Are Easily Led (Budaya Paternalisme dan Konformitas)

  • Konteks: Kultur akademik yang paternalistik menyebabkan mayoritas mahasiswa dan dosen muda cenderung mematuhi arus utama pimpinan demi kepastian karier, sehingga menekan daya kritis.
  • Landasan Filsafat Ilmu: Teori Kritis (Critical Theory) & Kritik Konformitas Epistemik.
  • Tokoh Filsuf: Theodor Adorno, Max Horkheimer, & Étienne de La Boétie.

Datuk Rajo Mangkuto: Ranji Keluarga dan Foto-Foto Keluarga Zaman Dulu

Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga. Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini.

Foto ini mengabadikan empat generasi dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Sitti merupakan generasi tertua yang masih hidup pada saat foto ini diambil. Ia tampak didampingi oleh anak, cucu, dan cicitnya, sehingga foto ini menjadi dokumentasi keluarga yang sangat berharga. Dari kiri ke kanan tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897) yang sedang memangku putrinya, Radias, Patimah (lahir 1878), serta Ripin (lahir 1903) yang menggendong anaknya, Ardanis. Sosok yang berada di ujung kanan foto merupakan suami Bidah.
Foto ini memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.
Patimah lahir 1878 dan meninggal dunia di Balai Mansiro tanggal 24 Nopember 1964.
Gambar sekitar tahun 1964: Patimah (duduk di tengah) bersama keluarga. Di sebelah kanan beliau ialah anaknya, Ripin, dan di sebelah kiri pula ialah anaknya, Rakiah.
Pemandangan deretan rumah gadang di Balai Mansiro, Payakumbuh pada era 1950-an. Rumah keluarga Datuk Rajo Mangkuto terletak di hujung sekali (no. 3). Daripada keseluruhan tujuh buah rumah gadang, hanya lima buah yang jelas kelihatan di dalam gambar ini.
Tangga masuk Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto pada sekitar tahun 1950-an. Tampak Ripin berdiri di bawah tangga, sementara Zamhir berdiri di sisi kanan Rumah Gadang. Di dekat tangga juga terlihat seorang anak kecil yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Foto ini mendokumentasikan bentuk asli tangga serta bagian depan Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto.
Foto Rakiah dan Nurani Djamil ketika mereka baru menikah tahun 1931.

Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.

Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.

Tiga Dekade Berafiliasi dengan UTM

Tidak terasa, sejak pertama kali berafiliasi dengan UTM pada tahun 1995, lebih dari 30 tahun telah berlalu. Tahun 2026 ini menjadi tahun terakhir afiliasi formal saya dengan universitas yang telah memberikan begitu banyak pengalaman, pelajaran, persahabatan, dan kenangan berharga. Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut bersama UTM.

Buku Trilogi Ilusi Kemilau Pendidikan Tinggi

Trilogi buku ini mengkritik ilusi kemilau pendidikan tinggi yang sering diselimuti angka dan metrik. Melalui pendekatan reflektif, buku-buku ini menantang rutinitas birokratis, standar kuantitatif yang kaku, dan budaya pencitraan yang mengabaikan substansi. Trilogi ini menegaskan kembali pentingnya tiga fondasi kehidupan akademik: etika yang kuat, keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran, dan tanggung jawab intelektual dalam mencari makna pengetahuan, keadilan, serta peran manusia dalam pendidikan.

Lilac Seminar – Hokkaido 2001

The Lilac Seminar (Hokkaido Branch of Electrochemical Society of Japan) di Ōtaki Seminar House, Hokkaido tahun 2001. Pengalaman yang unik. Tidur di kamar bergaya asrama dengan 4 orang dalam satu kamar, lalu ngobrol sampai malam sambil bertukar cerita dengan para peserta. Kenangan yang tidak terlupakan. Saya ada di baris ketiga, paling kanan dari atas. Klik kondisi Ōtaki Seminar House yang sekarang sudah permanen ditutup dari Google Street.

Memanusiakan Manusia

Video kuliah etika keilmuan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, refleksi kritis terhadap sistem pendidikan melalui gagasan Paulo Freire dalam bukunya, Pedagogy of the Oppressed. Terdapat dua paradigma utama: paradigma positivistik-manajerial yang cenderung melihat pendidikan sebagai “sistem perbankan” (banking concept) dan paradigma Freirean yang mengedepankan dialog, kesadaran kritis, dan pembebasan subjek didik.