Datuk Rajo Mangkuto: Ranji Keluarga dan Foto-Foto Keluarga Zaman Dulu

Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga. Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini.

Foto ini mengabadikan empat generasi dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Sitti merupakan generasi tertua yang masih hidup pada saat foto ini diambil. Ia tampak didampingi oleh anak, cucu, dan cicitnya, sehingga foto ini menjadi dokumentasi keluarga yang sangat berharga. Dari kiri ke kanan tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897) yang sedang memangku putrinya, Radias, Patimah (lahir 1878), serta Ripin (lahir 1903) yang menggendong anaknya, Ardanis. Sosok yang berada di ujung kanan foto merupakan suami Bidah.
Foto ini memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.
Patimah lahir 1878 dan meninggal dunia di Balai Mansiro tanggal 24 Nopember 1964.
Gambar sekitar tahun 1964: Patimah (duduk di tengah) bersama keluarga. Di sebelah kanan beliau ialah anaknya, Ripin, dan di sebelah kiri pula ialah anaknya, Rakiah.
Pemandangan deretan rumah gadang di Balai Mansiro, Payakumbuh pada era 1950-an. Rumah keluarga Datuk Rajo Mangkuto terletak di hujung sekali (no. 3). Daripada keseluruhan tujuh buah rumah gadang, hanya lima buah yang jelas kelihatan di dalam gambar ini.
Tangga masuk Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto pada sekitar tahun 1950-an. Tampak Ripin berdiri di bawah tangga, sementara Zamhir berdiri di sisi kanan Rumah Gadang. Di dekat tangga juga terlihat seorang anak kecil yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Foto ini mendokumentasikan bentuk asli tangga serta bagian depan Rumah Gadang Datuk Rajo Mangkuto.
Foto Rakiah dan Nurani Djamil ketika mereka baru menikah tahun 1931.

Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.

Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.