An unfinished story of me

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Surat Ar-Ra’d Ayat 26)

Sungguh kehidupan di dunia ini terasa singkat, tidak sanggup saya mengingat secara detail perjalanan hidup yang hampir 49 tahun ini (Februari 2018). Saya coba mengingat lagi kenangan lama, hanya sedikit sekali dan tidak sampai beberapa jam untuk mengingat perjalanan hidup yang hampir setengah abad ini, pertanda hidup ini sangat singkat.*

* Pengecualian untuk Kim Peek, yang bisa mengingat semuanya karena neuronnya membuat koneksi yang tidak biasa karena tidak adanya corpus callosum dalam otak beliau. Ini yang menyebabkan peningkatan kapasitas memori yang luar biasa dari otak Kim Peek.

Perjalanan hidup saya dapat dibaca di website berikut ini:

https://hadinur.net/category/sejarah-hidup/

Karena tidak pernah selesai ditulis, maka saya namakan “An unfinished story of me: Unofficial and incomplete autobiography”. Saya usahakan melengkapkannya dari waktu ke waktu. Catatan ini saya mulai dengan kronologi hidup bapak saya yang sempat saya catat. Bahagian akhir adalah catatan mengenai perjalanan haji saya dan istri pada tahun 2016. Sejarah yang tidak pernah dilupakan.

cropped-image_539079490860905.jpg

Bapak – Nur Anas Djamil

Perjalanan hidup saya tidak terlepas dari perjalanan hidup orang tua, karena merekalah yang membentuk hidup saya. Ini sebahagian dari sejarah hidup bapak yang sempat saya catat.

Nama Bapak adalah Nur Anas Djamil. Bapak dari bapak atau datuk saya, Nurani Djamil, yang lahir di Payakumbuh pada tahun 1900 adalah seorang guru. Beliau fasih berbahasa Arab. Di bawah ini adalah foto beliau (paling kanan sedang memegang tongkat), ketika beliau sekolah di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi tahun 1926.

16707405_10212443687986413_655385854193355333_o

PAYAKUMBUH 1931 – 1950
1931 Lahir di Balaimansiro, Payakumbuh pada 17 Oktober 1931 dari pasangan Nurani Djamil dan Rakiah.
1936 – 1937 Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal (Muhammadiyah), Kubang, Payakumbuh
1938 – 1942 Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Persatuan Guru Indonesia, sekolah swasta sampai kelas empat di kota Payakumbuh. Tahun 1942 penjajah Jepang masuk ke Payakumbuh dan kembali ke Balaimansiro.
1942 – 1944 Sekolah sambungan di Dangung-dangung (setingkat Sekolah Dasar) dan kembali duduk kembali di kelas empat  sampai tamat kelas lima. Menerima ijazah.
1945 – 1946 Madrasah Mahad Islami (sekolah agama) di kota Payakumbuh, Ibtidaiyah dan langsung masuk kelas tiga.
1947 – 1948 Tsanawiyah Muhammadiyah, Kubang. Langsung masuk kelas empat.
1949 Anggota Tentara Pelajar Gapeda Payakumbuh Utara.
1949 Madrasah Aliyah Kulliyatul Muballighihen, Payakumbuh. Belanda kembali menjajah dan perang dengan Belanda kembali bermula, dan pulang kembali ke kampung di Balaimansiro.
1948 – 1950 Tinggal di kampung Balaimansiro dan bersekolah darurat di Kubang. Kota-kota penting dikuasai oleh Belanda.
PADANG PANJANG  1950 – 1953
1950 – 1953 Masuk Mu’allimin ‘Ulya, Sekolah Guru Agama Atas (SGAA) di Padang Panjang, sampai tamat.
Yogyakarta  1953 – 1962
1953 – 1954 Sekolah persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), Yogyakarta. Tahun 1955 mendapat beasiswa ikatan dinas sampai tamat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, dan bebas memilih pekerjaan setelah tamat sebagai pegawai negeri.
1957 – 1958 Pengurus Senat Mahasiswa PTAIN Yogyakarta.
1955  Anggota pendiri organisasi Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI).
1955 – 1957 Anggota pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), Yogyakarta.
1955 – 1960 Sekretaris dan Ketua Redaksi majalah mahasiswa Criterium Yogyakarta.
1954 – 1962 Kuliah di PTAIN sampai mendapat ijazah Doctorandus atau Drs.
1959 Menikah dengan Sofiah Djamaris di Yogyakarta. Akad nikah dilaksanakan di Jalan Sindunegaran 18, dan resepsi pernikahan di asrama PTAIN Jalan Sumbing 6, Yogyakarta.
1960 Hamda Nur, anak pertama lahir di Semarang pada 31 Oktober 1960.
PADANG 1963 – 1966
1963 – 1966 Pulang ke Padang, setelah keluar Surat Keputusan menjadi dosen di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Andalas (UNAND). Pengurusan surat ini dilakukan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, dan suratnya keluar tiga hari setelah diurus. Sebelumnya gagal dalam ujian masuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut  (TNI-AL) di Jakarta pada tahun 1962. Awal Januari 1963 langsung mengajar Pendidikan Agama Islam di UNAND.
1964 – 1966 Anggota pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.
1965 – 1966 Dekan Fakultas Adab, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
BUKITTINGGI 1966 – 1974
1966 Hamdi Nur, anak kedua lahir di Padang pada 14 Februari 1966.
1966 – 1967 Ditugaskan sebagai Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP di Bukitinggi. Rektor pada waktu itu adalah Prof. Dr. Isjrin Noerdin dan Dekan FKSS adalah Jacub Isman, M.A.
1967 – 1969 Ketua Jurusan Bahasa Arab di FKSS IKIP. Karena tidak ada dosen dan peluang kerja yang sukar bagi lulusan, Jurusan Bahasa Arab di FKSS IKIP terpaksa ditutup.
1969 Hadi Nur, anak ketiga lahir di Bukittinggi pada 6 Mei 1969.
1969 – 1971 Dekan FKSS IKIP di Bukittinggi. Salah satu tugas yang diemban adalah mengurus pembebasan tanah untuk pembangunan kampus IKIP di Bukitinggi. Namun tidak berhasil. Hal ini juga disebabkan oleh kelalaian dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
1971 Huseini Nur, anak ketiga lahir di Bukittinggi pada 23 Maret 1971.
1967 – 1974 Ketua Mesjid Raya Bukittinggi. Jabatan ini atas persetujuan H. Mansoer Daoed Dt. Palimo Kayo, ulama terkemuka Indonesia asal Sumatera Barat dan pernah pernah ditugaskan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Irak.
1973 – 1975 Pembantu Dekan bidang Keuangan di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP. Tahun 1974 pindah ke Padang.
PADANG 1974 – SEKARANG
1974 – 2001 Dosen Pendidikan Agama Islam di IKIP Padang, Universitas Andalas dan Universitas Bung Hatta (sejak tahun 1981).
1975 – 1976 Menjadi peserta di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LEKNAS-LIPI) di Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) yang diketuai oleh Dr. Alfian selama satu tahun.
1976 – 1977 Melakukan penelitian dengan topik “Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat” yang dibiayai oleh LEKNAS-LIPI. Penelitian ini adalah penelitian grounded theory yang mengacu pada seperangkat metode induktif yang sistematis untuk melakukan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk pengembangan teori.
1984 – 1990 Pindah ke Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Padang dan menjadi Ketua Jurusan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU).
1987 – 1998 Anggota pengurus Islamic Center, Sumatera Barat.
1991 – 1996 Anggota Dewan Penasehat ICMI Korwil, Sumatera Barat.
1993 – 1994 Ketua Ruang Pendidik Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayutanam, Padang Pariaman.
1995 – 2000 Ketua Umum, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Sumatera Barat.
2000 – 2020 Penasehat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Sumatera Barat.
1996 – 2001 Ketua Dewan Mesjid Indonesia, Sumatera Barat.
1996 – 2001 Ketua Komisi Majlis Ulama Indonesia, Sumatera Barat.
1991 Diangkat menjadi Profesor dalam bidang Islamologi di IKIP Padang.
2001 Pensiun dari IKIP Padang pada umur 70 tahun.
2010 – 2015 Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah, Muhammadiyah Sumatera Barat.
2012  Pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Sumatera Barat.

* belum mendapat informasi tahun berapa.

Bani Nurani Djamil

Alhamdullilah, keluarga besar datuk saya, Nurani Djamil hampir setiap tahun berkumpul. Saya mengikuti beberapa acara kegiatan silahurahmi teresebut, diantaranya di Jakarta pada tahun 2009 dan di Payakumbuh pada tahun 2013.

Di bawah ini adalah foto-foto acara silahturahmi di Jakarta pada 20 Nopember 2009. Cukup ramai yang hadir.

DSC_9916

Acara silahturahmi Bani Nurani Djamil telah terlaksana dengan baik pada 28 Juli 2013 di Padangtugayek, Payakumbuh, dengan kehadiran keluarga besar (termasuk anak-cucu dan cicit) sebanyak 58 orang (dari keturunan Nurani Djamil= 44 orang, dari keluarga “Kasimah”= 13 orang, dari pihak “bako”=1 orang). Pada acara silaturahmi, hadir enam dari delapan anak Nurani Djamil yang masih hidup (Nur Anas Djamil, Nur Inas Djamil, Nur Animar Djamil, Nur Sani Djamil, Nurninth Djamil dan Nurnis Djamil). Nama mushola yang dibangun oleh keluarga Nurani Djamil ditetapkan menjadi “Langgar Bani Nurani Djamil”.

IMG_0194

Keluarga Bapak di Malaysia

Sebahagian keluarga Bapak juga ada tinggal di Malaysia. Di bawah ini adalah sebahagian dari silsilah Tengku Hitam dan dua urang anaknya, Haji Yunus dan Haji Ismail. Silsilah ini adalah tulisan tangan Bapak yang diberikan kepada saya sebelum saya berangkat ke Malaysia tahun 1995.

salsilah.png

Hubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail yang terputus telah dipertalikan kembali oleh Djamil Datuk Bijo yang datang ke Padang Sebang pada sekitar tahun 1920-an bersama anaknya Nurullah. Nurani Djamil, anak Djamil Datuk Bijo datang ke Padang Sebang pada tahun 1942 ketika penjajahan Jepang. Perhubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail dimulai dengan hubungan surat menyurat antara ayah saya, Nur Anas Djamil, dengan Makcik Nyonya pada tahun 1960-an berdasarkan catatan silsilah yang ditulis oleh Nurani Djamil. Datuk saya, Nurani Djamil (lahir tahun 1901), adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek, di Bukittinggi, dan merupakan senior Buya Hamka ketika beliau belajar disana.

Tengku Hitam, ayah dari Haji Yunus dan Haji Ismail, meninggal dunia dan dimakamkan di Mungka, Payakumbuh, Sumatera Barat. Haji Yunus dan Haji Ismail, menurut catatan Nurani Djamil meninggal dan dimakamkan di Paya Rumput, Melaka, Malaysia. Namun lokasi makam mereka yang tepat tidak diketahui.

Saya mengunjungi saudara di Padang Sebang pertama kali pada tahun 1995. Insya Allah hubungan silahturahmi antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail ini dapat berlangsung dengan baik.

Foto Djamil Datuk Bijo (kanan) dan anaknya Nurani Djamil (kiri). Djamil Datuk Bijo pernah berkunjung ke Padang Sebang bersama anaknya Nurullah pada tahun 1920-an. Nurani Djamil pernah menetap di Padang Sebang selama beberapa bulan pada tahun 1942. Foto di atas diambil tahun 1935.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang tahun 1995. Pada waktu itu saya adalah mahasiswa program PhD di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Johor Bahru, Malaysia

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 8 Desember 2008.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 13 Agustus 2013.

Foto ketika berkunjung ke rumah Makcik Nyonya di Kuala Lumpur pada 13 Agustus 2013. Dalam foto ini — saya, yang berdiri disebelah kiri, Dr. Rizal Sani, yang berdiri sebelah saya, dan Dr. Erhamwilda yang bertudung merah — adalah cucu dari Nurani Djamil.

Kronologi saya

portrait

BUKITTINGGI 1969 – 1974
1969 Born in Bukittinggi, West Sumatera, on May the 6th. Father was Dean of Faculty of Literature and Arts Teaching, Institute of Teacher Training and Education (IKIP – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) in Bukittinggi (now State University of Padang), Indonesia, 1969 – 1971.
PADANG 1974 – 1987
1974 Parents move to Institute of Teacher Training and Education in Padang.
1974 – 1976 Kindergarten PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Padang.
1976 – 1981 1st – 5th grade, Sekolah Dasar PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Padang.
1981 – 1984 1st – 3rd grade, SMP Adabiah Padang, West Sumatera (secondary school).
1984 – 1987 1st – 3rd grade, SMA 3 Padang, West Sumatera (senior high school).
BANDUNG 1987 – 1995
1987 – 1992 Undergraduate student of Department of Chemistry, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Failed to enter Department of Mechanical Engineering, the Institut Teknologi Bandung (ITB) as an undergraduate student, but fortunately entered Department of Chemistry ITB as the second choice of the entrance examination (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru).
1988 Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, 1988 – 1989. Failed to finish his study at Faculty of Dentistry, Universitas Padjadjaran (UNPAD). Dropout in the second semester. Unable to study in two universities, UNPAD and ITB at the same time.
1993 Married to Terry Terikoh, on April the 26th.
1993 – 1995 Master of Engineering student of Materials Science and Engineering Program, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Graduated with Cum Laude. Finish in 1.5 years.
1995 Failed to get a scholarship from Indonesian government (University Research for Graduate Education scholarship) although already accepted as a PhD student at the Institut Teknologi Bandung (ITB). This year, I also failed to be sent by the Institut Teknologi Bandung (ITB) to pursue my PhD study at KU Leuven, Belgium. At that time, I was a candidate for the lecturer in the Department of Mechanical Engineering, Program Study of Materials Engineering, ITB.
1995 Farid Rahman Hadi is born on April the 2nd at Borromeous Hospital, Bandung.
JOHOR BAHRU 1995 – 1999
1995 – 1998 PhD student of Chemistry at Universiti Teknologi Malaysia. Finish PhD in 2.5 years in the field zeolite chemistry and catalysis (December 1995 – May 1998).
1997 My first paper submitted to Journal of Molecular Catalysis A: Chemical was rejected to be published in this journal. “Nothing new” said the reviewer.
1998 – 1999 Postdoctoral Fellow, Department of Chemistry, Universiti Teknologi Malaysia (UTM): September 1st, 1998 – Oktober 31st, 1999. The first posdoc at UTM.
1999 Firda Hariri is born on July the 22nd at Kulai Hospital, Johor Bahru.
BANDUNG 1998
1998 Failed to be a lecturer at Department of Mechanical Engineering, Program Study of Materials Engineering, ITB although finished the exam for Civil Servants (CPNS). Economic crisis is hitting Indonesia at that time. This is the main reason why I left ITB.
SAPPORO 1999 – 2002
1999 – 2001 JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow (November 2nd, 1999 – November 1st, 2001), Laboratory of Catalytic Reaction Chemistry, Catalysis Research Center, Hokkaido University.
2001 – 2002 COE (Center of Excellent) Visiting Researcher (November 1st, 2001 – March 31st, 2002), Laboratory of Catalytic Reaction Chemistry, Catalysis Research Center, Hokkaido University.
PADANG 2001
2001 Failed to be a lecturer at Department of Chemistry, Universitas Negeri Padang (UNP) although finished the exam for Civil Servants (CPNS).
JOHOR BAHRU 2002 – PRESENT
2002 – 2003 Research Officer (May 1st, 2002 – May 31st 2003), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2003 – 2007 Lecturer (June 2nd, 2003 – October 5th, 2007), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2006 Fahima Zikra is born on September the 12th, at Kulai Hospital, Johor Bahru.
2007 – 2008 Senior Lecturer (October 6th, 2007 – September 3th, 2008), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2008 – 2010 Associate Professor (September 4th, 2008 – November 28th, 2010), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2008 – 2014 Manager of International Affairs for Indonesia (December 1st, 2008 – March 31st, 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
2009 – 2014 Head of Catalytic Science and Technology (CST) Research Group (June 24th, 2009 – June 23rd, 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
2010 – Professor (November 29th, 2010 – present), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2013 My son, Farid Rahman Hadi, enrolled the Centre for Foundation Studies, International Islamic University of Malaysia (June 15th, 2013).
2015 – Director of Centre for Sustainable Nanomaterials, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia (February 15th, 2015 – present).
BERLIN 2015
2015 Visiting scientist at the Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Germany (July 20th – 4th September 2015).
SAUDI ARABIA 2016
2016 Performing Hajj (2 – 21 September 2016).
MALANG 2017
2017 Appointed as an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (1 February 2017).
MALAYSIA 2017
2017 My daughter, Firda Hariri, enrolled Tamhidi (Foundation), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) (May 24th, 2017).
2017 My son, Farid Rahman Hadi, received the Bachelor of Science (Architectural Studies) degree from Department of Architecture, Kulliyyah of Architecture and Environmental Design at IIUM (November 13rd, 2017).

Masa kecil di Bukittinggi

Bukittinggi (1969-1974)

Umur saya sudah mendekati 50 tahun. Umur yang tidak muda lagi. Saya akan coba untuk memulai menulis sedikit demi sedikit sejarah hidup manusia ini (saya). Saya dilahirkan di Bukittinggi, tepatnya di rumah sakit tentara Bukittinggi pada 6 Mei 1969. Nama Dokter yang membantu proses kelahiran saya ketika itu, menurut keterangan yang diberikan oleh orang tua saya adalah Dr. Huseini.

1970

Foto di atas adalah foto paling yang paling awal mengabadikan sejarah hidup saya. Foto dengan dengan mamak di Bukittinggi pada tahun 1970. Mungkin saya berumur sekitar 8 bulan. Ketika itu ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS), Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Bukittinggi. Ibu saya, Sofiah Djamaris juga dosen di Fakultas yang sama. Keluarga kami tinggal di rumah dinas IKIP di bawah Istana Bung Hatta, Jalan H. Agus Salim di Bukittinggi. Sekarang rumah itu sudah tidak ada lagi. Di bawah ini adalah lokasi rumah yang kami tempati.

7837502544_46aae4f68d_b

Foto di atas adalah foto bapak dan mamak setelah akad nikah di Yogyakarta pada 16 Oktober 1959 di Jalan Sindunegaran no. 18.

Ibu dan bapak saya di kampus IAIN Jogyakarta (sekarang adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), beliau adalah salah seorang aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi.

Di bawah ini beberapa foto kami sekeluarga di Bukittinggi.

Tetangga kami di Bukittinggi adalah keluarga Pak Jacub Isman. Namun ketika Pak Jacub Isman melanjutkan studi PhD-nya ke Indiana University Bloomington pada tahun 1970, rumah yang ditempati oleh Pak Jacub ditempati oleh Pak Syahwin Nikelas, adik dari istri Pak Jacub Isman yang juga dosen di FKSS IKIP. Pak Jacub adalah Dekan FKSS IKIP Padang sebelum ayah saya. Ketika Pak Jacub menjabat sebagai Dekan, ayah saya adalah Pembantu Dekan di FKSS IKIP. Keluarga kami tinggal di Bukitinggi dari tahun 1966 sampai 1974. Pada tahun 1974 kami pindah ke Padang setelah tinggal di Bukittinggi selama 8 tahun dari tahun 1966. Selama di Bukitinggi, ayah saya sempat menjadi Ketua Masjid Raya Bukitinggi.

Hanya saya dan adik saya Huseini Nur yang lahir di Bukittinggi. Adik saya lahir tahun 1971. Abang saya yang tertua, Hamda Nur lahir di Semarang pada tahun 1960 ketika ayah dan ibu saya masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Setelah lulus sarjana tahun 1962, ayah mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Andalas (UNAND) yang kemudian menjadi IKIP pada tahun 1965. Abang saya yang kedua, Hamdi Nur, lahir pada tahun 1966 di Padang. Dari tahun 1962 sampai 1966, keluarga kami tinggal di Hotel Muara Padang karena belum mendapat rumah dinas dari pemerintah, sebelum pindah ke Bukitinggi pada tahun 1966. Ibu saya baru lulus sarjana dari IAIN pada tahun 1964 dan langsung menyusul ayah saya menjadi dosen di FKIP UNAND.

Karena masih kecil, tidak banyak yang saya ingat ketika tinggal di Bukitinggi. Yang saya ingat adalah saya menangis ketika saya memberikan ikan mas koki yang dipelihara kepada kucing, juga ketika naik mobil dinas IKIP Padang pindah rumah dari Bukittinggi ke Padang. Masih ingat ketika diajak ke kebun binatang Bukittinggi yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Umur saya ketika itu 4-5 tahun.

Oh ya, saya juga punya kakak yang bernama Huda Nur, perempuan. Namun umur beliau hanya 7 bulan. Menurut keterangan dokter, Huda Nur meninggal dunia karena meningitis. Di bawah ini adalah catatan ayah saya mengenai Huda Nur.

# إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ #

Huda Nur
Lahir 12 Mei 1967 – 2 Shafar 1387 (Kamis) dj. 10.00 WIB
Wafat 24 Djan 1968 – 24 Sjawal 1387 (Rabu) dj. 16.15 WIB
Di RSUP Bukitinggi

Sejak lahir s/d 19 Djan 1968 setahu keluarganya belum pernah sakit. Umur 7 bln telah kuat menelungkup dan merasa senang duduk dengan pertolongan atas pangkuan. Karena kesehatannya yang baik tidak menyusahkan keluarganya. Mudah ketawa biasa bersuara sendiri karena riang. Tgl 19 Djan 68 mentjret, besoknya sekali2 disertai muntah. Petang minggu 20-1-68 telah diobati sebelum kedokter dgn beras rendang dan ubat udanya dari dokter. Tgl 22-1-68 ke dokter Suhadi. Tgl 23-1-68 kembali ke Suhadi untuk disuntik. Tgl 24-1-68 hari Rabu ke dokter Jasmiar karena sakitnya semakin bertambah. Petang selasa stuip 2 x dj. 1.00 dan dj. 4.00. Hari Rabu stuip kembali dj. 8.00 dj 9.00 ke Jasmiar. Dj 10.00 stuip lagi dan lebih lama / mengchawatirkan. Dj. 11.30 ke RSU B.Tinggi dikasi obat tetes kelidahnya anti kram 1 x 5 menit dan obat indjeksi segera dibeli di apotik luar. Dj. 16.15 wafat dihadiri oleh orang tua dan kedua udanya.

(Keterangan di bawah foto)
Gambar Huda Nur tgl 31-12-67 bertepatan dengan hari berlimau akan memasuki Ramadhan 54 hari sebelum wafat.

Masa kanak-kanak dan remaja di Padang

Padang (1974-1987)

Tahun 1974, keluarga kami pindah ke kampus FKSS IKIP Padang. Hanya 4 rumah dalam kampus ini. Paling kiri rumah Pak Slamet Anwar, kemudian Pak Tahasnim Tamin, rumah kelurga kami, dan paling kanan adalah rumah Pak Agustiar Syah Nur.

Teman sebaya saya selama tinggal di kampus FKSS IKIP Padang adalah Taufani, Heksa Seswandi dan Satya Reflitadewi. Kami sekolah di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang sama.

Taman Kanak-kanak (1974-1976)

Tahun 1974 saya mulai sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Padang, dilanjutkan dengan SD PPSP IKIP Padang dari tahun 1976-1981.

5025288375_405e81ceb6_b

Taman kanak-kanak IKIP Padang terletak di kampus IKIP Padang, rumah kami di kompleks FKSS hanya berjarak 15 menit berjalan kaki. Hari pertama sekolah, saya pergi bersama Heksa Seswandi (Wandi), putra Pak Agustiar Syah Nur, tetangga sebelah rumah, ditemani oleh abangnya Heryadi Agus. Masih jelas dalam ingatan, hari pertama sekolah, semua orang diantar oleh anggota keluarga, namun saya datang sendiri. Di bawah ini adalah foto saya dengan Wandi, ketika hari pertama masuk sekolah, kelihatan sangat bersemangat belajar, sedangkan Wandi cemberut.

5025918882_d123a5a212_b

Setiap hari murid-murid TK PPSP IKIP Padang menyanyikan lagu “Aku murid TK Labor” yang dikarang oleh Ibenzani Usman, dosen Jurusan Senirupa IKIP Padang. Tidak banyak yang diingat, namun pengalaman yang tidak pernah dilupakan adalah berkelahi dengan anak yang lebih tua, menandakan saya adalah anak yang pemberani. Sampai anak yang dikalahkan sewaktu berkelahi tersebut mengajak abangnya untuk membalas. Balasannya adalah dengan mengoleskan cabe kemulut saya sewaktu saya berjalan menuju sekolah. Saya menangis sepanjang jalan menuju sekolah karena kesakitan.

Untuk menunjukkan keberanian, saya juga minta disunat bersama-sama dengan abang saya (Hamdi Nur) pada tahun 1976. Di bawah ini adalah foto beberapa hari setelah disunat.

habis disunat 1976.jpg

Sekolah Dasar (1976-1981)

Saya sangat beruntung dapat sekolah di SD PPSP IKIP Padang. PPSP adalah singkatan dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, yang merupakan proyek kementerian pendidikan dan kebudayaan pada masa itu. SD ini juga disebut sebagai sekolah laboratorium IKIP Padang. Sekolah ini digunakan untuk praktik ajar, penelitian pendidikan, dan inovasi pendidikan. Proyek ini dimulai pada tahun 1974, dan bertujuan untuk menguji coba ide-ide dalam pendidikan guna memberi masukan bagi pembaharuan pendidikan nasional. Proyek ini dihentikan pada tahun 1986 oleh pemerintah.

Sistem belajar di SD PPSP ini menggunakan sistem modul, ada yang namanya lembar kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes, lembaran pengayaan dan sebagainya. Dan anak-anak yang cepat belajar dapat menyelesaikan setiap lembaran itu dengan cepat. Saya termasuk dalam kelompok itu, sehingga setiap semester menjadi juara kelas, dan puncaknya pada tahun 1981 menjadi pelajar teladan SD PPSP IKIP Padang. Hadiah sebagai pelajar teladan diberikan oleh Prof. Dr. Jacub Isman pada upacara di lapangan sepak bola kampus IKIP Padang bersama dengan pelajar SMP, SMA dan juga dosen teladan. Hadiahnya uang Rp. 15 ribu dan langsung digunakan untuk membeli sepatu roda. Saya juga selalu dipilih menjadi ketua kelas.

Yang selalu saya ingat sewaktu SD adalah kami selalu minum susu sebelum pergi sekolah. Mamak dan Bapak selalu menyiapkannya sebelum kami pergi sekolah. Perhatian Mamak dan Bapak terhadap anak-anak sungguh luar biasa. Lego adalah permainan saya sewaktu kecil. Bapak menitipkan kepada Ibu Be Kim Hoa Nio, teman beliau, dosen Bahasa Inggris di IKIP Padang, supaya dibelikan permainan Lego di Singapura, ketika Ibu Be Kim Hoa Nio berkunjung kesana.

Sewaktu SD, saya kadang-kadang diajak Bapak untuk ikut menemani beliau mengajar, dan juga membeli buku. Beliau selalu mendapat discount jika membeli buku di Pustaka Anggrek dan beberapa toko buku lainnya di kota Padang karena kenal dengan baik dengan pemiliknya. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dengan buku sejak kecil. Buku-buku di perpustakaan mini beliau di rumah juga sering saya baca.

Pengalaman yang menarik adalah juga sering diajak shalat subuh di Masjid Raya Al-Azhar, Air Tawar, Padang. Ikut mengaji Al-Quran bersama-sama teman beliau. Yang masih saya ingat adalah Pak Gafar Yatim, Pak Sofyan Muchtar. Kebetulan ayah saya adalah pengurus di Masjid tersebut. Saya juga mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid Raya Al-Azhar.

Setelah lulus SD PPSP IKIP Padang, saya pindah sekolah ke SMP Adabiah Padang. Ini atas permintaan saya. Dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya tidak ada saingan di SD PPSP IKIP Padang.

Sekolah Menengah Pertama (1981-1984)

Sekolah di SMP Adabiah, termasuk sekolah paling favorit di kota Padang pada zaman itu merupakan pengalaman yang membentuk saya pada hari ini. Berbeda dengan di SD PPSP IKIP Padang, yang mayoritas muridnya adalah anak-anak staf di IKIP Padang, di SMP Adabiah muridnya terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang anak pedagang, guru, pegawai pemerintahan dan pekerja swasta. Lebih beragam. Sehingga saya menemukan berbagai anak-anak yang dibentuk oleh keluarga mereka.

Kenakalan saya juga tersalurkan di sekolah ini. Bersama peer-group di sekolah, kami juga mebentuk grup yang dinamakan Qhotelawala, yang maksudnya adalah kumpulan teman laki-laki dan wanita pelajar. Kelas dua SMP, waktu berumur 14 tahun, tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) saya juga sudah berani bersama kawan-kawan naik Vespa ke Pekanbaru, yang jaraknya lebih dari 300 km dari Padang.

vespa.jpg

37963087132_16030b50d7_h.jpg

Oleh karena kenakalan ini, prestasi akademik saya di SMP kurang memuaskan walaupun tetap masuk dalam 10-20 besar di kelas. Sekolah akan menjadi maju jika guru-gurunya punya dedikasi tinggi dan disiplin dalam mendidik. Ini yang saya lihat di SMP Adabiah, guru-gurunya luar biasa.

Tanggal 5 April 2014, anak-anak SMP Adabiah alumni tahun 1984 berkumpul kembali setelah 30 tahun meninggalkan sekolah. Penuh gelak tawa. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang profesi yang berumur antara 45-48 tahun.

13771703204_4334a24c70_o

Sekolah Menengah Atas (1984-1987)

Setelah lulus dari SMP Adabiah Padang, saya melanjutkan ke SMA 3 Padang yang jaraknya tidak jauh dari SMP Adabiah.  Sebahagian besar kawan-kawan SMP Adabiah juga melanjukan ke SMA 3 karena penerimaan murid ketika itu adalah berdasarkan lokasi sekolah sebelumnya.

Sewaktu SMA, saya mulai mengurangkan pergaulan dengan kawan-kawan yang ‘nakal’, namun saya masih tidak fokus untuk belajar. Prestasi akademik di SMA biasa-biasa saja, namun saya bagus dipelajaran kimia karena mengikuti les tambahan yang diajarkan oleh Pak Tahasnim Tamin, dosen kimia FKIE IKIP Padang, tetangga sebelah rumah ketika tinggal di kampus FKSS IKIP Padang. Tahun 1983 keluarga kami pindah dari rumah di kampus FKSS karena rumah tersebut dijadikan kantor dekan FKSS, dan dipindahkan ke rumah dinas yang agak jauh dari kampus, iaitu di Jalan Elang, Air Tawar.

Pelajaran di SMA saya ikuti tidak dengan serius. Setiap hari hanya membawa satu buku catatan, dan tidak membawa tas. Bukunya diselipkan dalam saku belakang celana, sehingga Pak Bustaman, guru Fisika pada waktu itu pernah mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil dalam hidup.

Setelah lulus SMA, saya sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke ITB. Ini juga terinspirasi oleh kakak saya, Hamdi Nur, yang telah dulu kuliah di Jurusan Arsitektur ITB pada tahun 1983. Karena pada waktu itu masuk perguruan tinggi negeri hanya didasarkan kepada hasil tes, maka setelah selesai SMA saya fokus belajar untuk menjawab soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Alhamdullilah, akhirnya saya diterima di Jurusan Kimia ITB.

 

Masa kuliah di Bandung

Bandung (1987-1995)

Tahun 1987 setelah lulus dari SMA 3 Padang, saya mencoba ujian masuk ke ITB dan Universitas Parahiyangan (UNPAR). Dalam ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU) saya memilih Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Kimia ITB sebagai pilihan saya, dan Jurusan Arsitektur di UNPAR. Saya sempat mengikuti try out ujian masuk perguruan tinggi di Bandung. Mayoritas mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi pada masa itu masuk dengan ujian saringan masuk sehingga banyak pusat-pusat bimbingan belajar yang bermunculan di Indonesia, terutama di Bandung. Saya masih ingat, saya mengikuti try out yang diselenggarakan oleh Ganesha Operation di Bandung. Inilah pertama kali saya keluar dari pulau Sumatera, dan naik pesawat terbang dari Padang ke Jakarta. Sewaktu di Bandung, saya juga mengikuti ujian masuk ke UNPAR bersama dengan sepupu saya Inggo Laredabona. Alhamdullilah, saya diterima di Jurusan Kimia ITB dan juga Jurusan Arsitektur UNPAR. Atas pertimbangan keluarga, saya memilih mendaftar di Jurusan Kimia ITB. Pada masa itu, Prof. Dr. Isjrin Noerdin, Rektor IKIP Padang (1965 – 1973), teman ayah saya, masih mengajar di Jurusan Kimia ITB.

Di bawah ini adalah teman satu angkatan yang berasal dari SMA 3 Padang, yang berjumlah lima orang, yang di terima di ITB. Dari kiri kekanan, saya, Ira Nevasa (Teknik elektro), Fitri Agustini (Geofisika dan Meteorologi), Firdaus Kurniawan (Teknik Lingkungan) dan Esfandi Hendra (Teknik Pertambangan). Foto di bawah ini diambil ketika acara reuni 30 tahun angkatan 1987 pada 13 Januari 2018 di kampus ITB.

38958269884_ef10445f5b_h

Di bawah ini adalah teman sepermainan dari kecil sampai kuliah di ITB. Sebelah kiri adalah Ira Nevasa (Teknik Elektro) dan Saferian (Teknik Elektro).

39652631342_70e901fde4_h

Masa kuliah di Jurusan Kimia ITB diselingi dengan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD (1987-1992)

Masuk ke ITB merupakan prestasi tersendiri pada zaman itu. Menurut keterangan Drs. Hiskia Achmad, dosen Jurusan Kimia ITB, ranking dari ujian SIPENMARU angkatan 1987 yang diterima di Jurusan Kimia ITB adalah masuk 7000 terbaik dari peserta ujian SIPENMARU. Prestasi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.  Namun banyak diantara kawan-kawan saya diterima dipilihan kedua. Biasanya pilihan pertama adalah jurusan teknik, seperti saya yang memilih Jurusan Teknik Mesin sebagai pilihan pertama.

Semester satu dan dua saya nilai saya pas-pasan. Teman bermain saya sewaktu tingkat satu adalah Terkelin Tarigan, anak Kabanjahe. Terkelin pintar dalam matematika, dan mendapat nilai maksimum dalam kuliah ini. Namun Terkelin pindah ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada tingkat dua. Abdul Hakam dan Tedianto juga pindah ke Universitas Indonesia. Sayapun terpengaruh dan juga ikut ujian SIPENMARU pada tahun 1988, dan lulus di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya di Jalan Sekeloa. Akhirnya saya kuliah didua tempat. Teman sepermainan saya sewaktu di FKG adalah Lucky M. Hatta. Saya hanya bertahan satu tahun kuliah didua tempat, karena Indeks Prestasi Akademis (IPK) yang kurang dari dua. Akhirnya saya memilih tetap kuliah di ITB, namun dengan  IPK yang tidak bagus. Saya mulai rajin belajar di tingkat tiga sampai selesai, sehingga nilai yang jelek di tingkat dua (banyak nilai D) dapat ditutupi dengan nilai A dan B disemester selanjutnya.

Saya menyelesaikan tugas akhir di bawah bimbingan Dr. Harjoto Djojosubroto yang ketika itu adalah Direktur Pusat Penelitian Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional. Penelitian saya adalah mengenai penentuan selenium dalam serum darah manusia dengan menggunakan Neutron Activation Analysis dengan menggunakan Reaktor Nuklir Triga Mark II yang letaknya di sebelah kampus ITB. Beliau menasehati saya untuk melanjutkan pendidikan ke magister. Saya masih ingat beliau berkata kepada saya, yang penting lanjut sekolah, ilmu sastrapun tidak mengapa asal lanjut sekolah. Oleh karena itu saya melanjutkan belajar saya ke program Magister Ilmu dan Material ITB. Saya adalah angkatan kedua program ini dan mahasiswa pertama yang lulus dari Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB sejak menerima mahasiswa tahun 1992.

wisuda.jpg

36797059550_250d396f55_h

Tahun 1987 – 1991 di Sekeloa

Tahun 1987 sampai tahun 1991, ketika kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) saya menyewa kamar di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung. Tanggal 12 Januari 2018 yang lalu saya singgah disini. Tidak ketinggalan makan di tempat Bu Tatang. Sayalah orang yang pertama kali makan di tempat Bu Tatang pada tahun 1987, ketika Bu Tatang membuka rumah makannya pada hari pertama beliau berjualan. Tidak ada berubah, kecuali penuaan. Terima kasih Bu Tatang, banyak mahasiswa yang membesar dengan makanan Bu Tatang yang murah dan enak.

Foto di depan tempat indekos bersama Aa, anak tertua Pak Imad, pemilik indekos, di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung.

38759288835_1bfa49f26c_h

Bersama Bu Tatang (paling kiri). Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Maps.

Bu Tatang

Lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Map.

Masa kuliah Program Magister Ilmu dan Teknik Material (1993-1995)

Saya masuk Program Magister Ilmu dan Teknik Material setelah mengkuti ujian saringan masuk tahun 1993. Selama kuliah saya dibiayai oleh orang tua. Saya sudah menikah dengan Terry Terikoh waktu mendaftar menjadi mahasiswa program magister. Karena masih belum mempunyai penghasilan, saya merasa bertanggung jawab menyelesaikan studi saya dengan baik. Bidang sewaktu saya kuliah di Ilmu dan Teknik Material adalah banyak berkaitan dengan bidang metalurgi. Karena saya tidak mempunyai dasar yang kuat dalam bidang ini, saya juga ikut perkuliahan tingkat sarjana. Akhirnya saya lulus cum laude dalam waktu 1,5 tahun. Saya ditawari menjadi dosen di Program Teknik Material, Jurusan Teknik Mesin setelah lulus ujian magister pada 14 Februari 1995. Setelah berpikir akhirnya saya menerima tawaran tersebut, namun mesti menunggu untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena tidak ada formasi pada tahun itu.

Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Dr. Mardjono Siswosuwarno dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke PhD. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

1226612331_e986c1009a_o

Saya menikah di Bandung pada 24 April 1993 dengan Terry Terikoh, teman kuliah di Jurusan Kimia ITB. Terry masuk ITB lebih awal satu tahun dari saya (1986). Setelah menunggu 1 tahun 11 bulan dan 6 hari, pada 2 April 1995 lahirlah Farid Rahman Hadi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

32681260002_c616c518d2_h

Status saya setelah lahirnya Farid adalah calon dosen ITB, sehingga Dr. Mardjono Siswosuwarno berinisiatif mencoba agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven). Namun tidak jadi karena kebetulan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan datang ke ITB dan menawarkan melanjutkan ke program Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) kepada saya. Saya menerima tawaran tersebut. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan pergi ke Malaysia dan menetap di Malaysia begitu lama sampai sekarang.

Masa di Sapporo

1999 – 2002 di Hokkaido University

“Dan mereka merancang, Allah juga merancang, Dan Allah sebaik-baik perancang” (QS 3:54)

Banyak peristiwa dalam hidup ini yang tidak terduga. Saya tidak menyangka akan menghabiskan waktu di Malaysia jika saya tidak bertemu dengan Prof. Halimaton tahun 1995 di ITB. Saya juga tidak akan tinggal di Jepang dan bekerja dengan Prof. Bunsho Ohtani jika saya tidak menyurati beliau melalui e-mail pada tahun 1999. Semua peristiwa kecil itu yang merubah hidup saya. Allah adalah sebaik-baik perancang, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 1 Nopember 1999 dengan menggunakan pesawat Thai Airways dari Singapura ke Osaka dan dilanjutkan dengan All Nippon Airways ke Sapporo. Kami sekeluarga (saya, Terry Terikoh, Farid Rahman Hadi (4.5 tahun) dan Firda Hariri (3 bulan) dijemput oleh Dr. Shigeru Ikeda di Chitose Airport. Pada waktu itu laboratorium Prof. Ohtani hanya terdiri dari 1 Assistant Professor (Dr. Shigeru Ikeda), 2 orang Postdoc (Dr. Bonamali Pal dan saya) dan 1 orang mahasiswa M.Sc. (Noboru Sugiyama). Dr. Shigeru Ikeda dan Dr. Bonamali Pal sekarang sudah menjadi full professor di Jepang dan India.

Hari pertama saya sampai di Sapporo, saya bertemu dengan Sugeng Triwahyono (sekarang Prof. Dr. Sugeng Triwayono) di Catalysis Research Center (CRC) yang waktu itu adalah research student di laboratorium Prof. Masakazu Iwamoto, yang waktu itu adalah Director, Catalysis Research Center (CRC). Laboratorium beliau di lantai dua, dan laboratorium Prof. Ohtani di lantai satu di bangunan CRC.

4713657058_1513f78b10_b.jpgDengan Prof. Bunsho Ohtani di Tottori tahun 2000.

Saya cukup beruntung menjadi postdoctoral fellow di bawah bimbingan Prof. Bunsho Ohtani di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Prof. Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya. Prof. Ohtani yang merupakan ilmuwan yang sangat inspiratif. Beliau memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan yang hebat. Dalam dua tahun saya sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow dan dilanjutkan sebagai COE (Center of Excellent) Visiting Researcher selama setengah tahun, kami menerbitkan sebuah makalah mengenai konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai Phase Boundary Catalysis. Saya berhutang budi kepada Prof. Ohtani karena telah menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian sains dengan cara yang benar.

Pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (dua tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University) telah memberikan saya gambaran yang jelas terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset. Tulisan di bawah ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa universitas di Jepang bagus? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia dan Malaysia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa universitas besar di Indonesia dan Malaysia menjadi research university. Hal ini beralasan karena universitas akan menjadi tempat aktivitas intelektual dan menjadi harta nasional. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan the silicon valley syndrome.

26697166238_1c2c97b1b4_kKartu ucapan selamat jalan dari kawan-kawan di laboratorium Prof. Ohtani ketika meninggalkan Sapporo tahun 2002.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis huruf tebal untuk kalimat kunci.)

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi.

Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Associate Professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut.

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (‘sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir).

Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas.

The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, “The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)” telah tujuh belas tahun berlalu. Acara ini diadakan di Sapporo pada tahun 2001. Kebetulan saya, satu-satunya postdoc di Hokkaido University dari Indonesia pada waktu itu, telah ditunjuk sebagai ketua untuk acara seminar ini. Saya masih ingat, dengan ditemani oleh Ahmad Hidayat Lubis dan Dwi Gustiono, kami menemui Prof. Michio Yoneyama, Director of International Student Center, Hokkaido University, untuk membicarakan HISAS-1. Beliau sangat mendukung acara ini, dan mengatakan bahwa HISAS-1 merupakan acara ilmiah pertama yang dibuat oleh persatuan mahasiswa asing di Hokkaido University. Acara ini telah dilaksanakan di Hokkaido University Multimedia Education Building, Graduate School of International Media and Communication pada 4 Nopember 2001, dan telah berlangsung dengan baik.

4734569908_552b9a0b0d_b.jpg

Prof. Takashi S. Kohyama bersedia menjadi keynote speaker dengan bantuan Joeni Setijo Rahajoe, yang ketika itu adalah mahasiswa Ph.D. Prof. Kohyama. Pihak Kita Gas Co. Ltd. yang diwakili oleh Mr. Yozo Maeizumi (Managing Director) juga bersedia datang untuk memeriahkan acara ini. Ahmad Hidayat Lubis mempunyai andil besar untuk mendatangkan Mr. Maeizumi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Tokyo, Winnetou Nowawi, dan juga ketua PPI Jepang, Romi Satria Wahono, juga datang menghadiri HISAS-1.Acara HISAS-1 berlangsung dengan meriah. Gelak tawa para peserta pecah ketika Heru Rachmadi, sang dokter hewan, menceritakan pengalamannya melakukan inseminasi buatan pada sapi. Hari Sutrisno dan Subeki juga menjadi bintang dalam HISAS-1, karena presentasi mereka tidak membuat mengantuk, penuh canda.

Sehat Jaya Tuah, yang menjadi sekretaris acara ini meninggal dunia pada 29 Mei 2010 (jam 10 malam) karena serangan jantung di Palangkaraya, Indonesia. Teringat senyuman dan keramahan Sehat Jaya Tuah.Acara ini tinggal kenangan. Buku prosiding HISAS-1 masih menghias lemari buku saya.