An unfinished story of me

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Surat Ar-Ra’d Ayat 26)

Sungguh kehidupan di dunia ini terasa singkat, tidak sanggup saya mengingat secara detail perjalanan hidup yang hampir 49 tahun ini (Februari 2018). Saya coba mengingat lagi kenangan lama, hanya sedikit sekali dan tidak sampai beberapa jam untuk mengingat perjalanan hidup yang hampir setengah abad ini, pertanda hidup ini sangat singkat.

Pengecualian untuk Kim Peek, yang bisa mengingat semuanya karena neuronnya membuat koneksi yang tidak biasa karena tidak adanya corpus callosum dalam otak beliau. Ini yang menyebabkan peningkatan kapasitas memori yang luar biasa dari otak Kim Peek.

Perjalanan hidup saya dapat dibaca di website berikut ini:

https://hadinur.net/category/sejarah-hidup/

Karena tidak pernah selesai ditulis, maka saya namakan “An unfinished story of me: Unofficial and incomplete autobiography”. Saya usahakan melengkapkannya dari waktu ke waktu. Catatan ini saya mulai dengan kronologi hidup bapak saya yang sempat saya catat. Bahagian akhir adalah catatan mengenai perjalanan haji saya dan istri pada tahun 2016. Sejarah yang tidak pernah dilupakan.

cropped-image_539079490860905.jpg

Bapak – Nur Anas Djamil

Perjalanan hidup saya tidak terlepas dari perjalanan hidup orang tua, karena merekalah yang membentuk hidup saya. Ini sebahagian dari sejarah hidup bapak yang sempat saya catat.

Nama Bapak adalah Nur Anas Djamil. Bapak dari bapak atau datuk saya, Nurani Djamil, yang lahir di Payakumbuh pada tahun 1900 adalah seorang guru. Beliau fasih berbahasa Arab. Di bawah ini adalah foto beliau (paling kanan sedang memegang tongkat), ketika beliau sekolah di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi tahun 1926.

16707405_10212443687986413_655385854193355333_o

PAYAKUMBUH 1931 – 1950
1931 Lahir di Balaimansiro, Payakumbuh pada 17 Oktober 1931 dari pasangan Nurani Djamil dan Rakiah.
1936 – 1937 Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal (Muhammadiyah), Kubang, Payakumbuh
1938 – 1942 Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Persatuan Guru Indonesia, sekolah swasta sampai kelas empat di kota Payakumbuh. Tahun 1942 penjajah Jepang masuk ke Payakumbuh dan kembali ke Balaimansiro.
1942 – 1944 Sekolah sambungan di Dangung-dangung (setingkat Sekolah Dasar) dan kembali duduk kembali di kelas empat  sampai tamat kelas lima. Menerima ijazah.
1945 – 1946 Madrasah Mahad Islami (sekolah agama) di kota Payakumbuh, Ibtidaiyah dan langsung masuk kelas tiga.
1947 – 1948 Tsanawiyah Muhammadiyah, Kubang. Langsung masuk kelas empat.
1949 Anggota Tentara Pelajar Gapeda Payakumbuh Utara.
1949 Madrasah Aliyah Kulliyatul Muballighihen, Payakumbuh. Belanda kembali menjajah dan perang dengan Belanda kembali bermula, dan pulang kembali ke kampung di Balaimansiro.
1948 – 1950 Tinggal di kampung Balaimansiro dan bersekolah darurat di Kubang. Kota-kota penting dikuasai oleh Belanda.
PADANG PANJANG  1950 – 1953
1950 – 1953 Masuk Mu’allimin ‘Ulya, Sekolah Guru Agama Atas (SGAA) di Padang Panjang, sampai tamat.
Yogyakarta  1953 – 1962
1953 – 1954 Sekolah persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), Yogyakarta. Tahun 1955 mendapat beasiswa ikatan dinas sampai tamat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, dan bebas memilih pekerjaan setelah tamat sebagai pegawai negeri.
1957 – 1958 Pengurus Senat Mahasiswa PTAIN Yogyakarta.
1955  Anggota pendiri organisasi Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI).
1955 – 1957 Anggota pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), Yogyakarta.
1955 – 1960 Sekretaris dan Ketua Redaksi majalah mahasiswa Criterium Yogyakarta.
1954 – 1962 Kuliah di PTAIN sampai mendapat ijazah Doctorandus atau Drs.
1959 Menikah dengan Sofiah Djamaris di Yogyakarta. Akad nikah dilaksanakan di Jalan Sindunegaran 18, dan resepsi pernikahan di asrama PTAIN Jalan Sumbing 6, Yogyakarta.
1960 Hamda Nur, anak pertama lahir di Semarang pada 31 Oktober 1960.
PADANG 1963 – 1966
1963 – 1966 Pulang ke Padang, setelah keluar Surat Keputusan menjadi dosen di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Andalas (UNAND). Pengurusan surat ini dilakukan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, dan suratnya keluar tiga hari setelah diurus. Sebelumnya gagal dalam ujian masuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut  (TNI-AL) di Jakarta pada tahun 1962. Awal Januari 1963 langsung mengajar Pendidikan Agama Islam di UNAND.
1964 – 1966 Anggota pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.
1965 – 1966 Dekan Fakultas Adab, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
BUKITTINGGI 1966 – 1974
1966 Hamdi Nur, anak kedua lahir di Padang pada 14 Februari 1966.
1966 – 1967 Ditugaskan sebagai Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP di Bukitinggi. Rektor pada waktu itu adalah Prof. Dr. Isjrin Noerdin dan Dekan FKSS adalah Jacub Isman, M.A.
1967 – 1969 Ketua Jurusan Bahasa Arab di FKSS IKIP. Karena tidak ada dosen dan peluang kerja yang sukar bagi lulusan, Jurusan Bahasa Arab di FKSS IKIP terpaksa ditutup.
1969 Hadi Nur, anak ketiga lahir di Bukittinggi pada 6 Mei 1969.
1969 – 1971 Dekan FKSS IKIP di Bukittinggi. Salah satu tugas yang diemban adalah mengurus pembebasan tanah untuk pembangunan kampus IKIP di Bukitinggi. Namun tidak berhasil. Hal ini juga disebabkan oleh kelalaian dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
1971 Huseini Nur, anak ketiga lahir di Bukittinggi pada 23 Maret 1971.
1967 – 1974 Ketua Mesjid Raya Bukittinggi. Jabatan ini atas persetujuan H. Mansoer Daoed Dt. Palimo Kayo, ulama terkemuka Indonesia asal Sumatera Barat dan pernah pernah ditugaskan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Irak.
1973 – 1975 Pembantu Dekan bidang Keuangan di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP. Tahun 1974 pindah ke Padang.
PADANG 1974 – SEKARANG
1974 – 2001 Dosen Pendidikan Agama Islam di IKIP Padang, Universitas Andalas dan Universitas Bung Hatta (sejak tahun 1981).
1975 – 1976 Menjadi peserta di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LEKNAS-LIPI) di Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) yang diketuai oleh Dr. Alfian selama satu tahun.
1976 – 1977 Melakukan penelitian dengan topik “Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat” yang dibiayai oleh LEKNAS-LIPI. Penelitian ini adalah penelitian grounded theory yang mengacu pada seperangkat metode induktif yang sistematis untuk melakukan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk pengembangan teori.
1984 – 1990 Pindah ke Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Padang dan menjadi Ketua Jurusan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU).
1987 – 1998 Anggota pengurus Islamic Center, Sumatera Barat.
1991 – 1996 Anggota Dewan Penasehat ICMI Korwil, Sumatera Barat.
1993 – 1994 Ketua Ruang Pendidik Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayutanam, Padang Pariaman.
1995 – 2000 Ketua Umum, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Sumatera Barat.
2000 – 2020 Penasehat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Sumatera Barat.
1996 – 2001 Ketua Dewan Mesjid Indonesia, Sumatera Barat.
1996 – 2001 Ketua Komisi Majlis Ulama Indonesia, Sumatera Barat.
1991 Diangkat menjadi Profesor dalam bidang Islamologi di IKIP Padang.
2001 Pensiun dari IKIP Padang pada umur 70 tahun.
2010 – 2015 Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah, Muhammadiyah Sumatera Barat.
2012  Pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Sumatera Barat.

Bani Nurani Djamil

Alhamdullilah, keluarga besar datuk saya, Nurani Djamil hampir setiap tahun berkumpul. Saya mengikuti beberapa acara kegiatan silahurahmi teresebut, diantaranya di Jakarta pada tahun 2009 dan di Payakumbuh pada tahun 2013.

Di bawah ini adalah foto-foto acara silahturahmi di Jakarta pada 20 Nopember 2009. Cukup ramai yang hadir.

DSC_9916

Acara silahturahmi Bani Nurani Djamil telah terlaksana dengan baik pada 28 Juli 2013 di Padangtugayek, Payakumbuh, dengan kehadiran keluarga besar (termasuk anak-cucu dan cicit) sebanyak 58 orang (dari keturunan Nurani Djamil= 44 orang, dari keluarga “Kasimah”= 13 orang, dari pihak “bako”=1 orang). Pada acara silaturahmi, hadir enam dari delapan anak Nurani Djamil yang masih hidup (Nur Anas Djamil, Nur Inas Djamil, Nur Animar Djamil, Nur Sani Djamil, Nurninth Djamil dan Nurnis Djamil). Nama mushola yang dibangun oleh keluarga Nurani Djamil ditetapkan menjadi “Langgar Bani Nurani Djamil”.

IMG_0194

Keluarga Bapak di Malaysia

Sebahagian keluarga Bapak juga ada tinggal di Malaysia. Di bawah ini adalah sebahagian dari silsilah Tengku Hitam dan dua urang anaknya, Haji Yunus dan Haji Ismail. Silsilah ini adalah tulisan tangan Bapak yang diberikan kepada saya sebelum saya berangkat ke Malaysia tahun 1995.

salsilah.png

Hubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail yang terputus telah dipertalikan kembali oleh Djamil Datuk Bijo yang datang ke Padang Sebang pada sekitar tahun 1920-an bersama anaknya Nurullah. Nurani Djamil, anak Djamil Datuk Bijo datang ke Padang Sebang pada tahun 1942 ketika penjajahan Jepang. Perhubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail dimulai dengan hubungan surat menyurat antara ayah saya, Nur Anas Djamil, dengan Makcik Nyonya pada tahun 1960-an berdasarkan catatan silsilah yang ditulis oleh Nurani Djamil. Datuk saya, Nurani Djamil (lahir tahun 1901), adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek, di Bukittinggi, dan merupakan senior Buya Hamka ketika beliau belajar disana.

Tengku Hitam, ayah dari Haji Yunus dan Haji Ismail, meninggal dunia dan dimakamkan di Mungka, Payakumbuh, Sumatera Barat. Haji Yunus dan Haji Ismail, menurut catatan Nurani Djamil meninggal dan dimakamkan di Paya Rumput, Melaka, Malaysia. Namun lokasi makam mereka yang tepat tidak diketahui.

Saya mengunjungi saudara di Padang Sebang pertama kali pada tahun 1995. Insya Allah hubungan silahturahmi antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail ini dapat berlangsung dengan baik.

Foto Djamil Datuk Bijo (kanan) dan anaknya Nurani Djamil (kiri). Djamil Datuk Bijo pernah berkunjung ke Padang Sebang bersama anaknya Nurullah pada tahun 1920-an. Nurani Djamil pernah menetap di Padang Sebang selama beberapa bulan pada tahun 1942. Foto di atas diambil tahun 1935.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang tahun 1995. Pada waktu itu saya adalah mahasiswa program PhD di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Johor Bahru, Malaysia

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 8 Desember 2008.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 13 Agustus 2013.

Foto ketika berkunjung ke rumah Makcik Nyonya di Kuala Lumpur pada 13 Agustus 2013. Dalam foto ini — saya, yang berdiri disebelah kiri, Dr. Rizal Sani, yang berdiri sebelah saya, dan Dr. Erhamwilda yang bertudung merah — adalah cucu dari Nurani Djamil.

Di bawah ini adalah rumah keluarga Bapak di Padang Sebang, Melaka dan foto-foto mereka yamg saya ambil dari album foto Bapak di Padang.

A brief history of me

“Ars Longa Vita Brevis”. Popular latin quote literally meaning “art is long, life is brief”.

My name is Hadi Nur. I was born on the 6th of May 1969. I have specialized in advanced materials and heterogeneous catalysis. My main field in undergraduate and graduate studies was in chemistry and materials engineering at the Institut Teknologi Bandung. I obtained my B.S. and M.Eng. (cum laude) degrees in 1992 and 1995, respectively. Shortly after that, I continued my postgraduate studies in zeolite chemistry at the Universiti Teknologi Malaysia (UTM) as I received his Ph.D. degree in 1998. My postdoctoral studies started with a year as a UTM Postdoctoral Fellow and with two years as a Japan Society for Promotion of Science (JSPS) Postdoctoral Fellow at Catalysis Research Center (CRC), Hokkaido University, Sapporo, Japan. I continued there as a Center of Excellence (COE) Visiting Researcher at CRC for half a year. In May 2002, I joined the Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia. I was a visiting scientist at the Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Germany from July to September 2015. Currently, I am a full professor at UTM. I have supervised postgraduate students studying for Ph.D. and M.S. degrees in heterogeneous catalysis and advanced materials, for example, zeolite chemistry and catalysis, photocatalysis, semiconductor nanoparticle-polymer composite, bifunctional oxidative, and acidic catalysts and phase-boundary catalysis. Currently, I and my family enjoy living in Johor Bahru area and are glad that we made the move.

CURRENT DESIGNATION 

  • Professor and Director
    Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia, Johor, Malaysia [website][inaugural lecture]
  • Adjunct Professor
    Universitas Negeri Malang, Indonesia [website][inaugural lecture]
  • Editorial Board
    Editor-in-Chief, Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences [website]
    Associate Editor for Catalysis and Photocatalysis, Frontiers in Chemistry [website]
    Regional Managing Editor for Asia-Pacific, Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis [website]

CHRONOLOGICAL TIMELINE 

BUKITTINGGI 1969 – 1974
1969 Born in Bukittinggi, West Sumatera, on May the 6th. Father was Dean of Faculty of Literature and Arts Teaching, Institute of Teacher Training and Education (IKIP – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) in Bukittinggi (now State University of Padang), Indonesia, 1969 – 1971.
PADANG 1974 – 1987
1974 Parents move to Institute of Teacher Training and Education in Padang.
1974 – 1976 Kindergarten, PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Padang.
1976 – 1981 1st – 5th grade, Sekolah Dasar PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Padang.
1981 – 1984 1st – 3rd grade, SMP Adabiah Padang, West Sumatera (secondary school).
1984 – 1987 1st – 3rd grade, SMA 3 Padang, West Sumatera (senior high school).
BANDUNG 1987 – 1995
1987 – 1992 Undergraduate student of Department of Chemistry, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Failed to enter Department of Mechanical Engineering, the Institut Teknologi Bandung (ITB) as an undergraduate student, but fortunately entered Department of Chemistry ITB as the second choice of the entrance examination (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru).
1988 Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, 1988 – 1989. Failed to finish his study at Faculty of Dentistry, Universitas Padjadjaran (UNPAD). Dropout in the second semester. Unable to study in two universities, UNPAD and ITB at the same time.
1993 Married to Terry Terikoh, on April the 26th.
1993 – 1995 Master of Engineering student of Materials Science and Engineering Program, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Graduated with Cum Laude. Finish in 1.5 years.
1995 Failed to get a scholarship from Indonesian government (University Research for Graduate Education scholarship) although already accepted as a PhD student at the Institut Teknologi Bandung (ITB). This year, I also failed to be sent by the Institut Teknologi Bandung (ITB) to pursue my PhD study at KU Leuven, Belgium. At that time, I was a candidate for the lecturer in the Department of Mechanical Engineering, Materials Engineering Program, ITB.
1995 Farid Rahman Hadi was born on April the 2nd at Borromeous Hospital, Bandung.
JOHOR BAHRU 1995 – 1999
1995 – 1998 PhD student of Chemistry at Universiti Teknologi Malaysia. Finish PhD in 2.5 years in the field zeolite chemistry and catalysis (December 1995 – May 1998).
1997 My first paper submitted to Journal of Molecular Catalysis A: Chemical was rejected to be published in this journal. “Nothing new” said the reviewer.
1998 – 1999 Postdoctoral Fellow, Department of Chemistry, Universiti Teknologi Malaysia (UTM): September 1st, 1998 – Oktober 31st, 1999. The first posdoc at UTM.
1999 Firda Hariri was born on July the 22nd at Kulai Hospital, Johor Bahru.
BANDUNG 1998
1998 Failed to be a lecturer at Department of Mechanical Engineering, Materials Engineering Program, ITB although finished the exam for Civil Servants (CPNS). Economic crisis was hitting Indonesia at that time. This is the main reason why I left ITB.
SAPPORO 1999 – 2002
1999 – 2001 JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow (November 2nd, 1999 – November 1st, 2001), Laboratory of Catalytic Reaction Chemistry, Catalysis Research Center, Hokkaido University.
2001 – 2002 COE (Center of Excellent) Visiting Researcher (November 1st, 2001 – March 31st, 2002), Laboratory of Catalytic Reaction Chemistry, Catalysis Research Center, Hokkaido University.
PADANG 2001
2001 Failed to be a lecturer at Department of Chemistry, Universitas Negeri Padang (UNP) although finished the exam for Civil Servants (CPNS).
JOHOR BAHRU 2002 – PRESENT
2002 – 2003 Research Officer (May 1st, 2002 – May 31st 2003), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2003 – 2007 Lecturer (June 2nd, 2003 – October 5th, 2007), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2006 Fahima Zikra was born on September the 12th, at Kulai Hospital, Johor Bahru.
2007 – 2008 Senior Lecturer (October 6th, 2007 – September 3th, 2008), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2008 – 2010 Associate Professor (September 4th, 2008 – November 28th, 2010), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2008 – 2014 Manager of International Affairs for Indonesia (December 1st, 2008 – March 31st, 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
2009 – 2014 Head of Catalytic Science and Technology (CST) Research Group (June 24th, 2009 – June 23rd, 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
2010 – Professor (November 29th, 2010 – present), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
2013 My son, Farid Rahman Hadi, enrolled in the Centre for Foundation Studies, International Islamic University of Malaysia (June 15th, 2013).
2015 – 2019 Director of Centre for Sustainable Nanomaterials, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia (February 15th, 2015 – September 30th, 2019).
BERLIN 2015
2015 Visiting scientist at the Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Germany (July 20th – 4th September 2015).
SAUDI ARABIA 2016
2016 Performing Hajj (2 – 21 September 2016).
MALANG 2017
2017 Appointed as an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (1 February 2017).
MALAYSIA 2017
2017 My daughter, Firda Hariri, enrolled Tamhidi (Foundation), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) (May 24th, 2017).
2017 My son, Farid Rahman Hadi, received the Bachelor of Science (Architectural Studies) degree from Department of Architecture, Kulliyyah of Architecture and Environmental Design at International Islamic University of Malaysia (November 13rd, 2017).
MALAYSIA 2018
2018 My son, Farid Rahman Hadi, enrolled master’s program, Kulliyyah of Architecture and Environmental Design, International Islamic University Malaysia (IIUM) (August 25th, 2018).
2018 My daughter, Firda Hariri, enrolled undergraduate program, Department of Mathematical Sciences, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) (August 28th, 2018).
2018 Director of Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia (October 1st, 2018 – present).

And the worldly life is not but amusement and diversion; but the home of the Hereafter is best for those who fear Allah, so will you not reason? (QS 6:32)

Masa kecil di Bukittinggi

Bukittinggi (1969-1974)

Umur saya sudah mendekati 50 tahun. Umur yang tidak muda lagi. Saya akan coba untuk memulai menulis sedikit demi sedikit sejarah hidup manusia ini (saya). Saya dilahirkan di Bukittinggi, tepatnya di rumah sakit tentara Bukittinggi pada 6 Mei 1969. Nama Dokter yang membantu proses kelahiran saya ketika itu, menurut keterangan yang diberikan oleh orang tua saya adalah Dr. Huseini.

1970

Foto di atas adalah foto paling yang paling awal mengabadikan sejarah hidup saya. Foto dengan dengan mamak di Bukittinggi pada tahun 1970. Mungkin saya berumur sekitar 8 bulan. Ketika itu ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS), Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Bukittinggi. Ibu saya, Sofiah Djamaris juga dosen di Fakultas yang sama. Keluarga kami tinggal di rumah dinas IKIP di bawah Istana Bung Hatta, Jalan H. Agus Salim di Bukittinggi. Sekarang rumah itu sudah tidak ada lagi. Di bawah ini adalah lokasi rumah yang kami tempati.

7837502544_46aae4f68d_b

Foto di atas adalah foto bapak dan mamak setelah akad nikah di Yogyakarta pada 16 Oktober 1959 di Jalan Sindunegaran no. 18.

Ibu dan bapak saya di kampus IAIN Jogyakarta (sekarang adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), beliau adalah salah seorang aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi.

Di bawah ini beberapa foto kami sekeluarga di Bukittinggi.

Tetangga kami di Bukittinggi adalah keluarga Pak Jacub Isman. Namun ketika Pak Jacub Isman melanjutkan studi PhD-nya ke Indiana University Bloomington pada tahun 1970, rumah yang ditempati oleh Pak Jacub ditempati oleh Pak Syahwin Nikelas, adik dari istri Pak Jacub Isman yang juga dosen di FKSS IKIP. Pak Jacub adalah Dekan FKSS IKIP Padang sebelum ayah saya. Ketika Pak Jacub menjabat sebagai Dekan, ayah saya adalah Pembantu Dekan di FKSS IKIP. Keluarga kami tinggal di Bukitinggi dari tahun 1966 sampai 1974. Pada tahun 1974 kami pindah ke Padang setelah tinggal di Bukittinggi selama 8 tahun dari tahun 1966. Selama di Bukitinggi, ayah saya sempat menjadi Ketua Masjid Raya Bukitinggi.

Hanya saya dan adik saya Huseini Nur yang lahir di Bukittinggi. Adik saya lahir tahun 1971. Abang saya yang tertua, Hamda Nur lahir di Semarang pada tahun 1960 ketika ayah dan ibu saya masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Setelah lulus sarjana tahun 1962, ayah mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Andalas (UNAND) yang kemudian menjadi IKIP pada tahun 1965. Abang saya yang kedua, Hamdi Nur, lahir pada tahun 1966 di Padang. Dari tahun 1962 sampai 1966, keluarga kami tinggal di Hotel Muara Padang karena belum mendapat rumah dinas dari pemerintah, sebelum pindah ke Bukitinggi pada tahun 1966. Ibu saya baru lulus sarjana dari IAIN pada tahun 1964 dan langsung menyusul ayah saya menjadi dosen di FKIP UNAND.

Karena masih kecil, tidak banyak yang saya ingat ketika tinggal di Bukitinggi. Yang saya ingat adalah saya menangis ketika saya memberikan ikan mas koki yang dipelihara kepada kucing, juga ketika naik mobil dinas IKIP Padang pindah rumah dari Bukittinggi ke Padang. Masih ingat ketika diajak ke kebun binatang Bukittinggi yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Umur saya ketika itu 4-5 tahun.

Oh ya, saya juga punya kakak yang bernama Huda Nur, perempuan. Namun umur beliau hanya 7 bulan. Menurut keterangan dokter, Huda Nur meninggal dunia karena meningitis. Di bawah ini adalah catatan ayah saya mengenai Huda Nur.

# إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ #

Huda Nur
Lahir 12 Mei 1967 – 2 Shafar 1387 (Kamis) dj. 10.00 WIB
Wafat 24 Djan 1968 – 24 Sjawal 1387 (Rabu) dj. 16.15 WIB
Di RSUP Bukitinggi

Sejak lahir s/d 19 Djan 1968 setahu keluarganya belum pernah sakit. Umur 7 bln telah kuat menelungkup dan merasa senang duduk dengan pertolongan atas pangkuan. Karena kesehatannya yang baik tidak menyusahkan keluarganya. Mudah ketawa biasa bersuara sendiri karena riang. Tgl 19 Djan 68 mentjret, besoknya sekali2 disertai muntah. Petang minggu 20-1-68 telah diobati sebelum kedokter dgn beras rendang dan ubat udanya dari dokter. Tgl 22-1-68 ke dokter Suhadi. Tgl 23-1-68 kembali ke Suhadi untuk disuntik. Tgl 24-1-68 hari Rabu ke dokter Jasmiar karena sakitnya semakin bertambah. Petang selasa stuip 2 x dj. 1.00 dan dj. 4.00. Hari Rabu stuip kembali dj. 8.00 dj 9.00 ke Jasmiar. Dj 10.00 stuip lagi dan lebih lama / mengchawatirkan. Dj. 11.30 ke RSU B.Tinggi dikasi obat tetes kelidahnya anti kram 1 x 5 menit dan obat indjeksi segera dibeli di apotik luar. Dj. 16.15 wafat dihadiri oleh orang tua dan kedua udanya.

(Keterangan di bawah foto)
Gambar Huda Nur tgl 31-12-67 bertepatan dengan hari berlimau akan memasuki Ramadhan 54 hari sebelum wafat.

Masa kanak-kanak dan remaja di Padang

Padang (1974-1987)

Tahun 1974, keluarga kami pindah ke kampus FKSS IKIP Padang. Hanya 4 rumah dalam kampus ini. Paling kiri rumah Pak Slamet Anwar, kemudian Pak Tahasnim Tamin, rumah kelurga kami, dan paling kanan adalah rumah Pak Agustiar Syah Nur.

Teman sebaya saya selama tinggal di kampus FKSS IKIP Padang adalah Taufani, Heksa Seswandi dan Satya Reflitadewi. Kami sekolah di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang sama.

Taman Kanak-kanak (1974-1976)

Tahun 1974 saya mulai sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Padang, dilanjutkan dengan SD PPSP IKIP Padang dari tahun 1976-1981.

5025288375_405e81ceb6_b

Taman kanak-kanak IKIP Padang terletak di kampus IKIP Padang, rumah kami di kompleks FKSS hanya berjarak 15 menit berjalan kaki. Hari pertama sekolah, saya pergi bersama Heksa Seswandi (Wandi), putra Pak Agustiar Syah Nur, tetangga sebelah rumah, ditemani oleh abangnya Heryadi Agus. Masih jelas dalam ingatan, hari pertama sekolah, semua orang diantar oleh anggota keluarga, namun saya datang sendiri. Di bawah ini adalah foto saya dengan Wandi, ketika hari pertama masuk sekolah, kelihatan sangat bersemangat belajar, sedangkan Wandi cemberut.

5025918882_d123a5a212_b

Setiap hari murid-murid TK PPSP IKIP Padang menyanyikan lagu “Aku murid TK Labor” yang dikarang oleh Ibenzani Usman, dosen Jurusan Senirupa IKIP Padang. Tidak banyak yang diingat, namun pengalaman yang tidak pernah dilupakan adalah berkelahi dengan anak yang lebih tua, menandakan saya adalah anak yang pemberani. Sampai anak yang dikalahkan sewaktu berkelahi tersebut mengajak abangnya untuk membalas. Balasannya adalah dengan mengoleskan cabe kemulut saya sewaktu saya berjalan menuju sekolah. Saya menangis sepanjang jalan menuju sekolah karena kesakitan.

Untuk menunjukkan keberanian, saya juga minta disunat bersama-sama dengan abang saya (Hamdi Nur) pada tahun 1976. Di bawah ini adalah foto beberapa hari setelah disunat.

habis disunat 1976.jpg

Sekolah Dasar (1976-1981)

Saya sangat beruntung dapat sekolah di SD PPSP IKIP Padang. PPSP adalah singkatan dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, yang merupakan proyek kementerian pendidikan dan kebudayaan pada masa itu. SD ini juga disebut sebagai sekolah laboratorium IKIP Padang. Sekolah ini digunakan untuk praktik ajar, penelitian pendidikan, dan inovasi pendidikan. Proyek ini dimulai pada tahun 1974, dan bertujuan untuk menguji coba ide-ide dalam pendidikan guna memberi masukan bagi pembaharuan pendidikan nasional. Proyek ini dihentikan pada tahun 1986 oleh pemerintah.

Sistem belajar di SD PPSP ini menggunakan sistem modul, ada yang namanya lembar kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes, lembaran pengayaan dan sebagainya. Dan anak-anak yang cepat belajar dapat menyelesaikan setiap lembaran itu dengan cepat. Saya termasuk dalam kelompok itu, sehingga setiap semester menjadi juara kelas, dan puncaknya pada tahun 1981 menjadi pelajar teladan SD PPSP IKIP Padang. Hadiah sebagai pelajar teladan diberikan oleh Prof. Dr. Jacub Isman pada upacara di lapangan sepak bola kampus IKIP Padang bersama dengan pelajar SMP, SMA dan juga dosen teladan. Hadiahnya uang Rp. 15 ribu dan langsung digunakan untuk membeli sepatu roda. Saya juga selalu dipilih menjadi ketua kelas.

SD PPSP IKIP Padang.jpg
Foto sebelum berangkat sekolah. Sekitar tahun 1977-1978. Lokasi tempat berfoto adalah di depan rumah, sekarang sudah menjadi bangunan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP): http://bit.ly/2JuUUds (Google map).

Yang selalu saya ingat sewaktu SD adalah kami selalu minum susu sebelum pergi sekolah. Mamak dan Bapak selalu menyiapkannya sebelum kami pergi sekolah. Perhatian Mamak dan Bapak terhadap anak-anak sungguh luar biasa. Lego adalah permainan saya sewaktu kecil. Bapak menitipkan kepada Ibu Be Kim Hoa Nio, teman beliau, dosen Bahasa Inggris di IKIP Padang, supaya dibelikan permainan Lego di Singapura, ketika Ibu Be Kim Hoa Nio berkunjung kesana.

Sewaktu SD, saya kadang-kadang diajak Bapak untuk ikut menemani beliau mengajar, dan juga membeli buku. Beliau selalu mendapat discount jika membeli buku di Pustaka Anggrek dan beberapa toko buku lainnya di kota Padang karena kenal dengan baik dengan pemiliknya. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dengan buku sejak kecil. Buku-buku di perpustakaan mini beliau di rumah juga sering saya baca.

Pengalaman yang menarik adalah juga sering diajak shalat subuh di Masjid Raya Al-Azhar, Air Tawar, Padang. Ikut mengaji Al-Quran bersama-sama teman beliau. Yang masih saya ingat adalah Pak Gafar Yatim, Pak Sofyan Muchtar. Kebetulan ayah saya adalah pengurus di Masjid tersebut. Saya juga mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid Raya Al-Azhar.

Setelah lulus SD PPSP IKIP Padang, saya pindah sekolah ke SMP Adabiah Padang. Ini atas permintaan saya. Dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya tidak ada saingan di SD PPSP IKIP Padang.

Sekolah Menengah Pertama (1981-1984)

Sekolah di SMP Adabiah, termasuk sekolah paling favorit di kota Padang pada zaman itu merupakan pengalaman yang membentuk saya pada hari ini. Berbeda dengan di SD PPSP IKIP Padang, yang mayoritas muridnya adalah anak-anak staf di IKIP Padang, di SMP Adabiah muridnya terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang anak pedagang, guru, pegawai pemerintahan dan pekerja swasta. Lebih beragam. Sehingga saya menemukan berbagai anak-anak yang dibentuk oleh keluarga mereka.

Kenakalan saya juga tersalurkan di sekolah ini. Bersama peer-group di sekolah, kami juga membentuk grup yang dinamakan Qhotelawala, yang maksudnya adalah kumpulan teman laki-laki dan wanita pelajar. Kelas dua SMP, waktu berumur 14 tahun, tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) saya juga sudah berani bersama kawan-kawan naik Vespa ke Pekanbaru, yang jaraknya lebih dari 300 km dari Padang.

vespa.jpg

37963087132_16030b50d7_h.jpg

Oleh karena kenakalan ini, prestasi akademik saya di SMP kurang memuaskan walaupun tetap masuk dalam 10-20 besar di kelas. Sekolah akan menjadi maju jika guru-gurunya punya dedikasi tinggi dan disiplin dalam mendidik. Ini yang saya lihat di SMP Adabiah, guru-gurunya luar biasa.

Tanggal 5 April 2014, anak-anak SMP Adabiah alumni tahun 1984 berkumpul kembali setelah 30 tahun meninggalkan sekolah. Penuh gelak tawa. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang profesi yang berumur antara 45-48 tahun.

13771703204_4334a24c70_o

Sekolah Menengah Atas (1984-1987)

Setelah lulus dari SMP Adabiah Padang, saya melanjutkan ke SMA 3 Padang yang jaraknya tidak jauh dari SMP Adabiah.  Sebahagian besar kawan-kawan SMP Adabiah juga melanjukan ke SMA 3 karena penerimaan murid ketika itu adalah berdasarkan lokasi sekolah sebelumnya.

Sewaktu SMA, saya mulai mengurangkan pergaulan dengan kawan-kawan yang ‘nakal’, namun saya masih tidak fokus untuk belajar. Prestasi akademik di SMA biasa-biasa saja, namun saya bagus dipelajaran kimia karena mengikuti les tambahan yang diajarkan oleh Pak Tahasnim Tamin, dosen kimia FKIE IKIP Padang, tetangga sebelah rumah ketika tinggal di kampus FKSS IKIP Padang. Tahun 1983 keluarga kami pindah dari rumah di kampus FKSS karena rumah tersebut dijadikan kantor dekan FKSS, dan dipindahkan ke rumah dinas yang agak jauh dari kampus, iaitu di Jalan Elang, Air Tawar.

Pelajaran di SMA saya ikuti tidak dengan serius. Setiap hari hanya membawa satu buku catatan, dan tidak membawa tas. Bukunya diselipkan dalam saku belakang celana, sehingga Pak Bustaman, guru Fisika pada waktu itu pernah mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil dalam hidup.

Setelah lulus SMA, saya sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke ITB. Ini juga terinspirasi oleh kakak saya, Hamdi Nur, yang telah dulu kuliah di Jurusan Arsitektur ITB pada tahun 1983. Karena pada waktu itu masuk perguruan tinggi negeri hanya didasarkan kepada hasil tes, maka setelah selesai SMA saya fokus belajar untuk menjawab soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Alhamdullilah, akhirnya saya diterima di Jurusan Kimia ITB.

 

Masa kuliah di Bandung

Bandung (1987-1995)

Tahun 1987 setelah lulus dari SMA 3 Padang, saya mencoba ujian masuk ke ITB dan Universitas Parahiyangan (UNPAR). Dalam ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU) saya memilih Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Kimia ITB sebagai pilihan saya, dan Jurusan Arsitektur di UNPAR. Saya sempat mengikuti try out ujian masuk perguruan tinggi di Bandung. Mayoritas mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi pada masa itu masuk dengan ujian saringan masuk sehingga banyak pusat-pusat bimbingan belajar yang bermunculan di Indonesia, terutama di Bandung. Saya masih ingat, saya mengikuti try out yang diselenggarakan oleh Ganesha Operation di Bandung. Inilah pertama kali saya keluar dari pulau Sumatera, dan naik pesawat terbang dari Padang ke Jakarta. Sewaktu di Bandung, saya juga mengikuti ujian masuk ke UNPAR bersama dengan sepupu saya Inggo Laredabona. Alhamdullilah, saya diterima di Jurusan Kimia ITB dan juga Jurusan Arsitektur UNPAR. Atas pertimbangan keluarga, saya memilih mendaftar di Jurusan Kimia ITB. Pada masa itu, Prof. Dr. Isjrin Noerdin, Rektor IKIP Padang (1965 – 1973), teman ayah saya, masih mengajar di Jurusan Kimia ITB.

Di bawah ini adalah teman satu angkatan yang berasal dari SMA 3 Padang, yang berjumlah lima orang, yang di terima di ITB. Dari kiri kekanan, saya, Ira Nevasa (Teknik elektro), Fitri Agustini (Geofisika dan Meteorologi), Firdaus Kurniawan (Teknik Lingkungan) dan Esfandi Hendra (Teknik Pertambangan). Foto di bawah ini diambil ketika acara reuni 30 tahun angkatan 1987 pada 13 Januari 2018 di kampus ITB.

38958269884_ef10445f5b_h

Di bawah ini adalah teman sepermainan dari kecil sampai kuliah di ITB. Sebelah kiri adalah Ira Nevasa (Teknik Elektro) dan Saferian (Teknik Elektro).

39652631342_70e901fde4_h

Masa kuliah di Jurusan Kimia ITB diselingi dengan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD (1987-1992)

Masuk ke ITB merupakan prestasi tersendiri pada zaman itu. Menurut keterangan Drs. Hiskia Achmad, dosen Jurusan Kimia ITB, ranking dari ujian SIPENMARU angkatan 1987 yang diterima di Jurusan Kimia ITB adalah masuk 7000 terbaik dari peserta ujian SIPENMARU. Prestasi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.  Namun banyak diantara kawan-kawan saya diterima dipilihan kedua. Biasanya pilihan pertama adalah jurusan teknik, seperti saya yang memilih Jurusan Teknik Mesin sebagai pilihan pertama.

Semester satu dan dua saya nilai saya pas-pasan. Teman bermain saya sewaktu tingkat satu adalah Terkelin Tarigan, anak Kabanjahe. Terkelin pintar dalam matematika, dan mendapat nilai maksimum dalam kuliah ini. Namun Terkelin pindah ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada tingkat dua. Abdul Hakam dan Tedianto juga pindah ke Universitas Indonesia. Sayapun terpengaruh dan juga ikut ujian SIPENMARU pada tahun 1988, dan lulus di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya di Jalan Sekeloa. Akhirnya saya kuliah didua tempat. Teman sepermainan saya sewaktu di FKG adalah Lucky M. Hatta. Saya hanya bertahan satu tahun kuliah didua tempat, karena Indeks Prestasi Akademis (IPK) yang kurang dari dua. Akhirnya saya memilih tetap kuliah di ITB, namun dengan  IPK yang tidak bagus. Saya mulai rajin belajar di tingkat tiga sampai selesai, sehingga nilai yang jelek di tingkat dua (banyak nilai D) dapat ditutupi dengan nilai A dan B disemester selanjutnya.

Saya menyelesaikan tugas akhir di bawah bimbingan Dr. Harjoto Djojosubroto yang ketika itu adalah Direktur Pusat Penelitian Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional. Penelitian saya adalah mengenai penentuan selenium dalam serum darah manusia dengan menggunakan Neutron Activation Analysis dengan menggunakan Reaktor Nuklir Triga Mark II yang letaknya di sebelah kampus ITB. Beliau menasehati saya untuk melanjutkan pendidikan ke magister. Saya masih ingat beliau berkata kepada saya, yang penting lanjut sekolah, ilmu sastrapun tidak mengapa asal lanjut sekolah. Oleh karena itu saya melanjutkan belajar saya ke program Magister Ilmu dan Material ITB. Saya adalah angkatan kedua program ini dan mahasiswa pertama yang lulus dari Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB sejak menerima mahasiswa tahun 1992.

wisuda.jpg

36797059550_250d396f55_h

Tahun 1987 – 1991 di Sekeloa

Tahun 1987 sampai tahun 1991, ketika kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) saya menyewa kamar di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung. Tanggal 12 Januari 2018 yang lalu saya singgah disini. Tidak ketinggalan makan di tempat Bu Tatang. Sayalah orang yang pertama kali makan di tempat Bu Tatang pada tahun 1987, ketika Bu Tatang membuka rumah makannya pada hari pertama beliau berjualan. Tidak ada berubah, kecuali penuaan. Terima kasih Bu Tatang, banyak mahasiswa yang membesar dengan makanan Bu Tatang yang murah dan enak.

Foto di depan tempat indekos bersama Aa, anak tertua Pak Imad, pemilik indekos, di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung.

38759288835_1bfa49f26c_h

Bersama Bu Tatang (paling kiri). Silahkan klik gambar di bawah ini untuk melihat lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Maps.

Bu Tatang

Lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Map.

Masa kuliah Program Magister Ilmu dan Teknik Material (1993-1995)

Saya masuk Program Magister Ilmu dan Teknik Material setelah mengkuti ujian saringan masuk tahun 1993. Selama kuliah saya dibiayai oleh orang tua. Saya sudah menikah dengan Terry Terikoh waktu mendaftar menjadi mahasiswa program magister. Karena masih belum mempunyai penghasilan, saya merasa bertanggung jawab menyelesaikan studi saya dengan baik. Bidang sewaktu saya kuliah di Ilmu dan Teknik Material adalah banyak berkaitan dengan bidang metalurgi. Karena saya tidak mempunyai dasar yang kuat dalam bidang ini, saya juga ikut perkuliahan tingkat sarjana. Akhirnya saya lulus cum laude dalam waktu 1,5 tahun. Saya ditawari menjadi dosen di Program Teknik Material, Jurusan Teknik Mesin setelah lulus ujian magister pada 14 Februari 1995. Setelah berpikir akhirnya saya menerima tawaran tersebut, namun mesti menunggu untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena tidak ada formasi pada tahun itu.

Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Dr. Mardjono Siswosuwarno dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke PhD. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

1226612331_e986c1009a_o

Saya menikah di Bandung pada 24 April 1993 dengan Terry Terikoh, teman kuliah di Jurusan Kimia ITB. Terry masuk ITB lebih awal satu tahun dari saya (1986). Setelah menunggu 1 tahun 11 bulan dan 6 hari, pada 2 April 1995 lahirlah Farid Rahman Hadi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

32681260002_c616c518d2_h

Status saya setelah lahirnya Farid adalah calon dosen ITB, sehingga Dr. Mardjono Siswosuwarno berinisiatif mencoba agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven). Namun tidak jadi karena kebetulan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan datang ke ITB dan menawarkan melanjutkan ke program Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) kepada saya. Saya menerima tawaran tersebut. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan pergi ke Malaysia dan menetap di Malaysia begitu lama sampai sekarang.

Masa di Sapporo

1999 – 2002 di Hokkaido University

“Dan mereka merancang, Allah juga merancang, Dan Allah sebaik-baik perancang” (QS 3:54)

Banyak peristiwa dalam hidup ini yang tidak terduga. Saya tidak menyangka akan menghabiskan waktu di Malaysia jika saya tidak bertemu dengan Prof. Halimaton tahun 1995 di ITB. Saya juga tidak akan tinggal di Jepang dan bekerja dengan Prof. Bunsho Ohtani jika saya tidak menyurati beliau melalui e-mail pada tahun 1999. Semua peristiwa kecil itu yang merubah hidup saya. Allah adalah sebaik-baik perancang, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.

4709506562_405f7e2fb5_o
Saya sebagai anggota grup riset Prof. Ohtani tahun 2000. Dari kiri kekanan: Dr. Bonamali Pal, Dr. Shigeru Ikeda, Dr. Hadi Nur, Prof. Bunsho Ohtani dan Noboru Sugiyama.

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 1 Nopember 1999 dengan menggunakan pesawat Thai Airways dari Singapura ke Osaka dan dilanjutkan dengan All Nippon Airways ke Sapporo. Kami sekeluarga (saya, Terry Terikoh, Farid Rahman Hadi (4.5 tahun) dan Firda Hariri (3 bulan) dijemput oleh Dr. Shigeru Ikeda di Chitose Airport. Pada waktu itu laboratorium Prof. Ohtani hanya terdiri dari 1 Assistant Professor (Dr. Shigeru Ikeda), 2 orang Postdoc (Dr. Bonamali Pal dan saya) dan 1 orang mahasiswa M.Sc. (Noboru Sugiyama). Dr. Shigeru Ikeda dan Dr. Bonamali Pal sekarang sudah menjadi full professor di Jepang dan India.

Hari pertama saya sampai di Sapporo, saya bertemu dengan Sugeng Triwahyono (sekarang Prof. Dr. Sugeng Triwayono) di Catalysis Research Center (CRC) yang waktu itu adalah research student di laboratorium Prof. Masakazu Iwamoto, yang waktu itu adalah Director, Catalysis Research Center (CRC). Laboratorium beliau di lantai dua, dan laboratorium Prof. Ohtani di lantai satu di bangunan CRC.

4713657058_1513f78b10_b.jpgDengan Prof. Bunsho Ohtani di Tottori tahun 2000.

Saya cukup beruntung menjadi postdoctoral fellow di bawah bimbingan Prof. Bunsho Ohtani di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Prof. Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya. Prof. Ohtani yang merupakan ilmuwan yang sangat inspiratif. Beliau memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan yang hebat. Dalam dua tahun saya sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow dan dilanjutkan sebagai COE (Center of Excellent) Visiting Researcher selama setengah tahun, kami menerbitkan sebuah makalah mengenai konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai Phase Boundary Catalysis. Saya berhutang budi kepada Prof. Ohtani karena telah menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian sains dengan cara yang benar.

Pengalaman saya menjadi peneliti selama 3.5 tahun setelah saya menyelesaikan doktor tahun 1998, yang 2,5 tahun dilakukan di Jepang (dua tahun sebagai JSPS postdoctoral fellow dan setengah tahun sebagai COE Visiting Researcher di Catalysis Research Center, Hokkaido University) telah memberikan saya gambaran yang jelas terhadap ‘masalah-masalah’ pendidikan dan riset. Tulisan di bawah ini juga mencoba menjawab pertanyaan; Mengapa universitas di Jepang bagus? Visi kearah ini sebenarnya sudah nampak di Indonesia dan Malaysia, yaitu dengan usaha menjadikan beberapa universitas besar di Indonesia dan Malaysia menjadi research university. Hal ini beralasan karena universitas akan menjadi tempat aktivitas intelektual dan menjadi harta nasional. Keuntungan sosial dari ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan di Amerika, dan dikenal dengan the silicon valley syndrome.

26697166238_1c2c97b1b4_kKartu ucapan selamat jalan dari kawan-kawan di laboratorium Prof. Ohtani ketika meninggalkan Sapporo tahun 2002.

Riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis huruf tebal untuk kalimat kunci.)

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi.

Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Associate Professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut.

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (‘sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir).

Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas.

The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, “The 1st Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS-1)” telah tujuh belas tahun berlalu. Acara ini diadakan di Sapporo pada tahun 2001. Kebetulan saya, satu-satunya postdoc di Hokkaido University dari Indonesia pada waktu itu, telah ditunjuk sebagai ketua untuk acara seminar ini. Saya masih ingat, dengan ditemani oleh Ahmad Hidayat Lubis dan Dwi Gustiono, kami menemui Prof. Michio Yoneyama, Director of International Student Center, Hokkaido University, untuk membicarakan HISAS-1. Beliau sangat mendukung acara ini, dan mengatakan bahwa HISAS-1 merupakan acara ilmiah pertama yang dibuat oleh persatuan mahasiswa asing di Hokkaido University. Acara ini telah dilaksanakan di Hokkaido University Multimedia Education Building, Graduate School of International Media and Communication pada 4 Nopember 2001, dan telah berlangsung dengan baik.

4734569908_552b9a0b0d_b.jpg

Prof. Takashi S. Kohyama bersedia menjadi keynote speaker dengan bantuan Joeni Setijo Rahajoe, yang ketika itu adalah mahasiswa Ph.D. Prof. Kohyama. Pihak Kita Gas Co. Ltd. yang diwakili oleh Mr. Yozo Maeizumi (Managing Director) juga bersedia datang untuk memeriahkan acara ini. Ahmad Hidayat Lubis mempunyai andil besar untuk mendatangkan Mr. Maeizumi. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Tokyo, Winnetou Nowawi, dan juga ketua PPI Jepang, Romi Satria Wahono, juga datang menghadiri HISAS-1.Acara HISAS-1 berlangsung dengan meriah. Gelak tawa para peserta pecah ketika Heru Rachmadi, sang dokter hewan, menceritakan pengalamannya melakukan inseminasi buatan pada sapi. Hari Sutrisno dan Subeki juga menjadi bintang dalam HISAS-1, karena presentasi mereka tidak membuat mengantuk, penuh canda.

Sehat Jaya Tuah, yang menjadi sekretaris acara ini meninggal dunia pada 29 Mei 2010 (jam 10 malam) karena serangan jantung di Palangkaraya, Indonesia. Teringat senyuman dan keramahan Sehat Jaya Tuah.Acara ini tinggal kenangan. Buku prosiding HISAS-1 masih menghias lemari buku saya.

Dari Mahasiswa Sampai Profesor dengan UTM

Tahun 2018 ini saya berumur 49 tahun, dan 42% umur ini dihabiskan bersama Universiti Teknologi Malaysia, dari mahasiswa sampai menjadi profesor. Saya telah bersama UTM selama 20 tahun. Saya datang ke UTM sebagai mahasiswa Ph.D. bulan Nopember 1995. Jika dikurangkan dengan waktu tinggal di Jepang (1999-2002), bulan April 2018 ini saya genap bersama UTM selama 20 tahun. Kronologi perjalanan hidup saya dapat dilihat disini: https://hadinur.net/timeline/

Pendahuluan

19357114822_15774134eb_o

Catatan ini dinamakan 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor karena dalam 20 tahun terdapat hal-hal yang penting dalam hidup saya yang saya habiskan di Universiti Teknologi Malaysia atau biasa disebut dengan UTM: hubungan saya dengan teman sejawat, karir saya, pemikiran dan renungan saya mengenai pendidikan tinggi dan juga kehidupan. Selalu ada kerinduan untuk menuliskan hal-hal penting. Di dunia yang penuh dengan informasi, yang paling kita perlukan adalah catatan yang ditulis dengan teratur, agar kita meninggalkan pengalaman kita kepada orang lain.

Saya terkesan dengan penjelasan Prof. Jeffrey Lang, profesor matematika di Kansas University, seorang mualaf, mengenai tujuan hidup. Penjelasan beliau mengenai tujuan hidup sangat menarik dan didasarkan kepada tiga prinsip yang saling terkait, iaitu manusia adalah mahluk intelek, mahluk yang mempunyai pilihan dan mengalami penderitaan dalam hidup di dunia. Ketiga prinsip tersebut dapat kita lihat dan rasakan dalam hidup setiap manusia, dan juga tergambar dari catatan 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor.

Tujuan dari hidup di dunia ini adalah proses kita dalam mendekati kualitas dari sifat-sifat Allah seperti benar, jujur, bijak, penyayang, sabar dan lain-lain. Karena sumber semua kualitas sifat-sifat tersebut ini berasal dari Allah, kita mesti mendekatkan diri dengan cara beribadah kepada-Nya. Usaha-usaha kearah itu memerlukan intelektualitas, pilihan dan penderitaan seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini, walaupun mustahil kita sampai pada sifat-sifat Allah yang sempurna tersebut. Manusia hanya dapat mendekati sifat-sifat tersebut. Hal yang penting adalah, kita harus menyadari bahwa penderitaan itu adalah karakter duniawi. Kisah hidup manusia adalah cerita mengenai harapan yang dicapai dan juga kegagalan mencapai harapan. Setiap detik, hidup ini adalah rangkaian harapan dan selalunya berkaitan dengan penderitaan. Manusia perlu harapan yang perlu diperjuangkan dalam hidup yang sifatnya dinamis.

sifat Allah.jpg

Dalam kehidupan, hal yang paling penting adalah bagaimana cara kita memotivasi diri untuk menemukan makna, tujuan dan akhirnya kebahagiaan. Proses penemuan diri atau self-discovery sangat penting dalam proses mencari arti dalam kehidupan (meaning in life), terutama dalam memotivasi diri dalam kehidupan.

Dalam ilmu pengetahuan, selama berabad-abad, saintis dan filsuf mencoba mencari tujuan dari kehidupan. Dari teori kuantum (quantum theory), pada skala yang paling kecil, sampai kosmologi, pada skala yang sangat besar — sampai pada tingkat yang transcendent, yang di luar jangkauan pengalaman manusia normal, yang hanya dapat dijawab oleh agama. Pencarian yang terus-menerus akan berlaku, dan menurut pendapat saya, tidak pernah akan berhenti. Hal yang terus ditanyakan oleh manusia.

Menurut Sigmund Freud dan banyak filsuf terkenal lainnya dan juga ilmuwan sosial, kemampuan seseorang untuk mencintai dan bekerja sangat terkait dengan tingkat kebahagiaan dan kepuasan seseorang terhadap kehidupan. Namun yang paling penting, manusia mesti menemukan sendiri makna dari kehidupan mereka. Ini yang yang disebut sebagai proses penemuan diri (self-discovery).

•••

Salah satu prinsip yang saya pegang adalah bahwa profesor yang mengajar di universitas itu adalah pendidik, dengan kata lain adalah guru. Tujuan utama saya menjadi profesor adalah menjadi guru dan membimbing mahasiswa dengan baik. Tentu saja research juga menjadi perhatian yang penting, namun mendidik lebih utama karena researcher yang baik biasanya adalah guru yang baik, walaupun ada juga yang tidak begitu. Ini kerisauan saya sebenarnya melihat perkembang pendidikan tinggi di rantau ini sekarang.

Saya berharap anda membaca 20 Tahun bersama UTM: dari mahasiswa sampai profesor, untuk mengenal dunia pendidikan tinggi dan orang yang terlibat didalamnya. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Ini menunjukkan saya setia kepada pekerjaan saya. Ini adalah wujud dari pengabdian saya untuk suatu tujuan, bukan hanya semata-mata karena minat tetapi komitmen sepenuh hati bekerja sebagai pensyarah di UTM.

Sebagai catatan, beberapa bahagian catatan ini telah pernah dipublikasikan sebelumnya.

Latar Belakang

Saya lahir pada tahun 1969 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ketika saya lahir, ayah saya, Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang adalah Universitas Negeri Padang).

portrait

Screenshot 2019-06-07 at 10.54.26 AM
Ini foto keluarga pada Hari Raya tahun 1971 (19 November 1971) ketika saya masih berumur 2.5 tahun, kedua dari kanan (berdiri disamping ibunda tercinta).
keluarga.jpg
Keluarga kami tahun 1973. Coba terka saya yang mana?
saya-dan-bapak.jpg
Foto sebelah kiri adalah foto saya tahun 2011 dan sebelah kanan adalah foto Bapak tahun 1991. Bapak yang selalu menjadi inspirasi saya.

Setiap orang memiliki mimpinya sendiri dan oleh karena itu mereka tenggelam dalam perjalanan menuju pemenuhan mimpi mereka. Tiga puluh satu tahun yang lalu (1987), ketika saya menjadi mahasiswa tingkat satu di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya bermimpi untuk menjadi seorang profesor dengan menulis judul Prof. Dr. di depan nama saya pada halaman depan buku penuntun praktikum kimia. Dua puluh tiga tahun yang lalu (1995) saya datang ke UTM sebagai mahasiswa Ph.D., dan dua setengah tahun kemudian (1998), saya berhak untuk menempatkan gelar Dr. di depan nama saya. Sekarang, saya layak untuk menempatkan gelar Profesor. Mimpi telah menjadi kenyataan. Buku penuntun praktikum kimia tersebut menjadi saksi impian saya.

Saya pertama kali tertarik dalam kimia suatu hari pada tahun 1984 ketika saya masih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Padang. Saya menghadiri kursus tambahan dalam pelajaran kimia. Kursus ini diajarkan oleh Drs. Tahasnim Tamin, seorang dosen senior di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Padang. Saya tertarik dengan konsep kimia yang indah yang diajarkan dengan demonstrasi laboratorium. Salah satu eksperimen menarik yang dilakukan di dalam kelas adalah reaksi antara natrium dengan air, dimana logam natrium dimasukkan ke dalam air di dalam gelas kimia. Reaksi yang hebat antara natrium dengan air menyebabkan logam tersebut menyala di permukaan air. Reaksi yang menakjubkan! Ini adalah salah satu contoh bagaimana eksperimen kimia dapat menginspirasi siswa menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan. Hal ini tidak dapat dicapai tanpa guru yang mempunyai ilmu dan juga dedikasi yang tinggi dalam mendidik.

Pelajaran penting berikutnya datang saat saya menjadi mahasiswa Jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam proyek tugas akhir, saya dibimbing oleh Dr. Harjoto Djojosubroto, yang pada waktu itu adalah Direktur Pusat Penelitian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional, Indonesia. Dr. Harjoto tertarik dengan teknik analisis pegaktifan netron dan baru saja memperoleh gelar doktor dari ITB dalam bidang kimia atom panas. Kami melakukan studi penentuan selenium dalam darah manusia dengan analisis pengaktifan netron yang saya selesaikan hampir selama dua tahun. Beliaulah yang mengilhami saya untuk melanjutkan studi pascasarjana. Peristiwa paling penting yang terjadi pada saat itu adalah pertemuan dengan Terry Terikoh, juga mahasiswa jurusan kimia ITB, yang sekarang menjadi istri saya. Perjalanan karir saya dalam dunia akademis selalu mendapatkan dukungan dari Terry, dan ini merupakan faktor terbesar yang mendukung kekeberhasilan dalam karir profesional saya.

•••

Salah satu pengalaman yang tidak patut ditiru adalah saya kuliah di dua universitas yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ketika naik ke tingkat dua di Jurusan Kimia ITB tahun 1988, saya juga masuk di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (UNPAD). Saya kuliah di dua tempat sekaligus, dan bertahan hanya 1 tahun saja (1988-1989) karena GPA (Cumulative Grade Point Average) saya kurang dari 2.00 di ITB dan UNPAD, sehingga saya memutuskan untuk fokus kuliah di ITB saja.

Di bawah ini adalah piagam Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (disingkat P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa saya tahun 1987 di ITB dan 1988 di UNPAD.

Piagam penataran P-4
Piagam Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Hikmah yang saya dapatkan dari peristiwa ini adalah, untuk menjadi sukses dalam dunia sains, kita harus fokus.

•••

Pada bulan September 1993, saya mendaftar pada Program Magister Ilmu dan Teknik Material di Institut Teknologi Bandung dan beruntung dibimbing oleh Dr. Bambang Ariwahjoedi, dosen yang kreatif dan memiliki ide-ide yang bernas. Kreativitas sangat penting pada waktu itu karena kurangnya peralatan laboratorium di ITB. Saya menyelesaikan proyek dengan topik sintesis biokeramik hidroksilapatit. Saya lulus program magister dengan predikat cum laude pada tahun 1995. Pengalaman saya melakukan riset mulai bertambah ketika saya melanjutkan Ph.D. dalam bidang kimia zeolit di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di bawah bimbingan Prof. Halimaton Hamdan dengan biaya dari pemerintah Malaysia melalui research grant pada bulan Nopember 1995. Biaya kuliah semester pertama dibayarkan oleh ayah saya. Sejak itu mulailah saya meninggalkan Indonesia dan memulai hidup di Malaysia sebagai mahasiswa Ph.D. sampai menjadi menjadi profesor di UTM.

Pada tahun 1999, saya beruntung dipilih dari sekian banyak pelamar mendapatkan beasiswa postdoc dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) di bawah bimbingan Profesor Bunsho Ohtani, profesor di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Saya berada di Jepang selama dua setengah tahun. Jika dikurangkan dengan waktu tinggal di Jepang, bulan April 2018 ini saya genap bersama UTM selama 20 tahun. Berdasarkan inilah, catatan ini diberi judul 20 tahun dengan UTM.

1995 – 1999 di UTM

Sebagai mahasiswa Ph.D. dan postdoc di UTM

Sebelum saya mendaftar menjadi mahasiswa Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia, saya adalah mahasiswa Magister Program Studi Ilmu dan Teknik Material, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Saya lulus dengan cum laude dan menyelesaikan program ini dalam waktu 1,5 tahun. Saya menyelesaikan studi pada bulan Februari 1995, dan diwisuda pada bulan Oktober 1995. Saya adalah lulusan pertama Program Magister Ilmu dan Teknik Material, ITB.

27788932_10215945176961449_7536793909314015770_o.jpg

Saya gagal mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia (University Research for Graduate Education scholarship) meski sudah diterima sebagai mahasiswa Ph.D. di Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah bimbingan Prof. Ir. Tata Surdia, Prof. Dr. Noer Mansjoeriah Surdia dan Dr. Mardjono Siswosuwarno (sekarang Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno). Tahun 1995, saya juga gagal dikirim oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melanjutkan studi Ph.D. di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Saat itu, saya adalah calon dosen di Jurusan Teknik Mesin, Program Studi Ilmu dan Teknik Material, ITB.

Kebetulan pada tanggal 29 Juni 1995 saya bertemu dengan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan (sekarang Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan) yang sedang menghadiri Seminar Kimia Bersama ITB-UKM Kedua, di ITB, dan beliau menawarkan saya untuk melanjutkan Ph.D. dengan beliau di Universiti Teknologi Malaysia. Setelah surat menyurat dengan beliau, akhirnya pada bulan Nopember 1995 saya berangkat ke Johor Bahru, Malaysia dari Padang menggunakan pesawat Pelangi Airways dari lapangan terbang Tabing. Saya terpaksa meninggalkan istri saya, Terry Terikoh, dan anak saya, Farid Rahman Hadi, di rumah orang tua saya di Padang. Orang yang pertama kali menyambut saya di lapangan terbang Senai adalah En. Lokman Zakaria, suami dari sepupu Imnati Ilyas, saudara ayah saya, yang tinggal di Johor Bahru. Saya menginap satu hari di rumah beliau di Taman Rinting, Johor Bahru.

Setelah mendaftar, saya ditempatkan di asrama Desa Skudai, yang berada di luar kampus UTM. Alhamdullilah, saya bertemu dengan Adi Surjosatyo (sekarang Prof. Dr. Adi Surjosatyo) di CIMB Bank UTM, dosen Universitas Indonesia yang juga mendaftar sebagai mahasiswa M.Sc. di UTM dan menawarkan untuk pindah ke asrama dalam kampus di Kampung Kempas (sekarang Kolej Tuanku Canselor) blok S36 bersebelahan dengan kamar beliau. Disinilah saya tinggal selama 2.5 tahun sampai saya menyelesaikan program Ph.D saya di UTM. Adi Surjosatyo menjadi teman seperjuangan saya selama saya menempuh Ph.D. Seringkali hanya kami berdua tinggal di asrama ketika cuti semester, karena semua mahasiswa yang lain pulang ke kampung halaman masing-masing.

Teman-teman seperjuangan saya waktu Ph.D. di Jabatan Kimia pada masa itu diantaranya adalah Pn. Salasiah Endud (sekarang Prof. Dr. Salasiah Endud), En. Abdull Rahim Mohd Yusoff (sekarang Prof. Dr. Abdull Rahim Mohd Yusoff) dan Pn. Noraziah Buang (sekarang Prof. Madya Dr. Nor Aziah Buang).

zeolite.jpg
Zeolite Porous Materials Research Group (1998). Dari kiri ke kanan, Hadi Nur, Chan Kah Yee, Mohd Nazlan Mohd Muhid, Halimaton Hamdan, Zainab Ramli, Ang Boon Kim, Salasiah Endud dan Rozieyati Abdullah.
31991987624_7b7fb7138c_k.jpg
Terry Terikoh, Farid Rahman Hadi dan Firda Hariri dan saya (1999).
wisuda 1999
Saya, mamak dan bapak (1999).

Screen Shot 2018-02-16 at 11.37.30 AMProyek Ph.D. saya dalam bidang kimia material di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang dibimbing oleh Prof. Halimaton Hamdan adalah mengenai mengenai sintesis, karakterisasi dan aktivitas katalitik aluminofosfat berpori, VPI-5. Setelah enam bulan bekerja di laboratorium, saya gagal mensintesis VPI-5. Tesis Ph.D. saya berasal dari dua belas bulan beker­ja keras di laboratorium. Pada masa yang sama, saya juga bekerja dengan proyek lain dengan topik sintesis zeolit dari abu sekam padi. Saya lulus Ph.D. dengan beberapa publikasi ilmiah mengenai studi tentang struktur, sifat fisikokimia dan aktivitas katalitik AlPO4-5 yang dimodifikasi dengan logam transisi. Saya juga mengusulkan dan berhasil mensintesis zeolite NaA zeolit langsung dari sekam padi dan abu sekam padi. Ini adalah pekerjaan selama dua belas bulan yang sangat intens. Akhirnya saya menemukan bagaimana bekerja dalam bidang sains secara mandiri. Walaupun sangat melelahkan, periode ini sangat menggembirakan. Saya menyelesaikan Ph.D. saya dalam waktu dua setengah tahun pada tahun 1998. External examiner tesis Ph.D. saya adalah Prof. Dr. Liew Kong Yong dari Universiti Sains Malaysia (USM). Setelah itu, saya bekerja sebagai postdoc selama satu tahun di UTM. Saya termasuk postdoc yang paling awal di UTM.

Saya orang Indonesia ketiga yang menerima ijazah PhD dari UTM setelah Dr. Ahmad Indra Siswantara (sekarang dosen Universitas Indonesia) dan Dr. Sabar Derita Hutagalung (sekarang dosen Jazan University, Arab Saudi).

•••

Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan, tanpa beliau saya tidak akan seperti sekarang.

halimaton.jpg
Dengan Prof. Halimaton Hamdan tahun 2017.

Riak kehidupan

Sebagian orang ada yang memperoleh keinginannya dengan mudah. Sebagian lagi ada yang memutar-mutar dulu baru kesampaian. Sebagian lagi ada yang tidak kesampaian sama sekali. Bagi orang yang pernah mengalami jatuh bangunnya hidup akan terasa nikmatnya hidup. Senang, susah, sedih dan gembira pernah dirasakan. Ketika kita lagi bernasib baik, kita akan merasakan bagaimana susah orang-orang yang tidak bernasib baik. Ketika kita bernasib, kita harus bersabar dan berpasrah diri. Kita tidak perlu takut dan cemas akan masa depan kita, walaupun jalan yang kita tempuh tidak terbayangkan sebelumnya atau diluar rencana.

Pikiran saya melayang lagi kebelakang. Setelah lulus sarjana Kimia di ITB pada tahun 1992, saya melamar menjadi dosen di Jurusan Kimia ITB, tetapi waktu itu ditolak. Saya baru ditawari menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB setelah saya lulus magister pada tahun 1995. Pada waktu itu, ITB merencanakan mengirim saya untuk mengambil program Ph.D. di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Karena jatah untuk tahun itu hanya untuk satu orang dan peluang untuk tahun depan tidak pasti, saya berinisiatif mencari sekolah sendiri dan diterima di UTM. Setelah lulus Ph.D. pada tahun 1998 dan sedang postdoc di UTM, saya dipanggil oleh ITB untuk mengikuti tes pegawai negeri. Rupanya Prof. Noer Mandsjoeriah Surdia juga mengusulkan supaya saya diangkat sebagai dosen di Jurusan Kimia ITB. Namun karena Program Studi Teknik Material ITB telah lebih dulu memproses lamaran, saya disuruh memilih, mau di Jurusan Kimia atau di Program Studi Teknik Material? Tanpa ragu saya memilih Program Studi Teknik Material sebab jurusan itu yang lebih dulu memberi tawaran, selain itu proses lamaran di Program Studi Teknik Material sudah sampai di fakultas.

27858040_10215956737490455_3412382227219756194_n
Kartu tanda pengenal sebagai dosen ITB yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, Pembantu Rektor II ITB.

Tahun 1998, saya telah menyelesaikan semua tes untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di ITB. Karena urusan sudah beres dan juga sudah mendapat rumah transit ITB di Cisitu Lama, Bandung, saya kembali ke UTM untuk menyelesaikan program postdoc yang tinggal sembilan bulan lagi. Baru saja sampai di Johor Bahru, beberapa hari kemudian ITB memanggil kembali untuk menyelesaikan wawancara dengan dekan. Saya menelepon Prof. Noer Mandsjoeriah Surdia yang pada waktu itu adalah ketua Program Magister Ilmu dan Teknik Material, memohon keringanan agar wawancara dilakukan melalui telepon saja karena kalau pulang tidak mungkin, bahkan waktu itu Prof. Halimaton Hamdan, pembimbing saya di UTM, sempat bicara juga dengan beliau bahwa saya dipinjam sementara oleh UTM. Dari pembicaraan, nampaknya tidak ada masalah. Namun, setelah postdoc di UTM selama satu tahun dan dilanjutkan sebagai postdoc di Hokkaido University, Jepang selama dua setengah tahun, nama saya hilang sebagai calon staf dosen ITB, mungkin karena tidak ikut wawancara, lamaran tidak diproses lebih lanjut.

Selama di Jepang pun usaha saya untuk menjadi dosen di Indonesia masih ada, kembali ke ITB nampaknya tidak mungkin, atas saran ayah saya, kemudian saya mencoba melamar ke Universitas Negeri Padang (UNP). Dari Jepang sempat pulang untuk mengikuti tes pegawai negeri lagi dan wawancara. Karena kondisi perekonomian Indonesia yang sedang buruk, saya memutuskan kembali ke UTM.

Inilah pengalaman hidup, penuh liku-liku, bukannya senang seperti apa yang terlihat, semua ini menjadi pengalaman yang berharga, kami tidak akan ragu karena janji Allah SWT selalu benar. Dibalik semua peristiwa ada hikmahnya, dan kita pun bisa mengambil pelajaran agar sesuatu itu bisa menjadi lebih baik.

2002 sampai sekarang di UTM

Kembali ke UTM

Setelah lulus program Ph.D., Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) adalah dua universitas yang menerima saya sebagai dosen. Namun, saya masih berkeinginan untuk mencari pengalaman dalam penelitian. Akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti postdoc di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Sapporo, Jepang. Saya berangkat bersama istri dan kedua anak saya, Farid Rahman Hadi, lahir pada tahun 1995 di Bandung, dan Firda Hariri, lahir pada tahun 1999 di Johor Bahru.

Dua setengah tahun di Sapporo cukuplah bagi kami menimba pengalaman. Pendidikan anak-anak mulai menjadi pikiran saya. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk pendidikan, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan mengenai pendidikan agama anak-anak. Saya dan istri sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling aktif meminta saya menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anak lebih terjamin dan ketiga Malaysia lebih dekat dengan kampung halaman.Setelah hampir dua setengah tahun di Hokkaido University, saya pulang kembali ke UTM setelah menerima tawaran Prof. Halimaton Hamdan sebagai pensyarah di Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS).

Prof. Halimaton adalah Pengarah IIS dan sedang memimpin sebuah proyek penelitian yang besar yang berjumlah RM 11.5 juta yang berjudul “Zeolites and Derivatives as Catalyst in the Synthesis of Specialty Fine Chemicals” di bawah Top-Down Intensified Research in Priority Area (IRPA) research grant.

Pada bulan Mei 2002, saya mulai bekerja di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), setelah satu tahun sebagai research officer karena menunggu proses permohonan sebagai pensyarah yang diproses di Kementerian Pendidikan Malaysia, dan kemudian sebagai pensyarah DS45 pada 2 Juni 2003. Tangga demi tangga saya tapaki. Rasa syukur dan suka cita datang tatkala saya diangkat menjadi profesor penuh di UTM pada tahun 2010. Di bawah ini adalah posisi di UTM dan juga posisi di luar UTM yang berafilisasi dengan UTM dari tahun 2002 sampai sekarang yang ditulis secara kronologi di bawah ini.

  • Research Officer (1 Mei 2002 – 31 Mei 2003), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
  • Lecturer (2 Juni 2003 – 5 Oktober 2007), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
  • Senior Lecturer (6 Oktober 2007 – 3 September 2008), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
  • Associate Professor (4 September 2008 – 28 November 2010), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
  • Manager, International Affairs for Indonesia (1 Desember 2008 – 31 Maret 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
  • Ketua Catalytic Science and Technology (CST) Research Group (24 Juni 2009 – 23 Juni 2014), Universiti Teknologi Malaysia.
  • Profesor (29 November 2010 – sekarang), Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia.
  • Direktur Centre for Sustainable Nanomaterials, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research, Universiti Teknologi Malaysia (15 Februari 2015 – sekarang).
  • Visiting scientist, the Institute for Heterogeneous Materials Systems, Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Germany (20 Juli – 4 September 2015).
  • Adjunct professor di Universitas Negeri Malang (1 Februari 2017 – sekarang).

Pengalaman saya dalam administrasi dimulai pada tahun 2008 ketika saya ditunjuk sebagai Manager, International Affairs for Indonesia di bawah UTM International Office dengan Director adalah Prof. Dr. Mohd Azraai Kassim dan Deputy Director adalah Prof. Madya Dr. Mohd Ismail Abd Aziz (sekarang Prof. Dato’ Dr. Mohd Ismail Abd Aziz). Saya di UTM International Office selama 5 tahun 4 bulan. Pada masa itu saya terlibat dalam usaha UTM mendapatkan pensyarah dan juga mahasiswa dari Indonesia. Hal ini berkaitan dengan usaha UTM memperoleh status sebagai research university, dan alhamdullilah terwujud pada 10 Juni 2010. Pada masa itu UTM mempunyai pensyarah yang berasal dari Indonesia lebih dari 60 orang, dan jumlah mahasiswa sekitar 450 orang. Saya banyak melakukan kunjungan ke Indonesia bersama Prof. Dato’ Seri Dr. Zaini Ujang, Vice Chancellor UTM, dan juga Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris, Director of Marketing UTM pada waktu itu.

Inisiatif yang pertama yang saya lakukan sebagai Manager, International Affairs for Indonesia adalah mengunjungi Dr. Fasli Jalal, yang waktu itu menjabat sebagai Director-General of Higher Education, Indonesia pada 9 Februari 2009 untuk mengenalkan Indonesia Scholar-in-Residence Program (ISRP).

3269612558_309d6812c5_o.jpg
Dari kiri ke kanan adalah Tn. Hj. Wan Mohd. Zawawi Wan Abd. Rahman, Prof. Dr. Ahmad Kamal Idris, Prof. Dr. Siti Hamisah Tapsir, Dr. Fasli Jalal, Prof. Madya Dr. Hadi Nur dan Prof. Madya Dr. Mohd Ismail Abd Aziz.

Dengan naiknya status UTM sebagai research university, banyak research group yang dibuat. Selama 5 tahun (2009 – 2014) saya menjadi ketua Catalytic Science and Technology (CST) Research Group di UTM. Anggota dari CST adalah Dr. Dwi Gustiono, Dr. Jon Efendi, Dr. Hendrik Oktendy Lintang, Prof. Madya Dr. Hadi Nur, Prof. Madya Dr. Sugeng Triwahyono, Prof. Madya Dr. Zainab Ramli dan Dr. Lee Siew King.

4789830201_c2bd0b7e39_b.jpg
Dari kiri ke kanan, Dr. Dwi Gustiono, Dr. Jon Efendi, Dr. Hendrik Oktendy Lintang, Prof. Madya Dr. Hadi Nur, Prof. Madya Dr. Sugeng Triwahyono, Prof. Kanuzari Domen (Tokyo University), Prof. Madya Dr. Zainab Ramli dan Dr. Lee Siew King (13 Juli 2010).
5189325274_dd9f602331_o
Dari kiri kekanan adalah Prof. Madya Dr. Lee Chew Tin Lee, Prof. Dr. Azraai Kassim, Prof. Madya Dr. Mohd Ismail Abd Aziz, Prof. Dato’ Seri Dr. Zaini Ujang, Prof. Dato’ Dr. Mohd Tajudin Md. Ninggal, Prof. Madya Dr. Masputeriah Hamzah, dan Prof. Dr. Hadi Nur.

•••

Tahun 2018 adalah tahun yang menyimpan duka bagi UTM, karena Prof. Sugeng Triwahyono, meninggal dunia pada 16 Februari 2018. UTM ditinggalkan oleh seorang stafnya yang sangat produktif.

Prof. Dr. Sugeng Triwahyono (29 Juni 1969 – 16 Februari 2018)

Selamat jalan sahabat. Saya menjadi saksi bahwa hamba Allah yang saya kenal rapat lebih dari 20 tahun adalah orang yang sangat baik dan pemurah hati. Dipanggil oleh Allah SWT ketika saya sedang sholat Jumat. Semoga khusnul khotimah.

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Allah berilah kami pahala atas musibah ini dan gantilah bagiku yang lebih baik dari musibah ini.”

28061304_10216009175721378_5728905666946455874_o.jpg

•••

Saya dilantik menjadi profesor di UTM pada 29 Nopember 2010 dan memberikan inaugural professorial lecture pada 19 Oktober 2011. Ayah, ibu, abang dan juga keluarga saya turut hadir pada inaugural professorial lecture, peristiwa yang menjadi sejarah bagi keluarga kami.

335694_2552489530706_656713134_o.jpg

Selama menjadi pensyarah di UTM, saya telah membimbing dan meluluskan 24 orang mahasiswa Ph.D. dalam bidang sains bahan dan katalis heterogen. Saya juga aktif sebagai editor dan juga sebagai penilai makalah-makalah yang diterbitkan di berbagai jurnal. Saat ini saya adalah Associate Editor dari Frontiers in Chemistry, Regional Managing Editor for Asia-Pacific, Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis dan Editor-in-Chief dari Malaysian Journal of Fundamentals and Applied Sciences. Sekarang saya menjabat sebagai Deputy Senior Director, Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research dan Director, Centre for Sustainable Nanomaterials di UTM.

•••

Dalam membimbing mahasiswa Ph.D., saya mempunyai cara sendiri. Penelitian Ph.D. melibatkan pengawasan, pendampingan dan interaksi antara pembimbing dan mahasiswa. Ini adalah kombinasi antara pendidikan dan penelitian yang tidak hanya mentransfer pengetahuan tapi juga nilai-nilai dan kebijaksanaan (wisdom) kepada mahasiswa. Bagi mahasiswa Ph.D., proses belajar menjadi peneliti yang tangguh adalah komponen utama dalam program Ph.D. mereka. Di bawah ini adalah komentar dari mahasiswa Ph.D. saya mengenai cara saya membimbing mahasiswa. “Making scientific research enjoyable” adalah cara saya dalam membimbing mahasiswa.

Shafiyah

12022453303_a70444b893_o (1)

Di bawah ini adalah komentar yang saya screenshot dari Twitter mahasiswa. Ternyata saya termasuk pensyarah yang ditakuti menjadi penilai. Mungkin karena terlalu kritis.

Screenshot 2018-11-17 at 6.35.24 PM

Screenshot 2018-11-17 at 6.34.41 PMScreenshot 2018-11-17 at 5.40.26 PM

•••

Hampir 17 tahun saya berkarir sebagai seorang dosen, saya telah membimbing lebih dari 20 orang mahasiswa Ph.D. Saya banyak belajar dari pengalaman mereka dalam menyelesaikan Ph.D. mereka. Ada diantara mereka yang lambat menyelesaikan Ph.D. karena ada masalah keluarga dan juga keuangan. Saya mesti sabar dan mesti menyusun strategi bagaimana supaya mereka dapat lulus.

Saya sadar bahwa karakter setiap mahasiswa yang dibimbing itu tidak sama. Individu yang unik. Mereka berbeda karena datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Kita kadang-kadang lupa, bahwa kita perlu menghormati dan menghargai keunikan individu, dan berusaha untuk mengeksplorasi kepribadian individu tersebut supaya mereka dapat berprestasi. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mempromosikan nilai pribadi dan keunikan, rasa hormat, kejujuran, kemandirian, keterlibatan dan harapan.

Kadang-kadang, hanya karena untuk menghasilkan angka-angka, seperti impact factor, h-index dan lain sebagainya, yang hanya bersifat jangka pendek, kita mengorbankan tujuan jangka panjang dan mulia dalam mendidik manusia, hanya untuk keberhasilan semu. Mahasiswa perlu dididik untuk menjadi orang yang merdeka, kreatif, dapat berpikir sendiri dan mempunyai integritas moral yang tinggi.

•••

Sebagai seorang guru, ucapan terima kasih dan do’a dari mahasiswa yang ditulis dalam ucapan terima kasih dalam tesis Ph.D. adalah hadiah yang terindah yang saya terima sebagai seorang pendidik. Alhamdullilah.

33780119738_510c69eae3_o

•••

Dalam mengelola waktu, saya memulai menggunakan Google Calendar sejak 5 tahun 5 bulan dan 24 hari yang lalu (24 September 2012). Awalnya saya berdiskusi dengan mahasiswa setiap minggu. Mereka perlu memberikan progress report pada masa itu. Namun cara seperti ini, walaupun efisien, membuat para mahasiswa tersebut menjadi tertekan. Akhirnya, pada 24 September 2012, saya mengubah cara yang mungkin lebih efektif. Mereka mengisi sendiri jadwal diskusi dengan saya. Pendekatan proactive. Jika jadwal saya kosong, mereka dapat mengisi jadwal tersebut kapanpun asalkan jam kerja.

calendar

Ini adalah Google Calendar saya: http://hadinur.com/mycalendar.html

•••

Sudah lebih dari 20 tahun saya telah melakukan penelitian ilmiah. Banyak hasil penelitian telah dihasilkan dalam bentuk publikasi ilmiah. Namun, harus ditanyakan, apakah hasil penelitian itu bermanfaat atau tidak? Saya harus melakukan introspeksi diri.

Menurut ajaran Islam yang saya yakini, agar penelitian memberi manfaat, penelitian harus dimulai dengan niat baik. Niat melakukan penelitian sama dengan mencari ilmu. Mencari kebenaran. Niat terbaik adalah untuk mencapai karakter yang mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Kita telah diajarkan bahwa pengetahuan tidak untuk mengejar kekayaan dan popularitas, atau hanya untuk pamer, seperti yang kita lihat di dunia ilmiah, seperti h-index, impact factor of publications dan sebagainya. Ini tidak diberkati oleh Allah SWT.

•••

Masih ingat ketika saya mengusulkan kepada Prof. Halimaton Hamdan, Director of Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies (IIS) pada tahun 2005, bahwa IIS perlu mempunyai jurnal sendiri, yang dinamakan sebagai Journal of Fundamental Sciences (JFS). Pada waktu itu saya bekerja sendirian, dari membuat website, membuat layout dan cover, dan mengirimkan untuk dicetak ke percetakan. JFS adalah jurnal pertama yang menggunakan Open Journal System (OJS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Masih ingat Pn. Zarina Junet meng-install OJS di server IIS pada tahun 2007. Alhamdullilah, jurnal ini telah berkembang seperti sekarang ini dan sudah berganti nama menjadi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS).

Screen Shot 2018-02-11 at 6.09.20 AM.png

44833406824_05bf7f48ac_o.jpg
MJFAS mendapat CREAM Award tahun 2018 dari Kementerian Pendidikan Malaysia.


Merenungkan kembali hikmah pendidikan tinggi

Tulisan Merenungkan kembali hikmah pendidikan tinggi dan Pengembangan institusi yang berkeberlanjutan di bawah ni adalah sebahagian dari pidato penganugerahan adjunct professor kepada saya pada 29 Agustus 2017 di Universitas Negeri Malang.

21273023_10214536750871677_1799317530354489504_o.jpg

“Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).

Kebetulan beberapa minggu yang lalu kita telah merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Sepatutnya kita bertanya, sudah merdekakah kita? Karena kita ingin bangsa ini betul-betul merdeka, maka kemerdekaan itu semestinya tidak saja diartikan sebagai pembebasan dari belenggu penjajahan, fisik maupun non-fisik, tetapi juga pembebasan dari cara, gaya, arah dan pandangan hidup yang salah, yang jauh dari tuntunan hikmah. Berdasarkan ini, apakah kita sudah merdeka dari cara, arah dan pandangan kita terhadap pendidikan tinggi kita?

Mukadimah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, Indonesia, nomor 603/O/2001 telah menyatakan bahwa tugas pokok perguruan tinggi adalah untuk berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia untuk kesejahteraan umat manusia. Namun apakah tugas pokok universitas ini telah dijalankan dengan baik? Saya agak khawatir dengan perkembangan akhir-akhir ini, karena fungsi universitas sudah mulai melenceng daripada tugas pokoknya seperti yang dinyatakan dalam mukadimah Menteri Pendidikan Nasional tersebut. Terdapat dua fenomena yang menurut saya yang dapat melencengkan fungsi asal universitas, iaitu pendidikan yang terlalu berorientasi kepada komersialisasi dan kecendrungan universitas untuk mengejar angka, seperti webometrics, jumlah publikasi, jumlah mahasiswa dan lain sebagainya indikator kinerja utama (Key Performance Indicator), tanpa melihat substansi mengenai hikmah dari angka-angka tersebut. Sebaiknya, letakkanlah sesuatu pada hakikat dan hikmah dari indikator tersebut, jika tidak, ini akan menjadi klaim yang berkelebihan (over-claim) terhadap prestasi yang pada akhirnya hanya akan menjadi keberhasilan yang semu (pseudo achievement). Sebagai contoh, demi peningkatan peringkat universitas dan kenaikan pangkat, para dosen banyak “bermain” dengan publikasi. Maksud “bermain” adalah mereka hanya mengejar publikasi bukan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan tetapi publikasi untuk naik pangkat dan prestise dengan mengabaikan etika dan kejujuran. Tanpa mempertimbangkan hikmah, keberhasilan itu hanyalah untuk keperluan indikator kinerja utama saja yang berupa angka-angka dan tidak sampai kepada esensinya (hikmah).

Bila angka mulai menjadi indikator dalam banyak aspek kehidupan, maka ada kecenderungan bahwa makna terhadap segala sesuatu dinilai berdasarkan angka. Bila semua hal dinilai berdasarkan angka maka nilai hidup manusia direduksi menjadi angka. Penggunaan angka untuk mengukur sesuatu yang bersifat fisik itu sah. Ini tidak salah. Namun, ini akan menjadi masalah jika kita menggunakan angka sebagai indikator mutlak untuk mengevaluasi kemanusiaan. Fenomena ini yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini sangat berbahaya ketika kehidupan manusia dan makna hidup hanya dinilai dari sudut pandang sebuah angka. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi.

Suatu ketika, saya diundang untuk memberikan ceramah tentang penelitian dan publikasi di salah satu pusat penelitian di UTM. Seorang dosen muda bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan sebagai dosen dengan tekanan untuk memenuhi persyaratan indikator kinerja utama tanpa melupakan idealisme? Dalam ceramah tersebut saya menjelaskan tugas utama dosen adalah mengajar, mendidik dan melakukan penelitian. Dengan melihat realitas dunia dan universitas saat ini, kita perlu melihatnya sebagai keseimbangan antara realisme dan idealisme. Pada kenyataannya, realisme memaksa kita untuk memainkan permainan angka dalam publikasi ilmiah dan nomor lainnya yang ditetapkan oleh sistem peringkat universitas. Tapi, kita harus memiliki idealisme. Kita harus menyadari bahwa tugas sebenarnya sebuah universitas adalah menghasilkan kualitas lulusan yang baik dari setiap aspek, terutama dalam sikap dan integritas moral.

Gambar di bawah ini bisa dijadikan pedoman. Pada usia muda, kita perlu bertahan untuk bersaing dengan orang lain agar sukses dan mencapai tujuan dan target kita. Kita harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk bersaing dan bertahan hidup di dunia yang kompetitif ini. Berjuang dan bekerja keras. Terkadang kita egois untuk memenuhi indikator kinerja utama kita. Itulah kenyataan. Tapi, kita tidak selalu mengikuti jalur indikator kinerja utama. Dengan bertambahnya usia, kita mesti sadar bahwa kita perlu memikirkan kontribusi kita kepada orang lain dan masyarakat, lingkungan dan kemanusiaan. Kita harus mengikuti garis “kearifan”. Kearifan ini menekankan pada intelektual dan moral. Kita harus mengubah “budaya memiliki” menjadi “budaya memberi” dan dari “kecerdasan dan keinginan” kepada “hati dan ketulusan” seperti yang ditunjukkan dalam Gambar di bawah ini.

wisdom.png
Gambar di atas dimodifikasi dari slide presentasi Ir. Iskandar Budisaroso Kuntoadji mengenai wirausaha sosial di Universiti Teknologi Malaysia pada 26 Oktober 2011.

Alhamdullilah, saya sudah membimbing dan meluluskan lebih daripada 20 orang mahasiswa Ph.D. dan menguji belasan mahasiswa Ph.D. selama saya berkarir sebagai pensyarah. Saya berusaha supaya mahasiswa-mahasiswa saya menjadi manusia yang cinta kepada ilmu pengetahuan, walaupun saya tidak yakin saya berhasil atau saya layak untuk mengajarkan itu karena saya masih banyak kelemahan. Ph.D., atau disingkat sebagai Doctor of Philosophy adalah gelar tertinggi dalam bidang tertentu, yang biasanya memerlukan beberapa tahun untuk menyelesaikannnya. Arti dari “Philosophy”, yang berasal dari bahasa Yunani, tidak bermaksud semata-mata sebagai filsafat, tetapi dalam arti yang lebih luas, iaitu “cinta akan kebijaksanaan” atau “cinta kepada ilmu pengetahuan”. Namun apakah dalam membimbing mahasiswa, kita mengajarkan mengenai arti dari “cinta akan kebijaksanaan” atau “cinta kepada ilmu pengetahuan” yang kadang-kadang hilang karena mengejar sesuatu yang sifatnya “artificial” dan “superficial”?

•••

Untuk menjadikan universitas menjadi pusat kebijaksanaan tidak mudah. Apalagi dalam organisasi yang dikejar dengan target yang diterjemahkan dengan Key Performance Indikator (KPI). Banyak organisasi tenggelam dalam KPI tanpa kebijaksanaan (wisdom). Lalu bagaimana cara bertindak secara bijaksana tanpa melupakan KPI?

Untuk mendapatkan kebijaksanaan seperti itu kita perlu bereksperimen dengan melihat kembali tujuan (hikmah) dalam bentuk pertanyaan untuk lebih mudah mengidentifikasi KPI yang relevan. Misalnya di universitas, jika tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal, target tersebut perlu ditulis ulang sebagai pertanyaan. “Bagaimana kita bisa meningkatkan jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal tanpa mengorbankan kualitas proses pendidikan dan integritas ilmiah?” Jawaban atas pertanyaan tersebut akan mengarahkan kepada KPI dan strategi mencapainya tanpa mengorbankan kualitas proses pendidikan dan integritas ilmiah. Kemudian, kita dapat menilai lebih jauh dampak jangka pendek dan panjang, dan kemampuan kita untuk mencapainya.

Pengembangan institusi yang berkeberlanjutan

Saat ini saya diamanahkan untuk menjabat sebagai Direktur sebuah pusat penelitian di UTM. Banyak tantangan yang perlu dihadapi untuk menjadikannya sebagai pusat penelitian yang berkeberlanjutan. Untuk itu, perlu strategi yang tepat untuk menanggapi kebutuhan universitas pada saat ini dan masa yang akan datang. Pengembangan infrastruktur, sumber daya manusia dan keberlanjutan keuangan (financial sustainability) merupakan hal utama dalam pengembangan pusat penelitian dan universitas di masa depan. Perubahan signifikan dalam perubahan struktur kelembagaan mungkin perlu dilakukan. Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengembangan institusi yang berkeberlanjutan adalah sebagai berikut:

  • Kepemimpinan akademik
  • Integrasi penelitian dan pendidikan
  • Aktivitas yang inovatif yang berdampak global
  • Pendekatan lintas disiplin untuk mengatasi tantangan global
  • Organisasi yang dapat diakses oleh publik dengan mudah
  • Kesinambungan keuangan
  • Strategi pengembangan institusi penelitian dan universitas perlu merujuk kepada prinsip-prinsip di atas.

Screen-Shot-2015-05-08-at-2.31.32-PM.png

Selain tantangan dalam skala global, isu nasional dan lokal juga akan mempengaruhi cara universitas bertindak untuk menjadi sebuah institus yang mempunyai keberlanjutan di masa depan. Kebijakan ditingkat pemerintah dan juga universitas akan sangat berpengaruh terhadap apakah institusi tersebut dapat menjadi institusi yang memainkan peranan yang penting dalam tingkat lokal, negara dan global. Pendanaan menjadi salah satu isu yang sangat penting jika subsidi pemerintah terhadap universitas semakin berkurang dan tidak stabil. Di banyak negara, pendanaan untuk universitas disesuaikan dengan kinerja dan peringkat sebuah universitas. Rencana strategis universitas harus mengantisipasi isu-isu penting seperti meningkatnya biaya dan pengurangan dana, persaingan antara universitas, intervensi pemerintah, penilaian kinerja, dan ketidakmampuan untuk menarik mahasiswa untuk memasuki universitas sebagai sumber dana yang utama.

Menjawab tantangan itu, kami di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano), Universiti Teknologi Malaysia (UTM) telah mengadakan restrukturisasi organisasi. Struktur organisasi ini diharapkan tanggap terhadap kebutuhan UTM pada saat ini dan masa yang akan datang. Beberapa proyek sedang dijalankan di CSNano, diantaranya adalah pendirian perusahaan spin-off (spin-off company) dan pengembangan jurnal ilmiah yang nantinya akan mendukung kegiatan ilmiah, komersialisasi produk penelitian dan kepakaran untuk menjadikan CSNano menjadi pusat penelitian yang berkeberlanjutan dari aspek akademik dan finansial.

chart-1

Salah satu proyek berdampak tinggi yang juga sedang dilakukan adalah inisiatif pembentukan Indonesia-Malaysia Research Consortium (I’M Research Consortium). Ini merupakan salah satu proyek penting di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano) dan juga di UTM. Inisiatif ini berkaitan dengan pengangkatan saya sebagai adjunct professor di Universitas Negeri Malang. Saya berharap pengangkatan adjunct professor ini dapat menjadi model yang dapat diikuti oleh universitas-universitas lain di Indonesia dan Malaysia agar kerja-sama yang lebih erat dan berdampak tinggi dapat terlaksana dengan lebih mudah. I’M Research Consortium merupakan wadah yang menghubungkan dosen dan peneliti di lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan penelitian di Indonesia dan Malaysia untuk berinteraksi dan bekerja sama secara lebih sistematis. Dalam usaha mengeratkan lagi hubungan Indonesia-Malaysia, seiring dengan keinginan kedua negara, pembentukan I’M Research Consortium adalah penting karena merupakan salah satu rencana strategis melalui kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian.

1

Pada 2 Oktober 2017, Prof. Datuk Ir. Dr. Wahid Omar dan saya telah menghadiri pembicaraan mengenai I’M Research Consortium di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Jakarta yang dihadiri oleh Dato’ Seri Idris Jusof (menteri Pendidikan Tinggi Malaysia) dan Prof. M. Nasir (Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi).

37374749910_d6eb8d2597_o

•••

Pengalaman saya bersama UTM selama 20 tahun telah membuka cara saya memandang universitas dan pendidikan tinggi. Universitas perlu berusaha untuk sampai dalam tahap bijaksana atau hikmah seperti yang ditafsirkan dari perkataan Iqra dalam Al-Quran.

iqra.png

Iqra’ pertama sekedar membaca, iqra’ kedua mendalaminya, iqra’ ketiga menghayati dan mengamalkan, dan keempat adalah yaitu bagaimana memukasyafahkan atau menyingkap tabir-tabir atau mengetahui hikmah dari segala sesuatu. Ini yang perlu dilakukan oleh sebuah universitas.

Penutup

Alhamdullilah, sudah hampir 23 tahun saya telah melakukan penelitian ilmiah sejak saya masuk program Ph.D. di UTM pada tahun 1995. Banyak hasil penelitian telah dihasilkan dalam bentuk publikasi ilmiah. Namun, harus ditanyakan, apakah hasil penelitian itu bermanfaat atau tidak? Saya perlu melakukan introspeksi diri.

Menurut ajaran Islam yang saya percaya, agar penelitian memberi manfaat, penelitian harus dimulai dengan niat baik. Niat melakukan penelitian sama dengan pencarian kebenaran. Tujuan mencari kebenaran adalah untuk mencapai karakter yang mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Kita diajar yang tidak berniat mencari ilmu untuk mengejar kekayaan dan popularitas. Atau hanya untuk pamer. Ini tidak diberkati oleh Allah.

Dua puluh tahun adalah waktu yang tidak pendek bagi manusia. Seperti yang banyak diriwayatkan oleh hadist, umur umat Nabi Muhammad adalah antara 60 hingga 70 tahun. Tahun ini saya berumur 49 tahun, dan 42% umur ini dihabiskan bersama Universiti Teknologi Malaysia. Kemuliaan seseorang bergantung kepada dari pemanfaatan waktu. Insya Allah, waktu dua puluh tahun bersama UTM ini dapat menjadi refleksi kepada saya untuk menghabiskan sisa umur ini untuk pekerjaan intelektual yang bermanfaat untuk orang banyak. Mudah-mudahan saya dapat memanfaatkan waktu dengan baik.

Saya juga tidak lupa mengucapkan raya syukur ke hadirat Allah SWT dan rasa terima kasih kepada guru-guru, dan rekan-rekan yang secara langsung dan tidak langsung telah membentuk saya seperti sekarang ini.

Manusia adalah mahluk yang tidak sempurna dan seringkali keliru dalam memandang, membuat keputusan dan berbuat sesuatu. Ini juga berlaku untuk saya. Saya sangat ingin dinasehati jika ada yang salah dalam bertindak, berbicara dan memperlakukan orang lain. Oleh karena itu, dengan proses belajar, manusia berusaha menjadi mahluk yang lebih berbudaya dengan cara saling menasehati dalam kebenaran. Insya Allah catatan ini dapat menjadi pelajaran untuk diri saya sendiri dan orang lain.

•••

Akhir-akhir ini saya banyak dikejutkan oleh peristiwa beberapa orang teman yang yang meninggal dunia dan juga sakit secara mendadak.

Kita tidak tahu masa depan. Tetapi kita mesti optimis dalam hidup, walaupun ajal itu adalah rahasia Allah SWT. Kita mesti hidup secara normal, dalam arti kata kita mesti memperhatikan hidup yang sesuai dengan dengan keperluan dan tujuan (a life of purpose). Kerja keras boleh. Tetapi kerja keras yang keterlaluan sehingga menyebabkan sakit dan stress juga tidak baik. Kemampuan manusia terbatas. Hidup santai juga boleh. Tetapi hidup yang terlalu santai juga tidak baik.

Seringkali kita kagum dengan manusia yang luar biasa kemampuannya, yang jauh dari manusia rata-rata, dan memiliki prestasi yang mengagumkan. Namun kadangkala kesuksesan tersebut tidak memberikan kebahagiaan kepada orang tersebut karena mereka tidak bisa memaknai kesuksesan itu. Mereka seringkali overheating karena bekerja terlalu keras dan tidak memikirkan kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, pemberian makna kepada kehidupan itu sangat penting untuk mencapai kebahagiaan. Hal ini dicapai dengan bekerja normal yang berimpak positif kepada kehidupan diri sendiri dan juga orang lain. Spiritualitas diperlukan.

Hiduplah dengan normal. Hidup dengan sederhana. Dengan begitu kita tumbuh dan dewasa secara normal. Maknai dengan spritualitas. Itulah kebijaksanaan dalam hidup.

•••

26429683208_0dbea35da5_h

Kematian bisa datang kapan saja. Itulah yang terjadi pada beberapa orang yang saya kenal akhir-akhir ini. Di bawah ini adalah tulisan mengenai “psikologi kematian” oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang saya sadur dari penjelasan beliau di Youtube.

Kematian itu bukan untuk ditakuti. Menurut ajaran Islam, kematian itu positif. Islam mengatakan raji’un yang bermaksud pulang atau kembali. Pulang itu adalah kata yang indah. Coba kita renungkan, peristiwa pulang yang indah dan penuh dengan kebahagiaan. Pulang ke rumah, pulang kampung bertemu dengan keluarga. Orang yang merantau pasti akan rindu untuk pulang. Betapa sengsaranya jika orang tidak tahu peta rumahnya untuk pulang.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, itu kalimat yang indah, bahwa manusia akan pulang ke rumah Allah dan menyatu dengan Allah. Setiap hari seorang muslim sering sekali menyebut nama Allah.

Hal ini seperti yang terjadi dalam kehidupan. Mana yang lebih menggembirakan menelepon orang tua di kampung atau bertemu langsung dengan mereka? Tentu lebih menyenangkan dan bahagia bertemu secara langsung.

Jadi, kematian itu positif, karena itulah pintu gerbang untuk mendekatkan diri pada Allah, tempat asal usul kita. Para sufi mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini adalah tempat bercocok tanam. Setelah meninggal dunia barulah kita mendapatkan hasil dari panen tersebut. Sama halnya dengan hari wisuda yang ditunggu-tunggu.

Kalau orang takut mati, tanyakan saja kepada mereka, bagaimana kalau dia tidak mati? Kalau dia tidak berani pulang, berapa umur yang mereka inginkan? Manusialah yang mempersulit hidupnya sendiri, sehingga takut mati. Allah telah memberikan fasilitas hidup untuk bercocok tanam, maka tanamlah pohon kebaikan. Sebagai seorang muslim kita wajib percaya bahwa semua kebaikan itu akan digandakan pahalanya di akhirat. Kenapa tidak kita ikuti saja jalan dan fasilitas yang diberi ini?

•••

Mungkin ramai yang berpikir hidup ini rapuh dan singkat. Dan itu terjadi. Beberapa orang yang bagi saya baik hati, yang saya kenal dekat, sakit dan meninggal dunia dengan tiba-tiba dalam dua bulan ini. Ini menyadarkan saya dan membuat saya merenungkan kembali kefanaan hidup di dunia ini. Sadar bahwa hanya kebaikanlah yang perlu diperjuangkan dalam hidup.

Mungkin ramai yang berpikir apakah konsep kebaikan itu? Kebaikan itu bukan dipikirkan tetapi dirasakan, dan wajib dilaksanakan. Kebaikan itu jauh melampaui gemerlap prestasi dunia yang seringkali manipulatif seperti yang dipamerkan disekeliling kita. Hanya hati nurani yang bersih yang akan merasakan kebaikan itu dengan mudah. Itulah yang dirasakan ketika orang baik meninggal dunia, kebaikan merakalah yang membuat kita sedih dan menangis ketika mereka meninggalkan kita.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Wallahu A’lam Bishawab

Menunaikan ibadah Haji (2 – 21 September 2016)

Alhamdullilah, saya dan istri sangat bersyukur dapat menunaikan ibadah Haji pada tahun 2016 menggunakan fasilitas Haji Luar Negeri yang dikelola oleh Koperasi Sejahtera, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Kerajaan Arab Saudi.

29651799421_385f6a51e4_h

Di bawah ini adalah foto-foto ketika menunaikan ibadah Haji dari 2 sampai 21 September 2016.

Hajj 2016

Di bawah ini adalah kronologi perjalanan saya dan istri menunaikan naik haji tahun 2016. Sungguh perjalanan yang sangat bermakna dalam hidup kami. Alhamdullilah

Pengalaman mendapatkan visa haji merupakan pengalaman yang luar biasa. Walaupun kami tinggal di Johor Bahru, Malaysia, akhirnya kami mendapatkan visa haji dari Kedutaan Arab Saudi di Singapura dua hari sebelum berangkat pada tanggal 2 September 2016.

[Kronologi akan di update dari waktu-waktu. Banyak orang yang membantu kami dalam perjalanan kami]

CERITA SEBELUM HAJI (9 Mei – 31 AGUSTUS 2016)
9 Mei 2016 Saya dan istri menemui Pak Taufiqur Rijal, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru untuk memberitahu beliau bahwa kami berniat mengikuti program haji yang diselenggarakan Haji Luar Negeri melalui Koperasi Sejahtera yang dikelola oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah. Istri saya memulai chatting dengan Pak Ivan di Jeddah, yang menguruskan Haji Luar Negeri. Tanggal 11 Mei 2016 baru dibalas.
10 Mei 2016 Menambah nama orang tua di paspor. Terima kasih Pak Ridwan Prawira Kusumah yang telah membantu pengurusan paspor.
11 Mei 2016 Istri saya mulai chatting dengan Pak Safrizal Nugraha dari KJRI bagaimana kemungkinan mengurus visa, Pak Safrizal Nugraha telah menunaikan haji pada tahun 2014, beliau dan istri adalah kloter pertama dari Johor Bahru yang berhasil pergi. Sehingga sekarang beliau adalah panitia keberangkatan haji di KJRI Johor Bahru.
12 Mei 2016 Kami mulai menghubungi Saudia Airlines di Singapura untuk booking tiket. Kami booking untuk keberangkatan tanggal 2 September 2016 dari Singapore ke Jeddah dan pulangnya 21 September 2016 dari Jeddah ke Kuala lumpur,  Diberi waktu sebulan untuk melunasi. Semua diatur pak Osman selaku manajer Saudia Airlines di Singapura.
14 Mei 2016 Kami pergi ke Klinik Kamal di sebelah Kompleks Tan Sri Mohamed Rahmat untuk mendapatkan vaksin maningitis, ini syarat visa juga. Berlaku sampai 5 tahun. Insya Allah ada rezeki sebelum tahun 2019 dapat pergi kembali ke Baitullah.
24 Mei 2016 Dimaklumkan bahwa masyarakat biasa yang ingin berhaji harus mengurus visa sendiri melalui agen, dan pegawai KJRI visanya diurus KBRI di Kuala Lumpur. Pak Safrizal banyak membantu kami dan beliau yang mencarikan travel agent untuk menguruskan visa.
31 Mei 2016 Kami membuat bank draft sebagai syarat permohonan visa masing-masing sebesar USD 300 di Bank CIMB UTM.
1 Juni 2016 Semua persyratan visa sudah lengkap dan dihantar ke Pak Safrizal. Kami pergi ke Singapore untuk membayar tiket Saudi Airlines.
30 Juni 2016 Pembayaran biaya haji ke Koperasi Sejahtera yang dikelola oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah. Dr. Ardiyansyah telah membantu kami mentransfer ke Jeddah karena paspor kami disimpan oleh Travel Agent yang menguruskan visa.
19 Agustus 2016 Visa Haji yang diuruskan oleh Travel Agent ditolak karena mereka terlambat menghantar permohonan ke Kedutaan Arab saudi di Kuala Lumpur.
21-24 Agustus 2016 Saya pergi seminar ke Serawak tanpa paspor, karena paspor kami disimpan oleh Travel Agent.
22 Agustus 2016 Semua dokumen permohonan haji diserahkan kembali kepada kami. Dr. Ardiansyah telah berbaik hati mengambilkannya dari Kuala Lumpur karena kebetulan beliau sedang di Kuala Lumpur. Tetapi Pembayaran biaya haji ke Koperasi Sejahtera yang dikelola oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah. Dr. Ardiyansyah telah membantu kami mentransfer ke Jeddah karena paspor kami disimpan oleh Travel Agent yang menguruskan visa. Setelah dilihat, ternyata buku nikah dan buku vaksin saya tidak ada dalam dokumen yang diserahkan.
24 Agustus 2016 Bertemu dengan H. Hanif, staf Travel Agent yang menguruskan visa. Beliau akan mencoba sekali lagi memohon ke Kedutaan Arab Saudi di Kuala Lumpur. Kami serahkan juga kepada beliau surat surat rekomendasi dari KJRI. Dokumen diserahkan di Tol Yong Peng.
25 Agustus 2016 En. Saiful ‘Adli Mohd Noh, penolong pendaftar CSNano UTM, membantu menghubungkan saya dengan H. Muhamad Muszaki (An Najwa Travel & Tours Sdn Bhd), yang biasa menguruskan visa naik haji. Beliau salah satu agen yang diiktiraf oleh Kedutaan Saudia Arabia di Kuala Lumpur. Ternyata pula KBRI Kuala Lumpur memakai jasa beliau juga untuk menghantar visa. Dengan berbekalkan surat dari UTM, kami kembali ke Kuala Lumpur untuk mengambil dokumen dari H. Hanif di KLIA dan menyerahkannya ke H. Muhamad Muszaki. Sewaktu dalam perjalanan ke KL, di perhentian Tol saya bertemu dengan En. Md. Yani Kasiren, staf UTM International. Beliau menyarankan saya mengubungi Badr, ketua persatuan mahasiswa Arab Saudi di UTM untuk minta pertolongan karena Badr kenal dengan orang-orang di Kedutaan Arab Saudi di Kuala Lumpur.
26 Agustus 2016 Kami sampai di KL dan pagi hari kami menyerahkan dokumen kepada H. Muhamad Muszaki. Beliau memasukkan permohonan secara online dan menyerahkan permohonan ke Kedutaan Arab Saudi. Siangnya kami diberitahu oleh H. Muhamad Muszaki bahwa permohonan kembali ditolak dengan alasan kuota tidak ada. Setelah menerima berita ini, saya mengirimkan whatsapp kepada Badr yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah untuk meminta bantuan. Alhamdullilah beliau membalas dan menyuruh saya menghubungi Mr. Ezzat, kenalan beliau di Kuala Lumpur, yang dapat bertemu langsung dengan Mr. Eisa Abdulrahman Almaliki, Ketua Konsular di Kedutaan Arab Saudi Kuala Lumpur. Kami pulang ke Johor Bahru, dan akan kembali ke KL mengurus visa dengan bantuan Mr. Ezzat.
27 Agustus 2016 Adik istri saya, Rizqi Yani Prasetia, dan anak beliau, Queena Naurah Arum Azalia, sampai di Johor Bahru. Mereka datang untuk menemani Fahima Zikra jika kami naik haji. Siang hari kami kembali ke Kuala Lumpur untuk bertemu dengan Mr. Ezzat.
29 Agustus 2016 Sampai di Kuala Lumpur ternyata Mr. Ezzat mengatakan beliau tidak dapat bertemu dengan Mr. Eisa Abdulrahman Almaliki, Ketua Konsular di Kedutaan Arab Saudi Kuala Lumpur. Akhirnya kami memutuskan pulang ke Johor Bahru karena mendapat berita Pak Osman, staf di Saudia Airlines di Singapore akan mencoba menolong untuk menghubungi Kedutaan Besar Arab Saudi di Singapura.
30 Agustus 2016 Kami berangkat ke Singapura untuk bertemu dengan Pak Osman dan mencoba keberuntungan mendapatkan visa dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Singapura. Alhamdullilah! Kami mendapatkan visa dari dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Singapura.
31 Agustus 2016 Kami mengambil visa yang sudah ditempel di paspor di Kedutaan Besar Arab Saudi di Singapura dan pulang ke Johor Bahru.
1 September 2016 KJRI Johor Bahru mengundang kami untuk doa bersama dan pelepasan haji dari Johor Bahru.
2 September 2016 Kami berangkat ke Jeddah menggunakan Saudia Airlines dari Changi Airport, Singapura. Malam hari, pesawat kami sampai di Jeddah dan disambut oleh staf KJRI Jeddah.
IBADAH HAJI (2 – 21 SEPTEMBER 2016)
2 – 21 September 2016 Tanggal 2 September 2016, hari bersejarah buat kami. Karena itu, kami tak ingin hari berlalu begitu saja tanpa makna. Perjalanan haji kami sangat singkat tidak seperti haji-haji yang lain. Dua puluh hari saja, dihitung dengan perjalanan pulang dan pergi. Karena wajib haji hanya 1 minggu. Arafah satu hari, Mina 3 hari dan mabit pun kami tidak sampai menginap tapi bermalam saja. Menginap dan bermalam lain. Menginap tidur disana bermalam menunggu waktu berakhirnya tengah malam. Haji kami Haji Tamattu’. Haji Tamattu’ adalah mendahulukan umrah dari ibadah haji. Yaitu memakai ihram dari miqat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahallul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah).

Istri saya telah menuliskan perjalanan haji ini secara lengkap.

https://hadinur.net/perjalanan-haji/

Di bawah ini adalah foto-foto perjalanan haji kami. Alhamdullilah

IMG_0015