Masa kuliah di Bandung

Bandung (1987-1995)

Tahun 1987, setelah lulus dari SMA 3 Padang, saya mencoba ujian masuk ke ITB dan Universitas Parahiyangan (UNPAR). Dalam ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU), saya memilih Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Kimia ITB sebagai pilihan saya, serta Jurusan Arsitektur di UNPAR. Saya sempat mengikuti try out ujian masuk perguruan tinggi di Bandung. Mayoritas mahasiswa yang diterima pada masa itu masuk dengan ujian saringan masuk, sehingga banyak pusat-pusat bimbingan belajar bermunculan di Indonesia, terutama di Bandung. Saya masih ingat, saya mengikuti try out yang diselenggarakan oleh Ganesha Operation di Bandung. Ini adalah kali pertama saya keluar dari pulau Sumatera dan naik pesawat terbang dari Padang ke Jakarta. Sewaktu di Bandung, saya juga mengikuti ujian masuk ke UNPAR bersama dengan sepupu saya, Inggo Laredabona. Alhamdulillah, saya diterima di Jurusan Kimia ITB dan juga Jurusan Arsitektur UNPAR. Atas pertimbangan keluarga, saya memilih mendaftar di Jurusan Kimia ITB. Pada masa itu, Prof. Dr. Isjrin Noerdin, Rektor IKIP Padang (1965-1973) dan teman ayah saya, masih mengajar di Jurusan Kimia ITB.

Di bawah ini terdapat lima teman satu angkatan saya yang berasal dari SMA 3 Padang dan diterima di ITB. Dari kiri ke kanan, ada saya sendiri, Ira Nevasa (Teknik Elektro), Fitri Agustini (Geofisika dan Meteorologi), Firdaus Kurniawan (Teknik Lingkungan), dan Esfandi Hendra (Teknik Pertambangan). Foto di bawah ini diambil pada acara reuni 30 tahun angkatan 1987 pada 13 Januari 2018 di kampus ITB.

38958269884_ef10445f5b_h

Di bawah ini terdapat teman saya yang sudah bersama sejak kecil hingga kuliah di ITB. Di sebelah kiri ada Ira Nevasa (Teknik Elektro) dan di sebelah kanan adalah Saferian (Teknik Elektro).

39652631342_70e901fde4_h

Masa kuliah di Jurusan Kimia ITB diselingi dengan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD (1987-1992)

Masuk ke ITB merupakan prestasi yang luar biasa pada zamannya. Menurut Drs. Hiskia Achmad, dosen Jurusan Kimia ITB, ranking dari ujian SIPENMARU angkatan 1987 yang diterima di Jurusan Kimia ITB adalah masuk 7000 terbaik dari peserta ujian SIPENMARU. Prestasi ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, banyak teman saya yang diterima di pilihan kedua. Biasanya pilihan pertama adalah jurusan teknik, seperti saya yang memilih Jurusan Teknik Mesin sebagai pilihan pertama.

Nilai saya pada semester satu dan dua kurang memuaskan. Teman bermain saya sewaktu tingkat satu adalah Terkelin Tarigan, anak Kabanjahe, yang sangat pintar dalam matematika dan mendapat nilai maksimum dalam kuliah tersebut. Namun, Terkelin pindah ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada pada tingkat dua. Abdul Hakam dan Tedianto juga pindah ke Universitas Indonesia. Saya pun terpengaruh dan ikut ujian SIPENMARU pada tahun 1988, dan lulus di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya di Jalan Sekeloa. Akhirnya, saya kuliah di dua tempat. Teman sepermainan saya sewaktu di FKG adalah Lucky M. Hatta. Namun, saya hanya bertahan satu tahun kuliah di dua tempat karena Indeks Prestasi Akademik (IPK) saya kurang dari dua. Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap kuliah di ITB, meskipun dengan IPK yang kurang bagus. Saya mulai rajin belajar di tingkat tiga sampai selesai, sehingga nilai yang buruk di tingkat dua (banyak nilai D) dapat ditutupi dengan nilai A dan B pada semester selanjutnya.

Saya menyelesaikan tugas akhir di bawah bimbingan Dr. Harjoto Djojosubroto yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Tenaga Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional. Penelitian saya adalah tentang penentuan selenium dalam serum darah manusia dengan menggunakan Neutron Activation Analysis menggunakan Reaktor Nuklir Triga Mark II yang terletak di sebelah kampus ITB. Beliau menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat magister. Saya masih ingat beliau berkata kepada saya, “Yang penting lanjut sekolah, ilmu sastra pun tidak masalah asal tetap lanjut sekolah.” Oleh karena itu, saya melanjutkan pendidikan saya ke program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB. Saya adalah mahasiswa angkatan kedua dari program ini dan menjadi mahasiswa pertama yang lulus dari Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB sejak menerima mahasiswa pada tahun 1992.

wisuda.jpg
36797059550_250d396f55_h

Tahun 1987 – 1991 di Sekeloa

Selama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dari tahun 1987 hingga 1991, saya menyewa kamar di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung. Pada tanggal 12 Januari 2018 yang lalu, saya singgah kembali ke sana. Tidak lupa, saya mampir makan di tempat Bu Tatang. Saya adalah orang pertama yang makan di rumah makan Bu Tatang pada tahun 1987, ketika beliau baru membuka warungnya untuk pertama kalinya. Tidak ada yang berubah, kecuali penuaan. Terima kasih Bu Tatang, banyak mahasiswa yang tumbuh besar dengan makanan murah dan enak dari warung Anda.

Berikut adalah foto saya di depan tempat indekos bersama Aa, anak tertua Pak Imad, pemilik indekos, di Jalan Sekeloa No. 126A/152C, Bandung.

38759288835_1bfa49f26c_h

Berikut adalah foto saya bersama Bu Tatang (di sebelah kiri). Silakan klik gambar di bawah ini untuk melihat lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa melalui Google Maps.

Bu Tatang

Lokasi dan suasana di Jalan Sekeloa dari Google Map.

Masa kuliah Program Magister Ilmu dan Teknik Material (1993-1995)

Saya masuk Program Magister Ilmu dan Teknik Material setelah mengikuti ujian saringan masuk pada tahun 1993. Selama kuliah, orang tua saya yang membiayai saya. Ketika saya mendaftar sebagai mahasiswa program magister, saya sudah menikah dengan Terry Terikoh. Karena kami belum memiliki penghasilan, saya merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan studi saya dengan baik. Bidang yang saya pelajari selama kuliah di Ilmu dan Teknik Material banyak berkaitan dengan metalurgi. Karena saya tidak memiliki dasar yang kuat dalam bidang ini, saya juga mengikuti perkuliahan tingkat sarjana. Akhirnya, saya lulus cum laude dalam waktu 1,5 tahun. Setelah lulus ujian magister pada tanggal 14 Februari 1995, saya ditawari untuk menjadi dosen di Program Teknik Material, Jurusan Teknik Mesin. Setelah berpikir, akhirnya saya menerima tawaran tersebut, meskipun harus menunggu untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena tidak ada formasi pada tahun itu.

Ada peristiwa menarik. Pada tahun 1995, di ITB, saya bertemu dengan Dr. Mardjono Siswosuwarno dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke program doktor. Beliau meminta saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun, beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena pada saat itu, saya satu-satunya mahasiswa yang diwisuda dari Program Studi Ilmu dan Teknik Material.

1226612331_e986c1009a_o

Saya menikah di Bandung pada 24 April 1993 dengan Terry Terikoh, teman kuliah di Jurusan Kimia ITB. Terry memulai kuliah di ITB satu tahun sebelum saya (1986). Setelah menunggu selama 1 tahun 11 bulan dan 6 hari, pada tanggal 2 April 1995, putra kami, Farid Rahman Hadi, lahir di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

32681260002_c616c518d2_h

Status saya setelah lahirnya Farid adalah calon dosen ITB, sehingga Dr. Mardjono Siswosuwarno berinisiatif mencoba agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven). Namun tidak jadi karena kebetulan Prof. Madya Dr. Halimaton Hamdan datang ke ITB dan menawarkan melanjutkan ke program Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) kepada saya. Saya menerima tawaran tersebut. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan pergi ke Malaysia dan menetap di Malaysia begitu lama sampai sekarang.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.