Masa kanak-kanak dan remaja di Padang

Padang (1974-1987)

Tahun 1974, keluarga kami pindah ke kampus FKSS IKIP Padang. Hanya 4 rumah dalam kampus ini. Paling kiri rumah Pak Slamet Anwar, kemudian Pak Tahasnim Tamin, rumah kelurga kami, dan paling kanan adalah rumah Pak Agustiar Syah Nur.

Teman sebaya saya selama tinggal di kampus FKSS IKIP Padang adalah Taufani, Heksa Seswandi dan Satya Reflitadewi. Kami sekolah di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar yang sama.

Taman Kanak-kanak (1974-1976)

Tahun 1974 saya mulai sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Padang, dilanjutkan dengan SD PPSP IKIP Padang dari tahun 1976-1981.

5025288375_405e81ceb6_b

Taman kanak-kanak IKIP Padang terletak di kampus IKIP Padang, rumah kami di kompleks FKSS hanya berjarak 15 menit berjalan kaki. Hari pertama sekolah, saya pergi bersama Heksa Seswandi (Wandi), putra Pak Agustiar Syah Nur, tetangga sebelah rumah, ditemani oleh abangnya Heryadi Agus. Masih jelas dalam ingatan, hari pertama sekolah, semua orang diantar oleh anggota keluarga, namun saya datang sendiri. Di bawah ini adalah foto saya dengan Wandi, ketika hari pertama masuk sekolah, kelihatan sangat bersemangat belajar, sedangkan Wandi cemberut.

5025918882_d123a5a212_b

Setiap hari murid-murid TK PPSP IKIP Padang menyanyikan lagu “Aku murid TK Labor” yang dikarang oleh Ibenzani Usman, dosen Jurusan Senirupa IKIP Padang. Tidak banyak yang diingat, namun pengalaman yang tidak pernah dilupakan adalah berkelahi dengan anak yang lebih tua, menandakan saya adalah anak yang pemberani. Sampai anak yang dikalahkan sewaktu berkelahi tersebut mengajak abangnya untuk membalas. Balasannya adalah dengan mengoleskan cabe kemulut saya sewaktu saya berjalan menuju sekolah. Saya menangis sepanjang jalan menuju sekolah karena kesakitan.

Untuk menunjukkan keberanian, saya juga minta disunat bersama-sama dengan abang saya (Hamdi Nur) pada tahun 1976. Di bawah ini adalah foto beberapa hari setelah disunat.

habis disunat 1976.jpg

Sekolah Dasar (1976-1981)

Saya sangat beruntung dapat sekolah di SD PPSP IKIP Padang. PPSP adalah singkatan dari Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, yang merupakan proyek kementerian pendidikan dan kebudayaan pada masa itu. SD ini juga disebut sebagai sekolah laboratorium IKIP Padang. Sekolah ini digunakan untuk praktik ajar, penelitian pendidikan, dan inovasi pendidikan. Proyek ini dimulai pada tahun 1974, dan bertujuan untuk menguji coba ide-ide dalam pendidikan guna memberi masukan bagi pembaharuan pendidikan nasional. Proyek ini dihentikan pada tahun 1986 oleh pemerintah.

Sistem belajar di SD PPSP ini menggunakan sistem modul, ada yang namanya lembar kegiatan siswa, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, lembaran tes, lembaran pengayaan dan sebagainya. Dan anak-anak yang cepat belajar dapat menyelesaikan setiap lembaran itu dengan cepat. Saya termasuk dalam kelompok itu, sehingga setiap semester menjadi juara kelas, dan puncaknya pada tahun 1981 menjadi pelajar teladan SD PPSP IKIP Padang. Hadiah sebagai pelajar teladan diberikan oleh Prof. Dr. Jacub Isman pada upacara di lapangan sepak bola kampus IKIP Padang bersama dengan pelajar SMP, SMA dan juga dosen teladan. Hadiahnya uang Rp. 15 ribu dan langsung digunakan untuk membeli sepatu roda. Saya juga selalu dipilih menjadi ketua kelas.

Yang selalu saya ingat sewaktu SD adalah kami selalu minum susu sebelum pergi sekolah. Mamak dan Bapak selalu menyiapkannya sebelum kami pergi sekolah. Perhatian Mamak dan Bapak terhadap anak-anak sungguh luar biasa. Lego adalah permainan saya sewaktu kecil. Bapak menitipkan kepada Ibu Be Kim Hoa Nio, teman beliau, dosen Bahasa Inggris di IKIP Padang, supaya dibelikan permainan Lego di Singapura, ketika Ibu Be Kim Hoa Nio berkunjung kesana.

Sewaktu SD, saya kadang-kadang diajak Bapak untuk ikut menemani beliau mengajar, dan juga membeli buku. Beliau selalu mendapat discount jika membeli buku di Pustaka Anggrek dan beberapa toko buku lainnya di kota Padang karena kenal dengan baik dengan pemiliknya. Itulah yang menyebabkan saya tertarik dengan buku sejak kecil. Buku-buku di perpustakaan mini beliau di rumah juga sering saya baca.

Pengalaman yang menarik adalah juga sering diajak shalat subuh di Masjid Raya Al-Azhar, Air Tawar, Padang. Ikut mengaji Al-Quran bersama-sama teman beliau. Yang masih saya ingat adalah Pak Gafar Yatim, Pak Sofyan Muchtar. Kebetulan ayah saya adalah pengurus di Masjid tersebut. Saya juga mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an Masjid Raya Al-Azhar.

Setelah lulus SD PPSP IKIP Padang, saya pindah sekolah ke SMP Adabiah Padang. Ini atas permintaan saya. Dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya tidak ada saingan di SD PPSP IKIP Padang.

Sekolah Menengah Pertama (1981-1984)

Sekolah di SMP Adabiah, termasuk sekolah paling favorit di kota Padang pada zaman itu merupakan pengalaman yang membentuk saya pada hari ini. Berbeda dengan di SD PPSP IKIP Padang, yang mayoritas muridnya adalah anak-anak staf di IKIP Padang, di SMP Adabiah muridnya terdiri dari berbagai latar belakang. Ada yang anak pedagang, guru, pegawai pemerintahan dan pekerja swasta. Lebih beragam. Sehingga saya menemukan berbagai anak-anak yang dibentuk oleh keluarga mereka.

Kenakalan saya juga tersalurkan di sekolah ini. Bersama peer-group di sekolah, kami juga mebentuk grup yang dinamakan Qhotelawala, yang maksudnya adalah kumpulan teman laki-laki dan wanita pelajar. Kelas dua SMP, waktu berumur 14 tahun, tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) saya juga sudah berani bersama kawan-kawan naik Vespa ke Pekanbaru, yang jaraknya lebih dari 300 km dari Padang.

vespa.jpg

37963087132_16030b50d7_h.jpg

Oleh karena kenakalan ini, prestasi akademik saya di SMP kurang memuaskan walaupun tetap masuk dalam 10-20 besar di kelas. Sekolah akan menjadi maju jika guru-gurunya punya dedikasi tinggi dan disiplin dalam mendidik. Ini yang saya lihat di SMP Adabiah, guru-gurunya luar biasa.

Tanggal 5 April 2014, anak-anak SMP Adabiah alumni tahun 1984 berkumpul kembali setelah 30 tahun meninggalkan sekolah. Penuh gelak tawa. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang profesi yang berumur antara 45-48 tahun.

13771703204_4334a24c70_o

Sekolah Menengah Atas (1984-1987)

Setelah lulus dari SMP Adabiah Padang, saya melanjutkan ke SMA 3 Padang yang jaraknya tidak jauh dari SMP Adabiah.  Sebahagian besar kawan-kawan SMP Adabiah juga melanjukan ke SMA 3 karena penerimaan murid ketika itu adalah berdasarkan lokasi sekolah sebelumnya.

Sewaktu SMA, saya mulai mengurangkan pergaulan dengan kawan-kawan yang ‘nakal’, namun saya masih tidak fokus untuk belajar. Prestasi akademik di SMA biasa-biasa saja, namun saya bagus dipelajaran kimia karena mengikuti les tambahan yang diajarkan oleh Pak Tahasnim Tamin, dosen kimia FKIE IKIP Padang, tetangga sebelah rumah ketika tinggal di kampus FKSS IKIP Padang. Tahun 1983 keluarga kami pindah dari rumah di kampus FKSS karena rumah tersebut dijadikan kantor dekan FKSS, dan dipindahkan ke rumah dinas yang agak jauh dari kampus, iaitu di Jalan Elang, Air Tawar.

Pelajaran di SMA saya ikuti tidak dengan serius. Setiap hari hanya membawa satu buku catatan, dan tidak membawa tas. Bukunya diselipkan dalam saku belakang celana, sehingga Pak Bustaman, guru Fisika pada waktu itu pernah mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil dalam hidup.

Setelah lulus SMA, saya sangat berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke ITB. Ini juga terinspirasi oleh kakak saya, Hamdi Nur, yang telah dulu kuliah di Jurusan Arsitektur ITB pada tahun 1983. Karena pada waktu itu masuk perguruan tinggi negeri hanya didasarkan kepada hasil tes, maka setelah selesai SMA saya fokus belajar untuk menjawab soal-soal ujian masuk perguruan tinggi. Alhamdullilah, akhirnya saya diterima di Jurusan Kimia ITB.

 

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.