Mahasiswa program doktor (Ph.D.)

Banyak buku dan tulisan yang ditulis untuk para mahasiswa program doktor (PhD), sebagai contoh: “Authoring a PhD Thesis: How to Plan, Draft, Write and Finish a Doctoral Dissertation“, “Journey to the Ph.D.” dan banyak lagi … (anda dapat mencarinya di internet) — tetapi jarang sekali saya menemukan buku yang ditulis untuk pembimbimg mahasiswa program doktor (PhD).  Mungkin, kalau ditulis, buku ini tidak akan laku. Namun saya pikir ini juga penting karena mahasiswa akan dapat melihat proses pembimbingan dengan ‘perspektif’ yang berbeda.  Di bawah ini saya menuliskan beberapa aspek yang saya anggap penting untuk diketahui oleh khalayak ramai mengenai topik ini — karena saat ini saya sedang membimbing beberapa mahasiswa doktor di Universiti Teknologi Malaysia.  

Topik Penelitian

Mencari topik penelitian merupakan masalah yang paling utama dalam melakukan penelitian, termasuk penelitian ditingkat doktor. Mungkin diantara kita banyak yang mendengar bahwa hal yang paling susah dalam penelitian adalah mencari ‘masalah’ sehingga banyak yang mengatakan bahwa sebenarnya ilmuwan itu adalah ‘the problem seeker‘ bukannya ‘the problem solver‘.

Bagaimana cara memilih topik penelitian yang baik dan menarik merupakan suatu hal yang perlu diketahui sebelum kita memulai atau mencoba mendapatkan dana penelitian, karena mungkin kita dapat masuk ke dalam ‘perangkap’. Melakukan penelitian dengan tujuan yang ‘mengada-ngada’ adalah salah satu perangkap yang sukar dielakkan karena penelitian jenis biasanya dijumpai dilembaga-lembaga penelitian yang ‘kaya’ dan ‘maju’ seperti IBM, NASA, dan di Universitas-universitas terkenal seperti MIT, Caltech, UCLA dan sebagainya. Salah satu contoh riset jenis ini adalah penelitian mengenai “polywater” atau polimerisasi molekul H2O. Jika berhasil disintesis, polywater akan mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan air, dan viskositas yang 15 kali lebih besar dibandingkan air.  Walaupun fenomena polywater ini tidak masuk akal (implausible) tetapi adalah ‘mungkin’ (lihat http://www-2.cs.cmu.edu/~dst/ATG/polywater.html). Bagaimanapun, riset ini telah mendapatkan dana yang berlimpah dari U.S. Navy karena kemungkinan dapat digunakan di dunia militer.

Perangkap yang lain adalah riset ‘negative‘ dan `improvement‘ yang tujuannya hanyalah membuktikan sesuatu itu adalah ‘salah’ atau hanya mengembangkan atau memodifikasi sesuatu yang sebenarnya sudah banyak diketahui dan dikerjakan orang lain. Riset seperti ini biasanya dapat menghasilkan banyak publikasi ilmiah, tetapi akan cepat dilupakan orang. 

Sebuah perangkap yang lain adalah riset ‘tool-driven‘, yang sifatnya hanyalah menyelesaikan masalah dengan metode-metode yang sudah diketahui atau dikembangkan dengan baik.

Riset yang terbaik adalah riset yang didorong oleh isu-isu saintifik yang penting yang ditangani dengan semua metode-metode yang tersedia. Caranya adalah, pilihlah topik yang hangat dimasa yang akan datang, dan nantinya anda akan menjadi ahli dalam topik tersebut dimasa topik riset tersebut mulai dibincangkan orang. Bagaimanapun, jenis riset ‘ideal’ yang terakhir ini susah untuk didapatkan, karena tidak ada metode apapun yang tersedia untuk mendapatkan topik seperti ini. Walaubagaimanapun, setidak-tidaknya kita sudah mendapatkan prespektif mengenai memilih topik penelitian, walaupun di  universitas saya mengajar (dan juga di Universitas lainnya), kebanyakan topik penelitian tersebut diberikan oleh pembimbing dan disesuaikan dengan proyek penelitian yang mempunyai dana, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenainya.

Literatur

Sekarang ini kita dapat dengan mudah mencari informasi-informasi mengenai riset di internet, sehingga kita menjadi ‘kebanjiran’ informasi. Kebanjiran informasi ini kadang-kadang membuat kita bingung untuk memilah-milah informasi mana yang penting dan berguna, dan mana yang tidak. Hal yang penting diketahui adalah mengetahui terlebih dahulu jenis literatur yang kita baca. Terdapat tiga jenis sumber bahan bacaan; Primary sources; Communications, Letters (contoh: Chemical Communications, Letters dalam Nature, Science, Journal of American Chemical Society, Journal of Catalysis dan lain-lain). Secondary sources; Full paper (regular articles). Tertiary sources; Reviews articles (contoh: Chemical Reviews) dan textbooks.

Tulisan-tulisan yang dimuat di primary sources biasanya merupakan hasil-hasil penelitian yang sifatnya priority communications yaitu hasil-hasil penelitian yang penting, menarik, dan belum ‘komplit’ tetapi perlu dilaporkan. Dalam proses penyerahan naskah, biasanya pengarang perlu membuat alasan kenapa tulisan tersebut dimuat dalam bentuk ‘letter‘ atau “communications“. Walaupun tulisan-tulisan dalam communications hanya terdiri dari dua atau tiga halaman, tingkat originalitasnya biasanya tinggi. Itulah sebabnya jurnal-jurnal yeng berbentuk communications mempunyai impact factor yang relatif tinggi. Jika penelitian tersebut sudah dirasakan komplit (walaupun sebenarnya dalam penelitian tidak akan pernah komplit), tulisan tersebut dapat dimuat di jurnal dalam bentuk full paper;

Jika bidang-bidang penelitian tersebut berkembang dengan pesat, dalam masa beberapa tahun kita akan menjumpai reviews articles yang memuat perkembangan bidang tersebut serta disertai pandangan mengenai masa depan penelitian dalam bidang tersebut. Review articles bisa jadi berbentuk textbooks. Jadi apa yang kita rujuk dalam tertiary sources merupakan hasil penelitian yang sudah ketinggalan beberapa tahun. Namun, sebagai pemula, untuk mendapatkan ide-ide dan mendapatkan gambaran apa yang telah dikerjakan orang adalah lebih baik memulai dari tertiary sources.

Sang pembimbing

Melihat perkembangan sistem pendidikan tinggi sekarang ini yang lebih mementingkan output (daripada process) dan serba instant, maka tidaklah mengherankan kita mendapati pembimbing yang tidak berkualitas — yang dulunya juga dibimbing dengan cara yang sama.  Saya banyak menerima keluhan dari mahasiswa program doktor di Universitas saya mengajar bahwa sang pembimbing tidak menguasai topik penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswanya, sehingga mahasiswa tersebut terpaksa berdiskusi dengan ‘orang lain’ , sehingga praktis penelitian tersebut terpaksa dikerjakan tanpa ‘bimbingan’.  Yang lebih parah lagi adalah — walaupun sang pembimbing tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya — sang pembimbing selalu menuntut sang mahasiswa untuk menulis publikasi ilmiah.  Tujuannya jelas, untuk prestise dan juga kenaikan pangkat sang pembimbing. Jelas sekali, tidak terdapat unsur pendidikan dalam kasus ini. Yang pasti, mahasiswa doktor tersebut diperkuda oleh pembimbingnya. Biasanya, pembimbing jenis ini selalu berusaha mencari mahasiswa yang berprestasi tinggi, karena niatnya bukan untuk mendidik tetapi untuk ‘memperkuda’ mahasiswa tersebut — yang ujung-ujungnya demi prestise sang pembimbing.  Kadang-kadang realita ini tidak pernah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi ini betul-betul terjadi di Universitas.

Makna hakiki penelitian pada program pasca sarjana di perguruan tinggi 

Dalam pandangan saya, idealnya, penelitian pada program pasca sarjana merupakan media untuk mencetak calon-calon peneliti, yang otomatis didalamnya terdapat unsur pendidikan. Seperti yang saya tulis di atas, kadangkala unsur pendidikan tersebut tidak nampak dalam proses pencetakan calon peneliti tersebut. Karena kebanyakan mahasiswa mendapatkan beasiswa dari research project, maka hubungan yang berlaku antara ‘pembimbing’ dengan ‘mahasiswa’ seolah-olah seperti hubungan ‘majikan’ dengan ‘orang gajiannya’. Bagaimanapun, sebagai mahasiswa kita harus sadar bahwa hakikat dari pendidikan di program pasca sarjana adalah mendidik kita untuk menjadi seorang peneliti. Jika seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut, maka dia dianugerahi gelar Doktor. Ada yang mengatakan bahwa, gelar Doktor itu; adalah sebuah penghargaan kepada seseorang, karena orang tersebut telah melakukan penelitian secara menyeluruh; dari merumuskan masalah, memecahkan masalah, melaporkannya dalam bentuk tulisan dan juga mempresentasikannya, dibawah bimbingan seorang pembimbing.

Jika penelitian tersebut dilaksanakan dengan metoda yang efektif dan efisien, tanpa disadari, kepribadian yang jujur, kritis, bertindak dengan hati-hati dan disiplin dapat terbentuk. Bagi saya, inilah unsur terpenting dalam pendidikan di pasca sarjana tersebut. Unsur ini kebanyakan sering tidak diabaikan, karena ‘output‘-lah yang lebih banyak diperhatikan. Sebagai contoh; salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi sering dilupakan adalah penggunaan log book dalam penelitian. Dari pengamatan saya di sini maupun terhadap mahasiswa pasca sarjana Indonesia di Jepang, banyak yang tidak mempunyai log book penelitian. Jikapun punya, mereka tidak mengetahui cara menulis catatan-catatan penelitian di buku tersebut dengan benar. Walaupun ini nampaknya sepele, namun hal ini dapat mengajarkan kepada kita bagaimana berdisiplin, bekerja berstrategi, jujur dan rapi. Hal ini dapat kita jumpai dari saintis-saintis ulung zaman dahulu, dimana catatan-catatan penelitiannya yang hebat tersebut dapat kita saksikan sampai saat ini.

Manusia akan kembali ke akar budayanya

Maksud saya menulis tulisan ini adalah untuk mengingatkan saya dan kita semua bahwa sebagai manusia, kita akan cenderung kembali ke akar atau kepada ‘asal’ kita. Saya pernah membaca pengalaman pak Rosihan Anwar, wartawan veteran Indonesia — dia menceritakan bahwa dulu sewaktu muda apabila beliau bertemu dengan pak Natsir, bekas perdana menteri Indonesia yang pertama, mereka selalu berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda — namun ketika mereka bertemu dimasa tua pak Natsir cenderung untuk berbicara dengan menggunakan bahasa ibundanya, yaitu bahasa minang — karena beliau dibesarkan dalam budaya minangkabau. Ini menandakan, manusia cenderung kembali kepada akarnya yaitu dari mana mereka berasal dan dibesarkan — karena ini adalah fitrah manusia. 

Bagaimana kalau ‘akar’ tersebut diganti dengan ‘akar yang lain? Anda akan dapat membayangkan, bagaimana anak-anak kita membesar dengan ‘akar’ yang lain tersebut.

Bertindak strategis atau taktis?

Dalam hidup ini kita harus melangkah dan bertindak secara strategis (jangka panjang)  dan taktis (jangka pendek). Namun dalam hidup ini, susah untuk meramalkan apa yang akan terjadi kepada kita dan lingkungan kita pada masa akan datang, karena banyak sekali memiliki parameter-parameter yang susah untuk ditetapkan. Sebagai contoh, dari dulu saya tidak pernah membayangkan saya akan menjadi seorang dosen di Malaysia … Jadi hadapi hidup ini apa adanya, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan tetap optimis …. (ini adalah nasehat dari saya untuk diri saya sendiri).

To be a lecturer: What is the aim?

I have asked a question to a close friend: “Why do you want to be a lecturer?” His reply: “I want to be a rector”. His aim may be correct because rector is the highest position in a University. But, if we see with another perspective, the answer could have deviated from the main aim of to be a lecturer, because the main job and aim of a lecturer is teaching. I still remember when I was a student at Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Wiranto Arismunandar, a former rector of ITB, although he was busy as a minister of higher education in Indonesia, he still devoted to teaching. This could apply to Prof. Emil Salim, a former minister in Suharto’s cabinet, which also a professor in Universitas Indonesia (UI). We must enquire to ourselves (including my self), that our aim to be a lecturer in university is to teach and to do research.

Nasib saintis (penipu)

Akhirnya Jan Hendrik Schön penerima “Otto-Klung-Weberbank Prize” dalam bidang fisika pada tahun 2001, Braunschweig Prize pada tahun 2001 dan Outstanding Young Investigator Award of the Materials Research Society pada tahun 2002 bernasib malang karena telah terbukti memalsukan hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal terkenal Science dan Nature.  Kisah  ini penting diketahui oleh para dosen (pensyarah) di Universitas, supaya memberi kesadaran bahwa kejujuran dan etika akademik harus dijunjung tinggi.

Ini yang dikatakan oleh Professor Paul McEeun dari Cornell University  mengenai Jan Hendrik Schön: “The amazing thing about Hendrik was that everything he touched seemed to work.

Definisi pakar

Apa itu pakar atau expert ? Hal ini kadang-kadang memeningkan kepala, karena banyaknya orang yang diakui dan dianggap sebagai pakar, dan banyaknya orang yang mengaku dirinya adalah pakar.  Ini adalah penjelasan saya mengenai pakar.

Bagi saya pakar adalah “seseorang yang telah menguasai bidangnya dengan sangat baik sehingga dia dapat memberikan respon yang sangat cepat (kadang kala respon ini muncul tanpa berpikir panjang — dan mungkin sekali muncul dari ketidaksadaran) jika seseorang tersebut mendapatkan ‘rangsangan’ yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya“.

Sebagai contoh, seorang dosen (pensyarah) yang sudah puluhan tahun mengajar ‘termodinamika kimia’ akan cepat sekali menjawab pertanyaan mahasiswanya (dengan jawaban yang benar) mengenai bidang yang diajarnya tanpa kelihatan berpikir keras. Dosen ini dapat digelari pakar dalam bidang ‘termodinamika kimia’ yang diajarnya. 

Inilah yang membuat saya tidak merasa menjadi ‘pakar’, karena seringkali jika mahasiswa bertanya sewaktu kuliah,  saya menjawab … saya tidak tahu, besok akan saya coba menjelaskannya kepada anda

Saintis ‘gadungan’

‘Gadungan’ = imitation

Tulisan yang ditulis oleh Prof. Gerard ′t Hooft (penerima hadiah Nobel fisika tahun 1999), yang berjudul “How to become a bad theoretical physicist” patut dibaca oleh para saintis dan juga oleh orang-orang tidak mengerti sains yang kadangkala banyak ‘tertipu’ oleh ‘kehebatan’ saintis-saintis ‘gadungan’.

Para saintis ‘gadungan’ ini biasanya selalu mengikuti aktivitas-aktivitas promosi hasil penelitian yang tidak bersifat ilmiah. Mereka jarang sekali mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam seminar-seminar ilmiah (yang dihadiri oleh saintis-saintis lain yang sebidang dengan mereka) dan mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal-jurnal yang berkualitas.  Jika ikut seminar, itupun dalam bentuk poster.  Jika ada publikasi, itupun dalam jurnal-jurnal yang tidak dikenal atau diakui oleh komunitas saintifik (scientific community).  Para saintis ‘gadungan’ ini biasanya selalu menghindar daripada  komunitas saintifik, dan akibatnya mereka tidak dikenal oleh komunitas tersebut.  Namun adakalanya dengan kekuatan ‘politik’ dan media massa,  dan seringnya mereka mengikuti aktivitas-aktivitas promosi hasil penelitian yang tidak bersifat ilmiah tersebut,  saintis ‘gadungan’ ini dapat juga dikenal dengan baik oleh ‘masyarakat’, iaitu masyarakat ‘awam’ yang tidak mengerti apa itu sains.

Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

[Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Waspada pada bulan Mei 2004].

Melihat perkembangan Indonesia saat ini, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial dan politik sangatlah memprihatinkan. Kekurangan dan ketinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain dari hampir disemua aspek yang disebutkan di atas dapat dirasakan, terutama oleh intelektual Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang relatif dapat melihat dengan lebih jelas karena berada di “luar orbit”. Indikator-indikator yang terukur, seperti ekonomi, telah menunjukkan hal ini, sedangkan indikator-indikator yang susah diukur dapat kita bandingkan selama kita berada di Indonesia dan di luar negeri. Banyak pendapat yang menyoroti penyebab hal ini. Salah satunya adalah rendahnya mutu pendidikan. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia penelitian dalam bidang sains, saya dapat merasakan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif. Saya berpikir bahwa dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa dapat membantu membentuk kepribadian yang baik. Apa yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek ‘pendidikan’ (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung hanya memberikan knowledge saja kepada para mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai ‘pengajaran’. Aspek ‘pendidikan’ yang saya maksudkan adalah termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Hal ini penting karena saya berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi adalah benteng terakhir yang seharusnya bertahan dalam menghadapi krisis moral di Indonesia.

Etika sains, riset dan pendidikan

Sains, ilmuwan, riset dan pendidikan merupakan hal yang sangat berkaitan erat. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa riset dan mengajar merupakan hal yang bersifat perkalian bukan pertambahan, salah satu sifat utama yang melekat kepada seseorang yang digelari ilmuwan Ini berarti bahwa seseorang akan nol sebagai ilmuwan jika tidak melakukan riset. Dan juga berarti akan nol sebagai ilmuwan jika tidak mengajar.

Berdasarkan hal ini, tulisan ini mencoba memberikan gambaran pentingnya etika sains dan manfaatnya dalam pendidikan.

Sebelum kita masuk ke dalam permasalahan: apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, betanggung jawab dan sportif? Ada baiknya kita mengetahui apa itu sains dan etika. Cara pandang terhadap sains bisa bermacam-macam tergantung bagaimana kita mendefinisikan sains tersebut. Tapi ada baiknya, sesuai dengan tujuan tulisan ini, definisi dari sains diambil dari Oxford English Dictionary: “A branch of study which is concerned with a connected body of demonstrated truths, orwith observed facts systematically classified and more or less colligated by being brought under general laws, and which includes trustworthy methods for the discovery of new truth within its own domain“. Apa itu etika? Webster’s New Collegiate Dictionary mendefinikannya sebagai berikut: “1 …the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation 2 a: a set of moral principles and values b: a theory or system of moralvalues c: the principles of conduct governing an individual or a group.

Dari definisi-definisi di atas kelihatan dengan jelas bahwa sains adalah alat untuk mencari kebenaran. Dan dapat disadari untuk mencari kebenaran kita perlu strategi yang beretika. Strategi disini adalah metode ilmiah. Bagaimanapun banyak terjadi pelanggaran etika dalam penelitian saintifik, yang disebut sebagai penipuan saintifik (scientific fraud).

Penipuan saintifik

Penipuan saintifik (scientific fraud) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja,. Bagaimanapun, definisi penipuan saintifik tidak selalu jelas. Salah satu aspek dari penipuan saintifik adalah memanipulasi dan mengubah data. Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage menerangkan teknik manipulasi data. Di dalamnya termasuk trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan). Sains yang ideal adalah bahwa para ilmuwan seharusnya objektif dan melaporkan semua hasil pengamatan secara lengkap dan jujur. Bagaimanapun, ini tidak selalu ditemui dalam laporan-laporan ilmiah.

Sebagai ilustrasi, tiga kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana etika sains dijunjung tinggi dalam dunia ilmiah:

Kasus pertama

Faktor yang merumitkan pendeteksian penipuan saintifik adalah karena begitu banyaknya publikasi-publikasi yang diterbitkan setiap tahun di dunia. Lebih daripada 40,000 jurnal dan ratusan ribu artikel ilmiah setiap tahun telah diterbitkan Sangatlah susah untuk meneliti apakah sebuah artikel mengandung penipuan atau tidak, walaupun paper tersebut telah dipublikasikan melalui penjurian (reviewing process). Salah satu kasus yang terkuak kepermukaan adalah kasus Elias A. K. Alsabti pada akhir 1970 dan awal 1980. Alsabti adalah seorang warganegara Irak, memperoleh sarjana kedokteran di Irak dan datang ke Amerika Serikat pada 1977 untuk bekerja dalam bidang immunologi di Temple University di Philadelphia, dan dilanjutkan di beberapa buah institut. Alsabti didapati terlibat dalam penipuan saintifik. Dalam sebuah kasus penipuan, rekan kerjanya menemukan bahwa dia telah mengubah data dalam sebuah publikasi ilmiah. Dalam beberapa contoh yang lain, Alsabti melakukan perbuatan plagiat, mengambil data dari jurnal, dan mempublikasikannya lagi dalam jurnal yang lain

Dalam beberapa kasus yang lain, plagiat yang dilakukan oleh Alsabti dengan mudah dapat ditemukan karena kecerobohan dia dalam menghilangkan tanda-tanda bahwa data tersebut telah diambil dari artikel orang lain.  Sebelum kasus ini ditemukan Alsabti tealah memperoleh posisi di enam buah institut yang berbeda dan mendapatkan izin untuk membuka praktek kedokteran di dua negara bagian di Amerika Serikat. Kasus ini telah dipublikasikan di Nature, the British Medical Journal dan disebuah buku yang berjudul Stealing Into Print oleh Marcel C. Lafollette. Kasus ini ditutup setelah Alsabti ditemukan tewas kecelakaan mobil pada tahun 1991.

Kasus kedua

Kasus serius lain ditemukan pada tahun 1980an, dimana seorang kardiolog muda bernama John Darsee, yang bekerja di salah satu lembaga riset bergengsi di dunia yaitu Harvard Medical School di Boston, Massachusetts. Dia dikenal sebagai ilmuwan yang berbakat karena telah mempublikasikan hampir 100 artikel dan abstrak dalam masa dua tahun di Harvard.

Pada tahun 1981, rekan-rekan kerja Darsee mengetahui dan melaporkan kepada kepala laboratorium bahwa dia telah membuat data palsu dalam eksperimen. Mereka juga melaporkan bahwa Darsee juga telah memalsukan data di beberapa artikel yang telah dipublikasikan. Ketika diselidiki, Darsee mengaku telah melakukan hal tersebut. Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Darsee telah memalsukan data bukan saja di Harvard, tetapi di posisi sebelumnya di Emory University di Georgia dan bahkan ketika sebagai mahasiswa sarjana di Notre Dame University di Indiana. Darsee dikeluarkan dari Harvard dan ditutup kemungkinannya untuk menerima dana riset dari pemerintah. Artikelnya di jurnal yang memuat data palsu tersebut juga telah ditarik kembali.

Kasus ketiga

Kasus ketiga terjadi di Indonesia. Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2000 akhirnya membatalkan gelar doktor pada Ipong S. Azhar. Disertasi Ipong ini mulai menjadi masalah setelah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Radikalisme Petani Masa Orde Baru: Kasus Sengketa Tanah Jenggawah pada pertengahan 1999. Mochammad Nurhasim, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkejut setelah membaca bab demi bab buku itu, karena isinya sama dengan skripsinya. Ia lalu menulis surat ke Senat UGM, sekaligus mengirim salinan skripsinya. Ia juga membuat surat terbuka ke berbagai media massa. Intinya, ia menuduh Ipong melakukan plagiat dan mendesak supaya gelar doktor kolumnis itu dicabut. Dan, keputusan final telah dijatuhkan pada 25 Maret 2000 dalam Forum Rapat Senat UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, Rektor UGM, dan dihadiri 102 anggota senat. Gelar doktornya dibatalkan. Keputusan Senat UGM tentu didasarkan pada temuan Tim Peneliti kasus Ipong. Hampir semua data disertasi Ipong menggunakan data orang lain. Selain itu, data yang diserahkan saat ujian meraih gelar doktor tidak sama dengan disertasi yang dikumpulkan ke bagian arsip dan perpustakaan UGM. Disertasi yang diserahkan kepada penguji tidak menyebutkan sumbernya. Sementara, salinan disertasi yang diserahkan ke bagian arsip perpustakaan sudah mencantumkan sumber referensinya, yakni skripsi Mochammad Nurhasim.

Kesalahan lain yang berasal dari kecerobohan, kurang baiknya merancang eksperimen atau tidak tepat dalam menyalin catatan laboratorium bukan merupakan penipuan saintifik (scientific fraud) walaupun merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam sains. Salah satu contoh kasus terbaru dalam hal ini telah dilaporkan di Chemical and Engineering News pada 6 Agustus 2001 dimana ilmuwan-ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) telah menarik kembali artikel mereka yang dipublikasikan di Physical Review Letters. Di jurnal bergengsi ini, mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan unsur baru dengan nomor atom 118 dan 116 dari hasil reaksi inti antara 208Pb dengan ion 86Kr yang berenergi tinggi. Penarikan artikel ini didasarkan kepada hasil eksperimen yang tidak bisa diulang di laboratorium di Jerman dan Jepang. Penarikan ini sangat beralasan karena hasil riset ini akan memberikan impak yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa hukuman terhadap penipuan saintifik itu sangat jelas. Contoh kasus di UGM memberikan kesadaran kepada kita bahwa diperlukan suatu instrumen dan peraturan yang jelas untuk memperkecil kemungkinan penipuan saintifik. Berbeda dengan perguruan tinggi di negara maju, instrumen dan peraturannya mengenai penipuan saintifik di universitas di Indonesia ini tidak jelas dan belum diatur. Di samping itu, di negara maju, etika sains dimasukkan dalam kurikukum, untuk memberikan kesadaran dan melatih mahasiswa bahwa etika sains mutlak diperlukan di dalam riset. Sebagai gambaran umum, di dalam perkuliahan etika sains disamping diterangkan pentingnya etika sains juga diajarkan bagaimana menulis, melaporkan dan menganalisis data percobaan secara betul. Di Woodrow Wilson Biology Institute, mata kuliah ini diajarkan dalam kurikulum ilmu-ilmu biologi yang dianggap rawan terhadap penipuan. Hal ini juga disampaikan melalui tugas laboratorium. Sebagai gambaran bagaimana etika sains diajarkan, di bawah ini diberikan contoh kuliah etika sains di Woodrow Wilson Biology Institute, di mana sasaran dari kuliah tersebut adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk membedakan antara kesalahan biasa dan penipuan saintifik. Menerangkan kepada mahasiswa konsekwensi dari penipuan saintifik. Memahami sifat atur-diri (self-regulating) dari riset. Di dalam perkuliahan itu diajarkan sejarah penipuan saintifik dan mahasiswa dilibatkan dalam diskusi mengenai implikasi dari penipuan saintifik. Juga diajarkan cara menganalisa rancangan eksperimen dan data untuk mendeteksi kesalahan dan penipuan saintifik. Dalam perkuliahan juga disimulasikan situasi dilema etika dimana terjadi konflik antara kejujuran dengan keuntungan pribadi. Praktikum diberikan dengan menekankan pentingnya kontrol dalam perancangan eksperimen. Sebagai contoh, dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi melaporkan kesimpulan yang salah karena perancangan eksperimen yang salah.

Dari kasus dan penjelasan di atas, kita dapat mengatakan, jika etika sains secara betul diajarkan dan diterapkan, maka kita dapat menjawab pertanyaan: Apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif?

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam penipuan saintifik, secara umum, ada tiga hal yang memotivasi orang untuk melakukan penipuan saintifik: Pertama adalah tekanan karir, dimana untuk melancarkan karir, seseorang terpaksa untuk melakukan penipuan. Tekanan ini dapat terlihat bagi para mahasiswa program doktor di Jepang yang rata-rata harus mempunyai publikasi di jurnal dalam bidangnya untuk memperoleh gelar doktor. Kedua, mengetahui atau berusaha menjawab pertanyaan dari riset tanpa susah payah melakukan eksperimen yang memakan waktu dan tenaga di laboratorium. Ketiga, bekerja pada bidang dimana hasil eksperimen tidak akan selalu sama jika diulang (reproducible). Hal ini dapat menjelaskan mengapa penipuan saintifik banyak terjadi pada bidang biologi dan biomedik, karena sulit mendapatkan data-data yang betul-betul bisa diulang, karena tergantung kepada banyak faktor yang susah dikontrol.

Antisipasi untuk Indonesia

Melihat kepada kemajuan zaman, mau tidak mau bangsa Indonesia harus menguasai ilmu dan teknologi. Hal ini tidak hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kerangka etika (dalam arti yang luas), walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan banyak berpengaruh dengan banyaknya kasus-kasus penipuan saintifik. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai daya untuk memperbaiki dirinya sendiri (self correction). Hal ini sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang berkembang berdasarkan pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya. Bagaimanapun, mentalitas yang jujur mutlak diperlukan sebagai landasan untuk mencapai kemajuan. Pengajaran etika sains kepada para mahasiswa sarjana, magister dan doktor diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa bahwa para calon sarjana, calon doktor dan calon professor harus menjunjung tinggi kejujuran. Setidaknya hal ini dapat menjadi sumbangan kecil untuk perbaikan masyarakat kita, yang sedang dihinggapi penyakit korupsi, plagiat, membeli gelar, menyontek dan lain sebagainya. Inilah tugas berat para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang menyadari pentingnya etika sains dalam pendidikan sains dan riset di Indonesia.