Visit to Pamuatan

I was fortunate enough to find my genealogy during my visit to Pamuatan (the place where my mother was born in 1933) in West Sumatra, Indonesia. This genealogy is based on the matrilineal social system embodied in the Adat Perpatih Laws since my ancestor was a Minangkabau tribesman. It means that property is inherited through the female line. Our extended family has fields where the rubber is the most important crop in these fields. My family and I also visited these fields at Pamuatan.

Eid ul-Fitr 2007

My family and I celebrate Eid ul-Fitr in my father’s extended family house at Balaimansiro, Payakumbuh, West Sumatera. The family house was typically a traditional Minangkabau house with a large rectangular structure, raised high above the ground, with a buffalo horn-shaped roof. The main room occupied much of the structure. Adjoining it was the living compartments, each filled by a woman, her children, and her husband when present.

https://www.flickr.com/photos/hadinur/albums/72157602841274681

Blogholic: penyakit blogger

Yang buat artikel ini: ‘blogholic‘ (makanya hari ini blognya termasuk dalam daftar blog wordpress.com yang tumbuh cepat).

Yang baca artikel ini: ‘bloglurking‘ (biasanya hanya suka baca blog orang lain tanpa ada niat untuk berkontribusi atau menanggapi tulisan yang ditulis)

Ha.. ha.. ha..

Iran: Negara Islam yang paling maju dalam sains

Mungkin kita menganggap Mesir merupakan negara Islam yang paling maju dalam sains karena sekarang mereka sudah mempunyai 2 orang pemenang Nobel (sastra dan kimia). Namun saya cukup terkejut membaca artikel artikel yang ditulis oleh D. A. King yang dipublikasikan di Nature, edisi 15 Juli 2004 yang berjudul “The scientific impact of nations” yang analisisnya menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang termasuk dalam 31 besar negara yang paling maju sains-nya di dunia.

Bagaimana D. A. King sampai pada kesimpulannya tersebut? Di bawah ini diterangkan metoda penilaiannya. Dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, parameter penting untuk menilai “scientific impact” adalah produktivitas; yaitu hanya dari jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal, dan sekarang, parameter yang menentukan kualitas dari hasil penelitian tersebut telah dikuantifikasikan ke dalam parameter yang disebut sebagai “impact factor”. Perhitungan nilai impact factor tersebut didasarkan kepada jumlah rujukan (citation) dari artikel yang telah dipublikasikan. Artinya, jika artikel itu banyak dijadikan referensi di artikel yang lain, maka impact factor-nya menjadi tinggi. Banyak lembaga-lembaga pemberi dana riset dan universitas menggunakan impact factor ini dalam menilai pencapaian dosen, peneliti dan mahasiswa.

Sekarang muncul indikator yang lain yang disebut sebagai “Scientific Impact of Nations” yang diusulkan oleh D. A. King. King telah menganalisis jumlah rujukan (citation) dari artikel yang dipulikasikan dari lebih 8000 jurnal dari 36 bahasa yang diindeks oleh ISI Thomson dari tahun 1993-2001, yang terdiri dari jurnal-jurnal dalam bidang sains dan teknologi. Hasilnya, 31 negara ditemui sebagai penyumbang terbesar terhadap 1% atau lebih dari artikel yang paling banyak dirujuk di dunia. Amerika serikat adalah yang teratas diikuti oleh negara-negara eropa, Jepang, Taiwan, Singapore dan nomor 30: Iran! Iran merupakan satu-satunya negara Islam yang masuk dalam penyumbang terbesar dengan 2152 artikel yang banyak dirujuk di jurnal-jurnal yang dikenal oleh ISI. Jika indikator ini dibandingkan dengan “wealth intensity” (GNP dibagi dengan jumlah penduduk), Iran menjadi nomor 30, dan Amerika serikat tidak lagi menjadi nomor satu. Yang menjadi nomor satu adalah Swiss, sehingga Swiss dapat dianggap sebagai negara yang paling efektif dan pintar dalam memanfaatkan dana riset dan menghasilkan hasil riset yang bermutu tinggi.

Perkembangan sains di Iran dapat dilihat dari perkembangan publikasi ilmiah yang mereka hasilkan. Sebagai contoh, setelah revolusi Iran pada tahun 1979, jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal internasional menurun, yaitu dari 450 artikel pada tahun 1979 menjadi hanya 120 pada tahun 1980. Tetapi, pada tahun 2002 jumlah itu meningkat 20 kali menjadi 2224 artikel. Iran nomor 15 di dunia dalam penelitian ‘string teory’. Hal ini juga berlaku dalam bidang kimia dan matematika. Tidak dapat disangkal, dunia barat terkejut dengan perkembangan sains di Iran ini.

Fenomena yang perkembangan sains di Iran sangat menarik untuk dicermati, dan telah dicoba dijelaskan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Prof. Farhad Khosrokhavar, profesor sosiologi di E´cole des Hauts E´tudes en Sciences Sociales (EHESS), di Paris yang dimuat dalam Critique: Critical Middle Eastern Studies, (Summer 2004), 13(2), 209–224.

Banyak saintis Iran yang berimigrasi ke barat setalah revolusi Iran. Universitas telah ditutup selama 3 tahun pada masa itu. Perang dengan Irak (1980-1988) juga menambah larinya saintis-saintis Iran ke luar negeri. Melihat keadaan tersebut agak mencengangkan melihat Iran dapat bangkit mengejar ketinggalannya.

Melihat kenyataan bahwa revolusi Iran telah menolak sains sebagai produk dari barat, dan mempromosikan sains yang berbasiskan Islam, telah menyebabkan reaksi yang bebeda dari saintis Iran pada masa itu. Sebahagian berhenti bekerja dalam sains dan menukar profesinya, dan sebahagian lagi malah menjadi “lebih kuat dan bersemangat” dalam mengejar idealisme mereka untuk menjadikan Iran sebagai negara Islam yang maju dalam sains dan teknologi. Pada masa-masa sulit tersebut, sekumpulan matematikawan dan fisikawan teoritis berkumpul setiap minggu di University of Tehran’s Institute of Physics. Diantara mereka adalah matematikawan Reza Khosroshahi, Hosein Zia, dan fisikawan Farhad Ardalan, Firooz Partovi, Hesam ed dine Arfa, and Reza Mansouri dan beberapa professor dari universitas di luar Tehran. Mereka inilah yang membangkitkan kegiatan saintifik di Iran. Yang menarik adalah, kumpulan diskusi ini disatukan dengan ide yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik, mereka disatukan dengan ide mengenai keunggulan saintifik! Inilah idealisme mereka. Mereka memilih untuk tidak masuk dalam perdebatan politik dan hanya memikirkan dan berusaha bagaimana mencapai keunggulan dalam sains.

Terdapat dua generasi saintis di Iran yang terkait dengan perkembangan sains di Iran. Generasi pertama dianggap sekuler, dan kebanyakan mereka mendapat pendidikan di barat. Mereka tidak sensitif terhadap terhadap revolusi yang terjadi di Iran. Generasi kedua merupakan generasi yang terlibat dalam revolusi yang menentang rezim Shah Iran. Sebahagian mereka merupakan orang-orang berusaha menegakkan apa yang mereka sebut sebagai “Islamization of knowledge’. Generasi kedua inilah yang merupakan generasi penggerak dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Iran. Atas inisiatif merekalah program doktor (PhD) pertama dibuka di Iran. Dengan dibukanya program PhD ini, barulah timbul kepercayaan diri, bahwa Iran mampu menghasilkan hasil-hasil penelitian yang bermutu tinggi. Institualisasi dari penelitian ilimiah dalam bidang sains juga dimulai dengan program PhD ini. Dengan banyaknya artikel yang bermutu tinggi yang dipublikasikan, dapat dicatat bahwa bahwa mereka telah berhasil menanamkan idealisme keunggulan dalam sains kepada mahasiswa-mahasiswa mereka. Lembaga yang terkenal dalam menghasilkan sainstis tersebut adalah Zanjan Institute of Advanced Studies in Basic Science (IASBS) and Institute for Theoretical Physics and Mathematics (IPM) di Tehran, dan juga di Sharif University of Technology, University of Tehran dan University of Shiraz.

Jadi idealisme dalam mengejar keunggulan sains merupakan kunci keberhasilan Iran dalam memajukan sains, sehingga sekarang Iran termasuk ke dalam negara memiliki “The scientific impact of nations” tertinggi di dunia.

Sifat-sifat manusia Indonesia

Mochtar Lubis menulis sebuah buku yang berjudul “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang kalau tidak salah ditulis tahun 70’an. Namun kalau ditelaah, setelah hampir 30 tahun, apakah sifat-sifat tersebut masih hinggap disebahagian besar masyarakat Indonesia?  Satu-satunya sifat yang positif dari orang Indonesia, menurut Mochtar Lubis adalah sifatnya yang ‘artistik’.

Bagaimanapun, walaupun banyak di antara kita (dan saya) yang kurang setuju dengan pendapat Muchtar Lubis ini, buku ini setidak-tidaknya menjadi ‘bahan’ bagi kita supaya tidak memiliki sifat-sifat (buruk) tersebut. Saya yakin masih banyak orang Indonesia yang bisa menjadi panutan — baik dari segi prestasi dan moral.

Ini sifat-sifat manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban”:

1. Hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.

2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya,putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.

3. Berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.

4. Masih percaya takhyul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.

5. Artistik. Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinyam warna-warninya.

6. Watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”. Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.

8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.

11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok. Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.

12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak nyang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

Tampilan baru

Setelah mengotak-atik blog ini, saya menemukan ‘image’ yang saya anggap sesuai untuk blog ini, yaitu foto ‘header’ dimana saya sedang beraksi di depan komputer di kantor saya, yang mejanya jarang saya rapikan…. 

Sarjana ilmu sosial yang pandainya hanya mengutip pendapat orang lain

Semasa hidupnya, Ali Akbar Navis, sastrawan Indonesia yang terkenal dengan cerpennya yang berjudul ”Robohnya surau kami”, seperti yang diceritakan oleh orang yang dekat dengan beliau, pernah mengatakan bahwa ’ada’ sarjana ilmu sosial Indonesia pandainya hanya mengutip pendapat orang lain. Membaca tulisan-tulisan sarjana sosial di media massa, dan juga di jurnal-jurnal ilmu sosial yang diterbitkan di Indonesia, saya dapat membenarkan pendapat pak Navis. 

Saya pernah membaca tulisan-tulisan seorang sarjana antropologi Indonesia, yang mempunyai gelar Ph.D. dari universitas terkenal di Amerika, yang juga bergelar profesor. Walaupun tulisannya mempunyai  banyak referensi, saya tidak menemukan pemikiran atau ide sendiri (orisinal) yang dikemukakan dalam tulisan-tulisan tersebut. Masyarakat awam mungkin akan kagum dengan luasnya sumber bacaan dan banyaknya teori-teori ilmu sosial (yang berasal dari pemikiran ilmuwan-ilmuwan barat) yang dikuasai oleh sarjana antropologi tersebut. Mungkin kehebatannya mengutip teori-teori ilmiah itu dapat mengangkat ’gengsi’-nya sebagai ilmuwan sosial dimata masyarakat awam. Namun apa kontribusinya dalam bidang tersebut?   

Apa penyebab sehingga tidak ada pendapat yang orisinal yang keluar dari sarjana ilmu sosial tesebut? Jawabnya adalah karena sarjana tersebut tidak pernah melakukan penelitian (research) ’lapangan’. Hal ini sangat disayangkan, karena kebanyakan tulisan-tulisan mengenai masalah sosial di Indonesia ditulis oleh orang asing. Hal ini juga berlaku untuk ilmu-ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, pendidikan, psikologi, politik dan lain sebagainya. Kalau anda tidak percaya silahkan telusuri ’google scholar’. Sangat jarang sarjana ilmu sosial Indonesia yang banyak melakukan penelitian ’lapangan’, yang banyak adalah sarjana ilmu sosial yang pandainya hanya mengutip pendapat orang lain. Menurut saya, inilah yang menyebabkan mengapa banyak masalah-masalah sosial di Indonesia tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Jika ilmuwan sosial meneliti mengenai santri, tentu akan merujuk kepada hasil penelitian yang dilakukan Prof. Clifford Geertz  (ilmuwan sosial terkenal dari Pricenton University). Mengapa tidak ada ’Clifford Geertz’ yang berasal dari Indonesia? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, seperti nyanyian Ebiet G. Ade dalam lagunya ’Berita kepada kawan’.