Mahasiswa program doktor (PhD)

Banyak buku dan tulisan yang ditulis untuk para mahasiswa program doktor (PhD), sebagai contoh: “Authoring a PhD Thesis: How to Plan, Draft, Write and Finish a Doctoral Dissertation“, “Journey to the Ph.D.” dan banyak lagi … (anda dapat mencarinya di internet) — tetapi jarang sekali saya menemukan buku yang ditulis untuk pembimbimg mahasiswa program doktor (PhD).  Mungkin, kalau ditulis, buku ini tidak akan laku. Namun saya pikir ini juga penting karena mahasiswa akan dapat melihat proses pembimbingan dengan ‘perspektif’ yang berbeda.  Di bawah ini saya menuliskan beberapa aspek yang saya anggap penting untuk diketahui oleh khalayak ramai mengenai topik ini — karena saat ini saya sedang membimbing beberapa mahasiswa doktor di Universiti Teknologi Malaysia.  

Topik Penelitian

Mencari topik penelitian merupakan masalah yang paling utama dalam melakukan penelitian, termasuk penelitian ditingkat doktor. Mungkin diantara kita banyak yang mendengar bahwa hal yang paling susah dalam penelitian adalah mencari ‘masalah’ sehingga banyak yang mengatakan bahwa sebenarnya ilmuwan itu adalah ‘the problem seeker‘ bukannya ‘the problem solver‘.

Bagaimana cara memilih topik penelitian yang baik dan menarik merupakan suatu hal yang perlu diketahui sebelum kita memulai atau mencoba mendapatkan dana penelitian, karena mungkin kita dapat masuk ke dalam ‘perangkap’. Melakukan penelitian dengan tujuan yang ‘mengada-ngada’ adalah salah satu perangkap yang sukar dielakkan karena penelitian jenis biasanya dijumpai dilembaga-lembaga penelitian yang ‘kaya’ dan ‘maju’ seperti IBM, NASA, dan di Universitas-universitas terkenal seperti MIT, Caltech, UCLA dan sebagainya. Salah satu contoh riset jenis ini adalah penelitian mengenai “polywater” atau polimerisasi molekul H2O. Jika berhasil disintesis, polywater akan mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan air, dan viskositas yang 15 kali lebih besar dibandingkan air.  Walaupun fenomena polywater ini tidak masuk akal (implausible) tetapi adalah ‘mungkin’ (lihat http://www-2.cs.cmu.edu/~dst/ATG/polywater.html). Bagaimanapun, riset ini telah mendapatkan dana yang berlimpah dari U.S. Navy karena kemungkinan dapat digunakan di dunia militer.

Perangkap yang lain adalah riset ‘negative‘ dan `improvement‘ yang tujuannya hanyalah membuktikan sesuatu itu adalah ‘salah’ atau hanya mengembangkan atau memodifikasi sesuatu yang sebenarnya sudah banyak diketahui dan dikerjakan orang lain. Riset seperti ini biasanya dapat menghasilkan banyak publikasi ilmiah, tetapi akan cepat dilupakan orang. 

Sebuah perangkap yang lain adalah riset ‘tool-driven‘, yang sifatnya hanyalah menyelesaikan masalah dengan metode-metode yang sudah diketahui atau dikembangkan dengan baik.

Riset yang terbaik adalah riset yang didorong oleh isu-isu saintifik yang penting yang ditangani dengan semua metode-metode yang tersedia. Caranya adalah, pilihlah topik yang hangat dimasa yang akan datang, dan nantinya anda akan menjadi ahli dalam topik tersebut dimasa topik riset tersebut mulai dibincangkan orang. Bagaimanapun, jenis riset ‘ideal’ yang terakhir ini susah untuk didapatkan, karena tidak ada metode apapun yang tersedia untuk mendapatkan topik seperti ini. Walaubagaimanapun, setidak-tidaknya kita sudah mendapatkan prespektif mengenai memilih topik penelitian, walaupun di  universitas saya mengajar (dan juga di Universitas lainnya), kebanyakan topik penelitian tersebut diberikan oleh pembimbing dan disesuaikan dengan proyek penelitian yang mempunyai dana, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenainya.

Literatur

Sekarang ini kita dapat dengan mudah mencari informasi-informasi mengenai riset di internet, sehingga kita menjadi ‘kebanjiran’ informasi. Kebanjiran informasi ini kadang-kadang membuat kita bingung untuk memilah-milah informasi mana yang penting dan berguna, dan mana yang tidak. Hal yang penting diketahui adalah mengetahui terlebih dahulu jenis literatur yang kita baca. Terdapat tiga jenis sumber bahan bacaan; Primary sources; Communications, Letters (contoh: Chemical Communications, Letters dalam Nature, Science, Journal of American Chemical Society, Journal of Catalysis dan lain-lain). Secondary sources; Full paper (regular articles). Tertiary sources; Reviews articles (contoh: Chemical Reviews) dan textbooks.

Tulisan-tulisan yang dimuat di primary sources biasanya merupakan hasil-hasil penelitian yang sifatnya priority communications yaitu hasil-hasil penelitian yang penting, menarik, dan belum ‘komplit’ tetapi perlu dilaporkan. Dalam proses penyerahan naskah, biasanya pengarang perlu membuat alasan kenapa tulisan tersebut dimuat dalam bentuk ‘letter‘ atau “communications“. Walaupun tulisan-tulisan dalam communications hanya terdiri dari dua atau tiga halaman, tingkat originalitasnya biasanya tinggi. Itulah sebabnya jurnal-jurnal yeng berbentuk communications mempunyai impact factor yang relatif tinggi. Jika penelitian tersebut sudah dirasakan komplit (walaupun sebenarnya dalam penelitian tidak akan pernah komplit), tulisan tersebut dapat dimuat di jurnal dalam bentuk full paper;

Jika bidang-bidang penelitian tersebut berkembang dengan pesat, dalam masa beberapa tahun kita akan menjumpai reviews articles yang memuat perkembangan bidang tersebut serta disertai pandangan mengenai masa depan penelitian dalam bidang tersebut. Review articles bisa jadi berbentuk textbooks. Jadi apa yang kita rujuk dalam tertiary sources merupakan hasil penelitian yang sudah ketinggalan beberapa tahun. Namun, sebagai pemula, untuk mendapatkan ide-ide dan mendapatkan gambaran apa yang telah dikerjakan orang adalah lebih baik memulai dari tertiary sources.

Sang pembimbing

Melihat perkembangan sistem pendidikan tinggi sekarang ini yang lebih mementingkan output (daripada process) dan serba instant, maka tidaklah mengherankan kita mendapati pembimbing yang tidak berkualitas — yang dulunya juga dibimbing dengan cara yang sama.  Saya banyak menerima keluhan dari mahasiswa program doktor di Universitas saya mengajar bahwa sang pembimbing tidak menguasai topik penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswanya, sehingga mahasiswa tersebut terpaksa berdiskusi dengan ‘orang lain’ , sehingga praktis penelitian tersebut terpaksa dikerjakan tanpa ‘bimbingan’.  Yang lebih parah lagi adalah — walaupun sang pembimbing tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya — sang pembimbing selalu menuntut sang mahasiswa untuk menulis publikasi ilmiah.  Tujuannya jelas, untuk prestise dan juga kenaikan pangkat sang pembimbing. Jelas sekali, tidak terdapat unsur pendidikan dalam kasus ini. Yang pasti, mahasiswa doktor tersebut diperkuda oleh pembimbingnya. Biasanya, pembimbing jenis ini selalu berusaha mencari mahasiswa yang berprestasi tinggi, karena niatnya bukan untuk mendidik tetapi untuk ‘memperkuda’ mahasiswa tersebut — yang ujung-ujungnya demi prestise sang pembimbing.  Kadang-kadang realita ini tidak pernah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi ini betul-betul terjadi di Universitas.

Makna hakiki penelitian pada program pasca sarjana di perguruan tinggi 

Dalam pandangan saya, idealnya, penelitian pada program pasca sarjana merupakan media untuk mencetak calon-calon peneliti, yang otomatis didalamnya terdapat unsur pendidikan. Seperti yang saya tulis di atas, kadangkala unsur pendidikan tersebut tidak nampak dalam proses pencetakan calon peneliti tersebut. Karena kebanyakan mahasiswa mendapatkan beasiswa dari research project, maka hubungan yang berlaku antara ‘pembimbing’ dengan ‘mahasiswa’ seolah-olah seperti hubungan ‘majikan’ dengan ‘orang gajiannya’. Bagaimanapun, sebagai mahasiswa kita harus sadar bahwa hakikat dari pendidikan di program pasca sarjana adalah mendidik kita untuk menjadi seorang peneliti. Jika seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut, maka dia dianugerahi gelar Doktor. Ada yang mengatakan bahwa, gelar Doktor itu; adalah sebuah penghargaan kepada seseorang, karena orang tersebut telah melakukan penelitian secara menyeluruh; dari merumuskan masalah, memecahkan masalah, melaporkannya dalam bentuk tulisan dan juga mempresentasikannya, dibawah bimbingan seorang pembimbing.

Jika penelitian tersebut dilaksanakan dengan metoda yang efektif dan efisien, tanpa disadari, kepribadian yang jujur, kritis, bertindak dengan hati-hati dan disiplin dapat terbentuk. Bagi saya, inilah unsur terpenting dalam pendidikan di pasca sarjana tersebut. Unsur ini kebanyakan sering tidak diabaikan, karena ‘output‘-lah yang lebih banyak diperhatikan. Sebagai contoh; salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi sering dilupakan adalah penggunaan log book dalam penelitian. Dari pengamatan saya di sini maupun terhadap mahasiswa pasca sarjana Indonesia di Jepang, banyak yang tidak mempunyai log book penelitian. Jikapun punya, mereka tidak mengetahui cara menulis catatan-catatan penelitian di buku tersebut dengan benar. Walaupun ini nampaknya sepele, namun hal ini dapat mengajarkan kepada kita bagaimana berdisiplin, bekerja berstrategi, jujur dan rapi. Hal ini dapat kita jumpai dari saintis-saintis ulung zaman dahulu, dimana catatan-catatan penelitiannya yang hebat tersebut dapat kita saksikan sampai saat ini. 

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Mahasiswa program doktor (PhD)”

  1. sangat menarik artikel yang bapak tulis tersebut….very interisting u membangkitkan semangat ke ilmuawan.
    Lantas , bagaimana seandainya ada disertasi s3 atau thesis s2 , dimana isinnya sangat kontroversial dan tidak masuk akal, namun disetujui sidang penguji ?
    contoh, seandaianya ada orang menulis disertasi dengan kesimpulan seperti salman rushdie yang menghujat nabi, dan disetujui sidang pengujinya, apakah doktornya dapat digugat , mengingat telah disetujui sidang akademik …?
    sejauh mana kebebasan akademik kebal terhadapa kepentingan masyarakart?
    contoh disertasi yang menghebohkan adalah disertasi tentang peristiwa g 30 s pki , apa harus dilarang atau dibiarkan beredar ?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s