Pedagang kaki lima: Filosofi bertahan dalam ketidakadilan

Foto di atas diambil oleh anak saya saat kami membeli nasi goreng malam hari di dekat rumah. Sebuah momen sederhana, tetapi penuh makna yang lebih dalam jika kita merenung sejenak. Pedagang kaki lima seperti penjual nasi goreng ini adalah cerminan sempurna dari kekacauan sosial, ekonomi, dan pemerintah yang gemar memberi mereka tantangan hidup bak ujian nasional. Siapapun yang berjalan di sudut-sudut kota pasti bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa bertahan? Apakah mereka sekadar manusia super yang tahan banting terhadap ekonomi yang bagaikan treadmill tanpa akhir? Atau mungkin ada dimensi filosofis yang lebih dalam dari sekadar kemampuan menjual nasi goreng dan pecel lele?

Mari kita mulai dengan pemandangan yang lebih besar. Ketidakadilan ekonomi. Di sini kita punya dunia di mana sebagian besar kekayaan berada di tangan segelintir orang yang bahkan bingung bagaimana menghabiskannya. Sementara itu, pedagang kaki lima? Mereka di sisi lain, mungkin satu-satunya komunitas yang mampu memaknai hidup dari genggaman selembar seribu rupiah—sebuah ekonomi informal yang lahir dari sistem formal yang gagal mengakomodasi mayoritas rakyatnya.

Namun, jangan salah sangka, pedagang kaki lima bukan sekadar korban. Mereka adalah bukti hidup bahwa ketahanan bukan hanya soal fisik, tetapi juga spiritual. Di tengah regulasi pemerintah yang lebih sering membingungkan ketimbang membantu, mereka tetap berdiri kokoh, menjual barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang bahkan bisa membuat dompet bernapas lega. Bagi sebagian orang, mereka adalah bentuk gangguan urban. Tapi, bagi yang mengerti, mereka adalah roh kehidupan kota, menjaga harmoni sosial di tempat di mana rasanya harmoni hanya ada dalam lirik lagu.

Jadi, jika ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari pedagang kaki lima, itu adalah bahwa mereka tidak sekadar bertahan. Mereka mendefinisikan ulang apa artinya hidup dalam sistem yang tidak adil, sambil tetap menjaga martabat dan hubungan sosial. Di tengah gemuruh ketidakadilan, mereka terus memainkan peran penting sebagai penyelamat kecil yang memberi napas dalam keseharian kota.

Pada akhirnya, fenomena bertahannya mereka adalah simfoni dari ketidakadilan ekonomi dan ketahanan manusia yang berakar dalam. Sebuah ironi yang menggugah kita untuk merenung: siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan reformasi—pedagang kaki lima, atau sistem yang terus-menerus mengabaikan mereka?

Filsafat sains: Bukan Sekedar teori, tapi kisah nyata

Saya baru saja menyelesaikan penulisan buku yang akan saya gunakan untuk mengajar kuliah Sains Dasar dan Filsafat Ilmu di Universitas Negeri Malang (UM) dengan judul Filsafat Sains: Bukan Sekadar Teori, Tapi Kisah Nyata (silakan klik tautan untuk membaca file PDF-nya, yang hanya diperuntukkan dalam kalangan terbatas). Pada bagian terakhir buku, saya membahas filsafat sains untuk Indonesia. Opini ini juga mengkritisi maraknya praktik pamer (sitasi) publikasi ilmiah di Indonesia oleh segelintir orang yang sering kali tidak memahami esensi publikasi ilmiah dari perspektif yang lebih mendalam. Akibatnya, ilmu pengetahuan tidak berkembang sebagaimana mestinya, terhambat oleh tata kelola dan pemahaman yang keliru serta dangkal. Baca juga “Simulakra ketiga dalam publikasi ilmiah: Pandangan yang menakutkan” di blog ini.

Filsafat Sains untuk Indonesia

Filsafat sains menawarkan kerangka kerja intelektual yang esensial untuk memahami bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, apa tujuan dari penelitian ilmiah, dan bagaimana kebenaran dalam sains bisa dicapai. Di Indonesia, menerapkan dan menghayati pandangan-pandangan para filsuf sains seperti Karl Popper, Thomas Kuhn, Paul Feyerabend, dan Francis Bacon sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman atau “salah kaprah” yang dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pentingnya menghayati pandangan filsafat sains terletak pada kemampuannya untuk mencegah beberapa kesalahpahaman umum. Salah satu mispersepsi adalah keyakinan bahwa semua pengetahuan adalah mutlak dan tidak dapat berubah. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan selalu berkembang melalui revisi, penemuan baru, dan perubahan paradigma. Sikap seperti ini dapat membatasi kreativitas dan inovasi dalam penelitian ilmiah.

Selain itu, persepsi bahwa kemajuan sains hanya ditunjukkan melalui publikasi ilmiah juga kurang tepat. Proses ilmiah itu sendiri merupakan inti dari perkembangan ilmu pengetahuan. Francis Bacon menekankan pentingnya metode empiris yang berbasis pada pengamatan dan eksperimen. Baginya, tanpa proses pengumpulan data yang sistematis dan eksperimen yang teliti, pengetahuan ilmiah tidak dapat berkembang dengan baik. Mengabaikan proses ini dan hanya fokus pada hasil akhir berupa publikasi dapat mengerdilkan pemahaman kita tentang esensi ilmu pengetahuan.

Karl Popper juga menyoroti pentingnya proses falsifikasi dalam sains. Menurutnya, kemajuan ilmiah dicapai melalui upaya terus-menerus untuk menguji dan mencoba membuktikan kesalahan teori-teori yang ada. Jika kita hanya menilai kemajuan dari jumlah publikasi tanpa mempertimbangkan kualitas proses pengujian dan kritik terhadap teori tersebut, maka kita kehilangan esensi dari metode ilmiah yang sejati.

Thomas Kuhn, dengan konsep “revolusi paradigma,” menunjukkan bahwa perubahan besar dalam sains terjadi melalui pergeseran fundamental dalam cara pandang kita terhadap dunia, bukan semata-mata melalui akumulasi publikasi. Proses pergeseran ini melibatkan debat intens dan evaluasi kritis yang mendalam dalam komunitas ilmiah. Menghargai proses ini lebih penting daripada sekadar jumlah publikasi yang dihasilkan.

Kemajuan dalam ilmu pengetahuan tidak hanya bergantung pada metodologi yang benar, tetapi juga pada cara pikir yang terbuka, kritis, dan dinamis. Pemikiran kritis dan terbuka, seperti yang diusung oleh Popper melalui falsifikasionisme, menuntut agar teori diuji dengan bukti, dan ilmuwan siap meninggalkan teori yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kuhn menekankan pentingnya keterbukaan terhadap revolusi paradigma, di mana teori-teori ilmiah yang ada dapat digantikan ketika paradigma baru terbukti lebih efektif dalam menjelaskan fenomena alam.

Pluralisme metodologis juga memainkan peran penting dalam memajukan ilmu pengetahuan. Gagasan Paul Feyerabend tentang “apa pun bisa berlaku” mendorong inovasi dan eksperimen dengan berbagai metode ilmiah yang berbeda. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini dapat memfasilitasi penelitian yang lebih inklusif dan mengakui keberagaman perspektif.

Peran kebijakan dalam memajukan ilmu pengetahuan juga tidak bisa diabaikan. Kebijakan publik harus mendukung penciptaan lingkungan yang kondusif untuk penelitian ilmiah, termasuk pendanaan yang memadai, pendidikan sains yang kuat, serta dukungan terhadap kebebasan akademik dan kolaborasi internasional. Francis Bacon menekankan pentingnya metode empiris yang berbasis pada pengamatan dan eksperimen. Oleh karena itu, kebijakan yang mendukung infrastruktur penelitian seperti laboratorium, pusat data, dan fasilitas penelitian lainnya sangat krusial untuk kemajuan sains.

Kebijakan yang tidak tepat dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip-prinsip kebijakan yang harus dipertimbangkan meliputi dukungan terhadap penelitian inovatif dan eksperimen bebas, pengalokasian dana yang memadai untuk penelitian dan pendidikan sains, serta memfasilitasi kolaborasi internasional. Selain itu, membangun budaya ilmiah yang kritis dan terbuka melalui kebijakan pendidikan dapat membentuk generasi ilmuwan yang mampu mempertanyakan asumsi yang ada dan terus mencari pemahaman yang lebih baik. Kebijakan juga harus memperhatikan faktor sosial dan budaya yang dapat menghambat perkembangan sains, seperti dogma atau kepercayaan yang tidak dapat dipertanyakan.

Kesimpulannya, kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia sangat tergantung pada cara kita memahami dan menerapkan filsafat sains. Dengan menghindari salah kaprah dan kesalahpahaman, serta mendukung kebijakan yang sesuai, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menghayati pandangan-pandangan filsuf seperti Popper, Kuhn, dan Feyerabend akan membantu memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, serta menciptakan kebijakan yang mendorong inovasi dan kemajuan yang berkelanjutan. Menghargai proses ilmiah sama pentingnya dengan hasil akhir, karena tanpa proses yang kritis dan dinamis, ilmu pengetahuan tidak akan mampu berkembang dan beradaptasi dengan tantangan baru.

Kemajuan sains tidak hanya ditentukan oleh metode ilmiah yang digunakan atau jumlah publikasi yang dihasilkan, tetapi juga oleh kebijakan yang mendukung penelitian dan pendidikan sains, serta sikap terbuka dan kritis terhadap semua bentuk pengetahuan.

Sains: Lebih dari Sekadar Teks!

Sains. Sebuah kata yang sering kita dengar dan sering kita puja bak selebriti papan atas dalam ajang penghargaan. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu sains? Atau, mungkin, kita hanya menganggap sains sebagai kumpulan teks tebal yang penuh rumus dan tabel, seperti buku panduan merakit furnitur? Apakah sains hanya sekadar menghafal teori, tanpa memahami bagaimana teori-teori tersebut lahir dari keringat dan perjuangan para ilmuwan yang bekerja keras di laboratorium?

Bayangkan sebuah diskusi tentang sains, dan tiba-tiba seseorang berkata, “Lihat, ada publikasi baru! Ini sains yang sesungguhnya!” Seolah-olah sains adalah novel terlaris yang dipuji karena alur ceritanya yang memikat, bukan karena metodologi yang ketat dan penelitian yang tiada henti di baliknya. Dalam pandangan ini, sains hanyalah hasil akhir — kumpulan teks indah yang siap dipublikasikan, tanpa perlu tahu bagaimana para ilmuwan ‘meramu’ hipotesis, eksperimen, dan kesimpulan yang tidak terduga.

Namun, bukankah pendekatan ini agak … bagaimana ya, dangkal? Seperti seseorang yang berpikir bahwa roti dapat dibuat hanya dengan membaca daftar bahan-bahannya tanpa tahu cara menguleni adonan. Atau seperti mencoba memahami film “Nagabonar” hanya dengan membaca sinopsis singkatnya.

Saat ini, kita sering terjebak dalam obsesi dengan “hasil akhir” sains, yaitu publikasi ilmiah. Ya, publikasi, Q1 lagi! Mata uang terpenting dalam dunia akademis. Pertanyaan “Berapa banyak artikel yang telah Anda terbitkan tahun ini?” menjadi lebih penting daripada “Bagaimana Anda melakukan penelitian itu?” Seolah-olah yang penting adalah berapa banyak makalah yang dihasilkan, tanpa memperhatikan apakah prosesnya dilakukan dengan benar atau apakah data yang diperoleh benar-benar valid. Jika sains hanya diukur dari jumlah publikasi, mungkin kita semua bisa memenangkan Hadiah Nobel hanya dengan menulis “Eksperimen ini gagal” di selembar kertas kosong.

Di sinilah kritik Bertrand Russell terhadap filsafat Hegel berperan. Russell, seorang filsuf tajam yang terkenal karena ketegasannya, telah lama memperingatkan tentang bahaya memandang sains hanya sebagai hasil akhir atau kumpulan teks. Bagi Russell, filsafat Hegel tampak seperti sup yang terlalu encer: penuh cairan dan rempah-rempah yang datang entah dari mana, tetapi sulit menemukan substansi yang sebenarnya.

Jika kita membaca kritikan Bertrand Russell kepada Georg Wilhelm Friedrich Hegel dalam bukunya “A History of Western Philosophy” yang tebal itu, Russel berpendapat bahwa Hegel membuat kesalahan besar dengan memandang seluruh realitas sebagai “keseluruhan yang agung” tanpa memperhatikan proses logis yang jelas dan konkret. Bagi Hegel, segala sesuatu harus dipahami sebagai bagian dari “yang absolut”, sebuah konsep yang tampak agung sampai kita menyadari bahwa itu seperti mengklaim bahwa semua sup di dunia adalah satu sup besar tanpa memperhatikan bahan-bahannya. Russell tampaknya bertanya kepada Hegel, “Bisakah Anda menunjukkan kepada saya cara mencapai ‘yang absolut’ ini dengan langkah-langkah yang jelas?” Bagi Russell, pendekatan Hegel yang hanya berfokus pada tujuan abstrak tanpa menjelaskan proses untuk mencapainya seperti seorang penyair yang lebih tertarik pada kata-kata indah daripada seorang ilmuwan sejati.

Kenyataannya, banyak ilmuwan saat ini lebih peduli tentang berapa banyak publikasi yang dapat mereka hasilkan daripada memastikan bahwa metode yang mereka gunakan benar-benar memenuhi standar ilmiah. Penelitian telah menjadi seperti acara memasak instan, di mana resep diambil dari internet dan disajikan dalam 10 menit, tanpa mempertimbangkan apakah hasilnya dapat dimakan. Prosesnya? Siapa peduli! Yang penting adalah hasil akhirnya terlihat mengesankan dalam jurnal ilmiah.

Pendekatan ini, selain membuat kita malas berpikir, juga berpotensi menyesatkan. Bayangkan seorang dokter yang memutuskan diagnosis pasien hanya berdasarkan teori dalam buku teks tanpa mempertimbangkan gejala atau pemeriksaan fisik. “Hmm, menurut buku ini, jika Anda merasa pusing, itu pasti ada hubungannya dengan posisi planet Mars.” Selamat datang di dunia di mana sains menjadi novel fantasi dan kita semua hanyalah karakter.

Sains bukan hanya teks, dan sains yang baik bukanlah tentang mengumpulkan halaman demi halaman tulisan tanpa metodologi yang jelas. Sains adalah tentang bertanya “mengapa” dan “bagaimana” dengan rasa ingin tahu yang mendalam, bukan hanya menyalin “apa” yang telah ditulis. Jangan sampai kita terjebak dalam pandangan bahwa sains hanyalah kumpulan kata-kata tanpa makna. Sebab, jika sains hanyalah teks, maka mungkin kesimpulan kita tidak lebih ilmiah daripada horoskop di koran.

Jadi, bagi para pengagum sains sebagai teks: Maaf, kami menginginkan lebih dari sekadar kata-kata indah. Kami menginginkan proses yang jelas, transparansi, dan mungkin sedikit kejutan dari eksperimen yang gagal. Setidaknya, itulah yang membuat sains begitu menarik — bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga perjalanannya. Sebelum kita menulis bab berikutnya dalam “novel sains” ini, mari kita pastikan kita tahu cara menulis cerita dengan benar, dan tidak hanya terpaku pada akhir yang apik.

Seperti kritik Russell terhadap Hegel, janganlah kita terpesona oleh ide-ide besar yang tidak jelas, tetapi fokuslah pada substansi yang sebenarnya. Sains tanpa proses yang tepat seperti memanggang roti tanpa ragi — hasilnya keras, hambar, dan tidak enak.

Menyebut orang lain dungu bisa jadi bukti kedunguan sendiri

Bayangkan seorang filsuf yang masuk ke ruang debat dengan penuh percaya diri, menarik napas panjang, dan dengan lantang mengumumkan, “Semua orang di sini dungu, kecuali saya!” Seperti seorang keledai berkacamata yang berpikir bahwa dengan mengenakan aksesori, ia telah berubah menjadi seorang ilmuwan roket. Filsuf ini tampaknya yakin bahwa hanya dengan merendahkan semua orang di sekitarnya, ia otomatis naik kelas menjadi genius. Tapi tunggu dulu, apakah benar demikian?

Dalam buku A History of Western Philosophy,” Bertrand Russell mengingatkan kita tentang bahaya dari sikap seperti ini. Russell, yang tidak pernah kekurangan argumen tajam, secara khusus menyoroti mereka yang terlalu cepat menyebut pandangan lain sebagai “salah” atau “dungu” tanpa argumen yang kokoh. Contoh favoritnya? Hegel, sang pemikir dialektika. Russell menuduh Hegel menggunakan metode dialektika seperti seorang penyair yang menulis puisi indah tapi tak berarti untuk menjelaskan fisika kuantum. Hegel mungkin dengan mudah menyebut semua pendekatan lain sebagai keliru, tapi Russell dengan cerdik bertanya: apakah ini benar-benar kebijaksanaan, atau sekadar tanda bahwa Hegel sendiri mungkin tidak memahami apa yang ia bicarakan?

Russell melanjutkan kritiknya terhadap mereka yang meremehkan metode empiris dan logika formal. Ia melihat bahwa filsuf yang hanya mengandalkan spekulasi metafisik tanpa dasar yang jelas sering kali bersikap seperti ilmuwan palsu: berdiri di atas mimbar, mengangkat jubah akademiknya, dan mengklaim bahwa yang lain “tidak paham,” padahal mereka sendiri tidak bisa membedakan atom dari angin surga. Ketika seseorang begitu cepat menyebut yang lain “dangkal” atau “bodoh,” Russell mengingatkan kita bahwa ini mungkin bukan tanda kecerdasan yang sejati, melainkan kebodohan yang mengenakan jubah intelektual.

Di sisi lain, di buku The Story of Oriental Philosophy,” L. Adams Beck membawa kita ke dunia pemikiran Timur yang lebih damai, di mana filsuf seperti Buddha, Konfusius, dan Laozi mungkin akan tertawa terbahak-bahak mendengar kesombongan seperti ini. Beck menyoroti bahwa banyak pemikir Timur justru menghindari menyebut pandangan lain sebagai “dungu” atau “salah” secara mutlak. Mereka lebih suka mengembangkan dialog dan memahami perbedaan, dengan kerendahan hati yang dalam dan rasa hormat terhadap perjalanan intelektual setiap orang.

Bayangkan Buddha duduk di sebelah filsuf Barat yang arogan ini, tersenyum lembut dan berkata, “Apakah kamu sudah selesai menghakimi, anakku? Mari kita berbicara tentang kasih sayang.” Atau Konfusius yang dengan sopan menepuk bahu mereka dan berkata, “Belajarlah dari setiap orang, bahkan dari mereka yang kamu sebut bodoh.” Dalam tradisi Timur, kesombongan intelektual seperti ini justru dianggap sebagai bukti bahwa seseorang masih jauh dari pencerahan. Seperti kata Laozi, kebijaksanaan sejati datang dari memahami bahwa kita tidak tahu banyak, dan mengakui keterbatasan kita adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.

Jadi, apa yang kita pelajari dari Russell dan Beck? Jika seseorang merasa perlu terus-menerus menyebut orang lain dungu, ini mungkin seperti burung gagak yang mengejek bulu merak karena terlalu mencolok—ketika masalah sebenarnya adalah burung gagak itu sendiri tidak dapat melihat betapa gelap bulunya sendiri. Russell dan Beck sama-sama menyiratkan bahwa orang yang terlalu cepat meremehkan pandangan lain tanpa alasan yang masuk akal mungkin sebenarnya sedang memamerkan kebodohannya sendiri.

Jadi, pelajarannya adalah jika Anda menemukan diri Anda ingin menyebut semua orang lain bodoh, mungkin saatnya untuk melepas kacamata kebesaran diri dan menyelami kebijaksanaan sejati—atau paling tidak, coba lihat cermin terlebih dahulu. Sebab, kebodohan sejati adalah berpikir bahwa kita selalu lebih pintar daripada orang lain, sementara kebijaksanaan datang dari belajar, memahami, dan menerima bahwa kita masih memiliki banyak hal yang perlu dipelajari.

Zikir: Kedamaian untuk menghindari kedunguan

Sebagai muslim, zikir, sebuah amalan sederhana namun memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan kita. Zikir adalah pengingat terus-menerus akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, membawa ketenangan dalam hati, kejernihan dalam berpikir, dan kelembutan dalam berbicara.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, seringkali kita terjebak dalam kebisingan dunia yang membuat hati kita gelisah, pikiran kita kusut, dan kata-kata kita kasar. Kita mudah terprovokasi, cepat marah, dan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Zikir mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat bahwa ada kekuatan yang lebih besar di luar sana yang selalu mengawasi.

Ketika hati tenang, pikiran pun menjadi jernih. Kita tidak lagi mudah tergelincir dalam emosi negatif atau terbawa oleh arus kebencian. Kata-kata yang keluar dari mulut kita pun berubah; dari umpatan dan kata-kata kasar menjadi ungkapan-ungkapan yang santun dan menyejukkan. Tidak ada lagi kata “dungu” yang meluncur dari bibir kita karena kita sadar bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan atau melukai.

Marilah kita jadikan zikir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan zikir, kita belajar untuk menyaring setiap pikiran dan ucapan, memastikan bahwa semuanya berakar dari cinta dan kebijaksanaan. Ketika hati kita tenang, kita menjadi lebih mampu menghadapi setiap tantangan dengan kepala dingin dan jiwa besar, tanpa harus melukai orang lain dengan kata-kata kita.

Zikir bukan hanya sekadar mengucapkan lafaz tertentu; ia adalah cara hidup, sebuah komitmen untuk selalu mengedepankan kebaikan, keikhlasan, dan kedamaian dalam setiap langkah kita. Semoga dengan memperbanyak zikir, kita semua dapat menemukan ketenangan sejati yang membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik, penuh dengan cinta dan penghormatan satu sama lain.

Dilema etis dalam sains: Paradoks antara pragmatisme Machiavellian dan integritas Russellian

Tulisan ini adalah refleksi dari hal penting yang perlu kita renungkan dalam dunia akademik yang dikompetisikan. Dalam dunia akademis dan penelitian ilmiah, sebuah dilema muncul ketika seorang peneliti dihadapkan pada pilihan untuk menipu data riset — termasuk praktik seperti pemilihan data yang menguntungkan (cherry-picking), eksploitasi data tanpa hipotesis awal (data dredging), kecenderungan mengkonfirmasi hipotesis yang sudah ada (confirmation bias), penyalahgunaan statistik, manipulasi grafik, penghilangan data yang tidak sesuai (data omission), pemalsuan data (fabrication), plagiarisme, dan distorsi hasil (p-hacking), serta interpretasi yang menyesatkan — demi mencapai tujuan tertentu, seperti peringkat universitas yang lebih tinggi, mendukung indikator kinerja utama universitas, keuntungan finansial, atau tetap setia pada prinsip-prinsip etis dan menjalankan riset dengan jujur. Pilihan ini tidak hanya mencerminkan dua pendekatan yang berbeda, tetapi juga membawa kita pada perdebatan filosofis yang mendalam antara dua pandangan yang kontras: pragmatisme Machiavellian dan idealisme Russellian.

Di satu sisi, pandangan Niccolò Machiavelli dapat memberikan justifikasi bagi tindakan manipulatif jika dianggap bermanfaat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam dunia yang didominasi oleh persaingan ketat dan tuntutan keberhasilan, Machiavelli mungkin akan menganggap pemalsuan data sebagai langkah yang dapat diterima jika itu membawa manfaat konkret, seperti peningkatan reputasi institusi atau keuntungan finansial. Bagi Machiavelli, hasil akhir adalah yang terpenting, dan stabilitas serta kesuksesan sering kali memerlukan keputusan yang pragmatis, meskipun mungkin tidak sesuai dengan norma moral tradisional. Namun, di balik pandangan ini, terdapat perhitungan yang cermat tentang risiko jangka panjang. Jika penipuan terungkap, kepercayaan publik dan legitimasi dapat terancam, dan reputasi yang telah dibangun dengan susah payah bisa runtuh dalam sekejap.

Sementara itu, Bertrand Russell, seorang filsuf yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kebenaran, akan memandang penipuan dalam penelitian sebagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan esensi sains itu sendiri. Bagi Russell, sains harus didasarkan pada kejujuran dan transparansi, bukan pada manipulasi atau kebohongan. Tindakan menipu dalam riset, bagi Russell, bukan hanya sebuah pelanggaran etika, tetapi juga ancaman bagi fondasi sains sebagai disiplin yang mencari kebenaran melalui metode empiris yang ketat. Russell percaya bahwa tanpa integritas, sains tidak dapat memberikan manfaat yang sejati dan abadi bagi kemanusiaan.

Menipu dalam penelitian ilmiah menciptakan paradoks dalam filsafat sains. Filsuf seperti Karl Popper dan Thomas Kuhn telah menunjukkan bahwa kemajuan ilmiah hanya mungkin terjadi melalui pengujian hipotesis yang jujur dan terbuka terhadap falsifikasi. Jika data dimanipulasi atau hasil penelitian dipalsukan, proses ini menjadi tidak mungkin dilakukan. Penipuan tidak hanya menghentikan kemajuan pengetahuan, tetapi juga merusak kepercayaan yang menjadi dasar dari kolaborasi ilmiah. Di sini, paradoks etika Machiavellian menjadi jelas: meskipun penipuan mungkin menawarkan keuntungan jangka pendek, tindakan ini justru merusak tujuan yang lebih besar, yaitu kemajuan ilmiah yang berkelanjutan.

Kepercayaan adalah elemen vital dalam dunia ilmiah. Jika praktik penipuan menjadi umum, dasar kepercayaan ini akan hancur, menghambat kerja sama dan inovasi, dan merusak legitimasi sains di mata publik. Dalam konteks ini, Machiavelli mungkin melihat penipuan sebagai strategi yang sah selama manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Namun, Russell akan menegaskan bahwa hanya melalui kejujuran, transparansi, dan integritaslah sains dapat tetap menjadi sumber pengetahuan yang dapat diandalkan.

Dilema ini menggambarkan konflik mendasar antara pragmatisme Machiavellian dan idealisme Russellian. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk menipu demi keuntungan langsung atau tetap setia pada prinsip-prinsip etis, pertanyaannya bukan hanya soal benar atau salah secara moral, tetapi juga tentang bagaimana kita mendefinisikan kemajuan sejati dalam ilmu pengetahuan. Tanpa integritas dan kejujuran, ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang; sebaliknya, seperti yang diyakini Russell, hanya dengan pengejaran kebenaran yang etis, sains dapat benar-benar melayani kepentingan umat manusia.

Persahabatan di antara dosen: Sebuah refleksi dari konsep Plato

Menurut Plato, persahabatan sejati tidak hanya dibangun di atas dasar saling memberi dan menerima antara dua individu, tetapi lebih dari itu, persahabatan yang benar-benar kokoh terikat pada aspirasi bersama terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi, terutama “Kebaikan.” Dalam dialognya, Plato menggambarkan bahwa dua orang dapat bersahabat karena mereka sama-sama menginginkan kebaikan tersebut, dan bukan semata-mata karena mereka membutuhkan sesuatu dari satu sama lain. Jika komitmen terhadap kebaikan itu hilang, maka persahabatan pun bisa pudar.

Bayangkan konsep ini dalam konteks persahabatan antara dua orang dosen, sebut saja Prof. XXX dan Dr. YYY, yang menjalani hubungan persahabatan seperti sebuah proyek penelitian bersama yang mereka putuskan untuk kerjakan. Proyek ini bukan sekadar proyek biasa, tetapi sebuah penelitian ambisius untuk menemukan “Teori Kebaikan Universal” yang dapat mengubah dunia pendidikan.

Selama bertahun-tahun, XXX dan YYY bekerja sama dengan gigih. Mereka saling berbagi ide, berdebat tentang metodologi, dan saling mendukung ketika menghadapi tantangan. Namun, tujuan utama mereka bukan hanya publikasi jurnal atau penghargaan akademik, melainkan menemukan esensi dari “Kebaikan” dalam pendidikan—sesuatu yang mereka yakini dapat membawa perubahan besar.

Namun, seiring waktu, situasi mulai berubah. Prof. XXX mulai tertarik pada hal-hal lain—mungkin dia tergoda oleh tawaran menjadi rektor atau mulai fokus pada proyek lain yang lebih menguntungkan secara finansial. XXX mulai kehilangan minat terhadap proyek “Teori Kebaikan Universal” yang dulu begitu ia perjuangkan. Sementara itu, Dr. YYY masih teguh pada tujuan awal mereka, tetap bersemangat dan berkomitmen untuk menyelesaikan penelitian tersebut demi nilai “Kebaikan” yang mereka yakini.

Pada titik ini, persahabatan akademik mereka mulai merenggang. Bukan karena mereka tidak lagi menghargai satu sama lain, tetapi karena tujuan mereka tidak lagi sejalan. Dr. YYY masih ingin mencapai puncak—menemukan dan mempublikasikan “Teori Kebaikan Universal”—sedangkan Prof. XXX sudah kehilangan ketertarikannya. Akibatnya, proyek penelitian mereka terhenti, dan persahabatan mereka pun mulai memudar.

Analogi ini menunjukkan bahwa persahabatan di antara dua dosen tidak hanya didasarkan pada kerja sama dan dukungan satu sama lain, tetapi juga pada kesamaan tujuan dan komitmen terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi. Selama XXX dan YYY memiliki tujuan akademik yang sama, persahabatan mereka kuat. Namun, begitu salah satu dari mereka kehilangan arah, hubungan itu pun mulai goyah, mirip seperti penelitian yang terhenti ketika salah satu penelitinya kehilangan minat.

Persahabatan mereka, seperti proyek penelitian, hanya akan terus berlanjut selama keduanya masih berkomitmen pada “Kebaikan” yang menjadi tujuan awal mereka. Tanpa itu, persahabatan yang dulu erat perlahan bisa berubah menjadi hanya kenangan indah di masa lalu.

Ketika iblis mengolok dosen: Menggugat integritas di balik topeng akademis

Di dunia akademis yang penuh dengan gelar dan ego, dosen sering kali merasa sebagai makhluk terpintar di alam semesta. Mereka dengan percaya diri mengutip teori-teori yang rumit dan menatap layar laptop mereka seolah-olah sedang menyusun kata-kata untuk menyelamatkan dunia. Namun, ada satu sosok yang sayangnya tidak terkesan dengan semua ini: Iblis.

Iblis, yang telah terlibat dalam bisnis menggoda manusia sejak zaman dahulu, mungkin tertawa terbahak-bahak melihat betapa seriusnya para dosen ini menganggap diri mereka sendiri. Lihat saja beberapa dosen yang menganggap manipulasi data sebagai “sedikit bumbu untuk ditambahkan ke hasil penelitian.” Menurut Iblis, ini adalah contoh sempurna dari jalan pertama favoritnya: menganggap dosa itu kecil. “Hanya sedikit, demi kebaikan sains,” kata mereka, sambil menyertakan hasil eksperimen yang seharusnya tidak lolos sensor moral. Hanya demi mengejar luaran publikasi yang menjerat.

Lalu ada dosen yang berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa mencuri tulisan orang lain dan menghilangkan hasil yang dicuri dengan parafrase adalah bentuk penghargaan terhadap karya yang hebat. “Meniru adalah pujian tertinggi,” katanya, meskipun ini sebenarnya adalah perwujudan nyata dari jalan kedua Iblis: mempertimbangkan baik dalam buruk. Iblis mungkin berpikir, “Lalu mengapa saya tidak diberi pahala karena menciptakan dosa?”

Tidak berhenti di situ, ada juga dosen yang dengan bangga merencanakan karier akademisnya tanpa pernah sekalipun memikirkan bimbingan moral mahasiswanya. Mereka lebih tertarik pada koleksi penghargaan di rak buku mereka daripada pada perkembangan intelektual dan etika mahasiswanya. Ini adalah bukti bahwa iblis sangat berhasil dalam membingungkan pikiran—jalan ketiga yang sangat disukainya.

Dan hal yang paling menyedihkan—dan mungkin yang paling menghibur bagi iblis—adalah ketika seorang dosen, dalam keasyikannya mengejar ‘prestasi,’ lupa mengapa dia ada di sini sejak awal. Mereka sibuk dengan segala macam ambisi palsu sampai melupakan esensi terbesar dari profesi ini: mendidik. Pada titik ini, iblis mungkin berpikir, “Terima kasih, Anda telah membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah.”

Jadi, meskipun kita para dosen mungkin merasa intelektual dan canggih, mari kita ingat satu hal: bahkan iblis tidak tertarik dengan kebohongan yang kita katakan pada diri kita sendiri. Baginya, kita hanyalah pion dalam permainan besar di mana moral dan etika dianggap hanya gangguan kecil di jalan menuju ‘kesuksesan’ yang fana.

Nol: Simbol kemerdekaan sejati

Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, yang dirayakan di Universitas Negeri Malang (UM). Foto di atas menunjukkan kami, para dosen kimia UM, setelah selesai upacara bendera. Tulisan ini adalah refleksi mengenai kemerdekaan tahun ini.

Dalam dunia yang penuh dengan angka, nol mungkin terlihat seperti entitas yang sederhana, bahkan tak berarti. Namun, jika kita melihat lebih dalam, nol sebenarnya adalah simbol yang kaya akan makna, terutama ketika dikaitkan dengan konsep kemerdekaan. Nol, dalam esensinya, melambangkan kebebasan dalam banyak bentuk, mulai dari kebebasan dari kekangan hingga potensi tak terbatas yang bisa diwujudkan.

Nol adalah angka yang tidak terikat oleh nilai positif atau negatif. Ia berada di titik tengah, bebas dari tekanan arah mana pun. Ini adalah cerminan sempurna dari kemerdekaan sejati—keadaan di mana kita tidak terikat oleh pengaruh eksternal, tidak terbebani oleh keterpaksaan untuk memilih sisi. Seperti nol yang berdiri sendiri, kemerdekaan adalah kemampuan untuk hidup tanpa keterikatan, tanpa beban yang menarik kita ke satu arah atau lainnya.

Lebih dari itu, nol adalah awal yang baru, sebuah permulaan yang murni tanpa jejak masa lalu. Dalam kehidupan, kemerdekaan sering kali berarti kesempatan untuk memulai dari awal, membangun sesuatu yang baru tanpa beban sejarah atau batasan yang membatasi. Nol memberi kita gambaran tentang ruang kosong yang siap diisi dengan apa pun yang kita pilih—sebuah simbol dari potensi tak terbatas yang bisa diwujudkan ketika kita merdeka.

Namun, nol juga mengajarkan kita tentang kebebasan dari identitas yang terbatas. Sebagai angka, nol tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, tetapi ia memberi makna dalam hubungannya dengan angka lain. Demikian pula, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mendefinisikan diri kita sendiri, untuk melampaui batasan yang ditetapkan oleh masyarakat atau kondisi eksternal. Ini adalah kebebasan untuk menjadi siapa pun kita mau, tanpa terikat oleh definisi yang sempit.

Di sisi lain, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, kita sering mengaitkannya dengan kondisi tanpa tekanan, tanpa beban. Nol adalah keadaan yang bebas dari nilai, tidak ada beban positif atau negatif yang harus ditanggung. Ini adalah gambaran dari kemerdekaan yang bebas dari dominasi, penjajahan, atau tekanan eksternal lainnya. Seperti nol, kemerdekaan adalah ruang kosong yang menawarkan kebebasan untuk bergerak, berkembang, dan menciptakan tanpa batas.

Akhirnya, nol, yang sering kali dikaitkan dengan ketakterhinggaan ketika dibagi dengan dirinya sendiri, membawa kita pada refleksi tentang kemerdekaan sebagai keadaan di mana segala kemungkinan terbuka lebar. Nol, dalam bentuknya yang sederhana, mengajarkan kita bahwa kemerdekaan adalah kondisi yang penuh potensi, tempat di mana kita bisa berkembang tanpa batas, menciptakan tanpa henti, dan mewujudkan tanpa tekanan.

Nol dalam esensi yang paling murni adalah sebuah lambang dari kebebasan sejati, potensi tak terbatas, dan kemampuan untuk memulai dari awal. Nol adalah pengingat bahwa kemerdekaan, seperti nol itu sendiri, adalah dasar dari segala sesuatu yang mungkin dalam hidup kita.

Refleksi

Nol bukan sekadar angka; ia adalah simbol kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pendidikan, ia merepresentasikan kebebasan berpikir dan inovasi. Di ranah politik, nol adalah simbol perjuangan melawan dominasi dan otoritas yang menindas. Dalam ekonomi, ia menandakan kemandirian dan potensi tak terbatas. Nol juga mencerminkan kebebasan sosial dari struktur yang mengikat, kemerdekaan budaya dalam ekspresi kreatif, dan ruang bagi inovasi teknologi. Secara keseluruhan, nol adalah fondasi kemerdekaan, memungkinkan kita untuk memulai dari awal dan membangun masa depan yang lebih baik di berbagai bidang.

Berlimpahnya makalah, ilmu pengetahuan tenggelam

Betapa hebatnya hidup di era di mana para peneliti dapat bangun, menyeruput secangkir kopi, dan sebelum tengah hari, telah menghasilkan makalah baru berkat kecerdasan ChatGPT dan AI lainnya! Kemudian, sebelum siang berganti malam, peneliti lain di belahan dunia lain telah mengirimkan tinjauan makalah tersebut. Dalam sehari, siklus kehidupan ilmiah terus berputar, seperti hamster dalam roda yang tak berujung.

Bukankah kita bersyukur atas berkah AI yang membuat hidup kita lebih mudah? Dulu, kita harus berkeringat, bekerja keras, dan mungkin menghabiskan beberapa tahun hanya untuk menghasilkan satu makalah berkualitas. Sekarang, kita dapat menghasilkan setengah lusin makalah seminggu, lengkap dengan analisis data yang kompleks, tabel, dan grafik yang siap dicetak! Jadi, mengapa kita harus berpikir dua kali sebelum menerbitkan sesuatu? Bukankah semakin banyak kita menerbitkan, semakin pintar kita?

Namun, ternyata para penulis editorial ACS Energy Letters mulai mengeluh tentang “banjir makalah.” Betapa tidak tahu terima kasihnya mereka! Bukankah lebih baik tenggelam dalam lautan pengetahuan daripada haus di padang gurun ketidaktahuan? Namun, mereka mengusulkan untuk membatasi jumlah publikasi. Mereka menganjurkan pengurangan kuantitas dan fokus pada kualitas, seolah-olah ilmuwan modern harus menjadi pelukis Renaisans yang menyempurnakan setiap sapuan kuas.

Dan di sinilah kita berpikir, siapa yang punya waktu untuk menjadi Leonardo da Vinci? Bukankah lebih baik menjadi mesin pabrik, yang menghasilkan artikel demi artikel, terlepas dari apakah temuan tersebut akan mengubah dunia atau hanya menambah tumpukan kertas yang terus bertambah di perpustakaan yang semakin usang?

Tidak hanya itu, mereka juga ingin menghentikan “proliferasi jurnal.” Sekali lagi, mereka mengabaikan fakta bahwa setiap orang sekarang dapat memiliki jurnal mereka sendiri. Di mana lagi Anda melihat dunia tempat seorang mahasiswa dapat mengirimkan karya mereka ke jurnal dan mendapatkan stempel “terbit”?

Namun di tengah semua ini, mereka memiliki satu proposal yang mungkin cukup menyentuh: metrik baru, “weighted h-index.” Akhirnya! Sebuah cara untuk mengukur berapa banyak makalah yang telah Anda hasilkan dan seberapa besar dampak yang ditimbulkannya, seperti melacak berapa banyak kue yang telah Anda makan dan berapa banyak kalori yang telah Anda bakar. Mungkin dengan ini, kita dapat mengukur “keberhasilan ilmiah” seperti kita mengukur kebugaran fisik.

Terakhir, mungkin kita perlu merenung. Apakah kita benar-benar memerlukan perubahan dalam cara kita berpikir tentang publikasi ilmiah? Atau mungkin kita harus terus mengirimkan sebanyak mungkin makalah dan berharap bahwa dunia ilmiah akan menyesuaikan diri dengan kecepatan AI yang tiada henti?

Setidaknya, jika semuanya gagal, kita selalu dapat menulis makalah lain tentang bagaimana kita harus menulis lebih sedikit makalah. Sesuai dengan semangat zaman, tentu saja.