Revolusi striatum: Ketika Menteri Pendidikan menggempur otak siswa dan guru

Tulisan ini adalah sebuah harapan yang semoga bisa terwujud dan benar-benar dilakukan oleh menteri pendidikan yang baru diangkat. Kebijakan-kebijakan yang dicanangkan diharapkan membawa perubahan besar pada dunia pendidikan di Indonesia, menggempur otak siswa dan guru hingga ke dasar-dasar neurosains.

Striatum adalah bagian dari otak yang terletak di dalam basal ganglia, dan berperan penting dalam mengatur proses penghargaan, motivasi, dan pengambilan keputusan. Fungsinya yang kompleks menjadikannya salah satu pusat kendali utama dalam mengarahkan perilaku manusia terhadap pencapaian dan penghindaran kegagalan.

Baru saja, menteri pendidikan baru diangkat dengan sorak sorai media nasional. Banyak yang berharap menteri baru ini akan mengumumkan kebijakan terbaru yang digadang-gadang akan mengguncang dunia pendidikan, sekaligus mengubah cara kerja otak para siswa. Beliau tampak yakin bahwa setiap kebijakan yang akan diluncurkan akan mendongkrak proses pembelajaran dari akar rambut hingga neuron terdalam. Dengan kata lain, ini bukan sekadar kebijakan pendidikan, ini adalah revolusi neurosains di Indonesia.

Langkah pertama mungkin adalah mengembalikan NEM sebagai syarat masuk SMP dan SMA. Ya, NEM ini adalah bentuk klasik dari nilai sakral yang dianggap bisa mengukur semua aspek kehidupan manusia dalam deretan angka yang tak pernah berubah. Kini, para siswa akan kembali merasakan peningkatan aktivitas di area prefrontal cortex, yaitu bagian otak depan yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, perencanaan, dan kontrol diri, karena otak mereka harus menyusun strategi untuk bertahan dalam seleksi Darwinian ini. Otak mereka akan dipacu untuk menghindari aktivasi amigdala berlebih, yang merupakan pusat pengolahan emosi dan rasa takut, dan bisa terjadi jika nilai yang diperoleh tidak sesuai harapan.

Tidak kalah penting, sang menteri mungkin akan mengembalikan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). PMP yang dulu dikenal sebagai ajang diskusi normatif soal moralitas dan ideologi, akan menjadi tempat di mana otak para siswa bekerja keras memproses nilai-nilai moral di korteks prefrontal ventromedial, yang bertugas mengatur penilaian moral dan pemrosesan emosi. Di masa depan, para siswa mungkin akan lebih mengenal filosofi nasional daripada algoritma. Dan siapa yang butuh matematika saat moral sudah terpatri dalam neuron?

Mari kita beri tepuk tangan meriah jika kebijakan berikut ini diluncurkan: tidak ada kelulusan yang dipaksakan. Ini adalah langkah brilian untuk menghindari “overjustification effect”, yaitu fenomena di mana penghargaan eksternal mengurangi motivasi intrinsik seseorang. Jika anak-anak terus-menerus dipaksa naik kelas hanya untuk menghindari amarah wali kelas, jelas ini adalah beban berat bagi striatum mereka. Kebijakan ini memastikan bahwa setiap siswa yang lulus akan merasakan pelepasan dopamin yang tulus, yaitu neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang dan motivasi, bukan hanya karena tekanan eksternal, melainkan sebagai hasil dari pencapaian sejati. Hebat, bukan? Selamat tinggal manipulasi dopamin berbasis penghargaan kosong!

Kebijakan selanjutnya adalah menerapkan kembali rapor merah. Kembalinya simbol klasik kegagalan ini seolah-olah menjadi cara pemerintah untuk berkata, “Anak muda, jangan terlena!” Dengan memperlihatkan rapor yang menyala seperti lampu peringatan di dashboard mobil tua, menteri kita yakin bahwa setiap neuron di cingulate cortex siswa akan diaktifkan oleh “sakit emosional” yang produktif. Cingulate cortex sendiri adalah bagian dari otak yang terlibat dalam pengolahan emosi dan rasa sakit sosial. Mereka akan termotivasi, katanya, atau mungkin hanya menangis di pojokan kelas, siapa yang tahu?

Tentu saja, sang menteri mungkin tidak berhenti di situ. Beliau juga akan memperkenalkan kebijakan paling canggih: Biarkan guru fokus mengajar, bukan mengurus administrasi. Guru-guru kita akhirnya bisa mengistirahatkan prefrontal cortex dorsolateral, yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan tugas, dari urusan surat-menyurat, dan lebih fokus menebarkan keajaiban pendidikan. Dengan kebijakan ini, para guru diharapkan bisa membangun koneksi emosional yang kuat dengan siswa, menstimulasi pelepasan oksitosin, yaitu hormon yang memperkuat rasa kepercayaan dan ikatan sosial, dan menciptakan suasana kelas yang harmonis. Harapannya, tentu saja, adalah kebangkitan Renaissance di setiap sudut sekolah di Indonesia.

Jadi, apakah ini adalah kebijakan pendidikan atau percobaan neurosains berskala nasional? Hanya sejarah yang bisa menjawabnya. Yang pasti, di bawah komando sang menteri, setiap neuron, sinapsis, dan neurotransmitter di dalam otak siswa dan guru akan digerakkan seirama dengan mars perubahan pendidikan. Semoga tidak ada neuron yang cedera dalam proses revolusi ini.

Ketimpangan pengakuan sains, seni, dan ilmu sosial dalam penilaian akademik: Perspektif Nietzsche dan Heidegger

Saya baru saja membaca sebuah tulisan berjudul “The Problem of Science in Nietzsche and Heidegger” karya Babette Babich, yang membahas kritik kedua filsuf ini terhadap sains modern dan bagaimana seni serta ilmu sosial dipinggirkan dalam sistem akademik. Nietzsche melihat sains modern sebagai usaha yang sering kali mengabaikan dimensi eksistensial kehidupan, sehingga seni dibutuhkan sebagai perlindungan dari kebenaran yang menyakitkan. Sementara itu, Heidegger menyoroti bagaimana sains dan teknologi mengutamakan pengukuran dan kontrol, sehingga mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan. Kedua filsuf ini memandang seni sebagai sarana penting untuk mengungkapkan kebenaran yang tidak dapat dijangkau oleh sains.

Ketidaksejajaran sains dan seni

Dalam pandangan Nietzsche, sains dan seni berasal dari kekuatan kreatif yang sama, tetapi mereka memiliki tujuan berbeda. Sains bertujuan untuk mencari kebenaran objektif, tetapi sering kali menghasilkan pemahaman yang mereduksi realitas dan mengabaikan dimensi emosional dan spiritual kehidupan. Seni, di sisi lain, memberikan ruang untuk melarikan diri dari kebenaran yang terlalu keras dan menawarkan cara untuk menemukan makna hidup yang lebih mendalam dan estetis. Nietzsche berpendapat bahwa seni memiliki kemampuan untuk membantu manusia menghadapi kenyataan yang pahit.

Heidegger menyatakan bahwa sains modern dan teknologi cenderung melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa diukur dan dikendalikan, menjadikannya objek eksploitasi. Dalam esainya “The Question Concerning Technology”, Heidegger mengkritik pandangan ini, menyatakan bahwa pendekatan teknologis tersebut menyebabkan manusia kehilangan hubungan autentik dengan dunia. Seni, dalam pandangan Heidegger, berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih mendalam tentang keberadaan, dengan cara yang tidak dapat dicapai oleh sains yang berbasis pengukuran.

Ketidaksejajaran ini semakin jelas terlihat dalam konteks penilaian akademik di platform indeksasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS). Jurnal-jurnal seni dan humaniora sering kali dipinggirkan dalam sistem penilaian akademik, sementara jurnal di bidang sains alam atau teknologi memperoleh indeksasi dan pengakuan yang lebih tinggi. Ini menciptakan hierarki pengetahuan yang bias, di mana pengetahuan kuantitatif dianggap lebih berharga daripada pengetahuan kualitatif atau interpretatif.

Bias dalam indeksasi akademik: Marginalisasi seni dan ilmu Sosial

Platform seperti Scopus dan WoS mengutamakan disiplin yang menghasilkan pengetahuan terukur, seperti sains alam dan teknologi. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan, di mana ilmu sosial dan humaniora dianggap kurang ilmiah karena lebih berfokus pada pemahaman kualitatif. Seni, yang bersifat subjektif dan kreatif, bahkan lebih dipinggirkan dalam sistem penilaian ini.

Misalnya, jurnal-jurnal yang berfokus pada kajian budaya, seni, atau teori sosial sering kali memiliki indeksasi yang lebih rendah dibandingkan dengan jurnal di bidang fisika atau bioteknologi. Padahal, ilmu sosial dan humaniora memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pemahaman kita tentang kemanusiaan dan budaya, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau statistik. Penilaian kuantitatif yang digunakan oleh Scopus dan WoS memperkuat marginalisasi ini karena mengandalkan h-index dan jumlah kutipan, yang lebih mudah dicapai oleh sains alam.

Heidegger dan Nietzsche akan melihat peminggiran ini sebagai bukti bahwa dunia modern terlalu fokus pada penguasaan teknologis, sementara mengabaikan aspek eksistensial dan emosional yang lebih dalam yang bisa diungkapkan melalui seni dan ilmu sosial. Sains telah mengalihkan fokus manusia dari pertanyaan eksistensial menuju pengukuran dan kontrol, yang akhirnya mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih autentik tentang kehidupan.

Pentingnya seni dan slmu sosial dalam pemahaman keberadaan

Nietzsche dan Heidegger sepakat bahwa seni dan ilmu sosial menawarkan pemahaman yang tidak bisa diberikan oleh sains. Nietzsche melihat seni sebagai penyaring dari kebenaran yang menyakitkan yang sering diungkapkan oleh sains. Seni memungkinkan manusia menemukan makna yang lebih dalam dan membantu menghindari keputusasaan akibat pengetahuan ilmiah yang dingin. Sementara itu, Heidegger menekankan bahwa seni adalah alat untuk mengungkap kebenaran yang lebih mendalam tentang eksistensi manusia. Seni tidak tunduk pada logika pengukuran atau kontrol, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk merenungkan dan merasakan realitas dengan cara yang lebih otentik.

Marginalisasi seni dan ilmu sosial dalam penilaian akademik menyebabkan kehilangan perspektif penting dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia. Ketika seni dan ilmu sosial dianggap kurang penting, kita kehilangan dimensi eksistensial yang kualitatif. Pengetahuan bukan hanya tentang mengukur dan mengendalikan dunia, tetapi juga tentang memahami makna dan menemukan tempat kita dalam keberadaan.

Mengatasi ketimpangan: Ruang untuk seni dan ilmu sosial

Untuk mengatasi ketimpangan ini, penilaian akademik perlu lebih inklusif dalam mengakui kontribusi seni dan ilmu sosial. Nietzsche akan mengingatkan kita bahwa seni memungkinkan manusia untuk bertahan hidup dalam menghadapi kebenaran yang keras, sementara Heidegger akan menegaskan bahwa seni membuka ruang bagi pengungkapan kebenaran yang lebih otentik.

Penilaian akademik harus mengubah cara pandangnya terhadap apa yang dianggap berharga dalam dunia pengetahuan. Indeksasi dan penilaian perlu lebih terbuka terhadap disiplin yang tidak hanya fokus pada pengukuran, tetapi juga merenungkan dan menafsirkan. Dengan cara ini, seni, sains, dan ilmu sosial dapat saling melengkapi dalam memahami kehidupan secara lebih utuh.

Refleksi

Pandangan Nietzsche dan Heidegger tentang seni dan sains memberikan kritik penting terhadap bias penilaian akademik modern, yang terlalu menitikberatkan pada sains alam dan mengabaikan kontribusi seni dan ilmu sosial. Platform indeksasi seperti Scopus dan WoS memperkuat bias ini dengan menempatkan disiplin-disiplin tersebut di pinggiran. Untuk menciptakan dunia pengetahuan yang lebih seimbang, kita harus mengakui bahwa seni dan ilmu sosial memainkan peran penting dalam mengungkap kebenaran tentang keberadaan manusia, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau pengukuran semata.

Menyingkap kabut riset: Pencarian hakikat di balik angka dan komersialisasi

Kisah ini saya tulis sebagai refleksi dari pemikiran Martin Heidegger yang diuraikan dalam magnum opusnya Time and Being. Heidegger berbicara tentang bagaimana manusia sering terjebak dalam rutinitas dan kehilangan hubungan dengan Being yang autentik. Dalam konteks dunia akademik dan pendidikan tinggi saat ini, saya melihat bagaimana hakikat penelitian, yang seharusnya mengejar kebenaran sejati, terlupakan di balik kabut angka-angka dan tuntutan komersialisasi. Kabut ini, yang melambangkan metrik, publikasi, dan tujuan finansial, menutupi esensi sejati dari riset yang dilakukan, seperti halnya Being yang sering kali tersembunyi dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Di sebuah universitas yang megah, tersembunyi di balik dinding-dinding laboratorium dan ruang kelas, ada sebuah legenda tentang Penelitian Sejati. Para profesor tua selalu berbicara dengan nada berbisik tentangnya, seolah-olah ia adalah sesuatu yang begitu penting, namun kini terlupakan. Konon, dahulu kala, Penelitian Sejati adalah fondasi dari segala ilmu pengetahuan, sebuah upaya untuk mengejar kebenaran, menjawab pertanyaan mendasar, dan menemukan jawaban yang membawa kemajuan bagi umat manusia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kabut tebal mulai menutupi penelitian ini. Kabut ini tidak seperti kabut biasa yang turun di pagi hari. Kabut ini terbuat dari angka-angka yang rumit, indeks sitasi, metrik H-index, jumlah publikasi, dan dana hibah penelitian. Semakin tebal kabut itu, semakin sulit bagi siapa pun untuk melihat Penelitian Sejati. Banyak peneliti muda yang baru saja bergabung dengan dunia akademik tidak menyadari bahwa kabut ini telah menyelimuti mereka. Mereka dengan patuh mengikuti tuntutan untuk menerbitkan sebanyak mungkin makalah, mengejar penghargaan, dan memenuhi target yang ditentukan oleh lembaga-lembaga eksternal. Mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk angka dan metrik, tanpa pernah bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita cari?

Suatu hari, di sebuah ruang penelitian yang sunyi, seorang peneliti muda bernama Pehul mulai merasa gelisah. Ia melihat angka-angka di layar komputernya, grafik pertumbuhan sitasi dan laporan keuangan proyek penelitian, namun sesuatu terasa salah. Ia bertanya pada dirinya sendiri, Apakah inilah tujuan dari penelitian ini? Apakah hanya ini yang penting, angka-angka dan penghargaan? Rasa gelisah itu terus menghantuinya, hingga ia tidak lagi mampu mengabaikannya.

Pehul mendengar bisikan samar tentang Penelitian Sejati dari salah satu profesor tua yang dikenal memiliki kebijaksanaan mendalam. Profesor itu berkata kepadanya, “Di balik kabut angka-angka dan komersialisasi ini, ada sesuatu yang lebih besar yang telah terlupakan. Sesuatu yang kita sebut Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang sebenarnya.”

Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Pehul mulai menyusuri jalur kabut itu. Ia berhenti memperhatikan grafik dan laporan pendanaan, dan mulai bertanya: Mengapa aku melakukan penelitian ini? Apa yang sebenarnya ingin aku temukan? Setiap pertanyaan yang ia ajukan membuka sedikit demi sedikit kabut yang menyelimuti pikirannya. Ia mulai melihat bahwa Penelitian Sejati tidak terletak pada angka atau metrik, tetapi pada pencarian kebenaran, penemuan makna baru, dan kontribusi sejati bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Dalam perjalanan ini, Pehul mengalami Ereignis, momen di mana kabut mulai terangkat, dan ia menyadari bahwa penelitian bukanlah sekadar soal publikasi atau peringkat universitas. Ia merasakan kehadiran Penelitian Sejati yang selama ini tersembunyi, dan hakikat penelitian yang sebenarnya mulai terungkap. Unconcealment terjadi, kebenaran mulai disingkap, dan Pehul merasakan kedalaman penelitian yang telah lama terlupakan. Ia memahami bahwa penelitian sejati tidak bisa diukur oleh angka-angka semata, melainkan oleh dampaknya terhadap pemahaman kita tentang dunia dan kehidupan.

Tetapi perjalanan Pehul tidak mudah. Di sepanjang jalan, ia dihadapkan dengan suara-suara idle talk yang datang dari kolega dan institusi, desakan untuk mengejar metrik, memperbanyak publikasi, dan mendapatkan pendanaan lebih banyak. “Inilah yang penting,” kata mereka. “Angka-angka ini yang menentukan masa depan akademismu.”

Namun, Pehul tetap teguh. Ia tahu bahwa angka-angka itu hanyalah kabut yang menutupi Penelitian Sejati. Ia memilih untuk berfokus pada pertanyaan-pertanyaan mendasar, membiarkan penelitian yang ia lakukan berbicara melalui dampak sosialnya, bukan melalui angka-angka di laporan keuangan. Ia memilih untuk menghidupkan kembali makna dari Being dalam risetnya, sebuah proses di mana penelitian menjadi otentik, bermakna, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dan dengan itu, Penelitian Sejati yang telah lama tersembunyi, kembali hadir. Tidak lagi dibebani oleh kabut komersialisasi atau angka-angka yang dangkal, Pehul melihat hakikat dari apa yang ia kejar selama ini. Ia merasakan kedalaman, makna, dan keberadaan sejati dari penelitiannya, sebuah penyingkapan yang tidak bisa ditemukan di balik layar metrik atau peringkat universitas, tetapi dalam pencarian kebenaran yang otentik.

Refleksi

Kisah Pehul adalah cerminan dari perjuangan para akademisi dan peneliti di dunia modern, yang sering kali terjebak dalam kabut angka dan tuntutan komersial. Namun, dengan refleksi mendalam dan keberanian untuk mempertanyakan tujuan riset, kita dapat menemukan kembali Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang selama ini tersembunyi. Kabut angka mungkin menutupi pandangan kita, tetapi di baliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga: pencarian kebenaran dan penemuan yang otentik.

Dengan ini, saya mengajak pembaca untuk kembali merenungkan esensi dari riset dan penelitian, sebagaimana Heidegger mengajarkan kita untuk memahami Being sebagai sesuatu yang autentik, melampaui kebisingan dan rutinitas yang dangkal.

Definisi istilah-Istilah Heidegger

Being (Keberadaan): Konsep fundamental dalam pemikiran Heidegger yang merujuk pada hakikat atau esensi sesuatu. Dalam konteks ini, Being merujuk pada hakikat riset yang otentik, yang berakar pada pencarian kebenaran, bukan sekadar angka atau metrik.

Presencing (Kehadiran): Proses di mana Being atau esensi dari sesuatu menjadi nyata atau hadir. Dalam konteks riset, presencing menggambarkan bagaimana penelitian dapat hadir secara otentik ketika peneliti membuka diri terhadap hakikat riset itu sendiri.

Ereignis (Peristiwa Apropriasi): Momen di mana Being dan waktu terungkap bersama-sama, memungkinkan kita untuk mengalami hakikat sesuatu. Ereignis dalam penelitian adalah saat di mana peneliti menyadari bahwa esensi riset tidak hanya dalam angka, tetapi dalam pencarian makna yang lebih dalam.

Unconcealment (Penyingkapan): Proses di mana sesuatu yang tersembunyi menjadi terbuka atau terlihat. Dalam konteks ini, unconcealment menggambarkan bagaimana hakikat riset yang tersembunyi di balik komersialisasi dapat disingkapkan kembali, mengungkap esensi penelitian yang otentik.

Idle Talk (Percakapan Hampa): Percakapan dangkal yang tidak membawa makna mendalam. Dalam dunia akademik, idle talk muncul dalam bentuk fokus berlebihan pada metrik dan prestasi kuantitatif, yang mengalihkan perhatian dari tujuan utama riset.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep ini, kita bisa melihat bahwa riset yang sejati bukanlah tentang memenuhi standar kuantitatif atau mendapatkan pengakuan eksternal, melainkan tentang Being, pencarian kebenaran dan makna yang mendalam yang seharusnya menjadi inti dari segala kegiatan akademik.

Meletakkan dasar-dasar sains yang benar

Mengajar adalah pengalaman yang menyenangkan. Saya senang dapat memberikan kuliah sains dasar kepada mahasiswa tingkat satu. Mahasiswa baru lulusan SMA ini perlu diberikan perspektif yang tepat mengenai sains. Oleh karena itu, saya menyusun materi khusus tentang filsafat sains yang disampaikan dengan cara sederhana. Pagi ini, saya tiba di Malang pukul 6.30 pagi dengan KAI Malabar dari Bandung dan langsung menuju kelas jam 7.20 pagi. Sedikit terlambat. Semangat mengajar! Ini adalah momentum untuk mencerdaskan anak bangsa dan meletakkan dasar-dasar sains yang benar. Sains dengan kejujuran. Semangat juga mahasiswa-mahasiswaku!

Learning progression in advanced materials research: A personal perspective

Saya diundang sebagai pembicara utama pada International Conference on Physics and Technology of Advanced Materials (ICPTAM) 2024 yang diselenggarakan oleh Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB), pada tanggal 8 Oktober 2024 di Prime Plaza Hotel & Suites, Sanur, Bali, Indonesia. Berikut ini adalah abstrak presentasi saya. Beberapa foto acara konferensi dapat dilihat dengan mengklik tautan ini.

“Learning progression in advanced materials research: A personal perspective”

Hadi Nur

Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Malang, Malang 65145, Indonesia

Abstract. My two-decade journey in advanced materials research has been marked by a profound evolution in understanding how to select research topics. This journey can be framed within the concept of learning progression, a framework that outlines the gradual and continuous development of understanding and skills in the field of advanced materials. It identifies key stages of learning, from basic foundational knowledge to a more complex and in-depth understanding of materials, their properties, synthesis, characterization, and applications. Initially, my focus was on zeolites and related materials, driven by the modification of existing concepts. This approach gradually shifted toward exploring new concepts in catalytic materials used in heterogeneous catalysis, motivated by the desire to address substantial scientific questions. My research evolved from tool-oriented studies to more innovative topics, such as phase boundary catalysis and the effects of electric and magnetic fields on material synthesis and heterogeneous catalysis. Despite the challenges of balancing passion-driven research with the pressures of achieving publishable outcomes, this progression has led to significant personal and professional growth. The results highlight the importance of choosing research ideas that push boundaries, even when they are more challenging to publish. The conclusion emphasizes that the research ecosystem plays a crucial role in shaping the outcomes and impact of scientific inquiry, underscoring the need to navigate these complexities thoughtfully to make meaningful contributions to the field. Integrating a philosophy of science perspective provides a strong foundation for evaluating research with wisdom, ensuring that scientific endeavors in advanced materials are both innovative and ethically grounded.

Keywords: advanced materials research; learning progression; topic selection; heterogeneous catalysis; scientific impact.

Mencari kebahagiaan di tengah kehidupan akademik seorang dosen

Sebagai seorang dosen yang mengajar di universitas, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan sering kali berdampingan dalam keseharian. Bertrand Russell, dalam analisanya mengenai kebahagiaan (Russell, B. The Conquest of Happiness. 1930), menguraikan beberapa penyebab ketidakbahagiaan yang kerap kali ditemukan. Penjelasan Bertrand Russell tentang kebahagiaan sangat menarik dan menginspirasi saya untuk menawarkan perspektif baru tentang kebahagiaan, khususnya bagi seorang dosen. Berikut adalah rangkuman singkat konsep kebahagiaan Bertrand Russell, disertai refleksi singkat tentang kebahagiaan dalam konteks kehidupan seorang dosen.

Penyebab Ketidakbahagiaan:

Pandangan Keliru tentang Diri dan Dunia: Banyak dosen merasa tidak puas karena standar akademik yang tidak realistis atau cita-cita yang terlalu tinggi. Ketika penelitian tidak mendapat pengakuan, atau publikasi tidak mencapai jurnal bereputasi tinggi, muncul perasaan bahwa dunia tidak adil, padahal mungkin saja ada pandangan keliru terhadap proses dan tujuan akademik itu sendiri.

Kompetisi Berlebihan: Dosen sering kali terjebak dalam kompetisi yang tiada henti — baik dengan kolega untuk mendapatkan posisi atau pengakuan, maupun dengan standar akademik yang terus berkembang. Hal ini bisa menimbulkan kecemasan dan iri hati, membuat seseorang merasa tertinggal atau tidak cukup berprestasi.

Iri Hati dan Ketakutan terhadap Pendapat Orang Lain: Melihat kolega berhasil mendapatkan dana penelitian besar atau penghargaan prestisius dapat memicu rasa iri hati. Ketakutan akan penilaian rekan sejawat atau mahasiswa juga bisa menghambat kebebasan untuk mengajar atau meneliti dengan cara yang berbeda atau inovatif.

Kelelahan Fisik dan Mental: Rutinitas dosen yang padat — mulai dari mengajar, menyiapkan materi, membimbing mahasiswa, hingga penelitian — sering kali mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Kelelahan ini mengurangi kemampuan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan, menciptakan ketidakbahagiaan yang terus berulang.

Merasa Selalu Dianiaya dan Rasa Bersalah Berlebihan: Dalam lingkungan akademik yang kompetitif, ada dosen yang merasa selalu menjadi korban dari sistem yang tidak adil. Perasaan ini, ditambah dengan rasa bersalah berlebihan karena merasa belum cukup berkontribusi atau belum berhasil membimbing mahasiswa dengan baik, semakin memperburuk kondisi emosional.

Penyebab Kebahagiaan:

Namun, Russell juga menawarkan panduan untuk menemukan kebahagiaan, yang relevan bagi seorang dosen.

Pekerjaan yang Bermakna: Seorang dosen memiliki peluang besar untuk merasa bahagia dengan pekerjaannya. Mengajar dan membimbing mahasiswa memberikan tujuan dan perasaan pencapaian yang dalam. Menemukan makna dalam proses ini — tidak hanya dalam hasil atau pengakuan — dapat menjadi sumber kebahagiaan yang kuat.

Kasih Sayang dan Keluarga yang Harmonis: Hubungan yang positif dengan keluarga atau komunitas universitas dapat memberikan dukungan emosional yang stabil. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari pencapaian akademik, tetapi juga dari hubungan manusia yang tulus.

Minat di Luar Diri Sendiri: Keterlibatan dalam aktivitas di luar pekerjaan, seperti seni, sains, atau hobi lainnya, dapat membantu dosen mengalihkan perhatian dari masalah pribadi atau tekanan pekerjaan. Minat-minat ini menawarkan keseimbangan yang sehat antara kehidupan profesional dan pribadi.

Semangat Hidup dan Usaha yang Ikhlas: Dosen yang memiliki semangat hidup dan melihat setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, baik secara profesional maupun pribadi, akan lebih cenderung merasa puas. Semangat ini perlu didukung dengan usaha yang ikhlas, menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Mencintai Kehidupan dengan Segala Kekurangannya: Seorang dosen yang mampu menerima kenyataan, baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan, tanpa terobsesi dengan kesempurnaan, akan lebih mudah mencapai kebahagiaan. Kesadaran bahwa kegagalan dan kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran bisa menjadi kunci untuk hidup lebih bahagia.

Kesimpulan:

Kehidupan seorang dosen di universitas memiliki tantangan tersendiri yang bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan, seperti tekanan kompetisi dan kelelahan. Namun, dengan mengadopsi sikap yang lebih realistis, menerima kekurangan, mengembangkan minat di luar diri sendiri, serta menjalin hubungan yang penuh kasih, seorang dosen dapat menemukan kebahagiaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan akademik. Akhirnya, sebagaimana Bertrand Russell sampaikan, kebahagiaan bukanlah soal menghindari ketidakbahagiaan, melainkan soal memahami, menerima, dan berkembang melalui semua pengalaman yang ada.

Hakikat kebahagiaan bukanlah fatamorgana yang berkilau di dunia orang lain, melainkan permata yang berbisik lirih dari kedalaman diri. Ia adalah kesadaran yang menuntun kita untuk mensyukuri setiap hembusan napas, setiap detak jantung, dan setiap anugerah yang terlukis di kanvas kehidupan kita. Dalam keheningan introspeksi, kita dengar bisikan itu, temukan kebahagiaan sejati yang tak tergoyahkan oleh badai perbandingan dan ekspektasi semu.

Tantangan editor jurnal di era keterbukaan ilmu pengetahuan

Sejak tahun 2005, saat saya memulai perjalanan sebagai editor jurnal dengan menginisiasi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), saya tak pernah membayangkan akan mencapai titik ini—saat jurnal yang dulu berjuang mencari artikel, kini dibanjiri manuskrip setiap harinya. Keadaan berubah drastis, dari kesulitan mencari paper yang berkualitas hingga kewalahan menangani tumpukan submission yang datang bak air bah. Dalam kurun waktu belasan tahun, MJFAS telah berkembang pesat, diakui dan diindeks oleh Scopus dan WoS, dan kini menjadi destinasi yang diincar para peneliti untuk mempublikasikan karya mereka.

Namun, di balik ini ada realita yang jarang diketahui oleh publik. Ketika paper-paper itu bertubi-tubi masuk, peran saya sebagai editor berubah dari sekadar memfasilitasi proses publikasi menjadi penjaga gerbang kualitas. Dulu, saya bisa memberikan lebih banyak waktu untuk membaca dan merefleksikan setiap manuskrip yang dikirimkan, mencoba mencari potensi di balik ide-ide yang diajukan. Sekarang, dengan keterbatasan waktu dan kapasitas, saya harus membuat keputusan cepat hanya dalam hitungan menit.

Mungkin terdengar arogan ketika saya mengatakan bahwa lebih dari 80% paper ditolak langsung tanpa melalui reviewer. Tapi, ini bukan tentang arogansi atau kekuasaan seorang editor. Ini tentang efisiensi dan menjaga integritas jurnal. Kapasitas kami hanya 20 paper per issue dan diterbitkan 6 kali setahun—itu berarti hanya 120 paper yang bisa diterima setiap tahunnya. Sedangkan jumlah submission yang masuk mencapai puluhan per bulan. Tanpa seleksi ketat, bagaimana mungkin menjaga standar kualitas?

Kunci dari keputusan ini adalah “keseriusan” penulis. Sebagai editor, saya bisa melihatnya dari berbagai aspek: kerapian penulisan, kesesuaian bahasa, hingga kejelasan ide. Di era ini, di mana teknologi AI memudahkan siapa saja untuk menghasilkan artikel, tugas saya sebagai editor bukan hanya menilai konten, tapi juga menilai niat dan dedikasi di balik pembuatan karya tersebut. Artikel review yang hanya berisi ringkasan tanpa ada critical analysis, misalnya, sangat mudah dibuat dengan bantuan AI. Lalu, apakah ini yang layak diterbitkan?

Tentu saja, keputusan cepat sering kali menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan dari para penulis. Tidak sedikit yang marah dan menganggap penolakan dalam beberapa menit sebagai ketidakadilan. Tapi saya perlu menegaskan, penolakan cepat bukanlah bentuk meremehkan, melainkan kejelian dalam menilai mana karya yang pantas mendapatkan perhatian lebih.

Setiap editor yang berpengalaman akan memahami, tugas kami bukan sekadar mengisi halaman jurnal. Kami adalah penjaga gawang yang memastikan hanya ide-ide terbaik dan orisinal yang tersaring, bukan karena kami berkuasa, tetapi karena tanggung jawab kami pada ilmu pengetahuan dan komunitas akademik.

Jadi, ketika saya mereject sebuah paper hanya dalam beberapa menit, itu bukan berarti paper tersebut tidak bernilai. Bisa jadi, paper tersebut hanya belum cukup siap untuk berkompetisi di level ini. Karena pada akhirnya, penerbitan ilmiah bukan sekadar soal kuantitas, tapi tentang memberikan kontribusi yang nyata dan berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Menemukan kedamaian: Bahagia beragama bersama Gus Baha

Baru saja saya membeli buku berjudul “Bahagia Beragama Bersama Gus Baha” yang ditulis oleh Khoirul Anam. Buku ini langsung mencuri perhatian saya karena pendekatan yang unik dan segar dalam memaknai agama. Dengan gaya khasnya yang santai dan menghibur, Gus Baha mengajak kita melihat agama dari sudut pandang yang berbeda—yang membahagiakan dan menenangkan.

Berbeda dengan ceramah-ceramah agama yang sering kali disampaikan dengan nada ancaman atau ketakutan, Gus Baha mengajak kita untuk beragama dengan cara yang “enteng” dan menyenangkan. Ini bukan berarti beragama dengan sembarangan atau mengabaikan nilai-nilai esensial, tetapi justru menemukan makna ketulusan dalam ibadah yang dilakukan. Agama, menurut Gus Baha, seharusnya membawa kita kepada rasa syukur, cinta, dan kebahagiaan, bukan sekadar rasa takut akan hukuman.

Pendekatan ini sungguh mencerahkan, karena menjadikan agama sebagai sumber inspirasi yang membangun dan menyejukkan jiwa. Buku ini mengajak kita untuk menjauh dari praktik-praktik beragama yang kaku dan mencekam, dan mulai melihat agama sebagai jalan untuk menemukan kedamaian, tidak hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri dan sesama.

Saat membaca buku ini, saya merasa bahwa Gus Baha telah memberikan angin segar bagi mereka yang mencari jalan spiritual dengan hati yang lapang dan gembira. Sebuah pencerahan yang mengingatkan kita bahwa agama seharusnya menjadi cahaya yang menerangi jalan, bukan beban yang menambah gelap.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin menemukan kembali makna beragama yang positif dan membahagiakan. Beragama bukan lagi soal menjalani ritual dengan kaku, tetapi menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan kebahagiaan, sebagaimana yang diajarkan oleh Gus Baha dalam setiap pesan dan pengajiannya.

Bayang-bayang digital: Kembali ke gua Plato

Tadi pagi saya baru saja mengajar kuliah Sains Dasar kepada mahasiswa tingkat 1 di Universitas Negeri Malang (UM) dan membahas tentang Plato yang berkontribusi besar pada filsafat ilmu. Kita hidup di zaman di mana layar ponsel dan komputer menjadi cermin baru yang membentuk realitas kita. Setiap orang seolah berlomba menampilkan diri, memainkan peran sebagai bintang dalam panggung digital. Semua ingin diperhatikan, dihormati, dan diakui. Tetapi, apakah yang kita lihat benar-benar mereka? Atau hanya bayang-bayang yang terpantul dari cahaya monitor yang menipu kita?

Seandainya Plato hidup di era ini, dia mungkin akan tersenyum sinis dan berkata, “Selamat datang kembali di gua!” Di dalam Alegori Gua, Plato bercerita tentang manusia yang terkurung dalam gua, hanya bisa melihat bayangan di dinding yang diproyeksikan oleh api di belakang mereka. Para tahanan ini percaya bahwa bayangan itulah kenyataan, padahal mereka hanya melihat pantulan samar dari dunia nyata. Terdengar akrab?

Kini, kita duduk di depan layar, terpesona oleh tampilan-tampilan sempurna yang diproduksi dengan pencahayaan tepat dan filter yang menyilaukan. Seperti tahanan dalam gua Plato, kita menatap bayang-bayang ini dan menganggapnya sebagai kenyataan. Kita kagum pada “kehidupan” yang dipajang di Instagram, TikTok, atau X, tanpa menyadari bahwa yang kita lihat hanyalah gambar buram dari kehidupan nyata yang tersembunyi di baliknya.

Di media sosial, realitas telah mengalami mutasi. Bukannya menghadapi dunia nyata, kita malah terjebak dalam dunia maya yang penuh dengan citra dan ilusi. Apa bedanya dengan bayang-bayang Plato? Hanya satu: gua kita sekarang lebih canggih, dilengkapi dengan WiFi dan filter wajah.

Bayang-bayang yang dulu di dinding gua sekarang beralih menjadi bayang-bayang digital, dan ironisnya, kita menyambutnya dengan sukacita. Kita bahkan ikut-ikutan memproyeksikan bayang-bayang kita sendiri, membentuk citra yang kita inginkan, bukan yang kita miliki. Ponsel kita menjadi sumber cahaya yang memproyeksikan versi terbaik dari diri kita ke layar orang lain. Tidak peduli kenyataan seperti apa, yang penting tampilan.

Sialnya, seperti tahanan Plato, kita bahkan tidak sadar sedang terperangkap. Semakin banyak waktu yang kita habiskan di dunia maya, semakin kita jauh dari kenyataan. Kita berbagi opini, foto makanan, dan video joget, seolah-olah itu semua penting. Sementara itu, kenyataan yang sebenarnya ada di luar layar semakin kabur, terlupakan, dan kita menjadi bagian dari bayang-bayang itu sendiri.

Jadi, apakah kita benar-benar lebih bebas daripada para tahanan di gua Plato? Atau justru kita telah mengurung diri dalam gua digital yang baru, di mana kita sendiri yang dengan sukarela memegang rantainya? Pfft, tapi jangan khawatir. Selama kita punya sinyal, gua ini tetap menyala terang.

Kapitalisme dalam pendidikan: Tiket mahal menuju masa depan?

Mari kita lihat fenomena yang sering kita temui: bimbingan belajar mewah berdiri megah di pinggir jalan, seakan menjadi menara gading pendidikan tambahan yang hanya bisa diakses oleh mereka yang “beruntung”. Di balik papan besar yang mengilap, terselip ironi: pendidikan, yang seharusnya menjadi hak semua orang, kini dijadikan komoditas berharga yang hanya mampu dinikmati oleh yang punya uang lebih. Sementara anak-anak dari keluarga berada sibuk mempersiapkan diri dengan bantuan guru-guru les berpengalaman, bagaimana dengan mereka yang tak mampu? Jawabannya sederhana: mereka harus berjuang sendirian, bergelut dengan buku-buku yang mungkin tidak lengkap, dan berharap keberuntungan berpihak pada mereka.

Lembaga bimbingan belajar ini tak ubahnya mesin uang yang pandai memanfaatkan ketakutan masyarakat akan masa depan. Tak heran, banyak keluarga rela mengorbankan tabungan hanya untuk memastikan anak-anak mereka bisa mengikuti les. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena sistem pendidikan kita yang tampaknya memaksa mereka untuk ikut serta. Seolah-olah, jika tidak mengikuti les, harapan untuk masuk universitas idaman langsung runtuh, seperti kartu domino yang terjatuh satu per satu.

Bayangkan, di negeri yang katanya berlandaskan Pancasila, pendidikan berkualitas menjadi hal yang bisa dibeli di rak-rak toko, seperti barang mewah lainnya. Mereka yang berduit melangkah pasti menuju kesuksesan, sementara yang kurang beruntung hanya bisa menatap dari jauh, berusaha mencari cara agar tetap bertahan. Ini adalah bentuk ketimpangan yang sangat nyata. Sistem yang ada seolah berbisik, “Kalau kau punya uang, masa depan cerah menantimu. Kalau tidak, ya, selamat berjuang.”

Dan di mana peran negara? Ya, negara. Seolah berdiri di pinggir lapangan, menjadi penonton pasif yang lebih sibuk mengurusi hal lain daripada memastikan bahwa pendidikan berkualitas dapat diakses oleh semua orang. Bimbingan belajar mewah dan biaya kuliah yang melambung tinggi semakin memisahkan masyarakat menjadi dua kelompok: yang mampu membayar tiket mahal menuju masa depan dan yang hanya bisa bermimpi.

Di sinilah letak kejanggalan besar dalam sistem ini. Pendidikan seharusnya menjadi hak asasi, bukan barang dagangan. Tapi nyatanya, dalam dunia yang kita tinggali, pendidikan berkualitas hanya tersedia bagi mereka yang mampu membelinya. Kapitalisme merambah ke bidang pendidikan, menjadikannya arena bisnis yang menguntungkan bagi segelintir orang, sementara yang lain terus bergulat dalam ketidakpastian.

Jadi, apakah ini adil? Apakah kita sebagai masyarakat telah menerima bahwa masa depan anak-anak kita tergantung pada seberapa tebal dompet orang tua mereka? Kalau memang begitu, mari kita akui dengan jujur bahwa pendidikan bukan lagi soal meritokrasi, melainkan soal siapa yang mampu membeli tiket menuju kesuksesan. Selamat datang di era kapitalisme pendidikan, di mana uang bukan hanya bicara, tetapi menentukan segalanya.