Kuliah kali ini membedah benang merah antara naluri bertahan hidup, kekuasaan, dan integritas yang sering kali saling sikut di dunia akademik. Bayangkan, dari teori evolusi Darwin yang mengajarkan survival of the fittest hingga konsep virtu ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, manusia sebenarnya berada dalam paradoks besar: kita disebut Homo Sapiens yang bijaksana, tapi realitanya sering terjebak dalam eksploitasi dan ketidakjujuran. Di dunia sains pun tantangannya nyata; tekanan publikasi dan birokrasi kuantitatif kadang memaksa peneliti masuk ke “mode bertahan hidup” yang memicu manipulasi data hingga ketergantungan pada AI yang kebablasan. Pada akhirnya, etika keilmuan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keseimbangan yang hanya bisa tegak jika kesejahteraan peneliti terjamin, hakikat ilmu dipahami secara filosofis, dan sistem sistemik tidak lagi bersifat korup atau sekadar mengejar angka.