Berdasarkan karakter di buku The Geography of Bliss + sedikit bumbu Indonesia)

Suatu sore di sebuah kafe kecil di Bali (tempat netral biar semua orang merasa “di rumah”), empat orang dari negara berbeda kebetulan duduk satu meja karena kafe penuh. Mereka lagi ikut konferensi “World Happiness Summit”.
Hans (Belanda, 42 tahun, pakai sepatu clogs, bawa cerutu kecil): “Bro, di Belanda bahagia itu gampang! Bebas! Mau ganja? Legal. Mau prostitusi? Legal. Mau nongkrong di kafe 6 jam cuma minum satu bir hangat? Silakan! Yang penting ‘don’t tread on me’ [1] — jangan ganggu urusanku!”
Fritz (Swiss, 45 tahun, baju rapi banget, jam tangan mahal tapi disembunyiin): merapikan serbet dengan teliti “Di Swiss, bahagia itu tertib. Jam 10 malam WC harus disiram pelan-pelan. Minggu pagi jangan potong rumput. Kalau tetangga beli mobil baru, kami langsung curiga: ‘Ada masalah keuangan ya?’ C’est pas mal [2]… tidak buruk.”
Somchai (Thailand, 38 tahun, senyum lebar dari tadi, pakai baju batik Bali yang dia beli tadi pagi): senyum sambil mengacungkan jempol “Mai pen lai [3], teman-teman! Yang penting jai yen [4]. Kalau macet di Bangkok 3 jam, senyum saja. Kalau pohon tetangga mengganggu, patahkan satu daun saja. Sanuk [5] dulu! Kalau tidak fun, buat apa?”
Budi (Indonesia, 40 tahun, bawa tas kresek berisi keripik dan es teh): “Wah gila, kalian keren-keren! Di Indonesia bahagia itu… gotong royong [6]! Macet? Santai aja, kita nyanyi bareng dangdut di mobil. Banjir? Kerja bakti bareng, bawa ember sama tetangga. Tapi… eh Hans, kalau lo beli mobil baru Ferrari, jangan pamer di Instagram ya… nanti kami iri, terus syukuran bareng biar adil. Hehe.”
Tiba-tiba Hans ngasih tawaran: “Mau coba ganja Belanda? Legal kok, tenang aja.”
Fritz langsung kaku: “Ada aturan! Di Swiss ini dilarang! Kalau ketahuan polisi, denda 500 franc!”
Somchai senyum lebar: “Mai pen lai [3]… kalau ketahuan, senyum saja. Jai yen [4]…”
Budi langsung ambil peran: “Eh, santai! Kita gotong royong [6] aja. Hans kasih ganja, Fritz kasih aturan, Somchai kasih senyum, aku kasih keripik sama es teh. Kita arisan dulu buat beli satu porsi rendang, biar semua bahagia bareng!”
Mereka berempat akhirnya tertawa ngakak sampai pelayan kafe datang. Hans: “Ini baru namanya happiness summit!” Fritz: “C’est pas mal [2]…” Somchai: “Sanuk [5] banget!” Budi: “Santai aja bro… tapi besok kita foto bareng ya, biar di-upload ke grup WA keluarga, katanya ‘lihat, gue lagi internasional’.”
Mereka berempat kemudian foto selfie bareng, dengan caption yang sama: “Bahagia itu campuran: bebas, tertib, fun, dan gotong royong.”
Tapi di belakang foto, Hans diam-diam ngerokok cerutu, Fritz lagi ngecek jam tangannya, Somchai senyum lebar, dan Budi lagi bisik ke pelayan: “Mbak, tolong tambahin sambel… biar lebih sanuk [5].”
Tamat.
Catatan Kaki (untuk pembaca Indonesia yang mungkin belum familiar):
[1] Don’t tread on me: Slogan kebebasan pribadi klasik (awalnya dari Amerika), artinya “Jangan ganggu urusanku” atau “Jangan injak aku”. Hans pakai ini untuk gambarkan budaya toleransi ekstrem Belanda.
[2] C’est pas mal: Ungkapan Prancis yang dipakai orang Swiss, artinya “Tidak buruk” atau “Lumayan aja”. Sikap khas Swiss yang selalu “cukup”, tidak berlebihan.
[3] Mai pen lai: Ungkapan Thailand yang sangat terkenal, artinya “Never mind”, “Tidak apa-apa”, atau “Sudahlah”. Filosofi hidup santai untuk melepaskan masalah dan lanjut hidup.
[4] Jai yen: “Cool heart” atau “hati yang dingin/tenang”. Di Thailand, ini dianggap sikap paling baik. Jangan marah atau emosional, tetap tenang supaya harmoni terjaga.
[5] Sanuk: Kata Thailand yang artinya “fun” atau “menyenangkan”. Kalau sesuatu tidak sanuk, orang Thailand cenderung tidak mau melakukannya.
[6] Gotong royong: Kerja sama saling tolong-menolong antar tetangga atau komunitas, khas budaya Indonesia (sudah sangat familiar, tapi tetap dicantumkan biar lengkap).





You must be logged in to post a comment.