Kita sedang terjebak dalam sebuah perayaan yang semu. Di aula-aula universitas, di baliho pinggir jalan, hingga di siaran pers kementerian, angka-angka peringkat dunia dipamerkan bak piala kemenangan perang. Ada kenyataan pahit yang sengaja kita tutupi: universitas kita mungkin sedang mendaki tangga global, tapi kehilangan pijakan di tanah air sendiri.
Ada yang mengganggu pikiran saya belakangan ini. Kita melihat ada negara yang tidak menghiasi daftar universitas top dunia, namun mereka mampu membangun teknologi strategis secara mandiri, tetap tegak di bawah sanksi global, dan memiliki ketahanan energi serta pangan yang luar biasa. Mengapa? Karena mereka memahami perbedaan mendasar antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara.
Masalah utama kita adalah ketidakmampuan membedakan antara reputasi akademik dan kekuatan strategis negara. Dunia pertama adalah Dunia Akademik Global. Di sini, mata uangnya adalah publikasi ilmiah, jumlah sitasi, reputasi internasional, dan jejaring global. Ini adalah dunia visibilitas. Tentu, ini penting. Namun, dunia ini memiliki kecenderungan untuk menggiring peneliti menjadi “mesin produksi paper” demi mengejar angka. Dunia kedua adalah Dunia Strategis Negara. Di sini, metrik keberhasilan bukan lagi soal berapa banyak paper yang terbit di jurnal Q1, melainkan: Apakah teknologi ini bisa kita bangun sendiri? Apakah masalah kemiskinan dan efisiensi industri terpecahkan? Apakah kita mandiri secara sains? Ironisnya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita menganggap bahwa kenaikan ranking universitas secara otomatis berarti kenaikan kekuatan teknologi bangsa. Padahal, ranking bicara soal pengakuan, sementara kekuatan bicara soal kemampuan nyata. Birokratisasi Ilmu dan Etika yang Terpinggirkan Ketika universitas hanya fokus pada angka, terjadilah apa yang saya sebut sebagai “birokratisasi ilmu”.
Dosen dan peneliti kehilangan kemerdekaannya untuk berpikir liar karena energinya habis untuk urusan mengejar indikator kinerja. Kita harus berani menggugat etika keilmuan kita sendiri. Untuk apa ilmu ini dibangun? Apakah sekadar untuk diakui oleh komunitas global agar universitas terlihat mentereng di atas kertas, atau untuk digunakan sebagai daya bagi bangsa yang sedang berjuang ini?
Ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, bukan sekadar untuk dipamerkan. Sejarah tidak akan mengingat sebuah bangsa dari angka ranking universitasnya di tahun tertentu. Sejarah akan mencatat apa yang benar-benar berhasil dibangun oleh bangsa tersebut: jembatan yang kokoh, energi yang murah bagi rakyat, teknologi pertahanan yang tangguh, dan kedaulatan berpikir.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa ranking kita tahun ini?” dan mulai bertanya dengan jujur, “Apakah ilmu yang kita produksi hari ini benar-benar membuat bangsa kita lebih kuat?” Jika universitas kita hanya hebat dalam urusan sitasi namun rapuh dalam realitas sosial dan teknologi, maka kita sebenarnya sedang membangun menara gading di atas pasir. Megah terlihat dari jauh, namun akan runtuh saat dihantam gelombang kenyataan.