Berlimpahnya makalah, ilmu pengetahuan tenggelam

Betapa hebatnya hidup di era di mana para peneliti dapat bangun, menyeruput secangkir kopi, dan sebelum tengah hari, telah menghasilkan makalah baru berkat kecerdasan ChatGPT dan AI lainnya! Kemudian, sebelum siang berganti malam, peneliti lain di belahan dunia lain telah mengirimkan tinjauan makalah tersebut. Dalam sehari, siklus kehidupan ilmiah terus berputar, seperti hamster dalam roda yang tak berujung.

Bukankah kita bersyukur atas berkah AI yang membuat hidup kita lebih mudah? Dulu, kita harus berkeringat, bekerja keras, dan mungkin menghabiskan beberapa tahun hanya untuk menghasilkan satu makalah berkualitas. Sekarang, kita dapat menghasilkan setengah lusin makalah seminggu, lengkap dengan analisis data yang kompleks, tabel, dan grafik yang siap dicetak! Jadi, mengapa kita harus berpikir dua kali sebelum menerbitkan sesuatu? Bukankah semakin banyak kita menerbitkan, semakin pintar kita?

Namun, ternyata para penulis editorial ACS Energy Letters mulai mengeluh tentang “banjir makalah.” Betapa tidak tahu terima kasihnya mereka! Bukankah lebih baik tenggelam dalam lautan pengetahuan daripada haus di padang gurun ketidaktahuan? Namun, mereka mengusulkan untuk membatasi jumlah publikasi. Mereka menganjurkan pengurangan kuantitas dan fokus pada kualitas, seolah-olah ilmuwan modern harus menjadi pelukis Renaisans yang menyempurnakan setiap sapuan kuas.

Dan di sinilah kita berpikir, siapa yang punya waktu untuk menjadi Leonardo da Vinci? Bukankah lebih baik menjadi mesin pabrik, yang menghasilkan artikel demi artikel, terlepas dari apakah temuan tersebut akan mengubah dunia atau hanya menambah tumpukan kertas yang terus bertambah di perpustakaan yang semakin usang?

Tidak hanya itu, mereka juga ingin menghentikan “proliferasi jurnal.” Sekali lagi, mereka mengabaikan fakta bahwa setiap orang sekarang dapat memiliki jurnal mereka sendiri. Di mana lagi Anda melihat dunia tempat seorang mahasiswa dapat mengirimkan karya mereka ke jurnal dan mendapatkan stempel “terbit”?

Namun di tengah semua ini, mereka memiliki satu proposal yang mungkin cukup menyentuh: metrik baru, “weighted h-index.” Akhirnya! Sebuah cara untuk mengukur berapa banyak makalah yang telah Anda hasilkan dan seberapa besar dampak yang ditimbulkannya, seperti melacak berapa banyak kue yang telah Anda makan dan berapa banyak kalori yang telah Anda bakar. Mungkin dengan ini, kita dapat mengukur “keberhasilan ilmiah” seperti kita mengukur kebugaran fisik.

Terakhir, mungkin kita perlu merenung. Apakah kita benar-benar memerlukan perubahan dalam cara kita berpikir tentang publikasi ilmiah? Atau mungkin kita harus terus mengirimkan sebanyak mungkin makalah dan berharap bahwa dunia ilmiah akan menyesuaikan diri dengan kecepatan AI yang tiada henti?

Setidaknya, jika semuanya gagal, kita selalu dapat menulis makalah lain tentang bagaimana kita harus menulis lebih sedikit makalah. Sesuai dengan semangat zaman, tentu saja.

Intelektual yang ditumbangkan sebelum berkecambah

Kita hidup di zaman di mana menjadi intelektual adalah sebuah anomali yang nyaris mustahil. Bagaimana tidak? Bayangkan sebatang pohon yang dipaksa tumbuh di atas aspal. Bukan karena kekurangan nutrisi atau sinar matahari, tetapi karena setiap kali daunnya muncul, aspal baru segera dituang di atasnya. Begitulah nasib intelektual di sebuah negeri yang lebih sibuk merapikan jalan daripada merawat tunas yang mungkin tumbuh.

Intelektual adalah spesies yang tidak akan lahir dalam kondisi di mana segala bentuk berpikir mendalam dianggap sepele atau bahkan diabaikan. Lihat saja, mulai dari tradisi intelektual yang terpinggirkan, hingga kepada doktrin yang lebih menekankan pengulangan tanpa pertanyaan, lebih berakar kuat dibandingkan dengan pemikiran kritis. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa berharap kelahiran intelektual jika tanah tempatnya tumbuh adalah aspal kaku yang tidak pernah diizinkan retak?

Dan tidak berhenti di situ, universitas yang seharusnya menjadi taman bagi tumbuhnya pohon-pohon intelektual malah berperan menjadi penyiram aspal itu sendiri. Dalam sistem budaya ilmiah universitas, yang lebih dipedulikan adalah output daripada outcome. Lihatlah bagaimana para akademisi dan mahasiswa didorong untuk terus memproduksi kertas-kertas ilmiah yang lebih berfokus pada kuantitas daripada kualitas. Tujuannya jelas, bukan untuk mendidik mahasiswa menjadi ilmuwan yang handal dan berpikir mendalam, melainkan untuk mendongkrak peringkat universitas di kancah global.

Paper-paper ilmiah yang dihasilkan bukanlah cerminan dari pemikiran yang mendalam, tetapi lebih sebagai alat untuk mengejar angka dan ranking. Mahasiswa dilatih bukan untuk menjadi pemikir, tetapi sebagai mesin yang efisien dalam menghasilkan publikasi. Dalam iklim seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi intelektual yang tangguh, jika mereka sudah dirantai oleh ambisi institusi yang lebih mengutamakan citra daripada substansi?

Universitas, yang seharusnya menjadi pusat peradaban intelektual, justru terjebak dalam perangkap pragmatisme sempit. Alih-alih mengajarkan mahasiswa untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, mereka malah diajari untuk cepat-cepat menulis “apa” yang bisa dipublikasikan, meskipun isinya kosong melompong. Akhirnya, lulusan yang dihasilkan adalah mereka yang piawai dalam menulis tetapi tumpul dalam berpikir. Intelektual yang ditumbangkan sebelum mereka sempat berkecambah.

Refleksi

Jika kita tidak menciptakan kondisi yang kondusif bagi intelektual untuk lahir dan berkembang, maka jangan heran jika mereka tidak pernah muncul. Intelektual bukanlah sebuah kebetulan; mereka adalah hasil dari ekosistem yang mendukung pemikiran, refleksi, dan diskusi yang mendalam. Sayangnya, di negeri yang lebih sibuk menata jalan daripada menumbuhkan ide, kita hanya akan mendapatkan aspal yang mulus tanpa tunas yang menghijau. Dan jika universitas hanya peduli pada output tanpa memikirkan outcome, maka kita akan terus menghasilkan lulusan yang hanya mengejar angka tanpa memiliki kedalaman berpikir.

Pengetahuan dan integritas: Refleksi atas pendidikan modern

Pendidikan modern seharusnya menjadi mercusuar moral yang menuntun kita menuju kebaikan, seperti yang mungkin diharapkan oleh Sokrates dalam filsafatnya. Tapi, lihatlah dunia pendidikan saat ini—tempat di mana kecerdasan justru digunakan untuk memperhalus tipu daya, memperkaya kreativitas dalam berbohong, dan mengasah keterampilan dalam memanipulasi data. Fenomena Profesor abal-abal dan publikasi ilmiah yang tidak patut adalah seperti puncak gunung es karena banyak lagi yang sukar dideteksi.

Sokrates mungkin berkata, “Orang pintar pasti baik,” tapi dalam praktiknya, sepertinya semakin pintar seseorang, semakin mahir dia bermain dengan trik-trik etis yang samar-samar. Akademisi yang terampil bukan hanya pandai dalam logika atau matematika, tetapi juga dalam seni memalsukan laporan penelitian termasuk publikasi ilmiah di jurnal akademik dengan elegan, sambil tersenyum penuh percaya diri di balik layar komputer.

Kita mengagumi para ilmuwan dan insinyur yang menghasilkan penemuan-penemuan besar, tapi kita juga tidak bisa menutup mata pada mereka yang dengan cerdik memanipulasi data untuk mendapatkan grant penelitian yang lebih besar dan juga dalam menghasilkan publikasi ilmiah. Kita memuliakan lulusan-lulusan universitas ternama, tetapi kita seringkali lupa bahwa di balik toga dan sertifikat itu, ada yang menempuh jalan pintas dengan “bantuan” catatan kecil di ujian.

Sokrates mungkin menganggap pengetahuan sejati akan mengarahkan seseorang untuk bertindak dengan baik, tapi di dunia nyata, pengetahuan tampaknya juga memberikan alat bagi mereka yang ingin bermain kotor. Dengan segala hormat kepada Sokrates, mungkin di zaman sekarang, kebijaksanaan harus dilengkapi dengan kode etik yang lebih ketat, bukan hanya asupan pengetahuan. Sebab, semakin cerdas seseorang, semakin lihai ia menutupi jejak-jejak moral yang dilanggarnya.

Jadi, mari kita renungkan: apakah pendidikan benar-benar menjadikan kita lebih baik, atau justru lebih licik dalam menyembunyikan keburukan? Mungkin sudah saatnya kita merenung kembali dan menulis ulang skrip pendidikan kita, atau sekadar memasang kamera pengawas di setiap sudut kelas!

Menggali kebijaksanaan Nabi Ibrahim dalam penelitian ilmiah

Catatan ini saya tulis setelah membaca Surah Al-An’am. Setelah saya telusuri, surah ini dapat dianalogikan dengan metodologi penelitian ilmiah yang sayangnya, sekarang, sering kali tidak digunakan dengan benar untuk mencari kebenaran, sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan juga mendidik mahasiswa dalam melakukan riset. 

Proses pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam menemukan Tuhan yang sejati, seperti yang tercantum dalam Surah Al-An’am (Surah 6), bisa menjadi analogi yang sangat relevan dengan proses riset dan metodologi penelitian. Mari kita eksplorasi bagaimana langkah-langkah yang diambil oleh Ibrahim mencerminkan esensi dari penelitian ilmiah yang kita kenal saat ini.

[1] Pencarian Awal: Merumuskan Hipotesis (Hypothesis Formulation)

Dalam pencarian Tuhan yang sejati, Nabi Ibrahim melakukan observasi terhadap bintang, bulan, dan matahari [Surah Al-An’am, 6:76-78]. Dia merumuskan hipotesis berdasarkan pengamatannya, serupa dengan bagaimana seorang peneliti memulai proses penelitian dengan mengamati fenomena dan merumuskan pertanyaan atau hipotesis penelitian.

[2] Pengujian Hipotesis: Metode Eksperimen (Testing Hypothesis)

Ibrahim kemudian menguji hipotesisnya dengan melihat sifat-sifat dari benda langit tersebut, seperti terbit dan terbenamnya mereka [Surah Al-An’am, 6:76-78]. Dia menyadari bahwa Tuhan yang sejati tidak mungkin memiliki sifat yang fana. Ini sangat mirip dengan proses eksperimen dalam penelitian, di mana peneliti mengumpulkan data untuk menguji apakah hipotesis mereka dapat dibuktikan atau ditolak.

[3] Menolak Hipotesis yang Salah (Rejecting False Hypothesis)

Setelah melakukan pengamatan dan analisis, Ibrahim menolak hipotesis yang salah tentang bintang, bulan, dan matahari sebagai Tuhan. Dia menyimpulkan bahwa Tuhan yang sejati adalah yang menciptakan langit dan bumi [Surah Al-An’am, 6:79]. Dalam metodologi penelitian, ini serupa dengan proses penolakan hipotesis nol ketika data tidak mendukungnya.

[4] Menyimpulkan Temuan dan Menyebarkannya (Conclusion and Dissemination)

Ibrahim menyimpulkan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan menyampaikan temuan ini kepada kaumnya [Surah Al-An’am, 6:79-80]. Dalam konteks penelitian, setelah pengujian dan analisis selesai, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan data dan menyampaikan hasil penelitian melalui publikasi atau presentasi.

[5] Tantangan dan Validasi (Challenge and Validation)

Nabi Ibrahim menghadapi tantangan dari kaumnya [Surah Al-An’am, 6:80-81], namun dia tetap teguh dengan bukti yang dia miliki. Dalam dunia penelitian, ini mirip dengan bagaimana peneliti menghadapi kritik dari komunitas ilmiah dan harus mempertahankan metodologi serta temuan mereka berdasarkan bukti yang kuat.

[6] Konsistensi dan Peer Review (Consistency and Peer Review)


Ayat-ayat yang menunjukkan bagaimana Allah memberi petunjuk kepada para nabi [Surah Al-An’am, 6:82-87] bisa dianalogikan dengan proses peer review dalam penelitian. Temuan penelitian diverifikasi dan divalidasi oleh para ahli dalam bidang yang sama, memastikan konsistensi dan akurasi.

[7] Penyampaian Tanpa Pamrih (Ethics in Dissemination)

Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan pesan tanpa meminta imbalan [Surah Al-An’am, 6:90]. Ini mencerminkan etika dalam penelitian, di mana peneliti harus menyampaikan temuan mereka dengan jujur dan tanpa mencari keuntungan pribadi.

Refleksi

Langkah-langkah yang dilalui oleh Nabi Ibrahim dalam mencari kebenaran mencerminkan esensi dari penelitian ilmiah. Mulai dari pengamatan, pembentukan hipotesis, pengujian, penolakan hipotesis yang salah, menarik kesimpulan, menghadapi tantangan, validasi oleh pihak lain, hingga penyampaian hasil secara etis, semuanya mencerminkan langkah-langkah penting dalam metodologi penelitian ilmiah. Proses ini tidak hanya mengajarkan kita tentang pentingnya kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran tersebut harus dicari, diuji, dan disampaikan dengan integritas.

Pendidikan kita: Kualitas dosen

Catatan ini adalah refleksi melihat kualitas dosen, dari yang hanya tahu cara bicara sampai yang inspiratif.

Pendidikan kita ini lucu juga, ya? Sistem pendidikan yang kita miliki mungkin lebih cocok dijadikan bahan lelucon daripada diambil serius. Cobalah kita lihat bagaimana dosen kita beroperasi—mereka seolah bagian dari sirkus besar. Ada dosen yang hanya bisa berbicara tanpa henti, ada yang berusaha keras menjelaskan, ada pula yang mencoba sedikit bereksperimen. Namun, sayangnya, yang benar-benar menginspirasi? Mereka seperti legenda urban yang sulit ditemui.

Mari kita mulai dengan jenis dosen yang pertama. Dosen yang hanya tahu cara bicara. Mereka ini seperti kaset rusak yang diputar ulang terus-menerus. Mereka memberikan informasi kepada mahasiswa tanpa ada usaha sedikit pun untuk membuatnya menarik. Mereka berceramah, menyajikan materi dengan suara monoton, dan sama sekali tidak mendorong mahasiswa untuk bertanya atau berdiskusi. Mahasiswa? Ya, mereka seperti penonton bioskop tua yang dipaksa menonton film hitam putih tanpa ada jeda. Jangan harap antusiasme, itu sudah menguap entah ke mana. Bahkan, semut-semut di kelas mungkin lebih aktif daripada mahasiswa-mahasiswa ini.

Kemudian, ada dosen yang sedikit lebih baik. Mereka tidak hanya bicara, tetapi juga berusaha menjelaskan. Mereka ini seperti penjual di pasar tradisional yang mencoba meyakinkan kita dengan memberikan penjelasan yang masuk akal. Mereka menjawab pertanyaan, memberikan contoh-contoh, dan memastikan mahasiswa memahami materi. Namun, masalahnya, ketika mahasiswa membutuhkan penjelasan lebih dalam, seringkali mereka terjebak dalam lingkaran penjelasan yang berputar-putar tanpa arah. Pada akhirnya, mahasiswa lebih bingung daripada sebelumnya.

Lalu, ada dosen yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehebatan. Mereka tidak hanya menjelaskan, tetapi juga secara aktif mendemonstrasikan konsep dan keterampilan. Mereka menggunakan alat bantu visual, eksperimen, atau contoh dunia nyata untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan berkesan. Mereka ini seperti pesulap yang membuat setiap pelajaran menjadi pertunjukan yang menakjubkan. Namun, layaknya pertunjukan sulap, ada batasnya. Tidak semua penonton, atau dalam hal ini mahasiswa, selalu terkesan dengan trik yang sama.

Nah, ini dia yang paling dicari dan paling langka: Dosen Inspiratif! Mereka tidak hanya menyampaikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menyalakan api semangat dan rasa ingin tahu dalam diri mahasiswa. Mereka menginspirasi mahasiswa untuk mencintai belajar, berpikir kritis, dan mengejar tujuan mereka. Mereka seperti pahlawan super dalam cerita anak-anak. Sayangnya, dalam kenyataan, mereka lebih mirip tokoh fiksi yang jarang muncul. Dosen-dosen ini bukan hanya pengajar, mereka adalah pemimpin yang menuntun mahasiswa ke puncak gunung pengetahuan dengan antusiasme dan dedikasi.

Namun, kenyataan pahitnya adalah, dosen di level inspiratif ini jarang sekali kita temukan. Mungkin karena mereka terlalu sibuk berjuang melawan sistem pendidikan yang penuh birokrasi dan kurangnya dukungan. Atau mungkin, mereka telah menyerah dan memilih jalan lain yang lebih damai. Jadi, kita pun terjebak dalam siklus pendidikan yang monoton, di mana mahasiswa lebih sering tertidur di kelas daripada terinspirasi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti berharap pada keajaiban dan mulai memperbaiki sistem kita sendiri. Karena, seperti kata pepatah, “Tidak ada dosen yang buruk, yang ada hanya sistem yang buruk.” Tapi, siapa yang tahu? Mungkin suatu hari nanti, kita akan menemukan lebih banyak dosen inspiratif, dan dunia pendidikan kita akan berubah menjadi lebih baik. Hingga saat itu tiba, mari kita nikmati pertunjukan ini dengan sedikit humor dan banyak harapan.

Lha, saya masuk dalam level dosen yang mana, ya? Apakah saya termasuk dosen yang hanya tahu cara berbicara, yang berusaha keras menjelaskan, yang suka bereksperimen, atau yang inspiratif? Saya tidak tahu. Namun, setidaknya saya bisa menilai dan menulis opini ini sebagai instrospeksi diri.

Mabuk di kursi belakang: Kebijakan pendidikan tinggi

Catatan ini adalah refleksi melihat kebijakan pendidikan tinggi yang selalu berubah-rubah.

Supir tidak pernah mabuk, sedangkan penumpang sering kali mabuk. Mengapa? Karena supir yang membawa mobil dan penumpang dibawa oleh mobil. Begitu kira-kira nasib pendidikan tinggi di negeri kita. Di kursi kemudi duduklah para pembuat kebijakan, tangkas dan cekatan, mengarahkan ke kanan dan ke kiri, menaikkan dan menurunkan kecepatan. Di kursi belakang, para pemimpin institusi pendidikan tinggi terombang-ambing, mencoba menahan mual akibat putaran tak terduga dan belokan tiba-tiba.

Si supir kebijakan, dengan kepastian laiknya nasihat dari langit, menetapkan aturan, standar, dan target yang harus dicapai. Ia yakin, semua pasti bisa dilaksanakan. “Asal kemudi di tangan, mobil ini pasti sampai tujuan,” pikirnya. Di kursi belakang, para penumpang alias pemimpin universitas, berkeringat dingin. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kecepatan dan arah yang ditentukan. Namun, sering kali mereka merasa ‘mabuk’ oleh kebijakan yang berubah-ubah, seperti kendaraan yang oleng ke sana kemari.

Betapa sulitnya hidup para penumpang ini. Mereka harus menjalankan kebijakan yang kadang-kadang terasa seperti perintah untuk menanam padi di gurun pasir. Rektor-rektor ini bisa kewalahan dan mengalami kesulitan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu, si supir di depan tak selalu menyadari betapa beratnya perjalanan di kursi belakang.

Dari sini, kita belajar bahwa koordinasi dan komunikasi itu penting, sangat penting, malah. Supir kebijakan harus peka dan memahami kondisi nyata di lapangan, bukannya asyik sendiri dengan peta dan rute di atas kertas. Di sisi lain, para pemimpin universitas harus berani bersuara, memberikan masukan dan feedback, meskipun harus berteriak dari kursi belakang.

Sehingga, dalam perjalanan panjang ini, tidak ada lagi yang merasa ‘mabuk’. Semua pihak, dari supir hingga penumpang, bisa menikmati perjalanan, walaupun mungkin masih ada guncangan di sana-sini. Dan begitulah, sebuah pelajaran jenaka dari kursi belakang mobil pendidikan tinggi kita.

Simulakra ketiga dalam publikasi ilmiah: Pandangan yang menakutkan

Catatan ini merespons perspektif mengenai publikasi ilmiah yang dijadikan alat untuk naik pangkat yang tidak wajar, seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo. Isu ini menjadi perdebatan di grup WhatsApp yang saya ikuti.

Dalam bayang-bayang kata-kata yang mengalir dari pena Jean Baudrillard, kita menemukan dunia yang aneh dan terasing—dunia simulakra ketiga, di mana tanda dan simbol terlepas dari realitas asli, menciptakan sebuah hiperrealitas yang mengelilingi kita dalam pelukan tipuan yang lembut. Bayangkanlah publikasi ilmiah kita yang begitu kita agungkan, ternyata hanyalah bayangan hampa yang bergoyang-goyang dalam dunia absurditas.

Tanda dan realitas yang terpisah

Dalam era modern ini, publikasi ilmiah sering kali tidak lagi menjadi cermin kebenaran yang setia. Ia berubah menjadi refleksi yang diputarbalikkan, diwarnai oleh kepentingan ekonomi, politik, dan sosial. Jurnal-jurnal ilmiah kini lebih sering dihiasi dengan artikel-artikel yang bukan saja mengulang-ulang narasi lama, tetapi juga memolesnya hingga tak lagi dikenali sebagai cerminan realitas.

Baudrillard, dalam buku Simulacra and Simulation, menegaskan bahwa dalam masyarakat yang dilingkupi oleh hiperrealitas, batas antara yang nyata dan yang tak nyata memudar, hingga kita tidak lagi dapat membedakan mana yang hakiki dan mana yang hanyalah bayangan. Di sinilah letak ketakutan kita: publikasi ilmiah yang seharusnya menjadi mercusuar pengetahuan, kini menjadi mercusuar fatamorgana.

Ketika riset ilmiah menjadi ilusi besar

Jean Baudrillard, dalam Simulacra and Simulation, memperkenalkan kita pada konsep simulakra: tanda dan simbol yang kehilangan hubungan dengan realitas, hingga akhirnya berdiri sendiri, terlepas dari apa pun yang mereka wakili. Tanda ini bisa berkembang dari cermin realitas yang setia, hingga menjadi bayangan yang tak lagi punya hubungan dengan apa pun. Dan lucunya, konsep ini bisa dihubungkan dengan dunia riset ilmiah masa kini—dari pencarian kebenaran hingga permainan ilusi kosong yang hanya sibuk dengan tanda-tanda dan simbol ilmiah.

Bayangkan riset ilmiah sebagai upaya heroik mencari kebenaran, di mana para peneliti berperan sebagai detektif yang gigih. Pada awalnya, mereka membawa obor terang, menggali fakta-fakta penting, menyingkap misteri alam semesta, dan menyajikannya dengan bangga kepada dunia dalam jurnal-jurnal akademik. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak dari mereka mulai lebih sibuk dengan hal lain: bukan dengan realitas, tapi dengan kesibukan mengejar jumlah publikasi. Hasilnya? Dari kebenaran murni menjadi simulasi kosong yang hanya memperdaya.

Tahap pertama dalam perjalanan ini dimulai dengan niat mulia—penelitian asli. Artikel yang diterbitkan penuh dengan data yang akurat dan analisis yang tajam. Bagi pembaca, artikel itu adalah cermin yang jujur, merefleksikan realitas sesungguhnya. Semua tampak baik-baik saja. “Ya, ini dia,” kata para pembaca, “Inilah kebenaran ilmiah!”

Namun, seperti kisah detektif yang terlalu sibuk untuk makan siang, dalam tahap berikutnya, para peneliti mulai sedikit ceroboh. Mereka mulai merasa terburu-buru untuk menghasilkan lebih banyak artikel, bahkan jika itu berarti harus mengubah beberapa fakta di sana-sini. Tidak terlalu parah, mungkin hanya sedikit “memoles” data agar tampak lebih meyakinkan. Seperti halnya detektif yang menemukan bukti palsu dan memutuskan, “mungkin ini cukup baik untuk mengelabui para juri.”

Lalu, tibalah tahap yang paling ironis: riset yang diterbitkan tidak lagi berhubungan dengan kenyataan. Penelitian ini hanya tampak ilmiah di permukaan, tetapi jika kita menggali lebih dalam, tidak ada yang signifikan di baliknya. Ini seperti peneliti yang mengklaim menemukan harta karun, tetapi saat Anda membuka peti, isinya hanya udara kosong. Para peneliti pada tahap ini tidak menyadari bahwa mereka sedang bermain sulap—tapi sulap yang tidak ada penontonnya. “Yes, inilah kebenaran!” mereka serukan, padahal itu hanyalah tiruan murahan dari penelitian yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, kita mencapai tahap puncak—simulacrum murni. Di sini, semua orang bermain teater. Setiap artikel hanya menyalin artikel lainnya, tanpa ada realitas yang tersisa. Setiap riset tampak seperti riset, tetapi sebenarnya tidak ada isinya sama sekali. Ini adalah dunia di mana peneliti dan pembaca sama-sama berpura-pura. Di sini, kita tidak lagi peduli pada kebenaran ilmiah, melainkan hanya berupaya membuat diri kita terlihat sibuk dengan “produksi ilmu” yang tiada henti. Hasilnya? Sebuah paradoks di mana semakin banyak penelitian diproduksi, semakin sedikit ilmu yang benar-benar kita ketahui.

Mungkin, suatu hari nanti, seorang peneliti muda akan bertanya, “Mengapa kita menulis semua ini?” Dan pada saat itu, kita hanya bisa tertawa sambil berkata, “kamu baru saja memulai—selamat datang di ilusi besar bernama riset akademik!”

Erosi integritas dan kepercayaan

Ketika simulakra ketiga merayap dalam dunia akademik, ia tidak hanya mengaburkan kebenaran, tetapi juga mengikis kepercayaan. Kita terjebak dalam lingkaran absurd, di mana hasil penelitian yang direkayasa untuk memenuhi agenda tertentu diakui sebagai kebenaran. Kita lupa bahwa di balik kata-kata dan angka-angka itu, seharusnya ada upaya murni untuk memahami alam dan kehidupan.

Literatur ilmiah yang seharusnya menjadi pilar pengetahuan kini menjadi tumpukan kertas tanpa makna. Para peneliti terdorong untuk mengejar citra yang diinginkan, bukan kebenaran yang sebenarnya. Mereka tenggelam dalam hiperrealitas, di mana validitas dikorbankan demi pengakuan dan kepentingan semu.

Publikasi ilmiah sebagai simulakra ketiga adalah potret getir zaman kita. Seperti yang dikatakan oleh Baudrillard, kita hidup dalam dunia di mana representasi menjadi lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Ini adalah dunia di mana publikasi ilmiah yang terputus dari realitas asli tidak lagi memajukan ilmu pengetahuan, tetapi menciptakan labirin absurditas yang memenjarakan kita dalam ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Refleksi

Kita harus kembali mengingat esensi dari upaya ilmiah: pencarian kebenaran. Tanpa ini, kita hanyalah pembuat bayangan dalam gua Plato, terpaku pada dinding ilusi, takut menatap sinar matahari kebenaran. Seperti puisi yang indah namun kosong, publikasi ilmiah yang terputus dari realitas hanya akan menjadi catatan sunyi dalam lembar sejarah yang dilupakan.

Kita butuh kesadaran dan keberanian untuk menerobos batas-batas simulakra ini, agar kita bisa kembali menemukan cahaya pengetahuan yang sejati. Hanya dengan demikian, kita dapat menghindari terjebak dalam hiperrealitas dan absurd, dan sekali lagi menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pemandu dalam perjalanan kita memahami alam semesta.

Menguji kewibawaan akademik melalui ujian disertasi: Refleksi dan praktik terbaik

Sebagai seorang profesor yang telah banyak terlibat dalam ujian disertasi doktor, saya merasa terdorong untuk berbagi pemikiran mengenai signifikansi ujian ini dalam menguji kewibawaan seorang penguji. Lebih dari sekadar menilai disertasi, ujian ini adalah arena di mana kemampuan dan kredibilitas penguji ditempatkan di bawah sorotan. Pengalaman saya sebagai Profesor di Universitas Negeri Malang (UM) dari tahun 2022 dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) selama 12 tahun, serta peran saya dalam mengevaluasi dan memimpin berbagai penelitian, menunjukkan betapa kritisnya peran ini untuk memastikan integritas akademik dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dari perspektif ini, ujian disertasi tidak hanya merupakan evaluasi dari kandidat saja tetapi juga ujian untuk penguji itu sendiri. Sebagai penguji, kita harus dapat menunjukkan pemahaman mendalam tentang materi yang diuji dan memberikan penilaian yang adil serta konstruktif. Kredibilitas dan integritas kita sebagai penguji sangat berpengaruh terhadap kualitas akademik dan standar ilmiah yang kita wakili. Dengan demikian, melalui proses ujian ini, kita tidak hanya menilai pengetahuan kandidat tetapi juga memperkuat reputasi dan standar akademik universitas serta kontribusi kita terhadap komunitas ilmiah lebih luas.

[1] Sikap dan profesionalisme penguji: Penguji menunjukkan sikap dan profesionalismenya dengan berkomunikasi dengan sopan dan hormat kepada mahasiswa, menghargai ide dan pandangan mahasiswa, menjaga ujian tetap fokus dan konstruktif, serta menghindari komentar yang bersifat pribadi atau diskriminatif. Sebagai ilustrasi, penguji memastikan bahwa setiap pertanyaan diajukan dengan cara yang menghormati usaha penelitian mahasiswa, sehingga tidak menimbulkan perasaan malu atau tertekan pada mereka.

[2] Kemampuan dan pengetahuan penguji: Dalam dunia akademis yang penuh tantangan, peran penguji bukan hanya sebagai penilai, tetapi juga sebagai mentor yang membimbing mahasiswa melalui kompleksitas pengetahuan. Penguji yang efektif menunjukkan keahlian mendalam dan kemampuan analitis yang tajam dengan memberikan umpan balik yang berharga—saran yang membangun serta kritik yang konstruktif. Kekuatan mereka terletak pada kemampuan untuk menguraikan metodologi penelitian, mengidentifikasi celah dalam argumen atau eksperimen, dan menawarkan alternatif yang dapat meningkatkan kualitas dan keakuratan hasil penelitian. Misalnya, dalam sebuah sesi pembelaan tesis, seorang penguji mungkin menyarankan penggunaan model statistik yang lebih robust untuk meningkatkan validitas temuan penelitian. Penguji tersebut juga mampu membandingkan pekerjaan mahasiswa dengan literatur terkini, mengintegrasikan penelitian tersebut dalam konteks yang lebih luas, dan menambahkan perspektif baru yang memperkaya diskusi akademis. Dengan demikian, penguji tidak hanya mengevaluasi pengetahuan yang ada, tetapi juga mendorong penciptaan pengetahuan baru.

[3] Keterbukaan dan kemampuan berpikir kritis: Penguji tersebut tidak hanya membawa ruang untuk dialog yang mendalam, tetapi juga menonjolkan keterbukaan intelektual dan ketajaman berpikir kritisnya. Dia dengan terampil menyelami berbagai perspektif, mengurai asumsi yang tersembunyi, serta melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang mendalam terhadap metodologi penelitian. Lebih jauh, ia menawarkan solusi alternatif yang cerdas, yang menggali kemungkinan-kemungkinan baru yang belum terpikirkan. Sebagai contoh nyata dari kemampuan ini, dia berani menantang fondasi dasar dari model penelitian yang ada dan mengusulkan pendekatan baru yang mempertimbangkan variabel-variabel yang belum diperhitungkan, membuka jalan bagi penemuan dan pemahaman baru.

[4] Kedalaman pengetahuan dan kemampuan riset: Penguji tidak hanya menguasai nuansa detail, tetapi juga menunjukkan pemahaman luas tentang konteks keseluruhan penelitian. Hal ini terbukti dari kemampuannya untuk mengarahkan pembahasan menuju penemuan yang independen dan signifikan, serta kemampuan untuk memberikan kontribusi orisinal dalam bidangnya. Sebagai contoh, penguji memberikan referensi literatur terkini yang belum pernah dikenal oleh mahasiswa sebelumnya, memberikan dorongan dan arahan baru dalam eksplorasi penelitian yang lebih mendalam.

[5] Dedikasi dan ketelitian penguji: Penguji menunjukkan dedikasi dan ketelitian mereka dalam menelaah karya ilmiah dengan cara yang mendalam. Mereka tidak hanya mengajukan pertanyaan yang tajam dan spesifik mengenai isi disertasi, tetapi juga mengidentifikasi detail-detail kecil yang mungkin luput dari perhatian mahasiswa. Hal ini menunjukkan pemahaman mereka yang komprehensif terhadap metodologi penelitian yang digunakan. Lebih dari itu, mereka mempersiapkan diri secara intensif dengan membaca disertasi secara menyeluruh serta mencatat poin-poin penting yang perlu dibahas. Sebagai contoh nyata dari ketelitian mereka, penguji mendiskusikan bagian yang sangat spesifik dari metodologi yang digunakan dan memberikan saran perbaikan yang berdasarkan pada studi kasus serupa, menunjukkan dedikasi mereka untuk memastikan keakuratan dan relevansi penelitian yang disajikan.

[6] Pengalaman praktis penguji: Penguji menunjukkan pengalaman praktisnya dengan menghubungkan teori dengan praktek lapangan, memberikan contoh nyata dari pengalamannya sendiri yang relevan dengan topik penelitian, dan memberikan saran tentang bagaimana temuan penelitian dapat diterapkan di dunia nyata. Sebagai ilustrasi, penguji menjelaskan tentang proyek yang pernah mereka tangani, yang mengadopsi prinsip serupa dengan yang diusulkan dalam disertasi. Mereka memaparkan tentang tantangan yang dihadapi selama proyek tersebut dan strategi yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

[7] Persiapan dan keterampilan riset penguji: Penguji menunjukkan persiapan dan keterampilan risetnya dengan memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang disertasi, termasuk sumber dan referensi yang digunakan, mampu melakukan riset tambahan untuk memverifikasi informasi dalam disertasi, serta menilai keakuratan dan kredibilitas temuan penelitian. Dalam satu kesempatan, penguji secara proaktif menyebutkan beberapa studi tambahan yang belum tercatat dalam daftar pustaka mahasiswa. Beliau menyarankan agar studi-studi tersebut dipertimbangkan dalam revisi disertasi untuk memperkuat argumen atau metodologi yang diusulkan.

[8] Kepentingan kewibawaan penguji: Dalam dunia akademis, kewibawaan penguji tidak hanya sekedar simbol status, melainkan fondasi yang kritikal dalam menentukan integritas dan keadilan proses pendidikan. Seorang penguji yang memiliki kewibawaan tinggi tidak hanya menambah nilai kepercayaan mahasiswa terhadap proses ujian, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kualitas penilaian disertasi. Hal ini, pada gilirannya, membentuk reputasi penguji dan membuka lebih banyak peluang ke depan, baik dalam konteks akademik maupun profesional. Lebih dari itu, kewibawaan seorang penguji berkontribusi langsung terhadap citra program studi serta institusi pendidikan yang diwakilinya. Kewibawaan ini, jika dipandang dari lensa yang lebih luas, bukan hanya mengukur kemampuan individu dalam menilai karya ilmiah, tetapi juga merupakan cerminan dari nilai-nilai etis dan komitmen terhadap keilmuan yang dijunjung tinggi oleh lembaga tersebut. Dengan demikian, kehadiran penguji yang kredibel dan dihormati menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa standar akademis yang tinggi terus menerus dijaga dan dikembangkan.

Perspektif dan refleksi

Ujian disertasi, sebuah ritual akademik yang kritis, melampaui sekadar menilai kelayakan penelitian; ia merupakan medan di mana kewibawaan seorang penguji akademik itu sendiri turut diuji. Landasan filosofis di balik proses ini mengandaikan bahwa dedikasi, pengetahuan, profesionalisme, dan kemampuan berpikir kritis yang ditunjukkan oleh penguji bukan hanya mempengaruhi hasil ujian, tetapi juga menciptakan kepercayaan dan pengakuan dari komunitas akademik yang lebih luas. Ini, pada gilirannya, membuka jalan bagi peluang baru dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Seorang penguji dalam ujian disertasi bukan hanya bertugas sebagai evaluator yang kritis, tetapi juga sebagai mentor yang memberi inspirasi. Kehadiran mereka yang berwibawa dan memotivasi tidak hanya membimbing mahasiswa untuk menavigasi kompleksitas penelitian mereka, tetapi juga untuk mencapai potensi terbaik yang dapat mereka capai. Dalam hal ini, penguji yang efektif ialah mereka yang bisa mengangkat standar penelitian dengan memberikan wawasan yang mendalam dan membuka pikiran mahasiswa terhadap kemungkinan-kemungkinan baru dalam penelitian mereka.

Melalui refleksi ini, menjadi jelas bahwa proses ujian disertasi adalah lebih dari sekedar evaluasi; itu adalah sebuah peluang untuk memperdalam kualitas interaksi akademis dan pengembangan intelektual. Dengan demikian, seorang penguji harus berupaya untuk tidak hanya mempertahankan keakuratan ilmiah dan integritas akademis, tetapi juga untuk memfasilitasi pertumbuhan intelektual dan profesional mahasiswa. Penguji yang mampu melakukan hal ini akan secara signifikan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan.

Antara keahlian dan kredensial: Menggali makna dan misrepresentasi gelar profesional

Dalam konteks budaya Indonesia dan Jepang, gelar profesional seperti “Profesor” dan “Sensei” tidak hanya mencerminkan pencapaian akademik atau keahlian individu, tetapi juga membawa implikasi sosial yang signifikan. Di Indonesia, gelar “Profesor” sering dianggap sebagai simbol status yang membuka akses ke peluang sosial dan profesional yang lebih luas. Namun, keinginan untuk mendapatkan pengakuan ini terkadang mendorong beberapa individu ke jalur yang kurang etis, seperti melakukan manipulasi dalam proses kenaikan pangkat untuk memenuhi target penilaian, hingga membeli gelar palsu, yang pada gilirannya dapat merusak integritas akademik dan profesional.

Sebaliknya, di Jepang, “Sensei” adalah bentuk penghormatan yang diberikan kepada individu yang diakui atas keahlian dan kontribusi nyata mereka di berbagai bidang. Ini menunjukkan bahwa penghargaan atas keahlian di Jepang lebih bersifat organik dan berbasis pada pengakuan masyarakat daripada hanya pencapaian gelar. Di Jepang, seorang profesor dipanggil dengan sebutan “Sensei”. 

Kontras ini mengajukan pertanyaan penting tentang nilai yang kita tempatkan pada pendidikan dan keahlian dalam masyarakat modern. Apakah kita lebih menghargai tanda-tanda eksternal dari pencapaian seperti gelar, atau apakah kita harus lebih menekankan pengakuan atas kemampuan nyata dan kontribusi kepada masyarakat? Fenomena gelar (apalagi gelar yang diperoleh dengan cara yang tidak wajar) di Indonesia menunjukkan perlunya pembaharuan dalam sistem pendidikan dan profesional untuk memastikan bahwa gelar yang diberikan benar-benar mencerminkan keahlian dan pengetahuan yang sebenarnya. Dengan demikian, kita dapat lebih menghormati dan menghargai mereka yang benar-benar berkontribusi kepada pengetahuan dan kesejahteraan bersama. 

Makna panggilan “Sensei” dan “Prof” bagi orang Jepang dan Indonesia

Di Jepang, panggilan “Sensei” memiliki makna yang sangat menghormati dan digunakan dalam berbagai konteks untuk menunjukkan penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki keahlian atau pengetahuan yang mendalam dalam suatu bidang tertentu. Secara harfiah, “Sensei” berarti “orang yang lahir lebih dulu,” yang mengimplikasikan kebijaksanaan dan pengalaman yang diperoleh seiring waktu.

Penggunaan panggilan “Sensei” umumnya terkait dengan guru atau instruktur, baik di sekolah, universitas, atau dalam konteks pelatihan, seperti seni bela diri. Namun, istilah ini juga dapat digunakan untuk profesional seperti dokter, pengacara, atau seniman, sebagai tanda pengakuan terhadap keahlian mereka. “Sensei” menyiratkan tingkat kehormatan dan rasa hormat yang tinggi dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang lebih muda atau oleh mereka yang belajar atau mendapatkan bimbingan dari individu yang bersangkutan.

Panggilan “Prof” di Indonesia memang sering dikaitkan dengan simbol status dan prestasi akademik. Ini mirip dengan penggunaan “Sensei” di Jepang, namun ada beberapa perbedaan dalam konteks dan nuansa.

Di Jepang, “Sensei” digunakan lebih luas dan tidak terbatas pada konteks akademis. Seperti yang telah disebutkan, istilah ini bisa merujuk pada guru, dokter, pengacara, seniman, dan ahli lainnya. Ini mencerminkan penghormatan terhadap keahlian dan pengalaman di berbagai bidang, bukan hanya pendidikan tinggi. Selain itu, “Sensei” juga menekankan aspek pembimbing atau pendidik, tidak sekadar menunjukkan gelar atau posisi.

Sementara di Indonesia, “Prof” sebagai singkatan dari “profesor” lebih spesifik digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mencapai puncak karir akademis di perguruan tinggi atau universitas. Panggilan ini bisa menjadi simbol status karena menggambarkan pencapaian akademik yang tinggi dan posisi yang dihormati dalam masyarakat.

Secara keseluruhan, kedua istilah tersebut memang digunakan sebagai tanda penghormatan dan pengakuan terhadap keahlian seseorang, tetapi konteks dan penggunaan keduanya berbeda tergantung pada budaya dan tradisi masing-masing negara.

Antara keahlian dan kredensial

Ada perbedaan signifikan dalam bagaimana gelar “Profesor” dan “Sensei” diperoleh dan dihargai dalam masyarakat Indonesia dan Jepang.

Di Indonesia, gelar “Profesor” sering kali dikejar sebagai pencapaian akademik dan profesional. Mendapatkan gelar Profesor melibatkan proses yang panjang dan ketat, termasuk pendidikan tinggi, penelitian yang ekstensif, publikasi, dan pengajaran. Ini adalah gelar resmi yang diberikan oleh institusi akademik, dan sering kali dikaitkan dengan prestasi dan status sosial. Gelar ini juga dapat membuka lebih banyak peluang dalam karir akademik dan profesional, membuatnya menjadi tujuan yang diinginkan banyak akademisi.

Sementara itu, di Jepang, “Sensei” adalah istilah yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Sensei digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan dan keahlian mendalam dalam bidang tertentu. Ini bukan gelar yang dikejar dalam cara yang sama seperti gelar akademik, tetapi lebih merupakan pengakuan dari masyarakat terhadap kemampuan dan kontribusi seseorang. Oleh karena itu, menjadi “Sensei” lebih tentang diakui oleh orang lain daripada mencapai sebuah gelar.

Dengan demikian, di Jepang, status “Sensei” lebih berkaitan dengan penghormatan dan pengakuan atas keahlian individu dan kurang sebagai simbol status yang dikejar melalui jalur akademik atau profesional formal.

Fenomena sosial status gelar 

Telah terungkap dalam pemberitaan media bahwa beberapa individu telah berani membeli gelar “palsu” dari institusi yang tidak kredibel dan bahkan melakukan penipuan untuk memperolehnya. Di Indonesia, terdapat kasus di mana mantan pejabat dan pejabat yang memperoleh gelar Profesor yang diragukan keabsahannya dari luar negeri, kemudian mereka secara sengaja memanfaatkan gelar tersebut untuk meningkatkan status sosial mereka. Selanjutnya, terdapat peristiwa di mana Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, mencabut gelar profesor seseorang karena terdapat indikasi kecurangan dalam proses pengusulan gelar yang disetarakan dari luar negeri.

Memang, karena gelar “Profesor” sering kali dianggap sebagai simbol status dan prestasi yang tinggi di Indonesia, ini bisa memicu beberapa orang untuk mencari jalan pintas demi mendapatkan gelar tersebut. Keinginan kuat untuk mendapatkan pengakuan sosial, peningkatan status ekonomi, dan peluang karir yang lebih baik bisa mendorong individu untuk membeli gelar palsu dari institusi yang tidak kredibel atau bahkan terlibat dalam kegiatan penipuan untuk mendapatkannya.

Praktik semacam ini tidak hanya merendahkan nilai pendidikan yang sebenarnya tetapi juga merusak integritas sistem pendidikan dan profesional secara keseluruhan. Ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih dalam tentang nilai pengetahuan dan keahlian yang otentik serta perlunya lembaga pendidikan dan masyarakat umum untuk menjaga standar tinggi dalam pendidikan dan penghargaan profesional.

Di sisi lain, “Sensei” di Jepang adalah sebuah penghormatan yang diberikan berdasarkan pengakuan atas keahlian nyata dan kontribusi seseorang, yang sulit untuk dipalsukan karena didasarkan pada penilaian sosial dan profesional atas kemampuan individu tersebut. Ini menciptakan dinamika yang sangat berbeda dalam hal pencapaian dan pengakuan profesional di kedua budaya tersebut.

Saya yang disebut “Prof”

Saya mengambil foto saat menghadiri upacara wisuda di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2022, di mana saya pernah menjabat sebagai profesor penuh selama 12 tahun dan secara total telah menjadi dosen di sana selama 20 tahun.

Di tengah malam yang kelam, saat bintang-bintang enggan menampakkan diri, saya terjaga. Tidak oleh mimpi buruk atau suara bising, tetapi oleh sebuah renungan mendalam yang tiba-tiba menyergap saya. “Siapa saya ini, yang disebut profesor?” Sebuah pertanyaan yang menggali ke inti eksistensi kita sebagai makhluk berpikir. Di negeri ini, di mana gelar seringkali dianggap sebagai puncak pencapaian, pertanyaan ini menjadi sangat relevan.

Itulah, pengetahuan. Sebuah kata yang sering terdengar tapi jarang benar-benar dipahami. Pengetahuan adalah mata air, tetapi mata air itu sendiri tidak cukup untuk memberi kehidupan. Seorang profesor bisa berdiri di puncak gunung pengetahuan, tetapi apakah ia juga berdiri di puncak gunung kebijaksanaan? Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengetahui; ada sesuatu yang disebut memahami. Dan memahami ini adalah sebuah seni, seni yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah atau diukur dalam angka-angka.

Kemudian, ada keterampilan berpikir kritis, sebuah kemampuan untuk membaca dunia dalam semua kompleksitasnya. Tapi, ironisnya, dunia akademik, tempat di mana keterampilan ini seharusnya diasah, seringkali justru menjadi tempat di mana keterampilan ini dikubur. Di bawah tumpukan angka, statistik, dan publikasi, di mana letak ruang untuk berpikir kritis? Di mana letak ruang untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman?

Kreativitas, kata yang indah tetapi sering terpinggirkan. Di dunia yang serba terstruktur, di mana semuanya diukur dan dinilai, di mana letak ruang untuk imajinasi? Di mana letak ruang untuk keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan? Mungkin seorang profesor pandai dalam memecahkan masalah, namun pandaikah dia dalam menciptakan solusi-solusi baru?

Dan, tentu saja, ada integritas akademik. Sebuah pilar yang sering dianggap sepele tetapi sebenarnya adalah fondasi dari semua pilar lainnya. Tanpa integritas, semua pencapaian akademik hanyalah sebuah ilusi, sebuah mimpi yang indah tetapi kosong. Di zaman ini, di mana angka dan gelar seringkali menjadi ukuran keberhasilan, apakah kita masih mempertahankan integritas kita?

Saya merenung, dan renungan ini adalah sebuah pertanyaan yang terus menggantung di udara, seolah-olah menunggu jawaban dari kita semua. Di Indonesia, di mana jumlah profesor terus bertambah, apakah kita telah memenuhi kriteria yang seharusnya? Ataukah kita perlu memikirkan ulang apa arti menjadi seorang intelektual?

Mungkin tiba saatnya kita merenung lebih dalam, melampaui sekadar angka dan gelar yang seringkali mengekang. Apakah yang kita kejar ini, dengan segala ambisinya, merupakan esensi dari kebermaknaan hidup? Karena, menjadi seorang intelektual, kata itu, bukanlah sekadar memenuhi daftar kriteria, melainkan sebuah tindakan berdampak, sebuah resonansi yang mempengaruhi dunia, dan lebih dari itu, sebuah pemahaman diri.

Empat pilar intelektual yang kita agungkan, pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas akademik, menjadi bahan renungan saya. Apakah saya, dalam peran saya sebagai akademisi, telah memenuhi keempat pilar ini? Ataukah saya hanyalah seorang pelaku akademik yang terperangkap dalam labirin sistem?

Dalam renungan dan keheningan ada kesadaran bahwa intelektual itu adalah perjalanan tanpa akhir, bukan sebuah destinasi, tetapi tentang bagaimana kita terus belajar, bagaimana kita mempengaruhi, dan yang paling penting, bagaimana kita memahami diri kita sendiri. Gelar profesor, dan sebutan “Prof”, adalah lebih dari sekadar gelar atau angka; saya adalah entitas yang terus bermetamorfosis, yang terus bergerak dalam pencarian makna. Itulah intelektualias sebenarnya.

Malam itu, saya tidur, tetapi dengan kesadaran yang lebih mendalam tentang diri saya dan tentang apa yang sebenarnya saya kejar dalam hidup ini. Saya tidur dengan harapan bahwa, mungkin saja, kita semua akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang, seolah menunggu untuk dijawab. Dan mungkin, hanya mungkin, jawaban itu akan membawa kita ke sebuah kebenaran yang lebih besar, sebuah kebenaran yang akan membebaskan kita dari semua label dan batasan yang kita, atau mungkin dunia, ciptakan.