When the scientific publication is an illusion

Imagine strolling through a bustling market, where everyone is busy exchanging goods with paper and coins, fully believing that this swapping is fair and valuable. We all agree that these papers and metals—money—hold value, even though in reality, they are just ordinary objects whose intrinsic worth is far from what we believe. We live within this shared agreement, a collective illusion that allows our society to function and thrive.

Now, think of the academic world as a marketplace of knowledge, where the currency is not money but scholarly publications. Here, academics ‘buy’ reputation and recognition by ‘spending’ through articles and research they publish. Like money, the value of these publications largely relies on an agreement—that they add value to the human knowledge bank. Yet, if we delve deeper, we might begin to wonder: Do scholarly publications truly have the intrinsic value that we believe in?

In academia, we often focus on scientific publications as the main yardstick of progress and success. We’re trained to pursue publications from early on, thinking that they are crucial for career advancement, acknowledgment, and even job stability. However, like money which only holds value because we agree it does; many scientific publications may not truly impact or significantly contribute to science. They gain importance simply because we believe they do.

We’re stuck in this illusion for various reasons. Scientific research, like money, facilitates the exchange of ideas and knowledge. It provides a way to assess and preserve our ‘intellectual wealth’. Our social and academic structure is built on the understanding that publication is valuable currency, and from a young age, academics are taught to appreciate and delve into publications as a symbol of success.

But perhaps it’s time for us to question and contemplate this value system. Do we need to keep evaluating scientific and academic progress only through the number of publications? Or are there other ways to appreciate contributions that truly have an impact and meaning?

Seeing scholarly publications as a mirage doesn’t imply disregarding the significance of knowledge sharing. Instead, it encourages rethinking what we prioritize and how we can create a more comprehensive and influential knowledge framework. Maybe it’s time for us to reconsider what holds importance in academia, much like currency that keeps changing its worth.

Semakin hari luaran riset semakin tidak bermakna

Tulisan yang diterbitkan di The Wall Street Journal pada 14 Maret 2024 menyoroti peningkatan jumlah publikasi ilmiah yang kehilangan makna dan nilai akibat praktik ilmiah yang buruk, termasuk ketidakjujuran dalam penelitian. Hal ini menegaskan pentingnya memprioritaskan proses penelitian yang benar dan mendidik para mahasiswa untuk mengembangkan riset yang berkualitas, bukan hanya berfokus pada publikasi cepat dan banyak yang hasilnya tidak berarti dan mencerminkan sains yang buruk.

Etika akademik dan praktik saling sitasi: Prestasi semu

Ini masalah artifisial sitasi. Saya pernah menolak undangan sebuah universitas untuk ceramah mengenai meningkatkan sitasi. Saya menolak secara halus dan mengatakan jika ceramahnya adalah mengenai bagaimana melakukan penelitian dengan cara yang baik, saya bersedia. Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar langsung dari seorang pimpinan perguruan tinggi, bahwa untuk meningkatkan peringkat, universitas harus saling sitasi. Saya juga mengamati dan melakukan penelitian kecil-kecilan mengapa ada dosen yang tiba-tiba jadi terkenal sekali di Google Scholar, yang sitasinya tiba-tiba melonjak drastis. Apakah ini beretika? Untuk mengetahui apakah ada permainan kita dapat melakukan penelitian sederhana secara sistematis.

Untuk mengetahui apakah ada permainan, kita dapat melakukan penelitian sederhana secara sistematis. Langkah pertama adalah dengan mengecek profil Google Scholar si dosen tersebut, dan lalu melihat statistik sitasinya, termasuk jumlah total sitasi, indeks h, dan indeks i10. Dari situ, kita bisa mengerti kalau ada perubahan mendadak dalam sitasinya.

Ketika kita menemukan terjadinya lonjakan sitasi, kemudian kita mencari publikasi mana yang sitasinya luar biasa tinggi. Ini berarti kita harus meneliti karya-karya memiliki sitasi yang tinggi atau karya-karya yang dipublikasikan pada waktu sitasinya mendadak naik. Kemudian, langkah selanjutnya adalah membaca karya tersebut supaya kita paham mengapa bisa tinggi sitasinya, apakah karena penemuannya luar biasa, ada metode baru, atau hal lainnya.

Tapi, menganalisis data sitasi saja tidak cukup buat memahami kenapa ada sitasi yang luar biasa seperti ini. Penting juga buat kita melihat konteks yang lebih luas, apakah dosen tersebut mengikuti konferensi yang besar, kolaborasi dengan peneliti terkenal, atau mendapat sorotan media yang dapat membuat karya ilmiahnya terkenal. Kita bisa menggunakan Scopus dan Web of Science, plus alat visualisasi seperti VOSviewer untuk menganalisis, dan ini bisa memberi tahu dan memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana pola sitasi dan kolaborasi dalam dunia ilmiah, yang membantu kita melihat kontribusi apa saja yang membuat sitasi melonjak tinggi.

Kita juga harus memperhatikan self-citation yang berlebihan atau “citation rings”, di mana sekelompok peneliti saling mengutip karya masing-masing buat menaikkan sitasi secara artifisial. Buat memahami dinamika seperti ini, kita perlu lebih dari sekedar menganalisis secara kuantitatif; perlu juga ada penilaian kritis terhadap kualitas dan dampak riset dari karya tersebut dalam konteks komunitas ilmiah dan masyarakat luas.

Selamat mencoba. Dari sini kita bisa tahu apakah prestasi tersebut adalah semu, betul-betul murni dan beretika. Dari cara ini saya sudah menemukan dosen-dosen ‘pemain’ tersebut.

Refleksi atas janji ilmiah dan godaan emas

“Selesaikan 1 paper terindeks Scopus dalam satu hari.”

Iklan yang muncul di Facebook saya bukan sekadar pesan komersial biasa. Ini adalah manifestasi dari usaha merangkai profit di dunia akademis. Di balik tawaran yang tersaji, tersimpan motivasi. Apakah ini semata-mata pencarian keuntungan, atau ada latar belakang yang lebih kompleks?

Di tengah dunia akademis, kita menemukan diri kita terhanyut dalam pertanyaan yang tak kunjung usai? Seorang dosen dan sekaligus peneliti, dalam keheningan ruang kerjanya, menatap layar yang memancarkan janji: sebuah karya ilmiah, terindeks oleh Scopus, rampung dalam sehari. Bisakah ini menjadi kenyataan, atau sekedar ilusi yang menggoda imajinasi?

Pertama, kecepatan menjadi dewa yang kita sembah. Indeksasi, sebuah altar di mana kita mempersembahkan karya. Namun, di balik gemerlapnya janji ini, tersembunyi sebuah tanya: apakah ini ukuran sejati dari keilmuan?

Revolusi, sebuah kata yang menggema dari masa ke masa, mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bergerak linier. Ia melompat, berubah, mengguncang fondasi yang ada. Bukan sekedar penumpukan, melainkan pergeseran yang mendalam. Dalam kejaran produksi dan pengakuan instan, mungkin kita lupa pada esensi yang lebih mendalam: penciptaan yang benar-benar berarti.

Dilema antara kualitas dan kuantitas bukanlah hal baru. Di era yang mengagungkan angka dan pengukuran, kita terjebak dalam jaring bibliometri yang seolah-olah menjadi penentu mutu. Namun, karya yang benar-benar berdampak, seringkali membutuhkan waktu lebih dari sekedar hitungan hari. Pandangan salah kaprah ini juga digunakan dalam pemeringkatan.

Apakah, dengan kecepatan dan pengakuan instan, kita akan melihat kemajuan? Jawabannya bukan hitam dan putih. Jika kita hanya mengejar pengakuan, mungkin kita akan kehilangan inti dari apa yang membuat penelitian berharga: keberanian untuk bertanya, untuk mengeksplorasi, untuk melampaui batas.

Kita harus kembali ke dasar: menghargai proses, pertanyaan yang mendalam, dan keberanian untuk berinovasi. Di negeri kita, tantangan ini menjadi lebih nyata. Bukan sekedar produksi cepat yang kita butuhkan, melainkan kualitas yang dapat memberi makna lebih bagi masyarakat.

Namun, ada dimensi lain yang sering terlupakan: motif komersial. Fenomena ini bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, melainkan tentang uang. Dalam dunia yang semakin materialistis, uang menjadi tujuan akhir yang memabukkan.

Apa yang terjadi ketika uang menjadi tujuan utama? Kita mulai mengorbankan nilai intrinsik dari apa yang kita lakukan. Dalam penelitian, ini berarti kualitas dikorbankan demi kuantitas, inovasi demi kecepatan, dan pengakuan jangka pendek daripada kontribusi jangka panjang.

Ketika uang menjadi pendorong, kita berisiko menghilangkan nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi ilmu pengetahuan: kejujuran, ketelitian, dan komitmen terhadap pengetahuan yang autentik. Ini menciptakan lingkungan di mana kebenaran ilmiah bisa terdistorsi oleh kepentingan komersial.

Penting bagi kita untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang kita pegang. Apakah kita ingin hidup dalam dunia yang diukur dengan uang, atau kita berani membayangkan sistem nilai yang lebih beragam, yang menghargai kontribusi intelektual dan sosial di atas segalanya?

Kita harus kembali kepada prinsip dasar ilmu pengetahuan dan penelitian yang etis, di mana pencarian pengetahuan dilakukan tidak untuk keuntungan finansial semata, melainkan untuk kemajuan bersama. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan keberanian, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi.

Saya mengakui, renungan ini mungkin hanya akan menjadi bisikan lembut di tengah hiruk-pikuk badai yang tak henti-hentinya mengejar prestasi. Prestasi yang, ironisnya, seringkali hanya berselimut angka-angka semu, menawarkan kehangatan palsu di tengah gurun kebenaran yang tandus.

Menelusuri esensi sejati keahlian dan intelektualisme

“Ini adalah zaman yang berbahaya. Tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang memiliki akses ke begitu banyak pengetahuan, dan namun begitu resisten untuk belajar apa pun.”

— Tom Nichols, The Death of Expertise

Ada bisikan halus yang sering terabaikan: tidak semua yang berjalan di koridor ilmu dengan jubah kehormatan memegang obor pengetahuan sejati. Gelar profesor, mahkota akademis yang diidamkan, tidak selalu menjamin pemiliknya adalah pelayar yang mahir di lautan intelektual. Di balik tirai angka dan kredit unit kinerja, ada cerita lain yang tersembunyi, cerita tentang perjalanan yang kadang lebih mirip jalan setapak di hutan daripada jalan lurus menuju puncak kebijaksanaan.

Dalam dunia akademis, di mana kenaikan pangkat sering kali diukur dengan metrik yang kaku dan kuantitatif, kita diajak bertanya: Apakah esensi keahlian dan intelektualisme hanya terukur dengan jumlah publikasi? Apakah kebenaran ilmiah dapat diwakili sepenuhnya dalam indeks sitasi? Ada ironi yang menyertai sistem yang memungkinkan seseorang untuk “mengakali” jalannya menuju puncak, dimana kualitas penelitian dan kedalaman pemikiran seringkali dikorbankan demi angka-angka yang memuaskan syarat administratif.

Namun, intelektualisme yang sejati bukanlah permainan angka. Ia adalah tarian pikiran yang berani menari di tepian pengetahuan, merenungkan masalah sosial, dan berkontribusi pada diskusi publik dengan wawasan yang mendalam. Seorang intelektual atau ahli sejati didefinisikan tidak hanya oleh jumlah publikasinya, tetapi oleh kualitas pemikirannya, kemampuannya untuk mempertanyakan dan mengkritik, serta dedikasinya terhadap pencarian kebenaran dan pengetahuan.

Dalam konteks yang lebih luas, seperti yang digambarkan oleh “The Death of Expertise“, kita menyaksikan bagaimana masyarakat global telah bergerak menuju penolakan terhadap keahlian dan pengetahuan yang didirikan. Ini adalah era di mana akses luas terhadap informasi sering kali tidak disaring atau diverifikasi, memperkuat narasi bahwa pengetahuan yang didirikan tidak lagi relevan atau dapat dipercaya. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan krisis dalam dunia akademis tetapi juga menandakan pergeseran dalam cara kita sebagai masyarakat memandang keahlian dan pengetahuan. Dalam bukunya diungkapkan bahwa para ahli terkadang gagal. Ia mengatakan bahwa jawaban terbaik untuk ini adalah kehadiran korektif dari ahli lain untuk mengenali dan memperbaiki kegagalan sistemik. Ini juga maksud dari tulisan ini.

Kita berada di persimpangan jalan, di mana dialog antara ahli dan masyarakat umum menjadi semakin penting. Untuk menjembatani jurang yang memisahkan keahlian dari masyarakat luas, kita harus merenungkan kembali nilai-nilai dan kriteria yang kita gunakan dalam menilai keberhasilan akademis. Mungkin, saatnya kita mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dan kualitatif, yang tidak hanya mempertimbangkan dampak intelektual dan kontribusi terhadap masyarakat, tetapi juga menghargai kemampuan mengajar dan pembelajaran seumur hidup.

Di akhir cerita, gelar dan posisi akademik mungkin merupakan indikator pencapaian dalam bidang tertentu, namun esensi sejati dari menjadi seorang ahli atau intelektual terletak pada kemampuan untuk terus bertanya, belajar, dan berbagi. Dalam perjalanan menuju kebijaksanaan, mungkin yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita berjalan, tetapi seberapa dalam jejak yang kita tinggalkan.

Standar untuk program doktor dalam pendidikan kimia

Ini merupakan draf yang telah saya susun dan digunakan sebagai bahan awal dalam penyusunan panduan Standar Program Doktor Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Malang (UM). Diskusi awal berdasarkan draf standar ini telah dilakukan di Departemen Kimia UM pada tanggal 17 Januari 2024, yang dihadiri oleh seluruh dosen program pasca sarjana pendidikan kimia UM. Tulisan ini juga berkaitan dengan tulisan saya sebelum ini yang berjudul “Inovasi, Aplikasi, dan Kontribusi Ilmiah: Perspektif dalam Menilai Tesis Doktoral Pendidikan Kimia.” dan “Menyemai makna dalam disertasi doktor.”

Hadi Nur, Departemen Kimia, Universitas Negeri Malang

Daftar isi

1Pendahuluan
1.1Sifat Pendidikan Kimia yang Terus Berkembang dan Koneksi Lintas Disiplin Ilmu
1.2Kebutuhan Standar yang Diperbarui untuk Mencerminkan Praktik dan Metodologi Terkini dalam Pendidikan Kimia
2Rasional
2.1Pentingnya Pendidikan Kimia di Berbagai Sektor
2.2Kebutuhan Pendidik dan Peneliti Berkualitas Tinggi di Bidang Pendidikan Kimia
3Program Doktor dalam Pendidikan Kimia
3.1Tujuan Program
3.2Hasil yang Diharapkan
4Standar untuk Program Doktor dalam Pendidikan Kimia
4.1Pengetahuan Umum dan Spesifik dalam Pendidikan Kimia
4.2Familiaritas dengan Literatur Penelitian dan Perkembangan Terkini dalam Pendidikan Kimia
4.3Kemampuan Mengenali Masalah dan Pertanyaan Penelitian yang Berarti dalam Pendidikan Kimia
4.4Kemampuan Teknis dalam Praktik dan Pengajaran Laboratorium Kimia
4.5Kemampuan Komunikasi Lisan, Tertulis, dan Visual dalam Pendidikan Kimia
4.6Kemampuan Merancang Protokol Penelitian dan Melakukan Penelitian Mandiri yang Produktif dalam Pendidikan Kimia
5Penilaian dan Evaluasi
6Peran Kursus Pascasarjana Formal dalam Pendidikan Kimia
7Tanggung Jawab Pembimbing Utama dalam Pendidikan Kimia
8Tanggung Jawab Akademisi Selain Pembimbing Utama dalam Pendidikan Kimia
9Tanggung Jawab Kandidat dalam Program doktor Pendidikan Kimia
10Durasi Pelatihan Doktoral dalam Pendidikan Kimia
11Tesis Doktoral dalam Pendidikan Kimia
12Beberapa hal yang juga dapat dipertimbangkan
13Kesimpulan

1. Pendahuluan

1.1. Sifat Pendidikan Kimia yang Terus Berkembang dan Koneksi Lintas Disiplin Ilmu

  • Pendidikan kimia tidak berdiri sendiri; ia terus berkembang dan berinteraksi dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Ini mencakup tidak hanya aspek kimia murni tetapi juga aplikasinya dalam bidang seperti psikologi, neurosains, biologi, fisika, dan teknik.
  • Perkembangan ini mencerminkan kemajuan dalam penelitian kimia dan teknologi, serta kebutuhan untuk mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang untuk mengatasi tantangan kontemporer.
  • Pendidikan kimia modern harus mencakup aspek lintas disiplin ini, mempersiapkan lulusan untuk bekerja dalam lingkungan yang semakin terintegrasi dan multidisipliner.

1.2. Kebutuhan Standar yang Diperbarui untuk Mencerminkan Praktik dan Metodologi Terkini dalam Pendidikan Kimia

  • Standar pendidikan dan pelatihan dalam pendidikan kimia harus terus diperbarui untuk mencerminkan perubahan dalam pengetahuan disiplin dan praktik terbaik dalam pengajaran dan penelitian.
  • Teknologi digital seperti MOOCs, aplikasi, dan simulasi virtual telah memperkaya pembelajaran kimia dengan visualisasi interaktif, sementara alat analisis data dan teknik statistik modern, termasuk bioinformatika dan big data, telah merevolusi penelitian kimia. Ini memungkinkan identifikasi pola dan tren baru, meningkatkan pemahaman dan inovasi, serta mencerminkan perkembangan terkini dalam kimia dan pendidikan.
  • Standar yang diperbarui ini penting untuk memastikan bahwa lulusan doktor dalam pendidikan kimia dilengkapi dengan keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang relevan untuk karir mereka di masa depan.

2. Rasional

2.1. Pentingnya Pendidikan Kimia di Berbagai Sektor

  • Pendidikan kimia memiliki peran krusial tidak hanya dalam lingkungan akademik tetapi juga dalam industri dan kebijakan publik.
  • Dalam sektor industri, pengetahuan kimia diperlukan untuk inovasi dan pengembangan produk baru, serta untuk memahami dan mengimplementasikan proses kimia secara efisien dan berkelanjutan.
  • Dalam konteks kebijakan publik, pemahaman tentang kimia penting untuk membuat keputusan yang tepat tentang isu-isu seperti kesehatan lingkungan, keamanan produk, dan regulasi.
  • Di lingkungan akademik, pendidikan kimia berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta melatih generasi berikutnya dari ilmuwan dan pendidik.

2.2. Kebutuhan Pendidik dan Peneliti Berkualitas Tinggi di Bidang Pendidikan Kimia

  • Ada kebutuhan yang meningkat untuk pendidik dan peneliti yang berkualitas tinggi dalam bidang pendidikan kimia untuk mengatasi tantangan kontemporer dan masa depan.
  • Pendidik kimia harus mampu mengintegrasikan pengetahuan terbaru dan metode pengajaran inovatif untuk mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang relevan.
  • Peneliti dalam pendidikan kimia harus mampu melakukan penelitian yang berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang cara mengajar dan belajar kimia secara efektif.

3. Program Doktor dalam Pendidikan Kimia

3.1. Tujuan Program

  • Program ini bertujuan untuk melatih peneliti dan pendidik yang tidak hanya kompeten dalam bidang kimia, tetapi juga inovatif dan etis.
  • Fokusnya adalah pada pengembangan kemampuan untuk melakukan penelitian yang berdampak dengan cara yang efektif dan inovatif.
  • Program ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial dalam konteks pendidikan kimia.

3.2. Hasil yang Diharapkan

  • Lulusan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan pada kemajuan pendidikan kimia.
  • Ini termasuk kemampuan untuk melakukan penelitian yang memajukan bidang, mengembangkan metode pengajaran yang efektif, dan berkontribusi pada kebijakan pendidikan kimia.
  • Lulusan juga diharapkan dapat mengintegrasikan pengetahuan kimia dengan pendekatan pedagogis yang efektif untuk mempengaruhi praktik pendidikan kimia secara positif.

4. Standar untuk Program Doktor dalam Pendidikan Kimia

4.1. Pengetahuan Umum dan Spesifik dalam Pendidikan Kimia

  • Pengetahuan Umum: Kandidat harus menunjukkan pengetahuan umum yang kuat dalam bidang fisika, kimia, biologi, dan biokimia, yang merupakan dasar dari pendidikan kimia. Ini termasuk pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar dan konsep-konsep kunci dalam disiplin-disiplin ini.
  • Pengetahuan Spesifik dalam Kimia: Kandidat harus memiliki pengetahuan mendalam tentang kimia, termasuk kimia anorganik, organik, fisik, analitik, dan biokimia. Ini mencakup pemahaman tentang struktur molekul, reaksi kimia, mekanisme, dan aplikasi praktis dari konsep-konsep kimia.
  • Pendidikan Kimia: Selain pengetahuan kimia, kandidat juga harus memahami teori dan praktik pendidikan kimia. Ini termasuk metode pengajaran yang efektif, pengembangan kurikulum, penilaian, dan pendekatan pedagogis yang beragam dan inklusif.
  • Penelitian dalam Pendidikan Kimia: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk melakukan penelitian dalam pendidikan kimia, yang mencakup desain penelitian, metodologi, analisis data, dan interpretasi hasil. Penelitian ini harus relevan dengan tantangan dan kebutuhan saat ini dalam pendidikan kimia.
  • Area Penelitian Khusus: Kandidat harus memiliki pengetahuan terperinci tentang area penelitian spesifik mereka dalam pendidikan kimia. Ini bisa mencakup topik seperti pembelajaran berbasis inkuiri, penggunaan teknologi dalam pengajaran kimia, strategi untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia, atau pendekatan untuk meningkatkan akses dan inklusi dalam pendidikan kimia.

4.2. Familiaritas dengan Literatur Penelitian dan Perkembangan Terkini dalam Pendidikan Kimia

  • Familiaritas dengan Literatur Penelitian: Kandidat harus akrab dengan literatur penelitian terkini dalam pendidikan kimia. Ini termasuk pemahaman tentang studi-studi terkini, teori-teori pendidikan, dan metodologi penelitian yang relevan dengan pendidikan kimia.
  • Pembaruan dengan Perkembangan Terkini: Kandidat harus memiliki kemampuan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru dalam pendidikan kimia. Ini melibatkan keterampilan dalam mencari dan menilai informasi dari berbagai sumber, termasuk jurnal akademik, konferensi, dan publikasi profesional.
  • Latar Belakang Kerja di Berbagai Area: Kandidat harus mampu memperoleh latar belakang kerja yang solid di berbagai area dalam pendidikan kimia. Ini termasuk kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan topik baru dan mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai sub-bidang kimia dan pendidikan ke dalam penelitian dan praktik pengajaran mereka.
  • Keterampilan Analisis Kritis: Kandidat harus dapat menganalisis secara kritis literatur penelitian, mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan celah dalam penelitian yang ada, serta menentukan implikasi dari temuan penelitian untuk praktik pengajaran dan pembelajaran kimia.
  • Kontribusi pada Literatur: Kandidat diharapkan tidak hanya mengikuti tetapi juga berkontribusi pada literatur penelitian dalam pendidikan kimia. Ini melibatkan pengembangan dan publikasi penelitian orisinal yang menambahkan wawasan baru atau mengatasi tantangan dalam bidang tersebut.

4.3. Kemampuan Mengenali Masalah dan Pertanyaan Penelitian yang Berarti dalam Pendidikan Kimia

  • Mengidentifikasi Masalah Penting: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk mengenali masalah dan pertanyaan penelitian yang berarti dalam konteks pendidikan kimia. Ini melibatkan pemahaman tentang tantangan saat ini dan kebutuhan dalam pendidikan kimia, baik di tingkat teoritis maupun praktis.
  • Pengembangan Pertanyaan Penelitian: Kandidat harus mampu merumuskan pertanyaan penelitian yang jelas dan terfokus yang bertujuan untuk mengatasi celah pengetahuan atau masalah praktis dalam pendidikan kimia. Pertanyaan ini harus relevan, dapat diuji, dan berpotensi memberikan kontribusi signifikan pada bidang tersebut.
  • Kreativitas dan Inovasi: Kandidat diharapkan untuk menunjukkan kreativitas dan pemikiran inovatif dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah penelitian. Mereka harus mampu menghubungkan ide-ide dari berbagai area dalam kimia dan pendidikan untuk menghasilkan pendekatan baru dalam penelitian.
  • Analisis Kritis Terhadap Literatur: Kandidat harus mampu melakukan analisis kritis terhadap literatur penelitian yang ada untuk mengidentifikasi kekurangan dalam pengetahuan saat ini dan menemukan peluang untuk penelitian baru.
  • Penerapan Pengetahuan ke dalam Praktik: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan teoritis ke dalam konteks praktis pendidikan kimia, mengidentifikasi bagaimana penelitian mereka dapat mempengaruhi praktik pengajaran dan pembelajaran kimia.

4.4. Kemampuan Teknis dalam Praktik dan Pengajaran Laboratorium Kimia

  • Keterampilan Laboratorium Kimia: Kandidat harus memiliki keterampilan teknis yang kuat dalam manipulasi laboratorium kimia. Ini termasuk kemampuan untuk melakukan eksperimen kimia dengan aman dan efisien, menggunakan peralatan laboratorium, dan menerapkan teknik-teknik kimia yang sesuai.
  • Pengembangan Eksperimen Pendidikan: Kandidat diharapkan dapat merancang dan mengembangkan eksperimen laboratorium yang tidak hanya ilmiah tetapi juga pedagogis. Eksperimen ini harus dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep kimia dan mempromosikan pembelajaran aktif di kalangan siswa.
  • Penerapan Praktik Terbaik dalam Pengajaran Laboratorium: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk menerapkan praktik terbaik dalam pengajaran laboratorium, termasuk metode untuk meningkatkan keselamatan, efektivitas, dan inklusivitas dalam pengaturan laboratorium pendidikan.
  • Integrasi Teknologi dalam Laboratorium: Kandidat harus mampu mengintegrasikan teknologi terkini dalam pengajaran laboratorium, termasuk penggunaan perangkat lunak simulasi, alat-alat digital, dan metode pembelajaran berbasis online untuk meningkatkan pengalaman laboratorium.
  • Evaluasi dan Penilaian dalam Pengajaran Laboratorium: Kandidat harus memiliki kemampuan untuk mengevaluasi dan menilai kinerja siswa dalam pengaturan laboratorium, menggunakan metode penilaian yang adil, akurat, dan mendorong pembelajaran mendalam.

4.5. Kemampuan Komunikasi Lisan, Tertulis, dan Visual dalam Pendidikan Kimia

  • Keterampilan Komunikasi Lisan: Kandidat harus menunjukkan kemampuan komunikasi lisan yang efektif, termasuk kemampuan untuk menyampaikan konsep-konsep kimia yang kompleks dengan jelas dan menarik dalam berbagai pengaturan, seperti di kelas, seminar, konferensi, dan presentasi publik.
  • Keterampilan Komunikasi Tertulis: Kandidat harus memiliki keterampilan menulis yang kuat, yang memungkinkan mereka untuk menyusun materi pendidikan, artikel penelitian, proposal, dan laporan dengan jelas, ringkas, dan menarik. Ini termasuk kemampuan untuk menulis untuk audiens yang beragam, mulai dari artikel akademis hingga materi pendidikan untuk siswa.
  • Komunikasi Visual dan Penggunaan Media: Kandidat harus mampu menggunakan alat visual dan media untuk meningkatkan pengajaran dan presentasi mereka. Ini termasuk penggunaan grafik, diagram, animasi, dan teknologi presentasi untuk memperjelas konsep kimia dan meningkatkan pemahaman siswa.

4.6. Kemampuan Merancang Protokol Penelitian dan Melakukan Penelitian Mandiri yang Produktif dalam Pendidikan Kimia

  • Desain Protokol Penelitian: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk merancang protokol penelitian yang efektif dalam konteks pendidikan kimia. Ini termasuk pengembangan desain penelitian yang sesuai, pemilihan metodologi yang tepat, dan perencanaan eksperimen atau intervensi pendidikan yang sistematis dan terstruktur.
  • Penelitian Mandiri yang Produktif: Kandidat harus mampu melakukan penelitian mandiri yang produktif, yang berarti mereka dapat menginisiasi, mengelola, dan membawa penelitian mereka ke kesimpulan yang bermakna. Ini termasuk kemampuan untuk bekerja secara independen, menyelesaikan masalah, dan mengadaptasi rencana penelitian berdasarkan hasil dan umpan balik.
  • Penerapan Penelitian dalam Pengaturan Pendidikan: Kandidat harus mampu menerapkan penelitian mereka dalam pengaturan pendidikan nyata. Ini melibatkan pengujian dan evaluasi strategi pengajaran, alat penilaian, atau intervensi pendidikan dalam konteks kelas atau lingkungan pembelajaran lainnya, serta menilai efektivitas dan dampaknya terhadap pembelajaran siswa.
  • Analisis Data dan Interpretasi: Kandidat harus memiliki keterampilan dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data. Ini termasuk penggunaan metode statistik yang tepat, kemampuan untuk menarik kesimpulan yang valid dari data, dan kemampuan untuk mengkomunikasikan temuan dengan cara yang jelas dan meyakinkan.
  • Refleksi dan Penyesuaian Berkelanjutan: Kandidat harus menunjukkan kemampuan untuk merefleksikan dan menyesuaikan pendekatan penelitian mereka berdasarkan hasil, umpan balik dari rekan-rekan, dan perkembangan terbaru dalam bidang pendidikan kimia. Ini termasuk kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan terus meningkatkan praktik penelitian mereka.

5. Penilaian dan Evaluasi

  • Evaluasi kemajuan dan kompetensi kandidat doktor, termasuk output penelitian, dan kontribusi pada bidangnya.
  • Pentingnya penelitian yang relevan. Penilaian yang efektif dalam program doktor. harus mencerminkan kemampuan kandidat untuk menghasilkan penelitian yang dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, sejalan dengan isu-isu yang diangkat.

6. Peran Kursus Pascasarjana Formal dalam Pendidikan Kimia

  • Kursus atau Workshop Keterampilan Transferable: Kursus singkat atau workshop dalam keterampilan transferable seperti penulisan buku catatan penelitian dan ilmiah, presentasi, etika dalam pendidikan dan penelitian, manajemen waktu dan proyek, penyimpanan dan pengambilan informasi, pencatatan protokol eksperimental dan hasil, hak kekayaan intelektual, akuisisi dan manajemen dana penelitian, keselamatan laboratorium, pedoman eksperimen pada manusia dan penanganan hewan, keterampilan perpustakaan dan komputer, serta statistik sangat penting di awal program doktoral. Kursus ini dapat meningkatkan efektivitas dan kinerja penelitian serta meningkatkan peluang sukses kandidat dalam karier masa depan mereka.
  • Kursus Formal untuk Memperluas Basis Pengetahuan: Kursus formal sering digunakan untuk memperluas basis pengetahuan umum mahasiswa. Kursus-kursus ini harus dirancang untuk mempersiapkan kandidat untuk pembelajaran seumur hidup dan aktivitas penelitian, dengan melibatkan penggunaan literatur melalui cara tradisional dan elektronik serta berfokus pada pendidikan mandiri yang aktif.
  • Kursus Spesialisasi dalam Pendidikan Kimia: Kursus spesialisasi dalam pendidikan kimia harus dirancang tidak hanya untuk meningkatkan basis pengetahuan kandidat, tetapi juga untuk membuat mereka lebih profesional dalam pekerjaan mereka dan memungkinkan mereka menjadi komunikator yang efektif. Kursus harus interaktif dan tidak hanya berupa kuliah tradisional, sehingga mengembangkan keterampilan intelektual tingkat tinggi daripada hanya akumulasi informasi berbasis memori. Penilaian harus menguji keterampilan ini daripada pembelajaran rutin.
  • Pengembangan Sikap dan Sistem Nilai Profesional: Kursus juga harus berkontribusi pada pengembangan sikap profesional dan sistem nilai. Departemen atau institusi yang tidak memiliki fasilitas penelitian yang memadai untuk tingkat doktoral dan dimana sedikit penelitian sedang berlangsung tidak seharusnya menggunakan kursus formal sebagai pengganti penelitian laboratorium atau teoritis asli.
  • Pertimbangan Waktu dan Gangguan: Kursus dapat memakan waktu dan mengganggu pekerjaan pengumpulan data. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui kursus juga dapat diperoleh melalui cara lain, seperti kegiatan klub jurnal, tinjauan literatur tentang topik tertentu, dan seminar tentang topik yang tidak terkait dengan penelitian. Oleh karena itu, kursus formal harus dibatasi jumlah dan durasinya serta dipilih sedemikian rupa untuk memungkinkan kandidat beralih disiplin ilmu antara bergabung dengan program pascasarjana dan memulai penelitian yang akan menjadi dasar tesis mereka.
  • Kerjasama Antar-Institusi: Dalam konteks dimana sumber daya akademik dan ilmiah terbatas, kerja sama antar-institusi dapat mengatasi kekurangan lokal. Keputusan realistis dan berani dari departemen Kimia untuk tidak menawarkan program doktor karena kurangnya sumber daya manusia, finansial, fisik, dan teknis yang memadai harus dihargai.

7. Tanggung Jawab Pembimbing Utama dalam Pendidikan Kimia

  • Proyek Penelitian Berkelanjutan: Pembimbing utama harus memiliki proyek penelitian yang sedang berlangsung dan telah berkontribusi pada literatur yang ditinjau oleh rekan sejawat. Interaksi antara pembimbing dan kandidat dalam perencanaan dan pemrograman kerja serta dalam penetapan dan pemenuhan tenggat waktu merupakan pengaruh eksternal terpenting dalam pembelajaran dan pengembangan yang terjadi pada kandidat doktor.
  • Sifat, Frekuensi, dan Kualitas Bimbingan: Kemajuan dalam penelitian doktoral bergantung pada sifat, frekuensi, dan kualitas bimbingan yang diberikan kepada kandidat, terutama pada tahap awal. Praktik bimbingan yang baik dan direkomendasikan termasuk pencatatan singkat untuk jumlah pertemuan minimum yang disepakati oleh kandidat dan pembimbing utama.
  • Penyesuaian Peran Pembimbing: Peran pembimbing utama dalam mengarahkan penelitian siswa memerlukan penyesuaian dalam perspektif dan perilaku pribadi terhadap kandidat. Kandidat biasanya memulai dengan pengetahuan, keterampilan, dan perspektif yang terbatas, dan memerlukan banyak bimbingan. Namun, seiring berjalannya waktu, kandidat harus berkembang menjadi peneliti yang mandiri dan profesional.
  • Pengurangan Arah Rinci: Pembimbing harus mengurangi arahan rinci seiring dengan kemajuan proyek dan kemandirian kandidat, dan mungkin harus menerima penurunan efisiensi dalam pekerjaan laboratorium sebagai bagian dari biaya pendidikan profesional. Pembimbing dan kandidat secara bertahap menjadi rekan yang saling menghormati yang berpartisipasi dalam proyek penelitian bersama.
  • Batasan Jumlah Kandidat: Jumlah kandidat doktor yang dapat ditangani oleh setiap pembimbing utama harus dibatasi dalam batas yang wajar.
  • Kemitraan Pembimbing dan Kandidat: Pembimbing utama dan kandidat berpartisipasi sebagai mitra dalam upaya bersama tetapi tidak sebagai setara. Penting bahwa jika terjadi kesulitan dalam hubungan, jalur yang jelas dan eksplisit untuk resolusi mereka tersedia.
  • Pembimbing sebagai Mentor dan Penghubung: Karena proses pendidikan dan pelatihan doktoral mengandung unsur magang dalam penelitian, pembimbing bukan hanya guru dan mentor tetapi juga penentu utama hubungan kandidat dengan komunitas ilmiah dan peluang profesional mereka selanjutnya. Pembimbing harus membantu dan mendorong pembuatan jaringan profesional oleh kandidat, misalnya melalui partisipasi dalam pertemuan ilmiah dan internet.
  • Pemilihan Topik Tesis dan Pembimbing: Harus ada waktu yang cukup untuk memilih topik tesis dan pembimbing atau mentor setelah terpapar pada beberapa pembimbing potensial. Upaya oleh mentor potensial untuk membujuk kandidat agar berlatih dengan mereka selain dengan metode terbuka harus dihindari.

8. Tanggung Jawab Akademisi Selain Pembimbing Utama dalam Pendidikan Kimia

  • Peran Akademisi Lain: Meskipun proses pendidikan doktoral sering kali dilihat sebagai berdasarkan aspek manusia dan ilmiah dari hubungan pembimbing-kandidat, pelatihan lengkap kandidat untuk memenuhi standar ini sering kali melampaui kemampuan satu orang. Harus diakui bahwa akademisi lain dengan pengalaman dalam penelitian dan bimbingan serta di bidang spesialisasi (misalnya, statistik, teknik baru) memiliki peran penting dalam pelatihan kandidat dan harus menjadi anggota komite bimbingan kandidat.
  • Komite Bimbingan: Komite ini tidak harus dipimpin oleh pembimbing utama dan harus bertemu setidaknya sekali setahun, menyimpan catatan tertulis (disalin ke kandidat) tentang kemajuan dan saran yang diberikan, dan termasuk anggota dari luar departemen kandidat. Ini tidak hanya memperluas lingkungan pembelajaran bagi kandidat tetapi juga menunjukkan sifat sosial dan interaktif dari penelitian dan pemikiran ilmiah, yang dipraktikkan dalam komunitas ilmiah lokal dan internasional dan semakin bergantung pada jaringan dan pendekatan berbasis tim.
  • Fungsi Komite Bimbingan: Di antara fungsi komite bimbingan kandidat adalah: persetujuan program pelatihan dan proyek; pemantauan dan penilaian berkala terhadap kemajuan menuju penyelesaian pekerjaan tesis; keputusan tentang kecukupan kandidat untuk melanjutkan dalam program doktoral; dan penentuan kapan cukup pekerjaan telah dilakukan untuk memenuhi persyaratan tesis.
  • Tanggung Jawab Departemen atau Institusi: Tanggung jawab departemen atau institusi tempat kandidat dididik dan dilatih meliputi: mendefinisikan prosedur untuk seleksi dan evaluasi kandidat dan persyaratan (termasuk waktu, metode evaluasi, dan standar yang diharapkan) untuk pemberian gelar; menyediakan lingkungan fisik dan intelektual yang tepat dimana keterampilan dan kompetensi dapat diperoleh; memastikan bimbingan yang tepat dan layak untuk kandidat; dan mengumumkan kebijakan yang jelas tentang kepemilikan intelektual, prosedur untuk keluhan dan banding. Juga merupakan tanggung jawab institusi untuk menyediakan pengembangan pembimbing, dan menyediakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan dan pengembangan profesional dan umum kandidat doktor.
  • Pengembangan Jaringan Profesional: Pembimbing dan komite bimbingan harus mendorong dan memediasi pembentukan jaringan profesional oleh kandidat, misalnya melalui partisipasi dalam pertemuan ilmiah, penggunaan internet, dan interaksi dengan komunitas ilmiah yang lebih luas. Ini penting untuk membantu kandidat dalam membuat keputusan karir yang paling penting dan memperluas peluang profesional mereka.
  • Pemilihan Topik dan Pembimbing: Harus ada waktu yang cukup bagi kandidat untuk memilih topik tesis dan pembimbing atau mentor setelah terpapar pada beberapa pembimbing potensial. Proses pemilihan ini harus transparan dan berdasarkan merit, bukan melalui metode persuasif yang tertutup.

9. Tanggung Jawab Kandidat dalam Program doktor Pendidikan Kimia

  • Pertumbuhan Intelektual dan Ilmiah: Program doktoral harus sama-sama peduli dengan pertumbuhan intelektual dan ilmiah kandidat serta dengan kualitas dan merit kerja untuk, dan yang dilaporkan dalam, tesis. Untuk mencapai keduanya secara memuaskan dan efektif, kandidat harus mengetahui dan terlibat aktif dalam proses tersebut serta sadar akan tanggung jawabnya.
  • Kepatuhan terhadap Regulasi dan Pedoman: Ini termasuk keakraban dengan dan pengamatan terhadap peraturan, persyaratan, dan pedoman yang disiapkan oleh institusi, departemen, dan pembimbing utama serta pembimbing lain yang terkait dengan program doktoral dan gelar; keakraban dengan penanganan dan perawatan peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pekerjaan penelitian.
  • Pemeliharaan Hubungan Profesional dan Etis: Kandidat harus memelihara hubungan profesional dan etis setiap saat dengan pembimbingnya, departemen, dan institusi; partisipasi dalam dan kontribusi terhadap komunitas intelektual dan ilmiah yang disediakan oleh departemen dan institusi.
  • Kehadiran dan Partisipasi: Kandidat harus menghadiri semua kursus yang ditugaskan dan kegiatan lainnya sesuai yang dipersyaratkan oleh pembimbing, departemen, dan institusi.
  • Pencatatan Data Penelitian: Kandidat harus memastikan bahwa semua data asli tentang pekerjaan penelitian dicatat dengan cermat dan diserahkan untuk disimpan dengan aman di departemen selama periode yang ditentukan oleh departemen dan/atau institusi (biasanya tidak kurang dari lima tahun setelah penyelesaian pekerjaan tesis).
  • Hubungan yang Memuaskan dengan Pembimbing: Hubungan yang memuaskan antara pembimbing dan kandidat adalah hubungan yang saling menguntungkan dan mendukung serta berkontribusi pada pembentukan sikap, keterampilan, dan wawasan kedua belah pihak.

10. Durasi Pelatihan Doktoral dalam Pendidikan Kimia

  • Transisi dari Sarjana ke Pascasarjana: Banyak mahasiswa memasuki sekolah pascasarjana atau program langsung dari gelar sarjana dengan sedikit persiapan untuk perbedaan yang signifikan antara ilmu pengetahuan sarjana dan pascasarjana, ketidakpastian sehari-hari dalam pekerjaan penelitian, dan sedikit persiapan untuk pengalaman mereka sebagai mahasiswa pascasarjana atau ekspektasi yang mungkin dimiliki pembimbing terhadap mereka. Transisi ini melibatkan banyak perubahan dalam status, gaya kerja, lingkup masalah intelektual yang dihadapi, kepercayaan diri, dan bahkan harga diri.
  • Transisi ke Ilmuwan Mandiri: Transisi dari mahasiswa ke ilmuwan mandiri tidak berlangsung pada tingkat yang sama untuk berbagai individu. Variabel yang lebih besar adalah periode penyelesaian proyek penelitian. Tidak masuk akal untuk mengharapkan bahwa persyaratan untuk gelar doktor dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
  • Pemantauan dan Dokumentasi: Kemajuan setiap kandidat harus dipantau dan didokumentasikan oleh komite bimbingan. Keputusan tentang meninggalkan proyek yang tidak produktif tidak boleh datang tiba-tiba setelah beberapa tahun, tetapi harus muncul dari diskusi dengan kandidat sementara masih ada waktu untuk menyelesaikan gelar dalam periode konvensional.
  • Batas Waktu Fleksibel: Batas waktu harus fleksibel dan retensi kandidat yang kompeten dalam program hanya karena mereka produktif harus dihindari. Pemberian gelar doktor harus mengidentifikasi individu yang telah memperoleh standar tinggi penelitian ilmiah dan yang tidak mengkompromikan standar tersebut untuk memenuhi tenggat waktu yang sewenang-wenang.
  • Durasi Pelatihan: Mengingat kandidat diharapkan untuk memperoleh atau mengembangkan filosofi profesional dan nilai-nilai profesional selain pengetahuan teknis dan keterampilan, terlepas dari kesuksesan dalam penelitian, tampaknya wajar bahwa periode pelatihan tidak boleh kurang dari tiga tahun dengan maksimum lima tahun untuk kandidat penuh waktu.

11. Tesis Doktoral dalam Pendidikan Kimia

  • Sidang Tesis: Tesis doktoral, yang dipresentasikan dan dipertahankan secara lisan di depan setidaknya satu ahli eksternal dan komite bimbingan, merupakan bukti utama bahwa kandidat doktoral telah memperoleh keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk sertifikasi sebagai ilmuwan yang kompeten dan mandiri.
  • Demonstrasi Penelitian yang Berhasil: Tesis harus menunjukkan bahwa kandidat telah melakukan penelitian yang sukses dan bermakna dengan memecahkan masalah orisinal dengan tingkat kemandirian yang meningkat, mengusulkan ide-ide sendiri, bahwa kontribusi kandidat signifikan, dan bahwa kandidat memahami bagaimana hasilnya masuk ke dalam skema pengetahuan saat ini.
  • Tanggung Jawab Penulisan Tesis: Penulisan tesis harus menjadi tanggung jawab kandidat. Sebaiknya ditulis dalam bahasa Inggris, atau setidaknya berisi ringkasan yang luas dalam bahasa tersebut.
  • Evaluasi Akhir Tesis: Evaluasi akhir tesis doktor harus menjadi tanggung jawab satu atau lebih ahli yang diundang dari luar institusi. Struktur institusional untuk tinjauan komentar pemeriksa eksternal tentang kompetensi dan kinerja kandidat berkontribusi untuk memastikan keseragaman dalam penerapan standar.
  • Bentuk Tesis: Tesis doktoral dapat mengambil berbagai bentuk. Pada satu ekstrem, itu mungkin merupakan dokumen panjang yang memberikan tinjauan menyeluruh tentang literatur, penjelasan tentang masalah yang dipilih, deskripsi rinci metode, presentasi lengkap hasil eksperimental, dan diskusi yang luas tentang interpretasi dan implikasi temuan. Pada ekstrem lain, yang mungkin tidak secara universal diterima, itu mungkin terdiri dari satu atau lebih makalah yang diterbitkan dengan pengantar umum dan diskusi menyeluruh tentang proyek penelitian.
  • Kontribusi Kandidat: Harus jelas apa kontribusi kandidat dan bagaimana kandidat telah menempatkan penelitian dalam perspektif ilmiah. Materi tambahan yang ditulis oleh kandidat harus memperkenalkan setiap publikasi yang digunakan sebagai bagian dari tesis dan harus mendiskusikan signifikansi penelitian dan implikasinya untuk penyelidikan atau aplikasi masa depan.
  • Penelitian dalam Kerjasama Besar: Banyak penelitian saat ini dilakukan di kerjasama besar di mana beberapa kandidat, teknisi, dan rekan pascadoktoral berkontribusi pada proyek. Dalam keadaan seperti ini, penting untuk secara jelas membedakan kontribusi yang dibuat oleh kandidat dalam tesis, dan pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain harus didefinisikan secara eksplisit dan diakui dengan tepat.
  • Ukuran Tesis: Ukuran atau volume materi tesis tidak boleh digunakan sebagai kriteria dalam evaluasi. 
  • Publikasi Ilmiah: Publikasi materi yang akan dimasukkan dalam tesis harus didorong. Perkembangan ilmiah yang cepat mengharuskan semua penelitian yang bermakna dan original diterbitkan secepat mungkin. Gelar doktor sebaiknya hanya diberikan untuk tesis yang berisi karya orisinal yang telah diterbitkan dengan kandidat sebagai penulis pertama atau yang dianggap oleh penguji cocok untuk publikasi di jurnal yang ditinjau sejawat di bidang tersebut. Namun, harus diakui bahwa kandidat terkadang memenuhi semua persyaratan tetapi tidak mencapai hasil yang dapat diterbitkan.
  • Pemberian Gelar doktor: Pemberian gelar doktor semata-mata berdasarkan presentasi makalah yang diterbitkan, tanpa komponen pendidikan dan pelatihan formal, harus dihindari. Penghargaan gelar doktor harus didasarkan semata-mata pada kapasitas yang ditunjukkan kandidat untuk memenuhi standar ini.

12. Beberapa hal yang juga dapat dipertimbangkan

  • Penekanan Lebih Kuat pada Literasi Digital: Mengingat peran teknologi digital, termasuk AI, yang semakin meningkat dalam pendidikan, program ini bisa mendapatkan manfaat dari penekanan yang lebih kuat pada literasi digital dan penggunaan teknologi pendidikan dalam pendidikan kimia.
  • Integrasi Perspektif Global dan Lingkungan: Mengintegrasikan isu-isu global dan lingkungan yang berkaitan dengan kimia bisa memperkaya program ini, mempersiapkan lulusan untuk tantangan seperti keberlanjutan dan kerja sama internasional.
  • Peluang Penelitian Interdisipliner: Mendorong proyek-proyek penelitian antar bidang, mungkin dengan kerjasama departemen atau institusi lain, bisa memberikan perspektif yang lebih luas dan pendekatan inovatif dalam pendidikan kimia.
  • Keterlibatan Industri dan Masyarakat: Menyertakan lebih banyak peluang untuk keterlibatan industri dan masyarakat dalam kurikulum bisa memberikan pengalaman praktis dan membantu menjembatani kesenjangan antara penelitian akademis dan aplikasi dunia nyata.
  • Diversitas dan Inklusi: Menekankan lebih kuat diversitas dan inklusi dalam kurikulum dan peluang penelitian akan mempersiapkan lulusan untuk mengajar dan bekerja di lingkungan yang beragam dan inklusif.
  • Mekanisme Umpan Balik dan Evaluasi Berkelanjutan: Mengimplementasikan mekanisme umpan balik dan evaluasi berkelanjutan baik untuk mahasiswa maupun staf pengajar bisa membantu menjaga relevansi dan kualitas program.
  • Jaringan Alumni dan Dukungan Karier: Membentuk jaringan alumni yang kuat dan menyediakan layanan dukungan karier bisa meningkatkan perkembangan profesional dan peluang bagi lulusan.

13. Kesimpulan

  • Pentingnya menetapkan standar tinggi untuk program doktor dalam pendidikan kimia untuk memastikan kualitas lulusan.
  • Tinjauan dan adaptasi berkelanjutan terhadap standar agar tetap relevan dan efektif.

Keseluruhan kerangka ini (1 sampai 13) menunjukkan pentingnya pendidikan dan penelitian yang berkualitas tinggi dalam bidang pendidikan kimia, yang tidak hanya relevan secara teoritis tetapi juga praktis dan aplikatif.

Malang, 16 Januari 2024

Pendidikan kita di antara harapan dan kenyataan

Pendidikan, kata yang seharusnya menggema dengan semangat pencerahan dan pembentukan karakter, kini seringkali terdengar seperti bisikan pasar yang mengutamakan pencitraan dan persaingan. Di era di mana pendidikan seolah menjadi arena perlombaan fasilitas dan peringkat, kita terjebak dalam paradoks: mendambakan kebijaksanaan namun terpaku pada angka-angka yang mengesankan.

Dalam perjalanan mencari esensi pendidikan, kita tersandung pada realitas kapitalisme dalam pendidikan tinggi. Di sini, pendidikan bukan lagi tentang mengejar pengetahuan atau mengasah pikiran kritis, melainkan tentang bagaimana memoles citra dan menarik investasi. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi pembentuk pemikir dan inovator, kini lebih sering terlihat seperti etalase prestasi dan fasilitas.

Perubahan zaman juga membawa tantangan baru. Di era digital yang serba cepat, pendidikan sering kali terjebak dalam arus inovasi teknologi yang tak kunjung padam. Media sosial dan budaya populer telah mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan, di mana kesuksesan yang tampak menjadi lebih berharga daripada proses pembelajaran yang mendalam dan berarti.

Namun, ada satu aspek penting yang sering terlupakan: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs). SDGs, dengan penekanannya pada aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dari pembangunan berkelanjutan, menempatkan pendidikan berkualitas (SDG 4) sebagai salah satu tujuan utamanya. Namun, seringkali terjadi konflik antara tujuan ekonomi dan sosial dengan tujuan lingkungan, mencerminkan distorsi dalam prioritas pendidikan.

Kemiskinan, seperti yang terlihat di Meksiko, juga memberikan wawasan penting. Artikel tentang kemiskinan di Meksiko menunjukkan bagaimana ketidaksetaraan sosial dan faktor ekonomi mempengaruhi akses dan kualitas pendidikan. Ini menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya terdistorsi oleh kapitalisme, tetapi juga oleh struktur sosial yang lebih luas yang menentukan siapa yang memiliki akses ke pendidikan berkualitas dan siapa yang tidak.

Selanjutnya, Hukum Campbell memberikan perspektif lain. Adagium ini mengatakan bahwa ketika ukuran kinerja menjadi tujuan proses pengajaran, mereka kehilangan nilai mereka sebagai indikator status pendidikan dan mendistorsi proses pendidikan dengan cara yang tidak diinginkan. Ini menjelaskan bagaimana sistem penilaian dan pengujian yang berlebihan dalam pendidikan dapat menyebabkan distorsi tujuan, menggeser fokus dari pembelajaran yang bermakna menjadi pencapaian angka-angka yang hampa.

Dalam menghadapi distorsi tujuan pendidikan ini, kita dituntut untuk kembali merenung dan mencari jalan kembali ke esensi pendidikan yang sejati: pencerahan, pengembangan karakter, dan pembangunan kehidupan bangsa yang berkeadilan dan berkearifan. Kita perlu revolusi paradigma, perubahan yang menyeluruh, mulai dari sistem pendidikan hingga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Mari kita tidak lupa bahwa pendidikan adalah tentang membangun masa depan, bukan hanya tentang mengukir prestasi di masa kini. Di tengah distorsi ini, kita harus tetap berpegang pada harapan bahwa pendidikan dapat kembali menjadi cahaya yang menerangi jalan kebijaksanaan dan keadilan.

Belenggu metrik: Ironi dalam dunia ilmu pengetahuan

Kalau kita membaca buku “Weapons of Math Destruction” karya Cathy O’Neil (buku ini dapat dicari dan diunggah secara gratis melalui internet), terdapat terdapat sebuah paradoks yang serupa dalam dunia riset dan publikasi ilmiah.

"Weapons of Math Destruction" oleh Cathy O’Neil menyoroti bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan model matematika dan algoritma big data dalam masyarakat. O'Neil berargumen bahwa model-model ini sering kali memperkuat ketidaksetaraan dan ketidakadilan, dibangun berdasarkan asumsi yang salah atau data yang bias. Buku ini menyerukan peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pengembangan dan penggunaan model ini, serta perlunya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat. O'Neil juga menekankan pentingnya pendidikan dan kesadaran publik tentang dampak model-model ini, mendorong pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan etis dalam sains data.

Di sini, dalam dunia publikasi ilmiah, kita melihat bagaimana metrik, khususnya faktor dampak (impact factor), telah menjadi hal yang menjadi penentu kebijakan dalam dunia publikasi ilmiah, serupa dengan bagaimana algoritma big data mengukuhkan ketidaksetaraan dalam masyarakat, seperti yang diungkapkan dalam buku “Weapons of Math Destruction”.

Faktor dampak, sebuah metrik yang awalnya dirancang untuk mengukur pengaruh sebuah jurnal ilmiah, telah berubah menjadi alat penilaian bagi karya individu dan institusi. Ironisnya, seperti yang diungkapkan Eugene Garfield, pencipta Journal Impact Factor (JIF), penggunaan metrik ini untuk menilai individu adalah penyalahgunaan, karena variasi sitasi antarartikel dalam satu jurnal bisa sangat lebar.

Namun, dalam praktiknya, faktor dampak telah menjadi patokan utama dalam menentukan di mana para ilmuwan mempublikasikan karya mereka, siapa yang dipromosikan atau dipekerjakan, kesuksesan aplikasi hibah, bahkan hingga bonus gaji. Sebuah studi pada tahun 2019 menemukan bahwa 40% universitas di AS dan Kanada yang berfokus pada penelitian secara spesifik menyebutkan JIF dalam proses review, promosi, dan tenure.

Kritik terhadap faktor dampak mencakup keabsahan statistiknya dan dampaknya terhadap cara ilmu pengetahuan dilakukan dan dinilai. Salah satu kelemahan mendasar adalah faktor dampak menyajikan rata-rata dari data yang tidak terdistribusi normal. Selain itu, ada perdebatan lebih luas mengenai validitas faktor dampak sebagai ukuran pentingnya jurnal dan efek dari kebijakan yang mungkin diadopsi editor untuk meningkatkan faktor dampak mereka, mungkin dengan mengorbankan pembaca dan penulis.

Lebih jauh, faktor dampak telah dikritik karena mendorong perilaku negatif di kalangan para ilmuwan, editor, dan pemangku kepentingan lainnya. Beberapa kritik menunjukkan bahwa penekanan pada faktor dampak berasal dari pengaruh negatif politik neoliberal terhadap akademia. Tuntutan ini tidak hanya menuntut penggantian faktor dampak dengan metrik yang lebih canggih, tetapi juga diskusi tentang nilai sosial dari penilaian penelitian dan meningkatnya ketidakpastian karier ilmiah dalam pendidikan tinggi.

Kasus King Abdulaziz University

Sebuah narasi menarik terungkap dalam bab “ARMS RACE: Going to College” dari buku “Weapons of Math Destruction”. Di sini, kita diajak merenungkan bagaimana angka dan peringkat, seperti yang dikemas oleh U.S. News, seringkali lebih merupakan cerminan ilusi daripada realitas pendidikan yang autentik. Sebagai ilustrasi, O’Neil mengambil contoh Departemen Matematika di King Abdulaziz University, Arab Saudi. Dengan kejutan, departemen yang baru berusia dua tahun ini meloncat ke peringkat ketujuh pada tahun 2014, menyamai institusi-institusi agung seperti Cambridge dan MIT.

Kejadian ini bukan sekadar fenomena, melainkan sebuah pertanyaan mendalam tentang esensi dan integritas sistem peringkat itu sendiri. O’Neil menggali lebih dalam, menunjukkan bagaimana sistem peringkat, yang seharusnya menjadi tolok ukur, sering kali tergelincir menjadi alat manipulasi. Di King Abdulaziz University, lonjakan dramatis dalam peringkat menyingkap tabir bagaimana universitas mungkin lebih memilih strategi investasi finansial untuk mendongkrak posisi mereka, ketimbang berinvestasi dalam substansi pendidikan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, kita melihat bagaimana sebuah metrik yang dirancang untuk membantu, sekarang telah menjadi senjata yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan yang sejati. Di sini, faktor dampak, yang seharusnya menjadi alat, telah menjadi tuan yang menentukan nasib ilmu pengetahuan dan para ilmuwannya.

Akhir kata: “Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ukur, karena pada akhirnya, itu yang akan mengukur kita.

Pendidikan tinggi: Menyulam kepemimpinan baru

Di tengah dunia pendidikan tinggi yang terus berubah dengan cepat, terdapat sebuah panggilan bagi pemimpin universitas untuk mengukir jejak baru dalam sejarah kepemimpinan akademis. Bukan lagi zamannya kepemimpinan yang hanya berfokus pada prestasi akademik dan riset semata; kini, tuntutan zaman mengarah pada pemimpin yang mampu menari bersama irama kolaborasi, inovasi sosial, dan kemitraan lintas sektor.

Kepemimpinan di universitas, sebuah lembaga yang menjadi tonggak pengetahuan dan peradaban, haruslah lebih dari sekadar pengelolaan administratif atau pencapaian riset. Ia adalah seni dan sains dalam memahami kebutuhan mahasiswa, yang bagaikan benih-benih masa depan, memerlukan tanah subur dari pengertian dan dukungan. Pemimpin universitas harus menjadi tukang kebun yang mahir, bukan hanya dalam mengurus anggaran yang rumit, tetapi juga dalam menyiramkan visi strategis dan pemecahan masalah kreatif.

Di era di mana batas-batas disiplin ilmu semakin kabur, diperlukan pemimpin yang dapat membangun jembatan antara dunia akademis dengan sektor lainnya. Kemitraan ini bukan sekadar simbiosis, melainkan sebuah harmoni yang menghasilkan inovasi-inovasi sosial yang berdampak luas. Pemimpin universitas harus mampu menjadi dirigen dalam orkestra yang beragam ini, mengatur tempo dan harmoni antara berbagai elemen untuk menciptakan simfoni yang menggema jauh melampaui dinding-dinding kampus.

Kemampuan untuk mempengaruhi kelompok yang beragam, mengelola keragaman pendapat dan aspirasi, adalah kunci dalam membentuk sebuah institusi yang tidak hanya unggul dalam penelitian, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Pemimpin harus mampu menavigasi perairan yang seringkali bergolak ini dengan kebijaksanaan dan keteguhan hati.

Kepemimpinan universitas di masa depan bukanlah tentang mencapai puncak dalam kesendirian, melainkan tentang memandu sebuah komunitas yang beragam menuju puncak bersama. Ia tentang menciptakan lingkungan di mana setiap suara dihargai, setiap ide dihormati, dan setiap mimpi diberi ruang untuk berkembang.

Dalam perjalanan ini, pemimpin universitas bukan hanya mengukir jejak dalam sejarah institusi mereka, tetapi juga dalam sejarah pendidikan dan peradaban manusia. Mereka adalah arsitek masa depan, yang dengan setiap keputusan dan tindakan, membentuk dunia yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang.

Refleksi atas distorsi ilmu pengetahuan

Dalam nyinyir ini (dan saya selalu tetap nyiyir bersuara), terdapat keperluan mendesak untuk menyuarakan kegelisahan. Kita menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, bagaimana dunia ilmu pengetahuan, yang seharusnya menjadi mercusuar pengetahuan, kini terjerumus dalam lembah fatamorgana. Ironis. Ketika ilmu pengetahuan yang mestinya berdiri tegak di atas fondasi kebenaran dan pencarian makna, kini terpapar oleh angin pencitraan yang semu? Hal ini terlihat ketika penghargaan kepada dosen hanya dilihat dari pencapaian semu yang hanya memperhatikan angka seperti jumlah publikasi dan sitasi tanpa melihat bagaimana proses angka itu dihasilkan, apakah dengan kaidah yang benar dan berintegritas. Saya memperhatikan faktor integritas sangat jarang diperhatikan padahal ini kunci dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Di era ini, di mana metrik menjadi dewa, peneliti dan akademisi terjebak dalam angka-angka yang menyesatkan. Publikasi menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Jumlah publikasi, faktor dampak jurnal, sitasi – semua ini telah menjadi hal yang dikejar, bukan alat untuk mengukur esensi pengetahuan yang sejati. Kita terlena dalam pesta angka yang menggiurkan, melupakan bahwa di balik angka-angka tersebut, seharusnya terdapat substansi pengetahuan yang berharga. Di universitas hal ini seringkali tidak diperhatikan dengan serius untuk mendidik calon ilmuwan. Kita seringkali lupa bahwa sebagai dosen tugas utama kita adalah mendidik.

Penerbitan yang tidak memperhatikan proses yang betul, yang seringkali bisa sampai diterbitkan di jurnal ternama (jika beruntung), yang lebih mengutamakan keuntungan daripada kebenaran ilmiah, adalah salah satu manifestasi dari krisis ini. Mereka bagaikan serigala berbulu domba, menawarkan jalan pintas menuju publikasi, namun pada akhirnya hanya menghasilkan karya-karya yang hampa makna. Ini adalah tragedi zaman, di mana integritas ilmiah dikorbankan demi pencapaian yang dangkal.

Kita harus bertanya, ke mana arah kompas ilmu pengetahuan kita? Apakah kita akan terus menerus berjalan dalam lingkaran pencitraan yang tak berujung? Atau, apakah kita akan kembali ke jalan yang benar: penelitian yang dilakukan dengan integritas, ketelitian, dan komitmen terhadap kebenaran?

Kita perlu mengingat kembali bahwa ilmu pengetahuan bukanlah tentang berlomba-lomba dalam jumlah publikasi atau mengejar faktor dampak yang tinggi. Ilmu pengetahuan adalah tentang pencarian kebenaran, tentang membangun fondasi pengetahuan yang kokoh dan berarti. Kita harus kembali ke prinsip-prinsip dasar penelitian: integritas, keaslian, dan kontribusi nyata terhadap pengetahuan.

Mari kita buang jauh-jauh fatamorgana yang telah membutakan kita. Mari kita bangun kembali ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran dan pencarian makna yang sejati. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa ilmu pengetahuan akan terus menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan, bukan menjadi bayang-bayang yang menyesatkan dalam cahaya yang silau.

Nggak tahu lagi, saya mau ngomong apa. 🥲