SINTA dan fransformasi yang mendesak: Menakar dampak, bukan sekadar angka

Sebagai narasumber di SINTA Talk 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, saya berkesempatan mempresentasikan gagasan ini di Prime Plaza Hotel Sanur – Bali pada 21 November 2024. Acara ini menjadi momen penting untuk merefleksikan peran SINTA dalam ekosistem riset Indonesia dan arah transformasinya ke depan.

SINTA, sistem evaluasi riset kebanggaan Indonesia, kini berada di persimpangan jalan. Sistem yang selama ini menjadi tolok ukur produktivitas akademik harus menghadapi kenyataan bahwa angka-angka tidak selalu mencerminkan dampak nyata. Saat dunia riset global semakin menuntut relevansi, inovasi, dan kontribusi sosial, fokus pada metrik kuantitatif justru menciptakan ilusi kesuksesan yang menjauhkan kita dari esensi riset sejati.

Mengubah paradigma ini memang bukan perkara mudah. Budaya “kejar publikasi” telah mengakar kuat dalam ekosistem akademik kita. Namun, apakah kuantitas publikasi yang terus meningkat tanpa relevansi nyata benar-benar membawa kita lebih dekat ke Indonesia Emas 2045? Atau justru membuat kita terjebak dalam gua ilusi, seperti alegori Plato, yang hanya menatap bayangan realitas tanpa menyentuh substansinya?

Langkah konkret seperti pengembangan metrik kualitatif, apresiasi terhadap penelitian niche, dan pemanfaatan modul strategis seperti Benchmarking Tool adalah upaya yang patut didukung. Riset harus dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat, kolaborasi lintas disiplin, serta kontribusi pada inovasi dan teknologi yang relevan secara lokal dan global. Dengan keberanian untuk meninggalkan paradigma lama, SINTA dapat menjadi bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga pendorong utama transformasi riset yang berdampak nyata. Transformasi ini adalah langkah mendesak untuk memastikan bahwa riset Indonesia benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar data statistik yang tak bermakna.

Profesor sejati: Mentalitas profesional

Sejak gelar profesor disematkan, panggilan “Prof” mulai melekat, membawa rasa bangga sekaligus keraguan. Sebuah pertanyaan pun muncul: Apakah gelar ini benar-benar layak disandang? Pertanyaan ini menggugah perenungan tentang apa artinya menjadi seorang profesor sejati. Lebih dari sekadar gelar, profesi ini adalah tanggung jawab besar yang menuntut kualitas, pengabdian, dan integritas.

Gelar “profesor” sejati tidak hanya tercermin dari jumlah publikasi atau lamanya mengajar, melainkan dari komitmen pada mutu yang sesungguhnya. Profesor sejati tidak hanya berdiri di garis depan pengajaran, tetapi juga dalam mendorong penelitian yang memberi kontribusi nyata bagi dunia pengetahuan. Lebih dari sekadar menambah halaman dalam jurnal, komitmen ini berarti menghasilkan karya yang relevan, bermakna, dan memiliki kedalaman.

Selain itu, seorang profesor harus memiliki mentalitas altruistik, sebuah pengabdian tanpa pamrih dalam membagikan ilmu. Pengetahuan bukanlah milik pribadi; ia adalah amanah yang perlu disebarluaskan untuk kepentingan orang lain, terutama mahasiswa. Ilmu yang dimiliki hanya bernilai jika dapat disampaikan dengan cara yang jelas dan mampu membangkitkan semangat belajar, menciptakan ruang untuk dialog dan pemahaman bersama. Di sini, profesor sejati berperan tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong pertumbuhan dan pemahaman.

Dalam dunia akademik, menjadi panutan dalam nilai moral adalah hal yang tak terpisahkan. Mengajar tidak cukup; seorang profesor harus mendidik. Ini berarti menjadi teladan dalam tindakan, bukan hanya dalam kata-kata. Etika dan kejujuran akademik adalah dasar dari setiap pencapaian, termasuk menghargai karya mahasiswa dan kolega. Contohnya, ketika seorang mahasiswa berkontribusi signifikan dalam penelitian, penghargaan yang layak harus diberikan kepada mereka. Penghormatan terhadap kontribusi orang lain adalah bagian inti dari kehormatan akademis, dan menjadi dasar untuk menunjukkan integritas di setiap langkah.

Mentalitas pembelajar juga sangat penting. Profesor sejati tidak pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki. Dalam dunia yang terus berkembang, pembelajaran adalah proses tanpa akhir. Seorang profesor yang memiliki mentalitas pembelajar selalu memperbarui diri, menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah perjalanan panjang yang selalu ada kemajuan baru. Menjadi peziarah dalam pengetahuan, profesor sejati selalu siap untuk belajar dari perkembangan yang ada, bahkan dari mahasiswanya sendiri.

Pengabdian penuh pada bidang ilmu adalah nilai yang tak ternilai. Jabatan administratif mungkin menambah status, tetapi dedikasi sejati seorang profesor adalah pada penyebaran ilmu dan komitmen pada riset. Pengabdian ini menuntut ketulusan dan kehadiran untuk mendampingi mahasiswa, menggalakkan pengetahuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu. Di sinilah makna pengabdian akademis muncul, mengabdi pada ilmu, bukan pada kehormatan.

Kreativitas adalah mentalitas yang tak boleh diabaikan. Profesor yang kreatif mampu melihat dunia akademis dengan sudut pandang segar, menghadirkan pendekatan-pendekatan baru yang memberi warna dalam pengajaran dan penelitian. Tanpa kreativitas, pendidikan hanya akan menjadi rutinitas yang statis. Seorang profesor kreatif menginspirasi mahasiswanya untuk berpikir kritis, untuk menemukan hal-hal baru, dan untuk berani melampaui batas yang ada.

Mentalitas etis, akhirnya, adalah landasan dari semua nilai tersebut. Etika adalah kompas yang menuntun tindakan seorang profesor, memastikan bahwa setiap keputusan dan karya diambil dengan integritas. Dunia akademis sering dihadapkan pada godaan untuk melewati batas-batas moral. Namun, profesor sejati mampu berdiri teguh pada jalan yang benar, menjunjung tinggi kejujuran, menghargai proses, dan menolak penipuan data hanya untuk sekedar publikasi yang menjerat. Jalan ini mungkin penuh tantangan, tetapi seorang profesor yang etis selalu mampu menjadi teladan.

Sebagai renungan, panggilan untuk mencapai keunggulan terletak pada tujuan hidup dan prinsip moral. Bukan sekadar gelar, tetapi kualitas karakter yang terpancar dalam tanggung jawab dan komitmen pada kebenaran. Menjadi profesor sejati adalah perjalanan menuju kebijaksanaan, sebuah pencarian untuk menyelaraskan antara pengetahuan, tindakan, dan hati nurani. Di sini, keutamaan tercipta dalam dedikasi untuk melampaui diri, untuk terus bertumbuh, dan untuk meninggalkan dunia yang lebih tercerahkan dari sebelumnya. Gelar “Prof” pada akhirnya bukanlah simbol status, melainkan amanah yang terus diperjuangkan.

Mengoptimalkan kategori universitas Ala Edward Shils

Saya baru saja membaca buku Edward Shils yang berjudul “Etika Akademis” (ini PDF-nya) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata pengantar oleh Parsudi Suparlan. Dalam pandangan Edward Shils, universitas bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah arena pertemuan berbagai visi, misi, ambisi, dan konflik kekuasaan. Shils secara skeptis mengkategorikan universitas berdasarkan realitas mereka. Klasifikasi ini dapat menjadi panduan untuk merumuskan kebijakan yang katanya akan membawa kemajuan.

Universitas Politik misalnya, menggambarkan kampus sebagai tempat di mana mahasiswa dan dosen bertransformasi menjadi tokoh politik dadakan. Seminar akademis berubah menjadi rapat strategi politik dan diskusi ilmiah adalah sesi debat dengan jargon partai yang saling beradu. Tidak perlu heran jika kita melihat mahasiswa berusia 25 tahun yang pandai menyusun retorika kosong, atau dosen yang lebih sibuk mengatur massa ketimbang kelas. Kebijakan yang tepat tentu adalah menjadikan universitas sebagai pusat kampanye politik dan melatih calon-calon orator handal yang dapat ‘membebaskan’ rakyat dari logika.

Universitas Massa merujuk pada fenomena meningkatnya jumlah mahasiswa yang masuk ke universitas, menjadikannya pabrik yang mencetak lulusan berdasarkan kuota. Mengenai kualitas, tidak perlu perfeksionis, asalkan ada nama universitas di ijazah. Slogan yang tepat mungkin adalah “Dari rakyat, oleh rakyat, untuk lulusan.” Untuk kebijakan, perbanyak kuota dan bangun kampus baru di setiap sudut jalan.

Dalam Universitas Pengabdian Masyarakat, pengabdian masyarakat menjadi topeng mulia untuk menggalang simpati. Dengan proyek sosial seremonial tahunan, universitas berhasil membentuk citra heroik tanpa perlu berdampak nyata. Kebijakan yang ideal adalah mewajibkan universitas menyelenggarakan acara bakti sosial tahunan agar masyarakat yakin bahwa universitas adalah benteng moral masyarakat.

Universitas yang Didominasi Pemerintah adalah tempat di mana pengaruh pemerintah begitu kuat terhadap kebijakan universitas, termasuk penentuan kurikulum, pengangkatan staf, dan pendanaan. Dominasi ini menjadi tantangan bagi kebebasan akademis dan otonomi universitas. Kebijakan visioner tentu penyeragaman kurikulum nasional agar kreativitas mahasiswa tidak terlalu membahayakan stabilitas.

Pada Universitas yang Mengalami Birokrasi, kita dihadapkan pada tantangan meningkatnya struktur birokrasi. Birokrasi berlebihan mempersulit pengambilan keputusan cepat dan fleksibilitas dalam pengajaran serta penelitian. Kebijakan idealnya adalah memperbanyak aturan agar para birokrat universitas tetap produktif.

Universitas yang Miskin Dana menggambarkan ketangguhan mahasiswa dan dosen yang mampu bertahan dengan fasilitas minim dan anggaran penelitian kecil. Kebijakan terbaik jelas melanjutkan penghematan dana dan mempromosikan program riset berbasis niat baik dan cinta ilmu.

Pada Universitas di Bawah Sorotan Publisitas, tekanan untuk mempertahankan citra publik dan ekspektasi masyarakat begitu kuat. Media dan sorotan publik dapat memengaruhi kebijakan dan cara universitas berfungsi. Kebijakan paling bijak tentu memperkuat divisi marketing universitas agar narasi kesuksesan tetap terjaga.

Universitas Penelitian menjadi tempat di mana orientasi penelitian memberi nilai tambah bagi masyarakat. Fokus pada kualitas penelitian sering tersingkirkan karena orientasi pada angka dan ranking. Kebijakan ideal adalah mengalokasikan lebih banyak dana untuk publikasi, meskipun kualitasnya dapat menyusul nanti.

Universitas yang Terpecah-belah adalah gambaran perpecahan internal akibat kepentingan politik, perbedaan akademik, atau konflik antar-fakultas. Perpecahan ini mengganggu harmoni akademis. Kebijakan tepat tentu adalah membiarkan perbedaan ini tumbuh karena persatuan justru menghambat keragaman konflik.

Universitas yang Kehilangan Semangat menggambarkan hilangnya motivasi dosen dan mahasiswa karena perubahan kebijakan, tekanan birokrasi, atau masalah internal. Solusinya adalah gelar, sertifikat, dan penghargaan yang merata. Kebijakan tepat jelas meningkatkan pemberian gelar kehormatan untuk memulihkan semangat yang hilang.

Terakhir, upaya Mempertahankan Universitas sebagai Pusat Studi menjadi wacana idealis. Lebih realistis adalah menjadikannya pusat produksi gelar, ikon branding daerah, atau pusat kegiatan non-akademis. Kebijakan yang ideal tentu mengintegrasikan kegiatan universitas dengan semua elemen masyarakat, termasuk unsur ekonomi, politik, dan hiburan.

Dengan memahami klasifikasi ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kemajuan bisa dicapai bukan dengan memperbaiki sistem pendidikan, tetapi dengan memaksimalkan potensi unik dari setiap kategori universitas yang sudah ada. Realitas selalu lebih menarik dari idealisme! Satir.

Ketimpangan pengakuan sains, seni, dan ilmu sosial dalam penilaian akademik: Perspektif Nietzsche dan Heidegger

Saya baru saja membaca sebuah tulisan berjudul “The Problem of Science in Nietzsche and Heidegger” karya Babette Babich, yang membahas kritik kedua filsuf ini terhadap sains modern dan bagaimana seni serta ilmu sosial dipinggirkan dalam sistem akademik. Nietzsche melihat sains modern sebagai usaha yang sering kali mengabaikan dimensi eksistensial kehidupan, sehingga seni dibutuhkan sebagai perlindungan dari kebenaran yang menyakitkan. Sementara itu, Heidegger menyoroti bagaimana sains dan teknologi mengutamakan pengukuran dan kontrol, sehingga mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan. Kedua filsuf ini memandang seni sebagai sarana penting untuk mengungkapkan kebenaran yang tidak dapat dijangkau oleh sains.

Ketidaksejajaran sains dan seni

Dalam pandangan Nietzsche, sains dan seni berasal dari kekuatan kreatif yang sama, tetapi mereka memiliki tujuan berbeda. Sains bertujuan untuk mencari kebenaran objektif, tetapi sering kali menghasilkan pemahaman yang mereduksi realitas dan mengabaikan dimensi emosional dan spiritual kehidupan. Seni, di sisi lain, memberikan ruang untuk melarikan diri dari kebenaran yang terlalu keras dan menawarkan cara untuk menemukan makna hidup yang lebih mendalam dan estetis. Nietzsche berpendapat bahwa seni memiliki kemampuan untuk membantu manusia menghadapi kenyataan yang pahit.

Heidegger menyatakan bahwa sains modern dan teknologi cenderung melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa diukur dan dikendalikan, menjadikannya objek eksploitasi. Dalam esainya “The Question Concerning Technology”, Heidegger mengkritik pandangan ini, menyatakan bahwa pendekatan teknologis tersebut menyebabkan manusia kehilangan hubungan autentik dengan dunia. Seni, dalam pandangan Heidegger, berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih mendalam tentang keberadaan, dengan cara yang tidak dapat dicapai oleh sains yang berbasis pengukuran.

Ketidaksejajaran ini semakin jelas terlihat dalam konteks penilaian akademik di platform indeksasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS). Jurnal-jurnal seni dan humaniora sering kali dipinggirkan dalam sistem penilaian akademik, sementara jurnal di bidang sains alam atau teknologi memperoleh indeksasi dan pengakuan yang lebih tinggi. Ini menciptakan hierarki pengetahuan yang bias, di mana pengetahuan kuantitatif dianggap lebih berharga daripada pengetahuan kualitatif atau interpretatif.

Bias dalam indeksasi akademik: Marginalisasi seni dan ilmu Sosial

Platform seperti Scopus dan WoS mengutamakan disiplin yang menghasilkan pengetahuan terukur, seperti sains alam dan teknologi. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan, di mana ilmu sosial dan humaniora dianggap kurang ilmiah karena lebih berfokus pada pemahaman kualitatif. Seni, yang bersifat subjektif dan kreatif, bahkan lebih dipinggirkan dalam sistem penilaian ini.

Misalnya, jurnal-jurnal yang berfokus pada kajian budaya, seni, atau teori sosial sering kali memiliki indeksasi yang lebih rendah dibandingkan dengan jurnal di bidang fisika atau bioteknologi. Padahal, ilmu sosial dan humaniora memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pemahaman kita tentang kemanusiaan dan budaya, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau statistik. Penilaian kuantitatif yang digunakan oleh Scopus dan WoS memperkuat marginalisasi ini karena mengandalkan h-index dan jumlah kutipan, yang lebih mudah dicapai oleh sains alam.

Heidegger dan Nietzsche akan melihat peminggiran ini sebagai bukti bahwa dunia modern terlalu fokus pada penguasaan teknologis, sementara mengabaikan aspek eksistensial dan emosional yang lebih dalam yang bisa diungkapkan melalui seni dan ilmu sosial. Sains telah mengalihkan fokus manusia dari pertanyaan eksistensial menuju pengukuran dan kontrol, yang akhirnya mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih autentik tentang kehidupan.

Pentingnya seni dan slmu sosial dalam pemahaman keberadaan

Nietzsche dan Heidegger sepakat bahwa seni dan ilmu sosial menawarkan pemahaman yang tidak bisa diberikan oleh sains. Nietzsche melihat seni sebagai penyaring dari kebenaran yang menyakitkan yang sering diungkapkan oleh sains. Seni memungkinkan manusia menemukan makna yang lebih dalam dan membantu menghindari keputusasaan akibat pengetahuan ilmiah yang dingin. Sementara itu, Heidegger menekankan bahwa seni adalah alat untuk mengungkap kebenaran yang lebih mendalam tentang eksistensi manusia. Seni tidak tunduk pada logika pengukuran atau kontrol, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk merenungkan dan merasakan realitas dengan cara yang lebih otentik.

Marginalisasi seni dan ilmu sosial dalam penilaian akademik menyebabkan kehilangan perspektif penting dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia. Ketika seni dan ilmu sosial dianggap kurang penting, kita kehilangan dimensi eksistensial yang kualitatif. Pengetahuan bukan hanya tentang mengukur dan mengendalikan dunia, tetapi juga tentang memahami makna dan menemukan tempat kita dalam keberadaan.

Mengatasi ketimpangan: Ruang untuk seni dan ilmu sosial

Untuk mengatasi ketimpangan ini, penilaian akademik perlu lebih inklusif dalam mengakui kontribusi seni dan ilmu sosial. Nietzsche akan mengingatkan kita bahwa seni memungkinkan manusia untuk bertahan hidup dalam menghadapi kebenaran yang keras, sementara Heidegger akan menegaskan bahwa seni membuka ruang bagi pengungkapan kebenaran yang lebih otentik.

Penilaian akademik harus mengubah cara pandangnya terhadap apa yang dianggap berharga dalam dunia pengetahuan. Indeksasi dan penilaian perlu lebih terbuka terhadap disiplin yang tidak hanya fokus pada pengukuran, tetapi juga merenungkan dan menafsirkan. Dengan cara ini, seni, sains, dan ilmu sosial dapat saling melengkapi dalam memahami kehidupan secara lebih utuh.

Refleksi

Pandangan Nietzsche dan Heidegger tentang seni dan sains memberikan kritik penting terhadap bias penilaian akademik modern, yang terlalu menitikberatkan pada sains alam dan mengabaikan kontribusi seni dan ilmu sosial. Platform indeksasi seperti Scopus dan WoS memperkuat bias ini dengan menempatkan disiplin-disiplin tersebut di pinggiran. Untuk menciptakan dunia pengetahuan yang lebih seimbang, kita harus mengakui bahwa seni dan ilmu sosial memainkan peran penting dalam mengungkap kebenaran tentang keberadaan manusia, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau pengukuran semata.

Menyingkap kabut riset: Pencarian hakikat di balik angka dan komersialisasi

Kisah ini saya tulis sebagai refleksi dari pemikiran Martin Heidegger yang diuraikan dalam magnum opusnya Time and Being. Heidegger berbicara tentang bagaimana manusia sering terjebak dalam rutinitas dan kehilangan hubungan dengan Being yang autentik. Dalam konteks dunia akademik dan pendidikan tinggi saat ini, saya melihat bagaimana hakikat penelitian, yang seharusnya mengejar kebenaran sejati, terlupakan di balik kabut angka-angka dan tuntutan komersialisasi. Kabut ini, yang melambangkan metrik, publikasi, dan tujuan finansial, menutupi esensi sejati dari riset yang dilakukan, seperti halnya Being yang sering kali tersembunyi dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Di sebuah universitas yang megah, tersembunyi di balik dinding-dinding laboratorium dan ruang kelas, ada sebuah legenda tentang Penelitian Sejati. Para profesor tua selalu berbicara dengan nada berbisik tentangnya, seolah-olah ia adalah sesuatu yang begitu penting, namun kini terlupakan. Konon, dahulu kala, Penelitian Sejati adalah fondasi dari segala ilmu pengetahuan, sebuah upaya untuk mengejar kebenaran, menjawab pertanyaan mendasar, dan menemukan jawaban yang membawa kemajuan bagi umat manusia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kabut tebal mulai menutupi penelitian ini. Kabut ini tidak seperti kabut biasa yang turun di pagi hari. Kabut ini terbuat dari angka-angka yang rumit, indeks sitasi, metrik H-index, jumlah publikasi, dan dana hibah penelitian. Semakin tebal kabut itu, semakin sulit bagi siapa pun untuk melihat Penelitian Sejati. Banyak peneliti muda yang baru saja bergabung dengan dunia akademik tidak menyadari bahwa kabut ini telah menyelimuti mereka. Mereka dengan patuh mengikuti tuntutan untuk menerbitkan sebanyak mungkin makalah, mengejar penghargaan, dan memenuhi target yang ditentukan oleh lembaga-lembaga eksternal. Mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk angka dan metrik, tanpa pernah bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita cari?

Suatu hari, di sebuah ruang penelitian yang sunyi, seorang peneliti muda bernama Pehul mulai merasa gelisah. Ia melihat angka-angka di layar komputernya, grafik pertumbuhan sitasi dan laporan keuangan proyek penelitian, namun sesuatu terasa salah. Ia bertanya pada dirinya sendiri, Apakah inilah tujuan dari penelitian ini? Apakah hanya ini yang penting, angka-angka dan penghargaan? Rasa gelisah itu terus menghantuinya, hingga ia tidak lagi mampu mengabaikannya.

Pehul mendengar bisikan samar tentang Penelitian Sejati dari salah satu profesor tua yang dikenal memiliki kebijaksanaan mendalam. Profesor itu berkata kepadanya, “Di balik kabut angka-angka dan komersialisasi ini, ada sesuatu yang lebih besar yang telah terlupakan. Sesuatu yang kita sebut Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang sebenarnya.”

Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Pehul mulai menyusuri jalur kabut itu. Ia berhenti memperhatikan grafik dan laporan pendanaan, dan mulai bertanya: Mengapa aku melakukan penelitian ini? Apa yang sebenarnya ingin aku temukan? Setiap pertanyaan yang ia ajukan membuka sedikit demi sedikit kabut yang menyelimuti pikirannya. Ia mulai melihat bahwa Penelitian Sejati tidak terletak pada angka atau metrik, tetapi pada pencarian kebenaran, penemuan makna baru, dan kontribusi sejati bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Dalam perjalanan ini, Pehul mengalami Ereignis, momen di mana kabut mulai terangkat, dan ia menyadari bahwa penelitian bukanlah sekadar soal publikasi atau peringkat universitas. Ia merasakan kehadiran Penelitian Sejati yang selama ini tersembunyi, dan hakikat penelitian yang sebenarnya mulai terungkap. Unconcealment terjadi, kebenaran mulai disingkap, dan Pehul merasakan kedalaman penelitian yang telah lama terlupakan. Ia memahami bahwa penelitian sejati tidak bisa diukur oleh angka-angka semata, melainkan oleh dampaknya terhadap pemahaman kita tentang dunia dan kehidupan.

Tetapi perjalanan Pehul tidak mudah. Di sepanjang jalan, ia dihadapkan dengan suara-suara idle talk yang datang dari kolega dan institusi, desakan untuk mengejar metrik, memperbanyak publikasi, dan mendapatkan pendanaan lebih banyak. “Inilah yang penting,” kata mereka. “Angka-angka ini yang menentukan masa depan akademismu.”

Namun, Pehul tetap teguh. Ia tahu bahwa angka-angka itu hanyalah kabut yang menutupi Penelitian Sejati. Ia memilih untuk berfokus pada pertanyaan-pertanyaan mendasar, membiarkan penelitian yang ia lakukan berbicara melalui dampak sosialnya, bukan melalui angka-angka di laporan keuangan. Ia memilih untuk menghidupkan kembali makna dari Being dalam risetnya, sebuah proses di mana penelitian menjadi otentik, bermakna, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dan dengan itu, Penelitian Sejati yang telah lama tersembunyi, kembali hadir. Tidak lagi dibebani oleh kabut komersialisasi atau angka-angka yang dangkal, Pehul melihat hakikat dari apa yang ia kejar selama ini. Ia merasakan kedalaman, makna, dan keberadaan sejati dari penelitiannya, sebuah penyingkapan yang tidak bisa ditemukan di balik layar metrik atau peringkat universitas, tetapi dalam pencarian kebenaran yang otentik.

Refleksi

Kisah Pehul adalah cerminan dari perjuangan para akademisi dan peneliti di dunia modern, yang sering kali terjebak dalam kabut angka dan tuntutan komersial. Namun, dengan refleksi mendalam dan keberanian untuk mempertanyakan tujuan riset, kita dapat menemukan kembali Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang selama ini tersembunyi. Kabut angka mungkin menutupi pandangan kita, tetapi di baliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga: pencarian kebenaran dan penemuan yang otentik.

Dengan ini, saya mengajak pembaca untuk kembali merenungkan esensi dari riset dan penelitian, sebagaimana Heidegger mengajarkan kita untuk memahami Being sebagai sesuatu yang autentik, melampaui kebisingan dan rutinitas yang dangkal.

Definisi istilah-Istilah Heidegger

Being (Keberadaan): Konsep fundamental dalam pemikiran Heidegger yang merujuk pada hakikat atau esensi sesuatu. Dalam konteks ini, Being merujuk pada hakikat riset yang otentik, yang berakar pada pencarian kebenaran, bukan sekadar angka atau metrik.

Presencing (Kehadiran): Proses di mana Being atau esensi dari sesuatu menjadi nyata atau hadir. Dalam konteks riset, presencing menggambarkan bagaimana penelitian dapat hadir secara otentik ketika peneliti membuka diri terhadap hakikat riset itu sendiri.

Ereignis (Peristiwa Apropriasi): Momen di mana Being dan waktu terungkap bersama-sama, memungkinkan kita untuk mengalami hakikat sesuatu. Ereignis dalam penelitian adalah saat di mana peneliti menyadari bahwa esensi riset tidak hanya dalam angka, tetapi dalam pencarian makna yang lebih dalam.

Unconcealment (Penyingkapan): Proses di mana sesuatu yang tersembunyi menjadi terbuka atau terlihat. Dalam konteks ini, unconcealment menggambarkan bagaimana hakikat riset yang tersembunyi di balik komersialisasi dapat disingkapkan kembali, mengungkap esensi penelitian yang otentik.

Idle Talk (Percakapan Hampa): Percakapan dangkal yang tidak membawa makna mendalam. Dalam dunia akademik, idle talk muncul dalam bentuk fokus berlebihan pada metrik dan prestasi kuantitatif, yang mengalihkan perhatian dari tujuan utama riset.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep ini, kita bisa melihat bahwa riset yang sejati bukanlah tentang memenuhi standar kuantitatif atau mendapatkan pengakuan eksternal, melainkan tentang Being, pencarian kebenaran dan makna yang mendalam yang seharusnya menjadi inti dari segala kegiatan akademik.

Tantangan editor jurnal di era keterbukaan ilmu pengetahuan

Sejak tahun 2005, saat saya memulai perjalanan sebagai editor jurnal dengan menginisiasi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), saya tak pernah membayangkan akan mencapai titik ini—saat jurnal yang dulu berjuang mencari artikel, kini dibanjiri manuskrip setiap harinya. Keadaan berubah drastis, dari kesulitan mencari paper yang berkualitas hingga kewalahan menangani tumpukan submission yang datang bak air bah. Dalam kurun waktu belasan tahun, MJFAS telah berkembang pesat, diakui dan diindeks oleh Scopus dan WoS, dan kini menjadi destinasi yang diincar para peneliti untuk mempublikasikan karya mereka.

Namun, di balik ini ada realita yang jarang diketahui oleh publik. Ketika paper-paper itu bertubi-tubi masuk, peran saya sebagai editor berubah dari sekadar memfasilitasi proses publikasi menjadi penjaga gerbang kualitas. Dulu, saya bisa memberikan lebih banyak waktu untuk membaca dan merefleksikan setiap manuskrip yang dikirimkan, mencoba mencari potensi di balik ide-ide yang diajukan. Sekarang, dengan keterbatasan waktu dan kapasitas, saya harus membuat keputusan cepat hanya dalam hitungan menit.

Mungkin terdengar arogan ketika saya mengatakan bahwa lebih dari 80% paper ditolak langsung tanpa melalui reviewer. Tapi, ini bukan tentang arogansi atau kekuasaan seorang editor. Ini tentang efisiensi dan menjaga integritas jurnal. Kapasitas kami hanya 20 paper per issue dan diterbitkan 6 kali setahun—itu berarti hanya 120 paper yang bisa diterima setiap tahunnya. Sedangkan jumlah submission yang masuk mencapai puluhan per bulan. Tanpa seleksi ketat, bagaimana mungkin menjaga standar kualitas?

Kunci dari keputusan ini adalah “keseriusan” penulis. Sebagai editor, saya bisa melihatnya dari berbagai aspek: kerapian penulisan, kesesuaian bahasa, hingga kejelasan ide. Di era ini, di mana teknologi AI memudahkan siapa saja untuk menghasilkan artikel, tugas saya sebagai editor bukan hanya menilai konten, tapi juga menilai niat dan dedikasi di balik pembuatan karya tersebut. Artikel review yang hanya berisi ringkasan tanpa ada critical analysis, misalnya, sangat mudah dibuat dengan bantuan AI. Lalu, apakah ini yang layak diterbitkan?

Tentu saja, keputusan cepat sering kali menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan dari para penulis. Tidak sedikit yang marah dan menganggap penolakan dalam beberapa menit sebagai ketidakadilan. Tapi saya perlu menegaskan, penolakan cepat bukanlah bentuk meremehkan, melainkan kejelian dalam menilai mana karya yang pantas mendapatkan perhatian lebih.

Setiap editor yang berpengalaman akan memahami, tugas kami bukan sekadar mengisi halaman jurnal. Kami adalah penjaga gawang yang memastikan hanya ide-ide terbaik dan orisinal yang tersaring, bukan karena kami berkuasa, tetapi karena tanggung jawab kami pada ilmu pengetahuan dan komunitas akademik.

Jadi, ketika saya mereject sebuah paper hanya dalam beberapa menit, itu bukan berarti paper tersebut tidak bernilai. Bisa jadi, paper tersebut hanya belum cukup siap untuk berkompetisi di level ini. Karena pada akhirnya, penerbitan ilmiah bukan sekadar soal kuantitas, tapi tentang memberikan kontribusi yang nyata dan berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Filsafat sains: Bukan Sekedar teori, tapi kisah nyata

Saya baru saja menyelesaikan penulisan buku yang akan saya gunakan untuk mengajar kuliah Sains Dasar dan Filsafat Ilmu di Universitas Negeri Malang (UM) dengan judul Filsafat Sains: Bukan Sekadar Teori, Tapi Kisah Nyata (silakan klik tautan untuk membaca file PDF-nya, yang hanya diperuntukkan dalam kalangan terbatas). Pada bagian terakhir buku, saya membahas filsafat sains untuk Indonesia. Opini ini juga mengkritisi maraknya praktik pamer (sitasi) publikasi ilmiah di Indonesia oleh segelintir orang yang sering kali tidak memahami esensi publikasi ilmiah dari perspektif yang lebih mendalam. Akibatnya, ilmu pengetahuan tidak berkembang sebagaimana mestinya, terhambat oleh tata kelola dan pemahaman yang keliru serta dangkal. Baca juga “Simulakra ketiga dalam publikasi ilmiah: Pandangan yang menakutkan” di blog ini.

Filsafat Sains untuk Indonesia

Filsafat sains menawarkan kerangka kerja intelektual yang esensial untuk memahami bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, apa tujuan dari penelitian ilmiah, dan bagaimana kebenaran dalam sains bisa dicapai. Di Indonesia, menerapkan dan menghayati pandangan-pandangan para filsuf sains seperti Karl Popper, Thomas Kuhn, Paul Feyerabend, dan Francis Bacon sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman atau “salah kaprah” yang dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pentingnya menghayati pandangan filsafat sains terletak pada kemampuannya untuk mencegah beberapa kesalahpahaman umum. Salah satu mispersepsi adalah keyakinan bahwa semua pengetahuan adalah mutlak dan tidak dapat berubah. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan selalu berkembang melalui revisi, penemuan baru, dan perubahan paradigma. Sikap seperti ini dapat membatasi kreativitas dan inovasi dalam penelitian ilmiah.

Selain itu, persepsi bahwa kemajuan sains hanya ditunjukkan melalui publikasi ilmiah juga kurang tepat. Proses ilmiah itu sendiri merupakan inti dari perkembangan ilmu pengetahuan. Francis Bacon menekankan pentingnya metode empiris yang berbasis pada pengamatan dan eksperimen. Baginya, tanpa proses pengumpulan data yang sistematis dan eksperimen yang teliti, pengetahuan ilmiah tidak dapat berkembang dengan baik. Mengabaikan proses ini dan hanya fokus pada hasil akhir berupa publikasi dapat mengerdilkan pemahaman kita tentang esensi ilmu pengetahuan.

Karl Popper juga menyoroti pentingnya proses falsifikasi dalam sains. Menurutnya, kemajuan ilmiah dicapai melalui upaya terus-menerus untuk menguji dan mencoba membuktikan kesalahan teori-teori yang ada. Jika kita hanya menilai kemajuan dari jumlah publikasi tanpa mempertimbangkan kualitas proses pengujian dan kritik terhadap teori tersebut, maka kita kehilangan esensi dari metode ilmiah yang sejati.

Thomas Kuhn, dengan konsep “revolusi paradigma,” menunjukkan bahwa perubahan besar dalam sains terjadi melalui pergeseran fundamental dalam cara pandang kita terhadap dunia, bukan semata-mata melalui akumulasi publikasi. Proses pergeseran ini melibatkan debat intens dan evaluasi kritis yang mendalam dalam komunitas ilmiah. Menghargai proses ini lebih penting daripada sekadar jumlah publikasi yang dihasilkan.

Kemajuan dalam ilmu pengetahuan tidak hanya bergantung pada metodologi yang benar, tetapi juga pada cara pikir yang terbuka, kritis, dan dinamis. Pemikiran kritis dan terbuka, seperti yang diusung oleh Popper melalui falsifikasionisme, menuntut agar teori diuji dengan bukti, dan ilmuwan siap meninggalkan teori yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kuhn menekankan pentingnya keterbukaan terhadap revolusi paradigma, di mana teori-teori ilmiah yang ada dapat digantikan ketika paradigma baru terbukti lebih efektif dalam menjelaskan fenomena alam.

Pluralisme metodologis juga memainkan peran penting dalam memajukan ilmu pengetahuan. Gagasan Paul Feyerabend tentang “apa pun bisa berlaku” mendorong inovasi dan eksperimen dengan berbagai metode ilmiah yang berbeda. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini dapat memfasilitasi penelitian yang lebih inklusif dan mengakui keberagaman perspektif.

Peran kebijakan dalam memajukan ilmu pengetahuan juga tidak bisa diabaikan. Kebijakan publik harus mendukung penciptaan lingkungan yang kondusif untuk penelitian ilmiah, termasuk pendanaan yang memadai, pendidikan sains yang kuat, serta dukungan terhadap kebebasan akademik dan kolaborasi internasional. Francis Bacon menekankan pentingnya metode empiris yang berbasis pada pengamatan dan eksperimen. Oleh karena itu, kebijakan yang mendukung infrastruktur penelitian seperti laboratorium, pusat data, dan fasilitas penelitian lainnya sangat krusial untuk kemajuan sains.

Kebijakan yang tidak tepat dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip-prinsip kebijakan yang harus dipertimbangkan meliputi dukungan terhadap penelitian inovatif dan eksperimen bebas, pengalokasian dana yang memadai untuk penelitian dan pendidikan sains, serta memfasilitasi kolaborasi internasional. Selain itu, membangun budaya ilmiah yang kritis dan terbuka melalui kebijakan pendidikan dapat membentuk generasi ilmuwan yang mampu mempertanyakan asumsi yang ada dan terus mencari pemahaman yang lebih baik. Kebijakan juga harus memperhatikan faktor sosial dan budaya yang dapat menghambat perkembangan sains, seperti dogma atau kepercayaan yang tidak dapat dipertanyakan.

Kesimpulannya, kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia sangat tergantung pada cara kita memahami dan menerapkan filsafat sains. Dengan menghindari salah kaprah dan kesalahpahaman, serta mendukung kebijakan yang sesuai, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menghayati pandangan-pandangan filsuf seperti Popper, Kuhn, dan Feyerabend akan membantu memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, serta menciptakan kebijakan yang mendorong inovasi dan kemajuan yang berkelanjutan. Menghargai proses ilmiah sama pentingnya dengan hasil akhir, karena tanpa proses yang kritis dan dinamis, ilmu pengetahuan tidak akan mampu berkembang dan beradaptasi dengan tantangan baru.

Kemajuan sains tidak hanya ditentukan oleh metode ilmiah yang digunakan atau jumlah publikasi yang dihasilkan, tetapi juga oleh kebijakan yang mendukung penelitian dan pendidikan sains, serta sikap terbuka dan kritis terhadap semua bentuk pengetahuan.

Sains: Lebih dari Sekadar Teks!

Sains. Sebuah kata yang sering kita dengar dan sering kita puja bak selebriti papan atas dalam ajang penghargaan. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa itu sains? Atau, mungkin, kita hanya menganggap sains sebagai kumpulan teks tebal yang penuh rumus dan tabel, seperti buku panduan merakit furnitur? Apakah sains hanya sekadar menghafal teori, tanpa memahami bagaimana teori-teori tersebut lahir dari keringat dan perjuangan para ilmuwan yang bekerja keras di laboratorium?

Bayangkan sebuah diskusi tentang sains, dan tiba-tiba seseorang berkata, “Lihat, ada publikasi baru! Ini sains yang sesungguhnya!” Seolah-olah sains adalah novel terlaris yang dipuji karena alur ceritanya yang memikat, bukan karena metodologi yang ketat dan penelitian yang tiada henti di baliknya. Dalam pandangan ini, sains hanyalah hasil akhir — kumpulan teks indah yang siap dipublikasikan, tanpa perlu tahu bagaimana para ilmuwan ‘meramu’ hipotesis, eksperimen, dan kesimpulan yang tidak terduga.

Namun, bukankah pendekatan ini agak … bagaimana ya, dangkal? Seperti seseorang yang berpikir bahwa roti dapat dibuat hanya dengan membaca daftar bahan-bahannya tanpa tahu cara menguleni adonan. Atau seperti mencoba memahami film “Nagabonar” hanya dengan membaca sinopsis singkatnya.

Saat ini, kita sering terjebak dalam obsesi dengan “hasil akhir” sains, yaitu publikasi ilmiah. Ya, publikasi, Q1 lagi! Mata uang terpenting dalam dunia akademis. Pertanyaan “Berapa banyak artikel yang telah Anda terbitkan tahun ini?” menjadi lebih penting daripada “Bagaimana Anda melakukan penelitian itu?” Seolah-olah yang penting adalah berapa banyak makalah yang dihasilkan, tanpa memperhatikan apakah prosesnya dilakukan dengan benar atau apakah data yang diperoleh benar-benar valid. Jika sains hanya diukur dari jumlah publikasi, mungkin kita semua bisa memenangkan Hadiah Nobel hanya dengan menulis “Eksperimen ini gagal” di selembar kertas kosong.

Di sinilah kritik Bertrand Russell terhadap filsafat Hegel berperan. Russell, seorang filsuf tajam yang terkenal karena ketegasannya, telah lama memperingatkan tentang bahaya memandang sains hanya sebagai hasil akhir atau kumpulan teks. Bagi Russell, filsafat Hegel tampak seperti sup yang terlalu encer: penuh cairan dan rempah-rempah yang datang entah dari mana, tetapi sulit menemukan substansi yang sebenarnya.

Jika kita membaca kritikan Bertrand Russell kepada Georg Wilhelm Friedrich Hegel dalam bukunya “A History of Western Philosophy” yang tebal itu, Russel berpendapat bahwa Hegel membuat kesalahan besar dengan memandang seluruh realitas sebagai “keseluruhan yang agung” tanpa memperhatikan proses logis yang jelas dan konkret. Bagi Hegel, segala sesuatu harus dipahami sebagai bagian dari “yang absolut”, sebuah konsep yang tampak agung sampai kita menyadari bahwa itu seperti mengklaim bahwa semua sup di dunia adalah satu sup besar tanpa memperhatikan bahan-bahannya. Russell tampaknya bertanya kepada Hegel, “Bisakah Anda menunjukkan kepada saya cara mencapai ‘yang absolut’ ini dengan langkah-langkah yang jelas?” Bagi Russell, pendekatan Hegel yang hanya berfokus pada tujuan abstrak tanpa menjelaskan proses untuk mencapainya seperti seorang penyair yang lebih tertarik pada kata-kata indah daripada seorang ilmuwan sejati.

Kenyataannya, banyak ilmuwan saat ini lebih peduli tentang berapa banyak publikasi yang dapat mereka hasilkan daripada memastikan bahwa metode yang mereka gunakan benar-benar memenuhi standar ilmiah. Penelitian telah menjadi seperti acara memasak instan, di mana resep diambil dari internet dan disajikan dalam 10 menit, tanpa mempertimbangkan apakah hasilnya dapat dimakan. Prosesnya? Siapa peduli! Yang penting adalah hasil akhirnya terlihat mengesankan dalam jurnal ilmiah.

Pendekatan ini, selain membuat kita malas berpikir, juga berpotensi menyesatkan. Bayangkan seorang dokter yang memutuskan diagnosis pasien hanya berdasarkan teori dalam buku teks tanpa mempertimbangkan gejala atau pemeriksaan fisik. “Hmm, menurut buku ini, jika Anda merasa pusing, itu pasti ada hubungannya dengan posisi planet Mars.” Selamat datang di dunia di mana sains menjadi novel fantasi dan kita semua hanyalah karakter.

Sains bukan hanya teks, dan sains yang baik bukanlah tentang mengumpulkan halaman demi halaman tulisan tanpa metodologi yang jelas. Sains adalah tentang bertanya “mengapa” dan “bagaimana” dengan rasa ingin tahu yang mendalam, bukan hanya menyalin “apa” yang telah ditulis. Jangan sampai kita terjebak dalam pandangan bahwa sains hanyalah kumpulan kata-kata tanpa makna. Sebab, jika sains hanyalah teks, maka mungkin kesimpulan kita tidak lebih ilmiah daripada horoskop di koran.

Jadi, bagi para pengagum sains sebagai teks: Maaf, kami menginginkan lebih dari sekadar kata-kata indah. Kami menginginkan proses yang jelas, transparansi, dan mungkin sedikit kejutan dari eksperimen yang gagal. Setidaknya, itulah yang membuat sains begitu menarik — bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga perjalanannya. Sebelum kita menulis bab berikutnya dalam “novel sains” ini, mari kita pastikan kita tahu cara menulis cerita dengan benar, dan tidak hanya terpaku pada akhir yang apik.

Seperti kritik Russell terhadap Hegel, janganlah kita terpesona oleh ide-ide besar yang tidak jelas, tetapi fokuslah pada substansi yang sebenarnya. Sains tanpa proses yang tepat seperti memanggang roti tanpa ragi — hasilnya keras, hambar, dan tidak enak.

Dilema etis dalam sains: Paradoks antara pragmatisme Machiavellian dan integritas Russellian

Tulisan ini adalah refleksi dari hal penting yang perlu kita renungkan dalam dunia akademik yang dikompetisikan. Dalam dunia akademis dan penelitian ilmiah, sebuah dilema muncul ketika seorang peneliti dihadapkan pada pilihan untuk menipu data riset — termasuk praktik seperti pemilihan data yang menguntungkan (cherry-picking), eksploitasi data tanpa hipotesis awal (data dredging), kecenderungan mengkonfirmasi hipotesis yang sudah ada (confirmation bias), penyalahgunaan statistik, manipulasi grafik, penghilangan data yang tidak sesuai (data omission), pemalsuan data (fabrication), plagiarisme, dan distorsi hasil (p-hacking), serta interpretasi yang menyesatkan — demi mencapai tujuan tertentu, seperti peringkat universitas yang lebih tinggi, mendukung indikator kinerja utama universitas, keuntungan finansial, atau tetap setia pada prinsip-prinsip etis dan menjalankan riset dengan jujur. Pilihan ini tidak hanya mencerminkan dua pendekatan yang berbeda, tetapi juga membawa kita pada perdebatan filosofis yang mendalam antara dua pandangan yang kontras: pragmatisme Machiavellian dan idealisme Russellian.

Di satu sisi, pandangan Niccolò Machiavelli dapat memberikan justifikasi bagi tindakan manipulatif jika dianggap bermanfaat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam dunia yang didominasi oleh persaingan ketat dan tuntutan keberhasilan, Machiavelli mungkin akan menganggap pemalsuan data sebagai langkah yang dapat diterima jika itu membawa manfaat konkret, seperti peningkatan reputasi institusi atau keuntungan finansial. Bagi Machiavelli, hasil akhir adalah yang terpenting, dan stabilitas serta kesuksesan sering kali memerlukan keputusan yang pragmatis, meskipun mungkin tidak sesuai dengan norma moral tradisional. Namun, di balik pandangan ini, terdapat perhitungan yang cermat tentang risiko jangka panjang. Jika penipuan terungkap, kepercayaan publik dan legitimasi dapat terancam, dan reputasi yang telah dibangun dengan susah payah bisa runtuh dalam sekejap.

Sementara itu, Bertrand Russell, seorang filsuf yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kebenaran, akan memandang penipuan dalam penelitian sebagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan esensi sains itu sendiri. Bagi Russell, sains harus didasarkan pada kejujuran dan transparansi, bukan pada manipulasi atau kebohongan. Tindakan menipu dalam riset, bagi Russell, bukan hanya sebuah pelanggaran etika, tetapi juga ancaman bagi fondasi sains sebagai disiplin yang mencari kebenaran melalui metode empiris yang ketat. Russell percaya bahwa tanpa integritas, sains tidak dapat memberikan manfaat yang sejati dan abadi bagi kemanusiaan.

Menipu dalam penelitian ilmiah menciptakan paradoks dalam filsafat sains. Filsuf seperti Karl Popper dan Thomas Kuhn telah menunjukkan bahwa kemajuan ilmiah hanya mungkin terjadi melalui pengujian hipotesis yang jujur dan terbuka terhadap falsifikasi. Jika data dimanipulasi atau hasil penelitian dipalsukan, proses ini menjadi tidak mungkin dilakukan. Penipuan tidak hanya menghentikan kemajuan pengetahuan, tetapi juga merusak kepercayaan yang menjadi dasar dari kolaborasi ilmiah. Di sini, paradoks etika Machiavellian menjadi jelas: meskipun penipuan mungkin menawarkan keuntungan jangka pendek, tindakan ini justru merusak tujuan yang lebih besar, yaitu kemajuan ilmiah yang berkelanjutan.

Kepercayaan adalah elemen vital dalam dunia ilmiah. Jika praktik penipuan menjadi umum, dasar kepercayaan ini akan hancur, menghambat kerja sama dan inovasi, dan merusak legitimasi sains di mata publik. Dalam konteks ini, Machiavelli mungkin melihat penipuan sebagai strategi yang sah selama manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Namun, Russell akan menegaskan bahwa hanya melalui kejujuran, transparansi, dan integritaslah sains dapat tetap menjadi sumber pengetahuan yang dapat diandalkan.

Dilema ini menggambarkan konflik mendasar antara pragmatisme Machiavellian dan idealisme Russellian. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk menipu demi keuntungan langsung atau tetap setia pada prinsip-prinsip etis, pertanyaannya bukan hanya soal benar atau salah secara moral, tetapi juga tentang bagaimana kita mendefinisikan kemajuan sejati dalam ilmu pengetahuan. Tanpa integritas dan kejujuran, ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang; sebaliknya, seperti yang diyakini Russell, hanya dengan pengejaran kebenaran yang etis, sains dapat benar-benar melayani kepentingan umat manusia.

Ketika iblis mengolok dosen: Menggugat integritas di balik topeng akademis

Di dunia akademis yang penuh dengan gelar dan ego, dosen sering kali merasa sebagai makhluk terpintar di alam semesta. Mereka dengan percaya diri mengutip teori-teori yang rumit dan menatap layar laptop mereka seolah-olah sedang menyusun kata-kata untuk menyelamatkan dunia. Namun, ada satu sosok yang sayangnya tidak terkesan dengan semua ini: Iblis.

Iblis, yang telah terlibat dalam bisnis menggoda manusia sejak zaman dahulu, mungkin tertawa terbahak-bahak melihat betapa seriusnya para dosen ini menganggap diri mereka sendiri. Lihat saja beberapa dosen yang menganggap manipulasi data sebagai “sedikit bumbu untuk ditambahkan ke hasil penelitian.” Menurut Iblis, ini adalah contoh sempurna dari jalan pertama favoritnya: menganggap dosa itu kecil. “Hanya sedikit, demi kebaikan sains,” kata mereka, sambil menyertakan hasil eksperimen yang seharusnya tidak lolos sensor moral. Hanya demi mengejar luaran publikasi yang menjerat.

Lalu ada dosen yang berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa mencuri tulisan orang lain dan menghilangkan hasil yang dicuri dengan parafrase adalah bentuk penghargaan terhadap karya yang hebat. “Meniru adalah pujian tertinggi,” katanya, meskipun ini sebenarnya adalah perwujudan nyata dari jalan kedua Iblis: mempertimbangkan baik dalam buruk. Iblis mungkin berpikir, “Lalu mengapa saya tidak diberi pahala karena menciptakan dosa?”

Tidak berhenti di situ, ada juga dosen yang dengan bangga merencanakan karier akademisnya tanpa pernah sekalipun memikirkan bimbingan moral mahasiswanya. Mereka lebih tertarik pada koleksi penghargaan di rak buku mereka daripada pada perkembangan intelektual dan etika mahasiswanya. Ini adalah bukti bahwa iblis sangat berhasil dalam membingungkan pikiran—jalan ketiga yang sangat disukainya.

Dan hal yang paling menyedihkan—dan mungkin yang paling menghibur bagi iblis—adalah ketika seorang dosen, dalam keasyikannya mengejar ‘prestasi,’ lupa mengapa dia ada di sini sejak awal. Mereka sibuk dengan segala macam ambisi palsu sampai melupakan esensi terbesar dari profesi ini: mendidik. Pada titik ini, iblis mungkin berpikir, “Terima kasih, Anda telah membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah.”

Jadi, meskipun kita para dosen mungkin merasa intelektual dan canggih, mari kita ingat satu hal: bahkan iblis tidak tertarik dengan kebohongan yang kita katakan pada diri kita sendiri. Baginya, kita hanyalah pion dalam permainan besar di mana moral dan etika dianggap hanya gangguan kecil di jalan menuju ‘kesuksesan’ yang fana.