Ilmu yang Membisu

Di sebuah zaman ketika tiap klik melahirkan deret data, kita kerap terkecoh. Mengira bahwa informasi berarti pemahaman. Tapi mungkin kita sedang berada di titik ketika Jean Baudrillard benar. Di saat kebenaran dipalsukan bukan oleh dusta, tapi oleh limpahan warta.

Publikasi ilmiah hari ini bukan lagi jalan sunyi para pencari makna. Ia kini lebih menyerupai lalu lintas yang ramai, namun asing. Saling berdesakan, berebut ruang, tapi tak menyapa. Di sana, artikel tak terbit karena pertanyaan besar telah dijawab, melainkan karena tenggat waktu, target institusi, atau nilai akreditasi. Di sana, makalah lahir dari algoritma kewajiban, bukan kegelisahan.

Ada yang mengingatkan tentang noise. Sebuah kata yang kini bukan hanya gangguan telinga, tapi juga batin. Daniel Kahneman dan dua sahabatnya pernah menulis. Kesalahan bisa dikoreksi, tapi ketidakteraturan yang sistemik lebih sulit dihapus. Dua penilai bisa membaca naskah yang sama, namun menyimpulkannya berbeda. Bukan karena substansi, tapi karena cuaca pikirannya. Suatu hari cerah, tulisan bisa lulus. Di hari lain, hujan turun, dan makalah pun ditolak.

Apa yang disebut decision hygiene, kebersihan dalam menilai, hanya tinggal dalam buku. Ia belum jadi kebiasaan. Sistem yang bernama peer review seolah mengklaim objektivitas, tapi diam-diam menyimpan subjektivitas yang tak pernah diakui. Kadang, tulisan diproses oleh penilai yang letih. Kadang, oleh yang sedang tergesa. Ilusi kesepakatan lalu menjadi tameng dari sesuatu yang tak kunjung jernih.

Di tengah kekacauan ini, kita bertanya. Apakah ilmu masih berbicara?

Mungkin ia telah menjadi suara yang diredam dalam auditorium yang riuh. Atau, mungkin ia telah memilih diam. Bukan karena tak ada yang dikatakan, tapi karena tak ada ruang untuk didengar.

Kita hidup dalam masa ketika menulis ilmiah adalah cara mempertahankan eksistensi, bukan menyampaikan keresahan. Ketika publikasi tidak membawa terang, tapi kabut. Dan dari dalam kabut itu, kita pun meraba-raba. Bukan lagi mencari jawaban, tapi sekadar memastikan bahwa kita belum kehilangan arah.

Namun, adakah yang masih bertanya?

Carpet Crawlers (Genesis – 1975)

Merefleksikan lirik lagu “Carpet Crawlers” pada kehidupan seorang dosen, dengan mempertimbangkan berbagai aspek profesi tersebut:

Baris-baris Awal:

  • “There is lambswool under my naked feet / The wool is soft and warm, gives off some kind of heat”: Bagi seorang dosen, ini bisa diartikan sebagai kenyamanan dan kehangatan dalam lingkungan akademis. Kampus, ruang kerja, interaksi dengan mahasiswa dan kolega bisa menjadi “lambswool” yang memberikan rasa aman dan tujuan. “Heat” di sini mungkin melambangkan semangat intelektual dan gairah untuk berbagi ilmu.
  • “A salamander scurries into flame to be destroyed”: Ini bisa merefleksikan risiko “terbakar habis” (burnout) dalam dunia akademik yang penuh tekanan publikasi, penelitian, dan pengajaran. Dosen yang terlalu bersemangat atau terobsesi dengan satu aspek pekerjaannya mungkin mengabaikan keseimbangan dan akhirnya “hancur” oleh “api” tuntutan profesi.
  • “Imaginary creatures are trapped in birth on celluloid”: Ini menarik untuk dihubungkan dengan ide-ide dan teori-teori abstrak yang diajarkan dan dikembangkan oleh dosen. “Celluloid” bisa menjadi metafora untuk kurikulum, buku teks, atau bahkan presentasi di kelas. Ide-ide ini “lahir” dan direpresentasikan, namun terkadang terasa terbatas atau terperangkap dalam format yang statis.
  • “The fleas cling to the golden fleece hoping they’ll find peace”: Ini bisa menggambarkan mahasiswa atau bahkan kolega yang mungkin mencari keuntungan atau pengakuan dengan “menempel” pada dosen yang lebih senior atau memiliki reputasi baik. “Golden fleece” di sini bisa melambangkan kesuksesan akademik atau pengaruh.
  • “Each thought and gesture are caught in celluloid / There’s no hiding in my memory, there’s no room to avoid”: Bagi seorang dosen, setiap perkataan dan tindakan di kelas maupun di luar kampus seringkali diperhatikan dan diingat oleh mahasiswa dan kolega. Tidak ada ruang untuk menyembunyikan inkonsistensi atau kesalahan. Reputasi dan jejak rekam akademik (“memory”) akan terus mengikuti.

Verse 1:

  • “The crawlers cover the floor in the red ochre corridor / For my second sight of people, they’ve more lifeblood than before”: “Crawlers” bisa diartikan sebagai generasi mahasiswa yang terus berganti. “Red ochre corridor” mungkin melambangkan perjalanan panjang dan terkadang melelahkan dalam mendidik dan membimbing mereka. “Second sight” bisa berarti kemampuan dosen untuk melihat potensi dan perkembangan mahasiswa dari waktu ke waktu, menyadari “lifeblood” (semangat dan potensi) mereka yang semakin berkembang.  
  • “They’re moving in time to a heavy wooden door / Where the needle’s eye is winking, closing on the poor”: “Heavy wooden door” bisa menjadi metafora untuk gerbang kesempatan atau keberhasilan akademik. “Needle’s eye” yang “menutup pada yang miskin” mungkin menggambarkan tantangan dan hambatan yang dihadapi mahasiswa atau kolega yang kurang memiliki sumber daya atau dukungan. Dosen mungkin merasa prihatin dengan kesenjangan ini.

Chorus:

  • “The carpet crawlers heed their callers / ‘We’ve got to get in to get out / We’ve got to get in to get out / We’ve got to get in to get out’”: Ini adalah inti yang sangat relevan. Bagi seorang dosen, “getting in” bisa berarti terlibat secara mendalam dalam proses belajar-mengajar, penelitian, dan pengabdian. “Getting out” bisa melambangkan dampak positif yang dihasilkan dari pekerjaan mereka bagi mahasiswa, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk mencapai dampak tersebut, mereka harus “masuk” dan berinvestasi dalam pekerjaan mereka. Atau, ini bisa juga merefleksikan siklus akademik yang terus berulang: masuk ke semester baru untuk akhirnya “keluar” dengan lulusnya mahasiswa atau selesainya proyek penelitian.  

Verse 2:

  • “There’s only one direction in the faces that I see / It’s upward to the ceiling where the chamber’s said to be”: Ini bisa menggambarkan harapan dan aspirasi yang sama dari para mahasiswa untuk meraih kesuksesan dan masa depan yang lebih baik. “Ceiling” dan “chamber” bisa melambangkan tujuan akademik dan karir yang mereka impikan.
  • “Like the forest fight for sunlight that takes root in every tree / They are pulled up by the magnet, believing they are free”: Ini bisa menggambarkan persaingan di antara mahasiswa untuk mendapatkan perhatian, nilai bagus, atau kesempatan karir. “Magnet” di sini bisa menjadi sistem pendidikan, ekspektasi sosial, atau bahkan ambisi pribadi yang mendorong mereka ke atas, meskipun mereka mungkin merasa sepenuhnya bebas dalam pilihan mereka.  

Verse 3:

  • “Mild mannered supermen are held in kryptonite / And the wise and foolish virgins giggle with their bodies glowing bright”: “Mild mannered supermen” bisa jadi adalah dosen-dosen yang terlihat biasa namun memiliki keahlian dan pengetahuan yang luar biasa, namun mereka juga memiliki “kryptonite” – kelemahan atau batasan dalam sistem akademik atau birokrasi. “Wise and foolish virgins” yang “glowing bright” mungkin menggambarkan berbagai macam mahasiswa dengan tingkat pemahaman dan motivasi yang berbeda, namun semuanya memiliki potensi dan “cahaya” unik mereka.
  • “Through the door, a harvest feast is lit by candlelight / It’s the bottom of a staircase that spirals out of sight”: “Door” bisa menjadi kelulusan atau pencapaian akademik. “Harvest feast” melambangkan perayaan keberhasilan dan hasil dari kerja keras. “Staircase that spirals out of sight” menunjukkan bahwa belajar dan berkembang adalah proses yang berkelanjutan dan tidak pernah berakhir, baik bagi mahasiswa maupun dosen.

Verse 4:

  • “The porcelain mannequin with shattered skin fears attack / And the eager pack lift up their pitchers, they carry all they lack”: “Porcelain mannequin” yang rapuh bisa menggambarkan kerentanan seorang dosen terhadap kritik, tekanan, atau perubahan kebijakan akademik. “Eager pack” dengan “pitchers” bisa menjadi mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan dan berusaha “mengumpulkan” sebanyak mungkin dari dosen mereka.  
  • “The liquid has congealed which has seeped out through the crack / And the tickler takes his stickleback”: Ini mungkin menggambarkan hilangnya semangat atau idealisme dalam dunia akademik yang terkadang kaku dan birokratis. “Liquid” yang membeku dan merembes keluar melambangkan potensi yang terbuang atau inovasi yang terhambat. “Tickler” dan “stickleback” adalah imaji yang lebih abstrak, mungkin menggambarkan gangguan kecil atau hal-hal remeh yang bisa mengganggu fokus dan efektivitas dosen.

Secara keseluruhan, lirik “Carpet Crawlers” menawarkan lensa yang menarik untuk merefleksikan berbagai dinamika dalam kehidupan seorang dosen: antara idealisme dan realitas, antara harapan dan tantangan, serta peran mereka dalam membimbing generasi penerus. Lagu ini mengingatkan bahwa meskipun perjalanan mendidik dan meneliti bisa terasa lambat dan penuh tantangan (“carpet crawlers”), tujuan akhir untuk “get out” dan memberikan dampak positif tetap menjadi pendorong utama.

Universitas kita masih di tahap birokratis tradisional 

Dalam kajian perkembangan organisasi, setiap institusi berkembang melalui berbagai tahap yang mencerminkan pola pikir dan sistem kerja yang mereka anut. Tidak ada organisasi yang langsung menjadi inovatif dan adaptif. Sebaliknya, mereka bergerak secara bertahap, mulai dari sistem yang menekankan kepatuhan dan ketertiban, hingga menjadi institusi yang mendorong pencapaian, kreativitas, dan kolaborasi.

Jika kita mencermati kondisi universitas saat ini, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kita masih berada dalam tahap birokrasi tradisional. Ini terlihat dari struktur kepemimpinan yang vertikal dan tegas, peran-peran yang ditentukan secara kaku, serta pengambilan keputusan yang lebih banyak ditentukan oleh posisi daripada prestasi. Pada tahap ini, kepemimpinan lebih berfungsi sebagai pengawas dan administrator ketimbang sebagai penggerak perubahan.

Struktur organisasi dalam tahap ini dirancang untuk menjaga stabilitas. Jabatan formal dipertahankan secara ketat, dan sistem manajemen lebih berfokus pada keteraturan dan pemenuhan prosedur. Dalam konteks tertentu, pendekatan ini memang memiliki kelebihan, ia memberikan kejelasan tanggung jawab dan memastikan konsistensi dalam pelaksanaan akademik. Namun, tantangan terbesarnya adalah risiko stagnasi. Universitas yang terlalu nyaman dengan model birokratis ini cenderung sulit beradaptasi dengan perubahan zaman dan kurang fleksibel dalam menghadapi tantangan global.

Karena itu, penting bagi kita untuk memperkuat fondasi birokratis ini bukan sebagai tempat untuk bertahan, melainkan sebagai pijakan untuk melompat ke tahap inovatif dan kolaboratif. Tahap inovatif menekankan hasil dan pencapaian, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Dalam tahap ini, universitas harus mulai mendorong penelitian, publikasi, serta kebebasan akademik. Sistem kepemimpinan pun harus bergeser dari sekadar administratif menjadi lebih visioner dan berorientasi pada transformasi.

Setelah tahap inovatif mulai berjalan, universitas perlu beranjak ke tahap kolaboratif. Di sini, organisasi tidak hanya berfokus pada pencapaian individu, tetapi juga pada kerja sama, empati, dan kepercayaan. Kepemimpinan dalam tahap ini lebih bersifat fasilitatif, di mana dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan memiliki peran aktif dalam menentukan arah perkembangan kampus. Partisipasi menjadi nilai utama, bukan hanya struktur dan aturan.

Transformasi ini tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan perbaikan sistem manajemen, peningkatan kapasitas kepemimpinan, dan perubahan budaya akademik secara bertahap. Namun, dengan memperkuat birokrasi yang ada sebagai fondasi, lalu secara progresif mengadopsi pola inovatif dan kolaboratif, universitas akan mampu berkembang menjadi institusi yang tidak hanya kokoh dalam sistem, tetapi juga tajam dalam gagasan dan luas dalam dampaknya.

Sebagai ringkasan, berikut adalah tahapan perkembangan yang harus dilewati universitas agar mampu mencapai keunggulan jangka panjang:

Tahap PerkembanganStruktur OrganisasiGaya KepemimpinanCiri UtamaDampak pada Universitas
Birokratis TradisionalHierarkis, terpusat, formal, proseduralInstruktif, berbasis aturan, pengawasan ketatMenekankan kepatuhan, prosedur lebih penting dari hasilStabilitas tinggi, tetapi kurang adaptif dan lamban berinovasi
InovatifFleksibel, berbasis kinerja, terbuka untuk inovasiTransformasional, berbasis visi, mendukung eksperimenMendorong inovasi dan pencapaian berbasis kompetensiLebih kompetitif dan maju dalam riset serta publikasi
KolaboratifTerdistribusi, berbasis partisipasi, mendukung kolaborasiFasilitatif, berbasis kepercayaan, mendorong sinergiMenitikberatkan pada kolaborasi, empati, dan nilai-nilai sosialUniversitas menjadi pusat pertumbuhan intelektual dan sosial

Universitas tidak hanya membutuhkan bangunan yang megah dan regulasi yang ketat. Ia membutuhkan jiwa yang hidup, jiwa yang berani berinovasi, adaptif terhadap perubahan, dan relevan dengan tantangan zaman. Inilah saatnya kita tidak lagi sekadar menjaga sistem tetap berjalan, tetapi mulai bergerak menuju universitas yang lebih maju, dinamis, dan berdampak bagi masyarakat.

Ilusi dialog: Mengapa komunikasi di universitas justru lebih sulit?

Ketika kita berpikir tentang universitas, yang terbayang seringkali adalah ruang-ruang intelektual yang penuh dengan kebebasan berpikir dan diskusi akademik yang terbuka. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks, dan ironisnya, lebih tertutup. Di balik fasad akademik yang menjunjung tinggi pencarian ilmu, komunikasi di universitas justru dihambat oleh struktur hierarki, ego akademik, dan norma sosial yang rumit.

1. Komunikasi dalam cengkeraman hierarki

Universitas memiliki struktur kekuasaan yang rigid. Profesor senior, administrator, dan mahasiswa beroperasi dalam sistem yang sering kali lebih menyerupai feodalisme daripada lingkungan kolaboratif. Akibatnya, komunikasi tidak terjadi secara horizontal, melainkan vertikal dengan hambatan-hambatan yang membuat informasi tersaring sebelum mencapai pihak yang benar-benar membutuhkannya. Ini menciptakan “penghalang komunikasi” yang sering kali memperlambat inovasi dan perkembangan intelektual.

2. Ego dan kapital intelektual yang menghambat dialog

Di lingkungan akademik, orang-orang memiliki investasi intelektual yang tinggi. Mereka tidak hanya mempertahankan argumen, tetapi juga mempertaruhkan reputasi akademik mereka. Inilah yang menyebabkan debat intelektual sering kali lebih bersifat defensif ketimbang eksploratif. Scrutiny yang berlebihan terhadap ide-ide baru dapat menciptakan budaya ketakutan untuk berpendapat, di mana seseorang lebih memilih diam daripada mengambil risiko diserang secara akademik.

3. Budaya “saving face” dan ketakutan terhadap kritik

Dalam banyak kultur akademik, terutama di lingkungan yang masih paternalistik, kritik langsung dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan. Akibatnya, banyak akademisi muda dan mahasiswa yang memilih untuk menghindari perdebatan langsung, demi menjaga “muka” para senior atau profesor yang memiliki pengaruh besar dalam karier mereka. Hal ini tidak hanya menghambat pertumbuhan intelektual, tetapi juga memperkuat status quo yang mungkin sudah usang.

4. Solusi? Mengubah cara kita melihat komunikasi

Komunikasi, pada dasarnya, adalah cara kita menyelesaikan masalah. Baik itu dalam interaksi satu lawan satu, komunikasi massal, atau dalam kerja kelompok, komunikasi seharusnya menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, bukan memperlebar jurang hierarki dan ego. Universitas seharusnya menjadi tempat di mana perbedaan pendapat dihargai, bukan dilihat sebagai ancaman.

Jika kita ingin komunikasi di dunia akademik menjadi lebih sehat dan produktif, kita harus mulai mendobrak hierarki yang tidak perlu, membuka ruang dialog yang lebih setara, dan membangun budaya akademik yang lebih kolaboratif daripada kompetitif. Hanya dengan cara inilah universitas bisa benar-benar menjadi pusat pengetahuan yang terbuka, bukan sekadar menara gading yang menjauh dari realitas.

Ranking universitas: Prestasi atau sekadar ilusi marketing?

Seorang profesor statistik dari Amerika Serikat, kebetulan diaspora dari Indonesia, yang ikut dalam penyusunan kriteria ranking dari beberapa provider ranking, di grup WhatsApp yang saya ikuti, menyatakan bahwa ranking itu subjektif. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ranking universitas sering kali dipercaya sebagai indikator kualitas pendidikan yang objektif. Namun kenyataannya, sistem perankingan ini lebih merupakan alat pemasaran yang canggih daripada gambaran kualitas sesungguhnya. Sebuah universitas yang baru berdiri di Inggris misalnya mampu menduduki peringkat tinggi dalam waktu relatif singkat, meskipun mayoritas mahasiswanya berasal dari negara-negara berkembang. Apakah ini berarti kualitas pendidikan di universitas tersebut benar-benar unggul, atau ini sekadar strategi untuk menarik perhatian calon mahasiswa internasional?

Tidak jauh berbeda dengan situasi di Australia yang tujuan dari universitasnya adalah untuk komersial. Apakah wajar universitas yang berada di top 80 persen Australia dianggap lebih unggul dibandingkan universitas di negara lain yang mungkin punya kualitas setara atau bahkan lebih baik? Kenyataannya, sistem ranking yang memanfaatkan metrik seperti jumlah mahasiswa internasional dan dosen dari luar negeri membuat universitas tertentu tampak lebih menarik dan menjual, terlepas dari kualitas sebenarnya.

Sebaliknya, banyak universitas tua dan mapan di Amerika Serikat bahkan tidak terlalu peduli dengan ranking ini, karena reputasi akademik yang kuat sudah terbangun sejak lama tanpa harus bergantung pada peringkat internasional. Universitas-universitas ini tetap menjadi tujuan utama para pelajar global, menunjukkan bahwa ranking tidak selalu menentukan kualitas sebenarnya.

Ranking universitas mungkin berguna sebagai referensi awal, tetapi jangan pernah lupa bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat strategi marketing yang kuat. Maka dari itu, keputusan memilih universitas seharusnya didasarkan pada kualitas program studi, kesesuaian minat, fasilitas yang tersedia, dan reputasi akademik nyata, bukan sekadar angka-angka dalam tabel peringkat.

Pada akhirnya, pertanyaan filosofis yang muncul adalah: apakah kita mencari pendidikan untuk menemukan kebenaran dan hakikat ilmu pengetahuan, ataukah kita hanya ingin memperoleh pengakuan sosial melalui simbol prestasi semu yang ditawarkan oleh angka-angka ranking tersebut?

Kepahlawanan akademik dan semprotan parfum integritas

Betapa menggetarkannya adegan di “Scent of a Woman” ketika Al Pacino, atau lebih tepatnya Letnan Kolonel Frank Slade, berdiri di hadapan khalayak untuk membela seorang mahasiswa yang berani, Charlie Simms. Dengan lidah yang tajam dan suara menggelegar, Slade menghantam keras institusi pendidikan yang berusaha menghukum kejujuran dan keberanian moral. Namun, siapa sangka, pidato yang begitu dramatis itu lebih dari sekedar adegan di film; ia adalah cerminan suram dari dunia akademis.

Dalam dunia pendidikan yang ideal, kejujuran dijunjung tinggi layaknya trofi prestisius. Namun, apa yang kita lihat hari ini? Institusi yang lebih memilih politik daripada prinsip, dan pengakuan daripada kebenaran. Kita harus bertanya: apakah universitas-universitas telah berubah menjadi studio Hollywood, di mana integritas hanya skenario yang indah untuk didengar tapi jarang dilakukan?

Pidato Slade yang membara itu seharusnya menjadi lebih dari sekedar dialog film. Ia harus menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi para akademisi, bahwa di balik setiap nilai dan ujian, ada cerita integritas yang perlu dijaga. Daripada menjadi pengecut yang diam seribu bahasa, marilah kita menjadi pahlawan dalam narasi kita sendiri, menegakkan integritas tidak hanya dalam kata, tapi juga dalam tindakan.

Mari kita tertawakan ironi ini bersama-sama: dalam dunia yang seringkali mengorbankan etika demi keuntungan, mungkin kita memang perlu tokoh fiksi dari film untuk mengingatkan kita tentang nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar pendidikan kita. Sungguh, sebuah paradoks yang tidak hanya tragis, tapi juga konyol. Tetapi, setidaknya kita bisa menertawakan diri sendiri, bukan? Dan sambil kita tertawa, mungkin, hanya mungkin, kita bisa mulai membuat perubahan kecil yang akan membawa integritas kembali ke panggung utama—tidak hanya di layar lebar, tapi di dalam kelas-kelas kita.

Kebahagiaan dalam mengajar dan membimbing

Sebagai seorang dosen dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di perguruan tinggi, melihat wajah-wajah mahasiswa yang penuh semangat selalu menjadi momen yang menghangatkan hati. Bagi saya, mereka bukan sekadar mahasiswa, melainkan seperti anak-anak sendiri yang membawa harapan besar untuk masa depan mereka. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menyaksikan mereka tumbuh, belajar, dan memupuk mimpi-mimpi mereka di setiap langkah perjalanan akademik.

Wajah-wajah di kelas saya semester ini

Semester ini, saya berkesempatan mengajar mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor di Universitas Negeri Malang (UM). Video ini menampilkan wajah-wajah penuh semangat mereka yang akan menjadi kenangan indah dari kelas saya. Semoga mereka selalu diberkahi dan sukses dalam menempuh pendidikan di UM.