Logika di dunia politik: Andai lampu lalu lintas ikut Pemilu

Bayangkan jika lampu lalu lintas bisa ikut pemilu dan memutuskan aturannya sendiri. Hijau artinya berhenti, merah artinya jalan, dan kuning artinya bebas melakukan apapun—mungkin mirip dengan bagaimana beberapa politisi kita membuat kebijakan! Kekacauan pasti akan merajalela, dan polisi lalu lintas pun akan sibuk melambaikan tangan, bukan untuk mengatur lalu lintas, tapi untuk mengelap keringat karena pusing.

Mari kita lihat lebih dekat analogi ini. Di dunia nyata, lampu lalu lintas punya aturan yang jelas: hijau berarti jalan, merah berarti berhenti, dan kuning berarti hati-hati. Semua orang yang waras akan mengikuti aturan ini untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan menghindari tabrakan. Tapi apa jadinya kalau setiap pengemudi punya interpretasi sendiri? Misalnya, si A menganggap hijau artinya berhenti karena suka warna damai, si B menganggap merah artinya jalan karena suka warna merah yang gagah. Hasilnya? Kecelakaan di setiap persimpangan dan berakhirnya era ketenangan polisi lalu lintas.

Sekarang, bayangkan ini terjadi di politik Indonesia. Logika, yang seharusnya menjadi lampu lalu lintas bagi argumen dan keputusan, sering kali diabaikan atau diinterpretasikan secara bebas seperti warna favorit. Contoh simpel: seorang politisi berkata, “Jika kita meningkatkan anggaran pendidikan, maka anak-anak akan lebih pintar.” Logika sederhana ini mudah dipahami—anggaran naik, kualitas pendidikan naik, anak-anak lebih pintar.

Namun, di dunia politik, logika ini bisa berubah-ubah sesuai dengan kepentingan. Tiba-tiba, ada yang berkata, “Jika kita meningkatkan anggaran pendidikan, maka semua jalan akan bebas macet.” Nah loh, hubungannya apa? Tapi jangan kaget, ini adalah kenyataan dalam politik kita. Seolah-olah logika bukan lagi alat untuk berpikir, tapi semacam bumbu rahasia yang bisa ditambahkan sesuai selera. Tidak peduli jika rasa akhirnya jadi absurd, yang penting tampilannya menarik.

Tanpa logika yang konsisten, kebijakan yang dihasilkan bisa menjadi tidak efektif, bahkan merugikan. Seperti lampu lalu lintas tanpa aturan jelas, politik tanpa logika adalah resep pasti untuk kekacauan. Dan ini tidak hanya terjadi di level nasional atau lokal; hal yang sama juga terjadi di semua lini politik, termasuk politik universitas. Bayangkan dosen dan mahasiswa membuat kebijakan akademik tanpa logika yang jelas—kuliah yang seharusnya meningkatkan pengetahuan malah berakhir dengan diskusi tentang topik yang tidak relevan, sekadar untuk terlihat intelek.

Dalam politik universitas, logika seharusnya menjadi panduan utama dalam pengambilan keputusan. Namun, seringkali logika diabaikan demi ambisi pribadi atau kelompok. Hasilnya adalah kebijakan yang membingungkan dan tidak efisien, mirip dengan lampu lalu lintas yang berubah warna tanpa aturan.

Dengan analogi ini, mari kita berharap para politisi, baik di level nasional maupun universitas, bisa lebih logis, dan mungkin suatu hari nanti kita bisa melihat keputusan yang tidak hanya berwarna-warni tapi juga bermakna dan bermanfaat bagi semua. Karena pada akhirnya, logika adalah alat yang paling sederhana namun paling ampuh untuk menjaga jalanan politik tetap lancar dan bebas dari kecelakaan kebijakan.

Mengejar angka, mengabaikan makna: Hidup di era prestasi semu

Catatan ini saya tulis berdasarkan berbagai pengalaman saya dalam melihat dunia dan bergaul dengan orang-orang dari beragam latar belakang budaya, agama, bahasa, dan geografi.

Di era modern ini, kita hidup dalam dunia yang dihantui oleh angka. Setiap hari, kita dibombardir dengan statistik, data, dan pencapaian kuantitatif yang menjanjikan kebahagiaan sejati. Namun, mari kita berhenti sejenak dan merenung: apakah benar semua ini membuat kita lebih bahagia, atau justru kita semakin terjebak dalam ilusi prestasi semu?

Coba kita lihat dari sudut pandang yang lebih lucu. Kita punya si Pak Budi, yang baru saja memecahkan rekor sebagai karyawan dengan laporan terbanyak yang disusun dalam satu bulan. Hebat, bukan? Tapi tunggu dulu, saat kita melihat lebih dalam, ternyata semua laporan itu hanya berisi kata “OK” berulang-ulang. “Tapi hei, itu tetap angka, bukan?” kata Pak Budi sambil tersenyum lebar.

Kemudian ada Bu Ani, yang bangga dengan jumlah pengikutnya di media sosial yang mencapai jutaan. Ia adalah selebriti Instagram yang dikenal karena memposting foto-foto dirinya tersenyum di depan berbagai landmark terkenal. “Lihat, saya di Menara Eiffel!” katanya sambil mengabaikan kenyataan bahwa sebenarnya ia hanya di depan poster Menara Eiffel di studio fotonya sendiri. Tapi siapa yang peduli, kan? Jumlah pengikutnya tetap menghitung, dan itulah yang penting.

Tidak ketinggalan, kita juga punya Pak Ridwan, teman yang keberulan menjadi pejabat di kementerian, yang bangga dengan GDP negara yang terus meningkat. “Ekonomi kita berkembang pesat!” serunya di setiap pidato. Namun, di balik angka-angka fantastis itu, jumlah orang yang masih merasa kesepian dan depresi juga meningkat. “Tapi, hei, setidaknya kita kaya secara statistik!” kata Pak Ridwan dengan senyum penuh percaya diri.

Jangan lupa si Mbak Tia, rektor universitas terkenal yang sangat bangga dengan kenaikan peringkat universitasnya di daftar dunia. “Kita sekarang peringkat 300 besar dunia!” katanya penuh semangat. Tapi di balik prestasi ini, banyak mahasiswa yang stres dan merasa tertekan oleh beban akademis yang berat. “Tapi hei, setidaknya kita punya peringkat yang bagus!” ujarnya sambil mengabaikan kesejahteraan mahasiswa yang sebenarnya. Dosen-dosen pun tak luput dari penderitaan, terjebak dalam lingkaran riset abal-abal yang tidak realistis, hanya untuk mengejar angka dan publikasi tanpa etika demi angka dan remunerasi. “Setidaknya kita produktif!” seru para dosen, meski kualitas riset dan integritas ilmiah sering kali dikorbankan.

Dan akhirnya, ada si Doni, teman lama yang baru saja pindah kewarganegaraan ke negara maju di Amerika Utara. Setiap kali bertemu, ia selalu membandingkan segala sesuatu dengan negara barunya. “Di sana semuanya lebih hebat! Lihat peringkat universitas, teknologi canggih, dan kualitas hidup!” serunya sambil mengejek bekas negara yang telah membesarkannya. Tapi di balik kebanggaannya, Doni sering lupa menyebutkan betapa ia merindukan makanan rumah dan kehangatan keluarga yang ia tinggalkan. “Tapi hei, angka-angka itu tetap mengesankan, kan?” katanya dengan nada mengejek.

Ironisnya, kita terus menerus mengejar angka-angka ini sambil mengabaikan esensi dari hidup itu sendiri. Kita menghargai pencapaian yang kadang-kadang semu dan melupakan makna sejati dari kebahagiaan. Kita lupa bahwa hidup bukanlah tentang berapa banyak angka yang bisa kita kumpulkan, tetapi tentang kualitas hubungan, kesejahteraan mental, dan kebahagiaan yang datang dari dalam.

Jadi, mari kita berhenti sejenak dari mengejar prestasi semu ini dan mulai menghargai hal-hal yang benar-benar penting. Mari kita hargai ketulusan, kebahagiaan yang tidak terukur, dan makna sejati dari hidup kita. Karena pada akhirnya, hidup bukanlah tentang angka, tetapi tentang bagaimana kita merasakan dan menghargai setiap momen yang kita jalani.

Dan untuk Pak Budi, Bu Ani, Pak Ridwan, Mbak Tia, dan Doni (yang nama-nama tersebut hanya sebagai ilustrasi), mungkin sudah saatnya mereka belajar bahwa hidup lebih dari sekadar angka di atas kertas atau layar ponsel. Mari kita tertawa bersama, karena dalam kelucuan inilah kita menemukan kebenaran yang seringkali kita abaikan: bahwa hidup yang bermakna tidak bisa diukur dengan angka semata.

Lalu, ada lagi dasar filosofis yang mendukung ide ini. Filsafat Stoisisme misalnya, mengajarkan kita untuk mencari kebahagiaan dari dalam diri sendiri. Jadi, ketika Pak Budi mengulang “OK” sebanyak mungkin, dia sebenarnya sudah mencapai zen. Kemudian, Aristoteles dengan pronesisnya bilang bahwa kebijaksanaan praktis adalah kuncinya, bukan jumlah like di Instagram Bu Ani. Pendekatan postkolonial? Tentu, itu mengingatkan kita untuk menghargai budaya lokal, bukan sekadar mengejar ranking universitas. Dan humanisme? Nah, itu tentang mengakui nilai dan potensi kita sebagai individu, tidak perlu membandingkan dengan prestasi semu negara lain seperti yang dilakukan Doni. Jadi, dengan mengadopsi cara berpikir ini, kita mungkin bisa menciptakan masyarakat yang lebih seimbang dan bahagia, yang menghargai nilai-nilai lokal sambil tetap terbuka untuk belajar dari luar dengan bijaksana, tapi tidak secara obsesif, tentu saja!

Kaya tapi nestapa, sederhana tapi bahagia

Sebenarnya, tidak ada yang menarik dari catatan ini. Biasa saja. Namun saya merasa perspektif ini penting dalam memandang kehidupan.

Beberapa waktu lalu, di bawah langit Kota Malang, saya bertemu dengan dua sosok yang tampaknya diciptakan dari lembaran cerita berbeda. Pertama, penjual makanan pinggir jalan yang hidupnya tak semewah Crazy Rich Malang. Dengan wajah yang berseri dan senyum yang seolah-olah bisa menambal lubang di jalanan kota, ia menawarkan dagangannya. Tak ada keluhan tentang harga BBM yang naik atau korupsi pejabat yang bikin meradang. Hidupnya sederhana, sesederhana naskah drama yang tak bertele-tele.

Lalu, ada teman saya. Seorang pebisnis sukses yang dompetnya lebih gemuk daripada ayam potong menjelang Idul Adha. Namun, setiap kali bertemu, alih-alih cerita tentang pencapaian dan tawa, ia lebih sering bercerita tentang kekosongan. Tentang kegagalan dalam mengejar kebahagiaan yang tak pernah tuntas. Bukan mobil sport terbaru atau rumah mewah di kawasan elite yang menjadi topik utama, melainkan pertanyaan eksistensial yang membuat Nietzsche pun angkat tangan.

Sebagai seorang pendidik yang telah melangkah setengah baya, saya melihat perbedaan ini dengan kacamata yang sedikit berbeda. Saya merenung, seperti seorang filsuf yang baru saja menemukan kopi di pagi hari. Mengapa kebahagiaan tampak lebih sering hinggap pada mereka yang hidup sederhana? Bukankah seharusnya kekayaan materi membawa kebahagiaan yang melimpah ruah?

Jawabannya, mungkin, terletak pada sesuatu yang lebih subtil. Hidup sederhana mengajarkan kita untuk merasa cukup. Cukup dalam menikmati setiap detik, dalam memaknai setiap senyum, dan dalam menerima setiap kenyataan. Sementara kekayaan sering kali membawa kita pada pencarian tanpa akhir, seperti Don Quixote yang tak pernah lelah mencari kincir angin.

Sebagai seorang dosen yang telah menghabiskan bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan pada generasi muda, saya menyadari bahwa pelajaran terbesar tentang kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dalam buku teks. Di dalam hati yang merasa cukup, ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ada kebahagiaan yang tak tergoyahkan oleh naik turunnya saham. Sederhana, mungkin, adalah cara Tuhan mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dipatok pada angka-angka di rekening bank.

Dan penjual makanan itu? Ia mungkin tak pernah membaca buku-buku filsafat atau menghadiri seminar tentang kebahagiaan. Namun, dalam setiap sendok nasi yang ia jual, ada pelajaran penting tentang hidup: bahwa menjadi diri sendiri dan merasa cukup adalah kunci dari kebahagiaan yang sejati.

Akhirnya, bahwa sesungguhnya, kaya atau miskin, semua orang sedang mencari hal yang sama—bahagia. Tetapi, mereka yang tahu kapan harus berhenti mencari dan mulai menikmati, adalah mereka yang benar-benar menemukannya. Dan sebagai seorang pendidik, saya berharap bisa menanamkan kesadaran ini pada murid-murid saya, bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, melainkan pada kemampuan untuk merasa cukup dan menikmati hidup apa adanya.

Keberhasilan hebat tapi tidak hebat

Catatan ini adalah refleksi setelah melihat banyak orang, organisasi, dan universitas memamerkan prestasi semu mereka.

Pernahkah Anda merasa seperti sedang berada di sebuah acara penghargaan sepanjang hari, setiap hari, di mana setiap orang di sekitar Anda adalah pemenang besar yang sedang berada di puncak kesuksesan? Selamat datang di era “Hebat Tapi Tidak Hebat” di mana pamer keberhasilan menjadi seni, bahkan melebihi kemampuan aktor-aktor peraih piala Citra.

Setiap hari, kita disuguhkan dengan parade keberhasilan di media sosial, tempat kerja, dan bahkan di pertemuan keluarga. Rekan kerja Anda yang “kebetulan” memberitahu semua orang di kantor tentang bagaimana mereka menyelesaikan proyek besar semalaman. Atau, postingan media sosial teman yang secara teratur mengumumkan prestasi luar biasa mereka, dari memenangi penghargaan internasional hingga berhasil mempublikasikan paper mereka di jurnal internasional.

Di dunia “Hebat Tapi Tidak Hebat,” semua orang tampak seperti superhero dengan jam kerja yang lebih panjang daripada manusia normal. Bahkan ada yang membuat kita merasa bahwa mereka baru saja memecahkan kode rahasia hidup ini. Namun, di balik semua keberhasilan yang dipamerkan ini, sering kali ada realita yang kurang gemerlap.

Kenyataannya, tidak semua keberhasilan yang dipamerkan itu sesungguhnya. Ada yang berani mengklaim bahwa mereka bangun setiap pagi jam 5 untuk berolahraga, membaca buku, dan menyiapkan sarapan sehat. Padahal, kita semua tahu bahwa sebagian besar dari kita masih berjuang melawan kantuk.

Hebatnya pamer keberhasilan ini, ternyata punya dampak yang tidak kalah hebatnya. Iri hati, tekanan berlebihan, dan perasaan tidak pernah cukup baik adalah teman setia kita di era “Hebat Tapi Tidak Hebat.” Seolah-olah kesuksesan orang lain secara otomatis mengukur kegagalan kita sendiri.

Jadi, bagaimana kita bisa menikmati pertunjukan keberhasilan ini tanpa merasa tertekan? Berikut adalah beberapa tips satir untuk tetap waras. Pahami saja bahwa semua orang di internet hebat dan ingat, realita mereka mungkin tidak sehebat yang terlihat di Instagram. Rayakan keberhasilan kecil Anda. Apakah Anda berhasil bangun pagi tanpa alarm jam berbunyi tiga kali? Itu juga hebat! Kadang, menikmati pamer keberhasilan ini seperti menonton film fiksi ilmiah. Menyenangkan, tapi tidak harus dipercaya sepenuhnya. Terima saja bahwa kadang-kadang kita semua suka sedikit pamer. Berikan apresiasi pada teman Anda yang baru saja memposting tentang betapa hebatnya mereka. Siapa tahu, Anda mungkin juga punya cerita hebat untuk dipamerkan.

Mari kita hadapi kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang penuh dengan “Hebat Tapi Tidak Hebat.” Alih-alih merasa kecil hati, nikmati saja pertunjukan ini dengan secangkir kopi dan sejumput humor. Bagaimanapun juga, dalam dunia yang serba hebat ini, tertawa adalah keberhasilan paling besar yang bisa kita raih.

Pentingnya kesehatan mental bagi Editor-in-Chief

Catatan ini adalah refleksi tugas saya sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) sejak 2005.

Dalam perjalanan panjang sebagai Editor-in-Chief Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) sejak 2005, saya telah menapaki liku-liku dunia ilmiah yang penuh tantangan. Ribuan artikel datang dan pergi, melewati layar komputer saya. Hingga kini, lebih dari 4000 (baca: empat ribu) artikel telah saya tangani, dan volume submission meningkat seperti hujan deras yang tiada henti.

Namun, sungai ini memiliki kapasitas yang terbatas. Jurnal kami hanya mampu mempublikasikan sebagian kecil dari artikel yang masuk. Akibatnya, tingkat penolakan kini melebihi 90%. Setiap hari, email dari penulis yang mempertanyakan nasib artikel mereka membanjiri e-mail saya. “Mengapa artikel saya ditolak tanpa dikirim kepada reviewer?” Pertanyaan ini berulang-ulang, seakan menuntut jawaban yang tak pernah mereka terima.

Saya memilih untuk tidak menjawab. Bukan karena abai, tetapi karena waktu adalah harta yang paling berharga dalam peran saya. Berdebat mengenai keputusan yang sudah diambil hanyalah pemborosan energi. Lebih dari itu, keputusan ini adalah upaya untuk menjaga keseimbangan mental saya.

Pentingnya Kesehatan Mental dalam Profesi Editor

Dalam dunia yang serba cepat ini, kesehatan mental sering terabaikan. Padahal, studi ilmiah dan psikologis menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesehatan mental, terutama dalam tugas seperti editor jurnal ilmiah. Stres, jika dibiarkan, bisa menggerogoti kesehatan fisik dan mental. Stres yang tak terkelola bisa menjadi musuh dalam selimut, menyusup perlahan, mengganggu tidur, mencuri kebahagiaan, dan menanam benih-benih kecemasan serta depresi.

Di tengah derasnya arus, saya belajar menepi sejenak, mengambil napas, dan merencanakan langkah berikutnya. Manajemen waktu yang efektif adalah kunci. Menetapkan batasan waktu dan menghindari pekerjaan yang tidak produktif menjaga keseimbangan. Fokus pada artikel berkualitas lebih berarti daripada berdebat panjang dengan penulis yang ditolak. Istirahat dan relaksasi adalah penting. Hobi menyenangkan membantu menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan.

Nalar, mercusuar di tengah gelombang

Pythagoras, di bawah langit Athena yang jernih, pernah membagi jiwa manusia: kecerdasan, nalar, dan nafsu. Dua yang pertama, adalah milik bersama dengan satwa di rimba raya. Namun, nalar, ia adalah anugerah khusus bagi manusia, obor yang menerangi jalan di antara kabut kebodohan.

Intelektual sejati, mereka bukan sekadar otak yang cemerlang, melainkan jiwa yang terpaut pada nalar. Nalar, ia adalah kompas yang menuntun langkah di tengah badai emosi dan godaan popularitas. Ia adalah lentera yang tak pernah padam, menyinari lorong-lorong gelap dogma dan prasangka.

Di zaman yang riuh oleh informasi, bagai pasar yang disesaki aneka barang, intelektual sejati adalah penjaga pasar itu. Mereka memilah, memilih, dan menawarkan yang terbaik bagi para pembeli: kebenaran yang jernih, keputusan yang bijaksana, dan masa depan yang gemilang.

Namun, jalan yang mereka tempuh bukanlah jalan yang mulus. Ia adalah jalan terjal, penuh onak dan duri. Ia adalah jalan yang menuntut keberanian untuk melawan arus, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dan dahaga yang tak pernah padam akan pengetahuan.

Galileo, di bawah langit Italia yang biru, berani menantang dogma gereja yang telah berurat akar. Socrates, di tengah hiruk-pikuk agora Athena, rela mereguk racun demi mempertahankan keyakinannya. Mandela, di balik jeruji besi, tak pernah goyah dalam memperjuangkan keadilan bagi bangsanya.

Di bumi Nusantara, Bung Hatta, sang proklamator, adalah perwujudan intelektual sejati. Ia adalah mercusuar yang tak pernah padam, membimbing bangsa ini menuju kemerdekaan dan kemajuan. Nalarnya tajam, integritasnya tak tergoyahkan, dan keberaniannya menyuarakan kebenaran tak pernah surut, bahkan di hadapan kekuasaan yang represif.

Zaman berganti, tantangan pun berubah. Dulu, intelektual sejati berhadapan dengan raja yang lalim dan dogma agama yang membelenggu. Kini, mereka berhadapan dengan banjir informasi yang menyesatkan, perpecahan yang merobek persatuan, dan godaan untuk larut dalam arus yang dangkal.

Namun, esensi perjuangan mereka tetap abadi: menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan membangun masyarakat yang lebih baik. Nalar, ia adalah senjata utama mereka, mercusuar yang tak pernah padam di tengah gelombang zaman yang terus bergulung.

Wabi-sabi: Menemukan kebijaksanaan dalam ketidaksempurnaan Indonesia

Konsep estetika Jepang , wabi-sabi, yang merayakan ketidaksempurnaan, ketidakkekalan, dan ketidaklengkapan, memberikan lensa yang unik untuk mengapresiasi realita yang sering kali terlihat kurang ideal. Dalam kerendahan hati dan kesederhanaan—inti dari wabi (侘)—kita belajar untuk menghargai keindahan yang alami dan tidak termanufaktur. Sabi (寂), di sisi lain, mengajarkan kita untuk menemukan keindahan yang terkristal seiring berjalannya waktu, seperti patina yang mempercantik logam atau lumut yang menambah pesona pada batu.

Dalam bahasa Jepang, kata “wabi” dan “sabi” memiliki arti yang mendalam dan khusus, yang terkait dengan estetika dan filosofi.

  • Wabi (侘): Secara harfiah, “wabi” bisa diartikan sebagai kesederhanaan yang tulus, ketenangan, atau keindahan yang tidak mencolok. Dalam konteks estetika, “wabi” mengacu pada keindahan yang ditemukan dalam kesederhanaan dan ketidaksempurnaan. Ini sering kali berkaitan dengan kepuasan dalam kesederhanaan dan isolasi yang sadar.
  • Sabi (寂): Kata “sabi” secara harfiah berarti “menjadi tua” atau “memudar”. Dalam estetika Jepang, “sabi” mengacu pada keindahan yang terlihat dalam objek yang telah mengalami perubahan karena usia atau keausan. Ini merayakan patina alami dan tanda-tanda waktu yang menunjukkan penuaan dan keausan, memberikan kedalaman dan karakter.

Kedua kata tersebut mencerminkan apresiasi terhadap aspek kehidupan yang lebih sederhana, alami, dan tidak sempurna, mengajarkan kita untuk menemukan keindahan dalam ketenangan dan perubahan alami.

Dalam wabi, yang merujuk pada keindahan yang sederhana dan alami, kita diajak untuk melihat ke dalam diri dan menemukan keindahan dalam kesederhanaan. Ini adalah keindahan yang tidak dibuat-buat, yang tidak memerlukan hiasan atau perhiasan. Di sinilah kebenaran berada, bukan dalam kesempurnaan yang sering kali kita kejar, tapi dalam kesederhanaan yang kita lalui setiap hari tanpa menyadarinya.

Sabi, di sisi lain, mengingatkan kita pada keindahan yang tumbuh dan terungkap seiring berjalannya waktu. Ini adalah patina yang terbentuk pada logam, atau lumut yang menambahkan tekstur pada batu. Sabi adalah tentang menghargai jejak waktu, sebuah proses yang tidak bisa diburu atau dipaksakan, tapi harus dibiarkan berlangsung dengan sendirinya. Ini adalah sebuah pengakuan bahwa segala sesuatu, termasuk kita dan dunia di sekitar kita, berada dalam proses menuju keabadian yang tidak pernah tercapai.

Indonesia, dengan semua kerumitannya, adalah laboratorium yang subur bagi penerapan wabi-sabi. Di mana lagi kita bisa dengan mudah menemukan sistem yang berbelit-belit, budaya yang terkadang menghambat, struktur yang kaku, dan ketimpangan dalam pendidikan, jika bukan di negara kepulauan yang luas ini? Ini semua adalah manifestasi dari ketidaksempurnaan yang kita hadapi setiap hari.

Namun, melalui wabi-sabi, kita belajar untuk menerima ketidaksempurnaan ini, tidak dengan rasa pasrah, tapi sebagai tantangan untuk melihat lebih dalam lagi, untuk memahami lebih jauh. Ini bukan tentang mencari solusi instan, tapi tentang belajar sabar, memahami bahwa setiap kekurangan adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru, untuk bertumbuh dan berkembang.

Dengan memandang kekurangan melalui kacamata wabi-sabi, kita mulai melihat bahwa di balik kekacauan sistem yang berbelit, ada pelajaran tentang kesabaran dan ketekunan; bahwa dalam budaya yang menghambat, tersembunyi peluang untuk berpikir kritis dan menciptakan solusi yang kreatif; bahwa dari struktur yang kaku, kita bisa belajar cara beradaptasi dan bernegosiasi; bahwa dari pendidikan yang belum merata, kita dipanggil untuk terus belajar dan berkontribusi dalam upaya perbaikan.

Ini adalah proses penerimaan yang bukan berarti kita berhenti berusaha untuk memperbaiki atau berkontribusi. Sebaliknya, wabi-sabi mengajarkan kita untuk berjuang dengan cara yang berbeda: dengan tenang, dengan penerimaan, dan dengan kebijaksanaan yang datang dari pengakuan bahwa kita semua adalah bagian dari alur kehidupan yang lebih besar, yang penuh dengan ketidaksempurnaan dan keimanan yang mendalam pada potensi untuk terus berkembang.

Melihat Indonesia melalui lensa wabi-sabi adalah mengakui keunikan dan keindahan negara ini, bukan hanya kekurangan yang tampak di permukaan. Ini adalah perjalanan untuk benar-benar menerima dan menghargai ketidaksempurnaan, baik dalam diri kita maupun di dunia sekitar kita, yang pada akhirnya membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri.

Menulis untuk perubahan: Tanggung jawab intelektual di akademis

Dalam dunia akademik, tanggung jawab intelektual tidak hanya terbatas pada penelitian dan pengajaran di dalam kelas. Sebagai seorang dosen, saya menyadari bahwa kontribusi kita terhadap perubahan sosial juga dapat diwujudkan melalui tulisan. Menulis, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan sebuah manifestasi dari kewajiban moral kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Narasi sebagai epistemologi transformatif

Filsuf Paulo Freire mengajarkan kita bahwa narasi bukanlah sekadar alat komunikasi, melainkan sebuah epistemologi transformatif. Narasi memungkinkan kita untuk memahami realitas sosial, mengkritisi ketidakadilan, dan membayangkan alternatif yang lebih baik. Ketika kita menulis tentang permasalahan di universitas, kita tidak hanya sekadar mendeskripsikan, tetapi juga mengkonstruksi pengetahuan baru yang dapat memicu perubahan.

Blog ini dengan tagline “Ikut Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” adalah perwujudan dari epistemologi transformatif ini. Setiap artikel yang saya tulis disini bertujuan untuk menggugah kesadaran kritis, memicu dialog, dan mendorong aksi kolektif. Saya percaya bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang kita terhadap dunia, dan pada akhirnya, mengubah dunia itu sendiri.

Menulis sebagai tindakan etis

Filsuf Hannah Arendt berpendapat bahwa tindakan manusia yang paling otentik adalah tindakan yang dilakukan di ruang publik. Menulis, dalam hal ini, adalah tindakan publik yang memungkinkan kita untuk berpartisipasi dalam wacana sosial, mempengaruhi opini publik, dan berkontribusi terhadap pembentukan kebijakan.

Dengan menulis blog, saya tidak hanya sekadar berbagi pemikiran, tetapi juga mengambil sikap etis terhadap isu-isu yang penting bagi masyarakat. Saya percaya bahwa setiap individu di dalam komunitas akademik memiliki tanggung jawab untuk menggunakan platform yang dimilikinya untuk kebaikan bersama.

Menulis sebagai pembebasan

Menurut Bell Hooks, menulis adalah tindakan pembebasan. Dengan menulis, kita membebaskan diri kita dan orang lain dari belenggu ketidaktahuan, prasangka, dan ketidakadilan yang dipertahankan oleh sistem. Saya berharap tulisan saya dapat menjadi katalis untuk pembebasan individu dan komunitas dari berbagai bentuk penindasan.

Melalui tulisan-tulisan saya di blog ini dan juga di situs pribadi saya di https://hadinur.net, saya berharap dapat berkontribusi pada pembebasan dari sempitnya berpikir dan perspektif dalam melihat dan menjalankan proses pendidikan di negara ini. Saya percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai kemerdekaan sejati, dan menulis adalah salah satu cara untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Peran seorang dosen

Sebagai seorang dosen, saya menyadari bahwa peran saya tidak hanya terbatas pada pengajaran di kelas. Saya juga memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan intelektual saya untuk kebaikan masyarakat. Menulis blog adalah salah satu cara saya untuk memenuhi tanggung jawab tersebut. Saya percaya bahwa menulis adalah tindakan yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Mari kita gunakan kekuatan kata-kata untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan pendidikan, dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan beradab.

Jean Baudrillard mengenai makna

Ada saatnya kita perlu mengetahui apa yang dikaji dan dipikirkan oleh para filsuf terkenal dunia. Di bawah ini adalah pokok pikiran dari Jean Baudrillard, seorang filsuf dari Perancis yang mengatakan bahwa kita hidup di dunia dengan informasi yang semakin bertambah, tetapi semakin berkurang maknanya.

Argumentasi Jean Baudrillard mengacu pada gagasan bahwa penyampaian makna (signification) dan makna (meaning) hanya dapat dipahami dengan bagaimana kata-kata atau tanda saling berhubungan. Baudrillard berpikir bahwa makna itu dibawa melalui sistem tanda yang saling berkaitan. Baudrillard berpendapat bahwa makna (nilai) diciptakan melalui perbedaan — sebagai contoh “anjing” berarti “anjing” karena bukan “kucing”, bukan “kambing”, bukan “pohon”, dan lain-lain. Dia memandang makna satu objek hanya dapat dipahami melalui hubungannya dengan makna objek lain; misalnya, gengsi satu hal yang berkaitan dengan keduniawian orang lain. Jika orang tersebut tidak memikirkan pandangan orang lain, maka tidak ada gengsi. Contoh lain (menurut saya) mungkin seperti ini. Antusias orang terhadap mengejar prestise dan pujian dari orang lain dengan memposting prestasi semu di sosial media berkaitan dengan harga diri (self esteem) orang yang rendah. Orang yang punya harga diri yang tinggi tidak pernah pamer.

Dia menulis bahwa ada empat cara suatu objek memperoleh nilai.

  • Nilai fungsional: tujuan instrumental suatu objek (nilai pakai). Contoh: pena adalah untuk menulis; lemari es adalah untuk pendingin.
  • Nilai tukar: nilai ekonomi suatu benda. Contoh: Satu pena mungkin bernilai setara dengan tiga pensil, sementara satu lemari es mungkin sebanding dengan gaji yang diperoleh dari tiga bulan kerja.
  • Nilai simbolis: nilai objek yang diberikan oleh subjek dalam hubungannya dengan subjek lain (yaitu, antara pemberi dan penerima). Contoh: pena mungkin melambangkan hadiah untuk kelulusan mahasiswa atau hadiah untuk pembicara pada acara wisuda; atau berlian bisa menjadi simbol cinta pada perkawinan.
  • Nilai tanda: nilai objek dalam sistem objek. Contoh: pada pena yang tertentu, meskipun tidak memiliki manfaat fungsional tambahan, dapat menandakan prestise; cincin berlian mungkin tidak memiliki fungsi sama sekali, tetapi mungkin menunjukkan nilai sosial tertentu, seperti selera atau kelas.

Rujukan: Jean Baudrillard

Antara keahlian dan kredensial: Menggali makna dan misrepresentasi gelar profesional

Dalam konteks budaya Indonesia dan Jepang, gelar profesional seperti “Profesor” dan “Sensei” tidak hanya mencerminkan pencapaian akademik atau keahlian individu, tetapi juga membawa implikasi sosial yang signifikan. Di Indonesia, gelar “Profesor” sering dianggap sebagai simbol status yang membuka akses ke peluang sosial dan profesional yang lebih luas. Namun, keinginan untuk mendapatkan pengakuan ini terkadang mendorong beberapa individu ke jalur yang kurang etis, seperti melakukan manipulasi dalam proses kenaikan pangkat untuk memenuhi target penilaian, hingga membeli gelar palsu, yang pada gilirannya dapat merusak integritas akademik dan profesional.

Sebaliknya, di Jepang, “Sensei” adalah bentuk penghormatan yang diberikan kepada individu yang diakui atas keahlian dan kontribusi nyata mereka di berbagai bidang. Ini menunjukkan bahwa penghargaan atas keahlian di Jepang lebih bersifat organik dan berbasis pada pengakuan masyarakat daripada hanya pencapaian gelar. Di Jepang, seorang profesor dipanggil dengan sebutan “Sensei”. 

Kontras ini mengajukan pertanyaan penting tentang nilai yang kita tempatkan pada pendidikan dan keahlian dalam masyarakat modern. Apakah kita lebih menghargai tanda-tanda eksternal dari pencapaian seperti gelar, atau apakah kita harus lebih menekankan pengakuan atas kemampuan nyata dan kontribusi kepada masyarakat? Fenomena gelar (apalagi gelar yang diperoleh dengan cara yang tidak wajar) di Indonesia menunjukkan perlunya pembaharuan dalam sistem pendidikan dan profesional untuk memastikan bahwa gelar yang diberikan benar-benar mencerminkan keahlian dan pengetahuan yang sebenarnya. Dengan demikian, kita dapat lebih menghormati dan menghargai mereka yang benar-benar berkontribusi kepada pengetahuan dan kesejahteraan bersama. 

Makna panggilan “Sensei” dan “Prof” bagi orang Jepang dan Indonesia

Di Jepang, panggilan “Sensei” memiliki makna yang sangat menghormati dan digunakan dalam berbagai konteks untuk menunjukkan penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki keahlian atau pengetahuan yang mendalam dalam suatu bidang tertentu. Secara harfiah, “Sensei” berarti “orang yang lahir lebih dulu,” yang mengimplikasikan kebijaksanaan dan pengalaman yang diperoleh seiring waktu.

Penggunaan panggilan “Sensei” umumnya terkait dengan guru atau instruktur, baik di sekolah, universitas, atau dalam konteks pelatihan, seperti seni bela diri. Namun, istilah ini juga dapat digunakan untuk profesional seperti dokter, pengacara, atau seniman, sebagai tanda pengakuan terhadap keahlian mereka. “Sensei” menyiratkan tingkat kehormatan dan rasa hormat yang tinggi dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang lebih muda atau oleh mereka yang belajar atau mendapatkan bimbingan dari individu yang bersangkutan.

Panggilan “Prof” di Indonesia memang sering dikaitkan dengan simbol status dan prestasi akademik. Ini mirip dengan penggunaan “Sensei” di Jepang, namun ada beberapa perbedaan dalam konteks dan nuansa.

Di Jepang, “Sensei” digunakan lebih luas dan tidak terbatas pada konteks akademis. Seperti yang telah disebutkan, istilah ini bisa merujuk pada guru, dokter, pengacara, seniman, dan ahli lainnya. Ini mencerminkan penghormatan terhadap keahlian dan pengalaman di berbagai bidang, bukan hanya pendidikan tinggi. Selain itu, “Sensei” juga menekankan aspek pembimbing atau pendidik, tidak sekadar menunjukkan gelar atau posisi.

Sementara di Indonesia, “Prof” sebagai singkatan dari “profesor” lebih spesifik digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mencapai puncak karir akademis di perguruan tinggi atau universitas. Panggilan ini bisa menjadi simbol status karena menggambarkan pencapaian akademik yang tinggi dan posisi yang dihormati dalam masyarakat.

Secara keseluruhan, kedua istilah tersebut memang digunakan sebagai tanda penghormatan dan pengakuan terhadap keahlian seseorang, tetapi konteks dan penggunaan keduanya berbeda tergantung pada budaya dan tradisi masing-masing negara.

Antara keahlian dan kredensial

Ada perbedaan signifikan dalam bagaimana gelar “Profesor” dan “Sensei” diperoleh dan dihargai dalam masyarakat Indonesia dan Jepang.

Di Indonesia, gelar “Profesor” sering kali dikejar sebagai pencapaian akademik dan profesional. Mendapatkan gelar Profesor melibatkan proses yang panjang dan ketat, termasuk pendidikan tinggi, penelitian yang ekstensif, publikasi, dan pengajaran. Ini adalah gelar resmi yang diberikan oleh institusi akademik, dan sering kali dikaitkan dengan prestasi dan status sosial. Gelar ini juga dapat membuka lebih banyak peluang dalam karir akademik dan profesional, membuatnya menjadi tujuan yang diinginkan banyak akademisi.

Sementara itu, di Jepang, “Sensei” adalah istilah yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Sensei digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan dan keahlian mendalam dalam bidang tertentu. Ini bukan gelar yang dikejar dalam cara yang sama seperti gelar akademik, tetapi lebih merupakan pengakuan dari masyarakat terhadap kemampuan dan kontribusi seseorang. Oleh karena itu, menjadi “Sensei” lebih tentang diakui oleh orang lain daripada mencapai sebuah gelar.

Dengan demikian, di Jepang, status “Sensei” lebih berkaitan dengan penghormatan dan pengakuan atas keahlian individu dan kurang sebagai simbol status yang dikejar melalui jalur akademik atau profesional formal.

Fenomena sosial status gelar 

Telah terungkap dalam pemberitaan media bahwa beberapa individu telah berani membeli gelar “palsu” dari institusi yang tidak kredibel dan bahkan melakukan penipuan untuk memperolehnya. Di Indonesia, terdapat kasus di mana mantan pejabat dan pejabat yang memperoleh gelar Profesor yang diragukan keabsahannya dari luar negeri, kemudian mereka secara sengaja memanfaatkan gelar tersebut untuk meningkatkan status sosial mereka. Selanjutnya, terdapat peristiwa di mana Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, mencabut gelar profesor seseorang karena terdapat indikasi kecurangan dalam proses pengusulan gelar yang disetarakan dari luar negeri.

Memang, karena gelar “Profesor” sering kali dianggap sebagai simbol status dan prestasi yang tinggi di Indonesia, ini bisa memicu beberapa orang untuk mencari jalan pintas demi mendapatkan gelar tersebut. Keinginan kuat untuk mendapatkan pengakuan sosial, peningkatan status ekonomi, dan peluang karir yang lebih baik bisa mendorong individu untuk membeli gelar palsu dari institusi yang tidak kredibel atau bahkan terlibat dalam kegiatan penipuan untuk mendapatkannya.

Praktik semacam ini tidak hanya merendahkan nilai pendidikan yang sebenarnya tetapi juga merusak integritas sistem pendidikan dan profesional secara keseluruhan. Ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih dalam tentang nilai pengetahuan dan keahlian yang otentik serta perlunya lembaga pendidikan dan masyarakat umum untuk menjaga standar tinggi dalam pendidikan dan penghargaan profesional.

Di sisi lain, “Sensei” di Jepang adalah sebuah penghormatan yang diberikan berdasarkan pengakuan atas keahlian nyata dan kontribusi seseorang, yang sulit untuk dipalsukan karena didasarkan pada penilaian sosial dan profesional atas kemampuan individu tersebut. Ini menciptakan dinamika yang sangat berbeda dalam hal pencapaian dan pengakuan profesional di kedua budaya tersebut.