Bahan pembicaraan kita

Kadang-kadang topik pembicaraan kita dengan seseorang bergantung kepada tujuan juga dan kepentingan. Jika kita bertemu dengan kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, topik pembicaraan bisa melantur ke mana-mana. Namun, kadang-kadang dari topik tersebut kita bisa menganalisis sampai di mana “tingkat” kualitas dari pembicaraan tersebut.

Terdapat tiga tingkat kualitas pembicaraan. Tingkat paling dasar adalah topik yang membicarakan mengenai masalah kebendaan, masalah kebutuhan dasar hidup seperti makanan, kendaraan, rumah, pendidikan sebagainya. Masalah hidup. Tingkatan yang lebih tinggi adalah pembicaraan mengenai topik mengenai sukses. Sukses dalam konteks ini saya definisikan kepada manfaat seseorang kepada orang lain. Orang sukses adalah orang yang banyak memberi manfaat pada orang lain. Tingkat yang paling tinggi adalah pembicaraan mengenai “kearifan”. Pembicaraan mengenai hakikat hidup yang mensinergikan antara iman dan ilmu yang dinamakan sebagai al-hikmah. Makin tua seseorang, seharusnya, makin banyak dia membicarakan al-hikmah, makin ariflah dia. Seseorang yang melulu tertambat membicarakan hanya pada masalah kebutuhan dasar kehidupan dan masalah remeh, maka tertambatlah dia di sana. Padahal hidup itu ada tujuan yang lebih abadi.

Menemukan makna dalam pekerjaan

Niat dan tujuan adalah kekuatan pendorong di belakang kita dalam menjalankan pekerjaan kita. Saya selalu mengatakan ini kepada murid-murid saya bahwa jika tujuan kita tidak baik, maka hasilnya juga tidak akan baik. Inilah salah satu prinsip yang perlu dipegang sebagai seorang muslim.

Jika kita mengaitkan pekerjaan dengan makna pekerjaan, maka niat tujuan adalah hal yang perlu diperhatikan. Mungkin banyak orang tidak menemukan makna di tempat mereka bekerja. Ada yang mengatakan bahwa tujuan perlu secara sadar melekat pada setiap pekerjaan kita. Apa tujuan dari pekerjaan kita? Cara yang paling tepat adalah menghubungkan pekerjaan dengan layanan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri siapa yang kita layani ketika kita bekerja. Dengan demikian, pekerjaan kita dapat diselesaikan dengan lebih fokus. Selain itu, ini akan membuat pekerjaan kita lebih bermakna.

Kita perlu mengidentifikasi orang atau sekelompok orang dalam kehidupan pribadi kita yang menjadi tujuan pekerjaan kita sehingga kita dapat menyelesaikan pekerjaan kita meskipun itu membosankan. Ada orang yang bertujuan bekerja untuk melayani masyarakat. Mereka sangat senang ketika orang gembira dengan hasil pekerjaannya. Sebagai seorang dosen, saya akan senang jika dapat melayani mahasiswa juga teman-teman saya di universitas. Tanpa niat tujuan, bahkan jika orang dibayar atau digaji tinggi, mereka akan merasa hampa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa agar pekerjaan menjadi bermakna, kita perlu menghubungkan pekerjaan dengan layanan. Sebagai dosen saya dapat melihat setiap hari kehidupan anak-anak muda yang saya ajar. Saya berusaha melayani, memotivasi dan memengaruhi mereka. Dengan begitu kita bisa membuat pekerjaan kita lebih fokus. Tujuan adalah sesuatu yang perlu kita perjuangkan kejar dengan kesadaran. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat memberikan makna kepada setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Politikus dan sains

Dua semester ini saya mengajar mata kuliah metodologi penelitian untuk mahasiswa magister dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan mahasiswa sarjana di Universitas Negeri Malang (UM). Saya menggunakan buku “Thinking, fast and slow” yang ditulis oleh Daniel Kahneman sebagai rujukan. Topik dari buku ini berkaitan dengan pengambilan keputusan, dan sangat berguna dalam penelitian ilmiah.

Topik ini menarik dan juga berguna untuk menjadi landasan kita melihat keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh para pemimpin, terutama politikus. Jika keputusan itu salah, daya rusaknya akan lebih hebat.

Kita semua tahu bahwa politik itu berkaitan dengan kekuasaan. Jika keputusan itu tidak berlandaskan akal sehat dan sains, maka pembodohanlah yang terjadi. Ini yang saya baca dari berita akhir-akhir ini mengenai keputusan yang dibuat oleh salah seorang pemimpin daerah. Jika insiyur teknik sipil yang salah dalam membuat keputusan, mungkin hanya jembatan yang runtuh. Namun jika seorang pemimpin yang salah dalam membuat keputusan, rusaklah masyarakat. Mungkin orang ini mempunyai ambisi yang berlebih-lebihan sehingga ambisinya mengalahkan akal sehat.

Bijak, cerdik dan pandai

“Seringkali kita tidak sadar bahwa sistem pendidikan sekarang ini hanya menghasilkan orang cerdik dan pandai saja, tetapi tidak bijaksana.”

Saya sering membaca artikel mengenai kebijaksanaan dan kearifan. Namun sayangnya ditulis dalam bahasa Inggris. Dalam tulisan ini, saya mencoba menjelaskan pengertian mengenai kebijaksanaan (atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai wisdom) dengan menggunakan rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dapat diakses secara online. Diharapkan, dengan lebih memahami makna kebijaksanaan, kita dapat membedakan tindakan-tindakan yang betul-betul bijaksana. Banyak orang cerdik dan pandai, tetapi tidak bijak.

bi.jak

[1] a selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir: bukan beta — berperi; engkau memang, [2] —a Mk pandai bercakap-cakap; petah lidah

Jadi, kebijaksanaan itu dapat didefinisikan sebagai keadaan seseorang yang menggunakan akal dan budinya sekaligus. Dalam kata lain, untuk menjadi bijaksana, akal budi yang didasarkan kepada pengalaman dan pengetahuan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadikan kehidupan menjadi sederhana, tertib, tenang dan bermakna dengan pikiran yang damai.

Dalam bahasa Indonesia, ada kata-kata yang mirip pengertiannya dengan bijak, yaitu cerdik dan pandai. Menurut KBBI, cerdik itu berarti cepat mengerti tentang situasi, dan pandai mencari pemecahannya. Namun, kecerdikan juga terdapat unsur negatif, yaitu licik, menguntungkan diri sendiri dengan cara tipu muslihat dan mungkin dengan cara memanfaatkan orang lain.

Menurut KBBI, kata pandai didasarkan kepada kemampuan otak yang bagus dan cepat dalam menganalisis sesuatu. Pandai didefinisikan sebagai cepat dalam belajar dan memahami. Kepandaian juga berhubungan dengan kemampuan dan keterampilan.

cer.dik /cêrdik/

[1] a cepat mengerti (tentang situasi dan sebagainya) dan pandai mencari pemecahannya dan sebagainya; panjang akal; banyak akal:jika jadi pedagang, selain harus pandai berdagang, harus — pula, [2] a banyak tipu muslihatnya; licik; licin:dia seorang penipu yang –, lima kali berhasil lolos dari penangkapan polisi

pan.dai1

[1[ a cepat menangkap pelajaran dan mengerti sesuatu; pintar; cerdas: anak itu –, rajin, dan jujur, [2] a mahir; cakap; terampil: karyawan itu — lagi cekatan; ia — berbahasa Inggris, [3] v dapat; sanggup:anak itu sudah — membaca, [3] a berilmu:banyak orang — di daerah ini

pan.dai2

[1] n tukang tempa: — besi, [2] n juru (tukang) ramu

Dari penjelasan di atas, terdapat perbedaan antara kata bijak, cerdik dan pandai. Dalam kecerdikan terdapat unsur-unsur yang menguntungkan diri sendiri dengan cara yang licik, sedangkan pengertian pandai tidak mempunyai unsur penipuan atau kelicikan, tetapi berhubungan dengan kemahiran dan ketrampilan.

Pemahaman mengenai kebijaksanaan, kecerdikan dan kepandaian sangat penting dalam dunia pendidikan. Kita tidak ingin menghasilkan orang yang pandai dan licik tetapi tidak bijak — tidak memiliki akal budi. Kebijaksanaan memiliki unsur kebenaran, berpengetahuan dan memiliki penilaian yang baik terhadap sesuatu. Pada dasarnya, menjadi bijak berarti memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah.

Orang yang bijaksana selalu menjaga pikiran dan perilaku mereka, sementara orang yang cerdik mungkin berpikir untuk mengalahkan orang lain untuk tujuan egois mereka sendiri. Orang bijak juga cenderung berpikir dengan cara yang berbeda.

Dalam kehidupan, semua fenomena dan keputusan yang diambil, selalu ada sisi baik dan buruknya. Tidak peduli seberapa bagus sesuatu, tetap ada sesuatu yang buruk di dalamnya. Begitu juga sebaliknya. Dalam hidup, tidak ada kesempurnaan. Jika kita hanya bisa melihat hanya yang baik saja atau hanya yang buruk saja, maka kita belum memperoleh kebijaksanaan. Untuk menjadi bijak, kita harus bisa melihat gembaran secara keseluruhan. Memahami pro dan kontra dari fenomena apapun.

Namun, tidak berarti orang yang bijaksana itu tahu semuanya. Orang yang bijaksana sadar bahwa ada hal-hal yang tidak dia ketahui. Meski tidak tahu beberapa hal, dia akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencari pengetahuan itu. Orang bijaksana tidak akan menyalahgunakan kecerdasannya untuk memanfaatkan orang lain secara licik untuk kepentingan dirinya.

Bunga teratai sering digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Bunga yang warnanya indah ini tumbuh dari kolam air yang hitam warnanya. Di sinilah kita harus belajar dari alam. Kita hidup dalam masyarakat yang materialistik dan suka memfitnah. Walaupun begini keadaannya, orang bijak tidak terpengaruh karena memilih untuk belajar menjalankan cara yang benar.

“Memahami orang lain adalah kecerdasan, memahami diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan, menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati. Inilah kebijaksanaan.”

Kami juara

Ada kecenderungan kita memandang sesuatu dengan bias, dalam psikologi disebut bias kognitif. Salah satunya adalah bias dalam melihat angka. Ini tidak bisa dihindari. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita dengan bijak melihat angka-angka tersebut. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi. Mengapa angka penting? Hal ini karena angka besar mewakili simbol kekuasaan, simbol kebesaran, dan simbol ketenaran. Angka besar juga melambangkan kekuatan.

Orang merasa menjadi juara karena angka. Namun ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan:

  • Pemenang dengan angka. Kita menang ketika kita mendapatkan skor tertinggi. Lebih dari orang lain.
  • Pemenang dengan integritas. Kita menang tanpa menindas dan/atau menghancurkan orang lain, dan tanpa klaim berlebihan.
  • Pemenang dengan nilai. Kita berguna bagi orang lain dan menghargai orang lain. Juara bukan hanya tentang menang, ini tentang berbuat baik kepada orang lain. Berkontribusi positif kepada masyarakat. Sayyidina Muhammad SAW mengatakan kepada kita bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia lainnya.

Kita berharap dapat memenangkan ketiga kategori di atas.

Metrik untuk mendefinisikan prestasi

Seringkali kita sukar mendefinisikan prestasi karena ada yang beranggapan kesuksesan subjektif sifatnya. Walaubagaimanapun, kita perlu menilai prestasi dengan menggunakan metrik dan pengukuran. Matematika sebagai studi tentang besaran, ruang, struktur, dan perubahan menjadi sangat kompleks dan rumit sehingga kebanyakan orang tidak menyukainya. Seringkali kesuksesan dalam kehidupan dipresentasikan dengan metrik dan angka. Contoh yang paling mudah adalah kekayaan dimana kepemilikan harta dan uang lebih mudah dihitung.

“Jika kita ingin mendefinisikan prestasi dan benar-benar mengukurnya, kita memerlukan metrik.”

Walaubagaimanapun, matematika yang cukup kompleks seringkali digunakan untuk mengukur kesuksesan. Sebagai contoh adalah metrik yang digunakan untuk mengukur kualitas sebuah jurnal. Saya pernah terlibat dalam perdebatan dalam pengukuran kualitas sebuah jurnal. Perdebatan ini terjadi karena berhubungan dengan insentif (uang) yang diberikan universitas kepada dosen dari publikasi berdasarkan metrik. Universitas menetapkan insentif berdasarkan metrik CiteScore, dan ada dosen yang merasa dirugikan karena mendapatkan insentif yang lebih rendah karena menurut metrik SCImago Journal Rank (SJR), jurnal tersebut menduduki peringkat yang lebih baik. Jadi ukuran metrik yang digunakan berbeda.

Di bawah ini adalah cara perhitungan metrik SCImago Journal Rank (SJR) yang cukup kompleks karena mempertimbangkan lebih banyak parameter dibandingkan CiteScore.

Dari pengalaman ini, kita perlu berhati-hati dalam menggunakan metrik. Perlu pemahaman yang komplit dalam melihat metrik yang digunakan.

Bijaksana dalam melihat metrik dan pengukuran

Mau tidak mau kita masih perlu melihat apa yang kita dapatkan dari angka dan pengukuran. Kita mungkin kehilangan pemahaman yang dalam tentang makna kehidupan karena ditutupi oleh angka, namun itulah kenyataannya, kita tidak dapat dapat lari dari metrik dan pengukuran dalam kehidupan modern sekarang ini.

Walaubagaimanapun, kita perlu menghindari metrik yang menipu dan palsu. Di bawah ini ada beberapa contoh yang menggambarkan bahwa metrik bisa jadi tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

  • Kita kelihatan kaya, namun sebenarnya tidak kaya karena banyak hutang.
  • Senyuman kita dalam foto adalah betul-betul mencerminkan kebahagiaan, bukan berpura-pura.
  • Kita terlihat hebat dan pintar dengan analisis bibliometrik, namun sebenarnya tidak pintar.

Walaupun kita tidak dapat menghindari pengukuran prestasi dengan metrik, namun kita perlu sadar bahwa metrik bukanlah segalanya. Sadar atau tidak sadar, kita hidup dalam era masyarakat pamer (the show off era). Di era ini, banyak orang berusaha memamerkan prestasi di bidangnya masing-masing untuk tujuan prestise dan juga mendapatkan keuntungan ekonomi.

Ada dua jenis prestasi; prestasi sejati (genuine achievement) dan prestasi semu (pseudo achievement). Terkadang, kita salah menilai prestasi seseorang atau institusi. Prestasi semu biasanya dilakukan dengan manipulasi metrik dan menonjolkan hal-hal kecil menjadi besar, sehingga terlihat hebat. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapainya. Hanya dengan cara bijak kita bisa menilai apakah prestasi itu merupakan prestasi sejati (genuine achievement) dan prestasi semu (pseudo achievement).

Kekaguman

“Jangan kagum dengan uang, pengikut, gelar dan pangkat. Kagumlah kepada kebaikan, integritas, kerendahan hati, dan kemurahan hati.”

— Richard Feynman

Zaman sekarang ini, kita sering terjebak dalam glamor Instagram dan kilau TikTok, ya? Semua orang sibuk pamer saldo rekening, followers yang segudang, atau gelar yang panjangnya bisa buat start line marathon. Tapi, coba kita renungkan sejenak sambil ngopi di warung kopi favorit kita (yang penting ada Wi-Fi gratis, tentunya).

Ada satu hal yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba digital ini: kebaikan, integritas, kerendahan hati, dan kemurahan hati. Sepertinya ini bukan hal baru. Dari zaman nenek moyang kita dulu, nilai-nilai ini sudah jadi bintang utama. Cuma, mungkin karena tidak se-seksi Bitcoin atau viral di media sosial, jadi kita agak lupa.

Gak perlu jauh-jauh, ingat ajaran nenek kita dulu, “Uang bisa dicari, gelar bisa dikejar, tapi hati yang mulia? Itu mahal, Nak!” Nah, itu dia. Di era yang serba cepat ini, kita mungkin lupa bahwa apa yang membuat kita ‘kaya’ sebenarnya bukan berapa banyak nol di rekening bank, tapi seberapa dalam kita bisa berempati dan berbagi dengan sesama.

Jadi, sambil kita scroll Instagram atau update status WhatsApp, mungkin bisa mulai berpikir, “Hari ini sudah berbuat baik belum?” atau “Sudahkah kita membuat orang lain tersenyum hari ini?” Bukannya mau menggurui, sih. Tapi, bayangin aja, dunia ini pasti akan jadi tempat yang lebih asyik kalau kita semua lebih menghargai kebaikan daripada kekayaan. Plus, kebaikan itu viralnya abadi, gak kayak story yang cuma 24 jam.

So, mari kita mulai dari hal-hal kecil. Sebarkan kebaikan, tunjukkan integritas dalam setiap tindakan, jaga kerendahan hati meski prestasi udah setinggi langit, dan jangan pelit untuk berbagi. Siapa tahu, dengan cara itu, kita bisa jadi influencer yang sebenarnya, influencer kebaikan. Merdeka!

Prof. Dr. Susanto Imam Rahayu

Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un

Satu persatu orang yang menginspirasi saya telah berpulang ke rahmatullah. Jam 1.25 malam pada 28 Agustus 2021, Prof. Susanto Imam Rahayu, guru saya di ITB, mempunyai kepakaran langka yang dimiliki oleh dosen kimia di rantau ini yaitu bidang kimia teori, berpulang ke rahmatullah pada usia 86 tahun. Beliau lulus Ph.D. dalam bidang kimia teori pada tahun 1967 dari University of Wisconsin, Madison, USA. Semoga ilmu yang diajarkan kepada murid-murid beliau menjadi amal jariyah. Insya Allah.

Di bawah ini adalah foto kami dengan Prof. Santo ketika lulus dari ITB tahun 1992 yang saya ambil dari pertemanan saya dengan Prof. Santo di Facebook.

Pada acara pembacaan Surat Yassin, Tahlil dan mengenang Prof. Susanto Imam Rahayu pada 29 Agustus 2021 malam, saya ditodong oleh Prof. Ismunandar untuk memberikan ucapan satu menit kenangan dengan Prof. Susanto, dan inilah ucapan saya yang sempat direkam oleh istri saya.

Prof. Dr. Rochim Suratman

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga seluruh amal dan ibadah Prof. Rochim diterima oleh Allah SWT.

Prof. Rochim dikenal sebagai dosen yang sangat piawai dalam mengajar, dengan penyampaian yang jelas, sistematis, serta tulisan yang rapi dan terstruktur. Keteladanan beliau dalam proses pembelajaran menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa dan kolega.

Saya memiliki kenangan yang sangat berkesan bersama beliau. Pada saat saya diterima sebagai dosen di Teknik Material ITB, beliau dengan penuh kebaikan menawarkan saya untuk berbagi satu ruangan dengannya. Sikap tersebut mencerminkan kemurahan hati dan dukungan beliau kepada dosen muda.