Menciptakan masa depan dengan sosok Übermensch di Indonesia

Dalam era yang penuh dengan tantangan dan perubahan cepat, Indonesia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berpikir kritis dan reflektif seperti seorang intelektual, tetapi juga membutuhkan sosok Übermensch yang diusung oleh Friedrich Nietzsche, individu yang mampu melampaui batasan-batasan tradisional untuk menciptakan masa depan yang baru. Meskipun peran intelektual sangat penting dalam menggali kebenaran, menganalisis isu-isu sosial, dan mempertanyakan norma-norma yang ada, hal ini sering kali tidak cukup untuk membawa perubahan mendasar di tengah-tengah stagnasi nilai-nilai lama.

Intelektual memainkan peran signifikan dalam mengembangkan pemikiran dan analisis kritis yang memperkaya peradaban. Mereka menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat dalam memahami isu-isu sosial dan membangun narasi-narasi yang rasional serta berbasis pada kebenaran. Namun, hanya mengkritisi nilai-nilai yang sudah ada tidak cukup untuk memecahkan berbagai masalah besar yang dihadapi masyarakat kita. Intelektual sering kali terjebak dalam diskusi-diskusi akademik dan refleksi moral yang cenderung mempertanyakan tanpa memberikan solusi yang benar-benar melampaui keterbatasan yang ada.

Untuk itu, kita membutuhkan lebih banyak sosok Übermensch yang mampu menciptakan nilai-nilai baru, menjalani hidup dengan autentisitas, dan berani menantang status quo. Seorang Übermensch tidak hanya mempertanyakan moralitas konvensional tetapi juga dengan tegas menolaknya dan menciptakan moralitas baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Mereka memiliki keberanian untuk berpikir dan bertindak di luar batasan-batasan yang ada, menciptakan makna hidup baru, dan mengarahkan kehidupan dengan otonomi penuh.

Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Sukarno, Pramoedya Ananta Toer, R.A. Kartini, dan Ki Hadjar Dewantara adalah contoh nyata bagaimana konsep Übermensch dari Nietzsche muncul di Indonesia. Mereka tidak hanya mengkritik kondisi sosial, tetapi juga menciptakan nilai-nilai baru yang relevan dengan konteks zaman mereka. Tan Malaka dengan pemikiran revolusionernya, Sukarno dengan narasi baru tentang nasionalisme, Pramoedya dengan karya sastra yang mengungkap realitas kolonial, Kartini dengan perjuangan emansipasinya, dan Ki Hadjar Dewantara dengan visi pendidikan yang merdeka, semua melampaui batasan nilai tradisional dan membentuk tatanan baru dalam pemikiran dan kehidupan berbangsa.

Dalam pemikiran Nietzsche, seorang Übermensch menciptakan kehidupan baru dengan kebebasan mutlak. Mereka mengutamakan Will to Power, sebuah dorongan untuk terus melampaui diri sendiri dan situasi yang ada. Indonesia membutuhkan figur-figur semacam ini untuk menghadapi permasalahan yang kompleks di berbagai sektor, baik dalam politik, pendidikan, ekonomi, maupun budaya.

Dengan demikian, sosok Übermensch diperlukan untuk mengubah paradigma lama dan menciptakan visi baru yang lebih berani dan otentik. Bukan hanya sekadar mengkritik atau menganalisis permasalahan, tetapi juga memimpin masyarakat untuk berani menciptakan nilai-nilai baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kita membutuhkan orang-orang yang berani memecahkan kebuntuan ideologis, mengambil risiko untuk menciptakan inovasi sosial, dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih berani dan otonom.

Indonesia, dengan kekayaan budayanya, potensi generasi mudanya, dan keragamannya, siap untuk menciptakan Übermensch baru yang mampu mengarahkan bangsa ini menuju masa depan yang lebih berani, inovatif, dan penuh makna. Tokoh-tokoh besar dari masa lalu telah memberi kita inspirasi, dan sekarang saatnya generasi baru untuk mengambil langkah lebih jauh dalam menciptakan perubahan dan membangun Indonesia yang lebih baik.

Mencari kebahagiaan di tengah kehidupan akademik seorang dosen

Sebagai seorang dosen yang mengajar di universitas, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan sering kali berdampingan dalam keseharian. Bertrand Russell, dalam analisanya mengenai kebahagiaan (Russell, B. The Conquest of Happiness. 1930), menguraikan beberapa penyebab ketidakbahagiaan yang kerap kali ditemukan. Penjelasan Bertrand Russell tentang kebahagiaan sangat menarik dan menginspirasi saya untuk menawarkan perspektif baru tentang kebahagiaan, khususnya bagi seorang dosen. Berikut adalah rangkuman singkat konsep kebahagiaan Bertrand Russell, disertai refleksi singkat tentang kebahagiaan dalam konteks kehidupan seorang dosen.

Penyebab Ketidakbahagiaan:

Pandangan Keliru tentang Diri dan Dunia: Banyak dosen merasa tidak puas karena standar akademik yang tidak realistis atau cita-cita yang terlalu tinggi. Ketika penelitian tidak mendapat pengakuan, atau publikasi tidak mencapai jurnal bereputasi tinggi, muncul perasaan bahwa dunia tidak adil, padahal mungkin saja ada pandangan keliru terhadap proses dan tujuan akademik itu sendiri.

Kompetisi Berlebihan: Dosen sering kali terjebak dalam kompetisi yang tiada henti — baik dengan kolega untuk mendapatkan posisi atau pengakuan, maupun dengan standar akademik yang terus berkembang. Hal ini bisa menimbulkan kecemasan dan iri hati, membuat seseorang merasa tertinggal atau tidak cukup berprestasi.

Iri Hati dan Ketakutan terhadap Pendapat Orang Lain: Melihat kolega berhasil mendapatkan dana penelitian besar atau penghargaan prestisius dapat memicu rasa iri hati. Ketakutan akan penilaian rekan sejawat atau mahasiswa juga bisa menghambat kebebasan untuk mengajar atau meneliti dengan cara yang berbeda atau inovatif.

Kelelahan Fisik dan Mental: Rutinitas dosen yang padat — mulai dari mengajar, menyiapkan materi, membimbing mahasiswa, hingga penelitian — sering kali mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Kelelahan ini mengurangi kemampuan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan, menciptakan ketidakbahagiaan yang terus berulang.

Merasa Selalu Dianiaya dan Rasa Bersalah Berlebihan: Dalam lingkungan akademik yang kompetitif, ada dosen yang merasa selalu menjadi korban dari sistem yang tidak adil. Perasaan ini, ditambah dengan rasa bersalah berlebihan karena merasa belum cukup berkontribusi atau belum berhasil membimbing mahasiswa dengan baik, semakin memperburuk kondisi emosional.

Penyebab Kebahagiaan:

Namun, Russell juga menawarkan panduan untuk menemukan kebahagiaan, yang relevan bagi seorang dosen.

Pekerjaan yang Bermakna: Seorang dosen memiliki peluang besar untuk merasa bahagia dengan pekerjaannya. Mengajar dan membimbing mahasiswa memberikan tujuan dan perasaan pencapaian yang dalam. Menemukan makna dalam proses ini — tidak hanya dalam hasil atau pengakuan — dapat menjadi sumber kebahagiaan yang kuat.

Kasih Sayang dan Keluarga yang Harmonis: Hubungan yang positif dengan keluarga atau komunitas universitas dapat memberikan dukungan emosional yang stabil. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari pencapaian akademik, tetapi juga dari hubungan manusia yang tulus.

Minat di Luar Diri Sendiri: Keterlibatan dalam aktivitas di luar pekerjaan, seperti seni, sains, atau hobi lainnya, dapat membantu dosen mengalihkan perhatian dari masalah pribadi atau tekanan pekerjaan. Minat-minat ini menawarkan keseimbangan yang sehat antara kehidupan profesional dan pribadi.

Semangat Hidup dan Usaha yang Ikhlas: Dosen yang memiliki semangat hidup dan melihat setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, baik secara profesional maupun pribadi, akan lebih cenderung merasa puas. Semangat ini perlu didukung dengan usaha yang ikhlas, menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Mencintai Kehidupan dengan Segala Kekurangannya: Seorang dosen yang mampu menerima kenyataan, baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan, tanpa terobsesi dengan kesempurnaan, akan lebih mudah mencapai kebahagiaan. Kesadaran bahwa kegagalan dan kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran bisa menjadi kunci untuk hidup lebih bahagia.

Kesimpulan:

Kehidupan seorang dosen di universitas memiliki tantangan tersendiri yang bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan, seperti tekanan kompetisi dan kelelahan. Namun, dengan mengadopsi sikap yang lebih realistis, menerima kekurangan, mengembangkan minat di luar diri sendiri, serta menjalin hubungan yang penuh kasih, seorang dosen dapat menemukan kebahagiaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan akademik. Akhirnya, sebagaimana Bertrand Russell sampaikan, kebahagiaan bukanlah soal menghindari ketidakbahagiaan, melainkan soal memahami, menerima, dan berkembang melalui semua pengalaman yang ada.

Hakikat kebahagiaan bukanlah fatamorgana yang berkilau di dunia orang lain, melainkan permata yang berbisik lirih dari kedalaman diri. Ia adalah kesadaran yang menuntun kita untuk mensyukuri setiap hembusan napas, setiap detak jantung, dan setiap anugerah yang terlukis di kanvas kehidupan kita. Dalam keheningan introspeksi, kita dengar bisikan itu, temukan kebahagiaan sejati yang tak tergoyahkan oleh badai perbandingan dan ekspektasi semu.

Menemukan kedamaian: Bahagia beragama bersama Gus Baha

Baru saja saya membeli buku berjudul “Bahagia Beragama Bersama Gus Baha” yang ditulis oleh Khoirul Anam. Buku ini langsung mencuri perhatian saya karena pendekatan yang unik dan segar dalam memaknai agama. Dengan gaya khasnya yang santai dan menghibur, Gus Baha mengajak kita melihat agama dari sudut pandang yang berbeda—yang membahagiakan dan menenangkan.

Berbeda dengan ceramah-ceramah agama yang sering kali disampaikan dengan nada ancaman atau ketakutan, Gus Baha mengajak kita untuk beragama dengan cara yang “enteng” dan menyenangkan. Ini bukan berarti beragama dengan sembarangan atau mengabaikan nilai-nilai esensial, tetapi justru menemukan makna ketulusan dalam ibadah yang dilakukan. Agama, menurut Gus Baha, seharusnya membawa kita kepada rasa syukur, cinta, dan kebahagiaan, bukan sekadar rasa takut akan hukuman.

Pendekatan ini sungguh mencerahkan, karena menjadikan agama sebagai sumber inspirasi yang membangun dan menyejukkan jiwa. Buku ini mengajak kita untuk menjauh dari praktik-praktik beragama yang kaku dan mencekam, dan mulai melihat agama sebagai jalan untuk menemukan kedamaian, tidak hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri dan sesama.

Saat membaca buku ini, saya merasa bahwa Gus Baha telah memberikan angin segar bagi mereka yang mencari jalan spiritual dengan hati yang lapang dan gembira. Sebuah pencerahan yang mengingatkan kita bahwa agama seharusnya menjadi cahaya yang menerangi jalan, bukan beban yang menambah gelap.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin menemukan kembali makna beragama yang positif dan membahagiakan. Beragama bukan lagi soal menjalani ritual dengan kaku, tetapi menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan kebahagiaan, sebagaimana yang diajarkan oleh Gus Baha dalam setiap pesan dan pengajiannya.

Bayang-bayang digital: Kembali ke gua Plato

Tadi pagi saya baru saja mengajar kuliah Sains Dasar kepada mahasiswa tingkat 1 di Universitas Negeri Malang (UM) dan membahas tentang Plato yang berkontribusi besar pada filsafat ilmu. Kita hidup di zaman di mana layar ponsel dan komputer menjadi cermin baru yang membentuk realitas kita. Setiap orang seolah berlomba menampilkan diri, memainkan peran sebagai bintang dalam panggung digital. Semua ingin diperhatikan, dihormati, dan diakui. Tetapi, apakah yang kita lihat benar-benar mereka? Atau hanya bayang-bayang yang terpantul dari cahaya monitor yang menipu kita?

Seandainya Plato hidup di era ini, dia mungkin akan tersenyum sinis dan berkata, “Selamat datang kembali di gua!” Di dalam Alegori Gua, Plato bercerita tentang manusia yang terkurung dalam gua, hanya bisa melihat bayangan di dinding yang diproyeksikan oleh api di belakang mereka. Para tahanan ini percaya bahwa bayangan itulah kenyataan, padahal mereka hanya melihat pantulan samar dari dunia nyata. Terdengar akrab?

Kini, kita duduk di depan layar, terpesona oleh tampilan-tampilan sempurna yang diproduksi dengan pencahayaan tepat dan filter yang menyilaukan. Seperti tahanan dalam gua Plato, kita menatap bayang-bayang ini dan menganggapnya sebagai kenyataan. Kita kagum pada “kehidupan” yang dipajang di Instagram, TikTok, atau X, tanpa menyadari bahwa yang kita lihat hanyalah gambar buram dari kehidupan nyata yang tersembunyi di baliknya.

Di media sosial, realitas telah mengalami mutasi. Bukannya menghadapi dunia nyata, kita malah terjebak dalam dunia maya yang penuh dengan citra dan ilusi. Apa bedanya dengan bayang-bayang Plato? Hanya satu: gua kita sekarang lebih canggih, dilengkapi dengan WiFi dan filter wajah.

Bayang-bayang yang dulu di dinding gua sekarang beralih menjadi bayang-bayang digital, dan ironisnya, kita menyambutnya dengan sukacita. Kita bahkan ikut-ikutan memproyeksikan bayang-bayang kita sendiri, membentuk citra yang kita inginkan, bukan yang kita miliki. Ponsel kita menjadi sumber cahaya yang memproyeksikan versi terbaik dari diri kita ke layar orang lain. Tidak peduli kenyataan seperti apa, yang penting tampilan.

Sialnya, seperti tahanan Plato, kita bahkan tidak sadar sedang terperangkap. Semakin banyak waktu yang kita habiskan di dunia maya, semakin kita jauh dari kenyataan. Kita berbagi opini, foto makanan, dan video joget, seolah-olah itu semua penting. Sementara itu, kenyataan yang sebenarnya ada di luar layar semakin kabur, terlupakan, dan kita menjadi bagian dari bayang-bayang itu sendiri.

Jadi, apakah kita benar-benar lebih bebas daripada para tahanan di gua Plato? Atau justru kita telah mengurung diri dalam gua digital yang baru, di mana kita sendiri yang dengan sukarela memegang rantainya? Pfft, tapi jangan khawatir. Selama kita punya sinyal, gua ini tetap menyala terang.

Pedagang kaki lima: Filosofi bertahan dalam ketidakadilan

Foto di atas diambil oleh anak saya saat kami membeli nasi goreng malam hari di dekat rumah. Sebuah momen sederhana, tetapi penuh makna yang lebih dalam jika kita merenung sejenak. Pedagang kaki lima seperti penjual nasi goreng ini adalah cerminan sempurna dari kekacauan sosial, ekonomi, dan pemerintah yang gemar memberi mereka tantangan hidup bak ujian nasional. Siapapun yang berjalan di sudut-sudut kota pasti bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa bertahan? Apakah mereka sekadar manusia super yang tahan banting terhadap ekonomi yang bagaikan treadmill tanpa akhir? Atau mungkin ada dimensi filosofis yang lebih dalam dari sekadar kemampuan menjual nasi goreng dan pecel lele?

Mari kita mulai dengan pemandangan yang lebih besar. Ketidakadilan ekonomi. Di sini kita punya dunia di mana sebagian besar kekayaan berada di tangan segelintir orang yang bahkan bingung bagaimana menghabiskannya. Sementara itu, pedagang kaki lima? Mereka di sisi lain, mungkin satu-satunya komunitas yang mampu memaknai hidup dari genggaman selembar seribu rupiah—sebuah ekonomi informal yang lahir dari sistem formal yang gagal mengakomodasi mayoritas rakyatnya.

Namun, jangan salah sangka, pedagang kaki lima bukan sekadar korban. Mereka adalah bukti hidup bahwa ketahanan bukan hanya soal fisik, tetapi juga spiritual. Di tengah regulasi pemerintah yang lebih sering membingungkan ketimbang membantu, mereka tetap berdiri kokoh, menjual barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang bahkan bisa membuat dompet bernapas lega. Bagi sebagian orang, mereka adalah bentuk gangguan urban. Tapi, bagi yang mengerti, mereka adalah roh kehidupan kota, menjaga harmoni sosial di tempat di mana rasanya harmoni hanya ada dalam lirik lagu.

Jadi, jika ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari pedagang kaki lima, itu adalah bahwa mereka tidak sekadar bertahan. Mereka mendefinisikan ulang apa artinya hidup dalam sistem yang tidak adil, sambil tetap menjaga martabat dan hubungan sosial. Di tengah gemuruh ketidakadilan, mereka terus memainkan peran penting sebagai penyelamat kecil yang memberi napas dalam keseharian kota.

Pada akhirnya, fenomena bertahannya mereka adalah simfoni dari ketidakadilan ekonomi dan ketahanan manusia yang berakar dalam. Sebuah ironi yang menggugah kita untuk merenung: siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan reformasi—pedagang kaki lima, atau sistem yang terus-menerus mengabaikan mereka?

Menyebut orang lain dungu bisa jadi bukti kedunguan sendiri

Bayangkan seorang filsuf yang masuk ke ruang debat dengan penuh percaya diri, menarik napas panjang, dan dengan lantang mengumumkan, “Semua orang di sini dungu, kecuali saya!” Seperti seorang keledai berkacamata yang berpikir bahwa dengan mengenakan aksesori, ia telah berubah menjadi seorang ilmuwan roket. Filsuf ini tampaknya yakin bahwa hanya dengan merendahkan semua orang di sekitarnya, ia otomatis naik kelas menjadi genius. Tapi tunggu dulu, apakah benar demikian?

Dalam buku “A History of Western Philosophy,” Bertrand Russell mengingatkan kita tentang bahaya dari sikap seperti ini. Russell, yang tidak pernah kekurangan argumen tajam, secara khusus menyoroti mereka yang terlalu cepat menyebut pandangan lain sebagai “salah” atau “dungu” tanpa argumen yang kokoh. Contoh favoritnya? Hegel, sang pemikir dialektika. Russell menuduh Hegel menggunakan metode dialektika seperti seorang penyair yang menulis puisi indah tapi tak berarti untuk menjelaskan fisika kuantum. Hegel mungkin dengan mudah menyebut semua pendekatan lain sebagai keliru, tapi Russell dengan cerdik bertanya: apakah ini benar-benar kebijaksanaan, atau sekadar tanda bahwa Hegel sendiri mungkin tidak memahami apa yang ia bicarakan?

Russell melanjutkan kritiknya terhadap mereka yang meremehkan metode empiris dan logika formal. Ia melihat bahwa filsuf yang hanya mengandalkan spekulasi metafisik tanpa dasar yang jelas sering kali bersikap seperti ilmuwan palsu: berdiri di atas mimbar, mengangkat jubah akademiknya, dan mengklaim bahwa yang lain “tidak paham,” padahal mereka sendiri tidak bisa membedakan atom dari angin surga. Ketika seseorang begitu cepat menyebut yang lain “dangkal” atau “bodoh,” Russell mengingatkan kita bahwa ini mungkin bukan tanda kecerdasan yang sejati, melainkan kebodohan yang mengenakan jubah intelektual.

Di sisi lain, di buku “The Story of Oriental Philosophy,” L. Adams Beck membawa kita ke dunia pemikiran Timur yang lebih damai, di mana filsuf seperti Buddha, Konfusius, dan Laozi mungkin akan tertawa terbahak-bahak mendengar kesombongan seperti ini. Beck menyoroti bahwa banyak pemikir Timur justru menghindari menyebut pandangan lain sebagai “dungu” atau “salah” secara mutlak. Mereka lebih suka mengembangkan dialog dan memahami perbedaan, dengan kerendahan hati yang dalam dan rasa hormat terhadap perjalanan intelektual setiap orang.

Bayangkan Buddha duduk di sebelah filsuf Barat yang arogan ini, tersenyum lembut dan berkata, “Apakah kamu sudah selesai menghakimi, anakku? Mari kita berbicara tentang kasih sayang.” Atau Konfusius yang dengan sopan menepuk bahu mereka dan berkata, “Belajarlah dari setiap orang, bahkan dari mereka yang kamu sebut bodoh.” Dalam tradisi Timur, kesombongan intelektual seperti ini justru dianggap sebagai bukti bahwa seseorang masih jauh dari pencerahan. Seperti kata Laozi, kebijaksanaan sejati datang dari memahami bahwa kita tidak tahu banyak, dan mengakui keterbatasan kita adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.

Jadi, apa yang kita pelajari dari Russell dan Beck? Jika seseorang merasa perlu terus-menerus menyebut orang lain dungu, ini mungkin seperti burung gagak yang mengejek bulu merak karena terlalu mencolok—ketika masalah sebenarnya adalah burung gagak itu sendiri tidak dapat melihat betapa gelap bulunya sendiri. Russell dan Beck sama-sama menyiratkan bahwa orang yang terlalu cepat meremehkan pandangan lain tanpa alasan yang masuk akal mungkin sebenarnya sedang memamerkan kebodohannya sendiri.

Jadi, pelajarannya adalah jika Anda menemukan diri Anda ingin menyebut semua orang lain bodoh, mungkin saatnya untuk melepas kacamata kebesaran diri dan menyelami kebijaksanaan sejati—atau paling tidak, coba lihat cermin terlebih dahulu. Sebab, kebodohan sejati adalah berpikir bahwa kita selalu lebih pintar daripada orang lain, sementara kebijaksanaan datang dari belajar, memahami, dan menerima bahwa kita masih memiliki banyak hal yang perlu dipelajari.

Zikir: Kedamaian untuk menghindari kedunguan

Sebagai muslim, zikir, sebuah amalan sederhana namun memiliki dampak luar biasa dalam kehidupan kita. Zikir adalah pengingat terus-menerus akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, membawa ketenangan dalam hati, kejernihan dalam berpikir, dan kelembutan dalam berbicara.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, seringkali kita terjebak dalam kebisingan dunia yang membuat hati kita gelisah, pikiran kita kusut, dan kata-kata kita kasar. Kita mudah terprovokasi, cepat marah, dan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Zikir mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat bahwa ada kekuatan yang lebih besar di luar sana yang selalu mengawasi.

Ketika hati tenang, pikiran pun menjadi jernih. Kita tidak lagi mudah tergelincir dalam emosi negatif atau terbawa oleh arus kebencian. Kata-kata yang keluar dari mulut kita pun berubah; dari umpatan dan kata-kata kasar menjadi ungkapan-ungkapan yang santun dan menyejukkan. Tidak ada lagi kata “dungu” yang meluncur dari bibir kita karena kita sadar bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan atau melukai.

Marilah kita jadikan zikir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan zikir, kita belajar untuk menyaring setiap pikiran dan ucapan, memastikan bahwa semuanya berakar dari cinta dan kebijaksanaan. Ketika hati kita tenang, kita menjadi lebih mampu menghadapi setiap tantangan dengan kepala dingin dan jiwa besar, tanpa harus melukai orang lain dengan kata-kata kita.

Zikir bukan hanya sekadar mengucapkan lafaz tertentu; ia adalah cara hidup, sebuah komitmen untuk selalu mengedepankan kebaikan, keikhlasan, dan kedamaian dalam setiap langkah kita. Semoga dengan memperbanyak zikir, kita semua dapat menemukan ketenangan sejati yang membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik, penuh dengan cinta dan penghormatan satu sama lain.

Persahabatan di antara dosen: Sebuah refleksi dari konsep Plato

Menurut Plato, persahabatan sejati tidak hanya dibangun di atas dasar saling memberi dan menerima antara dua individu, tetapi lebih dari itu, persahabatan yang benar-benar kokoh terikat pada aspirasi bersama terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi, terutama “Kebaikan.” Dalam dialognya, Plato menggambarkan bahwa dua orang dapat bersahabat karena mereka sama-sama menginginkan kebaikan tersebut, dan bukan semata-mata karena mereka membutuhkan sesuatu dari satu sama lain. Jika komitmen terhadap kebaikan itu hilang, maka persahabatan pun bisa pudar.

Bayangkan konsep ini dalam konteks persahabatan antara dua orang dosen, sebut saja Prof. XXX dan Dr. YYY, yang menjalani hubungan persahabatan seperti sebuah proyek penelitian bersama yang mereka putuskan untuk kerjakan. Proyek ini bukan sekadar proyek biasa, tetapi sebuah penelitian ambisius untuk menemukan “Teori Kebaikan Universal” yang dapat mengubah dunia pendidikan.

Selama bertahun-tahun, XXX dan YYY bekerja sama dengan gigih. Mereka saling berbagi ide, berdebat tentang metodologi, dan saling mendukung ketika menghadapi tantangan. Namun, tujuan utama mereka bukan hanya publikasi jurnal atau penghargaan akademik, melainkan menemukan esensi dari “Kebaikan” dalam pendidikan—sesuatu yang mereka yakini dapat membawa perubahan besar.

Namun, seiring waktu, situasi mulai berubah. Prof. XXX mulai tertarik pada hal-hal lain—mungkin dia tergoda oleh tawaran menjadi rektor atau mulai fokus pada proyek lain yang lebih menguntungkan secara finansial. XXX mulai kehilangan minat terhadap proyek “Teori Kebaikan Universal” yang dulu begitu ia perjuangkan. Sementara itu, Dr. YYY masih teguh pada tujuan awal mereka, tetap bersemangat dan berkomitmen untuk menyelesaikan penelitian tersebut demi nilai “Kebaikan” yang mereka yakini.

Pada titik ini, persahabatan akademik mereka mulai merenggang. Bukan karena mereka tidak lagi menghargai satu sama lain, tetapi karena tujuan mereka tidak lagi sejalan. Dr. YYY masih ingin mencapai puncak—menemukan dan mempublikasikan “Teori Kebaikan Universal”—sedangkan Prof. XXX sudah kehilangan ketertarikannya. Akibatnya, proyek penelitian mereka terhenti, dan persahabatan mereka pun mulai memudar.

Analogi ini menunjukkan bahwa persahabatan di antara dua dosen tidak hanya didasarkan pada kerja sama dan dukungan satu sama lain, tetapi juga pada kesamaan tujuan dan komitmen terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi. Selama XXX dan YYY memiliki tujuan akademik yang sama, persahabatan mereka kuat. Namun, begitu salah satu dari mereka kehilangan arah, hubungan itu pun mulai goyah, mirip seperti penelitian yang terhenti ketika salah satu penelitinya kehilangan minat.

Persahabatan mereka, seperti proyek penelitian, hanya akan terus berlanjut selama keduanya masih berkomitmen pada “Kebaikan” yang menjadi tujuan awal mereka. Tanpa itu, persahabatan yang dulu erat perlahan bisa berubah menjadi hanya kenangan indah di masa lalu.

Nol: Simbol kemerdekaan sejati

Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, yang dirayakan di Universitas Negeri Malang (UM). Foto di atas menunjukkan kami, para dosen kimia UM, setelah selesai upacara bendera. Tulisan ini adalah refleksi mengenai kemerdekaan tahun ini.

Dalam dunia yang penuh dengan angka, nol mungkin terlihat seperti entitas yang sederhana, bahkan tak berarti. Namun, jika kita melihat lebih dalam, nol sebenarnya adalah simbol yang kaya akan makna, terutama ketika dikaitkan dengan konsep kemerdekaan. Nol, dalam esensinya, melambangkan kebebasan dalam banyak bentuk, mulai dari kebebasan dari kekangan hingga potensi tak terbatas yang bisa diwujudkan.

Nol adalah angka yang tidak terikat oleh nilai positif atau negatif. Ia berada di titik tengah, bebas dari tekanan arah mana pun. Ini adalah cerminan sempurna dari kemerdekaan sejati—keadaan di mana kita tidak terikat oleh pengaruh eksternal, tidak terbebani oleh keterpaksaan untuk memilih sisi. Seperti nol yang berdiri sendiri, kemerdekaan adalah kemampuan untuk hidup tanpa keterikatan, tanpa beban yang menarik kita ke satu arah atau lainnya.

Lebih dari itu, nol adalah awal yang baru, sebuah permulaan yang murni tanpa jejak masa lalu. Dalam kehidupan, kemerdekaan sering kali berarti kesempatan untuk memulai dari awal, membangun sesuatu yang baru tanpa beban sejarah atau batasan yang membatasi. Nol memberi kita gambaran tentang ruang kosong yang siap diisi dengan apa pun yang kita pilih—sebuah simbol dari potensi tak terbatas yang bisa diwujudkan ketika kita merdeka.

Namun, nol juga mengajarkan kita tentang kebebasan dari identitas yang terbatas. Sebagai angka, nol tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, tetapi ia memberi makna dalam hubungannya dengan angka lain. Demikian pula, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mendefinisikan diri kita sendiri, untuk melampaui batasan yang ditetapkan oleh masyarakat atau kondisi eksternal. Ini adalah kebebasan untuk menjadi siapa pun kita mau, tanpa terikat oleh definisi yang sempit.

Di sisi lain, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, kita sering mengaitkannya dengan kondisi tanpa tekanan, tanpa beban. Nol adalah keadaan yang bebas dari nilai, tidak ada beban positif atau negatif yang harus ditanggung. Ini adalah gambaran dari kemerdekaan yang bebas dari dominasi, penjajahan, atau tekanan eksternal lainnya. Seperti nol, kemerdekaan adalah ruang kosong yang menawarkan kebebasan untuk bergerak, berkembang, dan menciptakan tanpa batas.

Akhirnya, nol, yang sering kali dikaitkan dengan ketakterhinggaan ketika dibagi dengan dirinya sendiri, membawa kita pada refleksi tentang kemerdekaan sebagai keadaan di mana segala kemungkinan terbuka lebar. Nol, dalam bentuknya yang sederhana, mengajarkan kita bahwa kemerdekaan adalah kondisi yang penuh potensi, tempat di mana kita bisa berkembang tanpa batas, menciptakan tanpa henti, dan mewujudkan tanpa tekanan.

Nol dalam esensi yang paling murni adalah sebuah lambang dari kebebasan sejati, potensi tak terbatas, dan kemampuan untuk memulai dari awal. Nol adalah pengingat bahwa kemerdekaan, seperti nol itu sendiri, adalah dasar dari segala sesuatu yang mungkin dalam hidup kita.

Refleksi

Nol bukan sekadar angka; ia adalah simbol kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pendidikan, ia merepresentasikan kebebasan berpikir dan inovasi. Di ranah politik, nol adalah simbol perjuangan melawan dominasi dan otoritas yang menindas. Dalam ekonomi, ia menandakan kemandirian dan potensi tak terbatas. Nol juga mencerminkan kebebasan sosial dari struktur yang mengikat, kemerdekaan budaya dalam ekspresi kreatif, dan ruang bagi inovasi teknologi. Secara keseluruhan, nol adalah fondasi kemerdekaan, memungkinkan kita untuk memulai dari awal dan membangun masa depan yang lebih baik di berbagai bidang.

Ketika dunia memilih pemimpin: Antara kompetensi dan kesempatan

Di dunia yang seharusnya berputar di atas roda logika dan kebijaksanaan, kenyataan malah seringkali seperti panggung sandiwara yang penuh dengan adegan-adegan absurd. Kita semua tahu, bahwa di masa modern ini, masyarakat sangat menginginkan pemimpin yang kompeten, berwawasan luas, dan mampu memecahkan masalah-masalah kompleks yang mendera dunia. Tapi, apa yang kita dapat? Ya, sering kali justru kebalikan dari itu! Mari kita tertawa bersama dalam kesedihan sambil mengamati fenomena ini.

Politik: Sebuah realitas teaterikal

Kita mulai dari panggung politik, di mana para aktor berlaga dengan penuh semangat. Sayangnya, seperti teater murahan yang penuh dengan efek suara dramatis dan plot yang klise, sering kali kita menyaksikan pemimpin yang terpilih adalah mereka yang pandai memainkan peran, bukan yang pandai menyelesaikan masalah. Lihatlah mereka yang tampil dengan janji-janji setinggi langit, menawarkan ‘solusi’ yang sering kali tak lebih dari sekedar sulap murah di hadapan massa yang haus akan harapan. Begitu tabir dibuka, yang tersisa hanya asap dan cermin—efek ilusi semata.

Bukankah sangat ironis? Kita hidup di era di mana informasi berada di ujung jari kita, namun sering kali kita malah memilih pemimpin dengan cara yang lebih mirip permainan kucing dan tikus. Ada yang bilang, “Kita memilih pemimpin yang pantas kita dapatkan.” Nah, jika melihat hasilnya, apakah ini berarti kita memang pantas mendapatkan pemimpin yang lebih pandai dalam membuat meme di media sosial daripada kebijakan publik?

Panggung politik: Audisi atau lomba popularitas?

Jika politik adalah sebuah permainan, maka pemilihan umum tak lain hanyalah audisi besar-besaran di mana yang menang bukanlah yang paling berbakat, melainkan yang paling pandai menjilat. Lomba popularitas? Tentu saja. Kompetensi mungkin bagus untuk para teknokrat, tapi di dunia politik, itu hanya sebuah kata yang terdengar manis namun sering kali tak punya tempat di atas panggung.

Kita bisa membayangkan bagaimana para pemimpin ini berlatih keras untuk menghadapi audisi. Mereka memoles pidato, mengasah senyuman, dan belajar bagaimana memiringkan kepala dengan anggun saat berfoto. Tapi sayang, ketika berhadapan dengan tantangan nyata seperti krisis ekonomi atau perubahan iklim, mereka sering kali hanya bisa berdiri diam, bingung seperti aktor yang lupa naskahnya.

Teknologi canggih, pemimpin gagap

Sungguh menggelikan melihat bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan berkembang begitu pesat, namun pemimpin yang terpilih sering kali gagap menghadapi perubahan ini. Mereka seperti mencoba mengendalikan mobil sport terbaru dengan manual berkendara dari abad ke-19. Kita semua tahu hasilnya: kecelakaan.

Sementara kita berbicara tentang kecerdasan buatan yang bisa membantu kita memilih pemimpin dengan lebih baik, pemimpin yang terpilih justru sering kali lebih tertarik pada hal-hal yang tidak relevan. Contoh klasik adalah ketika mereka lebih peduli tentang jumlah pengikut di media sosial daripada memikirkan cara untuk meningkatkan perekonomian. Jika saja kompetensi bisa diukur dari jumlah “likes” dan “retweets,” dunia ini mungkin akan menjadi tempat yang jauh lebih sederhana—dan absurd!

Kompetensi? Mungkin nanti saja

Dan begitulah, di dunia yang penuh dengan tantangan kompleks, kita sering kali terjebak dengan pemimpin yang tidak kompeten, yang lebih sibuk memainkan permainan politik daripada memikirkan cara untuk keluar dari krisis. Seperti dalam permainan papan yang tak ada akhirnya, kita melangkah maju satu petak, mundur dua petak, dan terus mengelilingi papan tanpa pernah mencapai tujuan.

Jadi, di tengah semua ini, mungkin kita hanya bisa berharap—atau tertawa—bahwa suatu hari nanti, dunia akan menemukan cara untuk memilih pemimpin yang benar-benar kompeten. Sampai saat itu tiba, mari kita nikmati permainan ini, lengkap dengan segala absurditas dan ironi yang ada. Lagipula, seperti kata pepatah lama yang tak pernah usang: “Dunia ini memang panggung sandiwara, dan kita semua hanyalah para aktornya.” Dan di panggung ini, tampaknya kita semua sedang bermain dalam sebuah komedi yang belum berakhir.

Seni menilai dari jauh: Panduan anti baper untuk manusia modern

Di zaman serba instan ini, di mana setiap orang bisa jadi ahli dadakan bermodalkan Google lima menit, menjaga jarak bukan cuma soal etika, tapi juga seni bertahan hidup. Bayangkan, Anda sedang asyik menikmati drama Korea, tiba-tiba ada teman curhat soal masalah percintaannya yang lebih rumit dari plot drama itu sendiri. Anda bisa saja terjebak dalam pusaran emosi, ikut menangis tersedu-sedu sambil mengutuk sang mantan, atau Anda bisa memilih jadi penonton yang bijak, menganalisis situasi dengan kepala dingin sambil tetap menikmati popcorn.

Jarak adalah kunci. Bukan berarti kita jadi manusia dingin tanpa empati, tapi lebih kepada menjaga kewarasan di tengah badai informasi dan emosi. Seperti pepatah bijak mengatakan, “Semakin dekat dengan api, semakin besar risiko terbakar.” Nah, kalau masalah itu adalah api, kita harus pintar-pintar menjaga jarak agar tidak jadi korban.

Ilmuwan bilang, jarak membantu kita mengurangi bias kognitif. Sederhananya, otak kita itu suka cari pembenaran atas apa yang sudah kita yakini. Makanya, kalau terlalu dekat dengan suatu masalah, kita cenderung melihatnya dari satu sisi saja. Jadinya, bukannya solusi yang didapat, malah sakit kepala berkepanjangan.

Jadi, lain kali kalau ada teman curhat masalah yang bikin pusing tujuh keliling, coba praktikkan “seni menilai dari jauh”. Dengarkan dengan seksama, tapi jangan lupa aktifkan mode “analisis objektif”. Siapa tahu, dengan menjaga jarak yang tepat, Anda bisa melihat solusi yang tadinya tersembunyi di balik kabut emosi.

Ingat, menjaga jarak bukan berarti jadi manusia anti-sosial. Kita tetap bisa peduli dan membantu, tapi dengan cara yang lebih cerdas dan efektif. Lagipula, siapa bilang jadi penonton itu membosankan? Buktinya, acara gosip tetap jadi favorit banyak orang, kan?

Jadi, mari kita latih kemampuan “menilai dari jauh” ini. Siapa tahu, kita bisa jadi generasi baru yang lebih bijak, lebih objektif, dan tentunya, lebih bahagia.