Kepahlawanan akademik dan semprotan parfum integritas

Betapa menggetarkannya adegan di “Scent of a Woman” ketika Al Pacino, atau lebih tepatnya Letnan Kolonel Frank Slade, berdiri di hadapan khalayak untuk membela seorang mahasiswa yang berani, Charlie Simms. Dengan lidah yang tajam dan suara menggelegar, Slade menghantam keras institusi pendidikan yang berusaha menghukum kejujuran dan keberanian moral. Namun, siapa sangka, pidato yang begitu dramatis itu lebih dari sekedar adegan di film; ia adalah cerminan suram dari dunia akademis.

Dalam dunia pendidikan yang ideal, kejujuran dijunjung tinggi layaknya trofi prestisius. Namun, apa yang kita lihat hari ini? Institusi yang lebih memilih politik daripada prinsip, dan pengakuan daripada kebenaran. Kita harus bertanya: apakah universitas-universitas telah berubah menjadi studio Hollywood, di mana integritas hanya skenario yang indah untuk didengar tapi jarang dilakukan?

Pidato Slade yang membara itu seharusnya menjadi lebih dari sekedar dialog film. Ia harus menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi para akademisi, bahwa di balik setiap nilai dan ujian, ada cerita integritas yang perlu dijaga. Daripada menjadi pengecut yang diam seribu bahasa, marilah kita menjadi pahlawan dalam narasi kita sendiri, menegakkan integritas tidak hanya dalam kata, tapi juga dalam tindakan.

Mari kita tertawakan ironi ini bersama-sama: dalam dunia yang seringkali mengorbankan etika demi keuntungan, mungkin kita memang perlu tokoh fiksi dari film untuk mengingatkan kita tentang nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar pendidikan kita. Sungguh, sebuah paradoks yang tidak hanya tragis, tapi juga konyol. Tetapi, setidaknya kita bisa menertawakan diri sendiri, bukan? Dan sambil kita tertawa, mungkin, hanya mungkin, kita bisa mulai membuat perubahan kecil yang akan membawa integritas kembali ke panggung utama—tidak hanya di layar lebar, tapi di dalam kelas-kelas kita.

Video Spontan (sering diperbarui)

Kumpulan video ini menangkap pengalaman dan pengamatan sehari-hari saya terhadap hal-hal kecil tanpa proses penyuntingan. Momen-momen ini, meskipun terkadang tanpa tujuan, saya simpan sebagai kenangan dan pengingat bahwa setiap momen berharga layak untuk dinikmati.

Pragmatisme Machiavellian: Apakah ini yang kita cari?

Ketika membaca The Prince karya Niccolò Machiavelli, kita mungkin tergoda untuk menganggapnya sebagai panduan kuno yang tidak lagi relevan dengan dunia modern. Namun, jika kita melihat realitas politik, bisnis, dan bahkan kehidupan sosial saat ini, kita akan menemukan bahwa prinsip-prinsip Machiavelli bukan hanya masih hidup, tetapi juga menjadi fondasi dari banyak sistem yang kita anggap “normal.”

Machiavelli mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mengutamakan hasil dibandingkan moralitas. Penguasa tidak harus selalu menepati janji, rasa takut lebih efektif daripada cinta, dan perang sering kali merupakan alat yang sah untuk mempertahankan kekuasaan. Ide-ide ini dulu dianggap kontroversial, tetapi hari ini, apakah kita tidak melihatnya dalam bentuk yang lebih tersamar?

Dunia yang dikuasai oleh pragmatisme tanpa moral

Lihatlah bagaimana negara-negara menjalankan kebijakan luar negeri mereka. Kepentingan nasional selalu mengalahkan etika, dan janji-janji diplomatik sering kali dilanggar jika tidak lagi menguntungkan. Dalam dunia korporasi, perusahaan raksasa tidak segan-segan menggunakan strategi agresif, monopoli, atau bahkan eksploitasi buruh demi mempertahankan dominasi pasar.

Media sosial? Manipulasi emosi publik, penyebaran informasi yang dikendalikan, dan penggiringan opini bukan lagi praktik yang mengejutkan. Para pemimpin politik tidak ragu untuk memainkan ketakutan massa, menggiring narasi tertentu, atau bahkan menabur kebingungan untuk memperkuat kendali mereka.

Apakah ini yang kita inginkan?

Pertanyaannya, apakah ini dunia yang kita inginkan? Apakah kita ingin hidup dalam masyarakat di mana kejujuran hanya berlaku jika menguntungkan? Di mana kebebasan dikorbankan demi stabilitas? Di mana ketakutan lebih efektif daripada cinta?

Machiavelli tidak mengatakan bahwa moralitas tidak ada gunanya, tetapi dia menekankan bahwa kekuasaan sering kali tidak bisa dipertahankan dengan kejujuran dan kebajikan semata. Dalam konteks politik dan bisnis modern, apakah kita tidak sedang menjalankan prinsip-prinsip ini tanpa menyadarinya?

Mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali: apakah kita benar-benar mencari dunia yang lebih adil dan etis, atau justru tanpa sadar kita telah menerima pragmatisme Machiavellian sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan?

Pragmatisme Machiavellian dalam filsafat ilmu

Sebagai seorang dosen, saya ingin melihat ini dari sudut pandang filsafat ilmu. Baik dalam politik maupun ilmu pengetahuan, pragmatisme telah menjadi prinsip dominan. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini terjadi, tetapi apakah kita puas dengan ini? Apakah kita benar-benar ingin dunia di mana politik dan ilmu hanya tunduk pada efektivitas tanpa mempertimbangkan moralitas dan keadilan?

Jika kita mengkritik Machiavelli karena mengajarkan pemimpin untuk menggunakan tipu daya dan kekerasan demi stabilitas, apakah kita juga harus mengkritik ilmu jika ia digunakan sebagai alat dominasi tanpa mempertimbangkan etikanya?

Apakah kita mencari kebenaran, atau hanya kemenangan dalam kompetisi pengetahuan dan kekuasaan?

Menggapai mimpi lewat sebuah dedikasi

Tulisan ini diminta oleh teman-teman alumni Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa tahun lalu, ketika saya masih berada di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Baru sekarang tulisan ini akan dicetak oleh penerbit Mizan dengan judul 105 Spektra Alumni Kimia ITB – In Harmonia Progressio. Jadi, sudah beberapa tahun tidak diperbarui, sementara saya sendiri sudah dua setengah tahun kembali ke tanah air dan menjadi dosen di Universitas Negeri Malang (UM).

Dua dekade sebagai editor jurnal: Dari konten ke kredibilitas

Sejak 20 tahun lalu, saya telah menjadi editor jurnal Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Perjalanan ini bukan sekadar proses mengelola naskah, tetapi juga perjalanan learning progression, pembelajaran yang berkembang seiring waktu. Jika dulu tugas utama saya adalah menilai substansi manuskrip, kini peran saya telah bergeser ke ranah yang lebih kompleks: memilah-milah kredibilitas pengarangnya.

Pada awalnya, tantangan terbesar adalah menarik minat peneliti agar mengirimkan karya mereka. Jurnal ini tumbuh dari ketidakdikenalan menjadi platform yang kini harus sangat selektif dalam menerima artikel. Dulu, saya hanya membaca isi, menilai kesesuaian topik, kebaruan (novelty), dan kualitas metodologi. Fokus saya sepenuhnya pada konten: apakah sebuah makalah memiliki kontribusi ilmiah yang signifikan?

Namun, zaman telah berubah dan MJFAS sudah menerima banyak sekali makalah. Kini, dengan semakin banyaknya penulis yang mencoba peruntungan di dunia akademik, saya menyadari bahwa menilai hanya berdasarkan isi saja tidak lagi cukup. Saya mulai memperhatikan rekam jejak penulis. Kredibilitas ilmiah bukan hanya soal satu makalah yang tampak meyakinkan, tetapi juga tentang bagaimana konsistensi akademik seseorang dalam meneliti dan berkontribusi dalam bidangnya.

Era kecerdasan buatan (AI) semakin memperumit tantangan ini. Dulu, keunggulan sebuah makalah bisa dilihat dari kedalaman analisis dan orisinalitas gagasan. Sekarang, AI dapat membantu menghasilkan tulisan yang tampak rapi, berstruktur baik, dan bahkan menyisipkan analisis yang tampaknya canggih. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara membedakan makalah yang benar-benar berkualitas dengan yang hanya “dibantu” AI secara berlebihan?

Jawabannya terletak pada kredibilitas penulis. Saya baru-baru ini menolak sebuah makalah bukan karena isi teknisnya buruk, tetapi karena rekam jejak penulisnya tidak menunjukkan kompetensi di bidangnya. Dalam dunia akademik, integritas ilmiah bukan sekadar soal menulis artikel yang terlihat meyakinkan, tetapi juga tentang kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat ini, saya percaya bahwa menjadi editor bukan lagi hanya soal membaca dan menilai isi, tetapi juga memilah siapa yang layak berkontribusi dalam percakapan ilmiah. Kredibilitas, pengalaman, dan konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar satu artikel yang tampak “canggih.” Dan dalam dunia yang semakin didominasi AI, kita harus lebih berhati-hati agar ilmu pengetahuan tetap berkembang atas dasar kerja keras manusia, bukan sekadar hasil sintesis algoritma.

Perjalanan buku: Dari masa kuliah di ITB

Perpindahan buku dari satu tempat ke tempat lain bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga perjalanan memori dan sejarah intelektual yang telah terbangun selama puluhan tahun. Buku-buku yang dahulu menemani masa perkuliahan di Institut Teknologi Bandung (ITB), sejak tahun 1987 hingga kelulusan, kini kembali berperan dalam membangun ruang kerja yang baru. Buku dengan perjalanan panjang melintas negara, dari Indonesia, Malaysia, Jepang dan lain-lain, bergantung dimana buku itu dibeli. Setiap halaman yang tersusun dalam rak dan meja bukan sekadar koleksi, tetapi jejak perjalanan intelektual yang tak lekang oleh waktu. Dari teks-teks akademik hingga referensi klasik, semuanya menjadi saksi atas proses pembelajaran yang terus berlanjut, bahkan setelah resmi meninggalkan bangku kuliah.

Buku-buku ini mencerminkan komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan bagaimana benda-benda yang tak lekas usang ini tetap memiliki nilai seiring berjalannya waktu. Saat buku-buku tersebut akhirnya tertata kembali di tempat baru, ada nuansa kehangatan yang muncul, seolah-olah ruang kerja ini bukan hanya sekadar tempat bekerja, tetapi juga pusat pemikiran dan refleksi. Di balik tumpukan buku itu, tersimpan ide-ide, inspirasi, dan mimpi yang telah menemani perjalanan panjang, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan.

Bersyukur adalah sikap menghargai setiap momen dan menemukan makna di tengah perubahan hidup, menerima apa yang telah diberikan, dan menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Ia jalan menuju ketenangan batin, membebaskan diri dari keinginan yang tak terpuaskan.

Bersyukur

Bersyukur adalah sikap menghargai setiap momen dan menemukan makna di tengah perubahan hidup, menerima apa yang telah diberikan, dan menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Ia jalan menuju ketenangan batin, membebaskan diri dari keinginan yang tak terpuaskan.

Rp 50 Ribu yang ditolak: Ketika buruh harian lebih kaya daripada koruptor

Istri saya baru saja mengalami kejadian unik. Ia menawarkan uang Rp 50 ribu kepada seorang buruh harian yang membantunya mengangkat barang dari mobil ke rumah. Bukannya diterima dengan senyum lebar, uang itu justru ditolak mentah-mentah. “Nanti kalau dikasih, saya nggak mau datang lagi,” katanya sambil tersenyum ramah.

Luar biasa. Di zaman di mana uang menjadi raja, di mana manusia berlomba-lomba menimbun harta, seorang buruh harian dengan upah Rp 100 ribu sehari mengajarkan kita tentang arti harga diri. Baginya, nilai sebuah bantuan, nilai sebuah persahabatan, jauh lebih tinggi dari selembar uang kertas. Ia memilih menjaga ikatan yang telah terjalin daripada sekadar transaksi material.

Sungguh ironis ketika kita melihat realita di sekitar. Para pejabat, pengusaha, bahkan orang-orang yang bergelimang harta, masih saja terjerat kasus korupsi. Ratusan juta, bahkan miliaran rupiah, seakan tak pernah cukup memuaskan dahaga mereka. Di mana letak harga diri mereka? Di mana rasa cukup?

Kisah buruh harian ini seperti tamparan keras bagi kita semua. Bahwa kebahagiaan dan ketenangan hati tak selalu bisa dibeli dengan uang. Ada hal-hal yang jauh lebih berharga: rasa ikhlas, persahabatan, dan harga diri. Mungkin kita perlu belajar dari mereka yang “hanya” berpenghasilan Rp 100 ribu sehari, tentang bagaimana menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas segalanya.

Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita semua. Mari kita belajar menghargai sesuatu yang lebih dari sekadar materi. Karena pada akhirnya, harga dirilah yang akan menentukan siapa diri kita sebenarnya.