Dosen yang Hadir Dihati

Tulisan ini didasarkan kepada refleksi yang ditulis oleh berapa puluh mahasiswa yang mengirimkan refleksinya dengan anonim setelah bertahun-tahun mengikuti perkuliahan.

Dosen itu, dulu, seperti pohon rindang di tengah kampus. Diam, namun hadir. Ia tidak sibuk menghitung daun-daunnya, atau mengejar sertifikat hujan. Ia tahu kapan mesti tumbuh, dan kapan sekadar meneduhkan mahasiswa yang masih bingung mencari arah.

Tapi kini, pohon-pohon itu seperti tercerabut. Akademia telah menjelma ladang administrasi: tabel, laporan, kredit angka-angka. Mereka yang seharusnya menyalakan keberanian berpikir, kini lebih sering tenggelam dalam perhitungan yang tak menumbuhkan siapa pun.

Saya rindu dosen yang tahu bahwa membimbing bukan hanya memberi nilai, tapi memberi makna. Yang tahu bahwa ilmu bukan daftar pustaka, melainkan keberanian menyigi dunia dengan kepala dan hati.

Tapi, mungkinkah mereka kembali?

Dalam dunia yang lebih tertarik pada indeks dan kutipan, apakah masih ada tempat bagi mereka yang hadir bukan untuk mengisi borang, tapi untuk menemani perjalanan sunyi mahasiswa mencari siapa dirinya sendiri?

Pendidikan tinggi, sebutan itu sendiri seperti ironi. Tinggi, tapi kadang menjauh dari yang paling dasar: kemanusiaan.

Dosen sejati mungkin tak banyak bicara, tapi kehadirannya berbicara. Ia bukan sekadar pemilik gelar, tapi penjaga nyala yang kini mulai padam.

Ilmu yang Membisu

Di sebuah zaman ketika tiap klik melahirkan deret data, kita kerap terkecoh. Mengira bahwa informasi berarti pemahaman. Tapi mungkin kita sedang berada di titik ketika Jean Baudrillard benar. Di saat kebenaran dipalsukan bukan oleh dusta, tapi oleh limpahan warta.

Publikasi ilmiah hari ini bukan lagi jalan sunyi para pencari makna. Ia kini lebih menyerupai lalu lintas yang ramai, namun asing. Saling berdesakan, berebut ruang, tapi tak menyapa. Di sana, artikel tak terbit karena pertanyaan besar telah dijawab, melainkan karena tenggat waktu, target institusi, atau nilai akreditasi. Di sana, makalah lahir dari algoritma kewajiban, bukan kegelisahan.

Ada yang mengingatkan tentang noise. Sebuah kata yang kini bukan hanya gangguan telinga, tapi juga batin. Daniel Kahneman dan dua sahabatnya pernah menulis. Kesalahan bisa dikoreksi, tapi ketidakteraturan yang sistemik lebih sulit dihapus. Dua penilai bisa membaca naskah yang sama, namun menyimpulkannya berbeda. Bukan karena substansi, tapi karena cuaca pikirannya. Suatu hari cerah, tulisan bisa lulus. Di hari lain, hujan turun, dan makalah pun ditolak.

Apa yang disebut decision hygiene, kebersihan dalam menilai, hanya tinggal dalam buku. Ia belum jadi kebiasaan. Sistem yang bernama peer review seolah mengklaim objektivitas, tapi diam-diam menyimpan subjektivitas yang tak pernah diakui. Kadang, tulisan diproses oleh penilai yang letih. Kadang, oleh yang sedang tergesa. Ilusi kesepakatan lalu menjadi tameng dari sesuatu yang tak kunjung jernih.

Di tengah kekacauan ini, kita bertanya. Apakah ilmu masih berbicara?

Mungkin ia telah menjadi suara yang diredam dalam auditorium yang riuh. Atau, mungkin ia telah memilih diam. Bukan karena tak ada yang dikatakan, tapi karena tak ada ruang untuk didengar.

Kita hidup dalam masa ketika menulis ilmiah adalah cara mempertahankan eksistensi, bukan menyampaikan keresahan. Ketika publikasi tidak membawa terang, tapi kabut. Dan dari dalam kabut itu, kita pun meraba-raba. Bukan lagi mencari jawaban, tapi sekadar memastikan bahwa kita belum kehilangan arah.

Namun, adakah yang masih bertanya?

I Will Survive (Gloria Gaynor ‧ 1978)

“I Will Survive” (Gloria Gaynor) bait demi bait, dengan interpretasi sebagai seorang dosen:

Bait 1: Perasaan Awal

Lirik: First, I was afraid, I was petrified Kept thinking, I could never live, without you by my side But then I spent so many nights thinking, how you did me wrong And I grew strong and I learned how to get along

Interpretasi Dosen: Pada awal perjalanan karir sebagai dosen, atau ketika menghadapi perubahan besar di lingkungan kampus (misalnya, sistem baru, kurikulum baru, atau tuntutan administrasi yang meningkat), ada rasa ketakutan dan kecemasan. Mungkin dulu merasa sangat tergantung pada dukungan dari sistem lama, atau bahkan dari mentor/kolega yang kemudian mengecewakan. “Tanpa kalian di sisi saya” bisa diartikan sebagai rasa tidak yakin bisa mengatasi tantangan tanpa dukungan yang diharapkan, atau tanpa adanya prosedur yang jelas. Namun, setelah melewati masa sulit dan merenungkan “bagaimana kalian (sistem/masalah) telah memperlakukan saya salah” (misalnya, beban kerja yang tidak proporsional, kurangnya penghargaan), dosen tersebut tumbuh menjadi lebih kuat dan belajar beradaptasi secara mandiri. Ini adalah fase di mana dosen mulai menemukan cara sendiri untuk menjalani profesi dengan lebih efektif dan mengembangkan ketahanan diri.

Bait 2: Kembalinya Masalah

Lirik: And so you’re back, from outer space I just walked in to find you here With that sad look upon your face I should have changed that stupid lock I should have made you leave your key If I’d a known for just one second You’d be back to bother me

Interpretasi Dosen: “Anda” di sini adalah masalah, tugas yang berulang, atau tantangan yang tak kunjung selesai di lingkungan kampus. Mungkin itu adalah birokrasi yang rumitrevisi silabus yang tak ada habisnyamahasiswa yang bermasalah, atau perselisihan dengan kolega. “Dari antah berantah” menggambarkan kemunculan masalah yang tiba-tiba atau tak terduga. Dosen merasa seperti “terjebak” atau “tertipu” karena masalah yang sama muncul kembali, mungkin dengan “raut wajah menyedihkan” yang seolah menuntut perhatian atau penyelesaian dari sang dosen. Ada penyesalan karena tidak mengambil langkah pencegahan yang lebih tegas sebelumnya (“seharusnya saya mengganti kunci bodoh itu”, “seharusnya saya membuat Anda meninggalkan kuncinya”), misalnya, tidak menetapkan batasan yang jelastidak menolak tugas tambahan yang berlebihan, atau tidak segera mengatasi masalah kecil sebelum membesar.

Bait 3: Penolakan Tegas dan Semangat Bertahan

Lirik: Woah now go, walk out the door, just turn around now ‘Cause you’re not welcome anymore Weren’t you the one who tried to hurt me with goodbye Did you think I’d crumble? Did you think I’d lay down and die? No, not I, I will survive Oh as long as I know how to love, I know I’ll stay alive I’ve got all my life to live and I’ve got all my love to give And I’ll survive, I will survive (hey, hey)

Interpretasi Dosen: Ini adalah bait tentang ketegasan dan penolakan terhadap hal-hal yang menguras energi dan semangat. Dosen sekarang tegas mengatakan “pergi sana, Anda tidak diterima lagi” kepada beban kerja yang tidak adilpolitik kantor yang merusak, atau mentalitas negatif yang mencoba menjatuhkan. Frasa “bukankah Anda yang mencoba melukai saya dengan perpisahan?” bisa merujuk pada momen-momen ketika tekanan sangat besar sehingga hampir membuat dosen menyerah atau berhenti. Namun, dengan bangga dan penuh keyakinan, dosen menyatakan: “Tidak, bukan saya, saya akan bertahan.” Keyakinan ini didasarkan pada “cinta” terhadap profesi mengajar, riset, dan membimbing mahasiswa. Selama ada semangat dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan, dosen akan terus berkarya dan berkembang. Ini adalah deklarasi bahwa dosen memiliki potensi dan sumbangsih yang besar untuk diberikan, dan tidak akan membiarkan tantangan menghancurkan tujuan utamanya.

Bait 4: Bangkit dan Membangun Kembali

Lirik: It took all the strength not to fall apart Just trying hard to mend the pieces of my broken heart And I spent oh so many nights just feeling sorry for myself I used to cry, but now I hold my head up high

Interpretasi Dosen: Bagian ini merefleksikan perjuangan internal yang dialami. Proses memulihkan diri dari kekecewaan, kelelahan, atau ketidakadilan membutuhkan kekuatan mental yang besar. “Mencoba keras memperbaiki kepingan hati saya yang patah” menggambarkan upaya untuk memulihkan motivasikepercayaan diri, dan semangat yang mungkin sempat hancur. Ada pengakuan bahwa pernah ada masa-masa merasa kasihan pada diri sendiri dan menangis karena beban yang ada. Namun, fase ini telah terlewati, dan sekarang dosen “menegakkan kepala tinggi-tinggi”, menunjukkan harga diri, kepercayaan diri, dan ketabahan yang telah terbentuk. Ini adalah gambaran seorang dosen yang telah melalui badai dan menjadi lebih tangguh.

Bait 5: Transformasi Diri dan Prioritas Baru

Lirik: And you see me, somebody new I’m not that chained up little person still in love with you And so you felt like dropping in, and just expect me to be free But now I’m saving all my loving for someone who’s loving me

Interpretasi Dosen: Dosen telah mengalami transformasi. “Seseorang yang baru” adalah pribadi yang lebih bijaksana, lebih tangguh, dan tidak lagi terbelenggu oleh hal-hal yang dulu membebani. Dosen tidak lagi “terjebak” atau “terikat” pada hal-hal negatif dari masa lalu. “Anda” (masalah/tekanan) mungkin masih mencoba kembali atau mencari celah, berharap dosen masih “bebas” dan bisa dimanfaatkan. Namun, dosen sekarang telah mengatur prioritasnyaEnergi, dedikasi, dan “cinta” yang dimiliki sekarang dicurahkan untuk hal-hal yang benar-benar bermakna dan menguntungkan, seperti:

  • Mahasiswa yang menunjukkan antusiasme dan apresiasi.
  • Proyek riset yang memberikan dampak nyata.
  • Kerja sama tim yang saling mendukung.
  • Peluang pengembangan diri yang positif. Ini adalah fase di mana dosen telah menemukan sumber kebahagiaan dan motivasi yang lebih sehat dan berkelanjutan dalam karirnya.

Carpet Crawlers (Genesis – 1975)

Merefleksikan lirik lagu “Carpet Crawlers” pada kehidupan seorang dosen, dengan mempertimbangkan berbagai aspek profesi tersebut:

Baris-baris Awal:

  • “There is lambswool under my naked feet / The wool is soft and warm, gives off some kind of heat”: Bagi seorang dosen, ini bisa diartikan sebagai kenyamanan dan kehangatan dalam lingkungan akademis. Kampus, ruang kerja, interaksi dengan mahasiswa dan kolega bisa menjadi “lambswool” yang memberikan rasa aman dan tujuan. “Heat” di sini mungkin melambangkan semangat intelektual dan gairah untuk berbagi ilmu.
  • “A salamander scurries into flame to be destroyed”: Ini bisa merefleksikan risiko “terbakar habis” (burnout) dalam dunia akademik yang penuh tekanan publikasi, penelitian, dan pengajaran. Dosen yang terlalu bersemangat atau terobsesi dengan satu aspek pekerjaannya mungkin mengabaikan keseimbangan dan akhirnya “hancur” oleh “api” tuntutan profesi.
  • “Imaginary creatures are trapped in birth on celluloid”: Ini menarik untuk dihubungkan dengan ide-ide dan teori-teori abstrak yang diajarkan dan dikembangkan oleh dosen. “Celluloid” bisa menjadi metafora untuk kurikulum, buku teks, atau bahkan presentasi di kelas. Ide-ide ini “lahir” dan direpresentasikan, namun terkadang terasa terbatas atau terperangkap dalam format yang statis.
  • “The fleas cling to the golden fleece hoping they’ll find peace”: Ini bisa menggambarkan mahasiswa atau bahkan kolega yang mungkin mencari keuntungan atau pengakuan dengan “menempel” pada dosen yang lebih senior atau memiliki reputasi baik. “Golden fleece” di sini bisa melambangkan kesuksesan akademik atau pengaruh.
  • “Each thought and gesture are caught in celluloid / There’s no hiding in my memory, there’s no room to avoid”: Bagi seorang dosen, setiap perkataan dan tindakan di kelas maupun di luar kampus seringkali diperhatikan dan diingat oleh mahasiswa dan kolega. Tidak ada ruang untuk menyembunyikan inkonsistensi atau kesalahan. Reputasi dan jejak rekam akademik (“memory”) akan terus mengikuti.

Verse 1:

  • “The crawlers cover the floor in the red ochre corridor / For my second sight of people, they’ve more lifeblood than before”: “Crawlers” bisa diartikan sebagai generasi mahasiswa yang terus berganti. “Red ochre corridor” mungkin melambangkan perjalanan panjang dan terkadang melelahkan dalam mendidik dan membimbing mereka. “Second sight” bisa berarti kemampuan dosen untuk melihat potensi dan perkembangan mahasiswa dari waktu ke waktu, menyadari “lifeblood” (semangat dan potensi) mereka yang semakin berkembang.  
  • “They’re moving in time to a heavy wooden door / Where the needle’s eye is winking, closing on the poor”: “Heavy wooden door” bisa menjadi metafora untuk gerbang kesempatan atau keberhasilan akademik. “Needle’s eye” yang “menutup pada yang miskin” mungkin menggambarkan tantangan dan hambatan yang dihadapi mahasiswa atau kolega yang kurang memiliki sumber daya atau dukungan. Dosen mungkin merasa prihatin dengan kesenjangan ini.

Chorus:

  • “The carpet crawlers heed their callers / ‘We’ve got to get in to get out / We’ve got to get in to get out / We’ve got to get in to get out’”: Ini adalah inti yang sangat relevan. Bagi seorang dosen, “getting in” bisa berarti terlibat secara mendalam dalam proses belajar-mengajar, penelitian, dan pengabdian. “Getting out” bisa melambangkan dampak positif yang dihasilkan dari pekerjaan mereka bagi mahasiswa, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk mencapai dampak tersebut, mereka harus “masuk” dan berinvestasi dalam pekerjaan mereka. Atau, ini bisa juga merefleksikan siklus akademik yang terus berulang: masuk ke semester baru untuk akhirnya “keluar” dengan lulusnya mahasiswa atau selesainya proyek penelitian.  

Verse 2:

  • “There’s only one direction in the faces that I see / It’s upward to the ceiling where the chamber’s said to be”: Ini bisa menggambarkan harapan dan aspirasi yang sama dari para mahasiswa untuk meraih kesuksesan dan masa depan yang lebih baik. “Ceiling” dan “chamber” bisa melambangkan tujuan akademik dan karir yang mereka impikan.
  • “Like the forest fight for sunlight that takes root in every tree / They are pulled up by the magnet, believing they are free”: Ini bisa menggambarkan persaingan di antara mahasiswa untuk mendapatkan perhatian, nilai bagus, atau kesempatan karir. “Magnet” di sini bisa menjadi sistem pendidikan, ekspektasi sosial, atau bahkan ambisi pribadi yang mendorong mereka ke atas, meskipun mereka mungkin merasa sepenuhnya bebas dalam pilihan mereka.  

Verse 3:

  • “Mild mannered supermen are held in kryptonite / And the wise and foolish virgins giggle with their bodies glowing bright”: “Mild mannered supermen” bisa jadi adalah dosen-dosen yang terlihat biasa namun memiliki keahlian dan pengetahuan yang luar biasa, namun mereka juga memiliki “kryptonite” – kelemahan atau batasan dalam sistem akademik atau birokrasi. “Wise and foolish virgins” yang “glowing bright” mungkin menggambarkan berbagai macam mahasiswa dengan tingkat pemahaman dan motivasi yang berbeda, namun semuanya memiliki potensi dan “cahaya” unik mereka.
  • “Through the door, a harvest feast is lit by candlelight / It’s the bottom of a staircase that spirals out of sight”: “Door” bisa menjadi kelulusan atau pencapaian akademik. “Harvest feast” melambangkan perayaan keberhasilan dan hasil dari kerja keras. “Staircase that spirals out of sight” menunjukkan bahwa belajar dan berkembang adalah proses yang berkelanjutan dan tidak pernah berakhir, baik bagi mahasiswa maupun dosen.

Verse 4:

  • “The porcelain mannequin with shattered skin fears attack / And the eager pack lift up their pitchers, they carry all they lack”: “Porcelain mannequin” yang rapuh bisa menggambarkan kerentanan seorang dosen terhadap kritik, tekanan, atau perubahan kebijakan akademik. “Eager pack” dengan “pitchers” bisa menjadi mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan dan berusaha “mengumpulkan” sebanyak mungkin dari dosen mereka.  
  • “The liquid has congealed which has seeped out through the crack / And the tickler takes his stickleback”: Ini mungkin menggambarkan hilangnya semangat atau idealisme dalam dunia akademik yang terkadang kaku dan birokratis. “Liquid” yang membeku dan merembes keluar melambangkan potensi yang terbuang atau inovasi yang terhambat. “Tickler” dan “stickleback” adalah imaji yang lebih abstrak, mungkin menggambarkan gangguan kecil atau hal-hal remeh yang bisa mengganggu fokus dan efektivitas dosen.

Secara keseluruhan, lirik “Carpet Crawlers” menawarkan lensa yang menarik untuk merefleksikan berbagai dinamika dalam kehidupan seorang dosen: antara idealisme dan realitas, antara harapan dan tantangan, serta peran mereka dalam membimbing generasi penerus. Lagu ini mengingatkan bahwa meskipun perjalanan mendidik dan meneliti bisa terasa lambat dan penuh tantangan (“carpet crawlers”), tujuan akhir untuk “get out” dan memberikan dampak positif tetap menjadi pendorong utama.

Kebahagiaan seorang profesor

Sebagai seorang profesor, saya merasa perlu mendefinisikan kebahagiaan berdasarkan peran fungsional yang saya emban. Hal ini penting, karena pemaknaan kebahagiaan dalam konteks jabatan ini tentu berbeda apabila seorang profesor tidak menjalankan perannya secara utuh, misalnya, dalam kasus profesor yang tidak aktif secara akademik atau hanya menyandang gelar tanpa substansi. Kebahagiaan bagi seorang profesor, seorang intelektual yang hidupnya semestinya diwarnai oleh kegiatan riset, pengajaran, pemikiran kritis, dan refleksi mendalam, memiliki corak yang khas. Berikut ini adalah interpretasi konsep kebahagiaan yang diuraikan dari sudut pandang kehidupan seorang profesor:

“Kebahagiaan adalah hasil sinergi antara struktur otak, kimia otak, pengalaman, dan interpretasi makna”

1. Struktur otak

Profesor mengandalkan korteks prefrontal (penalaran tingkat tinggi) dan hipokampus (memori jangka panjang) dalam pekerjaannya. Struktur otak ini sangat aktif saat ia membaca, mengajar, atau meneliti, aktivitas yang bisa memberi kepuasan intelektual yang menjadi sumber kebahagiaan.

Interpretasi: Ketika seorang profesor berhasil menyelesaikan penelitian atau menginspirasi mahasiswanya, bagian otaknya yang menangani pencapaian dan hubungan sosial akan aktif, menghasilkan rasa bahagia yang dalam dan bermakna.

2. Kimia otak

Aktivitas seperti menemukan solusi dalam riset atau menerima pengakuan akademis dapat memicu dopamin (rasa pencapaian), oksitosin saat membimbing mahasiswa, dan serotonin dari stabilitas hidup yang dibangun lewat dedikasi jangka panjang.

Interpretasi: Bagi profesor, momen saat artikelnya diterbitkan di jurnal bergengsi atau melihat mahasiswa bimbingannya menjadi profesor bisa menyalakan pelepasan dopamin yang lebih kuat dibanding hadiah material.

3. Pengalaman

Kebahagiaan profesor juga bersumber dari kumpulan pengalaman bermakna: menjadi narasumber konferensi internasional, membangun relasi intelektual, atau mendampingi mahasiswa hingga wisuda.

Interpretasi: Setiap interaksi yang positif dengan mahasiswa atau kolega akan disimpan sebagai pengalaman emosional yang memperkaya rasa bahagia jangka panjang.

4. Interpretasi makna

Profesor cenderung melihat kehidupannya dalam bingkai kontribusi terhadap pengetahuan, bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia menafsirkan pekerjaannya sebagai bagian dari misi yang lebih besar.

Interpretasi: Meski lelah menghadapi revisi jurnal, profesor bisa tetap bahagia karena ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan intelektual yang berdampak.

“Otak bukan hanya mengenali kebahagiaan, tetapi juga dapat dilatih untuk menciptakan lebih banyak pengalaman bahagia melalui refleksi, relasi sosial, dan latihan kognitif”

5. Refleksi

Profesor sering merenungkan makna hidup, ilmu, dan peran sosial. Refleksi semacam ini, apalagi bila dituangkan lewat tulisan atau diskusi, memperkuat kesadaran diri dan mengokohkan rasa puas batin.

Interpretasi: Saat profesor menulis esai filsafat atau jurnal introspektif, ia sedang membangun struktur mental yang menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan batin.

6. Relasi sosial

Meski tampak individualistik, profesor juga merasa bahagia saat menjadi bagian dari komunitas akademik, mentoring mahasiswa, atau kolaborasi antar universitas.

Interpretasi: Diskusi mendalam dengan rekan sejawat yang sefrekuensi secara intelektual bisa menghasilkan rasa bahagia setara dengan momen rekreatif bagi orang lain.

7. Latihan kognitif

Karena otaknya terus “dilatih” lewat membaca, berpikir kritis, menulis, dan berdiskusi, profesor secara alami memiliki kebugaran mental tinggi yang mendukung keseimbangan emosional.

Interpretasi: Mempelajari teori baru atau mengajar topik kompleks bukan hanya memberi nilai akademik, tapi juga kesenangan batin dan mental reward.

Kesimpulan interpretatif

Kebahagiaan seorang profesor adalah bentuk kebahagiaan eudaimonik, yaitu rasa bahagia yang tumbuh dari makna, kontribusi, dan pencapaian intelektual. Ia tidak mengejar kebahagiaan sebagai tujuan, tetapi kebahagiaan datang sebagai efek samping dari hidup yang dijalani dengan kesadaran dan dedikasi tinggi.

Universitas kita masih di tahap birokratis tradisional 

Dalam kajian perkembangan organisasi, setiap institusi berkembang melalui berbagai tahap yang mencerminkan pola pikir dan sistem kerja yang mereka anut. Tidak ada organisasi yang langsung menjadi inovatif dan adaptif. Sebaliknya, mereka bergerak secara bertahap, mulai dari sistem yang menekankan kepatuhan dan ketertiban, hingga menjadi institusi yang mendorong pencapaian, kreativitas, dan kolaborasi.

Jika kita mencermati kondisi universitas saat ini, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kita masih berada dalam tahap birokrasi tradisional. Ini terlihat dari struktur kepemimpinan yang vertikal dan tegas, peran-peran yang ditentukan secara kaku, serta pengambilan keputusan yang lebih banyak ditentukan oleh posisi daripada prestasi. Pada tahap ini, kepemimpinan lebih berfungsi sebagai pengawas dan administrator ketimbang sebagai penggerak perubahan.

Struktur organisasi dalam tahap ini dirancang untuk menjaga stabilitas. Jabatan formal dipertahankan secara ketat, dan sistem manajemen lebih berfokus pada keteraturan dan pemenuhan prosedur. Dalam konteks tertentu, pendekatan ini memang memiliki kelebihan, ia memberikan kejelasan tanggung jawab dan memastikan konsistensi dalam pelaksanaan akademik. Namun, tantangan terbesarnya adalah risiko stagnasi. Universitas yang terlalu nyaman dengan model birokratis ini cenderung sulit beradaptasi dengan perubahan zaman dan kurang fleksibel dalam menghadapi tantangan global.

Karena itu, penting bagi kita untuk memperkuat fondasi birokratis ini bukan sebagai tempat untuk bertahan, melainkan sebagai pijakan untuk melompat ke tahap inovatif dan kolaboratif. Tahap inovatif menekankan hasil dan pencapaian, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Dalam tahap ini, universitas harus mulai mendorong penelitian, publikasi, serta kebebasan akademik. Sistem kepemimpinan pun harus bergeser dari sekadar administratif menjadi lebih visioner dan berorientasi pada transformasi.

Setelah tahap inovatif mulai berjalan, universitas perlu beranjak ke tahap kolaboratif. Di sini, organisasi tidak hanya berfokus pada pencapaian individu, tetapi juga pada kerja sama, empati, dan kepercayaan. Kepemimpinan dalam tahap ini lebih bersifat fasilitatif, di mana dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan memiliki peran aktif dalam menentukan arah perkembangan kampus. Partisipasi menjadi nilai utama, bukan hanya struktur dan aturan.

Transformasi ini tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan perbaikan sistem manajemen, peningkatan kapasitas kepemimpinan, dan perubahan budaya akademik secara bertahap. Namun, dengan memperkuat birokrasi yang ada sebagai fondasi, lalu secara progresif mengadopsi pola inovatif dan kolaboratif, universitas akan mampu berkembang menjadi institusi yang tidak hanya kokoh dalam sistem, tetapi juga tajam dalam gagasan dan luas dalam dampaknya.

Sebagai ringkasan, berikut adalah tahapan perkembangan yang harus dilewati universitas agar mampu mencapai keunggulan jangka panjang:

Tahap PerkembanganStruktur OrganisasiGaya KepemimpinanCiri UtamaDampak pada Universitas
Birokratis TradisionalHierarkis, terpusat, formal, proseduralInstruktif, berbasis aturan, pengawasan ketatMenekankan kepatuhan, prosedur lebih penting dari hasilStabilitas tinggi, tetapi kurang adaptif dan lamban berinovasi
InovatifFleksibel, berbasis kinerja, terbuka untuk inovasiTransformasional, berbasis visi, mendukung eksperimenMendorong inovasi dan pencapaian berbasis kompetensiLebih kompetitif dan maju dalam riset serta publikasi
KolaboratifTerdistribusi, berbasis partisipasi, mendukung kolaborasiFasilitatif, berbasis kepercayaan, mendorong sinergiMenitikberatkan pada kolaborasi, empati, dan nilai-nilai sosialUniversitas menjadi pusat pertumbuhan intelektual dan sosial

Universitas tidak hanya membutuhkan bangunan yang megah dan regulasi yang ketat. Ia membutuhkan jiwa yang hidup, jiwa yang berani berinovasi, adaptif terhadap perubahan, dan relevan dengan tantangan zaman. Inilah saatnya kita tidak lagi sekadar menjaga sistem tetap berjalan, tetapi mulai bergerak menuju universitas yang lebih maju, dinamis, dan berdampak bagi masyarakat.

Ilusi dialog: Mengapa komunikasi di universitas justru lebih sulit?

Ketika kita berpikir tentang universitas, yang terbayang seringkali adalah ruang-ruang intelektual yang penuh dengan kebebasan berpikir dan diskusi akademik yang terbuka. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks, dan ironisnya, lebih tertutup. Di balik fasad akademik yang menjunjung tinggi pencarian ilmu, komunikasi di universitas justru dihambat oleh struktur hierarki, ego akademik, dan norma sosial yang rumit.

1. Komunikasi dalam cengkeraman hierarki

Universitas memiliki struktur kekuasaan yang rigid. Profesor senior, administrator, dan mahasiswa beroperasi dalam sistem yang sering kali lebih menyerupai feodalisme daripada lingkungan kolaboratif. Akibatnya, komunikasi tidak terjadi secara horizontal, melainkan vertikal dengan hambatan-hambatan yang membuat informasi tersaring sebelum mencapai pihak yang benar-benar membutuhkannya. Ini menciptakan “penghalang komunikasi” yang sering kali memperlambat inovasi dan perkembangan intelektual.

2. Ego dan kapital intelektual yang menghambat dialog

Di lingkungan akademik, orang-orang memiliki investasi intelektual yang tinggi. Mereka tidak hanya mempertahankan argumen, tetapi juga mempertaruhkan reputasi akademik mereka. Inilah yang menyebabkan debat intelektual sering kali lebih bersifat defensif ketimbang eksploratif. Scrutiny yang berlebihan terhadap ide-ide baru dapat menciptakan budaya ketakutan untuk berpendapat, di mana seseorang lebih memilih diam daripada mengambil risiko diserang secara akademik.

3. Budaya “saving face” dan ketakutan terhadap kritik

Dalam banyak kultur akademik, terutama di lingkungan yang masih paternalistik, kritik langsung dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan. Akibatnya, banyak akademisi muda dan mahasiswa yang memilih untuk menghindari perdebatan langsung, demi menjaga “muka” para senior atau profesor yang memiliki pengaruh besar dalam karier mereka. Hal ini tidak hanya menghambat pertumbuhan intelektual, tetapi juga memperkuat status quo yang mungkin sudah usang.

4. Solusi? Mengubah cara kita melihat komunikasi

Komunikasi, pada dasarnya, adalah cara kita menyelesaikan masalah. Baik itu dalam interaksi satu lawan satu, komunikasi massal, atau dalam kerja kelompok, komunikasi seharusnya menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, bukan memperlebar jurang hierarki dan ego. Universitas seharusnya menjadi tempat di mana perbedaan pendapat dihargai, bukan dilihat sebagai ancaman.

Jika kita ingin komunikasi di dunia akademik menjadi lebih sehat dan produktif, kita harus mulai mendobrak hierarki yang tidak perlu, membuka ruang dialog yang lebih setara, dan membangun budaya akademik yang lebih kolaboratif daripada kompetitif. Hanya dengan cara inilah universitas bisa benar-benar menjadi pusat pengetahuan yang terbuka, bukan sekadar menara gading yang menjauh dari realitas.

Antara Ideologi, Sifat Manusia, dan Godaan Iblis: Mengapa Keadilan Sulit Ditegakkan?

Meskipun ideologi Marx menawarkan kritik tajam terhadap kapitalisme, kegagalannya dalam implementasi tidak hanya disebabkan oleh pengabaian terhadap sifat dasar manusia yang kompetitif, individualistik, dan cenderung mencari keuntungan pribadi, tetapi juga oleh faktor godaan iblis yang mempermainkan kelemahan manusia. Dalam banyak tradisi agama, iblis menggoda manusia dengan keserakahan, kedengkian, dan hasrat akan kekuasaan baik dalam sistem kapitalisme maupun komunisme. 

Dalam kapitalisme, godaan iblis tampak dalam bentuk kerakusan akan harta dan eksploitasi terhadap sesama demi keuntungan pribadi. Sementara dalam komunisme, iblis membelokkan cita-cita kesetaraan menjadi kediktatoran dan penyalahgunaan kekuasaan oleh segelintir elite. Keduanya menunjukkan bahwa ideologi yang canggih sekalipun dapat runtuh ketika manusia menyerah pada godaan kesombongan dan ketamakan. 

Oleh karena itu, perdebatan bukan hanya tentang memilih antara kapitalisme atau komunisme, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang menyeimbangkan keadilan sosial dengan sifat dasar manusia yang kompleks. Sistem yang ideal tidak hanya memperhitungkan aspek ekonomi dan politik, tetapi juga menjaga moralitas dan spiritualitas agar manusia tidak jatuh dalam jerat godaan iblis yang menggiringnya pada ketidakadilan dan penindasan.

Tabel di bawah ini merangkum gagasan dalam tulisan tersebut dalam konteks ekonomi, pendidikan, dan politik. Tabel ini menunjukkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, ideologi dan sistem yang ada selalu menghadapi tantangan dari sifat dasar manusia serta godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan. Hal ini menjadikan keadilan bukan hanya sebagai konsep teoritis, tetapi sebagai perjuangan moral yang terus-menerus.

BidangIdeologiSifat ManusiaGodaan IblisDampak terhadap Keadilan
EkonomiKapitalisme menawarkan kebebasan pasar dan insentif individu, sementara komunisme menjanjikan pemerataan ekonomi.Manusia cenderung kompetitif, individualistis, dan ingin memperoleh keuntungan maksimal.Keserakahan dalam kapitalisme mengarah pada eksploitasi tenaga kerja dan ketimpangan ekonomi; dalam komunisme, kesetaraan disalahgunakan oleh elite yang berkuasa.Keadilan sulit ditegakkan karena sistem ekonomi rentan terhadap monopoli, eksploitasi, atau penindasan atas nama kesetaraan.
PendidikanPendidikan berbasis meritokrasi mendorong kompetisi, sementara pendidikan egaliter menekankan pemerataan akses.Manusia memiliki dorongan untuk unggul dan mendapatkan keuntungan dari status sosial yang lebih tinggi.Hasrat akan prestise dan kekuasaan membuat sistem pendidikan lebih berpihak pada yang ber privilege; penyalahgunaan wewenang dalam pendidikan dapat menghambat akses bagi yang kurang mampu.Sistem pendidikan seringkali gagal menjadi alat mobilitas sosial dan malah memperkuat kesenjangan kelas.
PolitikDemokrasi mengutamakan partisipasi rakyat, sementara otoritarianisme mengklaim stabilitas dan ketertiban.Manusia mendambakan kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan sosial.Dalam demokrasi, politisi tergoda oleh korupsi dan populisme; dalam otoritarianisme, pemimpin menyalahgunakan kekuasaan untuk mempertahankan kendali.Keadilan sering dikorbankan demi kepentingan elite politik yang memanfaatkan sistem untuk keuntungan pribadi.

Ranking universitas: Prestasi atau sekadar ilusi marketing?

Seorang profesor statistik dari Amerika Serikat, kebetulan diaspora dari Indonesia, yang ikut dalam penyusunan kriteria ranking dari beberapa provider ranking, di grup WhatsApp yang saya ikuti, menyatakan bahwa ranking itu subjektif. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ranking universitas sering kali dipercaya sebagai indikator kualitas pendidikan yang objektif. Namun kenyataannya, sistem perankingan ini lebih merupakan alat pemasaran yang canggih daripada gambaran kualitas sesungguhnya. Sebuah universitas yang baru berdiri di Inggris misalnya mampu menduduki peringkat tinggi dalam waktu relatif singkat, meskipun mayoritas mahasiswanya berasal dari negara-negara berkembang. Apakah ini berarti kualitas pendidikan di universitas tersebut benar-benar unggul, atau ini sekadar strategi untuk menarik perhatian calon mahasiswa internasional?

Tidak jauh berbeda dengan situasi di Australia yang tujuan dari universitasnya adalah untuk komersial. Apakah wajar universitas yang berada di top 80 persen Australia dianggap lebih unggul dibandingkan universitas di negara lain yang mungkin punya kualitas setara atau bahkan lebih baik? Kenyataannya, sistem ranking yang memanfaatkan metrik seperti jumlah mahasiswa internasional dan dosen dari luar negeri membuat universitas tertentu tampak lebih menarik dan menjual, terlepas dari kualitas sebenarnya.

Sebaliknya, banyak universitas tua dan mapan di Amerika Serikat bahkan tidak terlalu peduli dengan ranking ini, karena reputasi akademik yang kuat sudah terbangun sejak lama tanpa harus bergantung pada peringkat internasional. Universitas-universitas ini tetap menjadi tujuan utama para pelajar global, menunjukkan bahwa ranking tidak selalu menentukan kualitas sebenarnya.

Ranking universitas mungkin berguna sebagai referensi awal, tetapi jangan pernah lupa bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat strategi marketing yang kuat. Maka dari itu, keputusan memilih universitas seharusnya didasarkan pada kualitas program studi, kesesuaian minat, fasilitas yang tersedia, dan reputasi akademik nyata, bukan sekadar angka-angka dalam tabel peringkat.

Pada akhirnya, pertanyaan filosofis yang muncul adalah: apakah kita mencari pendidikan untuk menemukan kebenaran dan hakikat ilmu pengetahuan, ataukah kita hanya ingin memperoleh pengakuan sosial melalui simbol prestasi semu yang ditawarkan oleh angka-angka ranking tersebut?

Serba-serbi ujian doktor

Selama saya berkarir di dunia akademik saya telah menilai tesis Ph.D. dari beberapa Universitas, dan juga menghadiri ujiannya. Lain universitas, lain cara penilaian tesisnya. Saya bercerita sedikit mengenai tata cara penilaian tesis di Malaysia, Indonesia dan Kanada, yang pernah saya hadiri. Karena pengalaman saya menilai tesis hampir sama dengan yang ditulis di Wikipedia, maka tulisan tersebut saya modifikasi dan saya tambahkan dengan penilaian tesis Doktor di Indonesia.

Malaysia

Seperti model Inggris, mahasiswa Ph.D. atau M.Phil. diharuskan menyerahkan tesis atau disertasi mereka untuk diperiksa oleh dua atau tiga penguji. Penguji pertama berasal dari universitas yang bersangkutan, penguji kedua dan ketiga dari universitas lain, baik lokal maupun luar negeri. Pemilihan penguji harus disetujui oleh senat universitas. Di beberapa universitas negeri, kandidat Ph.D. mungkin juga harus menunjukkan sejumlah publikasi di jurnal akademik peer review sebagai bagian dari persyaratan. Ujian lisan dilakukan setelah penguji menyerahkan laporannya kepada pihak universitas. Sesi ujian lisan dihadiri oleh ketua ujian lisan, seorang pelapor dengan kualifikasi Ph.D., penguji pertama, penguji kedua dan terkadang penguji ketiga. Penilaian yang diberikan dapat menyebabkan mahasiswa memperbaiki tesis sampai satu tahun dan mengulang lagi ujian, bahkan ada yang diberikan gelar setingkat lebih rendah yaitu M.Phil. 
Ujian Doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Indonesia

Tahun pertama program Doktor lebih banyak akan fokus kepada penyusunan proposal riset yang akan diteliti dalam program doktor dimana akan diisi metodologi penelitian dan seminar riset tentang rencana penelitian mahasiswa. Kewajiban full time harus dilakukan dalam masa studi. Setelah lulus ujian kualifikasi (kandidat doktor), diisi dengan penelitian yang dievaluasi dalam setiap semester kemajuannya (dalam bentuk seminar dan presentasi internal). Pada tahapan ini mahasiswa diharapkan juga sudah berhasil memiliki publikasi dalam jurnal internasional dengan status diterima (full acceptance), sebagai salah satu syarat kelulusan dari kandidat doktor. Ada tiga ujian atau sidang yang perlu dilalui oleh kandidat doktor, yaitu ujian seminar, sidang tertutup, dan sidang promosi. Sama seperti di negara lain, format tipikal adalah kandidat memberikan presentasi singkat (20–40 menit) tentang penelitian mereka, diikuti dengan satu hingga dua jam pertanyaan. Ujian disertasi ini biasanya hanyalah formalitas, karena sepengetahuan saya, tidak pernah yang tidak lulus. 
Sidang promosi Doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kanada

Di Kanada, tesis atau pembelaan lisan adalah ujian akhir untuk kandidat doktor, dan terkadang untuk kandidat master. Komite penguji biasanya terdiri dari komite tesis, biasanya sejumlah profesor tertentu terutama dari universitas mahasiswa ditambah pembimbing utama mereka, seorang atau dua penguji eksternal  (seseorang yang tidak terkait dengan universitas), dan seorang ketua. Setiap anggota komite akan diberikan salinan lengkap disertasi sebelum ujian, dan akan datang untuk mengajukan pertanyaan tentang tesis. Di banyak universitas, ujian tesis master terbatas pada peserta ujian dan penguji, tetapi ujian doktoral terbuka untuk umum. Format tipikal adalah presentasi oleh kandidat selama 20–40 menit tentang penelitian mereka, diikuti dengan satu hingga dua jam pertanyaan. Ujian ini mirip dengan ujian di Malaysia dimana tesis dapat mengalami perbaikan yang signifikan, bergantung dari penilaian penguji. 
Ujian Doktor di Laval University, Kanada.