Resolusi 2025: Syukur dan maaf

Di tahun 2025, umur saya memasuki 56 tahun. Saya akan memupuk rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari dengan secara sadar mengakui dan menghargai hal-hal baik melalui praktik-praktik seperti menulis jurnal atau sekadar meluangkan waktu untuk merenung. Saya juga akan berupaya menebus kesalahan masa lalu dengan secara aktif mencari kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan menebus kesalahan, baik melalui permintaan maaf yang tulus.

Menolak tanpa basa-basi: Renungan editor

Sebagai editor, saya merasa seperti penjaga gerbang terakhir dalam dunia akademik, seorang pilar yang berdiri tegak untuk memastikan hanya karya terbaik yang layak melewati celah sempit publikasi. Bagi saya, menolak artikel bukanlah sekadar hobi atau kenikmatan tersendiri, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk melindungi integritas ilmu pengetahuan dari ancaman tulisan-tulisan yang ceroboh dan melanggar aturan.

Setiap penolakan yang saya berikan bukan keputusan sewenang-wenang. Ia lahir dari evaluasi, didasarkan pada pedoman pengajuan yang sudah disusun dengan penuh kehati-hatian. Pedoman ini bukan sekadar hiasan formalitas, melainkan fondasi yang dirancang untuk menciptakan keseragaman dalam struktur, format, dan kualitas. Ironisnya, pedoman ini sering kali diperlakukan seperti manual elektronik yang langsung diabaikan begitu kotak kemasannya dibuka.

Bagi para penulis yang bertanya mengapa naskah mereka ditolak, saya selalu merasa dilematis antara menjawab dengan kesabaran atau membiarkan mereka belajar dari rasa sakit penolakan. Namun, waktu yang terbatas dan daftar panjang naskah yang menunggu giliran memaksa saya untuk mengambil jalan pintas. Saya memilih diam, membiarkan pedoman berbicara untuk saya, karena menjelaskan hal yang sudah tertulis rasanya sama saja seperti mengajari ikan untuk berenang.

Saya sering membayangkan bagaimana frustrasinya penulis yang merasa karya mereka diperlakukan tanpa belas kasih. Namun, saya juga membayangkan bagaimana frustrasinya saya saat menemukan artikel yang ditulis tanpa memperhatikan aturan yang sudah jelas terpampang. Hubungan ini, antara penulis dan editor, sering kali terasa seperti permainan tarik tambang yang tidak pernah selesai.

Mungkin harapan terbaik saya sebagai editor adalah bahwa para penulis akhirnya akan memahami aturan permainan ini. Bahwa mereka akan mulai membaca pedoman seperti membaca kitab suci, menyusun naskah dengan ketelitian seorang arsitek, dan memastikan setiap kalimat telah melalui penyuntingan yang tajam. Saya juga berharap mereka akan berhenti mengirimkan abstrak yang terasa lebih seperti pidato kampanye daripada ringkasan penelitian.

Namun, dalam dunia yang bergerak cepat ini, impian tersebut sering kali hanya berakhir sebagai utopia. Sampai saat itu tiba, saya akan terus duduk di kursi penghakiman ini, menjaga pintu jurnal dengan tangan yang tegas tetapi hati yang lelah. Menolak tanpa basa-basi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tetap berdiri kokoh di atas pondasi yang bermutu.

Kalau: Sebuah refleksi menjelang 2025

Menjelang 2025, kita sering kali terjebak dalam permainan “kalau”. Kata pendek dan sederhana ini, “kalau”, seolah memiliki kekuatan magis untuk membawa kita berandai-andai, melayang ke dunia alternatif, membayangkan skenario yang mungkin terjadi di tahun yang baru. Namun, “kalau” juga menyimpan potensi untuk menjebak kita dalam bias dan spekulasi yang tak berujung. Refleksi ini mengajak kita untuk menelaah kembali kekuatan dan jebakan dari kata “kalau” dalam menyongsong tahun 2025.

“Kalau begini di 2025…”, “Kalau begitu di 2025…”, frasa-frasa seperti ini mulai berseliweran di benak kita. Kita mungkin membayangkan resolusi pribadi, “kalau” tahun ini saya lebih disiplin berolahraga, saya akan lebih sehat. Atau kita berspekulasi tentang kondisi ekonomi, “kalau” ekonomi global membaik, investasi saya akan menguntungkan. Bahkan, dalam skala yang lebih besar, kita mungkin merenungkan kondisi sosial-politik, “kalau” pemimpin yang terpilih nanti bijaksana, Indonesia akan lebih maju.

Di sinilah bias pemikiran seringkali muncul. Kita cenderung terjebak dalam bias konfirmasi di mana kita hanya mencari informasi yang mendukung skenario “kalau” yang kita inginkan. Misalnya, seseorang yang berharap untuk memulai bisnis di tahun 2025 mungkin hanya fokus pada berita-berita positif tentang peluang usaha dan mengabaikan potensi risiko dan tantangan yang ada. Dia terpaku pada narasi “kalau” yang memperkuat optimisme, mengabaikan kemungkinan kendala.

Skenario “kalau” juga dapat memicu bias optimisme yang berlebihan. Kita mungkin membayangkan 2025 yang ideal, yang penuh dengan pencapaian dan keberhasilan, sambil mengabaikan potensi kesulitan dan rintangan. Kita membayangkan “kalau” semua rencana berjalan lancar, maka kita akan mencapai target yang kita tetapkan. Namun, realitas seringkali jauh lebih kompleks dan penuh dengan ketidakpastian.

Refleksi menjelang 2025 ini bukanlah untuk menghentikan kita dari membuat rencana atau memiliki harapan. Berharap dan merencanakan adalah sifat alami manusia. Namun, refleksi ini mengajak kita untuk lebih waspada terhadap jebakan kata “kalau”. Alih-alih terhanyut dalam spekulasi yang belum pasti, kita perlu menyeimbangkan harapan dengan kesadaran akan realita.

Alih-alih terpaku pada “kalau” yang belum tentu terjadi, lebih baik kita fokus pada apa yang bisa kita kendalikan saat ini. Persiapan dan tindakan nyata adalah kunci untuk menghadapi 2025, bukan hanya berandai-andai. Kita bisa mempersiapkan diri dengan meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, dan mencari informasi yang akurat dan berimbang. Dengan demikian, kita tidak hanya pasif menunggu apa yang akan terjadi “kalau”, tetapi secara aktif membentuk masa depan yang kita inginkan, dengan tetap realistis menghadapi segala kemungkinan.

Menyongsong 2025, mari kita jadikan “kalau” sebagai pemicu untuk bertindak, bukan sebagai sumber ilusi. Mari kita gunakan kata “kalau” untuk memotivasi diri, bukan untuk membatasi diri. Karena pada akhirnya, bukan “kalau” yang menentukan nasib kita di tahun 2025, melainkan langkah konkret dan usaha nyata yang kita lakukan mulai dari sekarang. Mari songsong 2025 dengan penuh harapan, namun tetap berpijak pada kenyataan dan kesiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Memaknai angka, merayakan proses

Mencapai 5.002 sitasi tentu tidak lepas dari dukungan dan inspirasi dari banyak pihak. Saya bersyukur atas kesempatan untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dan akan terus berusaha menghasilkan karya yang bermanfaat.

Learning progression in advanced materials research: A personal perspective

I was invited as a speaker at the Colloquium of Academic and Research (COAR) 2024, organized by the Faculty of Science and Industrial Technology, Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA), in collaboration with Universitas Negeri Malang (UM), themed “Advancing Materials for a Sustainable Tomorrow”, held on 23 December 2024.

In my presentation “Learning Progression in Advanced Materials Research: A Personal Perspective,” I shared my reflections on the journey of exploring advanced materials, emphasizing both incremental and problem-driven approaches to scientific discovery. This topic resonates deeply with my experiences as a researcher and educator, where balancing practical advancements with bold, innovative ideas has been a recurring theme.

I began by highlighting the importance of incremental research as a foundation for growth. Often, research is judged by its ability to produce groundbreaking results, but I emphasized how small, deliberate modifications such as refining material structures or tuning acidity levels can lead to meaningful, long-term advancements. I believe this step-by-step process is not only realistic but also essential for building frameworks that enable larger breakthroughs in the future.

I also discussed the role of problem-driven research, particularly my work on phase-boundary catalysis. This type of research demands resilience and a willingness to face uncertainties. While it may not always lead to quick publications, it often paves the way for impactful discoveries. I highlighted how problem-driven research profoundly affects researchers, offering a sense of genuine discovery and innovation that is deeply rewarding. This experience reminds us of the excitement that comes from pushing scientific boundaries and uncovering new possibilities.

As I prepared this presentation, I reflected on my role as a professor and researcher. I emphasized that my responsibilities extend beyond conducting research. I believe it is equally important to inspire students with this sense of discovery. Teaching is not just about transferring knowledge; it is about igniting curiosity, encouraging exploration, and empowering students to think critically about solving problems. I see my role as a mentor who helps students appreciate both the incremental steps and bold leaps required in research, preparing them to face challenges with confidence and creativity.

I also emphasized the value of integrating computational models with experiments to validate findings. In my work, this dual approach has proven indispensable for ensuring reliability and scalability. It has enhanced my ability to make accurate predictions and optimize research outcomes, which I encouraged my audience to adopt as part of their own methodologies.

Through this presentation, I hoped to convey my belief that impactful research requires both patience and boldness. Science is not just about achieving immediate results; it is about contributing meaningful insights over time. As someone passionate about blending theory with practical applications, I see this journey in materials research as a source of motivation to continue pushing boundaries while respecting the value of steady progress.

Finally, I encouraged my audience, especially my students and fellow researchers, to embrace the challenges of research and view it as a lifelong adventure of learning and discovery. It is my hope that this presentation not only shared insights from my personal journey but also inspired others to pursue their own paths of exploration with confidence and enthusiasm.

Jejak Perjalanan Hidup: Sebuah Catatan Syukur dan Harapan

Hidup ini hanyalah sekelip mata, sungguh begitu singkat dan sementara. Setiap langkah yang kita ambil, setiap pencapaian yang diraih, dan setiap tantangan yang dihadapi adalah bagian dari perjalanan yang telah ditentukan-Nya. Tabel ini saya susun sebagai pengingat atas jejak kehidupan yang telah dilalui. Ini hanya untuk mensyukuri setiap nikmat dan kesempatan yang diberikan. Semoga apa yang tertulis di sini membawa berkah, serta menjadi pengingat bahwa segala sesuatu yang kita capai hanyalah titipan yang harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

TanggalPeristiwa/Kegiatan
6 Mei 1969Lahir di Bukittinggi.
1974–1987Pindah ke Padang. Menyelesaikan pendidikan dasar, menengah, dan atas.
1987–1992Sarjana Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB).
26 April 1993Menikah dengan Terry Terikoh di Bandung.
1993–1995Meraih Magister Teknik (cum laude) dalam Ilmu dan Teknik Material di ITB.
2 April 1995Anak pertama, Farid Rahman Hadi, lahir di Bandung.
Desember 1995 – Mei 1998Menyelesaikan Ph.D. dalam Kimia Material di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
1 September 1998 – 31 Oktober 1999Postdoctoral Fellow di UTM.
22 Juli 1999Anak kedua, Firda Hariri, lahir di Johor Bahru, Malaysia.
2 Nopember 1999 – 1 Nopember 2001Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) Postdoctoral Fellow di Hokkaido University.
1 Nopember 2001 – 31 Maret 2002COE Visiting Researcher di Hokkaido University.
2002–2022Menjadi peneliti dan profesor penuh selama 12 tahun di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
12 September 2006Anak ketiga, Fahima Zikra, lahir di Johor Bahru, Malaysia.
26 Nopember 2010Diangkat sebagai Profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
20 Juli – 4 September 2015Visiting scientist di Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy (HZB).
2–21 September 2016Menunaikan ibadah Haji.
1 Februari 2017 – 31 Juli 2022Adjunct Professor di Universitas Negeri Malang (UM). Merupakan Adjunct Professor pertama di UM.
1 Agustus 2021 – sekarangDiangkat sebagai Profesor di Universitas Negeri Malang (UM).
1 Juni 2022 – sekarangDiangkat sebagai Adjunct Professor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
1 Juli 2022 – sekarangDiangkat sebagai Direktur Laboratorium Terpadu di Universitas Negeri Malang (UM).
1 Oktober 2022 – sekarangGuest Professor di Osaka University, Jepang.
5 Agustus 2023Farid Rahman Hadi menikah dengan Zayanah Masturina Zainal di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sekarang dan seterusnyaSemoga hidup terus mengalir dengan penuh makna, membawa kebahagiaan, kesehatan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Kebahagiaan dalam mengajar dan membimbing

Sebagai seorang dosen dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di perguruan tinggi, melihat wajah-wajah mahasiswa yang penuh semangat selalu menjadi momen yang menghangatkan hati. Bagi saya, mereka bukan sekadar mahasiswa, melainkan seperti anak-anak sendiri yang membawa harapan besar untuk masa depan mereka. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menyaksikan mereka tumbuh, belajar, dan memupuk mimpi-mimpi mereka di setiap langkah perjalanan akademik.

Wajah-wajah di kelas saya semester ini

Semester ini, saya berkesempatan mengajar mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor di Universitas Negeri Malang (UM). Video ini menampilkan wajah-wajah penuh semangat mereka yang akan menjadi kenangan indah dari kelas saya. Semoga mereka selalu diberkahi dan sukses dalam menempuh pendidikan di UM.

Kolaborasi akademik internasional: Pengalaman di UniSZA

Pada 9 Desember 2024, saya berkesempatan untuk mengunjungi Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) di Terengganu, Malaysia, atas undangan dari Pusat Asasi Sains dan Perubatan (PUSPA). Sebagai seorang akademisi dari Departemen Kimia, Universitas Negeri Malang (UM), saya merasa terhormat diundang untuk menyampaikan kuliah internasional bertajuk “Chemical Kinetics” kepada mahasiswa dan staf akademik UniSZA. Kuliah ini berlangsung di Dewan Ibnu Khaldun, dimulai pukul 14.15 hingga 16.30 waktu setempat. Antusiasme peserta sangat terasa, terutama dalam sesi tanya jawab dan diskusi interaktif yang berlangsung setelah materi disampaikan.

Keesokan harinya, 10 Desember 2024, saya memimpin sebuah lokakarya bertajuk “Engagement with High Impact Editor and Winning Grant Proposal”. Lokakarya ini diadakan di Hospital Sultan Zainal Abidin dan dirancang khusus untuk membekali dosen dan peneliti UniSZA dengan strategi praktis dalam menulis proposal penelitian yang kompetitif serta menerbitkan artikel di jurnal bereputasi internasional. Dari pukul 08.00 hingga 16.30, kami berdiskusi intensif mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam dunia akademik, sembari berbagi pengalaman dan tips berdasarkan perjalanan saya sebagai seorang peneliti.

Selain mengisi kuliah dan lokakarya, saya juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Prof. Ts. Dr. Shukor Abdul Razak, Timbalan Naib Canselor (Penyelidikan & Inovasi) UniSZA. Dalam pertemuan ini, kami membahas potensi kolaborasi antara Universitas Negeri Malang dan UniSZA. Diskusi kami mencakup berbagai peluang kerja sama di bidang akademik dan penelitian, dengan harapan dapat mempererat hubungan antar institusi. Bagi saya, pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperkuat semangat untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di tingkat internasional.