Harapan Zaman Rapuh

Pendidikan tinggi kini bukan lagi mesin pencarian makna, melainkan ekosistem rapuh yang sedang aus oleh beban administratif dan tuntutan efisiensi yang melupakan dimensi kemanusiaan.

Dalam perjalanan panjang sebagai pendidik, saya sering merenung bahwa pendidikan tinggi saat ini tidak sedang runtuh secara dramatis. Ia mengalami keausan perlahan yang sunyi dan sering kali tidak disadari. Di tengah kepungan tuntutan produktivitas, percepatan kebijakan, dan obsesi pada pengukuran angka, universitas memang tetap berjalan, namun ruang untuk berpikir mendalam dan daya tahan etis kita perlahan-lahan menipis. Kita hidup di sebuah zaman rapuh di mana tekanan datang dari berbagai arah sekaligus tanpa memberi kita jeda yang cukup untuk sekadar bernapas atau berefleksi.

Sinisme akademik sesuai dengan kegelisahan yang saya rasakan. Sering kali, kelelahan sistemik yang dialami oleh dosen maupun mahasiswa disalahartikan sebagai kegagalan individu atau kurangnya dedikasi. Padahal itu adalah sinyal bahwa tuntutan sistem telah melampaui kapasitas manusia secara kolektif. Ketika saya melihat seorang mahasiswa datang dengan beban ketidakamanan dan ekspektasi yang mustahil, saya diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar mesin produksi lulusan, melainkan sebuah ekosistem rapuh yang hidup dari perhatian dan ingatan kolektif kita.

Saya menemukan semangat kembali justru ketika membimbing dan berdialog dengan mahasiswa, momen yang sering kali dianggap tidak efisien. Bagi saya, pengajaran dan bimbingan yang baik memang menuntut kehadiran manusia secara utuh, bukan sekadar prosedur administratif yang kaku. Masalah pendidikan yang sebenarnya sering kali terungkap justru saat kita bersedia benar-benar mendengarkan mahasiswa sebagai subjek, bukan sebagai pelanggan dalam sebuah transaksi layanan. Di meja laboratorium dan dalam diskusi-diskusi sunyi, saya melihat proses belajar yang bermakna selalu mengandung risiko, keraguan, dan ketidaknyamanan intelektual.

Melihat mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat adalah bentuk pertanggungjawaban antargenerasi yang paling nyata. Pendidikan tinggi sejatinya bekerja untuk mereka yang belum hadir, dan tugas kita adalah meninggalkannya dalam keadaan yang baik agar generasi berikutnya tetap memiliki ruang untuk mengkritik dan memperbaiki. Kegembiraan saya muncul saat melihat mahasiswa mampu melampaui kepatuhan pasif dan berani mengambil tanggung jawab intelektual atas pemikirannya sendiri.

Pada akhirnya, harapan dalam pendidikan tinggi tidak akan pernah datang dari sistem yang diatur terlalu rapi, melainkan dari manusia-manusia di dalamnya yang tetap memilih untuk peduli. Meskipun bimbingan menuntut energi yang besar, melihat pertumbuhan manusia adalah ukuran keberhasilan yang paling jujur bagi saya. Ketidaknyamanan yang muncul dalam proses bimbingan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan tanda bahwa pendidikan masih bekerja sebagai ruang berpikir yang manusiawi, bukan sekadar aktivitas administratif yang hampa.

Bibliometrik Universiti Teknologi Malaysia

Pada 14 Maret 2022, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) berumur 50 tahun. Dari tahun 2002 hingga 2022, saya bekerja di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), mulai sebagai peneliti, pensyarah, profesor madya, dan diangkat sebagai profesor pada tahun 2010. Saya dan beberapa orang teman menulis artikel mengenai publikasi ilmiah UTM. Analisis bibliometrik dilakukan untuk menganalisis publikasi UTM dan tren penelitian selama 50 tahun, terutama selama periode post-research university (RU), dampak publikasi, keahlian bidang studi dan kinerja publikasi dibandingkan dengan RU lainnya. UTM unggul dalam jumlah publikasi dari tahun 2015 hingga 2020 di empat bidang, yaitu teknik, ilmu komputer, ilmu material, dan teknik kimia, dibandingkan dengan RU lainnya. Silahkan klik gambar di bawah untuk membaca analisisnya. Artikel ini juga dapat dibaca melalui melalui situs ini: https://mjfas.utm.my

Memories of the year of Ibnu Sina Institute

Since our institute was founded in 1997, it has made a significant historical impact. Our rich and inspiring history invites you to immerse yourself in our past and envision our future. I left the institute on May 30, 2022, after being a part of it since 2002, totaling 20 years. You can explore our memories and progress through this 2020 yearbook of the institute. The building of this institute holds many stories. Numerous friends have come and gone, each leaving behind cherished memories.

Fokus untuk Bahagia

Pagi itu, Pak Ranu duduk di ruang kerjanya yang sempit. Sempit sekali. Kalau dia menarik napas terlalu panjang, rak buku di belakangnya seperti ikut bergeser, seolah hendak merangkul kepalanya yang makin botak. Ia menatap layar laptop yang nyala sejak subuh. Di luar, suara mahasiswa ribut seperti pasar, tapi di dalam ruangannya hanya ada satu suara. Pikirannya sendiri, yang lari ke mana-mana seperti anak ayam kehilangan induk.

“Kenapa aku tidak bisa fokus?” gumamnya.

Ia dosen. Ilmuwan. Manusia yang konon hidup dari cinta pada ilmu. Tapi pagi itu, fokusnya lari ke tagihan listrik, ke cicilan mobil, ke email spam yang menawarkan webinar menulis jurnal Scopus. Semua hal yang tidak berhubungan dengan proposal riset di hadapannya.

“Tuhan,” katanya lirih. “Kalau memang kebahagiaan itu datang dari pikiran yang fokus, berarti aku ini manusia paling tidak bahagia di kampus.”

Tiba-tiba pintu diketuk. Seorang mahasiswa masuk, menyerahkan skripsi sambil berkata, “Maaf Pak, saya belum selesai revisi karena pikiran saya suka berkelana. Tidak fokus.”

Pak Ranu terdiam. Ia ingin tertawa. Ia juga ingin menangis. Lalu ia tersenyum getir. “Sama,” katanya. “Pikiranku juga.”

Setelah mahasiswa itu pergi, Pak Ranu kembali duduk. Ia memandang layar yang kini menyala dengan tab kimia kuantum yang tidak ia pahami. Lalu ia menutup laptopnya. Menarik napas. Menutup mata.

Dan entah bagaimana, tiba-tiba seluruh kebisingan hilang.

Ia melihat dirinya berdiri di tengah perpustakaan tua, di mana setiap buku seperti bernapas. Ia menyentuh satu, membuka halaman yang isinya rumus berantakan. Aneh, tetapi rumus itu membuat hatinya hangat. Ia membaca. Ia tenggelam. Dunia luar menghilang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia fokus.

Ketika ia membuka mata, jam dinding menunjukkan waktu sudah lewat dua jam.

Dua jam tanpa pikiran terbang, tanpa kecemasan, tanpa kegaduhan kampus. Dua jam damai.

Pak Ranu berdiri. Merapikan meja. Menghidupkan kembali laptop itu.

Dengan tenang ia mulai mengetik proposal risetnya. Jari-jarinya bergerak seperti menemukan rumah. Tidak cepat, tidak lambat. Tapi pasti.

“Ah,” katanya dalam hati. “Mungkin ini kebahagiaan para akademisi. Saat kita berhasil memaksa dunia diam dan hanya ilmu yang berbicara.”

Di luar ruangan, dunia tetap ribut. Tapi di dalam benaknya, ada keheningan yang kokoh.

Dan bagi Pak Ranu, itulah surga yang paling sederhana. Dan paling sulit dicapai.

Universitas sebagai Rumah Sakit yang Sakit

Bayangkan sebuah rumah sakit besar yang dulu menjadi kebanggaan kota. Rumah sakit itu penuh dokter berdedikasi, ruang belajar, dan misi kemanusiaan. Semua orang tahu bahwa di tempat itulah ilmu dan penyembuhan bertemu. Tetapi seiring waktu, rumah sakit itu berubah tanpa disadari. Ia masih memiliki gedung modern, seragam putih, dan prosedur medis yang tampak profesional. Namun jiwanya, yaitu komitmen terhadap kesehatan, perlahan menghilang.

Inilah yang digambarkan Peter Fleming dalam Dark Academia. Universitas masa kini adalah rumah sakit yang sakit. Sebuah institusi yang dari luar tampak hidup, tetapi di dalamnya mengalami kerusakan mendalam. Universitas mempertahankan ritual akademik, tetapi substansi ilmunya digantikan logika korporasi seperti efisiensi, brand, dan persaingan. Akademisi, seperti dokter dalam rumah sakit yang sakit itu, tidak lagi dinilai dari berapa banyak pasien yang mereka sembuhkan atau pengetahuan yang mereka bangun. Mereka dinilai dari hasil produksi yang dihitung melalui publikasi, sitasi, hibah penelitian, dan berbagai metrik lain yang dianggap sebagai ukuran mutu.

Kondisi ini, menurut Fleming, bukan lagi penyimpangan kecil. Ini adalah gejala penyakit kronis. Terbentuk budaya kerja yang disebut profesionalisme toksik, yaitu budaya yang memaksa akademisi terlihat sibuk, produktif, dan penuh semangat, meski sebenarnya mereka kelelahan dan tertekan. Dalam rumah sakit yang sakit tadi, dokter harus tetap tersenyum meskipun jam tidurnya hancur dan nuraninya mulai terseret oleh beban pekerjaan yang tidak manusiawi.

Masalah berikutnya adalah pertumbuhan administrasi yang justru paling subur. Para manajer rumah sakit, yang jarang menyentuh pasien secara langsung, terus membuat aturan, audit, dan target baru setiap waktu. Sebaliknya, dokter dan perawat yang bekerja langsung di lapangan semakin tertekan. Akademisi hidup dalam kondisi yang sama. Jumlah pejabat, komite, dan biro terus meningkat, sementara ruang untuk pengajaran dan penelitian yang tulus semakin menyempit.

Yang paling memilukan adalah munculnya sinisme kolektif. Semua orang di dalam rumah sakit itu sebenarnya tahu ada yang salah. Mereka saling mengeluh di kamar istirahat, saling melempar candaan tentang absurditas sistem, tetapi tetap melanjutkan permainan yang sama. Rasa takut kehilangan pekerjaan dan kerasnya kompetisi membuat mereka merasa tidak punya pilihan. Di kampus, para akademisi juga memahami bahwa publish or perish adalah resep yang kejam, tetapi mereka tetap menjalaninya setiap hari.

Dalam kondisi seperti itu, brand menjadi hal yang paling penting. Rumah sakit yang sakit tadi sibuk mempercantik citra di media, memasang baliho prestasi, dan mempromosikan fasilitas yang setengah berfungsi. Semua itu dilakukan demi mempertahankan rating dan ranking. Universitas melakukan hal yang sama. Mereka mengejar peringkat internasional dan kampanye citra, sementara kualitas pendidikan dan integritas penelitian perlahan terpinggirkan. Pengetahuan berubah menjadi dekorasi, bukan lagi tujuan.

Analogi rumah sakit yang sakit ini membantu kita memahami bahwa banyak persoalan akademik bukanlah kegagalan individu. Burnout bukan kelemahan pribadi. Burnout adalah reaksi wajar terhadap sistem yang tidak sehat. Seperti dokter yang akhirnya memilih membuka klinik kecil karena tidak tahan dengan rumah sakit yang kian korup, Fleming mengingatkan bahwa keluar dari akademia bukanlah kegagalan. Keluar adalah tindakan penyelamatan diri.

Jika kita ingin universitas kembali sehat, kita harus berani mengakui penyakitnya. Universitas tidak membutuhkan perbaikan kosmetik atau aturan tambahan yang membebani. Universitas membutuhkan rekonstruksi etos. Ia harus kembali menjadi tempat belajar, bukan pabrik angka. Harus kembali menjadi pusat ilmu, bukan pusat administrasi. Harus kembali menghormati manusia, bukan metrik.

Karena rumah sakit yang sakit tidak bisa menyembuhkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Kuliah Filsafat Sains

Sebagai dosen, menyaksikan diri sendiri dalam rekaman kuliah memang bisa jadi pengalaman yang penuh kejutan. Video ketika saya menyampai kuliah Filsafat Sains untuk mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM) kemaren, saya melihat diri saya penuh semangat, ekspresif, dan mungkin sedikit teatrikal? Tapi, setelah dipikir-pikir, ekspresivitas ini bukan hanya produk dari kebiasaan “overthinking” saya, tapi bisa jadi senjata ampuh untuk membuat mahasiswa tetap terjaga. Mungkin menjadi ekspresif adalah kunci untuk membuat teori-teori filsafat sains hidup, lebih dari sekadar kata-kata di slide. Jadi, mari kita anggap ini bukan berlebihan, tapi seni!

Kenangan Sapporo: Postdoc Prof. Ohtani

Foto kenangan hampir 26 tahun lalu. Tepatnya saat saya dan keluarga tiba di Sapporo. Momen ini, yang diabadikan pada 24 November 1999, menunjukkan kami setelah dijamu makan malam oleh Prof. Bunsho Ohtani, mentor saya di Catalysis Research Center, Hokkaido University. Saat itu, saya baru tiba di Sapporo pada 2 November 1999, dengan putra saya, Farid (4 tahun), dan putri saya, Firda (5 bulan).

Prof. Ohtani kala itu baru setahun menjabat sebagai profesor, dan saya merupakan JSPS Postdoctoral Fellow di laboratoriumnya. Diskusi mingguan kami sangat intim dan terbatas, hanya dihadiri oleh Prof. Ohtani, Dr. Shigeru Ikeda (Instructor), Dr. Bonamali Pal (Postdoc), dan Noburu Sugiyama (Mahasiswa Master).

Saya mengawali masa kerja sebagai Postdoc selama dua tahun, dan melanjutkan pekerjaan di sana hingga tahun 2002 sebagai COE Visiting Researcher. Setelahnya, saya pindah dan melanjutkan karier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Simulakra Ilmu Pengetahuan: Satir tentang Ranking 2%

Dulu, ilmu pengetahuan dibangun di atas rasa ingin tahu. Orang sibuk mencari kebenaran, sibuk bertanya mengapa langit biru, bagaimana listrik bekerja, atau apa inti dari materi. Ada yang meledakkan laboratorium, ada yang tenggelam dalam buku-buku tebal, semua demi satu hal: kebenaran.

Tapi dunia makin kompleks. Populasi ilmuwan membengkak, publikasi mengalir seperti air bah, dan universitas mulai bersaing bukan lagi soal siapa yang menemukan kebenaran, tapi siapa yang punya “impact factor” lebih tajam dari pedang samurai.

Lalu muncullah formula. Indeks, h-index, hm-index, g-index, hingga “top 2% scientists.” Angka-angka ini mula-mula diciptakan untuk memotret dinamika ilmu, tapi perlahan berubah menjadi panggung sandiwara. Ranking bukan lagi cermin kebenaran, melainkan panggung popularitas: siapa jago main statistik, siapa pandai membaca pola sitasi.

Maka dimulailah era baru. Orang-orang berlarian mengejar angka, bukan gagasan. Paper ditulis bukan untuk membuka cakrawala, melainkan untuk memenuhi target. Publikasi ilmiah bukan lagi pembuka jalan kebenaran, tapi wasit yang menentukan naik pangkat atau tidak. Universitas pun ikut bersorak: ranking tinggi berarti mahasiswa berdatangan, dana penelitian mengalir, brosur kampus semakin kinclong.

Dan akhirnya muncullah sertifikat “Top 2% Scientists.” Ada logo, ada QR code, ada nama Stanford, Elsevier. Semua rapi, semua sah. Tapi, apa artinya? Bukankah ini simulakra, seperti kata Baudrillard? Realitas palsu yang lebih nyata dari kenyataan? Bukankah ini semacam medali plastik di olimpiade yang diciptakan sendiri?

Lucunya, bahkan yang masuk daftar pun sering merasa kosong. “Saya masuk top 2%,” katanya, “tapi apa bedanya dengan kemarin, saat saya masih bangun pagi, menulis proposal, dan dimarahi reviewer?” Ranking memberi sorak sorai sementara, tapi di balik itu ada keheningan: makna sains yang sesungguhnya kian kabur.

Kini, filsuf pun tersenyum sinis: ilmu pengetahuan, yang dulu lahir untuk mencari kebenaran, kini dipermainkan sebagai permainan angka. Orang sibuk mengejar peringkat, bukan kebenaran. Ilmuwan jadi gladiator di arena sitasi, saling sikut dalam kompetisi yang diciptakan sistem.

Dan saya, yang namanya juga masuk ke daftar itu, hanya bisa tertawa getir: “Apakah ini prestasi, atau sekadar ilusi?” atau saya menderita imposter syndrome?