Pendidikan tinggi kini bukan lagi mesin pencarian makna, melainkan ekosistem rapuh yang sedang aus oleh beban administratif dan tuntutan efisiensi yang melupakan dimensi kemanusiaan.
Dalam perjalanan panjang sebagai pendidik, saya sering merenung bahwa pendidikan tinggi saat ini tidak sedang runtuh secara dramatis. Ia mengalami keausan perlahan yang sunyi dan sering kali tidak disadari. Di tengah kepungan tuntutan produktivitas, percepatan kebijakan, dan obsesi pada pengukuran angka, universitas memang tetap berjalan, namun ruang untuk berpikir mendalam dan daya tahan etis kita perlahan-lahan menipis. Kita hidup di sebuah zaman rapuh di mana tekanan datang dari berbagai arah sekaligus tanpa memberi kita jeda yang cukup untuk sekadar bernapas atau berefleksi.
Sinisme akademik sesuai dengan kegelisahan yang saya rasakan. Sering kali, kelelahan sistemik yang dialami oleh dosen maupun mahasiswa disalahartikan sebagai kegagalan individu atau kurangnya dedikasi. Padahal itu adalah sinyal bahwa tuntutan sistem telah melampaui kapasitas manusia secara kolektif. Ketika saya melihat seorang mahasiswa datang dengan beban ketidakamanan dan ekspektasi yang mustahil, saya diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar mesin produksi lulusan, melainkan sebuah ekosistem rapuh yang hidup dari perhatian dan ingatan kolektif kita.
Saya menemukan semangat kembali justru ketika membimbing dan berdialog dengan mahasiswa, momen yang sering kali dianggap tidak efisien. Bagi saya, pengajaran dan bimbingan yang baik memang menuntut kehadiran manusia secara utuh, bukan sekadar prosedur administratif yang kaku. Masalah pendidikan yang sebenarnya sering kali terungkap justru saat kita bersedia benar-benar mendengarkan mahasiswa sebagai subjek, bukan sebagai pelanggan dalam sebuah transaksi layanan. Di meja laboratorium dan dalam diskusi-diskusi sunyi, saya melihat proses belajar yang bermakna selalu mengandung risiko, keraguan, dan ketidaknyamanan intelektual.
Melihat mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat adalah bentuk pertanggungjawaban antargenerasi yang paling nyata. Pendidikan tinggi sejatinya bekerja untuk mereka yang belum hadir, dan tugas kita adalah meninggalkannya dalam keadaan yang baik agar generasi berikutnya tetap memiliki ruang untuk mengkritik dan memperbaiki. Kegembiraan saya muncul saat melihat mahasiswa mampu melampaui kepatuhan pasif dan berani mengambil tanggung jawab intelektual atas pemikirannya sendiri.
Pada akhirnya, harapan dalam pendidikan tinggi tidak akan pernah datang dari sistem yang diatur terlalu rapi, melainkan dari manusia-manusia di dalamnya yang tetap memilih untuk peduli. Meskipun bimbingan menuntut energi yang besar, melihat pertumbuhan manusia adalah ukuran keberhasilan yang paling jujur bagi saya. Ketidaknyamanan yang muncul dalam proses bimbingan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan tanda bahwa pendidikan masih bekerja sebagai ruang berpikir yang manusiawi, bukan sekadar aktivitas administratif yang hampa.