Perjalanan Saya Meraih Sertifikasi Dosen sebagai Profesor di Indonesia

Menjadi seorang profesor bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari tantangan baru. Setelah lebih dua dekade berkarier di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan jabatan profesor selama 12 tahun, saya kembali ke tanah air untuk mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan Juni 2022. Kepulangan ini bukan sekadar perpindahan institusi, melainkan panggilan hati untuk berkontribusi langsung bagi pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, status saya sebagai profesor penyetaraan (mungkin satu-satunya) dari luar negeri menghadirkan tantangan unik. Meskipun telah menyandang jabatan fungsional profesor, saya belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos) yang diwajibkan oleh regulasi nasional. Dari sinilah dimulai perjalanan cukup panjang yang penuh dengan hambatan teknis, komunikasi antar instansi, dan perjuangan administratif.

Sejak awal, masalah utama terletak pada sistem SISTER. Saat saya mencoba mengakses menu kepesertaan serdos, yang muncul hanyalah layar kosong. Status saya terbaca “tidak layak” hanya karena sistem menganggap seorang profesor otomatis sudah serdos. Padahal, bagi saya yang berasal dari penyetaraan luar negeri, hal ini tidak berlaku.

Dalam percakapan WA dengan staf kepegawaian UM, Bu Eka, saya berkali-kali menyampaikan kondisi blank tersebut:

“Masih kosong Bu Eka. Blank. Putih saja, tidak ada tulisan…”

Pihak UM pun mengeluarkan surat resmi (Nomor: 8.4.50/UN32.II/KP/2025, tanggal 8 April 2025) yang ditujukan ke Direktorat Sumber Daya Diktiristek, berisi permohonan agar saya dapat dimasukkan dalam daftar peserta serdos melalui aplikasi SISTER. Surat ini menjadi landasan formal agar saya tidak terhambat hanya oleh kesalahan teknis sistem.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Di balik layar, komunikasi intensif berlangsung, mulai dari pertukaran WA dengan operator serdos, klarifikasi mengenai tunjangan dan keuangan, hingga desakan agar kementerian segera membuka akses sistem.

Kendala ini memerlukan intervensi lebih lanjut. Bahkan Prof. Ismunandar, sahabat saya sekaligus mantan Dirjen Belmawa, ikut turun tangan menghubungi Prof. Suning Kusumawardani (Direktur Sumber Daya Dikti). Setelah menyelesaikan rapat jam 5.30 sore, Prof. Ismunandar yang kini bertugas sebagai Staf Ahli di Kementerian Kebudayaan segera membantu mengomunikasikan persoalan ini.

Hari-hari terakhir Juni 2025 menjadi masa paling menegangkan. Tanggal 30 Juni 2025 adalah batas akhir pengunggahan syarat serdos. Pagi itu, akun saya di SISTER masih kosong. Saya nyaris pasrah. Namun berkat dukungan kolega dan komunikasi maraton dengan pihak kementerian, akses saya akhirnya dibuka tepat pada hari terakhir.

Sore itu, 7 jam sebelum penutupan, saya segera mengunggah dokumen integritas karya ilmiah dan melengkapi seluruh persyaratan. Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Karim yang dengan sabar terus mengawal status serdos di SISTER saya. Rasa syukur saya panjatkan:

“Alhamdulillah sudah dibuka dan saya sudah upload borang integritas karya ilmiah…”

Beberapa bulan kemudian, penantian panjang itu terbayar. Hasil sertifikasi dosen 2025 menuliskan kata yang paling dinantikan: LULUS

Komentar penilaian menyebutkan bahwa saya dinilai memiliki kemampuan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Penilaian itu menegaskan bahwa perjuangan bukanlah sia-sia. Kini, sebagai profesor di UM, saya telah resmi mengantongi sertifikasi dosen yang sah.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa menjadi dosen di Indonesia bukan hanya soal jabatan akademik, tetapi juga soal melewati birokrasi, sistem, dan aturan yang kompleks. Bagi saya pribadi, kelulusan serdos 2025 adalah sebuah titik balik: dari profesor penyetaraan di luar negeri, kini menjadi profesor penuh dengan legitimasi nasional di UM. Sebuah perjuangan mengatasi birokrasi yang tidak mudah dan perlu intervensi yang akhirnya berbuah manis.

Alhamdulillah.

Mengenang Pembimbing Skripsi Saya, Dr. Harjoto Djojosubroto

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Pada 18 Agustus 2025 saya menerima kabar duka melalui WhatsApp:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Allohummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara kita purnabakti BATAN Bandung, Bapak Harjoto Djojosubroto, pada hari Senin, 18 Agustus 2025, pukul 05:18 WIB. Semoga Almarhum diterima iman Islamnya, ditempatkan dalam kenikmatan di tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.


Saya mengenang beliau bukan hanya sebagai pembimbing skripsi saya, tetapi juga sebagai dosen yang membekas dalam perjalanan akademik saya. Ketertarikan saya untuk memilih penelitian tugas akhir di bawah bimbingan beliau berawal dari ketertarikan saya pada mata kuliah Kimia Inti dan Radiasi yang beliau ajarkan. Dari mata kuliah itu, saya melihat sosok beliau sebagai seorang saintis yang jujur, tegas, dan sederhana. Teringat beliau setia menggunakan mobil VW Safari yang selalu di parkir di depan kantor beliau.

Saya masih teringat jelas, saat ujian mata kuliah tersebut dilaksanakan di Gedung Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB. Saya menjadi mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan ujian, keluar ruangan lebih dulu, dan akhirnya mendapat nilai A. Kenangan itu melekat kuat, karena memperlihatkan betapa beliau mampu membuat ilmu yang sulit sekalipun terasa logis dan menantang untuk saya dalami.

Pada waktu skripsi, beliau menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Teknologi Nuklir (PPTN) BATAN Bandung. Saya diberi kesempatan melakukan penelitian di kawasan nuklir Bandung, yang memiliki reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 250 kW (diresmikan 1965 dan ditingkatkan menjadi 2 MW pada tahun 2000). Beliau dengan penuh kepercayaan memberi izin bagi saya untuk mengiradiasi sampel berupa serum darah manusia langsung di reaktor. Itu pengalaman yang amat berharga yang membuka wawasan riset saya di kemudian hari.

Saya juga masih mengingat pesan beliau ketika saya lulus S1 pada tahun 1992. Dengan nada bercanda tetapi penuh makna, beliau berkata: “Yang penting lanjut sampai S3, menjadi doktor sastra juga nggak apa-apa.”

Pesan sederhana itu mendorong saya untuk tidak berhenti belajar. Kini saya menyadari betapa kalimat itu adalah dorongan moral seorang pembimbing kepada mahasiswanya.

Setelah lulus S2 di ITB tahun 1995, saya tidak pernah lagi bertemu beliau secara langsung. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau adalah melalui SMS pada bulan Oktober 2012. Setelah itu, komunikasi kami terputus, hingga saya mendengar kabar duka ini.


Selamat jalan, Pak Harjoto. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keteladanan yang Bapak wariskan. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah Bapak, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

Wacana (selalu diperbarui)

Rangkaian catatan ini menyajikan opini dan perspektif terkait topik tertentu. Untuk membaca artikel lengkap dalam format PDF, silakan klik tautan.

  1. Publikasi, Tekanan, dan p-Value: Menggugat Budaya Signifikansi Statistik – 20 Agustus 2025 [PDF]
  2. Peringkat Universitas & Renjana – 14 Agustus 2025 [PDF]
  3. Ijazah yang Tak Tertulis – 30 Mei 2025 [PDF]
  4. Ketika Intelek Menjadi Tirani Nalar – 22 Mei 2025 [PDF]
  5. Filsafat yang Buruk Menghambat Kemajuan Ilmu dan Riset – 15 Mei 2025 [PDF]
  6. Hukum Termodinamika Kampus: Mengapa Perubahan Tak Kunjung Terjadi? – 13 Mei 2025 [PDF]
  7. Kecanggihan Boleh Digital, Tapi Akal Harus Tetap Analog – 7 Mei 2025 [PDF]
  8. Penerapan Konsep “Broken Windows” di Universitas – 27 April 2025 [PDF]
  9. Ilusi Keberhasilkan dalam Penelitian – 27 April 2025 [PDF]
  10. Peringkat Global dan Ilusi Kemajuan Akademik – 24 April 2025 [PDF]
  11. Mendefinisikan untuk Memaknai – 24 April 2025 [PDF]
  12. Semangat Hidup Universitas sebagai Fondasi Kemajuan dan Inovasi yang Harus Dipupuk dengan Kebijaksanaan – 13 April 2025 [PDF]
  13. Universitas yang Belajar, Bukan Hanya Menghitung – 4 April 2025 [PDF]
  14. Mengapa Kita Perlu The Nusantara Philosophy Book – 3 April 2025 [PDF]
  15. Kebahagiaan Seorang Profesor – 2 April 2025 [PDF]
  16. Berpikir dalam Riset: Antara Ilusi yang Menyesatkan dan Ketidaktahuan yang Mencerahkan – 2 April 2025 [PDF]
  17. Media dan Kekuasaan: Ketika “Tuhan Kedua” Dibungkam – 1 April 2025 [PDF]
  18. Ketika Ghibli Dijiplak oleh AI: Seni yang Kehilangan Relasi Manusiawi – 1 April 2025 [PDF]
  19. Dua Jenis Ketidaktahuan dalam Riset: Kebodohan Relatif dan Kebodohan Mutlak – 31 Maret 2025 [PDF]
  20. Penelitian yang Sesungguhnya: Antara Ilmu, Niat, dan Keberanian Menyelam – 29 Maret 2025 [PDF]
  21. Korupsi di Indonesia: Antara Masa Lalu yang Belum Berlalu – 29 Maret 2025 [PDF]
  22. Memilih Pemimpin Akademik: Menemukan Sistem yang Mewakili Mutu dan Integritas – 27 Maret 2025 [PDF]
  23. Mengganti Kerangka Bahasa untuk Meningkatkan Mutu Riset dan Pendidikan Tinggi – 26 Maret 2025 [PDF]
  24. Belajar dari Swiss, Singapura, dan China: Bisakah Indonesia Bangun Sistem Pendidikan Berkualitas? – 23 Maret 2025 [PDF]
  25. Tiga Tahap Karir Akademik: Ketika Waktu, Uang, dan Energi Tak Pernah Bertemu – 22 Maret 2025 [PDF]
  26. Sistem 1: Perspektif Psikologis di Balik Konten Absurd TikTok – 22 Maret 2025 [PDF]
  27. Universitas Kita Masih di Tahap Birokratis Tradisional – 21 Maret 2025 [PDF]
  28. Model Kepemimpinan Universitas – 21 Maret 2025 [PDF]
  29. Ilusi Dialog: Mengapa Komunikasi di Universitas Justru Lebih Sulit? – 20 Maret 2025 [PDF]
  30. Antara Ideologi, Sifat Manusia, dan Godaan Iblis: Mengapa Keadilan Sulit Ditegakkan? – 20 Maret 2025 [PDF]
  31. Prinsip-prinsip Etika Keilmuan – 17 Maret 2025 [PDF]
  32. Menjaga Etika Keilmuan: Belajar dari Dialog dengan Iblis – 17 Maret 2025 [PDF]
  33. Institusi Inklusif: Jalan Utama Indonesia Menjadi Negara Maju – 17 Maret 2025 [PDF]
  34. Menerapkan Strategi Perang Sun Tzu untuk Memerangi Pelanggaran Etika Akademik di Universitas – 16 Maret 2025 [PDF]
  35. Ekonomi Indonesia di Bawah Pemerintahan Prabowo: Analisis dan Warisan Era Jokowi – 15 Maret 2025 [PDF]
  36. Perguruan Tinggi Indonesia dari Aspek Kriteria Keunggulan Akademik – 14 Maret 2025 [PDF]
  37. Etika Keilmuan dalam Pengambilan Keputusan Akademik – 10 Maret 2025 [PDF]
  38. Pentingnya Memahami Perkembangan Ilmu: Belajar dari Revisi Teori Psikopatologi Freud – 9 Maret 2025 [PDF]
  39. Otakmu Bekerja Keras? Begini Cara Kerja dan Energi yang Dihabiskannya! – 9 Maret 2025 [PDF]
  40. Riset Tanpa Arah: Ketika Ilmuwan Dipaksa Berlari di Tempat – 7 Maret 2025 [PDF]
  41. Peran Imajinasi dan Realitas dalam Riset Sains dan Rekayasa – 5 Maret 2025 [PDF]
  42. Peta Survival Peneliti Akademik Muda: Hukum dan Prinsip Kenaikan Akademik – 3 Maret 2025 [PDF]
  43. Transformasi Kepemimpinan Indonesia: Dari Stabilitas ke Realisme dalam Kebijakan Nasional – 12 Nopember 2024 [PDF]
  44. Intelektual dengan Übermensch – 29 Oktober 2024 [PDF]
  45. Apakah Langkah Mencapai World Class University (WCU) Sudah Tepat? – 29 September 2024 [PDF]
  46. Kategorisasi Status Ekonomi Perguruan Tinggi – 16 September 2024 [PDF]
  47. Etika yang Terdesak: Ketika Riset Ilmiah Dipaksakan dalam Tenggat Waktu yang Tidak Realistis – 13 September 2024 [PDF]
  48. Mengoptimalkan Pendidikan Indonesia: Strategi Berbasis Kapabilitas Manusia dan Kesejahteraan Finansial – 4 September 2024 [PDF]
  49. Perspektif Holistik dalam Riset-riset Pendidikan – 18 Agustus 2024 [PDF]
  50. Empat Reformasi yang Dibutuhkan Indonesia dalam Pendidikan Tinggi – 5 Agustus 2024 [PDF]
  51. Pandangan Mengenai Penghapusan Penjurusan di SMA – 23 Juli 2024 [PDF]
  52. Dinamika Akulturasi Setelah Pulang ke Indonesia – 9 Juni 2024 [PDF]  
  53. Pendidikan Itu Adalah Kepercayaan: Menumbuhkan Kepercayaan dalam Dunia Pendidikan – 6 Juni 2024 [PDF]
  54. Tantangan dan Dilema dalam Implementasi Indikator Kinerja Utama di Perguruan Tinggi: Sebuah Tinjauan Kritis – 30 Mei 2024 [PDF
  55. Menggali Akar Masalah: Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Cengkeraman Keputusan Jangka Pendek – 24 Mei 2024 [PDF
  56. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 24 Mei 2024 [PDF]
  57. Universitas Padat Mahasiswa: Ancaman Nyata bagi Kualitas Pendidikan – 23 Mei 2024 [PDF]
  58. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis: Tantangan di Perguruan Tinggi – 22 Mei 2024 [PDF]
  59. Mengelola Berita Negatif di Era Informasi – 20 Mei 2024 [PDF]
  60. Pendidikan Tinggi Bukan Sekadar Pilihan, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atasi UKT Mahal – 19 Mei 2024 [PDF]
  61. Kepatutan Publikasi Ilmiah di Indonesia: Urgensi di Tengah Maraknya Kecurangan – 18 Mei 2024 [PDF]
  62. Pendidikan Tinggi di Indonesia: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif untuk Memenuhi Amanat Konstitusi – 16 Mei 2024 [PDF]
  63. Transformasi Holistik dalam Pendidikan: Membangun Institusi yang Inovatif dan Berkelanjutan – 18 Maret 2024 [PDF]
  64. Pahlawan Pemikir: Warisan Intelektual untuk Indonesia Maju – 15 Mei 2024 [PDF
  65. Pandangan Tentang Kompleksitas Ilmu Sosial: Perspektif Seorang Dosen Pembimbing – 14 Mei 2024 [PDF]  
  66. Melampaui Kosmos: Menjelajahi Keberadaan, Sains, dan Spiritualitas – 13 Mei 2024 [PDF]  
  67. Kritik dan Kemerdekaan: Menimbang Ulang Kebebasan Berekspresi dan Tata Kelola Pendidikan Tinggi – 12 Mei 2024 [PDF]
  68. Dampak Kapitalisasi Ilmu Pengetahuan pada Pendidikan Tinggi: Analisis Sosiologi Pengetahuan – 11 Mei 2024 [PDF]
  69. Tata Kelola Pendidikan Tinggi: Menuju Keadilan dan Pengembangan Manusia – 10 Mei 2024 [PDF]
  70. Filsuf: Pencipta Ide atau Pendorong Logika? – 9 Mei 2024 [PDF]  
  71. Menguji Kewibawaan Akademik Melalui Ujian Disertasi: Refleksi dan Praktik Terbaik – 8 Mei 2024 [PDF]
  72. AI dan Keterbatasan Manusia: Mengapa Agama dan Filsafat Tetap Relevan – 7 Mei 2024 [PDF]
  73. Meningkatkan Keberdayaan Intelektual dengan Meniru Cara Berpikir Para Filsuf – 6 Mei 2024 [PDF]
  74. Membedah Multi-Dimensi Pembentukan Negara dan Alasan Perang: Sebuah Analisis – 5 Mei 2024 [PDF]
  75. Universitas yang Sudah Mapan: Berakar Kuat, Bebas dari Simbolisme Dangkal Pengakuan Eksternal – 28 April 2024 [PDF]
  76. Mencapai Universitas Unggul di Indonesia: Budaya, Strategi, dan Struktur – 27 April 2024 [PDF]
  77. Memperkaya Masa Depan Melalui Pendidikan Holistik: Wawasan dari Prof. Richard Robert Ernst – 26 April 2024 [PDF]
  78. Di Balik Angka: Mengevaluasi Kualitas Substantif Versus Pendekatan Superfisial dalam Pendidikan Tinggi – 25 April 2024 [PDF]
  79. Antara Keahlian dan Kredensial: Menggali Makna dan Misrepresentasi Gelar Profesional di Indonesia dan Jepang – 24 April 2024 [PDF]
  80. Kembali ke Akar: Meredefinisi Pendidikan untuk Melawan Keserakahan – 23 April 2024 [PDF]
  81. Memahami Pendidikan dan Iptek Melalui Lensa Sejarah: Studi Kasus Majapahit dan Oxford – 22 April 2024 [PDF]
  82. Media Sebagai Dewa: Perspektif tentang Pengaruh dan Bahaya Kepemilikan Media dalam Politik – 21 April 2024 [PDF]
  83. Melampaui Metrik: Membangun Perspektif Baru dalam Evaluasi Publikasi Ilmiah di Perguruan Tinggi – 20 April 2024 [PDF]
  84. Klasifikasi Universitas dan Karakteristiknya – 19 April 2024 [PDF]
  85. Strata Sosial dan Taksonomi Universitas: Refleksi Konteks Pendidikan Tinggi – 18 April 2024 [PDF]
  86. Prinsip Kepatutan dalam Publikasi Akademik: Standar Etika dan Integritas – 17 April 2024 [PDF]
  87. Di Balik Angka: Refleksi tentang Pemeringkatan Universitas dan Esensi Pendidikan – 12 April 2024 [PDF]
  88. Apa Tujuan Utama Pendidikan Tinggi? – 11 April 2024 [PDF]
  89. Mengatasi Prestasi Semu untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di Indonesia – 9 April 2024 [PDF]
  90. Kebijaksanaan dalam Memilih Sistem: Pelajaran dari Popper dan Plato untuk Politik Modern – 6 April 2024 [PDF]
  91. Demokrasi vs Otoritarianisme: Menelusuri Kepemimpinan Ideal dalam Paradoks Kepolitikan – 5 April 2024 [PDF]
  92. Mengatasi Noise dan Bias dalam Zaman Post-Truth: Penguatan Berpikir Kritis Melalui Pendidikan Tinggi – 4 April 2024 [PDF]
  93. Mempelajari Sejarah dengan Lensa Kritis: Sebuah Pendekatan Filosofis Terhadap Dekolonisasi Pengetahuan – 3 April 2024 [PDF]
  94. Revitalisasi Adab dan Hikmah dalam Pendidikan Tinggi: Strategi, Struktur, dan Budaya untuk Masa Depan yang Beretika – 2 April 2024 [PDF]
  95. Menavigasi Kehidupan: Prinsip Kebebasan, Kritikalitas, dan Adaptivitas – 6 April 2024 [PDF]
  96. Memilih Jalan Berat untuk Masa Depan Cerah: Kualitas versus Kuantitas dalam Pendidikan Tinggi – 1 April 2024 [PDF]      
  97. Menghindari Jalan Pintas dalam Pendidikan Tinggi: Integritas sebagai Pondasi Keberhasilan – 31 Maret 2024 [PDF]     
  98. Mengejar Bayangan Prestasi: Semiotika dan Kritik Filosofis terhadap Metrik dalam Publikasi Ilmiah di Indonesia – 28 Maret 2024 [PDF
  99. Evolusi Ilmu: Dari Mekanik ke AI, Perjalanan Pengetahuan Manusia dalam Sorotan Filsafat – 27 Maret 2024 [PDF
  100. Prinsip-prinsip Numerik Pythagoras – 26 Maret 2024 [PDF]  
  101. Memahami Perbedaan Budaya Riset Tinggi dan Rendah: Strategi untuk Perkembangan Ilmu Pengetahuan – 25 Maret 2024 [PDF]   
  102. Menelusuri Kerumitan Birokrasi: Menemukan Keseimbangan antara Efisiensi dan Humanitas dalam Pendidikan Tinggi Indonesia – 24 Maret 2024 [PDF
  103. Pendidikan sebagai Alat Pembebasan atau Komoditas? Sebuah Analisis Kritis terhadap Pengkelasan dalam Sistem Pendidikan – 23 Maret 2024 [PDF]   
  104. Ekonomisasi Sains: Risiko Dehumanisasi dalam Pendidikan dan Penelitian Ilmiah – 23 Maret 2024 [PDF]  
  105. Melampaui Ranking: Mencari Makna dan Kedalaman dalam Pendidikan Tinggi – 22 Maret 2024 [PDF

Semoga buku ini membawa berkah

Buku, “Filsafat Sains dalam Konteks: Interpretasi Filosofis untuk Pendidikan Tinggi Indonesia“, yang mengeksplorasi aspek filosofis sains dalam pendidikan tinggi Indonesia, bertujuan memberikan wawasan baru bagi mahasiswa, akademisi, dan peminat topik ini. Buku ini mencerminkan komitmen saya terhadap kemajuan pendidikan dan riset di Indonesia. Di bawah ini ada beberapa foto yang sempat diambil. Namun banyak yang tidak sempat diabadikan dengan berfoto bersama.

Catatan Kemerdekaaan

Kemerdekaan sesungguhnya bagaimana menemukan arti yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Saya teringat sebuah catatan lusuh dari Bapak saya, ditulis berbelas tahun yang lalu yang disimpan di dompet saya: “sebaik-baik orang adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain.” Barangkali inilah inti dari merdeka: bukan sekadar bebas dari belenggu, melainkan kebebasan untuk memilih memberi, untuk mengisi ruang hidup kita dengan kebermanfaatan. Kemerdekaan yang sejati tidak terletak pada apa yang kita peroleh, melainkan pada apa yang kita berikan.

Algoritma dan Mutu Ilmu Pengetahuan

Saya membayangkan sebuah pagi di mana iklan kursus “Menyusun Systematic Literature Review (SLR) dengan AI” itu muncul. Ia berbayar, tentu saja, dan menjanjikan efisiensi untuk memenuhi KPI administratif bagi dosen dan mahasiswa. Sebuah “demand” yang jelas, sebuah “peluang cuan” yang menggiurkan. Di balik kilau janji, tersembunyi kekhawatiran. Akankah ini hanya menghasilkan keuntungan finansial, tanpa membangun ilmu pengetahuan?

Hakikat SLR adalah proses riset yang sistematis dan mendalam. Perjalanan yang membutuhkan pemahaman metodologi, analisis kritis, dan dedikasi. Ini bukan sekadar “kerja” untuk memenuhi formalitas administratif. Jika AI digunakan untuk “menyusun” SLR demi KPI, kita berisiko menciptakan produk dangkal yang hanya memenuhi syarat tanpa substansi ilmiah.

Dunia maya kita kini “dipenuhi noise bacaan yang tidak bermakna”. Semakin banyak informasi, semakin tidak bermakna informasi tersebut. Bukankah ini seperti burung yang bersuara indah namun tak punya makna sejati? Kemudahan akses informasi, paradoksnya, justru bisa menghasilkan ilusi produktivitas ilmiah tanpa inovasi sejati.

Ketika KPI diorientasikan pada kuantitas tanpa kualitas, fenomena kursus “SLR kilat dengan AI” ini akan terus bermunculan, memperparah “noise informasi” dan menghambat pembangunan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Ini mencerminkan “alienasi birokrasi” yang meluas, di mana fokus beralih dari esensi ke formalitas. Kita seperti orang yang melupakan kualitas demi angka-angka.

Pertanyaan yang menggantung adalah, apakah kita akan berkompromi dengan “kebenaran” demi kepraktisan? Atau akankah kita kembali pada “laku” sejati dalam mencari pengetahuan, bahkan jika itu berarti perjalanan yang sunyi dan tak menguntungkan secara instan? Sejarah menunjukkan, ilmu pengetahuan sejati tidak bisa dibangun hanya dengan algoritma; ia butuh refleksi, pertanyaan, dan kesediaan untuk tidak selalu mencari “cuan” semata.

Ketika Kebenaran Menyepi

Hari ini, sebuah kata yang dulu sederhana, “kebenaran”, telah kehilangan gema. Ia seperti bayang-bayang di siang bolong, hadir tapi nyaris tak terpegang. Kita hidup di zaman ketika emosi lebih dipercaya daripada data, ketika cerita yang menyentuh lebih diyakini ketimbang bukti yang diam. Kata orang, ini zaman post-truth. Tapi mungkin ia lebih seperti zaman lupa.

Kita tidak sepenuhnya tertipu. Kita tahu bahwa apa yang berulang bukan selalu yang benar. Tapi kita lelah. Dan kelelahan itu, seperti air mengalir deras, mencari celah. Media sosial, yang lahir dari janji kebebasan berbagi, telah berubah menjadi ladang gema, ruang di mana yang paling nyaring, paling viral, paling menyentuh perasaan, menjadi kebenaran baru meski palsu.

Jika sebuah dusta terus-menerus diulang, ia akan mulai tampak rapi. Dan yang rapi sering kali kita anggap benar. Seperti rumah yang dindingnya ditempeli poster-poster prestasi, padahal isinya kosong. Seperti kampus yang ramai disebut unggul karena tampilan brosur, padahal ruang kelasnya sunyi oleh pemikiran kritis. Akademia, dulunya tempat memburu kebenaran, kini kadang menjadi pasar citra.

Tony Schwartz menyebut “Media: The Second God”. Mungkin benar. Kita tidak lagi menghadap altar tempat kita menyembah kebenaran, tapi layar. Di sana ada segalanya, cerita, simbol, kehebatan, bahkan kebajikan, semuanya dalam bentuk iklan. Media bukan lagi cermin, tapi panggung. Dan di panggung itu, siapa yang bisa membuat kisah paling memikat, ialah yang menang.

Apa yang harus kita lakukan di tengah ini semua? Bertahan dalam keheningan bisa terasa seperti menyerah. Namun mengikuti arus juga bukan pilihan, arus itu membawa kita menjauh dari tepi yang kokoh. Mungkin seperti kata penyair, yang penting bukan melawan, tapi tetap sadar. Sadar bahwa kita sedang digelincirkan. Sadar bahwa dunia yang kita lihat belum tentu dunia yang nyata.

Mencari yang genuine, yang asli, yang belum direkayasa algoritma, memang seperti menggali sumur di padang pasir. Tapi barangkali dari situlah kekuatan justru lahir, bukan dari keyakinan yang keras, tapi dari pertanyaan yang tak putus-putus. Dari keberanian untuk berkata, saya tidak tahu, mari kita cari bersama.

Dosen

Orang sering berbicara tentang peringkat universitas, seolah-olah semua kualitas bermuara pada angka dan posisi dalam daftar yang dibuat entah oleh siapa. Kita mencatat jumlah riset, jumlah mahasiswa asing, indeks sitasi. Tapi apakah semua itu sungguh menjelaskan apa yang terjadi di ruang kelas?

Barangkali yang lebih layak diperhitungkan adalah apa yang tak tercatat: suara seorang dosen yang menjelaskan dengan sabar, mata mahasiswa yang perlahan menyala karena mengerti, atau keheningan yang tumbuh dari perenungan, bukan kebingungan.

Yang menghidupkan universitas bukanlah akreditasi, melainkan percakapan. Dan percakapan itu tak terjadi jika pengajar hadir hanya sebagai pengisi waktu, bukan sebagai penuntun jalan.

Tentu, sebuah kampus bisa megah. Tapi di balik fasad yang indah, adakah semangat untuk mendidik yang sungguh hidup? Di banyak tempat, kampus menjadi terlalu sibuk untuk memperhatikan siapa yang seharusnya paling diperhatikan: mahasiswa.

Mereka dididik untuk kompetensi, tetapi lupa disentuh sebagai manusia. Mereka dikejar deadline, tapi tak pernah diajak memahami mengapa mereka belajar. Dan para dosen pun, dalam sistem yang terlalu administratif, kadang lupa bahwa mereka seharusnya menjadi pengasuh akal dan hati, bukan sekadar penyampai modul.

Barangkali inilah saatnya kita kembali mengajukan pertanyaan: apa gunanya universitas jika ia gagal memanusiakan? Apa gunanya gelar dan peringkat jika tak ada kehangatan, tak ada kejelasan dalam mengajar, dan tak ada cahaya dalam pikiran mahasiswa?

Seorang dosen yang baik tak memerlukan pengakuan. Ia cukup tahu bahwa ilmunya tersampaikan, dan ada satu kepala yang kini mampu berpikir lebih jernih. Itu lebih dari cukup. Selebihnya, peringkat bisa menunggu.

Mereka Menyebutnya Kurban

Di balik Idul Adha, selalu ada satu momen sunyi yang tak banyak terdengar. Saat seseorang menyerahkan dirinya, diam-diam, tanpa suara, pada sesuatu yang lebih tinggi. Mereka menyebutnya kurban. Tapi kurban, dalam bentuk yang paling jernih, bukan hanya tentang kambing yang ditumbangkan atau sapi yang ditambatkan pada tiang pagi. Ia adalah sesuatu yang lebih halus. Lebih tak terlihat. Dan karena itu lebih dalam.

Kurban adalah saat manusia menanggalkan dirinya. Saat ia menyingkirkan ego, kesenangan, dan kenyamanan yang setiap hari dibanggakan. Dalam dunia yang begitu bising oleh pencapaian dan pencitraan, barangkali yang paling suci justru mereka yang memilih terbakar diam-diam, menjadi lilin, bukan sorotan lampu.

Bagi guru, dosen, pengajar, dan siapa pun yang mencurahkan hidupnya untuk menyalakan terang bagi generasi yang akan datang, kurban tak selalu tampil dalam bentuk yang disaksikan kamera. Ia hadir sebagai jam-jam yang tak terlihat. Sebagai waktu yang diberikan tanpa tepuk tangan. Sebagai pikiran yang lelah tapi tak ingin berhenti.

Dan di sinilah barangkali kita teringat pada Cipolla, yang dalam simpelnya, membagi manusia ke dalam kuadran berdasar dampaknya, untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Maka, pengorbanan yang diam itu masuk ke dalam kuadran yang paling bijak. Ia memberi kepada yang lain, tapi justru dari situlah ia tumbuh. Secara batin. Secara makna. Bahkan secara sosial.

Tentu, tak semua dari kita menyembelih kambing tiap tahun. Tapi boleh jadi, tiap hari kita menyembelih ego kita sendiri. Dan itulah kurban yang sejati.

Namun kita juga perlu menegaskan: ibadah kurban bukan hanya soal simbol. Ia adalah perintah nyata yang diajarkan dalam syariat, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad SAW. Menyembelih hewan kurban, bagi yang mampu, adalah bentuk ketaatan konkret yang memiliki dimensi sosial dan spiritual sekaligus.

Allah SWT, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, tidak membutuhkan darah atau daging. Tapi Dia menerima ketakwaan dari hamba-Nya. Dan bukankah ketakwaan itu dimulai saat kita mampu berkata, dengan rendah hati, “aku bukan pusatnya”?

Mungkin Idul Adha memang diciptakan bukan hanya untuk menyembelih hewan. Tapi agar kita bisa, sekali lagi, dengan lirih, menyembelih diri kita yang lama. Dan setelah itu, hidup lebih ringan, lebih jernih, lebih berserah.