ScienceFund Monitoring Workshop

Today, my completed project entitled “A novel design of heterogeneous catalyst for liquid-gas reaction system using hollow polymer nanospheres” funded under Sciencefund research grant (MOSTI) was monitored in terms of achieving the objectives, outputs, and outcomes from the research project in a monitoring workshop. Besides, the workshop is also to identify whether this project is the potential to be scaled up for further development or commercialization. The panel of examiners was Prof. Dr. Uda Hashim (UNIMAP) and Assoc. Prof. Dr. Meor Zainal Meor Talib (UKM). The workshop was held at the Putrajaya International Convention Center (PICC).

The above photo was taken in font of PICC building.

Pilihlah pemimpin yang mempunyai empati

Saya sudah cukup muak melihat politik pencitraan dan pencitraan politik menjelang pemilihan Presiden di Indonesia. Walaubagaimanapun, hasil survey ini cukup menggambarkan keinginan masyarakat. Masyarakat ingin calon presiden yang jujur (47%) dan berpihak pada masyarakat (23%). Masyarakat tidak terlalu memerlukan calon yang pandai (secara akademik) (1%). Masyarakat sudah pintar dan dapat melihat mana yang pencitraan dan mana yang bukan.

[Sumber: Capres Ideal Bukan Sosok Pandai-Berwibawa]

Kita perlu memilih calon presiden yang mempunyai empati (emphathy). Calon yang mempunyai kemampuan merasai dan mendalami pikiran, emosi, dan pengalaman langsung dari masyarakat. Terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang jumlahnya mayoritas di Indonesia. Kita melihat, calon yang dekat dihati rakyat, setiap langkah dan kebijakannya pasti banyak didukung oleh rakyat, dan hasilnya adalah perubahan yang cepat dalam pembangunan masyarakat dan juga infrastruktur. Inilah perubahan yang didasarkan kepada empati.

Melihat calon-calon yang berambisi dan mempunyai latar belakang yang beragam, saya beranggapan calon-calon yang tidak pernah berhubungan langsung dengan masyarakat bawah, banyak kebarangkaliannya kurang mempunyai empati. Calon-calon ini adalah berasal dari kalangan elit, golongan yang pergaulannya hanya pada golongan masyarakat yang memiliki ekonomi yang mapan. Walaupun tidak semua, lihatlah, banyak calon-calon ini mempunyai penampilan mewah, dan sangat berorientasi kepada gaya hidup orang barat. Gaya mereka seakan-akan gaya para calon presiden di Amerika Serikat — “Obama style“. Gaya yang tidak sesuai dan diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Yang paling penting adalah, “jangan pilih calon yang sangat menampakkan ambisinya untuk menjadi pemimpin, calon yang sangat sibuk dengan pencitraan diri (personal branding)”. Pikirkanlah. Dalam masyarakat yang berilmu dan cerdas, calon-calon seperti ini pasti tidak akan mendapat pasaran. Calon-calon yang pamer kepandaian, yang sombong, pasti juga akan ditolak. Para calon presiden diharap tahu dirilah. Mungkin saja, dalam anggapan para calon presiden ini, walaupun cukup menjadi pengembira, sekurang-kurangnya, jika tidak terpilihpun jadi presiden, jadi menteripun atau pejabat setingkat itu jadilah — di kabinet yang akan datang. Nampak komentar saya sinis, namun inilah skenario yang mungkin terjadi dan dipikirkan oleh para kandidat. Ingat, masyarakat kita sudah mulai cerdas.

Prof. Dr. Nur Syam, Director General of Islamic Education

Prof. Dr. Nur Syam, Director General of Islamic Education from the Ministry of Religious Affairs, Republic of Indonesia, visited UTM. Prof. Nur and staff of the Faculty of Islamic Civilization of UTM discussed the importance of seizing the opportunities that come with our similarities and common interests in higher education. The two countries must continue their ongoing cooperation, and simultaneously encourage new, innovative ways to take our Malaysia-Indonesia relationship even further.

Prof. Dr. Nur Syam is dressed in a red batik in the above photo.

Bahan pembicaraan kita

Renungan di pagi hari sebelum berangkat ke kampus.

Kadang-kadang topik pembicaraan kita dengan seseorang bergantung kepada tujuan dan juga kepentingan. Jika kita bertemu dengan kawan lama yang sudah lama tidak bertemu, topik pembicaraan bisa melantur kemana-mana. Namun, kadang-kadang dari topik tersebut kita bisa menganalisis sampai dimana “tingkat” kualitas dari pembicaraan tersebut.

Terdapat tiga tingkat kualitas pembicaraan. Tingkat paling dasar adalah topik yang membicarakan mengenai masalah kebendaan, masalah kebutuhan dasar hidup seperti makanan, kendaraan, rumah, pendidikan dan sebagainya. Masalah hidup. Tingkatan yang lebih tinggi adalah pembicaraan mengenai topik mengenai sukses. Sukses dalam konteks ini saya definisikan kepada manfaat seseorang kepada orang lain. Orang sukses adalah orang yang banyak memberi manfaat pada orang lain. Tingkat yang paling tinggi adalah pembicaraan mengenai “kearifan”. Pembicaraan mengenai hakikat hidup yang mensinergikan antara “iman” dan “ilmu” yang dinamakan sebagai al-hikmah.

Semakin tua seseorang, seharusnya, semakin banyak dia membicarakan al-hikmah, semakin ariflah dia. Seseorang yang melulu tertambat dan membicarakan hanya pada masalah kebutuhan dasar kehidupan, maka tertambatlah dia disana. Padahal hidup itu tidak abadi.

Congress of Indonesian Diaspora 2

I attended the Congress of Indonesian Diaspora 2 at Jakarta Convention Center from 18 to 20 August 2013. In this congress, I have been appointed as one of the readers of the declaration of the Indonesian Diaspora, which was attended by the President of the Republic of Indonesia.

The story of my career as an Indonesian Diaspora has been published in a book entitled “Life Stories 2. Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Berbagai Negara“, which was distributed to the participants of the congress. Please follow the above link for the story written in the book.

Click the following photo to see the event.

Refleksi perjalanan kehidupan

Kisah di bawah ini telah diterbitkan dalam buku yang berjudul “Life Stories 2. Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Berbagai Negara”, halaman 50-67. Editor: Dino Patti Djalal. Red & White Publishing. Jakarta, 2013.

Saya tidak tahu mengapa saya dipilih untuk menuliskan pengalaman hidup ini. Apakah saya dianggap sukses? Bagi saya, kriteria sukses itu sederhana. Orang yang sukses adalah orang yang bermanfaat dan memberikan kebaikan kepada orang banyak. Kesuksesan tidaklah datang tanpa usaha, dukungan dari orang lain dan juga do’a. Oleh karena itu, refleksi dari perjalanan hidup ini dimulai dengan peranan orang tua dalam mendidik dan membentuk saya, sehingga saya seperti sekarang.

Peranan Orang Tua
Saya lahir pada tahun 1969 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ketika saya lahir, ayah saya, Profesor Nur Anas Djamil, adalah Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang adalah Universitas Negeri Padang). Beliau adalah lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada tahun 1962. Ibu saya, Sofiah Djamaris, juga dosen di Fakultas yang sama. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana juga di IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1964. Saya adalah anak ketiga dari empat orang bersaudara yang semuanya laki-laki.

Bapak dan mamak, begitulah saya memanggil ayah dan ibu saya. Peranan dan pengorbanan mereka sangatlah besar dalam membentuk karakter saya. Walaupun umur saya yang lebih dari 40 tahun, saya masih selalu meminta pendapat dan saran-saran mereka, terutama ketika saya ditimpa masalah. Adalah kebiasaan saya selalu menelepon mereka yang sudah pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Padang, paling tidak sekali dua minggu. Saya percaya, dengan do’a dan restu merekalah saya dapat mencapai karir seperti sekarang ini. Mereka selalu berkata, “Kami selalu mendo’akan anak-anak supaya mereka diberikan jalan yang terbaik“.

Mamak, orangnya bersahaja, pendiam, tekun dan gigih. Sifat-sifat beliau inilah yang sangat saya sukai. Ketika para gadis seumuran dia betah di rumah, asyik belajar memasak dan mengurus rumah, mamak lebih siap melangkahkan kaki berkilo-kilo meter jaraknya dari rumah untuk pergi sekolah. Desa Pamuatan, kampung mamak yang terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat adalah desa yang miskin dan terpencil.

Nenek adalah seorang yang buta huruf. Walaupun buta huruf, nenek adalah pekerja keras. Dia mencari nafkah dengan berjualan kain di pasar. Hasil jualannya bisa menyekolahkan tiga orang anak gadisnya. Mamak lulusan terbaik sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang, kemudian melanjutkan sekolah di IAIN Yogyakarta. Mamak adalah sarjana perempuan pertama dari kampungnya. Adiknya mamak yang kedua adalah bidan pertama dari kampungnya, dan yang bungsu adalah guru. Semua belajar ke pulau jawa meninggalkan kampung halaman.

Kakek adalah juru tulis dan guru silat di kampung dan suka memendam uang. Kalau Nenek atau cucu-cucunya meminta uang selalu berdalih, ilmu jika dibagikan akan bertambah tetapi kalau uang dibagikan akan berkurang. Walau bagaimanapun kakek masih bisa membaca, dan beliau selalu membantu nenek mengirimkankan uang untuk anak-anaknya melalui pos. Nenek sanggup bertahan membiayai tiga anak gadisnya menuntut ilmu di rantau sampai selesai.

Mamak bertemu bapak di kampus IAIN Yogyakarta. Bapak adalah aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi.

Pada tahun 1960 lahirlah anak lelaki pertama. Saat itu mamak sedang sibuk menyiapkan tugas akhirnya. Sempat keteter sampai menitipkan si anak kepada nenek di kampung. Namun semangat tidak pernah pudar, akhirnya mamak dapat menyelesaikan kuliahnya setelah bapak selesai terlebih dahulu. Kemudian mereka pulang ke Padang dan berkumpul kembali semua anak beranak.

Karir bapak dan mamak mulai stabil, mereka mengajar di universitas yang sama yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Kemudian lahirlah tiga anak lelaki pada tahun 1966, 1969 dan 1971. Saya adalah anak nomor tiga. Kata orang, saya adalah anak yang paling nakal. Orang bilang, sifat saya lebih mirip mamak, terutama pintarnya.

Keseharian mamak adalah mengajar dan mengurus ke empat anak lelaki yang selalu bergaduh. Tetapi mamak dapat menghadapinya dengan tenang, rumah senantiasa dalam keadaan beres dan rapi, makanan favorit kami pun selalu tersedia. Hanya bapak yang selalu terganggu dengan ulah kami, beliau ini sering terpancing dan akhirnya marah-marah. Apabila ada yang merajuk, mamaklah penyejuknya. Mamak dan bapak adalah tim yang kompak. Perbedaan sifat keduanya dijadikannya penyatu, saling mengisi kekurangan satu sama lain. Mamak tidak suka ke luar rumah, maka bapaklah yang selalu bersedia pergi ke pasar untuk berbelanja atau mengurus keperluan. Bila bapak membuat riset, mamaklah penyumbang ide-ide cemerlangnya.

Sampai pada suatu ketika, mamak terpilih diantara calon-calon yang mendapat beasiswa belajar ke luar negeri. Dari hasil ujian, nilai mamak merupakan nilai tertinggi untuk bahasa Inggris. Mamak di terima di Macquarie University di Australia. Mulailah disiapkan segala keperluan, dari baju dingin sampai hal-hal yang sekiranya diperlukan disana. Bapak sudah ikhlas mengantar kepergian mamak, dan siap mengurus anak-anak serta rumah. Karena bapak tahu, ini adalah kesempatan yang tidak boleh terlewati bagi mamak yang pintar dan cerdas. Bagaimanapun mamak tidak tega membiarkan ke empat anaknya membesar tanpa seorang ibu. Baginya menuntut ilmu adalah pekerjaan yang mulia, tetapi lebih mulia lagi menjaga dan mengurus anak-anaknya sampai mencapai cita-cita mereka. Allah SWT memberikan jalan yang terbaik untuk mamak sekeluarga, mamak tidak jadi meneruskan sekolahnya ke Australia.

Keputusan mamak yang penuh perhitungan akhirnya membuahkan hasil. Mamak dapat mengantar ke empat anak-anaknya menyelesaikan sekolah yang diinginkan. Pekerjaan mamak dan bapak yang penuh dedikasi, membuat saya bertekad ingin bekerja seperti mereka. Ketika saya lulus sarjana dari jurusan Kimia ITB pada tahun 1992, mamak dan bapak menawarkan saya untuk melanjutkan sekolah, mereka siap mendanai. Bahkan ketika saya memutuskan menikah mudapun, bapak dan mamak tidak menghalanginya, padahal saya belum bekerja. Istri tidak keberatan, ketika saya mengatakan padanya bahwa saya ingin menjadi dosen, baginya asal halal saja itu sudah cukup. Saya menamatkan magister di Program Studi Teknik Material ITB dengan predikat cum laude pada tahun 1995, dan merupakan lulusan pertama program studi ini. Setelah itu saya melanjutkan Ph.D. di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Mamak dan bapak meminta saya untuk fokus dalam kuliah, sampai mereka menawarkan diri menjaga istri dan anak di rumah mereka. Istri saya selalu mendukung, dia bersedia tinggal di rumah mertua sampai selesai Ph.D. Dengan semangat yang tinggi saya bisa menyelesaikan riset dan tesis Ph.D. dalam waktu 1 tahun 8 bulan, dan lulus ujian doktor dalam waktu 2.5 tahun.

Dengan lulusnya program Ph.D., Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) adalah dua universitas yang menerima saya sebagai dosen. Namun, saya masih berkeinginan untuk mencari pengalaman dalam penelitian. Akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti postdoc di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Sapporo, Jepang. Kali ini saya memboyong istri dan kedua anak saya, Farid Rahman Hadi, lahir pada tahun 1995 di Bandung, dan Firda Hariri, lahir pada tahun 1999 di Johor Bahru. Dua setengah tahun di Sapporo cukuplah bagi kami menimba pengalaman. Pendidikan anak-anak mulai menjadi pikiran saya. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk pendidikan, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan mengenai pendidikan agama anak-anak. Saya dan istri sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling aktif meminta saya menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anak lebih terjamin dan ketiga Malaysia lebih dekat dengan kampung halaman.

Akhirnya pada bulan Mei 2002, saya mulai bekerja menjadi dosen di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Tangga demi tangga saya tapaki. Rasa syukur dan suka cita datang tatkala saya diangkat menjadi profesor penuh di UTM pada tahun 2010. Predikat profesor kini menyandang dipundak dalam usia di angka 41. Jatuh bangun proses pembelajaran tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan mamak dan bapak. Saat pidato pengukuhan profesor, saya undang mamak dan bapak. Ini adalah hadiah terindah saya untuk mamak dan bapak. Terima kasih mamak dan bapak, berkat kalian dan do’a yang tak pernah putus, gelar profesor bisa saya raih.

Perjalanan Karir Ilmiah
Setiap orang memiliki mimpinya sendiri dan oleh karena itu mereka tenggelam dalam perjalanan menuju pemenuhan mimpi mereka. Dua puluh lima tahun yang lalu (1987), ketika saya menjadi mahasiswa tingkat satu di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya bermimpi untuk menjadi seorang profesor dengan menulis judul Prof. Dr. di depan nama saya pada halaman depan buku penuntun praktikum kimia. Tujuh belas tahun yang lalu (1995) saya datang ke UTM sebagai mahasiswa Ph.D., dan dua setengah tahun kemudian (1998), saya berhak untuk menempatkan gelar Dr. di depan nama saya. Sekarang, saya layak untuk menempatkan gelar Profesor. Mimpi telah menjadi kenyataan. Buku penuntun praktikum kimia tersebut menjadi saksi impian saya.

Pengalaman ini merupakan bukti bahwa penetapan tujuan merupakan bagian penting dari perencanaan karir. Hal ini perlu dilakukan dengan optimisme dan sukacita. Inilah yang disebut sebagai sukacita dalam mencapai tujuan. Ini juga berarti bahwa akan lebih menyenangkan untuk mengejar target, bukan dikejar oleh target. Setiap orang harus memiliki ambisi. Mungkin ada orang yang tidak mempunyai ambisi, namun saya yakin bahwa pada suatu hari setiap orang tersebut harus membuat keputusan untuk menentukan masa depan mereka. Jadi, setiap orang dituntut untuk memahami kekuatan dan kelemahan mereka, termasuk memiliki kemampuan untuk membangkitkan antusiasme dan motivasi. Inilah yang disebut sebagai pencarian diri. Setiap orang harus memiliki tujuan hidup, meskipun sebagai umat beragama, Allah SWT mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Selain penetapan tujuan dan sukacita dalam mencapai tujuan, menurut pendapat saya, faktor lain yang menentukan kesuksesan seseorang adalah kemampuan untuk beradaptasi. Prinsip ini harus diterapkan jika kita ingin bertahan hidup. Sesuatu yang kita anggap benar, mungkin belum tentu benar bagi orang lain. Adaptasi yang cerdas mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Saya percaya bahwa penetapan tujuan, sukacita dalam mencapai tujuan dan adaptasi yang cerdas sangat penting dalam hidup kita. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, saya sekarang adalah profesor penuh dalam bidang kimia di salah satu universitas ternama di Malaysia.

Saya pertama kali tertarik dalam kimia suatu hari pada tahun 1984 ketika saya masih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Padang. Saya menghadiri kursus tambahan dalam pelajaran kimia. Kursus ini diajarkan oleh Drs. Tahasnim Tamin, seorang dosen senior di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Padang. Saya tertarik dengan konsep kimia yang indah yang diajarkan dengan demonstrasi laboratorium. Salah satu eksperimen menarik yang dilakukan di dalam kelas adalah reaksi antara natrium dengan air, dimana logam natrium dimasukkan ke dalam air di dalam gelas kimia. Reaksi yang hebat antara natrium dengan air menyebabkan logam tersebut menyala di permukaan air. Reaksi yang menakjubkan! Ini adalah salah satu contoh bagaimana eksperimen kimia dapat menginspirasi siswa menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan. Hal ini tidak dapat dicapai tanpa guru yang mempunyai ilmu dan juga dedikasi yang tinggi dalam mendidik.

Pelajaran penting berikutnya datang saat saya menjadi mahasiswa Jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam proyek tugas akhir, saya dibimbing oleh Dr. Harjoto Djojosubroto, yang pada waktu itu adalah Direktur Pusat Penetian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional, Indonesia. Dr. Harjoto tertarik tertarik dengan teknik analisis pegaktifan netron dan baru saja memperoleh gelar doktor dari ITB dalam bidang kimia atom panas. Kami melakukan studi penentuan selenium dalam darah manusia dengan analisis pengaktifan netron yang saya selesaikan hampir selama dua tahun. Beliaulah yang mengilhami saya untuk melanjutkan studi pascasarjana. Peristiwa paling penting yang terjadi pada saat itu adalah pertemuan dengan Terry Terikoh, juga mahasiswa jurusan kimia ITB, yang sekarang menjadi istri saya. Perjalanan karir saya dalam dunia akademis selalu mendapatkan dukungan dari Terry, dan ini merupakan faktor terbesar yang mendukung kekeberhasilan dalam karir profesional saya.

Pada bulan September 1993, saya mendaftar pada Program Magister Ilmu dan Teknik Material di Institut Teknologi Bandung dan beruntung dibimbing oleh Dr. Bambang Ariwahjoedi, dosen yang kreatif dan memiliki ide-ide yang bernas. Kreativitas sangat penting pada waktu itu karena kurangnya peralatan laboratorium di ITB. Saya menyelesaikan proyek dengan topik sintesis biokeramik hidroksilapatit. Saya lulus program magister dengan predikat cum laude pada tahun 1995.

Pengalaman saya melakukan riset mulai bertambah ketika saya melanjutkan Ph.D dalam bidang kimia zeolit di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di bawah bimbingan Profesor Halimaton Hamdan dengan biaya dari pemerintah Malaysia. Pada awalnya, proyek saya adalah sintesis, karakterisasi dan aktivitas katalitik aluminofosfat, VPI-5. Setelah melakukan eksperimen selama enam bulan, saya gagal untuk mensintesis VPI-5. Tesis Ph.D. saya berasal dari dua belas bulan kerja keras di laboratorium dengan bahan aluminofosfat yang lain. Pada waktu yang sama, saya juga mengerjakan proyek lain mengenai sintesis zeolit dari abu sekam padi. Saya lulus program Ph.D. dengan tiga publikasi di jurnal internasional. Tesis Ph.D. saya adalah mengenai struktur, sifat fisikokimia dan aktivitas katalitik dari logam-tersubstitusi AlPO4-5. Saya juga berhasil mensintesis zeolit langsung dari sekam padi. Ini merupakan hasil dari dua belas bulan kerja keras di labratorium dan juga di perpustakaan kampus. Saya akhirnya menemukan bagaimana melakukan penelitian secara mandiri. Periode yang sangat melelahkan dan juga manis untuk dikenang. Setelah lulus pada tahun 1998, saya bekerja sebagai postdoc selama satu tahun di UTM.

Pada tahun 1999, saya beruntung dipilih dari sekian banyak pelamar mendapatkan beasiswa postdoc dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) di bawah bimbingan Profesor Bunsho Ohtani, profesor di Catalysis Research Center, Universitas Hokkaido, Jepang. Profesor Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya dalam bidang katalisis heterogen. Profesor Ohtani adalah seorang ilmuwan yang benar-benar inspiratif. Beliau adalah murid dari Profesor Kenichi Fukui di Universitas Kyoto yang adalah penerima hadiah Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1981. Dalam dua tahun sebagai postdoc, dan setengah tahun sebagai peneliti tamu di Universitas Hokkaido, kami telah berhasil mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai phase-boundary catalysis.

Pengamatan saya selama di Jepang memperlihatkan bahwa profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate professor dan research associate) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi. Promosi untuk menjadi profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya associate professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi profesor. Hal ini terlihat dari rekam jejak dari profesor tersebut.

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah, tidak semua orang dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari konferensi, simposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari jurnal ternama yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan pemikiran yang dalam dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Profesor Ohtani. Sehingga saya dapat merasakan sensasi dari suatu penemuan tersebut. Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (profesor, research associate, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah, tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide, karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Setelah menyelesaikan program postdoc di Jepang, pada bulan Mei 2002, saya bergabung dengan Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, Universiti Teknologi Malaysia. Pengalaman selama Ph.D. dan postdoc telah mengajarkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian dan membimbing mahasiswa dengan baik. Saat ini saya adalah ketua kelompok penelitian Catalytic Science and Technology di UTM. Disamping itu, sejak tahun 2008, saya juga menjabat sebagai manajer hubungan internasional untuk Indonesia. Saya pernah ditanya, “Sebagai orang Indonesia yang telah bekerja di luar negeri belasan tahun, apa yang telah anda sumbangkan untuk Indonesia?” Ini adalah pertanyaan klasik yang banyak didiskusikan sejak lama. Saya menjawab dengan fakta, walaupun saya bekerja di luar negeri, tujuh dari dua puluh empat mahasiswa Ph.D. yang saya bimbing adalah berasal dari Indonesia, dimana tiga orang daripada mereka telah lulus dan pulang kembali ke Indonesia. Sebagai manajer hubungan internasional untuk Indonesia di UTM, saya juga berusaha mendekatkan hubungan kedua negara melalui kerjasama dan juga diplomasi pendidikan yang menguntungkan kedua-dua negara. Salah satu diplomasi pendidikan yang telah saya lakukan bersama UTM adalah pemberian gelar doktor honoris causa kepada Prof. Dr. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh UTM pada 26 Maret 2011.

Saya mempunyai prinsip bahwa bumi Allah SWT ini luas, dan sebagai hambanya kita harus memikirkan kontribusi kita kepada kemanusiaan, yang semua ini adalah didasarkan kepada pengabdian kepada-Nya. Dengan begitu hidup kita akan lebih bermakna.

Riak Kehidupan
Sebagian orang ada yang memperoleh keinginannya dengan gampang. Sebagian lagi ada yang memutar-mutar dulu baru kesampaian. Sebagian lagi ada yang tidak kesampaian sama sekali. Bagi orang yang pernah mengalami jatuh bangunnya hidup akan terasa nikmatnya hidup. Senang, susah, sedih dan gembira pernah dirasakan. Ketika kita lagi bernasib baik, kita akan merasakan bagaimana susah orang-orang yang tidak bernasib baik. Ketika kita bernasib, kita harus bersabar dan berpasrah diri. Kita tidak perlu takut dan cemas akan masa depan kita, walaupun jalan yang kita tempuh tidak terbayangkan sebelumnya atau diluar rencana.

Pikiran saya melayang lagi kebelakang. Setelah lulus sarjana Kimia di ITB pada tahun 1992, saya melamar menjadi dosen di Jurusan Kimia ITB, tetapi waktu itu ditolak. Saya baru ditawari menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB setelah saya lulus magister pada tahun 1995. Pada waktu itu, ITB merencanakan mengirim saya untuk mengambil program Ph.D. di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Karena jatah untuk tahun itu hanya untuk satu orang dan peluang untuk tahun depan tidak pasti, saya berinisiatif mencari sekolah sendiri dan diterima di UTM. Setelah lulus Ph.D. pada tahun 1998 dan sedang postdoc di UTM, saya dipanggil oleh ITB untuk mengikuti tes pegawai negeri. Rupanya Profesor Noer Mandsjoeriah Surdia juga mengusulkan supaya saya diangkat sebagai dosen di Jurusan Kimia ITB. Namun karena Program Studi Teknik Material ITB telah lebih dulu memproses lamaran, saya disuruh memilih, mau di Jurusan Kimia atau di Program Studi Teknik Material? Tanpa ragu saya memilih Program Studi Teknik Material sebab jurusan itu yang lebih dulu memberi tawaran, selain itu proses lamaran di Program Studi Teknik Material sudah sampai di fakultas.

Tahun 1998, saya telah menyelesaikan semua tes untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di ITB. Karena urusan sudah beres dan juga sudah mendapat rumah transit ITB di Cisitu Lama, Bandung, saya kembali ke UTM untuk menyelesaikan program postdoc yang tinggal sembilan bulan lagi. Baru saja sampai di Johor Bahru, beberapa hari kemudian ITB memanggil kembali untuk menyelesaikan wawancara dengan dekan. Saya menelepon Profesor Noer Mandsjoeriah Surdia yang pada waktu itu adalah ketua Program Magister Ilmu dan Teknik Material, memohon keringanan agar wawancara dilakukan melalui telepon saja karena kalau pulang tidak mungkin, bahkan waktu itu Profesor Halimaton Hamdan, pembimbing saya di UTM, sempat bicara juga dengan beliau bahwa saya dipinjam sementara oleh UTM. Dari pembicaraan, nampaknya tidak ada masalah. Namun, setelah postdoc di UTM selama satu tahun dan dilanjutkan sebagai postdoc di Universitas Hokkaido, Jepang selama dua setengah tahun, nama saya hilang sebagai calon staf dosen ITB, mungkin karena tidak ikut wawancara, lamaran tidak diproses lebih lanjut.

Selama di Jepang pun usaha saya untuk menjadi dosen di Indonesia masih ada, kembali ke ITB nampaknya tidak mungkin, atas saran ayah saya, kemudian saya mencoba melamar ke Universitas Negeri Padang (UNP). Dari Jepang sempat pulang untuk mengikuti tes pegawai negeri lagi dan wawancara. Karena kondisi perekonomian Indonesia yang sedang buruk, saya memutuskan kembali ke UTM.

Inilah pengalaman hidup, penuh liku-liku, bukannya senang seperti apa yang terlihat, semua ini menjadi pengalaman yang berharga, kami tidak akan ragu karena janji Allah SWT selalu benar. Dibalik semua peristiwa ada hikmahnya, dan kita pun bisa mengambil pelajaran agar sesuatu itu bisa menjadi lebih baik.

Bijaksana
Sebagai penutup, ada baiknya saya memberikan sedikit perspektif mengenai kebijaksanaan, karena bagi saya tujuan utama dari sebuah perguruan tinggi, tempat saya bekerja sebagai seorang profesor, adalah untuk mendidik manusia. Manusia yang dihasilkan tidak hanya menjadi insinyur, ekonom, sastrawan atau saintis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mendidik mereka menjadi bijaksana. Tentu saja menjadi bijaksana itu tidak mudah. Orang akan lebih mudah menjadi pandai karena rajin belajar. Menjadi orang yang produktif juga lebih mudah, asalkan rajin dan disiplin. Hal itu banyak dibuktikan disekeliling kita. Sebagai contoh, kita bisa saja mencetak mahasiswa menjadi ‘mesin’ untuk publikasi ilmiah dengan cara menekan mereka untuk menjadi produktif. Oleh karena itu, saya mencoba menguraikan mengapa menjadi bijaksana itu penting dan seharusnya menjadi tujuan utama dari pendidikan, terutama pendidikan di universitas.

Sebelum kita masuk dalam uraian mengapa kebijaksanaan mesti menjadi tujuan utama dalam pendidikan (tinggi), ada baiknya kita melihat terlebih dahulu mengenai pengertian kebijaksanaan. Ini pengertian menurut Wikipedia: “Kebijaksanaan adalah pemahaman yang mendalam dan realisasi seseorang terhadap sesuatu, peristiwa atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan sesuai dengan pemahaman tersebut. Hal ini memerlukan kontrol emosi sehingga prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuanlah yang menentukan tindakan seseorang tersebut. Kebijaksanaan juga pemahaman menyeluruh tentang kebenaran dan juga kemampuan untuk menilai secara optimum tindakan yang dilakukan.”

Menurut saya, definisi kebijaksanaan menurut Wikipedia sudah sangat baik. Di bawah ini adalah penjelasan kata kunci dari definisi tersebut, iaitu: pemahaman yang mendalam, realisasi, kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan, kontrol emosi, prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan.

Pemahaman yang mendalam. Untuk menjadi bijaksana, pemahaman terhadap sesuatu hal tidak boleh setengah-setengah. Kita harus paham betul permasalahan sampai detail. Perlu waktu, penelahaan dan mungkin juga kontemplasi untuk mendapat pemahaman terhadap sesuatu hal. Dalam acara dialog di televisi, seringkali kita melihat orang berbicara asal bunyi, karena pemahamannya terhadap suatu permasalahan tidak begitu mendalam.

Realisasi. Pemahaman saja tidak cukup.Perlu ada tindakan untuk merealisasikan pemahaman. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai No action talk only. Orang yang bijaksana tidak hanya pandai berkata-kata tetapi juga perlu membuktikan kata-katanya dalam bertindak. Jangan hanya menjadi tukang kritik. Orang bijaksana adalah orang yang pemikiran dan ucapannya sesuai dengan tindakannya.

Kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan. Tidak semua orang mampu bertindak cepat dan tepat. Perlu pengetahuan, pengalaman dan juga keberanian untuk itu. Yang banyak adalah orang yang bertindak lambat. Lambat mengambil keputusan, sehingga masalah lain timbul karena lamanya keputusan itu diambil. Kalaupun cepat, seringkali tidak tepat.

Kontrol emosi. Orang yang tidak dapat mengontrol emosi bukanlah orang yang bijaksana. Elemen ini yang biasanya jarang dipunyai orang. Perkelahian di parlemen di beberapa negara menjadi contoh orang-orang yang berpendidikan tinggi tidak dapat mengontrol emosi.

Prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan. Orang yang bijaksana perlu menerapkan prinsip-prinsip universal, seperti etika, kelaziman dengan menggunakan nalar yang baik dan didukung oleh pengetahuan yang cukup. Orang baik dan bermoral tinggi tidak cukup menjadi orang bijaksana tanpa memiliki pengetahuan yang cukup.

Berdasarkan hal-hal di atas, adalah sangat penting mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Saya dapat merasakan dan melihat bahwa pendidikan sekarang belum lagi untuk menghasilkan orang-orang bijaksana. Banyak pemimpin yang kurang bijaksana yang kita perhatikan disekeliling kita. Pikirkanlah.

Saudara di Padang Sebang, Melaka

Di bawah ini adalah sebahagian dari silsilah Tengku Hitam dan dua urang anaknya, Haji Yunus dan Haji Ismail.

9511382393_7f5ca0de2f

Hubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail yang terputus telah dipertalikan kembali oleh Djamil Datuk Bijo yang datang ke Padang Sebang pada sekitar tahun 1920-an bersama anaknya Nurullah. Nurani Djamil, anak Djamil Datuk Bijo datang ke Padang Sebang pada tahun 1942 ketika penjajahan Jepang. Perhubungan antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail dimulai dengan hubungan surat menyurat antara ayah saya, Prof. Nur Anas Djamil, dengan Makcik Nyonya pada tahun 1960-an berdasarkan catatan silsilah yang ditulis oleh Nurani Djamil. Datuk saya, Nurani Djamil (lahir tahun 1901), adalah alumni Sumatera Thawalib Parabek, di Bukittinggi, dan merupakan senior Buya Hamka ketika beliau belajar disana.

Tengku Hitam, ayah dari Haji Yunus dan Haji Ismail, meninggal dunia dan dimakamkan di Mungka, Payakumbuh, Sumatera Barat. Haji Yunus dan Haji Ismail, menurut catatan Nurani Djamil meninggal dan dimakamkan di Paya Rumput, Melaka, Malaysia. Namun lokasi makam mereka yang tepat tidak diketahui.

Saya mengunjungi saudara di Padang Sebang pertama kali pada tahun 1995. Insya Allah hubungan silahturahmi antara keturunan Haji Yunus dan Haji Ismail ini dapat berlangsung dengan baik.

Foto Djamil Datuk Bijo (kanan) dan anaknya Nurani Djamil (kiri). Djamil Datuk Bijo pernah berkunjung ke Padang Sebang bersama anaknya Nurullah pada tahun 1920-an. Nurani Djamil pernah menetap di Padang Sebang selama beberapa bulan pada tahun 1942. Foto di atas diambil tahun 1935.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang tahun 1995. Pada waktu itu saya adalah mahasiswa program PhD di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Johor Bahru, Malaysia

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 8 Desember 2008.

Foto ketika berkunjung ke Padang Sebang pada 13 Agustus 2013.

Foto ketika berkunjung ke rumah Makcik Nyonya di Kuala Lumpur pada 13 Agustus 2013. Dalam foto ini — saya, yang berdiri disebelah kiri, Dr. Rizal Sani, yang berdiri sebelah saya, dan Dr. Erhamwilda yang bertudung merah — adalah cucu dari Nurani Djamil.