Pilihlah pemimpin yang mempunyai empati

Saya sudah cukup muak melihat politik pencitraan dan pencitraan politik menjelang pemilihan Presiden di Indonesia. Walaubagaimanapun, hasil survey ini cukup menggambarkan keinginan masyarakat. Masyarakat ingin calon presiden yang jujur (47%) dan berpihak pada masyarakat (23%). Masyarakat tidak terlalu memerlukan calon yang pandai (secara akademik) (1%). Masyarakat sudah pintar dan dapat melihat mana yang pencitraan dan mana yang bukan.


[Sumber: Capres Ideal Bukan Sosok Pandai-Berwibawa]

Kita perlu memilih calon presiden yang mempunyai empati (emphathy). Calon yang mempunyai kemampuan merasai dan mendalami pikiran, emosi, dan pengalaman langsung dari masyarakat. Terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang jumlahnya mayoritas di Indonesia. Kita melihat, calon yang dekat dihati rakyat, setiap langkah dan kebijakannya pasti banyak didukung oleh rakyat, dan hasilnya adalah perubahan yang cepat dalam pembangunan masyarakat dan juga infrastruktur. Inilah perubahan yang didasarkan kepada empati.

Melihat calon-calon yang berambisi dan mempunyai latar belakang yang beragam, saya beranggapan calon-calon yang tidak pernah berhubungan langsung dengan masyarakat bawah, banyak kebarangkaliannya kurang mempunyai empati. Calon-calon ini adalah berasal dari kalangan elit, golongan yang pergaulannya hanya pada golongan masyarakat yang memiliki ekonomi yang mapan. Walaupun tidak semua, lihatlah, banyak calon-calon ini mempunyai penampilan mewah, dan sangat berorientasi kepada gaya hidup orang barat. Gaya mereka seakan-akan gaya para calon presiden di Amerika Serikat — “Obama style“. Gaya yang tidak sesuai dan diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Yang paling penting adalah, “jangan pilih calon yang sangat menampakkan ambisinya untuk menjadi pemimpin, calon yang sangat sibuk dengan pencitraan diri (personal branding)”. Pikirkanlah. Dalam masyarakat yang berilmu dan cerdas, calon-calon seperti ini pasti tidak akan mendapat pasaran. Calon-calon yang pamer kepandaian, yang sombong, pasti juga akan ditolak. Para calon presiden diharap tahu dirilah. Mungkin saja, dalam anggapan para calon presiden ini, walaupun cukup menjadi pengembira, sekurang-kurangnya, jika tidak terpilihpun jadi presiden, jadi menteripun atau pejabat setingkat itu jadilah — di kabinet yang akan datang. Nampak komentar saya sinis, namun inilah skenario yang mungkin terjadi dan dipikirkan oleh para kandidat. Ingat, masyarakat kita sudah mulai cerdas.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s