Kuburan massal korban Tsunami Aceh tahun 2004

Tulisan di di pintu gerbang kuburan massal korban Tsunami Aceh tahun 2004: “Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al-Anbiya, 35).

Sadar bahwa hidup tidak abadi

Kemaren setelah saya memberikan presentasi di seminar di Banda Aceh, saya diajak jalan-jalan keliling Banda Aceh oleh Pak Yusuf, staf di Balai Riset dan Standarisasi Industri Banda Aceh. Wisata Tsunami katanya. Apa yang diperlihatkan oleh wisata ini adalah kedahsyatan dari gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda Banda Aceh pada 26 Desember 2004. Saya diajak melihat kapal yang beratnya puluhan ton yang dibawa oleh gelombang Tsunami sejauh 5 km dari tepi pantai. Dapat dibayangkan betapa tingginya gelombang Tsunami, yang katanya tingginya mencapai lebih dari 4 meter. Lebih dari 200 ribu orang yang meninggal dunia. Nyaris tidak ada yang selamat dibawa oleh arus gelombang yang dahsyat ini. Inilah kekuatan alam. Inilah kekuasaan Allah SWT.

Apa yang saya rasakan setelah mendengar cerita dari Pak Yusuf adalah bahwa kapan dan dimana saja manusia dapat berakhir hidupnya. Manusia adalah mahluk yang lemah. Terasa bahwa badan ini hanyalah tempat tinggal sementara ruh. Ruh hanya menumpang dibadan ini. Badan boleh reput karena penuaan dan akhirnya mati, namun ruh abadi.

Saya hanya bisa mengucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali”. Terasa bahwa manusia perlu agama dan keyakinan terhadap hidup setelah mati.

Tulisan di di pintu gerbang kuburan massal: “Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (Al-Anbiya, 35).

Seminar in Banda Aceh

I have been invited to deliver a keynote speech to an audience of researchers at the Seminar Nasional Hasil Riset dan Standarisasi Industri III in Banda Aceh, Indonesia. This seminar was organized by Balai Riset dan Standarisasi Industri Banda Aceh. Prof. Dr. Herri Susanto of Institut Teknologi Bandung was also a keynote speaker in this seminar.

Traveling to Banda Aceh also gave me a spiritual lesson. I have seen the impact of the Tsunami wave that killed more than 300 thousand people in the year 2004. It made ​​me realize that our life can be taken at any time by Allah SWT.

Click the following photo to see the event.

My personality

This is the “possibility” of my personality. The picture below is the opinion of my friends about me; funny, hilarious, talkative etc.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok ternyata menyimpan sejarah yang menyayat hati dibalik keindahannya, waktu zaman penjajahan Jepang. Banyak yang dibunuh dan dibuang mayatnya oleh tentara Jepang ke sungai yang mengalir di Ngarai Sianok dari “lubang Jepang” yang dibangun pada tahun 1940-an. Perang dan penjajahan memang kejam. Baru tahu cerita ini setelah masuk ke “lubang Jepang” yang dibangun di atas Ngarai Sianok pada 12 September 2013.

Global Outreach Program to Padang

I accompanied my postdoc and postgraduate students on a trip to Padang, Indonesia, for the UTM Global Outreach Program. On 11 September 2013, I delivered a general lecture on research and scientific publications to postgraduate students of Universitas Negeri Padang (UNP). This lecture was also attended by Prof. Dr. Agus Irianto (academic provost of UNP) Prof. Dr. Syukri Arief (Universitas Andalas) and Dr. Syukri Drajat (Universitas Andalas). During this visit, we discussed the possible research collaboration between UTM, UNP, and Universitas Andalas. I want to thank Dr. Jon Efendi (chemistry lecturer of UNP and former lecturer of UTM) who have organized this lecture. We visited some beautiful places in Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, and Payakumbuh as well.