Sinapsis dan pembelajaran

Memahami proses paling mendasar di otak kita sangat penting dalam memahami belajar dan pembelajaran. Seringkali kita membuat kegiatan, sistem, program, dan kebijakan yang tidak berhubungan dengan proses yang paling mendasar, yaitu proses yang melibatkan saraf yang berfungsi untuk mentransmisikan molekul neurotransmitter secara kimia dan elektrik yang akan berfungsi sebagai platform untuk berpikir dan belajar.

Memahami sinapsis adalah hal yang paling fundamental. Sinapsis adalah struktur yang memungkinkan neuron (atau sel saraf) untuk melewatkan sinyal listrik atau kimia ke neuron lain atau ke sel efektor target. Video ini menunjukkan proses tersebut pada skala molekuler. Ada beberapa kata kunci yang terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu diantaranya adalah kesehatan, emosi, proses pembelajaran, sistem pembelajaran, ekosistem pembelajaran, dan yang paling luas perspektifnya adalah kebijakan pendidikan. Semua hal ini perlu dikaitkan dari hal yang paling mendasar dari pembelajaran, yaitu sinapsis!

Rasionalisasi pendidikan tinggi

Ini adalah artikel yang saya kirimkan ke KOMPAS pada 29 April 2018 yang terbit pada 5 Mei 2018. Artikel ini ditulis untuk memperingati hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei yang bertepatan dengan hari lahir seorang Tokoh nasional Indonesia yang dijuluki bapak pendidikan. Nasionalis Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Semoga bermanfaat bagi perkembangan pendidikan tinggi di tanah air.

Kemampuan membedakan fakta dan opini

Saya pernah menulis bahwa kemampuan membedakan fakta dan opini itu penting untuk dipelajari. Di bawah ini adalah laporan yang menunjukkan hubungan antara kemampuan membaca untuk membedakan fakta dan opini dari beberapa negara di dunia.

Hubungan ini sangat berbeda antar negara. Amerika Serikat merupakan negara dengan kemampuan literasi yang tinggi dalam membedakan fakta dan opini dengan persentase 69% dan di atas rata-rata dalam total skor membaca (505). Hasil ini mungkin mencerminkan perbedaan dalam kurikulum antar negara. Mempelajari cara membedakan fakta dan opini di sekolah kemungkinan akan membantu meningkatkan skor membaca PISA. Dimana posisi Indonesia Ternyata Indonesia termasuk negara yang kinerjanya rendah dalam membedakan fakta dan opini. Kita mempunyai tugas berat untuk memajukan pendidikan kita. Insya Allah bisa!

Rujukan: 21st Century Readers – Developing literacy skills in a Digital World

Guru-guruku

Beberapa orang guru saya telah meninggal dunia.  Mereka tidak tahu bahwa mereka mempengaruhi keabadian; dan mereka tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti. Saya menulis tentang mereka di blog ini; Prof. Dr. Susanto Imam Rahayu, Prof. Dr. Rochim Suratman, Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno, dan Drs. Hiskia Ahmad.

Berikut ini adalah nama-nama guru dan pembimbing yang pernah mengajar saya selama kuliah di S1, S2, S3 dan postdoc. Beberapa orang telah meninggal dunia.

Institut Teknologi Bandung (1987-1995). Enam setengah tahun sebagai sarjana (S.Si. dalam bidang kimia) dan mahasiswa pascasarjana (M.T. dalam bidang Ilmu dan Teknik Material).

  • Prof. Ir. Tata Surdia
  • Prof. Ir. Ibrahim Sastramihardja
  • Prof. Dr. Waloejo Loeksmanto
  • Prof. Dr. Soekeni Soedigdo
  • Prof. Dr. Sjamsul Arifin Achmad
  • Prof. Dr. Oei Ban Liang
  • Prof. Dr. Noer Mansjoeriah Surdia
  • Prof. Dr. Muhammad Wirahadikusumah
  • Ir. Mathijs Stefanus Tupamahu, M.Si.
  • Drs. Soejoto
  • Drs. Samyoeto, M.Si.
  • Drs. Rawuh
  • Drs. Ismono
  • Drs. Herman
  • Drs. Hasbuna Kifli, M.Si.
  • Drs. Hadi Sutedjo
  • Drs. Budi Setiadi, MA
  • Drs. Hiskia Ahmad
  • Dra. Rubiah Kasa
  • Dra. Irawati
  • Dr. Tan Ik Gie
  • Dr. Susanto Imam Rahayu
  • Dr. Sadijah Ahmad
  • Dr. Purwo Arbianto
  • Dr. Mumu Sutisna
  • Dr. Muliawati
  • Dr. Ir. Rochim Suratman
  • Dr. Ir. Mardjono Siswosuwarno
  • Dr. Ir. Eddy Ariyono Subroto
  • Dr. Ir. Bambang Widyanto
  • Dr. Ing. Barnas Holil
  • Dr. Fadjar Harjanto
  • Drs. Detlev Naroso Hadisoebroto
  • Dr. Cynthia Linaya
  • Drs. Bunbun Bundjali
  • Dr. Buchari
  • Dr. Bambang Ariwahjoedi
  • Dr. Aloysius Rusli

Universitas Padjadjaran (1988 – 1989). Satu tahun sebagai mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran Gigi.

  • drg. Dede Sutardjo
  • drg. Maman Abdulrachman

Pusat Penelitian Teknik Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (1990 – 1992). Dua tahun sebagai mahasiswa tugas akhir melakukan penelitian tentang analisis aktivasi neutron.

  • Dr. Harjoto Djojosubroto (Pembimbing Tugas Akhir)

Universiti Teknologi Malaysia (1995 – 1999). Empat tahun sebagai mahasiswa Ph.D. dalam bidang kimia material dan postdoc. Satu tahun sebagai peneliti (Mei 2002 – Mei 2003).

  • Prof. Dr. Halimaton Hamdan

Hokkaido University (1999 – 2002). Dua setengah tahun sebagai peneliti pascadoktoral JSPS dan peneliti tamu.

  • Prof. Dr. Bunsho Ohtani

“Ya Allah, ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.”

Debat kusir

Terkadang saya perlu menghindari debat kusir. Istilah debat kusir, yaitu istilah yang menggambarkan sebuah perdebatan yang tidak ada habisnya, sia-sia, dan tidak memiliki kesimpulan. Dalam kuliah terakhir Metodologi Penelitian kemaren, saya menekankan kepada mahasiswa untuk selalu berpikir sebagai seorang saintis, dan menghindari perdebatan yang sia-sia. Mudah-mudahan ilmu kimia yang mereka pelajari selama satu semester ini dapat mereka terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dari beberapa sumber, cerita tentang debat ini berawal dari cerita tentang perbualan antara Pak Kusir yang sedang mengendarai delman (dogcart) dan temannya. Konon, dari sinilah istilah itu berasal. Pada suatu kesempatan, Pak Kusir sedang asyik berbincang dengan temannya. Dalam percakapan itu terjadi percakapan bebas di antara mereka. Sambil mengobrol mereka mendengar kuda kentut. Begitu mendengar kudanya kentut, Pak Kusir berkata “kuda saya masuk angin”, tetapi kemudian temannya menjawab “tidak, kuda itu keluar angin”. Akhirnya terjadilah perdebatan diantara mereka. Debat ini kemudian diistilahkan dengan debat kusir, debat yang tidak ada penghujungnya, mana yang betul antara “keluar angin” dan “masuk angin”.

Nah, inilah fenomena debat kusir yang terlihat jelas di media sosial. Ambil ini sebagai hiburan jangan terlalu memikirkannya dan dibawa ke hati.

Ujaran kebencian

Ujaran kebencian merupakan istilah yang sedang trending di media massa di Indonesia. Ujaran kebencian ini merupakan emosi negatif yang bersumber dari kemarahan dan memiliki kekuatan negatif. Hal ini dapat dijelaskan dari bagan di bawah ini yang saya ambil dari penjelasan tingkat emosi oleh Dr. David R. Hawkins.

Level emosi manusia menurut Dr. David R. Hawkins.

Bias kognitif

Lima puluh bias kognitif umum yang penting diketahui, dan jika kita memahaminya, ini akan dapat membantu kita untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan yang tepat. Bias-bias ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi saya sebagai seorang dosen dan peneliti, ini juga dapat membantu saya untuk mengajarkan kepada mahasiswa bahwa bias-bias ini perlu dihindari ketika kita melakukan penelitian.

Gambar diambil dari sumber ini.

1. Kesalahan Atribusi Mendasar

Kesalahan atribusi mendasar adalah menilai orang lain berdasarkan karakter dan kepribadian mereka. Pada saat menilai diri kita sendiri, kita tidak melihatnya dari karakter dan kepribadian diri, tapi kita menyalahkan situasi. Ini adalah bias kognitif sosial dan keyakinan.

2. Bias Melayani Diri Sendiri

Bias melayani diri sendiri adalah bahwa kegagalan kita bersifat situasional, tetapi untuk keberhasilan, kita menganggap itu adalah karena kehebatan diri sendiri. Kitalah yang menyebabkan kesuksesan kita tetapi kalau gagal kita menyalahkan situasi. Ini berbasis sosial dan kepercayaan, dan terkadang juga bias kognitif berbasis uang.

3. Favoritisme dalam Grup

Bias favoritisme dalam kelompok adalah bahwa kita lebih menyukai orang-orang yang ada dalam kelompok kita daripada orang yang tidak masuk kelumpok kita. Bias ini adalah bias sosial, keyakinan, dan politik.

4. Efek Ikut-ikutan

Efek ikut-ikutan adalah bias kognitif bahwa semakin banyak orang yang mengadopsi ide, mode, dan keyakinan, semakin kita cenderung ingin mengadopsi keyakinan itu. Ini adalah bias sosial, kepercayaan, dan politik.

5. Pemikiran Kelompok

Pemikiran kelompok adalah nama contoh bias kognitif yang saya berikan di bagian bias kognitif berbasis sosial di atas. Ini adalah keinginan untuk konformitas dan harmoni dalam suatu kelompok, menyebabkan kita membuat keputusan yang tidak rasional untuk meminimalkan konflik. Pemikiran kelompok adalah bias kognitif sosial, keyakinan, dan politik.

6. Efek Halo

Efek Halo adalah bias kognitif yang ikut-ikutan terhadap pendapat orang kebanyakan. Seperti tiga bias kognitif yang baru saja kita bicarakan, ini adalah bias yang berbasis sosial, kepercayaan, dan politik.

7. Keberuntungan Moral

Keberuntungan moral adalah bias kognitif yang menghubungkan nasib baik dengan nilai moral yang lebih tinggi dan nasib buruk dengan nilai moral yang lebih rendah. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, politik, dan memori.

8. Konsensus Palsu

Konsensus yang salah adalah bias kognitif dimana kita mengikuti konsensus berdasarkan jumlah orang yang setuju padahal hal tersebut tidak benar. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, dan politik.

9. Kutukan Pengetahuan

Kutukan pengetahuan adalah bias kognitif bahwa begitu kita mengetahui sesuatu, kita juga mengira semua orang juga mengetahuinya. Ini adalah bias kognitif berbasis keyakinan, sosial, politik, pembelajaran, dan memori.

10. Efek Sorotan

Efek sorotan adalah bias kognitif bahwa kita melebih-lebihkan bahwa banyak orang yang memperhatikan kita, padahal tidak. Mereka tidak memikirkan kita. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial dan memori.

11. Heuristik Ketersediaan

Bias kognitif heuristik ketersediaan mengacu pada kecenderungan kita untuk mengandalkan contoh langsung yang muncul dalam pikiran ketika membuat penilaian. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, sosial, memori, politik, dan keyakinan.

12. Atribusi Defensif

Bias kognitif atribusi defensif adalah salah satu yang dimaksudkan untuk membuat kita tetap aman. Sebagai saksi dari suatu kecelakaan atau situasi, kita akan menyalahkan orang yang kurang kita hubungkan dalam situasi tersebut daripada yang lebih banyak kita hubungkan. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, memori, dan politik.

13. Hipotesis Dunia yang Adil

Hipotesis dunia yang adil atau kekeliruan dunia yang adil adalah bias kognitif yang mengasumsikan bahwa “orang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan” – bahwa tindakan akan memiliki konsekuensi yang adil dan sesuai secara moral bagi pelaku. Misalnya, asumsi bahwa tindakan mulia pada akhirnya akan dihargai dan tindakan jahat pada akhirnya akan dihukum termasuk dalam hipotesis ini. Ini adalah bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

14. Realisme Naif

Realisme naif adalah bias kognitif yang kita yakini bahwa kita mengamati realitas objektif sementara orang lain tidak rasional, kurang informasi, atau bias. Pada kenyataannya, kita semua tidak rasional, bisa lebih banyak informasi, dan agak bias. Ini adalah bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

15. Sinisme Naif

Sinisme Naif, seperti realisme naif, didasarkan pada gagasan bahwa kita mengamati realitas objektif sementara yang lain tidak. Perbedaannya adalah bahwa dalam hal ini kami percaya itu karena orang lain memiliki bias egosentris yang lebih tinggi daripada yang sebenarnya mereka lakukan dalam niat dan tindakan mereka. Ini juga merupakan bias kognitif berdasarkan keyakinan, ingatan, sosial, dan politik.

16. Efek Forer (atau Barnum)

Efek Barnum, juga disebut efek Forer atau, lebih jarang, efek Barnum-Forer, adalah fenomena psikologis umum di mana individu memberikan peringkat akurasi tinggi untuk deskripsi kepribadian mereka yang seharusnya dirancang khusus untuk mereka, namun sebenarnya tidak jelas. Efek ini dapat memberikan penjelasan parsial untuk penerimaan luas dari beberapa kepercayaan dan praktik paranormal, seperti astrologi, meramal, membaca aura, dan beberapa jenis tes kepribadian. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan keyakinan.

17. Efek Dunning-Kruger

Efek Dunning-Kruger mengacu pada menjadi lebih percaya diri tentang mata pelajaran yang kita ketahui sedikit dan menjadi kurang percaya diri tentang mata pelajaran yang kita ketahui banyak (sampai titik pengetahuan tertentu di mana kita menjadi lebih percaya diri lagi). Ini didasarkan pada enam jenis sumber bias kognitif: kepercayaan, ingatan, pembelajaran, politik, uang, dan sosial.

18. Penambatan

Penambatan adalah bias kognitif yang sangat kita andalkan pada informasi pertama yang diperkenalkan saat membuat keputusan. Ini adalah bias kognitif berdasarkan pembelajaran, kepercayaan, sosial, dan memori.

19. Bias Otomatisasi

Bias otomatisasi adalah bias kognitif yang relatif baru. Ini mengacu pada kecenderungan kita untuk terlalu mengandalkan sistem otomatis, terkadang mempercayai koreksi otomatis atas keputusan yang sudah benar. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, memori, dan keyakinan.

20. Google Effect atau Digital Amnesia

Efek Google atau Amnesia Digital adalah bias kognitif baru-baru ini. Ini mengacu pada kecenderungan kita untuk dengan mudah melupakan informasi yang mudah diakses. Ini adalah bias kognitif berbasis pembelajaran, memori, dan keyakinan.

21. Reaktansi

Reaktansi adalah kecenderungan untuk melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan kepada kita, terutama ketika kita merasakan ancaman terhadap kebebasan pribadi kita. Ini adalah keyakinan berbasis politik, sosial, dan bias kognitif.

22. Bias Konfirmasi

Bias konfirmasi adalah bias kognitif yang membuat kita lebih mungkin menemukan dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah kita pegang. Ini adalah pembelajaran, memori, keyakinan, dan bias kognitif berbasis politik.

23. Efek Bumerang

Efek bumerang mengacu pada bukti penyangkalan yang benar-benar memperkuat keyakinan kita pada sesuatu. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

24. Efek Orang Ketiga

Efek orang ketiga mengacu pada keyakinan bahwa orang lain lebih terpengaruh oleh media massa daripada kita. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, sosial, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

25. Bias Keyakinan

Bias keyakinan menilai argumen dengan seberapa masuk akal kesimpulannya menurut kita, bukan seberapa kuat argumen itu sebenarnya mendukungnya dalam pikiran kita. Ini adalah keyakinan, pembelajaran, memori, dan bias kognitif berbasis politik.

26. Kaskade Ketersediaan

Kaskade ketersediaan mengacu pada keyakinan kolektif yang mendapatkan lebih banyak masuk akal karena pengulangan publik. Ini menyiratkan semua enam jenis bias kognitif: kepercayaan, ingatan, pembelajaran, politik, uang, dan sosial.

27. Deklinisme

Deklinisme mengacu pada kecenderungan untuk meromantisasi masa lalu dan memandang masa depan secara negatif, percaya bahwa segala sesuatunya pada umumnya menurun. Ini adalah memori, keyakinan, sosial, dan bias kognitif berbasis politik.

28. Status Quo Bias

Bias status quo mengacu pada kecenderungan kita untuk menginginkan segala sesuatunya tetap sama, menganggap perubahan dari baseline menjadi kerugian baik itu benar-benar terjadi atau tidak. Ini bisa menjadi alasan mengapa beberapa orang begitu takut untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Bias kognitif ini berakar pada enam jenis: memori, pembelajaran, kepercayaan, sosial, politik, dan uang.

29. Kekeliruan Biaya Tenggelam atau Eskalasi Komitmen

Penelitian biaya tenggelam mengacu pada kecenderungan untuk berinvestasi lebih banyak dalam sesuatu yang telah merugikan kita daripada mengubah investasi kita bahkan jika kita menghadapi konsekuensi negatif. Ini adalah memori berbasis sosial, keyakinan, dan bias kognitif.

30. Kekeliruan Penjudi

Kekeliruan penjudi adalah asumsi bahwa kemungkinan masa depan dipengaruhi oleh peristiwa masa lalu. Ini bukan untuk mengatakan bahwa tidak ada di masa depan yang dipengaruhi oleh apa pun dari masa lalu. Hanya saja tidak semuanya terikat bersama seperti yang Anda pikirkan. Ini adalah bias kognitif berbasis memori, sosial, dan keyakinan.

31. Bias Tanpa Risiko

Bias risiko nol adalah kecenderungan keinginan untuk mengurangi hal-hal berisiko kecil menjadi nol risiko bahkan ketika ada opsi lain yang mengurangi risiko keseluruhan lebih banyak. Ini adalah keyakinan, sosial, dan bias kognitif berbasis politik.

32. Efek Pembingkaian

Efek pembingkaian adalah kecenderungan untuk menafsirkan informasi yang sama dengan cara yang berbeda berdasarkan bagaimana informasi itu dibingkai. Ini adalah pembelajaran, memori, sosial, keyakinan, dan bias kognitif berbasis politik.

33. Stereotip

Stereotip adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung mengadopsi keyakinan tentang anggota suatu kelompok karena keanggotaan mereka pada kelompok itu tanpa sepengetahuan individu tersebut. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori, kepercayaan, pembelajaran, sosialisasi, dan politik.

34. Bias Homogenitas di Luar Grup

Bias homogenitas luar group adalah kecenderungan untuk percaya bahwa luar group kita kurang lebih homogen sedangkan dalam group kita lebih beragam. Ini menyiratkan semua enam jenis bias kognitif: sosial, kepercayaan, politik, pembelajaran, memori, dan uang.

35. Otoritas Bias

Bias otoritas adalah kecenderungan untuk percaya dan lebih dipengaruhi oleh pendapat figur otoritas. Bias kognitif ini adalah bias kognitif berbasis sosial, keyakinan, pembelajaran, dan politik.

36. Efek plasebo

Efek plasebo adalah zat atau pengobatan palsu yang dirancang untuk tidak memiliki nilai terapeutik yang diketahui. Plasebo yang umum termasuk tablet inert (seperti pil gula), suntikan inert (seperti saline), dan operasi palsu. Ini diduga merupakan memori, keyakinan, dan bias kognitif berbasis sosial.

37. Bias Kelangsungan Hidup

Bias kelangsungan hidup adalah kecenderungan untuk fokus pada mereka yang selamat dari suatu proses dan mengabaikan mereka yang gagal. Ini adalah keyakinan, sosial, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis politik.

38. Takipsikia

Takipsikia adalah kecenderungan persepsi kita tentang waktu untuk berubah tergantung pada trauma, penggunaan narkoba, dan aktivitas fisik. Seperti efek plasebo, saya tidak yakin ini bias kognitif. Ini seharusnya merupakan bias kognitif berbasis memori, pembelajaran, dan keyakinan.

39. Hukum Sepele

Hukum sepele adalah kecenderungan kita untuk memberikan bobot yang tidak proporsional pada masalah sepele sambil menghindari masalah yang lebih besar dan lebih kompleks. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis politik.

40. Efek Zeigarnik

Efek Zeigarnik adalah kecenderungan untuk mengingat tugas yang belum selesai lebih dari yang selesai. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori dan pembelajaran.

41. Efek IKEA

Efek IKEA adalah kecenderungan untuk menempatkan nilai yang lebih tinggi pada hal-hal yang kita sendiri memiliki andil dalam menciptakannya. Ini adalah pembelajaran, keyakinan, dan bias kognitif berbasis sosial.

42. Efek Ben Franklin

Efek Ben Franklin sebenarnya bukan tentang mendapatkan uang Rp 1.000.000. Ini adalah gagasan bahwa kita lebih cenderung melakukan kebaikan untuk seseorang yang telah kita bantu. Ini adalah bias kognitif berbasis sosial, kepercayaan, pembelajaran, dan politik.

43. Efek Pengamat

Efek pengamat adalah fenomena semakin banyak orang di sekitar kita, semakin kecil kemungkinan kita untuk membantu korban. Itu berasal dari gagasan bahwa orang lain akan membantu, jadi itu bukan tanggung jawab kami. Ini adalah bias kognitif berbasis keyakinan dan pembelajaran.

44. Sugestibilitas

Sugestibilitas mengacu pada kecenderungan untuk salah mengira ide yang disarankan oleh penanya sebagai ingatan. Ini biasanya berasal dari apa yang disebut pengacara sebagai “pertanyaan yang dimuat”. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis sosial.

45. Memori Palsu

Ingatan palsu adalah kecenderungan untuk salah mengira imajinasi sebagai ingatan nyata. Ini adalah bias kognitif berbasis memori, keyakinan, dan pembelajaran.

46. Kriptomnesia

Kriptomnesia adalah kebalikan dari memori palsu. Saat itulah kita salah mengira ingatan sebagai imajinasi. Ini adalah bias kognitif yang didasarkan pada memori, pembelajaran, dan sosialisasi.

47. Ilusi Pengelompokan

Ilusi pengelompokan adalah kecenderungan untuk mengelompokkan atau menemukan pola dalam data acak. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan keyakinan.

48. Bias pesimisme

Pesimisme adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan hasil yang buruk. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan pembelajaran.

49. Optimisme bias

Optimisme bias adalah kecenderungan untuk terlalu optimis tentang hasil. Ini adalah bias kognitif berbasis memori dan pembelajaran.

50. Bias Titik Buta

Bias titik buta mengacu pada kecenderungan kita untuk berpikir bahwa orang lain lebih berpikir dan bertidak secara bias daripada kita. Ini adalah memori, keyakinan, pembelajaran, dan bias kognitif berbasis sosial.

Rujukan: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_cognitive_biases

Kembalikan universitas kepada fungsi asalnya

Mukadimah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, Indonesia, nomor 603/O/2001 telah menyatakan bahwa tugas pokok perguruan tinggi adalah untuk berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan dan kebudayaan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengembangan pengertian dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia dan kesejahteraan lahir batin umat manusia berkelanjutan. Namun apakah tugas pokok universitas ini telah dijalankan dengan baik?

Kita perlu memperhatikan dan berusaha meluruskan fungsi universitas kepada tugas pokoknya seperti yang dinyatakan dalam mukadimah Menteri Pendidikan Nasional tersebut. Terdapat dua fenomena yang menurut saya yang dapat melencengkan fungsi asal universitas, yaitu pendidikan yang terlalu berorientasi kepada komersialisasi, dan kecendrungan universitas untuk mengejar angka, angka dan angka, seperti webometrics, jumlah publikasi, jumlah mahasiswa lain sebagainya (Key Performance Indicator), tanpa melihat substansi mengenai hikmah dari angka-angka tersebut. Sebaiknya, letakkanlah sesuatu pada hakikat hikmah dari indikator tersebut, jika tidak, ini akan menjadi klaim yang berkelebihan (overclaim) terhadap prestasi yang pada akhirnya hanya akan menjadi keberhasilan yang semu (pseudo achievement). Sebagai contoh, demi peningkatan ranking universitas, kenaikan pangkat, para dosen banyak “bermain” dengan publikasi. Maksud “bermain” adalah mereka hanya mengejar publikasi bukan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan tetapi publikasi untuk naik pangkat dan prestise dengan mengabaikan etika kejujuran.

Didik muridmu menjadi orang yang merdeka

Selama 20 tahun karier saya sebagai dosen, saya telah membimbing 34 mahasiswa Ph.D. dan 5 postdoc. Sebagai seorang dosen, saya banyak belajar dari pengalaman mereka dalam menyelesaikan Ph.D. mereka. Beberapa dari mereka lambat untuk menyelesaikan Ph.D. karena ada masalah keluarga dan keuangan. Saya harus bersabar dan perlu menyusun strategi supaya mereka bisa lulus.

Saya menyadari bahwa karakter setiap mahasiswa yang dibimbing tidak sama. Mereka individu yang unik. Mereka berbeda karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Kita terkadang lupa, bahwa kita perlu menghargai keunikan individu, berusaha menggali kepribadian individu tersebut agar bisa berprestasi. Kita perlu menciptakan lingkungan yang mempromosikan nilai keunikan pribadi, rasa hormat, kejujuran, kemandirian, keterlibatan, dan harapan.

Terkadang, hanya karena untuk menghasilkan angka-angka, seperti impact factor, h-index, naik pangkat sebagainya, yang hanya bersifat jangka pendek, kita mengorbankan tujuan jangka panjang dan mulia dalam mendidik orang, hanya untuk kesuksesan semu. Mahasiswa perlu dididik untuk mandiri, kreatif, mampu berpikir sendiri, dan memiliki integritas moral yang tinggi.

Merdeka belajar itu penting!

Kualitas pemikiran

Setiap hari saya selalu bertemu dan berbicara dengan orang. Di kampus, saya selalu berbicara dan berdiskusi dengan mahasiswa dan juga kawan-kawan sesama pensyarah atau dosen. Dengan mahasiswa, saya selalu mempengaruhi mereka untuk berpikir dan dan bertindak dengan baik.

Di bawah ini adalah gambaran bahwa kualitas pemikiran kita yang sangat dipengaruhi oleh kesadaran supra dan juga alam bahwa tidak sadar, yang berupa intuisi, kekuatan spritual, pengalaman masa lalu dan kebiasaan seseorang. Kesadaran supra akan memberikan inspirasi kepada kesadaran, dan alam bawah tidak sadar memberikan proyeksi kepada kesadaran dan pemikiran. Inspirasi adalah proses yang dirangsang secara mental untuk melakukan hal-hal yang kreatif. Suasana mental yang baik sangat diperlukan, dan ini mesti difasilitasi oleh suasana dan lingkungan yang kondusif.

kualitas pikiran .png

Namun, inspirasi dan proyeksi tidak akan berjalan dengan baik jika pikiran dan hati kacau, yang disebut sebagai mekanisme yang menghambat (inhibitory mechanism). Gangguan mental dan kesehatan adalah faktor yang menyebabkan hambatan ini.

Untuk mendapatkan kualitas pemikiran yang baik, kita mesti mempunyai kekuatan spritual dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Buang atau jauhi kebiasaan-kebiasaan yang buruk, karena secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pemikiran kita.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mengasah penalaran logika semata-maya tetapi juga mengasah kekuatan spiritual. Publikasi dari Gerd Gigerenzer ini dapat dirujuk. Dikatakan bahwa “intuition is the highest form of intelligence“.