Profesor Mardjono Siswosuwarno

Profesor Mardjono Siswosuwarno
(17 Mei 1948 – 20 September 2019)

Hari ini saya menerima berita sedih, guru saya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Mardjono Siswosuwarno, meninggal dunia jam 5.30 pagi tadi di Bandung. Bagi saya, Prof. Mardjono adalah guru yang layak untuk dikenang dengan cara beliau mendidik yang memberikan impak kepada murid-muridnya, termasuk saya. Saya menjadi mahasiswa beliau di Program Magister Ilmu dan Teknik Material ITB dari tahun 1993 sampai saya lulus pada bulan Februari 1995. Saya adalah lulusan pertama program ini dan satu-satunya yang diwisuda pada bulan April 1995. Beliau adalah dosen yang sangat menguasai materi perkuliahan. Ada beberapa mata kuliah yang diajar oleh beliau. Beliau mengajar nyaris tanpa alat bantu, dan hanya menggunakan spidol dan papan tulis. Kuliah beliau penuh dengan analogi dan sangat menarik. Walaupun kadang-kadang beliau marah ketika mahasiswanya tidak mengerti, namun beliau tetap berusaha menerangkan supaya materi tersebut dimengerti. Bagi saya, beliau adalah guru yang sangat bagus dan berdedikasi tinggi dalam mengajar dan mendidik, walaupun kadang-kadang emosional. Hampir semua ujian beliau “open book”. Beliau sangat fair dalam menilai. Saya pernah diberi nilai di atas 100, yaitu 105, dengan bonus 5 angka karena menyerahkan kertas jawaban sebelum waktunya.

Saya masih ingat setelah selesai ujian akhir tesis magister yang dihadiri oleh beberapa penguji, beliau bertanya, “Setelah lulus magister kamu mau kemana?”. Saya menjawab, “Tidak tahu Pak”. Kemudian beliau berkata, “Apakah kamu mau menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB?”. Saya tidak langsung mengiyakan dan menjawab, “Saya pikirkan dulu Pak”. Setelah pulang dan berdiskusi dengan istri saya, akhirnya saya menerima tawaran beliau menjadi dosen di Program Studi Teknik Material ITB. Setelah itu saya disuruh oleh beliau membuat surat permohonan menjadi dosen ITB. Status saya setelah itu adalah calon dosen ITB, sehingga Pak Mardjono berinisiatif agar saya melanjutkan studi ke program doktor di ITB dan juga ke Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven) walaupun akhirnya saya tidak jadi berkhidmat di ITB dan sudah mendapat rumah transit sebagai dosen ITB setelah saya lulus doktor tahun 1998.

Ada peristiwa menarik. Waktu itu, tahun 1995 di ITB, saya bertemu dengan Pak Mardjono dan meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke Ph.D. Beliau menyuruh saya untuk membuat draft surat rekomendasi dan saya menuliskan “lulusan terbaik”. Bagaimanapun beliau tertawa keras ketika menandatangani surat ini karena saya satu-satunya yang diwisuda pada Program Studi Ilmu dan Teknik Material ketika itu.

Terima kasih Prof. Mardjono, “Seorang guru mempengaruhi keabadian; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti”. Jasamu dikenang.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.