Intelektual yang ditumbangkan sebelum berkecambah

Kita hidup di zaman di mana menjadi intelektual adalah sebuah anomali yang nyaris mustahil. Bagaimana tidak? Bayangkan sebatang pohon yang dipaksa tumbuh di atas aspal. Bukan karena kekurangan nutrisi atau sinar matahari, tetapi karena setiap kali daunnya muncul, aspal baru segera dituang di atasnya. Begitulah nasib intelektual di sebuah negeri yang lebih sibuk merapikan jalan daripada merawat tunas yang mungkin tumbuh.

Intelektual adalah spesies yang tidak akan lahir dalam kondisi di mana segala bentuk berpikir mendalam dianggap sepele atau bahkan diabaikan. Lihat saja, mulai dari tradisi intelektual yang terpinggirkan, hingga kepada doktrin yang lebih menekankan pengulangan tanpa pertanyaan, lebih berakar kuat dibandingkan dengan pemikiran kritis. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa berharap kelahiran intelektual jika tanah tempatnya tumbuh adalah aspal kaku yang tidak pernah diizinkan retak?

Dan tidak berhenti di situ, universitas yang seharusnya menjadi taman bagi tumbuhnya pohon-pohon intelektual malah berperan menjadi penyiram aspal itu sendiri. Dalam sistem budaya ilmiah universitas, yang lebih dipedulikan adalah output daripada outcome. Lihatlah bagaimana para akademisi dan mahasiswa didorong untuk terus memproduksi kertas-kertas ilmiah yang lebih berfokus pada kuantitas daripada kualitas. Tujuannya jelas, bukan untuk mendidik mahasiswa menjadi ilmuwan yang handal dan berpikir mendalam, melainkan untuk mendongkrak peringkat universitas di kancah global.

Paper-paper ilmiah yang dihasilkan bukanlah cerminan dari pemikiran yang mendalam, tetapi lebih sebagai alat untuk mengejar angka dan ranking. Mahasiswa dilatih bukan untuk menjadi pemikir, tetapi sebagai mesin yang efisien dalam menghasilkan publikasi. Dalam iklim seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi intelektual yang tangguh, jika mereka sudah dirantai oleh ambisi institusi yang lebih mengutamakan citra daripada substansi?

Universitas, yang seharusnya menjadi pusat peradaban intelektual, justru terjebak dalam perangkap pragmatisme sempit. Alih-alih mengajarkan mahasiswa untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, mereka malah diajari untuk cepat-cepat menulis “apa” yang bisa dipublikasikan, meskipun isinya kosong melompong. Akhirnya, lulusan yang dihasilkan adalah mereka yang piawai dalam menulis tetapi tumpul dalam berpikir. Intelektual yang ditumbangkan sebelum mereka sempat berkecambah.

Refleksi

Jika kita tidak menciptakan kondisi yang kondusif bagi intelektual untuk lahir dan berkembang, maka jangan heran jika mereka tidak pernah muncul. Intelektual bukanlah sebuah kebetulan; mereka adalah hasil dari ekosistem yang mendukung pemikiran, refleksi, dan diskusi yang mendalam. Sayangnya, di negeri yang lebih sibuk menata jalan daripada menumbuhkan ide, kita hanya akan mendapatkan aspal yang mulus tanpa tunas yang menghijau. Dan jika universitas hanya peduli pada output tanpa memikirkan outcome, maka kita akan terus menghasilkan lulusan yang hanya mengejar angka tanpa memiliki kedalaman berpikir.

Fokuslah kepada sistem pendidikan

Marilah kita merenungkan esensi pendidikan, yang bukan semata perihal angka-angka yang berlari di atas kertas laporan, bukan sekedar nilai yang terpampang, bukan jumlah kepala yang terhitung sebagai lulusan. Ada yang lebih dalam, lebih luas, lebih tinggi dari sekedar pencapaian yang bisa diukur dengan penggaris dan kalkulator.

Pendidikan, dalam pandangan yang lebih luas, adalah perjalanan mengarungi samudra kehidupan, di mana angka-angka hanyalah bintang-bintang kecil di langit yang luas. Lebih dari itu, ia adalah tentang membentuk karakter, menanamkan nilai, mengasah keterampilan yang akan menjadi kompas bagi para pelaut muda dalam menghadapi badai dan ombak kehidupan yang tak terduga.

Dalam tarian kata-kata, kita diajak untuk melihat pendidikan sebagai proses pembangunan jiwa, di mana setiap mahasiswa adalah seorang penjelajah yang unik, dengan peta dan destinasi yang berbeda-beda. Pendidikan harus menjadi angin yang mendorong mereka ke arah impian mereka, bukan jangkar yang menahan mereka pada dasar laut yang dangkal.

Kita berbicara tentang pendidikan yang tidak hanya mengajarkan cara menghitung, tetapi juga cara berpikir, tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami, tidak hanya untuk ujian, tetapi untuk kehidupan. Pendidikan yang mempersiapkan siswa tidak hanya untuk pasar kerja, tetapi juga untuk pasar kehidupan, di mana nilai sejati tidak diukur oleh berapa banyak yang mereka miliki, tetapi oleh berapa banyak yang mereka berikan, tidak hanya tentang sukses, tetapi juga tentang makna.

Kita perlu ingat bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan bunga di taman jiwa, tentang menari bersama mimpi, tentang membangun jembatan antara hati dan akal. Ini adalah perjalanan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bijaksana, tidak hanya kompeten, tapi juga berkomitmen pada kemanusiaan.

Mengalihkan fokus dari target angka semu ke pengembangan sistem pendidikan merupakan langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih berpendidikan, inovatif, dan adaptif. Ini membutuhkan komitmen dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, dan siswa, untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung dan mempersiapkan generasi masa depan untuk sukses di berbagai aspek kehidupan.

Pendidikan kita di antara harapan dan kenyataan

Pendidikan, kata yang seharusnya menggema dengan semangat pencerahan dan pembentukan karakter, kini seringkali terdengar seperti bisikan pasar yang mengutamakan pencitraan dan persaingan. Di era di mana pendidikan seolah menjadi arena perlombaan fasilitas dan peringkat, kita terjebak dalam paradoks: mendambakan kebijaksanaan namun terpaku pada angka-angka yang mengesankan.

Dalam perjalanan mencari esensi pendidikan, kita tersandung pada realitas kapitalisme dalam pendidikan tinggi. Di sini, pendidikan bukan lagi tentang mengejar pengetahuan atau mengasah pikiran kritis, melainkan tentang bagaimana memoles citra dan menarik investasi. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi pembentuk pemikir dan inovator, kini lebih sering terlihat seperti etalase prestasi dan fasilitas.

Perubahan zaman juga membawa tantangan baru. Di era digital yang serba cepat, pendidikan sering kali terjebak dalam arus inovasi teknologi yang tak kunjung padam. Media sosial dan budaya populer telah mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan, di mana kesuksesan yang tampak menjadi lebih berharga daripada proses pembelajaran yang mendalam dan berarti.

Namun, ada satu aspek penting yang sering terlupakan: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs). SDGs, dengan penekanannya pada aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dari pembangunan berkelanjutan, menempatkan pendidikan berkualitas (SDG 4) sebagai salah satu tujuan utamanya. Namun, seringkali terjadi konflik antara tujuan ekonomi dan sosial dengan tujuan lingkungan, mencerminkan distorsi dalam prioritas pendidikan.

Kemiskinan, seperti yang terlihat di Meksiko, juga memberikan wawasan penting. Artikel tentang kemiskinan di Meksiko menunjukkan bagaimana ketidaksetaraan sosial dan faktor ekonomi mempengaruhi akses dan kualitas pendidikan. Ini menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya terdistorsi oleh kapitalisme, tetapi juga oleh struktur sosial yang lebih luas yang menentukan siapa yang memiliki akses ke pendidikan berkualitas dan siapa yang tidak.

Selanjutnya, Hukum Campbell memberikan perspektif lain. Adagium ini mengatakan bahwa ketika ukuran kinerja menjadi tujuan proses pengajaran, mereka kehilangan nilai mereka sebagai indikator status pendidikan dan mendistorsi proses pendidikan dengan cara yang tidak diinginkan. Ini menjelaskan bagaimana sistem penilaian dan pengujian yang berlebihan dalam pendidikan dapat menyebabkan distorsi tujuan, menggeser fokus dari pembelajaran yang bermakna menjadi pencapaian angka-angka yang hampa.

Dalam menghadapi distorsi tujuan pendidikan ini, kita dituntut untuk kembali merenung dan mencari jalan kembali ke esensi pendidikan yang sejati: pencerahan, pengembangan karakter, dan pembangunan kehidupan bangsa yang berkeadilan dan berkearifan. Kita perlu revolusi paradigma, perubahan yang menyeluruh, mulai dari sistem pendidikan hingga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Mari kita tidak lupa bahwa pendidikan adalah tentang membangun masa depan, bukan hanya tentang mengukir prestasi di masa kini. Di tengah distorsi ini, kita harus tetap berpegang pada harapan bahwa pendidikan dapat kembali menjadi cahaya yang menerangi jalan kebijaksanaan dan keadilan.

Inovasi, Aplikasi, dan Kontribusi Ilmiah: Perspektif dalam Menilai Tesis Doktoral Pendidikan Kimia

Hadi Nur, Departemen Kimia, Universitas Negeri Malang

1.0 Pendahuluan

Selama karir saya sebagai dosen, saya telah membimbing 36 mahasiswa program doktor dan berperan sebagai penguji serta penilai tesis doktoral dari mahasiswa di Malaysia, Indonesia, India, dan Kanada. Meskipun spesialisasi saya adalah dalam bidang kimia dan aplikasinya, pengalaman ini telah memberikan saya kesempatan untuk menyampaikan pandangan pribadi berdasarkan pengalaman yang saya peroleh setelah pindah ke Universitas Negeri Malang (UM) satu setengah tahun yang lalu. Saya berharap tulisan ini dapat menjadi titik awal untuk merefleksikan standar program Doktor dalam Pendidikan Kimia secara khusus dan pendidikan pada umumnya, berdasarkan pengalaman saya membaca dan mengevaluasi berbagai tesis dalam bidang pendidikan kimia di UM. Ini merupakan langkah penting dalam mengukuhkan UM sebagai universitas yang menjadi rujukan. Dunia akademis selalu menarik bagi saya, mulai dari eksplorasi dan integrasi hingga aplikasi dan pengajaran, termasuk penelitian akademis dan inovasi di dalamnya.

Dalam konteks penulisan tesis, kontribusi ilmiah yang signifikan adalah pusat untuk menilai pekerjaan akademis. Kemampuan berpikir kritis, familiarisasi mendalam dengan bidang akademik, dan kepatuhan terhadap pedoman etika penelitian adalah komponen penting yang mengevaluasi tesis doktoral. Saya tertarik pada pertanyaan kritis apakah mahasiswa dilengkapi dengan sarana yang diperlukan untuk mengejar penyelesaian tesis mereka secara efektif dan dengan peluang sukses yang tinggi.

Dalam perspektif pribadi ini, saya ingin menyoroti aspek inovasi, aplikasi, dan kontribusi ilmiah dalam penilaian tesis doktoral pendidikan kimia. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, saya berharap tesis yang dihasilkan menjawab tantangan dan peluang yang bertujuan untuk memecahkan masalah praktis sambil memenuhi kriteria kontribusi ilmiah.

2.0 Tesis Doktoral: Inovasi versus Aplikasi

Komentar bahwa tesis hanya menerapkan metode yang sudah ada tanpa mengatasi masalah pendidikan mendasar atau memberikan wawasan ilmiah baru adalah kritik yang sering muncul dalam diskusi akademis, dan penting untuk melihat kualitas tesis doktoral yang dihasilkan oleh institusi pendidikan tinggi di Indonesia.

Saya telah melihat 63 judul tesis doktoral dalam bidang pendidikan dari sebuah universitas di Indonesia (https://pps.unj.ac.id/judul-tesis-dan-disertasi/ yang diakses pada tanggal 26 Desember 2023) dan analisisnya dapat dijabarkan di sini. Berdasarkan analisis frekuensi kata kunci dari judul-judul tesis yang diberikan, saya dapat mengamati bahwa beberapa tema khusus sering muncul, menandakan fokus yang lebih luas dalam penelitian pendidikan. Kata “Pembelajaran” muncul sebanyak 10 kali, menunjukkan bahwa proses pembelajaran merupakan area utama dalam penelitian ini. Sementara itu, “Pengembangan” muncul 15 kali dan “Model” muncul 9 kali, menandakan adanya kecenderungan untuk mengembangkan dan menerapkan model-model yang sudah ada dalam konteks pendidikan yang berbeda.

Kata “Efek” yang muncul 14 kali menunjukkan adanya fokus pada penilaian dampak atau efektivitas dari berbagai intervensi atau program pendidikan. Ini menunjukkan bahwa penelitian tidak hanya berfokus pada penerapan tetapi juga pada pemahaman tentang bagaimana dan mengapa intervensi tertentu berhasil atau tidak.

Dari frekuensi kata “Siswa” yang muncul 8 kali, jelas bahwa subjek utama dari banyak penelitian ini adalah siswa, dengan berbagai studi yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, pengalaman, dan kinerja mereka. Namun, meskipun ada beberapa penelitian yang berfokus pada “Pengembangan” dan “Model”, frekuensi kata-kata ini dibandingkan dengan “Pembelajaran” menunjukkan bahwa mungkin ada kecenderungan yang lebih besar untuk menerapkan dan mengevaluasi aplikasi praktis dari teori dan model yang sudah ada, daripada menciptakan inovasi atau model baru. Ini bisa menunjukkan bahwa dalam konteks ini, penelitian lebih condong ke arah mengoptimalkan dan memahami efektivitas praktik yang sudah mapan daripada mengeksplorasi wilayah baru yang belum dijamah. 

Kesimpulannya, analisis ini menunjukkan bahwa dalam kumpulan judul tesis ini, ada kecenderungan yang lebih besar untuk fokus pada aplikasi praktis dari pendekatan yang sudah ada daripada menciptakan inovasi atau teori baru. Ini menunjukkan pentingnya memahami dan meningkatkan praktik yang sudah ada dalam pendidikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Banyak sarjana berpendapat bahwa riset berkualitas tinggi perlu menerapkan metode baru atau memanfaatkan metode yang sudah ada dan secara signifikan berkontribusi pada tubuh pengetahuan yang ada (Lê & Schmid, 2022). Ini menyoroti pentingnya mengevaluasi aspek inovasi dan aplikasi riset serta kontribusi ilmiahnya. Tinjauan literatur memainkan peran penting dalam menguraikan latar belakang penelitian dan memotivasi penelitian, sehingga mempengaruhi kualitas keseluruhan tesis. Selanjutnya, implementasi praktis hasil ilmiah dan validasi kontribusi tesis terhadap pengetahuan adalah aspek penting yang harus ditunjukkan dalam tesis doktoral. Oleh karena itu, calon doktor harus memastikan bahwa penelitian mereka juga perlu membawa perspektif baru dan berkontribusi untuk memajukan pengetahuan di bidang mereka. 

2.1 Peran Metode yang Sudah Ada dalam Kontribusi Tesis

Memastikan evaluasi menyeluruh terhadap pendekatan tesis dalam mengintegrasikan penelitian teoritis dan empiris adalah krusial. Publikasi terkini mengindikasikan perlunya lebih banyak studi dan penerapan praktis dari temuan ilmiah. Karena itu, tesis harus menjembatani kesenjangan ini dengan menunjukkan aplikasi praktis dari temuannya dan bagaimana hal tersebut relevan dalam konteks pendidikan kimia.

Dalam konteks pendidikan kimia, penting bagi tesis untuk mengeksplorasi studi kasus secara mendalam, membangun dari penelitian yang ada untuk memberikan kontribusi teoretis yang signifikan ke dalam bidang. Hal ini membutuhkan tinjauan literatur yang komprehensif yang tidak hanya menyoroti latar belakang dan motivasi penelitian tetapi juga mempengaruhi kualitas keseluruhan pekerjaan secara signifikan. Lebih lanjut, validasi dari kontribusi tesis terhadap pengetahuan adalah krusial dan harus termanifestasi dalam publikasi yang berasal dari proses penelitian doktoral.

Oleh karena itu, dalam mengevaluasi validitas tesis, sangat penting untuk menilai bagaimana pekerjaan tersebut melampaui penerapan metode yang sudah ada dengan mengatasi masalah pendidikan yang fundamental dan memberikan wawasan ilmiah baru. Evaluasi harus difokuskan pada seberapa jauh tesis menyajikan perspektif baru, mengimplementasikan hasil ilmiah secara praktis, dan berkontribusi pada kemajuan pengetahuan secara keseluruhan.

2.2 Pentingnya Tinjauan Literatur yang Komprehensif

Tinjauan literatur sangat penting dalam menilai kualitas dan dampak pekerjaan penelitian. Ini memberikan gambaran menyeluruh tentang studi yang ada dan menetapkan dasar untuk signifikansi dan relevansi penelitian. Para sarjana menekankan perlunya tinjauan literatur yang sangat baik yang melampaui sekadar ringkasan penelitian sebelumnya dan mengartikulasikan latar belakang penelitian dan motivasi.

Dalam konteks tesis, tinjauan literatur harus menjelajahi tubuh pengetahuan yang ada yang terkait dengan topik penelitian dan menjalin koneksi ke dialog yang lebih besar dalam literatur. Ini yang disebut sebagai tinjauan literatur yang kritis, tidak cukup hanya dengan tinjauan literatur sistematik.

2.3 Mengatasi Masalah Mendasar dalam Pendidikan Kimia

Dalam tesis doktoral, sangat penting untuk menangani masalah-masalah mendasar dalam pendidikan kimia dengan perspektif yang unik terhadap subjek tersebut. Eksplorasi studi kasus dan penerapan kerangka teori harus menyoroti implementasi praktis dari temuan penelitian serta relevansinya dalam konteks pendidikan kimia. Selain itu, tesis harus mempertimbangkan kebutuhan untuk melaksanakan pendidikan kimia yang lebih baik, mengidentifikasi informasi kritis dan relevan, serta mengevaluasi praktik pendidikan kimia saat ini. Pendekatan ini harus memperluas cakupan penelitian dan fokus pada pengembangan masa depan pendidikan kimia.

Selain itu, validasi kontribusi tesis terhadap pengetahuan harus ditekankan dalam mengeksplorasi hubungan positif antara teori dan praktik dalam pendidikan kimia. Ini memerlukan pendekatan penelitian jangka panjang untuk menyelidiki tingkat kematangan dalam mengadopsi dan menggunakan praktik pendidikan kimia secara strategis dan taktis. Ini yang dapat kita sebut sebagai isu saintifik dari penelitian dalam bidang pendidikan kimia. 

Tesis doktoral harus berusaha menjelaskan pendekatan yang paling efektif dan merinci langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola informasi secara akurat, mengurangi duplikasi data, dan menyinkronkan berbagai inisiatif dalam pendidikan kimia. Analisis menyeluruh terhadap masalah-masalah mendasar dalam pendidikan kimia dari sudut pandang disiplin ini akan menunjukkan kontribusi signifikan tesis terhadap pengetahuan.

Dengan menangani masalah-masalah mendasar ini dalam kerangka pendidikan kimia, tesis doktoral dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengetahuan yang ada dan mendukung kemajuan dalam bidang pendidikan kimia.

2.4 Kerangka Teoritis yang Tepat

Untuk mengatasi masalah mendasar dalam pendidikan kimia, mengembangkan kerangka teoritis yang dapat memandu penelitian ilmiah di bidang pendidikan kimia sangat penting. Metode penelitian yang tepat perlu diadopsi untuk memastikan tinjauan literatur yang  kritis dari makalah dan monograf yang relevan. Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka teoritis untuk aktivitas yang terkait dengan penelitian ilmiah di bidang pendidikan kimia. 

Kerangka teoritis adalah struktur konseptual yang digunakan dalam penelitian untuk mengartikulasikan dan menghubungkan konsep-konsep teoritis dengan metode penelitian, membantu dalam merumuskan hipotesis, mendefinisikan variabel, dan menentukan arah studi. Ini berfungsi sebagai fondasi yang mengintegrasikan teori dengan praktek, memastikan bahwa penelitian didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang literatur yang ada dan kontribusi terhadap pengetahuan baru.

Sebagai analogi, kerangka teoritis dapat dibayangkan sebagai cetakan arsitektur untuk membangun rumah. Dalam cetakan ini, setiap ruangan, pintu, dan jendela direpresentasikan dengan tujuan dan hubungan yang jelas, mirip dengan bagaimana kerangka teoritis menghubungkan dan mengatur konsep-konsep dan variabel dalam penelitian. Tanpa cetakan ini, konstruksi rumah mungkin tidak sistematis atau bahkan runtuh karena kurangnya perencanaan dan struktur. Demikian pula, tanpa kerangka teoritis yang kuat, penelitian bisa menjadi tidak terfokus dan tidak efektif, gagal untuk membangun secara sistematis pada pengetahuan yang ada atau memberikan wawasan baru yang berarti.

Kerangka teoritis ini bertujuan untuk mengatasi tidak hanya masalah pendidikan saat ini tetapi juga untuk memberikan wawasan ilmiah baru ke bidang pendidikan kimia. Ini akan menekankan implementasi praktis hasil ilmiah dan validasi kontribusinya terhadap pengetahuan. Selanjutnya, itu akan mengeksplorasi perspektif baru dan pendekatan inovatif untuk memajukan pendidikan kimia, sejalan dengan persyaratan untuk tesis berkualitas tinggi.

2.5 Ukuran Sampel dalam Penelitian Ilmiah

Dalam evaluasi tesis doktoral, satu area yang memerlukan perhatian kritis adalah ukuran sampel dalam penelitian. Pengabaian ukuran sampel merupakan masalah umum dalam banyak studi, di mana peneliti gagal mengakui bagaimana ukuran sampel yang tidak memadai dapat secara signifikan mempengaruhi keandalan dan validitas kesimpulan (Irwin & Huff, 1954). Kesalahan ini tidak hanya mengurangi kualitas penelitian tetapi juga dapat menyesatkan interpretasi dan aplikasi temuan. Dalam konteks ilmiah, di mana keakuratan dan ketelitian adalah kunci, penting bagi peneliti untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip statistik yang tepat, termasuk pertimbangan ukuran sampel yang memadai. Kritik ini menekankan perlunya pendidikan yang lebih baik dan kesadaran yang lebih besar tentang metodologi statistik dalam penelitian ilmiah, memastikan bahwa penelitian yang dihasilkan tidak hanya inovatif dan aplikatif tetapi juga secara metodologis suara dan dapat diandalkan. Oleh karena itu, dalam menilai tesis doktoral, penting untuk mempertimbangkan sejauh mana peneliti telah mengatasi dan memperhitungkan potensi pengabaian ukuran sampel, sebagai bagian dari penilaian mereka terhadap kualitas dan kontribusi ilmiah keseluruhan.

3.0 Kontribusi Ilmiah Tesis Doktoral

Signifikansi kontribusi ilmiah dalam karya tesis doktoral terletak pada potensinya untuk memajukan bidang pendidikan kimia. Dengan mengatasi masalah mendasar dalam pendidikan kimia dalam kerangka pendidikan kimia, tesis dapat secara signifikan berkontribusi pada tubuh pengetahuan yang ada. Kontribusi ini tidak hanya memperkaya literatur akademik tetapi juga membuka jalan bagi inovasi dan aplikasi praktis yang dapat mempengaruhi pengajaran, pembelajaran, dan praktek industri.

Tinjauan literatur yang mendalam dan komprehensif sangat penting dalam menilai kualitas dan dampak pekerjaan penelitian. Dengan menyediakan gambaran menyeluruh tentang studi yang ada dan menjalin koneksi ke dialog yang lebih besar dalam literatur, tinjauan literatur menetapkan dasar untuk signifikansi dan relevansi penelitian. Ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi celah dalam pengetahuan yang ada, menghindari duplikasi pekerjaan, dan membangun pada temuan sebelumnya dengan cara yang inovatif dan bermakna.

3.1 Kompleksitas Pendidikan

Dalam mengevaluasi kualitas pendidikan, khususnya dalam bidang penelitian pendidikan kimia, kompleksitas faktor yang saling terkait menuntut pendekatan holistik untuk mengungkap kontribusi ilmiah dalam memahami interaksi ini. Diskusi mengenai faktor-faktor seperti kualitas guru, kurikulum, rasio siswa-guru, lingkungan belajar, serta dukungan orang tua dan komunitas menjadi sangat penting dan seharusnya menjadi bagian integral dari tesis doktoral. Dengan menuliskan dan mendiskusikan aspek-aspek ini secara terperinci dalam tesis, kontribusi dari penelitian menjadi terlihat dengan jelas, memberikan wawasan baru dan strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Pengaruh faktor-faktor ini tidak sendirian tetapi bervariasi tergantung pada konteks ekonomi, budaya, dan kebijakan pendidikan dari masing-masing sistem pendidikan. Kualitas guru, yang mencakup kualifikasi, pengembangan profesional, pengalaman mengajar, dan keterampilan pedagogik, sering kali menjadi faktor kunci dalam pembelajaran siswa. Kurikulum yang relevan dan komprehensif, bersama dengan rasio siswa-guru yang optimal, memungkinkan instruksi yang lebih personalisasi dan manajemen kelas yang efektif. Lingkungan belajar yang kondusif, kepemimpinan sekolah yang efektif, serta keterlibatan orang tua dan komunitas, semuanya berkontribusi terhadap pengalaman belajar yang kaya dan mendukung.

Selain itu, faktor-faktor seperti status sosioekonomi siswa, sistem penilaian dan umpan balik, serta integrasi teknologi, mempengaruhi cara siswa belajar dan berkembang. Kebijakan dan pendanaan yang memadai juga sangat penting untuk mendukung semua aspek ini. Oleh karena itu, dalam konteks tesis doktoral, penting untuk menggali dan mendiskusikan faktor-faktor ini. Menuliskan ini tidak hanya akan memperkaya kualitas penelitian tetapi juga memperjelas kontribusi ilmiah dari penelitian tersebut terhadap praktik dan kebijakan pendidikan. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi dan menerapkan strategi yang akan secara efektif meningkatkan lingkungan belajar dan hasil pendidikan, serta menyoroti pentingnya penelitian dalam membentuk masa depan pendidikan.

3.2 Pengembangan Kerangka Teoritis

Pengembangan kerangka teoritis untuk pendidikan kimia sangat penting untuk memastikan ketepatan dan kesesuaian metodologi penelitian. Menggunakan metode penelitian yang menekankan tinjauan literatur kritis dari makalah dan monograf yang relevan. Pendekatan ini memungkinkan untuk tinjauan yang komprehensif dan sistematis dari literatur akademik yang ada, menyediakan dorongan teoritis yang diperlukan untuk karya ilmiah dan penyelidikan empiris masa depan dalam pendidikan kimia.

Selanjutnya, metode penelitian memungkinkan eksplorasi studi kasus dan pengembangan kerangka teoritis yang melampaui sekadar menerapkan metode yang sudah ada. Ini memungkinkan untuk mengidentifikasi masalah kritis dalam pendidikan kimia dan mengeksplorasi wawasan ilmiah baru, sejalan dengan persyaratan untuk tesis berkualitas tinggi. Dengan mengadopsi metodologi penelitian ini, tesis dapat membuat kontribusi pengetahuan yang asli dan bermakna untuk pendidikan kimia.

Kerangka teoritis yang dikembangkan untuk aktivitas yang terkait dengan pendidikan kimia harus menekankan implementasi praktis hasil ilmiah. Sangat penting untuk menunjukkan bagaimana temuan dapat diterapkan dalam praktik dan berkontribusi untuk mengelola informasi dan sumber daya secara efektif dalam pendidikan kimia. 

3.3 Ketepatan dan Kesesuaian Metodologi Penelitian

Pemilihan metode penelitian yang tepat, baik kuantitatif maupun kualitatif sangat penting dalam penelitian akademik karena memiliki dampak langsung terhadap relevansi, keandalan, dan signifikansi kontribusi dan kesimpulan yang dihasilkan. Penelitian kuantitatif, dengan fokusnya pada pengukuran numerik dan analisis statistik, sangat cocok untuk menguji hipotesis dan menentukan hubungan antar variabel dengan cara yang objektif dan terukur. Di sisi lain, penelitian kualitatif, seperti grounded theory, memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang fenomena melalui data deskriptif, memungkinkan interpretasi yang lebih kaya dan pemahaman kontekstual dari area studi.

Jika metode penelitian tidak dipilih atau diterapkan dengan tepat, ada risiko bahwa penelitian tidak akan mencapai kedalaman atau keakuratan yang diperlukan untuk membuat kontribusi yang signifikan. Misalnya, penelitian kuantitatif yang diterapkan pada masalah yang memerlukan pemahaman mendalam tentang konteks dan nuansa perilaku manusia mungkin tidak menangkap kompleksitas yang diperlukan, sementara penelitian kualitatif yang diterapkan pada masalah yang memerlukan pengukuran yang tepat dan objektif mungkin tidak memberikan hasil yang dapat diandalkan atau valid.

Dalam konteks pengembangan kerangka teoritis untuk pendidikan kimia, penting untuk memilih metode yang memungkinkan peneliti untuk tidak hanya memahami teori yang ada tetapi juga mengidentifikasi dan mengisi celah dalam pengetahuan. Pendekatan yang dipilih harus memungkinkan untuk analisis kritis literatur yang ada dan pengembangan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana teori dapat diterapkan dan diuji dalam praktik. Dengan demikian, baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif harus dianggap sebagai alat yang saling melengkapi, dengan pemilihan metode yang didasarkan pada pertanyaan penelitian spesifik, sifat data yang tersedia, dan tujuan keseluruhan dari studi tersebut. Ini akan memastikan bahwa tesis tidak hanya mencapai ketelitian akademis tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti dan signifikan terhadap bidang pendidikan kimia.

3.4 Memajukan Teori dan Praktik

Tujuan utama dari tesis ini bukan hanya untuk membuat kontribusi pengetahuan yang asli ke bidang pendidikan kimia, tetapi juga untuk secara kritis menantang dan memperluas batasan pengetahuan yang ada. Dengan menekankan eksplorasi studi kasus dan implementasi praktis hasil ilmiah, tesis ini tidak hanya bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, tetapi juga untuk mengkritisi dan memperbaiki kerangka kerja teoritis yang ada dengan bukti empiris yang kuat.

Kontribusi ilmiah dari tesis tidak hanya signifikan karena potensinya untuk memajukan pendidikan kimia, tetapi juga karena metodologi penelitian yang ketat dan kritis yang digunakan. Kontribusi ini akan divalidasi melalui publikasi peer-reviewed yang tidak hanya menyoroti implikasi praktis, tetapi juga menantang dan memperluas pemahaman teoritis saat ini. Ini menunjukkan komitmen tesis terhadap peningkatan berkelanjutan dalam pendidikan kimia melalui penyelidikan yang ketat dan reflektif.

Metodologi penelitian yang ketat dalam tesis ini bukan hanya penting untuk integritas akademis, tetapi juga sebagai sarana untuk mengeksplorasi dan menantang asumsi yang ada dalam pendidikan kimia. Pendekatan ini memastikan bahwa tesis tidak hanya berkontribusi pada tubuh pengetahuan yang ada, tetapi juga mendorong pemikiran kritis dan inovasi dalam implementasi praktis hasil ilmiah.

Pembenaran kontekstual dalam penelitian ini sangat penting, tidak hanya dalam menetapkan relevansi dan signifikansi studi, tetapi juga dalam menantang status quo pendidikan kimia. Melalui analisis kritis terhadap kesenjangan dan tantangan yang ada, tesis ini berusaha tidak hanya untuk mengidentifikasi masalah, tetapi juga untuk mengusulkan solusi inovatif dan berkelanjutan yang didorong oleh bukti dan refleksi kritis.

Dengan menyajikan kerangka teoritis yang komprehensif dan berbasis bukti, serta mengeksplorasi studi kasus yang relevan, tesis ini tidak hanya menyediakan solusi praktis untuk masalah saat ini dalam pendidikan kimia, tetapi juga menantang pembaca untuk memikirkan kembali dan memperbaiki praktik mereka berdasarkan temuan ini. Ini menunjukkan komitmen tesis terhadap perubahan positif dan berkelanjutan dalam pendidikan kimia.

Selanjutnya, dengan menggabungkan diskusi akademik yang ada dan mensintesis literatur yang relevan, tesis ini tidak hanya berkontribusi pada dialog akademik yang sedang berlangsung, tetapi juga menantang dan memperluasnya. Ini menunjukkan bagaimana pembenaran kontekstual dan pemahaman teoritis yang mendalam dapat mengarah pada rekomendasi praktis dan layak yang memiliki dampak nyata pada pendidikan kimia.

Intinya, pembenaran kontekstual dan metodologi kritis dalam penelitian ini menegaskan bukan hanya keselarasan studi dengan kebutuhan dan tantangan saat ini di bidang, tetapi juga komitmennya untuk memajukan diskursus akademik dan praktik dalam pendidikan kimia. Ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang reflektif dan kritis dalam penelitian akademik, yang tidak hanya mengakui tetapi juga menantang dan memperluas pemahaman kita tentang masalah pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

4.0 Membaca Kritis dan Penilaian Kontribusi Tesis

Membaca kritis dan evaluasi adalah esensial dalam menilai kontribusi tesis doktoral terhadap pengetahuan pendidikan, memfokuskan pada analisis mendalam, identifikasi kekuatan dan kelemahan, serta penilaian terhadap relevansi dan signifikansi karya. Proses ini menekankan pentingnya keaslian, kreativitas, dan relevansi penelitian dalam mengisi celah literatur dan memperluas pemahaman teoritis atau praktis. Evaluasi yang objektif dan konstruktif tidak hanya menilai kualitas tesis tetapi juga mendukung pengembangan akademis dan profesional penulis, memastikan bahwa tesis memberikan kontribusi yang berharga dan memenuhi standar akademis yang tinggi.

4.1 Menilai Dampak Tesis terhadap Praktik Pengajaran dan Pembelajaran

Dampak tesis terhadap praktik pengajaran dan pembelajaran merupakan aspek penting yang memerlukan evaluasi mendalam. Tujuan untuk meningkatkan bidang pendidikan kimia melalui penelitian ini menuntut penelaahan tentang bagaimana hasil penelitian dan kerangka teori dapat memperkaya praktik pengajaran dan pembelajaran dalam bidang tersebut.

Tesis dapat berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendekatan pedagogis dan pengembangan kurikulum dengan menawarkan solusi praktis atas tantangan yang ada dalam pendidikan kimia. Kerangka teori yang dibangun dari penelitian akademik yang kokoh dapat menjadi panduan bagi pendidik dan pengelola dalam meningkatkan strategi pengajaran untuk mengimplementasikan kurikulum pendidikan kimia secara efektif.

Lebih lanjut, dengan mengeksplorasi studi kasus dan mengintegrasikan diskusi akademik yang ada dalam tesis, wawasan yang diperoleh dapat memberikan informasi berharga untuk metodologi instruksional dan memfasilitasi integrasi rekomendasi yang praktis dan aplikatif ke dalam praktik pengajaran. Kesesuaian ini dengan kebutuhan praktis institusi pendidikan menunjukkan dampak potensial tesis dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran.

4.2 Peran Tesis dalam Mengusulkan Kerangka untuk Penelitian Masa Depan

Kerangka untuk penelitian masa depan tidak boleh diremehkan. Penelitian pendidikan kimia bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik dalam pendidikan kimia, secara inheren menetapkan panggung untuk eksplorasi ilmiah dan penyelidikan empiris lebih lanjut.

Tesis memicu upaya penelitian masa depan dengan meletakkan dasar untuk pemahaman yang komprehensif tentang landasan teoritis dan implikasi praktis dari bidang tersebut. Tinjauan literatur kritisnya, yang mengambil dari studi yang dikenal dengan baik dan debat akademik, tidak hanya menambah tubuh pengetahuan yang ada tetapi juga menguraikan arah potensial untuk penelitian lebih lanjut.

Dengan mengusulkan kerangka teoritis yang didukung oleh penelitian akademik, ini membuka jalan bagi peneliti masa depan untuk menyelami lebih dalam kompleksitas pendidikan kimia dan  dalam ranah pendidikan kimia. Mengidentifikasi kesenjangan dan tantangan melalui pembenaran kontekstual dan solusi praktis yang disajikan menekankan peran tesis dalam menginspirasi dan membimbing inisiatif penelitian masa depan. 

Kesimpulannya, peran penting dari tesis doktoral dalam mengusulkan kerangka kerja untuk penelitian masa depan terletak pada kemampuannya untuk menginformasikan dan menginspirasi upaya ilmiah selanjutnya, mendorong kemajuan dan inovasi yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan kimia. Hal ini menegaskan bahwa sifat dari penelitian ilmiah yang baik adalah berpengaruh untuk penelitian selanjutnya, tidak berhenti sampai disitu.

4.3 Pembenaran Kontekstual dalam Penelitian Akademik

Pembenaran kontekstual sangat penting dalam penelitian akademik untuk memastikan studi mengatasi masalah kritis dalam bidang yang relevan dan memberikan kontribusi substansial terhadap basis pengetahuan yang ada. Dalam pendidikan, signifikansi tesis doktoral harus dibenarkan dalam pendidikan kimia. Ini melibatkan mengartikulasikan dengan jelas bagaimana penelitian mengisi kesenjangan pengetahuan yang ada dan memberikan wawasan bermakna yang dapat menginformasikan proses pengambilan keputusan di bidang pendidikan kimia. Tesis dapat menegaskan relevansi dan kontribusi ilmiahnya kepada komunitas akademik dengan menyediakan pembenaran kontekstual yang menyeluruh.

5.0 Kualitas Tesis Doktoral

Kualitas tesis doktoral dalam penelitian akademik esensialnya terukur dari kemampuannya menghasilkan pengetahuan baru dan menyajikan perspektif inovatif. Pentingnya tesis dalam penelitian akademik terletak pada kontribusinya dalam memajukan pengetahuan di bidang tertentu, dengan tujuan menyediakan wawasan berharga dan solusi praktis, terutama dalam tantangan yang dihadapi oleh pendidikan kimia. Namun, seringkali kualitas disertasi doktor dalam Pendidikan Kimia terhambat oleh kurangnya inovasi, aplikasi yang tidak signifikan, dan kontribusi ilmiah yang minimal. Faktor-faktor ini, seperti fokus berlebih pada teori yang ada, kurangnya sumber daya, atau bimbingan yang tidak memadai, menghasilkan penelitian yang repetitif dan tidak memberikan solusi atau wawasan baru yang berarti. Aplikasi teori yang minim dan tidak signifikan juga menunjukkan kurangnya pemahaman mendalam atau keterampilan aplikatif, sehingga mengurangi dampak dan relevansi penelitian.

Untuk mengatasi masalah ini, tesis harus berfokus pada metode penelitian yang mengandalkan tinjauan literatur yang kritis, mengeksplorasi kompleksitas bidang dengan menyajikan kerangka teoritis yang kokoh dan berakar pada literatur akademik yang relevan. Pendekatan ini harus memenuhi standar ilmiah untuk penelitian yang komprehensif dan menganggap tesis sebagai kontribusi penting dalam bidang pendidikan kimia. Penekanan pada studi kasus dan aplikasi praktis dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, memberikan nilai tambah pada diskusi akademik dan praktis dalam pendidikan kimia.

Secara keseluruhan, nilai dari penelitian akademik terletak pada kemampuannya untuk memperkaya korpus pengetahuan yang ada, menyediakan rekomendasi praktis, dan memajukan pemahaman tentang pendidikan kimia. Tesis yang kuat harus mengakui pentingnya pembenaran kontekstual dan menegaskan kebutuhan akan penelitian akademik yang mendalam, yang tidak hanya mengatasi tantangan nyata tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam memajukan bidang tersebut. Dengan demikian, peningkatan kualitas disertasi doktoral tidak hanya menguntungkan individu peneliti tetapi juga memperkaya keseluruhan bidang pendidikan kimia.

6.0 Rekomendasi

Untuk meningkatkan kualitas program pendidikan doktor di bidang pendidikan kimia, terdapat serangkaian langkah strategis yang perlu diperhatikan secara serius. (1) Integrasi inovasi dan aplikasi praktis: Mahasiswa harus didorong untuk mengintegrasikan inovasi dalam penelitian mereka dan menerapkan hasil penelitian dalam konteks praktis, sehingga penelitian tidak hanya berhenti pada teori tetapi juga memberikan solusi praktis. (2) Tinjauan literatur yang komprehensif dan kritis: Mahasiswa diharapkan melakukan tinjauan literatur yang mendalam dan komprehensif untuk membangun pemahaman yang kuat tentang teori dan penelitian yang ada, sehingga dapat mengidentifikasi celah pengetahuan yang masih terbuka. (3) Metodologi yang tepat: Pemilihan dan penerapan metodologi penelitian yang tepat dan sesuai dengan pertanyaan penelitian merupakan hal krusial untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. (4) Pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis: Mahasiswa harus terus menerus didorong untuk mengasah keterampilan berpikir kritis dan analitis, yang merupakan pondasi penting dalam melakukan penelitian ilmiah. (5) Pendekatan interdisipliner: Adopsi pendekatan interdisipliner dalam penelitian sangat dianjurkan untuk memperkaya perspektif dan meningkatkan kualitas penelitian. (6) Kolaborasi antar-disiplin: Kolaborasi antar-disiplin perlu ditingkatkan untuk memperluas dampak dan meningkatkan validitas penelitian. (7) Evaluasi berbasis kompetensi: Evaluasi tesis harus berfokus pada pengembangan kompetensi profesional dan akademik mahasiswa, mencakup pengetahuan spesifik, keterampilan, dan sikap. (8) Pemanfaatan teknologi dan alat digital: Penggunaan teknologi dan alat digital dalam penelitian harus ditingkatkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penelitian. (9) Pendorong kreativitas dan inovasi: Lingkungan akademik yang mendukung kreativitas dan inovasi sangat penting untuk mendorong mahasiswa mengambil risiko intelektual dan mengeksplorasi ide-ide baru. (10) Lingkungan Akademik yang mendukung: Pembangunan lingkungan akademik yang mendukung merupakan kunci untuk membantu mahasiswa berkembang sebagai peneliti dan profesional yang kompeten. Implementasi dari langkah-langkah ini diharapkan dapat memajukan pengetahuan, mendorong inovasi, dan mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin dan kontributor yang signifikan dalam bidang pendidikan kimia.

Referensi

Lê, J. K., & Schmid, T. (2022). The Practice of Innovating Research Methods. Organizational Research Methods, 25(2), 308-336. https://doi.org/10.1177/1094428120935498

J O., & Huff, D. (1954). How to Lie with Statistics. Journal of the Royal Statistical Society, 117(4), 496-496. https://doi.org/10.2307/2342700

Noam Chomsky – Tentang menjadi orang yang benar-benar terdidik

Ini adalah terjemahan dari video Noah Chomsky di YouTube mengenai penjelasan beliau menjadi orang yang benar-benar terdidik (on being truly educated). Kunci untuk menjadi terdidik adalah kemampuan untuk bertanya.

Nama saya Noam Chomsky, saya seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology tempat saya bekerja selama 65 tahun. Saya kira saya tidak bisa berbuat lebih baik untuk menjawab pertanyaan tentang apa artinya menjadi benar-benar terdidik daripada kembali ke beberapa pandangan klasik tentang masalah ini. Misalnya, perhatikan pandangan yang diungkapkan oleh pendiri sistem pendidikan tinggi modern, Wilhelm von Humboldt, seorang tokoh humanis yang tercerahkan, yang banyak menulis tentang pendidikan dan pembangunan manusia dan berpendapat, menurut saya, dengan sangat masuk akal, bahwa prinsip dan kondisi utama yang yang harus dipenuhi adalah: terpenuhinya kemampuan manusia untuk bertanya dan berkreasi secara mandiri tanpa kontrol dari luar.

Untuk beralih ke rekan modern, seorang fisikawan terkenal yang berbicara di sini [di MIT], biasa memberi tahu kelasnya bahwa tidak penting apa pun yang kita bicarakan di kelas, tetapi yang lebih penting yaitu apa yang Anda temukan.

Untuk benar-benar dididik dari sudut pandang ini berarti berada dalam posisi untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan sumber daya yang tersedia bagi Anda yang telah Anda pahami. Untuk mengetahui di mana mencarinya, untuk mengetahui bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan serius, untuk mempertanyakan doktrin standar bila perlu, untuk menemukan jalan Anda sendiri, untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang layak untuk dikejar, dan untuk mengembangkan sebuah jalan untuk mengejarnya. Ini berarti mengetahui, memahami banyak hal tetapi juga, jauh lebih penting daripada apa yang Anda ingat, mengetahui di mana mencarinya, bagaimana mencari, bagaimana bertanya, bagaimana menantang, bagaimana melangkah dengan bebas, menghadapi tantangan. yang diberikan dunia kepada Anda dan yang Anda kembangkan dalam proses pendidikan, penelitian, dan penyelidikan Anda sendiri, dengan kerja sama dan solidaritas dengan orang lain. Itulah yang perlu dikembangkan oleh sistem pendidikan dari prasekolah hingga sekolah siswa, dan terkadang, dan ini mengarah pada orang-orang yang, setidaknya menurut standar saya, berpendidikan tinggi.

Fakta literasi di Indonesia

Di Indonesia, minat baca sangat rendah dengan UNESCO menempatkan negara ini hampir di dasar peringkat literasi dunia. Ironisnya, orang Indonesia dikenal sebagai pengguna gadget yang rajin, menghabiskan hingga 9 jam sehari menatap layar. Jakarta bahkan menjadi kota paling cerewet di Twitter. Situasi ini menyebabkan penyebaran informasi palsu menjadi lebih mudah, terutama karena masyarakat lebih sering mendapat informasi dari media sosial daripada sumber yang kredibel.

“Di Indonesia, buku sudah seperti benda langka di museum, digunakan lebih sering untuk menyokong meja yang tidak stabil daripada dibaca. Orang-orangnya champion dalam olahraga men-swipe di smartphone, sampai-sampai buku terasa seperti menu spesial yang hanya keluar saat hari raya. Media sosial jadi santapan utama, sedangkan buku? Ah, itu hanya hidangan penutup yang terlupakan. Kita begitu lincah ber-swipe dan menekan ‘like’ sampai-sampai jari-jari mungkin butuh spa khusus! Dan di negeri di mana hoax lebih cepat menyebar daripada kabar angin, ‘filter hoaks’ jadi lebih penting dari filter wajah di Instagram. Inilah Indonesiaku, di mana jari lebih cepat dari pada otak, dan Twitter lebih ramai dari pasar!”

Prestasi semu dan etika akademis

Dalam hiruk pikuk dunia akademis yang penuh dengan pencarian ilmu dan kejaran prestasi semu, seringkali kita terjebak dalam pusaran kompetisi yang tak kenal ampun, yang seringkali kehilangan makna. Di sini, di ruang-ruang kelas dan laboratorium, di perpustakaan-perpustakaan yang sunyi, kita berlomba, berusaha menunjukkan yang terbaik, seringkali tanpa menyadari bahwa ada sesuatu yang terlupakan, sesuatu yang terabaikan.

Di grup WA guru besar Universitas Negeri Malang (UM), saya sengaja mengirimkan buku karya Edward Shils yang berjudul ‘Etika Akademis‘ (yang boleh dibaca dari Google Drive ini) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diberi pengantar oleh Parsudi Suparlan. Buku lama yang sudah menguning ini telah saya bawa merantau lebih dari 20 tahun. Etika akademis, sebuah pilar penting yang seharusnya menjadi fondasi dalam dunia pendidikan, terkadang terpinggirkan dan dilupakan karena dunia pendidikan yang yang terbelenggu dengan sistem yang tidak mendorong etika akademis. Kita lupa bahwa ilmu yang kita kejar bukan hanya untuk pamer kecerdasan, pamer kehebatan, pamer prestasi semu atau untuk meraih gelar. Ilmu adalah amanah, dan dengan itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.

Namun, dalam dunia yang serba cepat dan terbuka ini, di mana segalanya diukur dengan hasil dan pencapaian, etika akademis seringkali tergeser dan diletakkan ke sudut ruangan tanpa pernah dilihat. Plagiarisme, membuat riset abal-abal, kecurangan, menukangi data untuk pemeringkatan, akal bulus dalam membuat publikasi ilmiah, dan ketidakjujuran lainnya menjadi isu yang sering terdengar, adalah hal yang sering terdengar dan terlihat jelas di dunia akademis yang seharusnya suci dan penuh integritas.

Di tengah semua ini, mengingat hakikat pendidikan dan kembali kepada hakikat tersebut adalah penting. Ki Hajar Dewantara, sebagai pelopor dan tokoh pendidikan di Indonesia, memandang pendidikan sebagai alat pembebasan yang esensial, bertujuan untuk mengembangkan potensi unik setiap individu dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial yang bertanggung jawab. Beliau menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang demokratis, di mana guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator, bukan penguasa. Pendidikan, menurut beliau, harus berakar pada budaya lokal dan nasional, mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan keterampilan hidup, sehingga membentuk warga negara yang baik dan berkontribusi positif terhadap masyarakat dan bangsa.

Dengan mengingat hakikat pendidikan, kita diajak untuk merenung, “Untuk apa semua ilmu ini jika tidak digunakan dengan benar? Untuk apa semua pencapaian ini jika tidak dibarengi dengan integritas?” Mengingat hakikat pendidikan mengajak kita untuk kembali pada esensi sejati pendidikan, yaitu pembentukan karakter dan integritas, bukan sekadar pengejaran prestasi semata. Apalagi prestasi semu yang dibungkus dengan angka-angka yang kehilangan makna.

Jadi, dalam dunia akademis yang penuh tantangan ini, mari kita jadikan etika akademis sebagai kompas yang mengarahkan kita. Mari kita ingat bahwa ilmu adalah amanah, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab. Dan di atas segalanya, mari kita ingat hakikat pendidikan, sebagai pengingat bahwa yang abadi hanyalah amal perbuatan dan integritas kita.

Dengan demikian, kita akan hidup dengan lebih bermakna, lebih bijaksana, dan tentunya, lebih manusiawi. Sudah tentu. Tapi darimana kita memulai untuk mengubah ini? Apakah dari diri sendiri yang terbelenggu ini? Pikirkan dan renungkan.

Empat pilar pendidikan

Polan adalah seorang anak desa yang sangat penasaran. Dia selalu ingin tahu apa yang ada di luar desanya. Suatu hari, Polan memutuskan untuk menjadi penjelajah. Dia bermimpi menemukan harta karun yang tersembunyi di sebuah pulau terpencil.

Polan mulai dengan menghabiskan waktu di perpustakaan desa, membaca buku tentang peta dan kompas. Dia bahkan mencoba membuat peta sendiri dengan menggambar garis-garis acak di atas kertas. Hasilnya? Sebuah peta yang tampak seperti spaghetti yang berantakan!

Polan kemudian memutuskan untuk berlatih di lapangan. Dia berjalan-jalan di hutan di sekitar desa dengan kompas dan peta buatannya. Sayangnya, peta tersebut tidak membantunya sama sekali. Polan tersesat dan berakhir di kebun tetangganya, Pak Joko, yang sedang marah karena Polan menginjak tanaman cabainya.

Polan tahu bahwa dia tidak bisa melakukan ini sendiri. Dia meminta bantuan teman-temannya, Dodi dan Siti, untuk bergabung dalam petualangannya. Mereka berlatih bersama, berbagi tugas, dan saling mendukung. Mereka bahkan membuat klub penjelajah dengan nama “Tim Jelajah Seribu Pulau” yang hanya memiliki tiga anggota.

Suatu hari, mereka memutuskan untuk mencari harta karun di sebuah pulau terpencil. Mereka menyewa perahu kecil dan berlayar ke pulau tersebut. Sayangnya, mereka lupa membawa peta dan kompas. Mereka tersesat di laut dan berakhir di sebuah pulau yang penuh dengan monyet lucu yang suka mencuri makanan mereka.

Polan dan teman-temannya akhirnya menyadari bahwa menjadi penjelajah bukan hanya tentang mencari harta karun, tetapi juga tentang menemukan diri sendiri dan bersenang-senang bersama teman-teman. Mereka kembali ke desa dengan tangan kosong, tetapi dengan hati yang penuh kebahagiaan dan kenangan yang tak terlupakan.

Dan begitulah kisah Polan dan teman-temannya dalam petualangan mereka yang penuh kekonyolan dan tawa. Meskipun mereka tidak menemukan harta karun, mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga: persahabatan dan pengalaman yang tak ternilai harganya.

Dalam petualangan mereka yang penuh kekonyolan dan tawa, Polan dan teman-temannya sebenarnya telah mengalami keempat pilar UNESCO. Mereka mempraktikkan Learning to Know (Learning to Learn) saat mereka mencari informasi dan memahaminya, seperti saat Polan membaca buku tentang peta dan kompas di perpustakaan desa. Mereka mengaplikasikan Learning to Do saat mereka mempraktikkan keterampilan yang mereka pelajari, seperti saat Polan berjalan-jalan di hutan dengan kompas dan peta buatannya. Mereka mengalami Learning to Live Together, Learn to Live with Others saat mereka bekerja sama dengan teman-teman mereka, berbagi tugas, dan saling mendukung dalam petualangan mereka. Dan akhirnya, mereka menemukan Learning to Be saat mereka menemukan diri mereka sendiri dan bersenang-senang bersama teman-teman dalam petualangan mereka. Meskipun mereka tidak menemukan harta karun yang mereka cari, mereka menemukan harta yang lebih berharga: pengetahuan, keterampilan, persahabatan, dan pengalaman yang akan mereka kenang seumur hidup.

Ironi mahasiswa pascasarjana

Pendidikan pascasarjana mengalami transformasi seiring berjalannya waktu dan persaingan global yang semakin meningkat. Penting untuk menyoroti beberapa realitas yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana dan menekankan pentingnya mencari keseimbangan antara tujuan pendidikan dan tuntutan yang mungkin menyimpang dari esensi pendidikan, yaitu mendidik, mencerdaskan, dan membawa kebahagiaan.

Salah satu realitas yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana adalah tekanan untuk mempublikasikan makalah di jurnal internasional bergengsi, yang seringkali memerlukan biaya APC yang tinggi. Prestasi dalam publikasi makalah memang penting, tetapi perlu diingat bahwa tujuan utama pendidikan adalah menciptakan pemikiran kritis dan inovasi.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, cepat lulus dan menjadi lulusan tercepat dan termuda mungkin dianggap sebagai pencapaian. Namun, hal ini seharusnya tidak mengesampingkan proses belajar yang mendalam dan berkualitas.

Kemandirian dan proaktivitas dalam mencari kesempatan magang di universitas terkemuka di luar negeri menjadi salah satu tuntutan yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana. Meskipun magang dapat meningkatkan harga diri dan memperluas wawasan, mahasiswa perlu mempertimbangkan keseimbangan antara biaya dan manfaat yang diperoleh.

Beberapa mahasiswa pascasarjana mungkin fokus pada strategi peningkatan H-indeks, seperti saling sitasi dan salami slicing. Meskipun strategi ini dapat meningkatkan citra akademis, penting untuk tidak mengabaikan substansi dan integritas penelitian.

Fokus pada penelitian dan dukungan terhadap mahasiswa dalam mengenal dunia penelitian memang penting. Akan tetapi, pendidikan bukan hanya tentang penelitian semata, melainkan juga pengembangan karakter dan keterampilan interpersonal.

Penting bagi mahasiswa pascasarjana (dan juga dosennya!) untuk menemukan keseimbangan antara tujuan pendidikan dan tuntutan dunia. Fokus pada esensi pendidikan, seperti pemikiran kritis, inovasi, dan pengembangan karakter, akan membantu menciptakan generasi yang berkualitas, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Menyeimbangkan tujuan pendidikan dan tuntutan perguruan tinggi penting bagi mahasiswa pascasarjana demi menciptakan generasi berkualitas.

Cintailah ilmu pengetahuan

Tahu nggak, saat jatuh cinta, kita ingin berbagi kebahagiaan? Begitu juga saat jatuh cinta pada ilmu pengetahuan! Ayo, bangkitkan semangat belajar di komunitas ilmiah, khususnya mahasiswa. Sebagai dosen, berbagi pengetahuan bukan hanya tugas, tapi juga kebahagiaan. Di situs saya yang berisi kuliah yang saya ajar, saya ingin tunjukkan betapa menikmati berbagi ilmu. Semua demi cinta belajar dan perubahan bersama!

Saya pernah membaca pernyataan dari Carl Sagan yang mengatakan, “Tidak menjelaskan ilmu pengetahuan rasanya aneh bagi saya. Ketika Anda jatuh cinta, Anda ingin memberitahu dunia.” Pernyataan ini menyampaikan apresiasi mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan pentingnya berbagi penemuan serta keajaiban ilmu dengan orang lain. Pernyataan ini menggambarkan analogi antara hasrat akan ilmu pengetahuan dengan perasaan cinta, dan menekankan keinginan untuk menyebarkan antusiasme tersebut. Inilah yang perlu kita tanamkan pada masyarakat ilmiah, khususnya mahasiswa, terlebih bagi saya pribadi yang berprofesi sebagai seorang dosen.

Ilmu pengetahuan, sebagai pendekatan sistematis untuk memahami dunia alam, memiliki dampak yang mendalam pada kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan bertanggung jawab atas banyak kemajuan dan inovasi yang telah membentuk dunia modern. Bagi beberapa orang, tidak membagikan pengetahuan dan penemuan ilmiah dapat dianggap sebagai ketidakadilan atau bahkan penghinaan terhadap pencarian kemajuan kolektif.

Perbandingan dengan jatuh cinta menunjukkan bahwa hasrat akan ilmu pengetahuan bisa seintensif dan personal seperti cinta romantis. Ketika orang jatuh cinta, mereka sering merasa terdorong untuk berbagi kebahagiaan dan pengalaman mereka dengan orang lain, karena ini adalah pengalaman yang mendalam dan transformatif. Demikian pula, kegembiraan dan kepuasan yang didapat dari eksplorasi ilmiah dapat menginspirasi keinginan untuk berbagi pengetahuan dengan dunia.

Dengan menyebarkan pengetahuan ilmiah, kita tidak hanya meningkatkan pemahaman kolektif tentang alam semesta tetapi juga menginspirasi rasa ingin tahu dan hasrat pada orang lain. Hal ini dapat menyebabkan efek berantai, di mana lebih banyak orang terlibat dengan ilmu pengetahuan, berkontribusi pada kemajuannya, dan terus berbagi penemuan.

Selain itu, menjelaskan ilmu pengetahuan kepada orang lain dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman dan mempromosikan pengambilan keputusan berdasarkan bukti. Hal ini sangat penting di dunia saat ini, di mana informasi yang salah dapat menyebar dengan cepat, dan pemahaman publik tentang konsep ilmiah dapat memiliki konsekuensi signifikan bagi kebijakan dan kesejahteraan sosial.

Singkatnya, perasaan yang diungkapkan dalam pernyataan tersebut menekankan pentingnya berbagi pengetahuan ilmiah dan memupuk cinta untuk ilmu pengetahuan dalam masyarakat. Sama seperti orang ingin berbagi cinta dengan orang lain, para pendukung ilmu pengetahuan yang bersemangat harus merasa terdorong untuk menjelaskan dan mempromosikan pemahaman ilmiah demi kebaikan umat manusia dan kemajuan.