Menurut akal sehat saya, esensi dari pencitraan, yaitu branding yang berlebih-lebihan, adalah ketidakjujuran. Seringkali pencitraan yang dilakukan oleh organisasi sampai individu sebenarnya memoles sesuatu menjadi lebih menarik, lebih hebat, lebih fenomenal, lebih cerdas, lebih sederhana, lebih kaya, lebih cantik segala hal yang tujuannya melebih-lebihkan. dalam arti kata, ada faktor ketidakjujuran dalam pencitraan. Hal ini seringkali kita perhatikan di media sosial, sepertinya ada sesuatu yang ditutup-tutupi dari ketidakjujuran tersebut.
Jujurlah pada diri sendiri, jujurlah pada kehidupan. Dengan begitu, hidup ini akan lebih nyaman untuk dijalani.
Salah satu gambar yang saya suka dari buku “55 Mutiara Akhlak” oleh Vbi Djenggotten (nama pena dari Veby Wibawa). Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata. Seringkali kita tertipu dan menyangka orang pandai merangkai kata-kata adalah orang yang berilmu dan pandai bekerja. Orang ini boleh jadi pandai berpolitik — mempengaruhi banyak orang untuk mengejar kekuasaan.
Saya sering melihat perdebatan, dan saya selalu menghindari perdebatan, terutama dengan orang bodoh. Kebodohan adalah kurangnya pemahaman, alasan, atau kecerdasan. Orang-orang bodoh inilah yang selalu saya lihat dalam perdebatan. Di bawah ini adalah dua pertimbangan yang membuat saya selalu menghindari perdebatan.
Gagal paham jika berdebat dengan orang bodoh
قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي
Artinya, “Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya.”
Ucapan Imam Syafi’i ini dikutip dari Mafahim Yajibu an Tushahhah karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 340. Kutipan ini diangkat oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki ketika membahas masalah maulid di tengah segelintir orang yang ngotot membid’ahkan peringatan maulid karena gagal paham. Gagal paham seperti ini yang membuat diskusi sering kali tidak bersambung antara orang yang berdebat karena masing-masing bicara hal yang lain. Gagal paham inilah yang membuat perdebatan hanya menghasilkan kelelahan untuk orang yang berdebat dan juga orang yang menyaksikan perdebatan.
Jangan buktikan kehebatanmu
Balapan antara cheetah dan anjing pada bulan Desember 1937 di Stadion Romford London. Cheetah hanya diam. Foto ini tidak menggambarkan peristiwa yang sebenarnya dimana cheetah menang dalam balapan.
Mana yang lebih cepat, anjing atau cheetah? Tapi cheetah tidak bergerak. Lalu mereka bertanya kepada koordinator lomba, apa yang terjadi? Dia mengatakan bahwa terkadang mencoba membuktikan bahwa Anda yang terbaik adalah suatu penghinaan. Hal ini yang berlaku pada cheetah yang tidak perlu membuktikan bahwa sebenarnya dia adalah yang tercepat.
Refleksi filosofis
Pandangan yang menyatakan jangan berdebat dengan orang bodoh juga dapat dikaitkan dengan pemikiran Socrates dan Laozi yang menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola diskusi serta kesadaran diri.
Socrates, dalam dialog-dialognya yang dicatat oleh Plato, sering kali menekankan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah soal menang atau kalah dalam perdebatan, melainkan kesediaan untuk mencari kebenaran dan memahami ketidaktahuan. Socrates menyatakan bahwa “Kebijaksanaan sejati datang kepada manusia saat ia menyadari betapa sedikitnya yang ia ketahui.” Sikap ini mengajarkan kita untuk menghindari perdebatan sia-sia dengan orang yang tidak mencari kebenaran, melainkan sekadar ingin menang atau mempertahankan opini mereka tanpa dasar yang kuat.
Di sisi lain, filsuf Taois Laozi dalam Tao Te Ching mengatakan, “Orang yang tahu tidak berbicara; orang yang berbicara tidak tahu.” Ungkapan ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali terletak dalam keheningan, dan terkadang, menghindari perdebatan adalah tindakan yang menunjukkan pengendalian diri dan pemahaman yang mendalam. Laozi juga menegaskan pentingnya tidak membuktikan superioritas secara berlebihan, sebagaimana dikatakan, “Mereka yang berusaha untuk tampil hebat jarang mendapatkan pengakuan yang tulus.”
Kedua pandangan ini menegaskan bahwa kebijaksanaan dalam mengelola diri, tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak bermakna, dan menahan diri dari pembuktian yang tidak perlu adalah bentuk penghormatan terhadap pemahaman diri dan kebenaran.
Saya pernah berbincang-bincang dengan seseorang yang dianggap mempunyai prestasi yang luar biasa. Beliau bercerita bagaimana perjuangan hidup dan juga kegigihannya dalam mengejar prestasi dunia tanpa pernah lelah. Semua serba cepat, dan kadang-kadang prestasi yang dicapai tersebut terlihat tidak masuk akal, sehingga sebagai orang nomal saya bertanya, bagaimana mungkin? patutkah? apakah tidak overheating? Di bawah ini ada dua cara pandang hidup yang dapat menjadi pertimbangan untuk diamalkan, yaitu konsep hidup lambat dan hidup sederhana. Konsep ini hadir sebagai konsekuensi negatif dari gaya hidup materialistis (economic materialism). Penelitian mengenai korelasi antara materialisme dan ketidakbahagiaan menemukan bahwa peningkatan kekayaan materi dan barang-barang tidak banyak berpengaruh pada kesejahteraan dan kebahagiaan.
Konsep hidup lambat mengacu pada gaya hidup yang mendorong pendekatan yang lebih lambat terhadap aspek kehidupan sehari-hari. Ini telah didefinisikan sebagai tindakan lambat atau santai. Ini dimulai di Italia dengan gerakan makanan lambat, yang menekankan teknik produksi makanan tradisional dalam menanggapi munculnya makanan cepat saji selama tahun 1980-an dan 1990-an. Lingkungan yang bergerak cepat dilihat sebagai alam yang kacau, sementara gagasan kehidupan yang lambat menyiratkan bahwa orang dapat lebih menikmati hidup dan lebih sadar akan isyarat sensorik.
Konsep hidup sederhana mencakup sejumlah praktek menyederhanakan gaya hidup. Ini termasuk, misalnya, mengurangi kepemilikan harta benda, seperti paham minimalisme. Hidup sederhana dapat dicirikan oleh kepuasan dengan apa yang kita miliki dan menjauhkan diri dari keserakahan. Hidup sederhana berbeda dengan hidup dalam kemiskinan. Ini adalah gaya hidup yang dilakukan dengan sukarela.
Salah satu hewan yang menjadi referensi dalam konsep hidup lambat adalah Sloth. Sloth adalah hewan yang bergerak dengan gerakan lambat dan memiliki banyak hal tentang memperlambat, mengambil sesuatu dengan mudah dan tersenyum, bahkan ketika melalui masa-masa sulit.
Memperlambat hidup dapat menginspirasi kita untuk menyederhanakan kehidupan. Kesederhanaan, antara lain, berarti menghargai hal-hal apa adanya – tanpa drama dan berpura-pura. Kita mungkin mulai menerima dan menghargai ketidaksempurnaan kita, dan mampu melihat keindahan melaluinya. Dengan kesadaran ini, kita dapat melihat dan menikmati hubungan kita dengan dunia yang lebih luas. Kita berjalan tanpa alas kaki atau berbaring dan bernapas dalam-dalam sambil menatap birunya langit dengan tujuan menghargai hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kita memanfaatkan dan menghormati perasaan kita. Kesederhanaan adalah kunci hati yang sebenarnya. Hati adalah kunci kebebasan yang sejati. Semoga kita dapat menjadi orang yang betul-betul merdeka!
Mungkin ada yang bertanya, berapa lama saya membaca dan menilai sebuah tesis Ph.D.? Sejak tahun 2008, saya telah menilai puluhan tesis mahasiswa Ph.D. dari berbagai universitas di Malaysia, Indonesia, India dan Kanada. Dulu saya memerlukan waktu yang agak lama untuk membaca dan menilai, namun sekarang cukup 1-2 hari saya sudah dapat melihat kelebihan dan kelemahan dari tesis yang dinilai, dan langsung bisa menuliskan rekomendasi.
Mungkin karena pengalaman saya membimbing lebih dari tiga puluh mahasiswa Ph.D., dan menilai ratusan proposal dan artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, baik sebagai penilai dan editor, tanpa disadari kemampuan analisis saya menjadi lebih terasah. Disamping itu, saya juga terbiasa berdiskusi dengan mahasiswa, mungkin hampir setiap hari (ketika suatu waktu dahulu, mahasiswa Ph.D. yang sampai bimbing jumlahnya belasan orang). Secara tidak sadar saya menerapkan metode Sacrotes dalam karir saya sebagai peneliti. Metode Socrates adalah suatu bentuk dialog argumentatif kooperatif berdasarkan bertanya dan menjawab pertanyaan untuk merangsang pemikiran kritis dan untuk menarik ide yang mendasarinya.
Walaubagaimanapun, dengan meningkatnya umur, kemampuan fisikal saya sudah mulai berkurang. Sudah tidak kuat lagi begadang menyelesaikan pekerjaan. Ini hukum alam, sunnatullah.
Mengetahui dan mempelajari sejarah penting untuk mengetahui makna dan hikmah kehidupan. Yang terpenting adalah, jangan menyesali apa yang telah terjadi. Jangan selalu mengandalkan skenario “bagaimana jika”. Ini dikenal sebagai sejarah alternatif. Saya tidak pernah berpikir saya akan tinggal di luar negeri begitu lama, 2.5 tahun di Jepang dan 24 tahun Malaysia. Saya juga tidak menyangka pada tahun 2010 saya menjadi profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan akhirnya kembali ke Indonesia sebagai profesor di Universitas Negeri Malang (UM) tahun ini. Di masa lalu, semua ini gaib. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Dalam kasus saya, masa depan tidak bisa diduga. Itulah sebabnya kita harus percaya pada yang gaib, percaya pada qada dan qadar.
Ini adalah majalah yang saya beli mengenai sejarah alternatif.
Di bawah ini adalah tulisan yang menarik, yang saya dapat di internet, yang berkaitan dengan apa yang telah terjadi. Tulisan ini telah edit.
Di dunia ini, semua benda bergerak di zona waktunya masing-masing.
Beberapa masih lajang.
Ada pernikahan yang menghabiskan biaya mahal, sebulan sudah berpisah.
Ada yang sudah menikah selama 10 tahun tetapi masih belum dikaruniai anak.
Ada yang baru saja menikah sebulan yang lalu, langsung hamil.
Ada yang lulus sarjana pada usia 23 tahun tetapi harus menunggu 5 tahun sebelum mereka bisa mendapatkan pekerjaan tetap.
Ada juga yang lulus di usia 29 tahun tapi setelah lulus langsung bekerja di pekerjaan dengan posisi permanen.
Ada lagi pemuda berusia 25 tahun yang menjadi CEO namun pada usia 50 tahun ia meninggal dunia.
Ada juga yang umur 50 tahun baru saja menjadi CEO dan hidup hingga 90 tahun.
Zona waktu kita tidak sama.
Jadi tidak perlu merasa bahwa kita 'tertinggal' hanya ketika tampaknya orang lain lebih sukses.
Waktu kita belum tiba.
Obama pensiun pada usia 55, tetapi Trump 'mulai' pada usia 70.
Hanya zona waktu mereka yang berbeda.
Tapi keduanya bisa jadi Presiden.
Ada yang menjadi kakek pada usia 47 tahun.
Bahkan, ada juga yang baru mendapat anak di usia yang sama.
Ada orang yang 'di depan' dari kita.
Tapi ada juga yang 'di belakang' kita.
Setiap orang bergerak di jalur yang berbeda di zona waktu yang berbeda.
Tuhan punya rencana yang berbeda untuk kita semua.
Jangan iri, jangan sedih, jangan gundah gulana.
Mereka bergerak dengan zona waktu mereka dan kami juga memiliki zona waktu kami sendiri.
Anda tidak terlambat.
Anda tidak awal.
Anda tepat waktu.
Jangan stres.
Yakinlah bahwa rencana Tuhan jauh lebih baik, rezeki kita sudah dicatat oleh-Nya.
Rezeki adalah milik Allah.
Jangan bingung dengan pekerjaan Tuhan.
Kita bahkan tidak tahu masa depan kita
Masa depan kita selalu di tangan Tuhan.
Dan Tuhan itu adil.
Setiap orang akan mendapatkan apa yang Allah katakan pantas untuknya.
Perkuat ketergantunganmu kepada Allah, itu yang terpenting.
Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Google Scholar Syndrome yang ditulis oleh Prof. Eleftherios Diamandis. Supaya lebih umum, saya mengeneralisasikan menjadi sitasi sindrom atau dalam bahasa Inggris dapat ditulis sebagai citation syndrome. Sindrom ini biasanya menimpa saintis yang mempunyai sitasi publikasi yang sangat baik (mungkin juga dialami oleh si pengarang, Prof. Eleftherios Diamandis). Sama seperti Google Scholar Syndrome, berikut ini adalah tiga gejala dari citation syndrome (yang saya terjemahkan dari tulisan Google Scholar Syndrome):
Semakin sering melihat sitasi publikasi diri sendiri (Scopus, Clarivate Analytics dan juga Googe Scholar). Pertama-tama sebulan sekali, lalu seminggu sekali, lalu sekali sehari, dan, dalam tahap lanjut, beberapa kali sehari, seperti melihat h-index, sitasi tertinggi, juga tren dan peningkatannya.
Membandingkan sitasi publikasi Anda dengan pesaing Anda (lokal, nasional atau internasional), dengan harapan bahwa Anda telah melampaui mereka.
Saat mencapai jumlah sitasi tertentu, misalnya 100.000 atau lebih, Anda mulai membandingkan diri Anda dengan pemenang hadiah Nobel.
Jika Anda memiliki salah satu dari tiga gejala di atas, mulailah merenung. Anda perlu bertanya apa hikmah di balik angka yang Anda incar. Jangan tertipu, dan kembali ke maksud dan tujuan penelitian Anda. Dunia penelitian Indonesia tidak akan maju jika hanya ingin mencapai prestasi semu, bukan untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan bernilai tinggi. Maaf, gejala ini sudah terlihat, seperti kartel kutipan dimana penulis atau editor jurnal bekerja sama untuk meningkatkan kutipan artikel mereka dengan mengutip artikel anggota kartel secara tidak proporsional.
Aha! Saya menemukan alasan untuk membenarkan penggunaan bahasa Indonesia di blog ini, yang sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Namun, saya tetap harus belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya masih ingat bahwa bahasa Indonesia adalah pelajaran favorit saya ketika saya masih di sekolah dasar pada tahun 1970-an. Saya juga ingat bahwa TVRI selalu menayangkan program “Pembinaan Bahasa Indonesia” yang dibawakan oleh Jusuf Sjarif Badudu.
Berikut ini adalah fakta menarik tentang bahasa Indonesia:
berada di urutan ke-9 sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di dunia karena berbagai fakta, antara lain, bahasa Indonesia dipelajari di 56 negara, Wikipedia berbahasa Indonesia berada di peringkat ke-3 se-Asia dan ke-26 sedunia, serta WordPress berbahasa Indonesia berada di peringkat ke-3 setelah bahasa Inggris dan Spanyol;
menjadi bahasa resmi kedua di Vietnam sejak tahun 2007 dan bahasa yang wajib dipelajari oleh tentara Kamboja;
memiliki penutur dengan lidah paling fleksibel;
pernah diperdengarkan di luar angkasa melalui rekaman piringan hitam Satelit Voyager (NASA) pada tahun 1977; dan
memiliki keunikan ejaan angka, yaitu setiap angka (bukan bilangan) yang mempunyai huruf awal yang sama berjumlah 10 apabila ditambahkan (satu dan sembilan berhuruf depan s, dst.).
— Sumber: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
Semakin hari semakin saya melihat apa yang dikatakan oleh sosiolog Prancis, filsuf dan ahli teori budaya Jean Baudrillard yang mengatakan bahwa “kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi dan semakin sedikit makna” benar adanya. Setelah saya lihat berita yang ditampilkan oleh handphone, semakin hari semakin banyak berita buruk yang masuk, terutama dari postingan di WhatsApp group dan media sosial lainnya. Postingan atau berita tersebut banyak berisi sindiran, ejekan, kritikan yang tidak membangun, umpatan, cacian dan lain-lain kata-kata yang bersifat negatif.
Ada hasil penelitian yang melaporkan bahwa terlalu banyak mendengar berita buruk akan mempengaruhi kesehatan jiwa. Pada tahun 2014, peneliti Harvard University yang bertanya kepada 2.500 orang dewasa di Amerika apa yang menyebabkan stres dalam kehidupan sehari-hari mereka. Empat puluh persen mengakui bahwa menonton, membaca, atau mendengarkan berita adalah salah satu penyebab stres utama mereka. Sejak itu, lebih banyak penelitian menunjukkan bahwa mendengar berita buruk dapat merusak kesehatan mental kita. Walaupun demikian, dalam zaman krisis ini, ada yang berpendapat supaya jangan menutupi berita buruk. Ada betulnya, tapi kita sebagai manusia perlu mengontrol supaya berita buruk tidak memberikan efek buruk kepada kesehatan mental kita.
Sayangnya, media menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada berita buruk daripada berita baik. Satu studi menemukan bahwa hanya satu berita baik daripada ada tujuh belas berita buruk yang diterima orang. Hal ini disebabkan karena orang lebih cenderung memperhatikan cerita tentang perang, terorisme, cuaca buruk, dan bencana alam. Psikolog menyebut ini sebagai bias negatif informasi. Kita cenderung bereaksi lebih cepat terhadap berita buruk dan mengingatnya.
Nasehat saya untuk diri saya sendiri supaya mengontrol dalam menerima berita buruk karena ini penting untuk menjaga kesehatan mental.
You must be logged in to post a comment.